Prioritas: aa, Kualitas: b

Imam Ali Zainal Abidin as

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Imam Ali bin Husain As)
Lompat ke: navigasi, cari
Ali bin Husain bin Abi Thalib as
'
قبرستان بقیع.JPG

Makam Imam Ali Zainal Abidin as di Baqi', Madinah
Lahir 5 Sya'ban 38 H/658
Tempat lahir Madinah
Imamah 35 tahun 61 H/681
Penguasa Kontemporer Yazid bin MuawiyahAbdullah bin ZubairMuawiyah bin YazidMarwan bin Hakam • Abdul Malik bin Marwan • Walid bin Abdul Malik
Waktu syahid 20 Muharam 95 H/714 di
penyebab kesyahidan Diracun atas perintah Walid bin Abdul Malik
Tempat dimakamkan Pemakaman Baqi'
Imam sebelumnya Imam Husain as
Imam setelahnya Imam Muhammad al-Baqir
Ayah Imam Husain as
Ibu Syahr Banu putri Yazdgerd
Saudara Ali Akbar • Ali Asghar • Ja'far
Saudari Sukainah • Fatimah
Pasangan Ummu Abdillah binti Hasan bin Ali bin Abi Thalib as
Putra Muhammad • Hasan • Husain • Akbar • Zaid • Umar • Husain Ashgar • Abdurahman • Sulaiman • Ali • Muhammad Ashgar
Putri Khadijah • Fathimah • 'Illiyah • Ummu Kultsum
Lakab Zainal Abidin • Sayid al-Sajidin • Dzu al-Tsafanat • Al-Sajjad
Imam-Imam Syiah
Ali, al-Hasan, al-Husain, al-Sajjad, al-Baqir, al-Shadiq, al-Kazhim, al-Ridha, al-Jawad, al-Hadi, al-Askari, al-Mahdi

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as (bahasa Arab: علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب) yang terkenal dengan sebutan Imam Sajjad dan Zainal Abidin adalah Imam Keempat Syiah (38-94 H/658-714). Ia menjadi imam selama 35 tahun. Ia hadir pada Peristiwa Karbala akan tetapi ia turut berperang karena sakit. Pasukan Umar bin Saad paska kesyahdian Imam Husain as membawanya ke Kufah dan Syam bersama rombongan tawanan Karbala. Pidato Imam Sajjad as di Syam menyebabkan masyarakat paham tentang kedudukan Ahlulbait.

Peristiwa Harrah, Kebangkitan Thawwabin (orang-orang yang taubat) dan Kebangkitan Mukhtar terjadi pada masa Imam Sajjad as. Kumpulan doa-doa dan munajat-munajatnya terbukukan dalam kitab Shahifah Sajjadiyah. Risalah al-Huquq yang merupakan panduan buku kecil mengenai tugas-tugas (takalif) para hamba di hadapan Tuhan dan makhluk adalah dinisbatkan kepadanya.

Menurut riwayat-riwayat Syiah, Imam Sajjad as mati syahid karena racun yang diberikan kepadanya atas perintah Walid bin Abdul Malik. Ia dimakamkan di komplek pekuburan Baqi di samping kubur Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja'far al-Shadiq as.

Jannatul Baqi Sebelum Penghacuran oleh Rezim Saudi

Biografi

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as yang masyhur dengan Imam Sajjad as dan Imam Ali Zainal Abidin as adalah Imam Keempat Syiah dan putra dari Imam Husain as. Berdasarkan pendapat yang masyhur ia lahir pada tahun 38 H. Oleh karena itu, ia mengalami sebagian masa kehidupan Imam Ali as dan juga periode keimamahan Imam Hasan Mujtaba as dan Imam Husain as. Namun berdasarkan riwayat-riwayat lain, kelahiran imam keempat Syiah diyakini terjadi sekitar tahun 48 H.[butuh referensi]

Nama dan nasab ibunya termasuk dari masalah-masalah yang kontroversial. Syaikh al-Mufid menyebutkan nama ibu Imam Sajjad as adalah Syahzanan putri Yazdgerd [1] dan Syaikh al-Shaduq meyakini bahwa ia adalah putri Yazdgerd, putra seorang raja Iran, yang meninggal dunia saat melahirkan.[2].

Julukan yang diberikan kepala Ali bin Husain as yaitu Abu al-Hasan, Abu al-Husain, Abu Muhammad dan Abu Abdillah.[3] Sementara gelarnya yaitu Zainal Abidin, Sayid al-Sajidin, Sajjad, Hasyimi, ‘Alawi, Madani, Qurasyi dan Ali Akbar.[4] Gelar lain yang diberikan kepadanya adalah Dzu al-Tsafinat, karena ia memiliki tanda di bagian tubuhnya yang sering dipakai sujud, hingga lututnya seperti lutut unta yang keras dan tebal sebagai akibat dari bekas ibadah dan salatnya yang banyak.[5] Imam Sajjad as pada zamannya terkenal dengan sebutan Ali al-Khair, Ali al-Ashgar dan Ali al-'Abid.[6]

Tanggal kesyahidan Imam Sajjad as tidak diketahui secara detail. Sebagian peneliti meyakini terjadi pada tahun 94 H[7] dan yang lain menyakinya tahun 95 H.[8] Mengenai hari kesyahidannya pun terjadi perselisihan pendapat; misalnya hari Sabtu[9] 12 Muharram[10] dan 25 Muharram.[11] Laporan-lopran lain juga terlihat dalam beberapa sumber seperti tanggal 18, 19 dan 22 Muharram.[12]

Imam Sajjad as syahid diracuni atas perintah Walid bin Abdul Malik.[13] Ia dikuburkan di Pemakaman Baqi' di samping makam Imam Hasan al-Mujtaba as,[14] Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja'far al-Shadiq as.

Anak dan Istri

Dalam sumber data sejarah disebutkan anak Imam Sajjad as berjumlah 15 orang (11 laki-laki dan 4 perempuan).[15] Nama-nama anak dan istrinya menurut Syaikh Mufid sebagai berikut:[16]

Isteri Nasab Anak
Ummu Abdillah putri Imam Hasan as Imam Muhammad al-Baqir as
--- Seorang Budak Abdullah, Hasan dan Husain Akbar
Jida Seorang Budak Zaid dan Umar
--- Seorang Budak Husain Asghar, Abdurrahman dan Sulaiman
--- Seorang Budak Ali dan Khadijah
--- Seorang Budak Muhammad Asghar

Imamah

Keimamahan Imam Sajjad as bermula dengan kesyahidan Imam Husain as pada peristiwa Asyura tahun 61 H/681 dan berlanjut hingga masa kesyahidannya, yakni tahun 94 atau 95 H.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang tegas dalam sumber-sumber hadis Syiah, Imam Sajjad as merupakan pengganti dan washi Husain bin Ali as.[17] Dalam hadis-hadis yang dinukil dari Rasulullah saw tentang nama-nama para Imam Syiah, nama Imam Sajjad as juga disebuatkan diantara nama-nama tersebut.[18] Para teolog Syiah seperti Syaikh Mufid menyakini bahwa keutamaan ilmu Imam Sajjad as atas orang lain setelah ayahnya merupakan dalil pertama atas keimamahannya.[19]

Para penguasa pada masa Imam Sajjad as antara lain adalah: Yazid bin Muawiyah (61-64 H/681-684), Abdullah bin Zubair (61-73 H/681-694), yang menjadi penguasa Mekah secara mandiri, Muawiyah bin Yazid (berkuasa hanya beberapa bulan pada tahun 64 H/684),Marwan bin Hakam (berkuasa sembilan bulan pada tahun 65 H/685), Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705), dan Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715).[20]

Peristiwa Karbala dan Penawanan

Ketika terjadi Peristiwa Karbala dan pada hari ketika Imam Husain as dan para sahabatnya syahid, Imam Ali bin Husain as sedang sakit parah. Sehingga ketika para musuh hendak membunuhnya,[21] sebagian dari mereka berkata, "Cukuplah baginya dengan sakit yang dideritanya ini."[22]

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Tathayur al-Kutub • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid


Kufah

Setelah Tragedi Karbala, seluruh keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah dan Syam. Ketika tawanan dibawa dari Karbala ke Kufah, leher Imam Sajjad as diberi belenggu dengan Jamah, yaitu semacam belenggu atau borgol yang mengunci dan mengikat tangan serta leher secara bersamaan. Karena sakit dan tidak bisa menjaga dirinya di atas punggung unta, kedua kaki Imam Sajjad as diikatkan ke perut unta.[23]

Sebagian sejarawan mengatakan Imam Sajjad as membacakan sebuah khutbah di Kufah. Namun, karena keadaan Kufah dan pengekangan serta ketidakramahan para prajurit pemerintah yang berkuasa, juga rasa takut penduduk Kufah terhadap mereka dan sikap tidak bersahabat, maka khutbah yang penuh informasi itu sulit diterima. Selain itu, disebutkan bahwa isi khutbah yang disampaikannya sama dengan khutbahnya di masjid Damaskus. Oleh karena itu, dengan bergulirnya masa ada kemungkinan para periwayat mencampuradukkan kejadian-kajadian tersebut[24]

Ibnu Ziyad memenjarakan Imam Sajjad as dan para tawanan Karbala. Dia mengirim surat ke Syam dan meminta perintah Yazid selanjutnya. Yazid membalas suratnya supaya para tawanan dan kepala para syuhada Karbala dibawa ke Syam. Ibnu Ziyad merantai Imam Sajjad as dan memasang belenggu di lehernya. Para tawanan Karbala pun dibawa ke Syam dengan pengawalan Muhaffar bin Tsa'labah.[25]

Syam

Imam Sajjad as memberikan khutbah di masjid Syam. Ia memperkenalkan dirinya, ayahnya dan kakeknya kepada masyarakat Syam. Ia juga mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Yazid dan orang-orangnya adalah tidak benar. Ayahnya bukanlah orag asing, dan ia tidak hendak menyerang orang Islam serta menyebarkan fitnah di negri Islam. Ia bangkit untuk kebenaran dan atas undangan umat dengan menghilangkan bid'ah-bid'ah dalam agama, sehingga kesucian masa Rasulullah saw pun bisa disampaikan.[26]

Kembali ke Madinah

Menurut catatan Syaikh Mufid, akhirnya keluarga Imam Husain as pada hari Arbain bergerak dari Syam menuju Madinah.[27] Imam Sajjad as hidup selama 34 tahun setelah Peristiwa Karbala. Selama itu pula ia berusaha terus menghidupkan dan menjaga ingatan terhadap para syuhada Karbala. Setiap minum air ia selalu mengingat ayahnya, dan senantiasa menangisi musibah yang menimpa Imam Husain as.[28]

Diriwayatkan dari Imam al-Shadiq as, "Imam Zainal Abidin as menangis utuk ayahnya selama 40 tahun. Ia setiap hari berpuasa dan setiap malamnya melakukan salat. Ketika berbuka puasa, pembantunya membawakan air dan makanan untuknya dan berkata, "Silakan Tuan!" Imam Zainal Abidin as berkata, "Putra Rasulullah saw terbunuh dalam keadaan lapar! Putra Rasulullah terbunuh dalam kondisi kehausan!" Kalimat ini diulang-ulangnya dan ia menangis sedemikian rupa sehingga air matanya bercampur dengan air minum dan makanannya. Hal ini terus menimpanya hingga ia meninggal dunia.”[29]

Perlawanan Pada Masa Imam Sajjad as.

Pada masa hidup Imam Sajjad as dan setelah Peristiwa Karbala, banyak terjadi perlawanan-perlawanan, diantaranya:

Peristiwa Harrah

Beberapa lama setelah peristiwa Karbala, masyarakat Madinah melakukan perlawanan terhadap penguasa Bani Umayah yang dikenal dengan perlawanan Harrah. Masyarakat Madinah melakukan baiat kepada Abdullah bin Hanzhalah—ayahnya terkenal dengan sebutan Ghasil al-Malaikah (yang dimandikan para malaikat). Mereka mengepung Bani Umayah yang berjumlah 1000 orang di dalam rumah Marwan bin Hakam yang kemudian diusir dari Madinah.[30] Imam Sajjad as sejak awal tidak terlibat dalam perlawanan ini. Ia tidak melibatkan diri karena mengetahui akhir dari peristiwa yang akan terjadi.[31]

Dalam Peristiwa Harrah, Marwan —salah satu yang memusuhi Ahlulbait as— pergi menemui Abdullah bin Umar dan memintanya untuk menjaga keluarga Marwan. Namun, Abdullah bin Umar menolaknya. Karena Marwan tidak bisa mengharapkan lagi bantuan darinya, ia kemudian meminta perlindungan kepada Imam Sajjad as. Dengan kebesarannya, Imam Sajjad as menerima permintaan Marwan tersebut. Imam Sajjad as mengirim keluarga Marwan beserta istri dan anak-anaknya ke Yanba'—sumber air dekat Madinah sebelah kanan Gunung Radhwa]].[32]

Dalam peristiwa ini Imam Sajjad as mengurusi empat ratus keluarga dan menanggung biaya hidup mereka selama pasukan Muslim bin 'Uqbah —pemimpin pasukan Yazid dalam Peristiwa Harrah— berada di Madinah.[33]

Kebangkitan Kelompok Tawabin

Kebangkitan Tawwabin adalah salah satu bentuk perlawanan setelah peristiwa Karbala yang dipimpin oleh Sulaiman bin Surad al-Khuza'i beserta beberapa tokoh Syiah di Kufah. Tujuan kelompok Tawwabin yaitu akan memberikan kepemimpinan umat kepada Ahlulbait as keturunan Fatimah setelah meraih kemenangan. Sementara pada waktu itu tidak ada lagi keturunan Fatimah selain Ali bin Husain (Imam Sajjad as). Namun, ketika itu tidak terdapat hubungan politik khusus antara kelompok Tawwabin dan Imam Sajjad as.[34]

Kebangkitan Mukhtar

Kebangkitan Mukhtar merupakan kebangkitan ketiga yang penting yang terjadi setelah Peristiwa Karbala, dimana terdapat keraguan menegenai hubungan Imam Sajjad as dengan kelompok ini. Bukan hanya dari sisi politik, namun juga terdapat masalah dari sisi akidah (Mukhtar mengikuti Muhammad bin Hanafiyah). Disebutkan bahwa setelah meraih kemenangan, Mukhtar menarik Syiah Kufah untuk berpihak kepadanya. Mukhtar meminta pertolongan dari Imam Sajjad as, namun Imam tidak menampakkan kesukaannya.[35]

Keutamaan Imam Sajjad As

Ibadat

Malik bin Anas berkata, "Ali bin Husain melakukan salat siang malam sebanyak 1000 rakaat sampai meninggal dunia, sehingga ia dijuluki Zainal Abidin (perhiasan para ahli ibadah).[36]

Ibnu Abdi Rabbah menulis, "Ketika Imam Sajjad as bersiap-siap hendak salat, ia menggigil hebat. Kemudian ia ditanya mengenai hal tersebut. Imam berkata, "Celakalah engkau, apakah engkau tidak mengetahui kepada siapa aku akan menghadap dan kepada siapa aku akan bermunajat?"[37]

Malik bin Anas berkata, "Ketika Ali bin Husain sudah mengenakan kain ihram, ia mengucapkan labbaika allahumma labbaik. Dan pada saat itu juga ia langsung pingsan dan terjatuh dari kendaraan tunggangannya."[38]

Membantu Orang-Orang Fakir

Abu Hamzah Tsumali berkata, "Ali bin Husain as memikul sejumlah makanan dan dalam kegelapan malam ia memberikannya kepada fakir miskin secara diam-diam. Ia berkata, "Sedekah yang diberikan dalam kegelapan malam akan memadamkan amarah Allah swt."[39]

Muhammad bin Ishaq berkata, “Orang-orang Madinah selama hidupnya tidak mengetahui dari mana kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Namun setelah wafatnya Imam Sajjad as, makanan-makanan mereka pun terhenti.[40]

Ketika malam hari memikul roti dipundaknya dan membawanya ke rumah-rumah orang yang membutuhkan, ia berkata, "Sedekah yang tersembunyi akan memadamkan murka Allah." Akibat memikul karung, bekas pikulan tersebut nampak di pundaknya. Hal ini diketahui ketika tubuhnya yang suci dimandikan saat wafatnya.[41] Ibnu Sa'ad menulis, "Ketika orang-orang yang butuh datang menemui Imam Sajjad as, ia pun bangkit dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia berkata, "Sebelum sedekah sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan, ia akan sampai kepada Allah swt."[42]

Pada suatu tahun, Imam Sajjad as hendak menunaikan ibadah haji. Saudarinya, Sukainah, menyiapkan bekal senilai seribu Dirham. Ketika sampai di Harrah, bekal tersebut dibawa ke hadapan Imam Sajjad as, dan Imam membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.[43]

Imam Sajjad as memiliki seorang kemenakan yang miskin. Pada malam hari ketika kemenakannya tidak mengenalinya, ia pergi menjumpai kemenekannya tersebut dan memberinya beberapa Dinar. Kemenakannya bertanya, "Ali bin Husain as tidak memperhatikan familinya sendiri, semoga Allah mengingatkannya." Imam mendengar perkataan kemenakannya tersebut dan dengan sabar serta tenang ia tidak menjelaskan siapa dirinya yang sesunggguhnya. Ketika Imam Sajjad as meninggal, kemenakannya tersebut tidak lagi mendapati kebaikan orang yang selama ini menolongnya. Orang tersebut pada akhirnya mengetahui bahwa orang yang selama ini berbuat baik adalah Ali bin Husain as. Kemudian ia pergi ke kuburan Imam Sajjad as dan menangis di pusara Imam.[44]

Abu Na'im menulis, "Dua kali ia membagi dua hartanya dengan orang-orang tidak mampu. Ia berkata, "Allah menyukai orang berdosa yang bertaubat."[45] Abu Na'im juga menulis, "Masyarakat mengenalnya sebagai orang pelit. Namun ketika ia wafat, mereka mengetahui bahwa Ali bin Husain menjadi penanggung hidup seratus keluarga.[46] Ketika pengemis sering datang kepadanya, ia berkata, "Selamat datang orang yang bersedia membawa bekal saya ke akherat."[47]

Sikap Terhadap Para Hamba Sahaya

Diantara kerja keras Imam Sajjad as yang memiliki nilai agama dan politik adalah perhatiannya kepada budak sahaya. Budak sahaya—khususnya sejak zaman khalifah kedua (Umar bin Khattab), terlebih pada masa Bani Umayah—menjadi bagian sosial yang sangat tertekan. Kaum budak juga berada pada tingkatan masyarakat yang paling rendah pada masa awal Islam. Imam Sajjad as seperti halnya Imam Ali as dengan perilaku Islaminya menyebabkan para budak sahaya Irak yang telah bebas tertarik kepadanya. Ia berusaha keras sehingga kehidupan sosial para budak ini meningkat.

Sayid al-Ahl menulis, "Imam Sajjad as meskipun tidak membutuhkan budak sahaya, namun ia melakukan pembelian budak sahaya. Akan tetapi pembelian ini hanya untuk membebaskan mereka. Para budak yang melihat niat Imam demikian, mereka datang kepada Imam supaya dibelinya. Imam Sajjad as pada setiap keadaaan selalu membebaskan mereka. Sehingga di Madinah terdapat banyak laki-laki dan perempuan, dimana mereka semuanya adalah budak-budak yang dibebaskan oleh Imam Sajjad as.[48]

Terjemahan Bahasa Indonesia Shahifah Sajjadiyah

Karya Peninggalan

Syaikh Mufid menulis, "Para ulama Ahlusunnah mengutip banyak ilmu dari Imam Sajjad as. Diantara karya peninggalannya yang masyhur menurut para ulama adalah nasihat-nasihat, doa-doa, riwayat tentang keutamaan Alquran, halal haram, peperangan dan hari-hari sejarah.[49]Sebuah hal menarik bahwa sekitar 300 hadis dari Imam Sajjad as dimuat dalam kutub Arba'ah.[50]

Shahifah Sajjadiyah

Shahifah Sajjadiyah adalah kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Sebuah cerminan dari kehidupan sosial pada masanya—khususnya di Madinah—terlihat dalam Shahifah Sajjadiyah. Diantaranya, menghindari perilaku dan perkataan buruk masyarakat masa itu dan minta perlindungan kepada Allah swt dari apa yang dilihat dan didengar dan menjelaskan jalan kebenaran dalam naungan pendidikan agama dan Alquran, serta pensucian jiwa dari kotoran. Sepertinya Imam Sajjad as dengan bahasa doanya sebisa mungkin hendak mengeluarkan masyarakat dari belenggu setan menuju naungan Allah swt.[51] Shahifah ini sudah tersebar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Risalah Huquq

Risalah al-Huquq adalah salah satu karya yang dinisbatkan kepada Imam Sajjad as. Dalam risalah ini terdapat 51 hak (atau 50, menurut beberapa cetakan).[52] Risalah ini pun telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sebagian hak yang terdapat di dalamnya adalah:

  1. Hak Allah
  2. Hak Jiwa
  3. Hak Lidah
  4. Hak Salat
  5. Hak Sedekah
  6. Hak Guru
  7. Hak Rakyat
  8. Hak Perempuan
  9. Hak Ibu
  10. Hak Ayah
  11. Hak Anak
  12. Hak Saudara
  13. Hak Budak
  14. Hak Teman
  15. Hak Tetangga
  16. Hak Peminjam Utang
  17. Hak Orang yang Marah Kepada Anda
  18. Hak Orang yang Membahagiakan Anda
  19. Hak Orang yang Berbuat Buruk
  20. Hak Ahli Dzimmah

Doa Sahar yang Masyhur dengan Doa Abu Hamzah

Doa Imam Sajjad ini dibaca pada waktu-waktu sahur bulan Ramadhan dan Abu HAmzah al-Tsumali menukilnya dari beliau. Doa ini mengandung pahaman-pahaman tinggi, ungkapan-ungkapan lugas dan fasih.

Zaiarah Aminullah

Ziarah Aminullah adalah doa ziarah yang dibaca oleh Imam Sajjad as ketika berziarah ke pusara Imam Ali as.[53]

Sahabat dan Murid

Perkataan Ahli Sunnah Tentang Imam Sajjad as

Muhammad bin Muslim Zuhri berkata, "Aku tidak melihat orang dari Bani Hasyim yang lebih unggul darinya dan juga aku tidak melihat seseorang yang lebih fakih darinya."[54]

Syafi’i berkata, "Ia adalah orang yang paling fakih diantara penduduk Madinah."[55]

Jahizh berkata, "Aku tidak melihat seseorang yang meragukan keutamaannya dan berkata tentang keunggulannya."[56]

Didahului oleh:
Imam Husain as
Imam ke-4 Syiah Imamiyah
61 H-95 H
Diteruskan oleh:
Imam Muhammad al-Baqir as

Catatan Kaki

  1. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 137
  2. Syaikh al-Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 128
  3. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, jld. 4, hlm. 386; Kusrawi, Mausu’ah Rjal Kutub al-Syi’ah, jld. 3, hlm. 64; Abu Hatim Razi, al-Jarh wa al-Ta’dil, jld. 6, hlm. 178; Daulabi, Al-Kuna wa al-Asma, jld. 1, hlm. 147; Suyuthi, Tabaqat al-Huffazh, hlm. 37; Mazzi, Tahdzib al-Kamal, jld. 13, hlm. 236.
  4. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, jld. 4, hlm. 386; Dzahabi, al-‘Ibar, jld. 1, hlm. 83; Mazzi, Tahdzib al-Kamal, jld. 13, hlm. 236; Ibnu Tughra, al-Nujum al-Zahirah, jld. 1, hlm. 229; Ibnu al-Khallakan, Wafayat al-A’yan, jld. 3, hlm. 266; Ibnu Hajar Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 7, hlm. 231; Kusrawi, Mausu’ah Rjal Kutub al-Syi’ah, jld. 3, hlm. 64.
  5. Ibnu Khallaqan, Wafayat al-A’yan, jld. 3, hlm. 274; Qalqasyandi, Shubh al-A’sya, jld 1, hlm. 516
  6. Ibnu Sa’d, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 5, hlm. 222.
  7. Al-Syabrawi, al-Ithaf bi Hubbi al-Asyraf, hlm. 276.
  8. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 138; Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 466; Mas'udi, Muruj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 160
  9. Amin, A'yan al-Syiah, jld. 1, hlm. 629
  10. Al-Syabrawi, al-Ithaf bi Hubbi al-Asyraf, hlm. 276
  11. Syaikh Abbas Qummi, Muntaha al-Amal, jld. 2, hlm. 1167
  12. Amin, A;yan al-Syiah, jld. 1, hlm. 629
  13. Al-Syabrawi, al-Ithaf bi Hubb al-Asyraf, hlm. 143
  14. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 138.
  15. Al-Mufid, al-Irsyad, hlm. 380.
  16. Al-Mufid, al-Irsyad, hlm. 155, Beirut: Muassasah Alulbait as li Tahqiqi al-Turats, 1414/1993.
  17. Al-Kafi, jld. 1, hl. 188-189.
  18. Syaikh Mufid, al-Ikhtishsash, hlm. 211; I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, jld. 2, hlm. 181-182
  19. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 138.
  20. Al-Mufid, Al-Irsyad, hlm. 254; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 46, hlm. 12.
  21. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 113.
  22. Thabrisi, I'lam al-Wara, jld. 1, hlm. 469
  23. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 51-52.
  24. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 56-57.
  25. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 58-59.
  26. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 75.
  27. Muntazhar al-Qaim, Tarikh Imamat, hlm. 159, dinukil dari Syaikh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 126
  28. Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 290; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 45, hlm. 149; Syaikh Abbas Qummi, Nafas al-Mahmum, jld. 1, hlm, 794
  29. Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 290; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 45, hlm. 149; Syaikh Abbas Qummi, Nafas al-Mahmum, jld. 1, hlm, 794
  30. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 82-83.
  31. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 86.
  32. Thabari menyebutkan bahwa Imam Sajjad as dan Marwan adalah teman lama. Namun, perkataan ini tidak berdalil, karena Marwan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kebaikannya kepada Bani Hasyim. Oleh karena itu, tidak tepat jika Imam Sajjad as disebutkan berteman dengan Marwan. Thabari hendak menutupi jiwa kepahlawanan dan kemuliaan yang tinggi dari keluarga Bani Hasyim dengan hanya menyebutnya sebagai pertemanan pribadi. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 83.
  33. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 86.
  34. Ja’fari, Tasyayyu’ dar Masir Tarikh, hlm. 186.
  35. Thusi, Ikhtiyar Ma’rifat al-Rijal, hlm. 126.
  36. Dzahabi, al-‘Ibar, jld. 1, hlm. 83.
  37. Ibnu Abdi Rabbah, ‘Aqdu al-Farid, jld. 3, hlm. 169; Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 392.
  38. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 392.
  39. Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 393.
  40. Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 393.
  41. Hilyat al-Auliya, jld. 3, hlm. 136; Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 77; Manaqib, jld. 4, hlm. 154; Shifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 154; al-Khishal, hlm. 616; ‘Ilal al-Syarayi', hlm. 231; Biharul Anwar, hm. 90; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 147-148.
  42. Thabaqat, jld. 5, hlm. 160; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  43. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 78; Shifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 54; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  44. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 107; Hilyat al-Auliya, hlm. 3, hlm. 140; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  45. Thabari, Bagian 3, hlm. 3482; Thabaqat, jld. 5, hlm. 162; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  46. Shifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 54; Hilyat al-Auliya, hlm. 3, hlm. 136; Thabaqat, jld. 5, hlm. 164; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  47. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 77; Manaqib, jld. 4, hlm. 154; Hilyat al-Auliya, hlm. 3, hlm. 136; Bihar, hlm. 137; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  48. Sayid al-Ahl, Zain al-‘Abidin, hlm. 7 dan 47.
  49. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 153.
  50. Muntazhir al-Qaim, Tarikh Imamat, hlm.172, 1432 H
  51. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 105.
  52. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 169-170.
  53. Ibnu Masyhadi, al-Mazar al-Kabir, hlm. 285; Ibnu Qulawaih, Kamil al-Ziarat, hlm. 39
  54. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 9, hlm. 124; al-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffazh, jld. 1, hlm. 75; Al-Amini, Takmilat al-Ghadir, jld. 2, hlm.406.
  55. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 15, hlm. 274.
  56. Ibnu ‘Anbah, ‘Umdat al-Thalib fi Ansab Aali Abi Thalib, hlm. 194; Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 108.

Daftar Pustaka

  • Al-Amini, Abdul Husain. Takmilat al-Ghadir: Tsamarat al-Asfar ila al-Aqthar. Riset: Markaz al-Amir li Ihya al-Turats al-Islami. Beirut: Markaz al-Ghadir li al-Diratsat wa al-Nashr wa al-Tauzi’, 1429 H/2008.
  • Al-Dzahabi. Tadzkirat al-Hufazh. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Tanpa tahun.
  • Al-Mufid, Muhammad bin Muhammad al-Nu’man. Al-Irsyad fi Ma’rifat Hujajillah ‘Ala al-‘Ibad. Riset: Muassasah Al al-Bait as li Ihya al-Turats. Qom: Almu’tamir al-'Alami li Alfiyat al-Syeikh al-Mufid, 1413 H.
  • Ibnu 'Anbah. ‘Umdat al-Thalib fi Ansab Al Abi Thalib. Diedit oleh: Muhammad Hasan Al al-Thaliqani. Najaf: Mansyurat al-Mathba’at al-Haidariyah, 1961.
  • Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiyah, 'Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakaahu, 1962.
  • Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Riset oleh: Syiiri. Beirut: Dar al-Ihya Turats al-‘Arabi, 1408 H/1988.
  • Imam Sajjad. Shahifah Sajjadiyah. Terjemah Asadullah Mubassyari. Teheran: Penerbit Ney, 1991.
  • Syahidi, Sayid Ja’far. Zendegani-ye Ali bin al-Husain as. Teheran: Daftar Nasyr Farhanggi Islami, 2006.