Prioritas: b, Kualitas: c
tanpa link
tanpa Kategori
tanpa alih
tanpa referensi

Peristiwa Harrah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Peristiwa al-Harrah (Bahasa Arab: وقعة الحرة), adalah sebuah kejadian yang begitu kejam dan sadis yang dilakukan oleh sebuah pasukan besar yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah yang disertai dengan kebangkitan warga Madinah.

Kebangkitan penduduk Madinah terjadi pada tahun 63 H. yang dipimpin oleh Abdullah bin Hanzalah bin Abi 'Amir terhadap pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Kebanyakan dari penduduk Madinah, diantaranya 80 orang dari para sahabat Nabi Saw dan 700 orang para hafiz dan penghafal Al-Quran dalam tragedi ini terbunuh, dalam peristiwa Harrah ini harta dan kehormatan mereka dirampok.

Imam Sajjad As, tidak ikut serta dalam kebangkitan ini; namun rumahnya menjadi pelindung bagi banyak penduduk dari para wanita, anak-anak kecil dan bahkan menjadi tempat yang aman bagi keluarga, kalangan kerabat dan sanak famili Marwan bin Hakam.

Makna Harrah dan Masa Kejadian

Harrah berarti bebatuan hitam [1] dan karena perjuangan ini dimulai dari bebatuan di timur Madinah dengan nama Harrah Waqim, atau Harrah Zuhrah (yang dinisbatkan kepada bani Zuhrah dari kaum Yahudi) ,[2]maka populer dengan nama ini. Mayoritas referensi sejarah menyebut tragedi Harrah terjadi pada hari kedua Dzulhijjah atau dua tiga hari di akhir Dzulhijjah tahun 63 H.,[3] dengan demikian riwayat-riwayat yang menyebutkannya pada tahun 62 H.[4] kurang tepat.

Sebab Peristiwa

  • Ketidakpuasan masyarakat Madinah terhadap pemerintahan Yazid bin Muawiyah karena ketidaklayakannya dalam mengambil kebijakan-kebijakan dan kekotorannya akan kejahatan-kejahatan secara terang-terangan, seperti pembunuhan Imam Husain As.[5]
  • Baiat masyarakat dengan Abdullah bin Zubair dan pencopotan Yazid dari kekhilafahan.
  • Pengetahuan masyarakat Madinah akan kebejatan moral Yazid.[6]
  • Masyarakat Madinah tidak mau mengirim upeti dan barang berharga untuk Yazid.[7]

Pencopotan Wali Madinah

Masyarakat dengan dipimpin Abdullah bin Zubair mencopot Utsman bin Muhammad dari kepemimpinan Madinah, mereka memberontak pemerintahan Bani Umayyah dan mengepung mereka yang berjumlah kurang lebih seribu orang dan berkumpul di rumah Marwan bin Hakam.[8]

Ibnu Zubair memilih Abdullah bin Handzalah sebagai wali Madinah.[9] Riwayat ini dan sebagian riwayat-riwayat yang sudah dituturkan menunjukkan seberapa kuat pemikiran dan tendensi pengikut Zubair yang mendominasi dan pemimpin atau para pemimpin perjuangan ini.

Persiapan Pasukan Syam

Upaya Abdullah bin Ja'far sebagai utusan pemerintah Syam untuk menjadikan rakyat patuh kepada Yazid tidak membuahkan hasil. Surat ancaman Yazid dan juga dengan perantara Nu'man bin Basyir dalam memadamkan kebangkitan ini tidaklah efektif.[10] Yazid bertekad akan mempersiapkan pasukan untuk memberantas warga Madinah. Setelah keenganan Ubaidullah bin Ziyad untuk memegang tampuk kepemimpinan, dia menunjuk Muslim bin Uqbah al-Murri sebagai utusan pekerjaan ini.[11] Pasukannya yang berjumlah 5000 atau 27000 orang.[12]

Galian Parit di Madinah

Ketika kabar keberangkatan pasukan Yazid sampai ke telinga masyarakat Madinah, mereka menggali parit di sekeliling Madinah dan berlindung.

Masyarakat Madinah mengizinkan sanak kerabat pemerintahan Syam untuk dapat keluar dari Madinah, dengan syarat mereka tidak membocorkan informasi apapun kepada pasukan Syam dan mereka tidak ikut serta dalam peperangan. Bani Umayyah dengan keluar dari Madinah, telah menyalahi janjinya dan Abdul Malik bin Marwan dengan nasihat ayahnya bersama Muslim bin Uqbah mendesain serangan ke kota Madinah.

Muslim turun di sebelah timur Madinah dengan melewati Harrah, dan memberikan tempo 3 hari kepada masyarakat Madinah, [13] lantas masuk kota, setelah mengelilingi parit dari belakang dan dengan bantuan kabilah Bani Haritsah, yang disogok dengan janji uang. [14] Dan mereka banyak melakukan kejahatan, yang terkenal dengan kejahatan dan pemborosan.[15]

Sikap Pasukan Syam terhadap Masyarakat

Muslim bin Uqbah, dengan perintah Yazid, menghalalkan jiwa dan harta masyarakat untuk pasukannya selama tiga hari. Ibn Katsir[16] dan Suyuthi[17] [18] , menyebut penjarahan dan kejahatan-kejahatan pasukannya sebagai musibah yang memilukan dan tidak dapat digambarkan lagi.

Mas'udi[19] menyebutnya sebagai tragedi terkeji, setelah syahadah Imam Husain As.

Pasukan Muslim bin Uqbah selama tiga hari tersebut melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk, seperti pemerkosaan, mengeluarkan janin dari dalam perut ibunya, pembunuhan bayi[20] dan penistaan terhadap para sahabat besar Rasulullah Saw, seperti Jabir bin Abdillah al-Anshari, yang sudah buta dan Abu Said al-Khudri. [21]

Jumlah orang yang terbunuh dalam peristiwa Harrah mencapai 4000 orang, dan bahkan disebutkan mencapai 11700 atau 10700 orang. Dan diantaranya adalah 700 penghafal Al-Quran dan 80 sahabat Rasulullah Saw terbunuh, sampai-sampai tidak tersisakan lagi Ahli Badr, Abdullah bin Handzalah dan putranya juga terbunuh.

Mengambil Baiat dari Masyarakat

Setelah kejahatan-kejahatan keji ini, lantas Muslim mengumpulkan masyarakat kota dan memintanya supaya mengikuti Yazid, dengan bertolak bahwa mereka dan ayah-ayah mereka adalah budak Yazid [22] dan dengan kata lain mereka adalah Fa'i (rampasan perang) Yazid [23] dan orang yang membangkang perintah ini akan dipenggal. [24]

Hanya Ali bin Abdullah bin Abbas (dengan perantara familinya yang ada di pasukan Yazid) dan Imam Sajjad As saja yang dapat dispensasi dari baiat. [25]

Sikap Imam Sajjad dalam Kebangkitan ini

Ketidakikutsertaan Imam dengan para pemberontak: Imam Sajjad As, tidak ikut serta dengan masyarakat Madinah dalam kebangkitan ini. [26] Karena selain kebangkitan ini berlangsung dengan izin dan dukungan Abdullah bin Zubair, Imam juga dengan wawasan yang beliau miliki tahu tentang sedikitnya jumlah penduduk Madinah di hadapan pasukan Syam yang banyak dan terkenal dengan kebrutalan dan kekejaman, begitu juga keputusannya untuk menjauhkan tuduhan-tuduhan pemerintah Umayyah – yang menurut sebuah pendapat, inilah satu-satuya tujuan serangan Muslim bin Uqbah ke Madinah – dan menjaga sejumlah kecil para pengikut beliau serta menjaga kemuliaan haram Rasulullah Saw, termasuk dalil-dalil yang diprediksikan akan ketidakberpihakan Imam dalam tragedi ini. [27]

Rumah Imam, Tempat Keamanan: Karena ketidakikutsertaan Imam Sajjad As dengan para pemberontak, maka keluarganya terjauhkan dari kejahatan ini dan rumah beliau juga menjadi tempat yang aman bagi sejumlah para wanita dan anak-anak, bahkan bagi keluarga Marwan bin Hakam dan beliau mengirim sanak kerabat Marwan ke Yanbu' bersama wanita dan putranya. [28]

Sikap Muslim dengan Imam Sajjad As: Setelah berakhirnya tragedi, Imam Sajjad As dengan disertai Marwan dan anaknya, Abdul Malik menemui Muslim. Seolah-olah sejak semula Yazid sudah memerintahkan Muslim untuk menjaga kondisi Imam; dengan demikian, Muslim sangat memuliakannya, dia mempersiapkan tunggangan dan memberikan kepada Imam, namun Imam pun mengembalikannya. [29] Sebagian sebab sikap baik Muslim dengan Imam Sajjad As bermula dari doa yang dipanjatkan oleh Imam yang menyebabkan kewibawaan dan ketakutan dalam hati Muslim. [30]

Ketidakikutsertaan sebagian para sahabat dengan para pemberontak: Sebagian para sahabat, seperti Abdullah bin Umar, Abu Said al-Khudri dan Jabir bin Abdillah al-Anshari tidak menyertai para pemberontak. [31]

Sebab Kekalahan

Ibnu Qutaibah [32] setelah menganalogikan kekalahan dini dan yang menakjubkan masyarakat Madinah dalam tragedi Harrah dengan perlawanan Abdullah bin Zubair dan para penolongnya yang berjumlah sedikit di hadapan pasukan ini, menyebut sebab utama kekalahannya adalah pemilihan dua amir tersebut, namun dalam referensi tidak dituturkan tentang perselsihan para pemimpin kebangkitan Madinah tersebut.

Dari ucapan Muslim bin Uqbah, setelah mengakui tauhid, amal terbaik adalah pembunuhan penduduk Harrah. [33] Para sejarawan muslim meyakini bahwa penumpasan brutal masyarakat Madinah dalam tragedi Harrah adalah balas dendam darah Bani Umayyah dan orang-orang yang terbunuh dalam perang Badr dan mengambil qishas pembunuhan Utsman bin Affan terhadap masyarakat Madinah, khususnya kaum Anshar. [34]

Catatan Kaki

  1. Khalil bin Ahmad; Yaqut al-Hamawi, dibawah kata Harrah.
  2. Suhaili, jld. 6, hlm. 255.
  3. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 185; Baladzuri, jild. 4, bagian 2, hlm. 41; Thabari, jild. 5, hlm. 494.
  4. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 4, bagian, 2, hlm. 42; Ya'qubi, jld. 2, hlm. 251.
  5. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 267.
  6. Baladzuri, jld. 4, bagian. 2, hlm. 30-31; Thabari, jld. 5, hlm. 479; Abul Faraj Ishfahani, jld. 1, hlm. 23.
  7. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jild. 1, hlm. 176; Ya'qubi, jld. 2, hlm. 250.
  8. Thabari, jild. 5, hlm. 482; Mas'udi, Muruj, jild. 3, hlm. 267.
  9. Ibn A'tsam, al-Futuh, jild. 5, hlm. 156-157, 292-293.
  10. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 177-178; Thabari, jld. 5, hlm. 481.
  11. Ibnu Atsir, 1399 – 1402, jld. 4, hlm. 111-112.
  12. Ya'qubi, jld. 2, hlm. 250-251; Thabari, jld. 5, hlm. 483; Dzahabi, Hawadits wa Wafayat 61-580, hlm. 25.
  13. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 178-180; Thabari, jld. 5, hlm. 485-487.
  14. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 179-181; Dinawari, hlm. 265.
  15. Ibn Habib,al-Munammaq fi Akhbar Quraisy, hlm. 390; Mas'udi, Muruj, jld. 3, hlm. 268; Ibn Atsir, al-Kamil, 1970-1973.
  16. Al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 4, juz. 8, hlm. 220.
  17. Hlm. 209.
  18. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hlm. 179; Baladzuri, jld. 4, bagian. 2, hlm. 37; Thabari, jild. 5, hlm. 484.
  19. Tanbih, hlm. 306.
  20. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jild. 1, hlm. 148; Ibn Jauzi, jild. 6, hlm. 15; Muqaddasi, jild. 6, hlm. 14.
  21. Suhaili, jld. 6, hlm. 253-254.
  22. Ibnu Habib, hlm. 391; Baladzuri, jld. 4, bagian. 2, hlm. 38-39; Ya'qubi, jld. 2, hlm. 250-251; Mas'udi, Muruj, jld. 3, hlm. 267.
  23. Dinawari,
  24. Thabari, jld. 5, hlm. 491-493; as-Samhudi, jld. 1, lm. 126.
  25. Ibnu Habib, hlm. 391; Mas'udi, Muruj, jld. 3, hlm. 268.
  26. Dinawari, hlm. 266; Thabari, jild. 5, hlm. 484-485; Mas'udi, Tanbih, hlm. 305.
  27. Huseini Jalali, hlm. 61-62, 68-70.
  28. Ibid., hlm. 61-62, 68-70.
  29. Thabari, jild. 5, hlm. 484-485, 493; Mufid, jld. 2, hlm. 151-153.
  30. Mas'udi, Muruj, jld. 3, hlm. 269; Mufid, jld. 2, hlm. 151-153.
  31. Suhaili, jild. 6, hlm. 253-254.
  32. Al-Imamah wa al-Siyasah, jld. 1, hllm. 185; Ibn Sa'ad, Kitab 'Uyun al-Akhbar, jld. 1, juz, 1, hlm. 1.
  33. Baladzuri, jld. 4, bagian. 2, hlm. 40; Thabari, jld. 5, hlm. 497; Ibn A'tsam Kufi, jld. 5, hlm. 163.
  34. Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, jild. 1, hlm. 179; Dinuri, hlm. 267; Baladzuri, jld. 4, bagian. 2, hlm. 40-42; Abul Faraj Ishfahani, jld. 1, hlm. 26; Ja'fariyan, hlm. 160-161, 505.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah, cet. Muhammad Ibrahim Bina, Muhammad Ahmad 'Asyur, Kairo, 1970-1973.
  • Ibid., al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut 1385-1386/ 1965-1966. cet. Offset 1399-1402/1979-1982.
  • Ibnu A'tsam Kufi, Kitab al-Futuh, cet, Ali Syiri, Beirut, 1411/1991.
  • Ibnu Jauzi, al-Muntadzam fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, cet. Muhammad Abdul Qadir 'Atha, Mustafa Abdul Qadir 'Atha, Beirut, 1412/1992.
  • Ibnu Habib, Kitab al-Munammaq fi Akhbar Quraisy, cet. Khursyid Ahmad Faruq, Haidarabad, Dekan, 1384/1964 Q.
  • Ibnu Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, al-Ma'ruf bi Tarikh al-Khulafa', cet. Thaha Muhammad Zaini, Kairo, 1387/1967, cet. Offset, Beirut, Bi Ta.
  • Ibn Sa'ad, Kitab 'Uyun al-Akhbar, Beirut, Darul Kitab al-Arabi, Bi Ta.
  • Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jild. 4, cet. Ahmad Abu Mulhim dkk, Beirut, 1405/1985 M.
  • Ahmad bin Yahya Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jild. 4, bagian. 2, cet. Maks Shelusinger, Yerusalim, 1938, cet. Offset, Baghdad, Bi Ta.
  • Rasul Ja'fariyan, Tarikh Khulafa, Az Rehlate Payambar (Saw) ta Zawale Umawiyan (11-132 H), Teheran, 1374 S.
  • Muhammad Ridha Huseini Jalali, Jihad al-Imam al-Sajjad, Qom, 1418 Q.
  • Khalifah bin Khayath, Tarikh Khalifah bin Khayath, Riwayat Baqi bin Khalid (Makhlad), cet. Suhail Zakar, Damaskus, 1967-1968.
  • Khalil bin Ahmad, Kitab al-'Ain, cet. Mahdi Makhzumi dan Ibrahim Samarra'i, Qom, 1405.
  • Ahmad bin Dawud Duniri, al-Akhbar al-Thawal, cet, Abdul Mun'im Amir, Kairo, 1960, cet. Offset Qom, 1368 S.
  • Muhammad bin Ahmad Dzahabi, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam, cet. Umar Abdus Salam Tadmuri, Hawadis wa Wafayat 61-580, Beirut, 1419-1990.
  • Ali bin Abdullah as-Samhudi, Wafa al-Wafa' bi Akhbar Daril Mushtafa, cet. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Beirut, 1404/1984.
  • Abdurrahman bin Abdullah as-Suhaili, al-Raudh al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, cet. Abdurrahman Wakil, Kairo, 1387-1390/1967-1970, cet. Offset 1990/1410.
  • Abdurrahman bin Abi Bakr Suyuthi, Tarikh al-Khulafa', cet. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Qom, 1370 S.
  • Ja'far Syahidi, Zensdegani Ali bin al-Husein (As), Teheran, 1365 S; Thabari, Tarikh (Beirut).
  • Mas'udi, Tanbih, Ibid., Muruj (Beirut).
  • Muhammad bin Muhammad Mufid, al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah ala al-'Ibad, Qom, 1413.
  • Muthahhar bin Thahir Muqaddasi, Kitab al-Bud' wa al-Tarikh, cet. Kilman Hiwar, Paris, 1899-1919, cet. Offset Teheran, 1962.