tanpa foto
tanpa infobox

Perkawinan

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Furu'uddin

Salat

Wajib: Salat JumatSalat IdSalat AyatSalat Mayit


Ibadah-ibadah lainnya
PuasaKhumusZakatHajiJihadAmar Makruf dan Nahi MungkarTawalliTabarri


Hukum-hukum bersuci
WudhuMandiTayammumNajasatMuthahhirat


Hukum-hukum Perdata
PengacaraWasiatGaransiJaminanWarisan


Hukum-hukum Keluarga
PerkawinanPerkawinan TemporerPoligamiTalakMaharMenyusuiJimakKenikmatanMahram


Hukum-hukum Yudisial
Putusan HakimBatasan-batasan hukumQishash


Hukum-hukum Ekonomi
Jual Beli (penjualan)SewaKreditRiba


Hukum-hukum Lain
HijabSedekahNazarTaklidMakanan dan MinumanWakaf


Pranala Terkait
BalighFikihHukum-hukum SyariatBuku Panduan Fatwa-fatwaWajibHaramMustahabMubahMakruh

Perkawinan/nikah (bahasa Arab: الزواج أو النكاح) adalah mengadakan ikatan perkawinan dengan perantara akad. Alquran memandang perkawinan sebagai penyebab ketenangan, dan menyarankan kaum muslimin untuk mengawinkan para lelaki dan wanita yang bujang. Berdasarkan beberapa riwayat, perkawinan merupakan nikmat terbesar setelah nikmat Islam yang dapat menjaga dan memelihara separuh atau dua pertiga agama dan sunah Nabi saw. Keberagamaan, berakhlak mulia dan keluarga yang baik termasuk diantara barometer yang disarankan dalam berbagai riwayat untuk memilih calon pasangan.

Dalam mazhab Syiah Imamiyah ada dua macam pernikahan; permanen (dāim) dan temporer (muwaqqat). Dalam lafal akad nikah temporer disyaratkan penentuan masa waktu pernikahan dan mas kawin (mahar). Dan setelah selesai masa itu, maka suami dan istri harus berpisah tanpa talak.

Dalam buku-buku fikih praktis (taudhih al-masāil) dimuat banyak hukum-hukum fikih berkenaan dengan pernikahan, di antara yang terpenting dari hukum-hukum tersebut ialah pembacaan lafal akad, dan sekedar kerelaan dari kedua belah pihak laki-laki dan perempuan tidak lah cukup untuk terealisasinya pernikahan. Dan, pernikahan wanita gadis (bākirah) harus mendapatkan restu dari ayah atau kakek dari pihak ayah.

Perkawinan akan berakhir dengan pelaknatan (li'ān), talak, mati, penggantian kelamin, kemurtadan dan adanya salah satu faktor pembatalan (faskh) nikah, dan setelah wanita berpisah, maka harus menjalani iddah.

Definisi dan Klasifikasi

Perkawinan adalah mengadakan hubungan perkawinan dengan perantara lafal akad. Dalam mazhab Syiah Imamiyah ada dua macam pernikahan; permanen (dāim) dan temporer (muwaqqat). Di dalam lafal akad nikah temporer harus ditentukan masa waktunya, dan setelah habis waktu itu, maka suami dan istri harus berpisah tanpa talak.[1]

Nikah Temporer

Nikah temporer pada zaman Nabi saw telah dibolehkan, namun resmi diharamkan sejak zaman khalifah kedua. [2] Di antara mazhab-mazhab Islam hanya mazhab Syiah yang membolehkan nikah temporer.[3] Perbedaan terpenting antara nikah permanen dan nikah temporer terletak pada berwaktunya nikah temporer dan keharusan menentukan waktu dalam lafal akad.[4]

Kedudukan

Agama Islam sangat mementingkan pernikahan. Alquran menilai pernikahan sebagai faktor ketenangan,[5] dan menyarankan kaum muslimin untuk mengawinkan para lelaki dan wanita bujang.[6]

Dalam beberapa riwayat disebutkan banyak keistimewaan untuk pernikahan. Untuk itu, pernikahan merupakan nikmat yang paling besar setelah nikmat Islam,[7] penyebab kebaikan dunia dan akhirat[8] dan termasuk dari sunah Nabi saw.[9] Demikian juga pernikahan merupakan penjaga separuh atau dua pertiga agama[10] dan penambah rezki.[11] Dan, paling hinanya mayit-mayit muslim ialah mereka yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menikah.[12]

Menurut pandangan fukaha, perkawinan itu sendiri sangat dianjurkan (mustahab muakkad). Namun, wajib bagi orang yang jika tidak menikah akan terjerumus kepada dosa.[13]

Hukum-Hukum

Dalam buku-buku fikih praktis (taudhih al-masāil) dimuat banyak hukum-hukum fikih mengenai pernikahan. Di antara yang terpenting adalah sebagai berikut:

  • Dalam pernikahan baik permanen atau temporer, lafal akad harus dibaca, dan pernikahan tidak akan terealisasi dengan sekedar kerelaan wanita dan laki-laki.[14]
  • Wanita dan laki-laki bisa membaca lafal akad sendiri, dan juga bisa mewakilkan kepada orang lain untuk membacakan akadnya.[15]
  • Apabila wanita dan laki-laki punya kemampuan untuk membacakan lafal akad dengan bahasa Arab, maka akad itu harus dibaca dengan bahasa Arab.[16]
  • Pernikahan wanita gadis (bākirah) harus direstui oleh ayah atau kakek dari pihak ayah.[17]
  • Kawin dengan mahram seperti ibu, saudara perempuan dan ibu mertua adalah haram.[18]
  • Pernikahan permanen dan temporer wanita muslim dengan laki-laki non muslim tidak dibolehkan.[19]
  • Pernikahan temporer lelaki muslim dengan wanita non muslim yang ahlulkitab dibolehkan.[20]

Perbedaan-Perbedaan Nikah Permanen dan Nikah Temporer

Pernikahan permanen (dāim) dan temporer (muwaqqat) memiliki banyak kesamaan-kesamaan hukum, di antaranya, wajib membaca lafal akad pada kedua-duanya. Dua pernikahan ini juga memikili beberapa perbedaan sebagai berikut:

  • Dalam nikah permanen, berbeda dengan nikah temporer, suami wajib memberikan nafkah istri.
  • Dalam nikah permanen, istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suami, namun dalam nikah temporer, izin suami tidak wajib.
  • Dalam nikah permanen, berbeda dengan nikah temporer, istri dan suami saling mewarisi.[21]
  • Jika dalam lafal akad nikah temporer tidak disebutkan mahar, maka akad menjadi batal. Namun, dalam nikah permanen akad tetap sah, dan jika terjadi hubungan badan, maka istri berhak mendapatkan mahar yang pantas (mahrul mitsl).[22]

Barometer-Barometer Memilih Calon Pasangan Perspektif Riwayat

Dalam sebagian riwayat dijelaskan dan disarankan beberapa tolok ukur perkawinan untuk memilih calon pasangan. Berdasarkan satu riwayat, Nabi saw menyarankan seseorang untuk menikah dengan orang-orang yang agamis.[23] Dalam buku Makārim al-Akhlāq dikupas sebuah riwayat dari Imam Shadiq as bahwa, "Kawinlah kalian dengan keluarga yang baik, sebab karakteristik-karakteristik keluarga akan berpindah kepada anak keturunan."[24]Dinukil juga dari Imam Ridha as bahwa, "Hindarilah menikah dengan orang yang buruk akhlaknya."[25]

Faktor-Faktor Putusnya Pernikahan

Faktor-faktor putusnya pernikahan menurut pandangan fukaha adalah: penggantian kelamin,[26]kematian, kemurtadan, talak, pengutukan (li'ān) dan hal-hal yang dapat menggugurkan (faskh) pernikahan.[27] Setelah tali pernikahan putus maka istri harus menjalani iddah (masa tertentu dimana istri tidak berhak kawin).[28]

Undang-undang Tentang Pencatatan Nikah

Di banyak negara, pernikahan dicatat secara legal.[29] Di Iran, berdasarkan materi 645 Undang-undang Penghukuman Islami, tidak mencatat pernikahan bagi suami dianggap pelanggaran/kriminal.[30] Di Indonesia, berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 1946 pasal 1, pencatatan nikah dilakukan oleh pegawai pencatat nikah yang diangkat oleh Menteri Agama atau pegawai yang ditunjuk olehnya.

Beberapa tujuan dari pencatatan nikah secara legal adalah: dihasilkannya keyakinan akan sahnya nikah, antisipasi terjadinya percekcokan, dan kemudahan untuk menetapkan hak-hak suami-istri.[31]

Kajian-Kajian Terkait

Catatan Kaki

  1. Muassasah Daerah al-Ma'ārif Fiqhe Islami, Farhangge Fiqh, jld. 1, hlm. 390
  2. Subhani, Izdiwāje Muwaqqat dar Kitab va Sunnat, hlm. 125, 126
  3. Subhani, Izdiwāje Muwaqqat dar Kitab va Sunnat, hlm. 63
  4. Husaini, Ahkāme Izdiwāj, hlm. 121
  5. Surah Ar-Rum: 21
  6. Surah An-Nur: 32; Husaini, Ahkāme Izdiwāj, hlm. 39-40
  7. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 327, Bab Orang yang Mendapatkan Istri Shalehah
  8. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 327, Bab Orang Yang Mendapatkan Istri Shalehah
  9. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 329,Bab Kemakruhan Membujang
  10. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 329, Bab Kemakruhan Membujang
  11. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 330-331, Bab Nikah Menambah Rezki
  12. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 329, Bab Kemakruhan Membujang
  13. Husaini, Ahkāme Izdiwāj, hlm. 39, 40
  14. Imam Khomaini, Taudhih al-Masāil (muhassya), jld. 2, hlm. 450
  15. Imam Khomaini, Taudhih al-Masāil (muhasysya) jld. 2, hlm. 450
  16. Imam Khomaini, Taudhih al-Masāil (muhasysya), jld. 2, hlm. 453
  17. Imam Khoamini, Taudhih al-Masāil (muhasysya), jld. 2, hlm. 458
  18. Imam Khomaini, Taudhih al-Masāil (muhasysya), jld. 2, hlm. 464
  19. Imam Khoamaini, Taudhih al-Masāil (muhasysya), jld. 2, hlm. 468
  20. Imam Khomaini, Taudhih al-Masāil (muhasysya), jld. 2, hlm. 468
  21. Husaini, Ahkāmi Izdiwāj, hlm. 120-121
  22. Akbari, Ahkāme Khanevadeh, hlm. 26
  23. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 332
  24. Thabrisi, Makārim al-Akhlāq, hlm. 203
  25. Kulaini, al-Kāfi, jld. 5, hlm. 563
  26. ImamnKhomaini, Tahrir al-Wasilah, hlm. 992-993
  27. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 32, hlm. 211
  28. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 32, hlm. 211
  29. Asadi, Naqd va Barresi Qawānine Tsabte Izdiwāj, hlm. 103
  30. Asadi, Naqd va Barresi Qawānine Tsabte Izdiwāj, hlm. 103
  31. Asadi, Naqd va Barresi Qawānine Tsbate Izdiwāj, hlm. 106-109

Daftar Pustaka

  • Akbari, Mahmud. Ahkāme Khanevādeh. Qom: Fatayan, 1393 HS.
  • Asadi, Laila Sadat. Naqd va Barresi Qawānine Tsabte Izdiwāj. Majalah Penelitian Strategi Wanita dan Keluarga, Tabestan 1387, vol. 40.
  • Hasyimi Syahrudi, Sayid Mahmud. Farhangge Feqh Muthabeq ba Mazhab Ahlibait alaihimus salam. Qom: Muassasah Daerah al-Ma'arif Feqhe Islami, cet. I, 1392 HS.
  • Husaini, Sayid Mujtaba. Ahkām Izdiwaj (muthabeq ba nazhare dah tan az marāji izhām). Qom: Kantor Penerbit Ma'arif, cet. VII, 1389 HS
  • Imam Khomaini, Sayid Ruhullah. Tahrir al-Wasilah. Teheran: Muassasahb Tanzhim va Nasyre Ātsāre Imam Khomaini, 1384 HS/1426 H.
  • Imam Khomaini, Sayid Ruhullah. Taudhih al-Masāil (Muahasysya). Peneliti: Sayid Muhammad Husain Bani Hasyimi Khomaini. Qom: Kantor Penerbitan Islam, cet. VIII, 1424 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kāfi. Peneliti: Ali Akbar Ghaffari. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. IV, 1407 H.
  • Manshur, Jahangir. Qānun Madani ba Okharin Ishlahiye-ha va Ilhaqat Hamrah ba Qānun Mas'uliyate Madani. Teheran: Penerbit Didar, 1391 HS.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jahāhir al-Kalām fi Syarh Syarāyi' al-Islam. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. VII, 1404 H.
  • Shan'ani, Abdurrazzaq bin Hammam. Al-Mushannaf. Majlisi Ilmi. Tanpa tempat, 1390 H/1970.
  • Subhani, Jakfar. Izdiwāje Muwaqqat dar Kitab va Sunnat. Fikih Ahlilbait, vol. 48, 1385 HS.
  • Syahid Tsani, Zainuddin bin Ali. Masālik al-Afhām ila Tanqih Syarāyi' al-Islam. Qom: Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyah, cet. I, 1413 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Makārim al-Akhlāq. Qom: Al-Syarif al-Radhi, cet. IV, 1412 H/1370 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyah. Editor: Muhammad Taqi Kasyfi. Teheran: al-Maktabah al-Murtadhawiyah li Ihya al-Atsār al-Jakfariyah, 1387 H.