Wilayatul Ahdi Imam Ridha as

Dari wikishia

Wilayatul Ahdi Imam Ridha as (bahasa Arab: ولاية العهد للإمام الرضا (ع)) adalah pengangkatan Imam Ridha as sebagai putra mahkota Ma'mun Abbasi, di mana hal itu merujuk pada peristiwa paling penting dalam kehidupan Imam Ridha as disisi orang-orang Syiah. Diterimanya kedudukan putra mahkota dari Ma'mun oleh Imam as, selain menjadi isu kontroversial dalam sejarah Islam, juga memiliki urgensi dari segi teologi. Menurut Sayid Ja'far Murtadha Ameli, seorang sejarawan Syiah, berbagai riwayat mutawatir menunjukkan bahwa Imam Ridha as tidak sepenuhnya setuju dengan pengangkatannya sebagai putra makhkota.

Sebelum pengangkatan putra mahkota, Ma'mun menawarkan kedudukan khilafah kepada Imam as dengan tujuan untuk memperkuat kedudukannya sebagai khalifah. Tetapi, Imam Ridha as selain menolak tawaran Ma'mun, juga mempertanyakan legitimasi kekhilafahan Ma'mun. Dengan menolak dudukan khilafah, Ma'mun mengancam Imam as dengan pembunuhan dan memaksa Imam as untuk menerima kedudukan putra mahkota. Oleh karena itu, Imam terpaksa menerima tawaran Ma'mun; namun dengan syarat agar tidak campur tangan dalam urusan pemerintahan.

Beberapa tujuan Ma'mun dari tindakan ini adalah sebagai berikut: Melindungi dirinya dari ancaman Imam as dan mengawasinya, memadamkan revolusi Alawi, menggunakan Imam as untuk memberikan legitimasi pada kekhalifahan sendiri dan menarik simpati orang-orang Khurasan. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa Fadhl bin Sahal merancang skenario pengangkatan Imam as agar dapat mencapai takhta Iran. Tetapi, dikatakan bahwa Imam Ridha as berhasil menggagalkan upaya mereka untuk mencapai tujuan mereka melalui kebijakan dan aktivitasnya.

Atas perintah Ma'mun, Imam Ridha as pada akhir tahun 200 Hijriah bergerak dari Madinah ke Khurasan. Ma'mun memilih rute perjalanan yang tidak melalui kota-kota yang didiami oleh Syiah. Imam Ridha as dalam perjalanannya menyampaikan hadis silsilah al-Dzahab di Nisyabur. Pada bulan Ramadan tahun 201 Hijriah, Ma'mun mengadakan upacara penobatan putra mahkota Imam as. Dengan demikian, rakyat dan pejabat pemerintahan bersumpah setia kepada Imam as. Setelah itu, atas perintah Ma'mun, khutbah disampaikan atas nama Imam as dan koin dicetak dengan namanya.

Dengan diumumkannya penobatan putra mahkota Imam as, orang-orang seperti Ali bin Abi 'Imran, Abu Yunus dan gubernur Basrah memberontak. Masyarakat Baghdad yang khawatir dengan penurunan pengaruh mereka dalam pemerintahan juga memberontak dan berbaiat setia kepada Ibrahim bin Mahdi. Menurut sumber-sumber rujukan Syiah, Imam Ridha as mampu memanfaatkan situasi yang ada untuk keuntungan umat Syiah. Imam as menyampaikan banyak ajaran Ahlulbait as kepada masyarakat umum dan berdiskusi dengan pemimpin agama-agama lain. Menurut beberapa penelaah, dengan penobatan putra mahkota Imam Ridha as, terciptalah kesempatan bagi masyarakat Iran untuk memeluk agama Syiah.

Urgensi Putra Mahkota Imam Ridha as

Peristiwa penobatan putra mahkota Imam Ridha as adalah salah satu isu kontroversial dalam sejarah Islam,[1] di mana hal itu urgen baik dari segi politik maupun keagamaan (berlawanan dengan konsep kemaksuman Imam[2] dalam menerima penobatan putra mahkota).[3] Masa penobatan putra mahkota dianggap sebagai periode paling penting dalam kehidupan politik Imam Ridha as.[4]

Menurut beberapa penelaah, Imam Ridha as dalam periode sensitif kekhalifahan Ma'mun, dengan menerima penobatan putra mahkota dan melakukan aktivitas pada saat itu, secara tidak langsung berhasil memberikan hidayah kepada masyarakat; karena pada masa itu, kekhalifahan Abbasiyah mengalami ketidakstabilan dan pemberontakan dari berbagai kelompok Alawi serta keberadaan beberapa aliran sesat yang telah menciptakan kondisi kemerosotan dalam masyarakat.[5]

Usulan Putra Mahkota

Menurut Abu al-Faraj al-Isfahani dalam kitab Maqatil al-Thalibiyyin dan Syekh Shaduq as dalam kitab Uyun Akhbar al-Ridha as, penobatan putra mahkota Imam Ridha as dilakukan atas permintaan Ma'mun; karena Ma'mun telah bersumpah bahwa jika dia berhasil mengalahkan saudaranya Amin, dia akan menyerahkan kekhalifahan kepada Imam Ridha as.[6]Setelah Amin terbunuh dan Ma'mun menjadi khalifah, Fadhl bin Sahal, perdana menteri Ma'mun, mengingatkan Ma'mun akan sumpahnya kepada Allah dan Ma'mun melakukan langkah-langkah yang diperlukan.[7]

Di sisi lain, ada yang meyakini bahwa usulan penobatan putra mahkota Imam Ridha as berasal dari Fadhl bin Sahal.[8] Dikatakan bahwa Fadl ingin menjadi raja Iran setelah Imam as.[9] Pengutusan Raja' bin Abi Dhahhak, kerabat Fadhl bin Sahal, untuk memindahkan Imam Ridha as dari Madinah ke Marw, memicu beberapa politisi memberikan peringatan kepada Ma'mun tentang rencana Sahal dan bukti sejarah lainnya untuk mendukung klaim ini.[10]

Tujuan-tujuan

Beberapa orientalis dan penulis Syiah seperti Hasan Amin, seorang penulis dan sejarawan asal Lebanon, meyakini bahwa Ma'mun bersikap jujur dalam menobatkan putra mahkota Imam as dan melakukan tindakan tersebut dengan tulus.[11] Tetapi, banyak peneliti yang meyakini bahwa Ma'mun melakukan penobatan putra mahkota Imam as dengan tujuan berikut:

  • Melindungi dirinya dari ancaman Imam as dan mengawasinya: Ma'mun yang merasa terancam oleh aktivitas Imam as di Madinah, untuk itu dia mengundang Imam as ke Marw dan menobatkan Imam as menjadi putra mahkota untuk merasa aman dari ancaman Imam as atas pemerintahannya.[12]
  • Memadamkan revolusi Alawi: Dengan penobatan Imam as, Ma'mun berhasil meredam revolusi Alawi, sehingga setelah penobatan Imam as, tidak ada revolusi lain yang terjadi dari pihak Alawi (kecuali gerakan yang muncul di Yaman dan segera meredup).[13]
  • Membuat orang-orang Syiah ragu terhadap Imam as: Menurut laporan dari Abu Salt (seorang sahabat Imam Ridha), Ma'mun ingin memperkenalkan Imam as sebagai seseorang yang mencari dunia, sehingga membuat Syiah meragukan kedudukan Imam as di mata mereka.[14]
  • Memanfaatkan Imam as untuk memberikan legitimasi pada kekhalifahan Ma'mun: Ma'mun menyadari bahwa Imam Ridha as menarik simpati masyarakat Madinah untuk mendukungnya, dengan penobatan putra mahkota Imam as, dia ingin menggunakan undangan Imam as sebagai alat untuk memberikan legitimasi pada kekhalifahannya sendiri sehingga kekhalifahannya dianggap sah selain dari keabsahan Imam as.[15]
  • Membuat rela masyarakat Khurasan: Orang-orang Khurasan yang telah merasa tertindas setelah pengukuhan kekhalifahan Bani Abbas, mendekati Imam Ridha as.[16] Oleh karena itu, Ma'mun berusaha membuat rela mereka dengan penobatan putra mahkota Imam Ridha as.[17]
  • Mengidentifikasi penyebab utama Syiah: Orang-orang Syiah yang selalu hidup secara sembunyi-sembunyi, dengan penobatan Imam as, mereka keluar dari kehidupan persembunyian mereka dan sebagai akibatnya berhasil diidentifikasi oleh pemerintah Bani Abbas.[18]
  • Meningkatkan kekuasaan Ma'mun: Bani Abbas selalu merendahkan Ma'mun karena ibunya adalah seorang budak istana dan semua urusan pemerintahan diserahkan kepada seseorang Iran (Fadhl bin Sahal). Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memperkuat posisinya dengan penobatan tokoh besar seperti Ali bin Musa.[19]

Beberapa penulis telah menyebutkan tujuan lain dari tindakan Ma'mun dari penobatan Imam as.[20] Menurut Sayid Ja'far Murtadha Ameli, seorang sejarawan Syiah, pengangkatan Imam as sebagai putra mahkota oleh Ma'mun menunjukkan kecerdasan politik dan pemahaman Ma'mun terhadap masalah-masalah pemerintahan yang dihadapinya.[21] Tetapi, dikatakan bahwa Imam Ridha as dengan politik dan kebijaksanaannya berhasil menghalangi Ma'mun dari mencapai tujuannya.[22]

Menurut beberapa ahli sejarah Islam, tujuan-tujuan pemerintahan Ma'mun dari penunjukan putra mahkota Imam Ridha as meliputi:

1. Mengubah panggung peperangan revolusi keras kaum Syiah menjadi arena kegiatan politik yang tenang dan tanpa ancaman.

2. Membantah klaim Syiah tentang rampasan kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah serta memberikan legitimasi pada kedua kekhalifahan tersebut.

3. Mengendalikan Imam Ridha as (yang selalu menjadi pusat perlawanan dan perjuangan) serta semua pemimpin, pengikut dan pejuang Alawi di bawah kendalinya.

4. Memposisikan Imam (sebagai elemen populisme, pusat harapan, rujukan pertanyaan dan keluhan) di dalam kendali pemerintahan dan secara bertahap menghilangkan sifat populisnya, menciptakan jarak antara Imam as dan rakyat serta kemudian antara dia dan perasaan serta kecintaan rakyat.

5. Memperoleh martabat dan reputasi spiritual dengan alasan bahwa pada zaman Ma'mun telah memilih keturunan Nabi saw dan figur suci secara spiritual sebagai putra mahkotanya dan menghalangi saudara-saudara dan anak-anaknya dari hak istimewa ini.

6. Berusaha menjadikan Imam as sebagai pembenaran atas tindakan struktur-struktur kekhalifahan dan jelas jika Imam as dengan kedudukannya yang khusus mengambil peran dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa dalam struktur pemerintahan, tidak ada oposisi yang dapat merusak martabat struktur tersebut.[23]

Pendekatan Imam Ridha as

Menurut Sayid Ja'far Murtadha Ameli, laporan-laporan menunjukkan ketidak setujuan Imam as atas penobatan putra mahkota Imam as adalah mutawatir.[24] Berdasarkan apa yang disebutkan dalam kitab Manaqib Al Abi Thalib, Imam Ridha as mengabarkan bahwa penobatan putra mahkota Imam as tidak membuahkan hasil.[25] Berdasarkan laporan ini, setelah menerima penobatan putra mahkota, Imam menuliskan sebuah dokumen di hadapan Ma'mun dan Fadhl bin Sahal yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penobatan, di mana ia menyatakan bahwa Jafr dan Kitab Ali bertentangan dengan penobatannya sebagai putra mahkota.[26]

Sebelum penobatan Imam as sebagai putra mahkota, Ma'mun menawarkan kekhalifahan kepada Imam, tetapi Imam Ridha as menolaknya dan berkata, "Jika Allah memberikan kekhalifahan kepadamu, maka tidaklah pantas untuk memberikannya kepada orang lain dan jika Allah tidak memberikan kekhalifahan kepadamu, bagaimana mungkin kamu memberikan sesuatu yang bukan hakmu kepada orang lain?"[27] Para penelaah meyakini bahwa jawaban Imam as ini menggugat legitimasi kekhalifahan Ma'mun.[28] Sayid Ja'far Murtadha meyakini bahwa sebenarnya Ma'mun tidak serius dalam menawarkan kekhalifahan kepada Imam Ridha as dan tawarannya tersebut hanyalah upaya untuk memperkuat kedudukan kekhalifahannya sendiri.[29] Fadhl bin Sahal terkejut karena Ma'mun melepaskan kekhalifahan dari dirinya dan Imam as pun juga menolaknya, sehingga ia bertanya-tanya sejauh mana kekhalifahan telah hancur.[30]

Tawaran putra mahkota berhadapan dengan penolakan Imam Ridha as.[31] Ma'mun, setelah melihat sikap Imam as, mengancam dan memaksa Imam as untuk menerima penobatan putra mahkota dengan mengingatkan ancaman Umar bin Khattab kepada Syura Enam Orang bahwa siapa pun yang menentang akan dibunuh.[32] Oleh karena itu, Imam as terpaksa menerima penobatan putra mahkota, namun dengan syarat bahwa Imam as tidak akan ikut campur dalam urusan pemerintahan.[33] Ma'mun pun menerima syarat tersebut.[34] Berdasarkan sebuah riwayatyang dinukil oleh Rayyan bin Salt dari Imam Ridha as, jika Imam as menolak penobatan putra mahkota, ia akan dibunuh oleh Ma'mun.[35]

Imam Ridha as melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan rencana penobatan putra mahkota oleh Ma'mun.[36] Di antara tindakan-tindakan Imam as tersebut adalah, perintah Imam as kepada keluarga untuk menangis saat perpisahan mereka di Madinah,[37] perpisahan dengan makam Nabi saw,[38] tidak ikut campur dalam urusan pemerintahan, mengubah pusat pemerintahan menjadi basis penyebaran ajaran Syiah dan berdiskusi dengan para pemimpin agama dan mazhab-mazhab lain.[39]

Perjalanan Imam Ridha as dari Madinah ke Merv

Menurut laporan Tarikh Ya'qubi, atas perintah Ma'mun, Raja' bin Abi Dhahhak (kerabat Fadhl bin Sahal) diutus untuk membawa Imam Ridha as dari Madinah ke Khurasan.[40] Tetapi menurut keyakinan Syekh Mufid, utusan Ma'mun adalah Isa Jaludi.[41] Ma'mun memilih rute khusus untuk perjalanan Imam Ridha ke Marw agar beliau tidak melewati pusat-pusat pemukiman Syiah, karena ia khawatir akan kerumunan Syiah di sekitar Imam as.[42] Secara khusus, ia memerintahkan agar Imam as tidak melalui Kufah, tetapi dialihkan melalui Basrah, Khuzestan dan Fars menuju Nisyabur.[43] Rute perjalanan, menurut kitab Atlas Syiah, adalah sebagai berikut: Madinah, Naqrah, Hawsajah, Nabaj, Hafar Abu Musa, Basrah, Ahwaz, Behbahan, Isthakhr, Abarquh, Dehsyir (Firasyah), Yazd, Khuranaq, Rabath Pusht-e Bam, Nisyabur, Qadamgah, Dehsarkh, Thus, Sarakhs dan Marw.[44] Dikatakan bahwa Imam as berangkat pada akhir tahun 200 Hijriah.[45] Dikatakan bahwa peristiwa terpenting dan tercatat selama perjalanan terjadi di Nisyabur di mana Imam Ridha as menyampaikan hadis terkenal yang dikenal sebagai Hadis Silsilah al-Dzahab.[46]

Upacara Putra Mahkota

Pada hari Selasa, tanggal 7[47] atau 5[48] atau 2 Ramadan[49] tahun 201 Hijriah, atas dukungan masyarakat, Ma'mun mengambil baiat setia dari masyarakat untuk menjadikan Imam Ridha as sebagai putra mahkota dan mengubah pakaian hitam yang merupakan lambang Abbasiyah[50] menjadi pakaian hijau (warna hijau adalah lambang Alawiyyin)[51] serta memerintahkan hal ini ke berbagai wilayah.[52]

Setelah penobatan itu, mereka menyampaikan khutbah di atas mimbar-mimbar atas nama Imam as dan mencetak dinar dan dirham dengan namanya.[53] Ma'mun mengatur pernikahan putrinya Umu Habib dengan Imam Ridha as.[54] Selain itu, menurut beberapa laporan, Ma'mun memberikan gelar "Ridha" (Al-Ridha min Ali Muhammad, artinya yang dicintai dari keluarga Muhammad) kepadanya.[55] Tetapi, berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Jawad as, gelar "Ridha" diberikan kepada ayahnya oleh Allah swt.[56]

Ma'mun dalam penobatan putra mahkota mengumpulkan pejabat pemerintahan, komandan pasukan, hakim dan masyarakat untuk berbaiat setia kepada Imam Ridha as.[57]Imam as mengerakkan tangannya seperti cara yang sama dalam baiat setia kepada Nabi saw, dengan tangan diletakkan di hadapan wajahnya sementara telapak tangannya dihadapkan ke arah wajah masyarakat.[58]Para khatib dan penyair menyampaikan khutbah dan syair untuk memperingati upacara tersebut. Salah satu penyair adalah Di'bil Khuza'i mendapat pujian dari Imam as atas syairnya.[59]Ma'mun meminta Imam as untuk memberikan khutbah singkat kepada rakyat. Imam memberikan khutbah singkat untuk rakyat.[60]

Perjanjian penobatan putra mahkota Imam as ditulis oleh Ma'mun dan Imam as menulis beberapa hal di belakang dokumen tersebut.[61] Ali bin Isa Irbili, penulis kitab Kasyf al-Ghummah pada tahun 670 H menemukan perjanjian tersebut dengan tulisan tangan Ma'mun dan Imam dan mencatatnya dalam bukunya.[62]

Para Penentang Putra Mahkota Imam Ridha as

Menurut laporan Tarikh Ya'qubi, Ismail bin Ja'far bin Sulaiman yang diangkat oleh Ma'mun sebagai gubernur Basrah, menarik kembali baiat setianya kepada Imam Ridha as dan Ma'mun mengutus Isa bin Yazid Jaludi untuk menangani masalah tersebut dan Ismail melarikan diri dari Basrah.[63] Dia menulis bahwa Isa bin Yazid Jaludi, atas perintah Ma'mun, ditugaskan untuk membawa surat baiat setia ke Makkah.[64] Dia memasuki Makkah dengan mengenakan kain hijau dan menerima baiat setia untuk Imam Ridha as dari masyarakat.[65] Sheikh Shaduq melaporkan bahwa Isa Jaludi kemudian hari menjadi salah seorang yang menentang keras penobatan putra mahkota Imam Ridha as dan Ma'mun memenjarakannya karena menolak berbaiat setia kepada Imam Ridha as.[66] Ali bin Abi Imran dan Abu Yunus juga termasuk di antara mereka yang menentang penobatan putra mahkota Imam Ridha as.[67]

Konsekuensi-konsekuensi

Beberapa konsekuensi penobatan Imam Ridha sebagai putra mahkota adalah sebagai berikut:

  • Pemberontakan masyarakat Bagdad: Masyarakat Bagdad yang khawatir akan kehilangan pengaruh mereka dalam pemerintahan menolak penobatan Imam Ridha sebagai putra mahkota dan mengusir gubernur Ma'mun dari Baghdad serta memberikan baiat setia kepada Ibrahim bin Mahdi.[68]
  • Baiat setia sebagian Alawi kepada Ma'mun: Meskipun penobatan Imam Ridha sebagai putra mahkota tidak membuat semua Syiah mendekati Ma'mun, sebagian Syiah rela dengan Ma'mun dan memberikan baiat setia kepadanya.[69]
  • Pemanfaatan Imam as atas penobatan putra mahkota: Meskipun Imam Ridha menerima penobatan putra mahkota dari Ma'mun secara terpaksa, Imam as berhasil menggunakan posisi ini untuk menyampaikan banyak ajaran yang sebelumnya hanya diungkapkan kepada sahabat dan pengikutnya secara terbuka kepada semua orang, serta berdiskusi dengan para cendekiawan dari berbagai mazhab.[70]
  • Membuka jalan bagi Syiah di Iran: Menurut Sayid Ali Akbar Qarasyi penulis Tafsir Ahsan al-Hadis, penobatan Imam Ridha as sebagai putra mahkota membuka jalan bagi masyarakat Iran untuk menjadi penganut Syiah; karena kehadiran Imam Ridha as di Iran membawa para Sayid Alawi ke Iran dan menyebarkan mazhab Syiah.[71]

Monografi

Tentang penobatan Imam Ridha as sebagai putra mahkota, telah ditulis buku-buku secara mandiri, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Imam Ridha as, Ma'mun wa Maudhu' Wilayat Ahdi, karya Sayid Ghani Iftikhari: Penulis dalam buku ini tidak hanya meneliti masa penobatan Imam Ridha as sebagai putra mahkota, tetapi juga meneliti kondisi sosial-politik pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah (sebelum Ma'mun).[72] Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Nashr pada tahun 1398 S dalam 152 halaman.[73]

2. Wilayat Ahdi Imam Ridha as, tulisan Muhammad Murtadhawi: Penulis dalam buku ini berusaha menjelaskan tujuan tersembunyi Ma'mun dari penobatan Imam Ridha sebagai putra mahkota dan tanggapan Imam as terhadap peristiwa tersebut dengan merujuk pada dokumen-dokumen sejarah.[74] Edisi kedua buku ini diterbitkan pada tahun 1386 S oleh penerbit Pazuhesyha-ye Islami dalam 127 halaman.[75]

3. Neghahi be Zendeghi va Vilayat Ahdi Imam Ridha as, karya Muhammad Ali Amini: Pembahasan dalam buku ini disusun dalam tiga bab dengan total 130 halaman, buku ini diterbitkan oleh penerbit Nasyr pada tahun 1395 S.[76]

Catatan Kaki

  1. Al-Duri, al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal, hlm. 161.
  2. Sayid Murtadha, Tanzih al-Anbiya, hlm. 179; Syekh Thusi, Talkhish al-Syafi, jld. 4, hlm. 206.
  3. Bagistani, al-Ridha, Imam (Welayat Ahdi), hlm. 83.
  4. Ja'fariyan, Hayat-e Fikri va Siyasi-e Imaman-e Syieh (as), hlm. 430; Iftikhari, Imam Ridha (as), Ma'mun va Mauzhu-e Welayat Ahdi, hlm. 104.
  5. Akbari dan Barati, Naqsy-e Imam Ridha dar Vahdat-e Dini va Insijam-e Islami dar Ashr-e Abasi, hlm. 45.
  6. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 454; Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 166.
  7. Baihaqi, Tarikh Baihaqi, jld. 3, hlm. 190.
  8. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 165; Al-Duri, al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal, hlm. 162.
  9. Jahsyiyari, al-Wuzara wa al-Kitab, hlm. 203.
  10. Al-Duri, al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal, hlm. 162.
  11. Fauzi, Buhuts fi al-Tarikh al-Abasi, hlm. 135; Amin, al-Ridha wa al-Ma'mun wa Wilayatul Ahdi, hlm. 123-126.
  12. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 170.
  13. Āmili, al-Hayah al-Siyasiyah li al-Imam al-Ridha (as), hlm. 226.
  14. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 239.
  15. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 170.
  16. Al-Duri, al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal, hlm. 162.
  17. Al-Duri, al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal, hlm. 163.
  18. Qarrasyi, Hayah al-Imam al-Imam al-Ridha, jld. 2, hlm. 283.
  19. Qarrasyi, Hayah al-Imam al-Imam al-Ridha, jld. 2, hlm. 282.
  20. Amili, al-Hayah al-Siyasiyah li al-Imam al-Ridha (as), hlm. 254-260.
  21. Amili, al-Hayah al-Siyasiyah li al-Imam al-Ridha (as), hlm. 207.
  22. Iftikhari, Imam Ridha (as), Ma'mun va Mauzhu-e Welayat Ahdi, hlm. 104.
  23. Amili, al-Hayah al-Siyasiyah li al-Imam al-Ridha (as), hlm. 286.
  24. Ibnu Syahr Asyub, al-Manaqib, jld. 4, hlm. 365.
  25. Ibnu Syahr Asyub, al-Manaqib, jld. 4, hlm. 365.
  26. Syekh Shaduq, Amali, hlm. 69.
  27. Derakhsyeh, Husaini Fauq, Sire-e Siyasi-e Imam Ridha dar Barkhurd ba Hukumat-e Jaur, hlm. 21.
  28. Amili, al-Hayah al-Siyasiyah li al-Imam al-Ridha (as), hlm. 286.
  29. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 260; Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 141.
  30. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 259.
  31. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 259.
  32. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 489.
  33. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 489.
  34. Syekh Shaduq, Ilal al-Syara'i, jld. 1, hlm. 239.
  35. Amini, Negahi be Zendegi va Velayat Ahdi Imam Ridha, hlm. 102-103.
  36. Mas'udi, Itsbat al-Washiyah, hlm. 211.
  37. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 217.
  38. Amini, Negahi be Zendegi va Velayat Ahdi Imam Ridha, hlm. 103-106.
  39. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 448.
  40. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 259.
  41. Muthahari, Majmue Asar, jld. 18, hlm. 124.
  42. Muthahari, Majmue Asar, jld. 18, hlm. 124.
  43. Ja'fariyan, Athlas al-Syiah, hlm. 102.
  44. Nubakhti, Firaq al-Syiah, hlm. 87; Asy'ari Qumi, al-Maqalat wa al-Firaq, hlm. 95.
  45. Fadhlullah, Tahlili az Zendegani Imam Ridha, hlm. 133.
  46. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 448.
  47. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 245.
  48. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 8, hlm. 554.
  49. Irfan Manesy, Jugrafiya-e Tarikhi Hijrat-e Imam Ridha, hlm. 168.
  50. Irfan Manesy, Jugrafiya-e Tarikhi Hijrat-e Imam Ridha, hlm. 168.
  51. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 448.
  52. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 448.
  53. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 147.
  54. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 261; Ibnu Syahr Asyub, al-Manaqib, jld. 4, hlm. 363.
  55. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 1, hlm. 13.
  56. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 261.
  57. Abu al-Faraj Isfahani, Maqatil al-Thalibin, hlm. 455; Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 261.
  58. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 263.
  59. Syekh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 263.
  60. Irbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 333.
  61. Irbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 333.
  62. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 448-229.
  63. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 229.
  64. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 229.
  65. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 150.
  66. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 150.
  67. Ya'qubi, Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 450.
  68. Al-Duri, al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal, hlm. 163-164.
  69. Rafi'i, Zendegani Imam Ridha (as), hlm. 198-199.
  70. Qarrasyi, Khondon-e vahy, hlm. 585-586.
  71. Iftikhari, Imam Ridha (as), Ma'mun va Mauzhu-e Welayat Ahdi.
  72. Iftikhari, Imam Ridha (as), Ma'mun va Mauzhu-e Welayat Ahdi.
  73. Murtazavi, Velayat Ahdi Imam Ridha, hlm. 9.
  74. Murtazavi, Velayat Ahdi Imam Ridha.
  75. Amini, Negahi be Zendegi va Velayat Ahdi Imam Ridha.
  76. Amini, Negahi be Zendegi va Velayat Ahdi Imam Ridha.

Daftar Pustaka

  • Abu al-Faraj Isfahani, Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibin. Beirut: Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Akbari, Amir dan Bahman Barati Dasyt Bayadh. Naqsy-e Imam Ridha dar Vahdat-e Dini va Insijam-e Islami dar Ashr-e Abasi. Dalam majalah MIsykah, vol. 96 & 97, musim gugur dan musim dingin, 1386 S.
  • Al-Duri, Abdul Aziz. al-'Ashr al-'Abbasi al-Awal. Beirut: Dar al-Thali'ah, 1997 M.
  • Āmili, Sayid Ja'far Murtadha. al-Hayah al-Siyasiyah li al-Imam al-Ridha (as). Qom: Yayasan penerbit Islami, 1403 HS.
  • Amin, Hasan. al-Ridha wa al-Ma'mun wa Wilayah al-Ahdi wa shafahat min al-Tarikh al-Abbasi. Beirut: Dar al-Jadid, 1995 M.
  • Amini, Muhammad Amin. Negahi be Zendegi va Velayat Ahdi Imam Ridha. Masyhad: Penerbit Be Nashr, 1395 S.
  • Asy'ari Qumi, Sa'ad bin Abdullah. al-Maqalat wa al-Firaq. Teheran: Perusahaan penerbit Ilmi va Faehanggi, 1360 S.
  • Bagistani, Ismail. al-Ridha, Imam (Welayat Ahdi). Dalam jurnal Jahan-e Islam, jld. 20. Teheran: Bunyad dairah al-Ma'arif Islami, 1394 S.
  • Baihaqi, Muhammad bin Husain. Tarikh Baihaqi. Dalam usaha Khalil Khatib Rahbar. Teheran: Penerbit Mahtab, 1374 S.
  • Derakhsyeh, Jalal dan Sayid Muhammad Mahdi Husaini Faiq. Sire-e Siyasi-e Imam Ridha dar Barkhurd ba Hukumat-e Jaur. Dalam majalah Farhangg-e Razavi, vol. 1, musim semi, 1392 S.
  • Fauzi, Faruq Umar. Buhuts fi al-Tarikh al-Abbasi. Beirut: Dar al-Qalam, 1977 M.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. manaqib Āli Abi Thalib (as). Qom: Penerbit Allameh, 1479 HS.
  • Iftikhari, Sayid Ghina. Imam Ridha (as), Ma'mun va Mauzhu-e velayat Ahdi. Masyhad: Penerbit Be Nashr, 1398 S.
  • Irbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Tabriz: Penerbit Bani Hasyimi, 1381 HS.
  • Irfan Manesy, Jalil. Jugrafiya-e Tarikhi Hijrat-e Imam Ridha az Madineh ta Maru. Masyhad: Astan-e Quds Razavi, 1384 S.
  • Ja'fariyan, Rasul. Athlas al-Syiah. Penerjemah: Nashir al-Ka'bi dan Saif Ali. Qom: Penerbit Muarrikh, 2015 M.
  • Ja'fariyan, Rasul. Hayat-e Fikri va Siyasi-e Imaman-e Syieh (as). Qom: Penerbit Anshariyan, 1381 S.
  • Jahsyiyari, Muhammad bin Abdus. al-Wuzara wa al-Kitab. Beirut: Dar al-Fikr al-Hadits, 1408 HS.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Teheran: Penerbit Islamiah, 1407 HS.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Itsbat al-Washiyah. Qom: Anshariyan, 1426 HS.
  • Murtazavi. Velayat Ahdi Imam Ridha. Masyhad: Penerbit Pazuhesyahy-e Islami, 1386 S.
  • Muthahari, Murtadha. Majmue Āsar. Teheran: Penerbit Shadra, 1381 S.
  • Nubakhti, Hasan bin Musa. Firaq al-Syiah. Beirut: Dar al-Adhwa, 1404 HS.
  • Qarrasyi, Ali Akbar. Khondon-e Wahy. Teheran: Penerbit Dar al-Kutub al-Islamiah, 1386 S.
  • Qarrasyi, Baqir Syarif. Hayah al-Imam al-Ridha (as). Qom: Sa'id bin Jubair, 1372 S.
  • Raf'i, Ali. Zendegani Imam Ridha (as). Teheran: Penelitian Tahqiqat-e Islami Sepah Pasdaran-e Inqilab-e Islami, tanpa tahun.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain. Tanzih al-Anbiya. Qom: Penerbit al-Syarif al-Radhi, 1377 S.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah Ala al-Ibad. Qom: Sa'id bin Jubair, 1413 HS.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. al-Amāli. Teheran: Penerbit Kitabci, 1376 S.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Ilal al-Syara'i. Qom: Toko buku Davari, 1385 S.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha. Teheran: Penerbit Jahan, 1378 HS.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Talkhis al-Syafi. Qom: Penerbit Muhibbin, 1382 S.
  • Thabari, Muhammab bin Jarir. Tarikh al-Thabari. Beirut: Dar al-Turats, 1387 HS.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tarikh al-Ya'qubi. Dar Shadir, tanpa tahun.