Lompat ke isi

Konsep:Fidiah

Dari wikishia

Furu'uddin

Salat

Wajib: Salat JumatSalat IdSalat AyatSalat Mayit


Ibadah-ibadah lainnya
PuasaKhumusZakatHajiJihadAmar Makruf dan Nahi MungkarTawalliTabarri


Hukum-hukum bersuci
WudhuMandiTayammumNajasatMuthahhirat


Hukum-hukum Perdata
PengacaraWasiatGaransiJaminanWarisan


Hukum-hukum Keluarga
PerkawinanPerkawinan TemporerPoligamiTalakMaharMenyusuiJimakKenikmatanMahram


Hukum-hukum Yudisial
Putusan HakimBatasan-batasan hukumKisas


Hukum-hukum Ekonomi
Jual Beli (penjualan)SewaKreditRibaPinjaman


Hukum-hukum Lain
HijabSedekahNazarTaklidMakanan dan MinumanWakaf


Pranala Terkait
BalighFikihHukum-hukum SyariatBuku Panduan Fatwa-fatwaWajibHaramMustahabMubahMakruhDua Kalimat Syahadat

Fidiah adalah harta yang dibayarkan sebagai tebusan untuk membebaskan tawanan atau sebagai denda atas pelanggaran hal-hal yang diharamkan atau dalam kasus perceraian. Menurut fakih Syiah, fidiah juga dibahas dalam konteks puasa, haji, jihad, talak khuluk, dan talak mubarat, yang mana syarat-syarat dan rinciannya dijelaskan dalam kitab-kitab fikih. Menurut fukaha Syiah, masalah fidiah dalam konteks jihad dan tawanan perang serta jumlahnya bergantung pada keputusan pemimpin kaum Muslimin.

Berdasarkan pandangan para mufasir, kata fidiah yang digunakan dalam beberapa ayat Al-Qur'an seperti ayat 54 surah Yunus dan ayat 18 surah ar-Ra'd merujuk pada orang-orang berdosa; dengan makna bahwa pada hari Kiamat, orang-orang berdosa akan meminta agar diselamatkan dari azab Ilahi dengan imbalan seluruh harta mereka di dunia, namun permintaan mereka ini tidak akan diterima. Riwayat-riwayat dari Ahlulbait as mengenai fidiah juga terdapat dalam kitab-kitab hadis dalam penafsiran ayat-ayat yang relevan.

Definisi dan Kasus-Kasus Fidiah

Menurut fakih Syiah, fidiah adalah harta tertentu yang dibayarkan sebagai imbalan untuk kasus-kasus berikut:

  • Pembebasan Tawanan:[1] Membebaskan tawanan Muslim dengan membayar harta (fidiah) adalah wajib.[2] Harta yang diberikan oleh kaum musyrik sebagai fidiah untuk membebaskan diri dari penawanan kepada penguasa Islam dianggap sebagai ganimah (harta rampasan perang), yang mana keputusannya berada di bawah wewenang pemimpin kaum Muslimin.[3]
  • Denda atas Pelanggaran Hal-hal yang Diharamkan:[4] Sebagai contoh, dengan melakukan beberapa larangan ihram seperti bersetubuh dengan pasangan, berburu, memotong kuku, dan memotong rambut, maka membayar fidiah menjadi wajib.[5]
  • Talak Khuluk dan Talak Mubarat:[6] Harta yang dibayarkan oleh istri kepada suami sebagai ganti perceraian dalam talak khuluk dan mubarat.[7]
  • Kompensasi atas Ibadah yang Terlewat atau Kompensasi atas Kesalahan:[8] Sebagai contoh, untuk setiap hari berbuka puasa (meninggalkan puasa) karena uzur (alasan yang dibenarkan), wajib membayar fidiah, yaitu memberikan satu atau dua mud (setara dengan 750 gram) makanan kepada orang fakir.[9]

Perbedaan Fidiah dengan Kafarah dan Zakat Fitrah

Fidiah memiliki beberapa perbedaan dengan kafarah dan zakat fitrah sebagai berikut:

  • Kafarah dapat berupa harta maupun bukan harta, sedangkan fidiah selalu berupa harta.[10] Kafarah berfungsi sebagai hukuman atas pelanggaran hal-hal yang diharamkan, sedangkan fidiah memiliki pendekatan kompensasi (ganti rugi).[11]
  • Zakat fitrah keluar dari kepemilikan orang yang membayarnya begitu disisihkan, tetapi fidiah belum keluar dari kepemilikan pembayar sampai diserahkan kepada orang fakir.[12] Membayar fidiah dari orang non-Sayid kepada Sayid (keturunan Nabi) tidak ada masalah, tetapi membayar zakat fitrah dari orang non-Sayid kepada Sayid adalah tidak sah.[13]

Fidiah dalam Al-Qur'an dan Hadis

Fidiah dalam Al-Qur'an dengan makna fikihnya disebutkan dalam ayat 229 surah al-Baqarah[14] tentang talak khuluk, dalam ayat 184 surah al-Baqarah[15] tentang puasa, dalam ayat 196 surah al-Baqarah[16] tentang haji, dan dalam ayat 4 surah Muhammad[17] tentang mengambil fidiah dari tawanan perang. Dalam ayat 107 surah ash-Shaffat, Allah memerintahkan Ibrahim as untuk mengorbankan seekor domba sebagai ganti putranya Ismail as.[18] Dari ayat ini dapat dipahami bahwa untuk menyelamatkan dari pembunuhan, fidiah tidak selalu berupa harta tunai.[19] Menurut Naser Makarem Syirazi, mufasir Syiah, kata fidiah yang disebutkan dalam beberapa ayat seperti ayat 54 surah Yunus[20], ayat 15 surah al-Hadid[21], ayat 47 surah az-Zumar[22], ayat 11 surah al-Ma'arij[23], dan ayat 18 surah ar-Ra'd[24] menunjukkan bahwa orang-orang berdosa pada hari Kiamat ketika melihat azab Ilahi bersedia membayar fidiah untuk menyelamatkan diri darinya, namun permintaan mereka tidak diterima.[25]

Dalam beberapa riwayat, terdapat penafsiran mengenai ayat-ayat fidiah, seperti hadis dari Imam Shadiq as yang menafsirkan ayat 184 surah al-Baqarah dengan menyatakan bahwa orang-orang seperti lansia dan mereka yang merasa sangat berat untuk berpuasa berhak (wajib) membayar fidiah.[26] Demikian juga, dalam kitab Al-Kafi dari Imam Sajjad as, terdapat riwayat-riwayat yang menjelaskan karakteristik hari Kiamat dan penolakan fidiah pada hari tersebut.[27]

Catatan Kaki

  1. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665Y; Sadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 9, hlm. 119.
  2. Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqasid fi Syarh al-Qawa'id, 1414 H, jld. 3, hlm. 392; Fadhil Miqdad, Kanz al-'Irfan, 1431 H, jld. 1, hlm. 377.
  3. Muhaqqiq Karaki, Jami' al-Maqasid fi Syarh al-Qawa'id, 1414 H, jld. 3, hlm. 392; Fadhil Miqdad, Kanz al-'Irfan, 1431 H, jld. 1, hlm. 377.
  4. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665Y; Sadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 9, hlm. 119.
  5. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665.
  6. Sadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 9, hlm. 119.
  7. Imam Khomeini, Tahrir al-Wasilah, Qom, jld. 2, hlm. 353; Fayyumi Muqri, Misbah al-Munir, 1418 H, jld. 1, hlm. 241.
  8. Hasyimi Syahrudi, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665.
  9. Montazeri, Mabani Fiqhi Hukumat Islami, 1431 H, jld. 8, hlm. 433; Hasyimi Syahrudi, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665.
  10. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665.
  11. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1392 HS, jld. 5, hlm. 664-665.
  12. Ahkam Zakat Fitrah dan Fidiah Situs Informasi KHAMENEI.IR
  13. Ahkam Zakat Fitrah dan Fidiah, Situs Informasi KHAMENEI.IR
  14. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hlm. 166-171.
  15. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 1, hlm. 624-626.
  16. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 2, hlm. 41-51.
  17. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 21, hlm. 397-400.
  18. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 19, hlm. 116.
  19. Sadr, Ma Wara' al-Fiqh, 1420 H, jld. 9, hlm. 119.
  20. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 8, hlm. 315.
  21. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 23, hlm. 334.
  22. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 19, hlm. 488-489.
  23. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 25, hlm. 22.
  24. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 10, hlm. 177-180.
  25. Makarem Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 23, hlm. 335.
  26. Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syi'ah, 1414 H, jld. 10, hlm. 337; Kulaini, Al-Kafi, 1430 H, jld. 7, hlm. 514.
  27. Kulaini, Al-Kafi, 1430 H, jld. 15, hlm. 185-186.

Daftar Pustaka

  • Ahkam Zakat Fitrah dan Fidiah Situs Informasi KHAMENEI.IR, Tanggal posting materi: 24 Khordad 1397 HS, Tanggal akses: 22 Khordad 1403 HS.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Wasa'il al-Syi'ah. Qom: Muassasah Al al-Bait li Ihya' al-Turats, 1414 H.
  • Imam Khomeini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Qom: Dar al-Ilm, tanpa tahun.
  • Sajjadi, Ja'far. Farhang Ma'arif Eslami. Teheran: Kumisy, 1373 HS.
  • Syartuni, Sa'id. Aqrab al-Mawarid fi Fushah al-'Arabiyyah wa al-Syawarid. Teheran: Organisasi Wakaf dan Urusan Amal, 1416 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Qom: Dar al-Hadits, 1430 H.
  • Sadr, Muhammad. Ma Wara' al-Fiqh. Beirut: Dar al-Adhwa', 1420 H.
  • Fadhil Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Kanz al-'Irfan fi Fiqh al-Qur'an. Teheran: Al-Majma' al-'Alami li al-Taqrib bain al-Madzahib al-Islamiyyah, 1431 H.
  • Fayyumi al-Muqri. Misbah al-Munir. Beirut: Al-Maktabah al-'Ashriyyah, 1418 H.
  • Muhaqqiq Karaki, Ali bin Husain. Jami' al-Maqasid fi Syarh al-Qawa'id. Qom: Muassasah Al al-Bait li Ihya' al-Turats, 1414 H.
  • Makarem Syirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
  • Montazeri, Husain Ali. Mabani Fiqhi Hukumat Islami. Qom: Kayhan, 1431 H.
  • Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Mutabiq Madzhab Ahlulbait as. Di bawah pengawasan: Sayid Mahmud Hasyimi Syahrudi. Qom: Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, 1392 HS.