Mujtahid

Prioritas: a, Kualitas: b
Dari wikishia
(Dialihkan dari Fakih)

Furu'uddin

Salat

Wajib: Salat JumatSalat IdSalat AyatSalat Mayit


Ibadah-ibadah lainnya
PuasaKhumusZakatHajiJihadAmar Makruf dan Nahi MungkarTawalliTabarri


Hukum-hukum bersuci
WudhuMandiTayammumNajasatMuthahhirat


Hukum-hukum Perdata
PengacaraWasiatGaransiJaminanWarisan


Hukum-hukum Keluarga
PerkawinanPerkawinan TemporerPoligamiTalakMaharMenyusuiJimakKenikmatanMahram


Hukum-hukum Yudisial
Putusan HakimBatasan-batasan hukumKisas


Hukum-hukum Ekonomi
Jual Beli (penjualan)SewaKreditRibaPinjaman


Hukum-hukum Lain
HijabSedekahNazarTaklidMakanan dan MinumanWakaf


Pranala Terkait
BalighFikihHukum-hukum SyariatBuku Panduan Fatwa-fatwaWajibHaramMustahabMubahMakruhDua Kalimat Syahadat

Mujtahid (bahasa Arab: المجتهد) atau fakih (الفقيه) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan. Berdasarkan dalil-dalil syar'i, para mujtahid yang memenuhi seluruh syarat untuk diikuti fatwanya (jami' al-Syaraith) adalah berstatus sebagai hakim syar'i dan memiliki beberapa tugas dan wewenang seperti menghakimi dan menggunakan milik-milik umum dan harta-harta wakaf bahkan mengumumkan perang dan perdamaian. Para agamawan memperhatikan pandangan-pandangan mereka dan praktik-praktik keagamaannya dilakukan sesuai dengan fatwa para mujtahid serta menyerahkan sebagai hasil keuntungannya kepada mereka sebagai kewajiban-kewajiban harta. Para mujtahid yang a'lam dan diterima oleh masyarakat umum adalah mencapai maqam marjaiyah. Mujtahid mutlak dan mutajazzi, mujtahid bil fi'il dan bil quwwah, mujtahid a'lam dan mujtahid jami' al-syarāith merupakan bagian-bagian dari fakih atau mujtahid. Syekh Thusi, Muhaqqiq Hilli, Allamah Hilli, Syekh Anshari dan Mirza Syirazi adalah mujtahid-mujtahid Syiah yang terkenal dan memiliki nama.

Definisi

Mujtahid atau fakih secara terminologis adalah seseorang yang dalam ilmu fikih telah mencapai derajat ijtihad, artinya memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya dan muktabar. [1]Melakukan istinbath hukum-hukum syariat bersandar pada dalil-dalil atau kemampuan melakukan hal ini disebut sebagai ijtihad. [2]

Dalam pemikirin Syiah, para mujtahid yang memenuhi syarat-syarat (jami' al-syaraith) adalah pengganti Imam Maksum dan mereka disebut "pengganti umum" (naib 'am).[3] Sejumlah besar dari tugas-tugas dan wewenang-wewenang para Imam seperti penghakiman dan izin penggunaan harta yang didapatkan dari kewajiban-kewajiaban harta (wujuhat syar'iyah) dipegang oleh mereka.[4]

Ijazah Ijtihad

Pada beberapa dasawarsa terakhir telah menjadi tradisi bahwa para lulusan Hauzah Ilmiah tatkala sampai pada level tertinggi bidang fikih, guru atau para guru, baik secara lisan atau tulisan, memverifikasi ijtihad mereka. Verifikasi ini disebut sebagai ijazah ijtihad. [5]

Tugas dan Wewenang Mujtahid

Berdasarkan fikih Syiah, seseorang yang mencapai level ijtihad dan memiliki beberapa syarat dinamakan hakim syar'i,[6] dan memiliki wewenang-wewenang dan tugas-tugas tertentu. Syekh Anshari menyimpulkan tugas-tugas fakih dalam tiga kriteria pokok; ifta (pemberian fatwa), hukumah (penghakiman) dan wilayah (otoritas) atas harta dan jiwa.[7]

Ayatullah Makarim Syirazi dalam sebuah kajian tentang wewenang-wewenang fakih, pada awalnya menyebutkan ifta' dan qadhawat (penghakiman) sebagai tugas fakih, kemudian di bawah kajian 'kedudukan wilayatul faqih' mengisyaratkan kepada tujuh tugas dari fukaha yang dibahas dalam ilmu fikih, diantaranya adalah:

  • Berwilayah (otoritas) atas harta orang-orang yang tidak dibolehkan untuk menggunakan hartanya (mahjur) seperti orang-orang yang gaib, anak-anak kecil yang tidak mempunyai wali dan sebagian orang-orang gila dan safih,
  • berwilayah untuk mengambil dan menggunakan uang yang didapatkan dari kewajiban-kewajiban harta seperti khumus, zakat dan wakaf-wakaf umum,
  • Berwilayah untuk menjalankan hukuman-hukuman syariat (hudud syar'iyah) diluar kedudukan qadha',
  • Berwilayah untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar pada kasus-kasus yang membutuhkan pemukulan, pelukaan dan pengeksekusian seseorang,
  • Berwilayah atas persoalan-persoalan politik dan pemerintahan, menjaga keamanan perbatasan-perbatasan negara dan melakukan perlawanan dalam menghadapi para musuh serta semua perkara yang berkaitan dengan kemaslahatan umum,
  • Berwilayah atas jiwa dan harta masyarakat,
  • Berwilayah atas pembuatan hukum dan undang-undang.[8]

Beberapa fukaha juga meyakini bahwa mendirikan salat Jumat termasuk dari otoritas khusus seorang fakih.[9] Muhammad Husain Naini dalam kitab Tanbih al-Ummah meyakini penanganan perkara hasbiyah sebagai bagian dari wewenang fukaha, dan hal ini diperkenalkan sebagai bagian dari hal-hal yang diyakini secara pasti (qath'i) dalam mazhab Syiah.[10]

Klasifikasi Mujtahid atau Fakih

Muhammad Hasan Najafi, lebih dikenal dengan Shahib Jawahir, fakih Syiah abad ke-13 H

Berdasarkan ragam klasifikasi yang terkait dengan terma mujtahid, mujtahid dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi:

  • Mujtahid Mutlak: Seorang mujtahid yang mampu melakukan istinbath dan melalui penalaran syariat ia melakukan inferensi hukum dalam kebanyakan hukum-hukum syariat. [11]
  • Mujtahid Mutajazzi: Seseorang yang memiliki kemampuan untuk melakukan istinbath hukum-hukum syariat pada sebagian masalah fikih. [12]Sebagian fakih berpandangan tidak dibenarkan bertaklid kepada mujtahid mutajazzi; sebagian lainnnya berpendapat boleh bertaklid kepada seorang mujtahid mutajazzi dalam istinbath hukum yang ia lakukan. [13]
  • Mujtahid bil fi'il: Mujtahid yang di samping memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum, dalam tataran praktis juga ia melakukan istinbath dalam banyak hukum. [14]
  • Mujtahid bil quwwa: Mujtahid yang mampu melakukan istinbath hukum-hukum syariat namun pada tataran praktis ia tidak banyak melakukan inferensi hukum. [15]
  • Mujtahid A'lam: Fakih yang memenuhi segala persyaratan dalam melakukan istinbath hukum syariat dan dibanding dengan fakih yang lain ia lebih memiliki kemampuan. [16]Sebagian fakih menilai wajib hukumnya untuk bertaklid kepada mujtahid a'lam apabila ia dapat mengidentifikasinya dan sebagian lainnya mewajibkan taklid kepada mujtahid a'lam berdasarkan prinsip kehati-hatian. [17]
  • Mujtahid Jami' al-Syaraith: Mujtahid yang memiliki syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat ditaklidi orang lain. Sebagian syarat itu adalah: laki-laki, berakal, dari keturunan halal dan menganut mazhab Imamiyah, hidup, adil dan a'lam. [18]

Perbedaan Mujtahid dengan Marja'Taklid

Masing-masing mujtahid apabila memiliki kelayakan untuk berfatwa mungkin saja sampai pada level marja'. Marja Taklid pada hakikakatnya adalah mujtahid yang memenuhi seluruh syarat untuk ditaklidi, yang diterima oleh masyarakat Syiah dan ditaklidi oleh mereka. Artinya amalan-amalan keagamaan mereka dilakukan berdasarkan fatwa-fatwa atau pendapat-pendapat keagamaannya. Dan, kewajiban-kewajiban harta (seperti khumus, zakat dll.) mereka diserahkan kepadanya atau kepada wakilnya.[19]

Lukisan wajah Syekh Anshari, salah seorang ulama mujtahid ternama Syiah

Syarat-syarat Mujtahid Jami' al-Syaraith

Mirza Syirazi, mujtahid Jami' al-Syaraith abad ke-13-14 H

Berdasarkan fatwa para fakih, seseorang yang bukan mujtahid maka ia harus bertaklid kepada mujtahid; artinya dalam urusan-urusan agama ia berbuat berdasarkan perintahnya atau melalui jalan ihtiyath sedemikian sehingga ia beramal sesuai dengan tugasnya yaitu ia yakin bahwa ia telah menunaikan taklifnya. [20]

Seorang mujtahid, ia dapat diikuti oleh orang lain dan harus memenuhi syarat-syarat tertentu sehingga mujtahid yang memiliki syarat-syarat ini disebut sebagai mujtahid jami' al-syaraith. Syarat-syarat yang disepakati oleh para fakih kontemporer, sekaitan dengan mujtahid jami' al-syaraith adalah sebagai berikut:

  • Laki-laki
  • Baligh
  • Aqil
  • Bermazhab Syiah Imamiyah
  • Keturunan baik-baik
  • Hidup
  • Adil
  • A'lam (lebih menonjol keilmuannya) [21]

Fakih Ternama Syiah

dari kanan ke kiri: Sayid Abul Qasim Khui, Sayid Muhsin Hakim, Sayid Mahmud Syahrudi dan Sayid Ali Tabrizi, diantara fukaha abad ke-15 H

Dalam sejarah fikih Syiah, terdapat banyak fakih yang melakukan ijtihad di sepanjang masa. Yang paling terkenal berdasarkan urutan masa hidup dan wafatnya adalah sebagai berikut:

Para Fakih Mutaqaddim dan Mutaakhir

Dalam tulisan-tulisan fikih Syiah kebanyakan menyebut para fakih sebelum Syekh Thusi sebagai "qudama". [23] Semenjak Syekh Thusi hingga sebelum masa Allamah Hilli disebut sebagai "mutaqaddim". Dari Allamah Hilli dan setelahnya hingga masa sebelum generasi pertama para fakih kontemporer disebut sebagai "mutaakhir". [24] Adapun fakih kontemporer juga disebut sebagai muta'akhir al-muta'akhirun (para fakih pasca muta'akhirun).[25]

Alasan pembagian ini adalah berdasarkan metode fikih yang digunakan pada setiap zaman. [26] Akan tetapi peristilahan ini sifatnya relatif dan terdapat pendapat lain terkait dengan mereka. Sebagai contoh sebagian menyebut seluruh fakih sebelum masa Muhaqqiq Hilli sebagai qudama. [27]

Catatan Kaki

  1. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 696.
  2. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 69.
  3. Kasyif al-Ghita, Kasyf al-Ghita, jld. 4, hlm. 370
  4. Syekh Anshari, Kitab al-Makasib, jld. 3, hlm. 545-546
  5. Makarim Syirazi, Dairah al-Ma'arif Fiqh Muqaran, jld. 1, hlm. 259-266.
  6. Farhangge Fiqh, jld. 3, hlm. 199
  7. Syekh Anshari, Kitab al-Makasib, jld. 3, hlm. 545-546
  8. Makarim Syirazi, Buhutsun Fiqhiyatun Hammah, hlm. 400-401
  9. Burujerdi, Tibyan al-Shalah, jld. 1, hlm. 58
  10. Naini, Tanbih al-Ummah wa Tanzih al-Millah, hlm. 76
  11. Misykini, Ishthilahat al-Ushul, hlm. 19.
  12. Misykini, Ishthilahat al-Ushul, hlm. 19.
  13. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, jld. 17, hlm. 4.
  14. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 75.
  15. Markaz Itthila'at wa Madarik Islami, Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 71.
  16. Syekh Anshari, Matharih al-Anzhar, jld. 2, hlm. 679.
  17. Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa, jld. 1, hlm. 19; Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 13.
  18. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 13.
  19. Yazdi, al-'Urwht al-Wutsqa, jld. 1, hlm. 4; Rahman Setayesy, Taqlid, hlm. 789.
  20. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 11.
  21. Imam Khomeini, Taudhih al-Masail, jld. 1, hlm. 13-15.
  22. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Maqaran, hlm. 253.
  23. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, 1428 H, hlm. 252-253.
  24. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, hlm. 252.
  25. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, hlm. 252.
  26. Badri, Mu'jam Mufradat Ushul al-Fiqh al-Muqaran, hlm. 226, 252 dan 253.
  27. Maliki Isfahani, Farhang Ishthilahat Ushul, jld. 2, hlm. 60.

Daftar Pustaka

  • Anshari, Murtadha bin Muhammad Amin. Mathārih al-Anzhār. Qom: Majma' al-Fikr al-Islami, Cet. II, 2004.
  • Badri. Tahsin. Teheran: al-Masyriq lil Tsaqafah wa al-Nasyr, Cet. I, 1428 H.
  • Farhang Fiqh Muthabiqe Mazdhab Ahli Bait alaihimus salam. Dibawah pengawasan Ayatullah Sayid Mahmud Syahrudi. Qom: Muassasah Dairah al-Ma'arif Fiqhi Islami, 1387 HS.
  • Jazairi, Muhammad Ja'far. Muntaha al-Dirāyah fi Taudhih al-Kifāyah. Qom: Muassasah Dar al-Kitab, Cet. IV, 1415 H.
  • Husaini Syirazi, Muhammad. Al-Wushul ila Kifāyah al-Ushul. Qom: Dar al-Hikmah, Cet. III, 1426 H.
  • Rahman Setayesy, Muhammad Kazhim. Taqlid I. Danesynameh Jahan Islami, Bunyad Dairah al-Ma'arif Islami, Cet. I, 1383 H.
  • Kasyif al-Ghitha, Ali. Kasyf al-Ghitha an Wajhi Syariat al-Gharra. Qom: intisyarat Daftra Tablighate Islami Hauzah Ilmiyah Qom, 1422 H.
  • Kasyif al-Ghitha, Ali. An-Nur al-Sāthi' fi al-Fiqh al-Nāfi'. Najaf: Cet. I, 1381 H.
  • Gurji, Abul Qasim. Ijtihad. Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami. Teheran: Markaz Dairah al-Ma'arif Buzurg Islami, Cet. I, 1994.
  • Markaz Itthi'la'at wa Madarik Islami. Farhangnameh Ushul Fiqh. Qom: Pazyuhesygah Ulum Farhang Islami, Cet. I, 2010.
  • Misykini, Mirza Ali. Ishthilāhāt al-Ushul wa Mu'zham Abhatsuha. Qom: al-Hadi, Cet. VI, 1416 H.
  • Mustafawi, Hasan. Al-Tahqiq fi Kalimāt al-Qur'an al-Karim. Beirut: Dar al-Kitab al-'Ilmiyah, Cet. III, 1430 H.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Buhutsun Fiqhiyah Hammah. Qom: Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib, 1422 H.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Dāirah al-Ma'ārif Fiqh Muqaran. Qom: Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib as, Cet. I, 1427 H.
  • Maliki Ishfahani, Mujtaba. Farhang Ishthilāhāt Ushul. Qom: Cet. I, 2000.
  • Musawi Khomeini, Sayid Ruhullah. Taudhih al-Masāil (Muhassyi). Qom: Markaz Intisyarat Islami, Cet. VIII, 1424 H.
  • Yazdi, Sayid Muhammad Kazhim. Al-'Urwah al-Wutsqa ma'a at-Ta'liqāt. Qom: Daftar Intisyarat Islami, Cet. I, 1428 H.