Shafiyah binti Abdul Mutthalib

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Sahabat
http://id.wikishia.net/view/Majma_Jahani_Ahlulbait_As
Info pribadi
Nama lengkap Shafiyah binti Abdul Muththalib
Garis keturunan Bani Hasyim
Kerabat termasyhur Nabi Saw.Zubair bin 'Awwam
Muhajir/Anshar Muhajir
Tempat Tinggal Mekah
Wafat/Syahadah Tahun 20 H
Tempat dimakamkan Baqi
Informasi Keagamaan
Memeluk Islam Setelah saudaranya hamzah dan pada saat Nabi saw Masuk ke rumah Arqam bin Abi Arqam
Keikutsertaan dalam Ghazwa Perang Khandaq.Perang Uhud.Perang Khaibar
Hijrah ke Habasyah. Madinah
Aktivitas lain Baiat kepada Nabi saw

Shafiyah binti Abdul Muththalib (Bahasa Arab:صفية بنت عبد المطلب) adalah bibi Nabi Islam saw dan ibu Zubair bin 'Awwam yang meriwayatkan beberapa riwayat dari Nabi saw. Pada sebagian perang awal Islam, Shafiyah turut membantu para pejuang dan pada perang Khandaq berhasil membunuh salah seorang Yahudi. Ia meninggal pada tahun 20 H pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab dan dimakamkan di Baqi. Di kubur Shafiyah dahulu dibangun kubah dan pusara yang dihancurkan oleh kaum wahabi.

Biografi

Shafiyah binti Abdul Muththalib lahir di Mekah pada tahun 53 sebelum Hijrah (kira-kira 10 tahun sebelum Amul Fil). Ayah Shafiyah Abdul Muththalib (kakeh Nabi) dan ibunya Halah bin Wahib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah (bibi Nabi). Dia mempunyai 10 saudara dan 6 saudari. Hamzah, Muqawwim dan Hajal adalah saudara seibunya.[1]

Pada zaman Jahiliyah, pertama Shafiyah menikah dengan Haris bin Harb bin Umayah bin Abdu Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah, kemudian menikah dengan 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah (saudara seibu Khadijah) yang terbunuh di perang Fujjar.[2] Dari suami pertama ia dikaruniai putri bernama Shabqa'[3] atau Shafya[4] dan dari suami kedua ia dikaruniai 3 putra: Zubair, Saib dan Abdul Ka'bah.[5] Sebagian ahli sejarah menukil bahwa suami pertamanya sebelum 'Awwam bin Khuwailid adalah seseorang bernama Umair bin Wahab bin Abd bin Qushai.[6]

Memeluk Islam

Semua sejarawan mengakui keislaman Shafiyah. Namun terjadi perbedaan pendapaat mengenai keislaman bibi-bibi Nabi saw yang lain.[7] Sumber-sumber sejarah tidak berbicara tentang bagaimana Shafiyah memeluk Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa ia termasuk muslim pertama yang memeluk Islam di Mekah dan masuk Islamnya setelah saudaranya, Hamzah dan pada saat Nabi saw masuk ke rumah Arqam bin Abi Arqam.[8]

Shafiyah bersama sekelompok muslimin pertama hijrah ke Habasyah kemudian bersama putranya Zubair hijrah ke Madinah.[9] Nasehat Shafiyah kepada saudaranya, Abub Lahab untuk menerima ajakan Nabi Muhammad saw disebutkan dalam sumber-sumber.[10]

Kedudukan Sosial

Shafiyah binti Abdul Muththalib termasuk wanita yang berbaiat kepada Nabi saw[11] dan dari perawi beliau yang riwayat-riwayatnya dinukilkan darinya.[12]

Demikian juga ia melakukan sebagian pekerjaan wanita bani Hasyim. Misalnya, dinukilkan dari Shafiyah bahwa "ketika Husain bi Ali as lahir, aku juga ikut membantu mengerjakan proses kelahiran anak itu".

Begitu juga dia yang bertanggung jawab memandikan Ummu Kultsum putri Rasulullah saw.[13]

Juga dinukil bahwa Shafiyah saat Nabi saw dalam sakaratul maut hadir di sisinya dan beliau bersabda kepada Shafiyah dan Fatimah Zahra sa:"Hai Fatimah putri Rasulullah, hai Shafiyah, bibi Rasulullah, untuk hisab dan pertanggung jawaban yang akan kamu hadapi di sisi Tuhan lakukan amal kebajikan dengan niat ikhlas, sebab aku tidak akan mengganti kamu menjawab Tuhan Yang Mahatahu dan aku tidak mampu membela kamu".[14]

Menurut penukilan Ibnu Qutaibah, Zubair bin 'Awwam karena ibunya dari Bani Hasyim menilai dirinya Bani Hasyim, sekalipun dia dari bani Asad bin Abdul Uzza tapi menisbatkan nasabnya kepada Bani Hasyim.[15]

Juga dinukilkan bahwa Ibnu Abbas pada peristiwa perang Jamal menjumpai Zubair dan menyebut dia putra Shafiyah sembari berkata padanya, "Apakah kamu akan memerangi Ali bin Abi Thalib as".[16]

Abdullah bin Zubair setelah mendebat Abdul Malik bin Marwan dalam suratnya, menyebut Shafiyah binti Abdul Muththalib sebagai salah satu wanita surga dan berbangga dengannya.[17]

Hadir Dalam Perang

Menurut penukilan sumber-sumber historis, Shafiyah ikut serta dalam perang Uhud pada 3 Syawal tahun 3 H. Setelah kaum muslimin meninggalkan perang, Shafiyah dengan tombak di tangannya menghadang musuh, dan mencela mereka yang meninggalkan Nabi saw.

Pasca kesyahidan Hamzah dan penyayatan jasadnya oleh Hind, isteri Abu Sufyan, Shafiyah bertekad menghampiri jenazah saudaranya dan dengan dua pakaian yang dimilikinya hendak mengafani saudaranya.[18] Nabi saw menyuruh Zubair bin 'Awwam untuk mengembalikan sang ibu supaya tidak melihat jenazah tercabik-cabik sang saudara. Saat Zubair berkata kepada ibunya Shafiyah bahwa Nabi saw menyuruh kamu kembali ke Madinah, Shafiyah berkata:"Mengapa? Aku dikabarkan bahwa jasad Hamzah disayat-sayat, dan ini di jalan Allah. Olehnya, aku sangat rela dan pasrah kepada rida-Nya, dan akan sabar Insyaallah". Rasul saw mengetahui apa yang terjadi, lantas berkata pada Zubair:"Biarkan dia pada kondisinya". Shafiyah menghampiri jenazah Hamzah dan memohonkan ampunan untuknya. Saat itu Nabi saw menyuruh agar Hamzah dimakamkan.[19]

Pada perang Khandaq Shafiyah bibi Nabi saw bersama dengan sejumlah wanita, anak-anak kecil dan Hassan bin Tsabit penyair tersohor zaman Nabi saw berada di Benteng Fari'. Shafiyah berkata:"Seorang Yahudi mendekati kami dan mengitari benteng. Rasulullah dan kaum muslimin sedemikian terdesak oleh musuh sehingga tidak dapat mengontrol kami, olehnya aku berkata pada Hassan: demi Tuhan, aku tidak aman dari lelaki Yahudi ini, turunlah dan bunuhlah dia". Hassan menjawab:"Hai putri Abdul Muththalib, semoga Allah merahmatimu! Demi Tuhan, kamu sendiri tahu bahwa ini bukan pekerjaanku. Shafiyah berkata: karena Hassan menjawabku seperti ini, akhirnya aku mengambil tombsk dan membunuh dia. Setelah itu aku kembali ke benteng dan aku berkata kepada Hassan: hai Hassan, sekarang turunlah dan ambillah senjata dan bajunya. Hassan menjawab: hai putri Abdul Muththalib, aku tidak butuh senjata dan bajunya.[20]

Sebagian ahli sejarah mengatakan, Shafiyah wanita pertama yang membunuh salah seorang dari musuh Nabi saw.[21] Seusai perang Ahzab dan perang Quraizhah, Nabi saw memberikan saham khusus dari Fai' kepada Shafiyah dan sejumlah wanita yang hadir dalam perang ini.[22]

Demikian juga ia hadir bersama sejumlah wanita pada perang Khaibar[23] dan Nabi saw tidak memberikan saham rampasan perang kepada para wanita yang hadir dan memberikan saham Fai' kepada mereka.[24]

Syair

Shafiyah mempunyai syair tentang penggalian sumur Zamzam oleh keluarganya,[25] duka ayahnya Abdul Muththalib,[26] saudaranya Hamzah setelah perang Uhud,[27] saudaranya Zubair bin Abdul Muththalib dan anaknya Sāib. Demikian juga ia menyampaikan syair-syair tentang duka Nabi saw.

Setelah Nabi saw

Mengenai biografi Shafiyah pada masa khalifah-khalifah pertama tidak banyak disinggung. Hanya saja Umar bin Khattab setelah pengubahan cara pembagian baitul mal diantara kaum muslimin menentukan 6000 Dirham untuk Shafiyah sebagai bibi Nabi saw dan dari wanita Bani Hasyim.

Shafiyah bin Abdul Muththalib wafat pada rahun 20 H pada masa khilafah Umar bin Khattab dan dimakamian di Baqi.[28] dan Asma binti Umais memandikan dia.[29]

Makam Shafiyah di Baqi di sebelah makam Ummu al-Banin dan 'Atikah

Makam Shafiyah

Salah satu kubur di Baqi yang memiliki bangunan adalah kubur Shafiyah putri Abdul Muththalib dan bibi Nabi saw. Kubur ini hingga pertengahan kedua abad 14 masih ada di luar Baqi di salah satu gang bagian barat.[30]

Tanah disebelah kuburan ini diserahkan kepada Mughirah bin Syu'bah oleh Utsman bin Affan. Mughirah membuat rumah di atas tanah ini.[31] Olehnya, makam Shafiyah terletak di samping tembok rumah ini. Mathari memberitakan ketidakberhasilan para arsitek untuk membuat kubah bangunan ini.[32]

Samhudi sempat berbicara tentang bangunan di kubur Shafiyah dan mengatakan bahwa itu tidak berkubah. Sayid Ismail Marandi dalam surat perjalanannya tahun 1255 H melaporkan akan adanya kubah diatas kuburan ini.[33] Atas dasar ini, harus dikatakan bahwa pembuatan kubah ini terjadi antara abad 10 dan 13. Pada tahun 1373 H wali kota Madinah, dengan menghancurkan tembok penghalang antara Baqi dan gang yang disitu ada makam Shafiyah, menyatukan gang ini dan tanah di sekitarnya yang berukuran 3494 m2 dengan Baqi.[34]

Catatan Kaki

  1. Usdul Ghabah, jld.6, hlm.172
  2. Al-Ma'ārif, hlm.128, dan al-Bad'u wa al-Tarikh, jld.5, hlm.83
  3. Ansābul Asyrāf, jld.11, hlm.194
  4. Tarikh Thabari, jld.11, hlm.620 dan Imta'ul Asma', jld.6, hlm.282
  5. Tarikh Thabari, jld.11, hlm.620, dan Al-Isti'āb, jld.4, hlm.1873
  6. Al-Mihbar, hlm.63
  7. Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld.7, hlm.105
  8. Ansābul Asyrāf, jld.4, hlm.284
  9. Ansābul Asyrāf, jld.1, hlm.202 dan Subul al-Huda, jld.11, hlm.312
  10. Subul al-Huda, jld.2, hlm.323 dan Ansābul Asyrāf, jld.1, hlm.119
  11. Al-Mihbar, hlm.406
  12. Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld.8, hlm.351 dan al-Ishābah jld.8, hlm.214
  13. Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld.8, hlm.31 dan Tarikh Thabari, jld.3, hlm.124; Imta'ul Asma', jld.5, hlm.350
  14. Imta'ul Asma', jld.2, hlm.134; dan jld.14, hlm.474, dan al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld.3, hlm.39
  15. Al-Imāmah wa al-Siyāsah, jld.1, hlm.28
  16. Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld.3, hlm.81; Ansābul Asyrāf, jld.9, hlm.430
  17. Ansābul Asyrāf, jld.7, hlm.132
  18. Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld.3, hlm.11
  19. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.97; Al-Maghāzi, jld.1, hlm.290; Tarikh Ya'qubi, jld.2, hlm.48; al-Muntazhim, jld.3, hlm.170; Dalāil al-Nubuwah, jld.3, hlm.286; Tarikh Thabari, jld.2, hlm.529; Usdul Ghabah, jld.6, hlm.173; Imta'ul Asma', jld.1, hlm.167; Subul al-Huda, jld.4, hlm.224, dan al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld.4, hlm.41 dan 42
  20. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.228; al-Maghāzi, jld.1, hlm.288; Tarikh Thabari, jld.2, hlm.577; Usdul Ghābah, jld.1, hlm.484; al-A'lām, jld.3, hlm.206; al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld.4, hlm.108 dan Tarikhul Islam, jld.2, hlm. 292
  21. Dalāil al-Nubuwah, jld.3, hlm.443
  22. Al-Maghāzi, jld.2, hlm.522 dan Subul al-Huda, jld.5, hlm.16
  23. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.334, al-Maghāzi, jld.2, hlm.685; Tarikh Thabari, jld.3, hlm.11; 'Uyunul Atsar, jld.2, hlm.177
  24. Al-Thabaqāt al-Kubrā, jld.8, hlm.34 dan Imtā'ul Asma', jld.1, hlm.321
  25. Mu'jamul Buldān, jld.3, hlm.149; Ansābul Aayrāf, jld.1, hlm.78
  26. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.169
  27. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld.2, hlm.167; Subul al-Huda, jld.4, hlm.239; al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld.4, hlm.59
  28. Al-Isti'āb, jld.4, hlm.1873; Tarikhul Islam, jld.3, hlm.221; Tarikh Khalifah, hlm.83
  29. Al-Ishābah, jld.8, hlm.460
  30. Najmi, hlm.394
  31. Ibnu Syubbah, jld.1, hlm.126-227
  32. Mathari, hlm.121
  33. Mīqāt Haj, vol.5 hlm.118 "Pen-sifatan Madinah"
  34. Hafiz, hlm.173


Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Abul Hasan Izzuddin Ali bin Muhammad al-Juzri, Usdul Ghābah fi Makrifah al-Shahābah, Bairut, Darul Fikr, 1409 H
  • Ibnu Jauzi, Abul Faraj Abdurrahman bin Ali al-Qurasyi, al-Muntazhim fi Tarikhul Umam wal Mulūk, riset Muhammad Abdul Qadir Atha dan Mustafa Abdul Qadir Atha, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, cet.1, 1412 H
  • Ibnu Hajar Askalani, Ahmad bin Ali, al-Ishābah fi Tamyiz al-Shahābah, riset Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu'awwadh, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, cet.1, 1415 H
  • Ibnu Khayyath, Abu Umar dan Khalifah bin Khayyath Laitsi 'Ushfuri, Tarikh Khalifah bin Khayyath, riset Fawwaz, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, cet.1, 1415 H
  • Ibnu Saad, Muhammad Hasyimi Bashri, Al-Thabaqāt al-Kubrā, riset Muhammad Abdul Qadir Atha, Bairut, Datul Kutub al-Ilmiah, cet.1, 1410 H
  • Ibnu Sayid al-Nas, Abul Fath Fathuddin Muhammad bin Muhammad Ya'muri Rub'i, 'Uyunul Atsar fi Funun al-Maghāzi wa al-Syamāil wa al-Sair, riset Ibrahim Muhammad Ramadhan, Bairut, Darul Qalam, cet.1, 1414 H
  • Ibnu Syubbah, Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, riset Syaltut, Qom, Darul Fikr, 1410 H
  • Ibnu Abdil Bar, Abu Umar Yusuf bin Abdullah, al-Isti'āb fi Makrifah al-Ashhāb, riset Ali Muhammad al-Bajawi, Bairut, Darul Jabal, cet.1, 1412 H
  • Ibnu Qutaibah, Abu Muhammad Abdullah bin Muslim, al-Imamah wa al-Siyasah (Tarikhul Khulafa), riset Ali Syiri, Bairut, Darul Adhwa, cet.1, 1410 H
  • Ibnu Qutaibah, al-Ma'ārif, riset Tsirwat Ukkasyah, Kairo, al-Haiah al-Mishriyah al-Ammah li al-Kutub, cet.2, 1992 M
  • Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Abul Fida Ismail bin Umar, al-Bidayah wa al-Nihayah, Bairut, Darul Fikr, 1407 H
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik al-Himyari al-Mu'afiri, al-Sirah al-Nabawiyah, riset Mustafa al-Saqqa dan Ibrahim al-Abyari dan Abdul Hafiz Syalbi, Bairut, Darul Makrifah, tanpa tahun
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Kitab Jamal min Ansābil Asyrāf, riset Suhail Zikar dan Riyadh Zirikli, Bairut, Darul Fikr, cet.1, 1417 H
  • Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Hudain, Dalāil al-Nubuwah wa Makrifah Ahwāl Shahib al-Syari'ah, riset Abdul Mu'thi Qal'aji, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, cet.1, 1405 H
  • Hafiz, Ali, Fushulun min Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, Jedah, Syirkah al-Madinah al-Munawwarah, 1417 H
  • Dzahabi, Abu Abdullah Syamsuddin Muhammad bin Ahmad, Tarikhul Islam wa Wafayātul masyāhir wal A'lām, riset Umar Abdussalam al-Tudmari, Bairut, Darul Kutub al-Arabi, cet.2, 1413 H
  • Zirikli, Khairuddin, al-A'lām Qamus Tarajum li Asyhar al-Rijāl wa al-Nisā mi al-Arab wa al-Mustaghribin wa al-Mutsyriqin, Bairut, Darul Ilm li al-Malayin, cet.8, 1989 M
  • Al-Syami, Muhammad bin Yusuf al-Shalihi, Subul al-Huda wa al-Rasyād fi Sirah Khairil Ibād, riset Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu'awwadh, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, cet.1, 1414 H
  • Thabari, Abu Jakfar Muhammad Jarir, Tarikhul Umam wal Muluk, riset Abul Fadhl Ibrahim, Bairut, Dar al-Turats, cet.2, 1997 M
  • Mas'udi, Abul Hasan Ali bin al-Husain bin Ali, Muruj al-Dzahab wa Ma'ādinul Jauhar, riset As'ad Daghir, Qom, Darul Hijrah, cet.2, 1409 H
  • Muthahhari, Muhammad, al-Ta'rif bima Ānasat al-Hijah riset Al-Rahili, Riyad, Darul Malik Abdul Aziz, 1426 H
  • Maqdisi, Muthahhar bin Thahir, al-Bad'u wa al-Tarikh, Bur Sa'id, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, tanpa tahun.
  • Muqrizi, Taqiyuddin Ahmad bin Ali, Imtāul Asmā bima li al-Nabiy min al- Ahwāl wa al-Amwāl wa al-Hafadah wa al-Matā', riset Muhammad Abdul Hamid al-Namisi, Bairut, Darul Kutub al-Miah, cet.1, 1420 H
  • Miqāt Haj, Tehran, perwakilan Wali Faqih dalam urusan haji dan ziarah
  • Najmi, Muhammad Shadiq, Tarikhe Harame Aimmah Baqi, Tehran, Masy'ar 1386s
  • Al-Hasyimi, al-Bagdadi, Abu Jakfar Muhammad bin Habib bin Umayah, al-Mihbar, riset Elzeh Lihtan Staitr, Bairut, Darul Āfāq al-Jadidah, tanpa tanggal
  • Waqidi, Muhammad bin Umar, al-Maghazi, riset Marsden Johns, Bairut, Muassasah al-A'lami, cet.3, 1409 H
  • Yaqut Hamawi, Abu Abdillah Syihabuddin, Mu'jam al-Buldān, Bairut, Dar Shadir, cet.2, 1995 H
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub, Tarikh Ya'qubi, Bairut, Dar Shadir, tanpa tahun.