Prioritas: a, Kualitas: b
tanpa foto

Jihad

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Jihad (bahasa Arab:جهاد) adalah ajaran Islam yang bermakna berjuang sungguh-sungguh yang disertai dengan pengorbanan di jalan Allah baik dengan jiwa, harta dan lainnya. Secara terminologis, jihad adalah peperangan dan perlawanan dengan tujuan untuk menyebarkan dan mempertahankan ajaran agama Islam. Menurut al-Quran, mereka yang mengorbankan nyawa dan harta di jalan Allah, memiliki keunggulan yang lebih tinggi dari pada kaum Muslimin yang lain dan kepada mereka diberikan kabar gembira berupa surga dan memperoleh kedudukan syahadah. Dalam kitab-kitab fikih, pembahasan mengenai jihad termasuk pembahasan yang sangat penting. Dalam ajaran Syiah, jihad dan syahadah memiliki kaitan erat dengan perlawanan Imam Husain as. Selama beberapa dekade terakhir ini, perilaku Islamophobia dan juga beberapa kelompok garis keras menyerang ajaran-ajaran mulia jihad. Rabath atau murathabah (tapal garis perbatasan) juga merupakan tema yang berkaitan dengan jihad dan pada sebagian hal, berdasarkan hadis-hadis juga tema-tema yang berkaitan dengan jihad dan pada sebagian yang lain berdasarkan hadis-hadis merupakan contoh dari medan jihad.

Islam
کتیبه مسجد.png

Arti secara leksikal dan teknikal

Jihad adalah sebuah kata bahasa Arab berasal dari akar kata ja-ha-da berarti kesulitan, usaha sungguh-sungguh dalam suatu pekerjaan, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu. [1] Penggunaan arti makna secara umum yang terpenting adalah bentuk usaha sungguh-sungguh yaitu perlawanan di jalan Allah dengan jiwa, harta dan segala yang dimiliki dengan tujuan untuk memperluas agama Islam atau mempertahankannya. [2] Dalam teks-teks agama, disamping makna leksikal dan tekhnikal ini, makna leksikal dan umumnya juga sangat banyak digunakan seperti penggunaan kata jihad akbar tentang usaha sungguh-sungguh melawan setan dan hawa nafsu. [3] Dalam hadis-hadis, sebagian hal-hal dianggap sebagai jihad, untuk memposisikan pentingnya kedudukan hal-hal itu, seperti amar ma’ruf nahi mungkar, berkata tentang keadilan dihadapan pemimpin korup, usaha-usaha untuk menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan baik di masyarakat, menjadi istri yang baik, usaha suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan rezeki yang halal. [4]

Diwajibkannya Jihad

Ketika hukum jihad diwajibkan di Madinah, frasa jihad dan mustaqnya pada ayat-ayat Makkiyah bermakna umum dan sesuai dengan makna leksikalnya. [5] Ayat pertama kali yang berkaitan dengan diwajibkannya jihad adalah jihad defensif yang turun pada tahun awal Hijrah. Kaum Muslimin diberikan ijin untuk mempertahankan diri dari serangan kaum Musyrikin. [6] Ayat-ayat tentang jihad sangat banyak dijumpai pada surah-surah Madaniyyah khususnya surah Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali Imran, Taubah, Ahzab. [7] Dalam menganalisa terhadap ayat-ayat mengenai jihad ini, tidak boleh menjauhkan diri dari sya’n nuzul atau sebab pewahyuan ayat-ayat itu dan tujuan-tujuan politik Nabi Muhammad saw terkhusus dalam masalah falsafah perang dan perdamaian. Setelah Fathu Mekah pada tahun ke-8 H, ayat-ayat turun yang berdasarkan perhitungan lahir atas peperangan dengan semua kaum musyrikin dalam semua tempat dan zaman –mengacu. [8] Menurut pendapat beberapa mufassir dan fuqaha, ayat-ayat ini khususnya ayat 5 surah al-Ahzab, terkenal dengan ayat “saif”. [9] Ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang bertoleransi dengan kaum Musyrikin [10] telah di nasikh (hapus) [11]. Sejumlah orientalis dalam menyepakati hukum dihapusnya ayat itu berkata bahwa ayat-ayat itu secara lahir memerintah kaum Muslimin berjihad dengan kaum Musyrikin, termasuk ahlul kitab dalam setiap zaman dan tetap berlaku dan ayat-ayat lain dimana kewajiban berjihad berdasarkan syarat-syarat tertentu seperti adanya fitnah yang dimunculkan oleh pihak musuh telah di mansukh. [12] Sebaliknya, orang-orang yang melawan adanya nasikh berdasarkan kaedah-kaedah nasikh ayat-ayat al-Quran dan sejarah sya’n nuzul ayat-ayat yang dimaksud, maka tidak ada kemungkinan bahwa ayat-ayat itu di nasikh. [13]

Keutamaan-keutamaan Jihad

Pada ayat-ayat dan hadis-hadis dijelaskan mengenai sebagian keutamaan-keutaaan jihad baik dari sisi duniawi maupun ukhrawinya.

Ayat-ayat al-Quran

Menurut ayat-ayat Al-Qur'an [14] mereka yang mengorbankan nyawa dan harta mereka di jalan Allah, maka Allah menilai mereka sebagai seorang Muslim yang lebih unggul dari pada kaum muslimin yang lain, kepada mereka diberikan kabar gembira dari surga dan mencapai derajat syahadah. [15] Al-Quran mengisyaratkan bahwa penghalang manusia untuk tidak berjihad adalah ketergantungan kepada keluarga, kekayaan dan rumah. Demikian juga al-Quran [16] menilai orang-orang yang menolak untuk berjihad sebagai orang-orang yang fasik dan mereka diancam dengan dengan hukuman Ilahi. Berdasarkan al-Quran, kemenangan hanya berada di tangan Allah. [17] Hukum-hukum paling penting dalam jihad diantaranya adalah menaati perintah Tuhan dan Nabi Muhammad saw, menjauhi permusuhan dan perselisihan, sabar, tidak cepat menyerah dan tidak lari dari musuh. [18] Menurut ayat-ayat al-Quran [19] para mujahid akan ditolong Allah dengan pertolongan ghaib seukuran dengan kualitas kesabaran dan keuletan mereka. [20] Diantara pertolongan ghaib Ilahi adalah ketenangan yang diberikan oleh Allah dalam hati para mujahid dan hilangnya rasa takut serta ditumbuhkannya rasa takut yang memenuhi hati-hati para kaum kafir. [21]

Hadis

  • Berdasarkan hadis-hadis, jihad di jalan Allah adalah sebaik-baik tindakan dan pahala ukhrawi mujahid syahid jika ia bercita-cita berjihad dan menginginkan maqam syahadah. [22]
  • Imam Ali as: Sesungguhnya jihad adalah salah satu dari pintu-pintu surga yang akan Allah bukakan bagi para auliya-Nya. Jihad adalah pakaian takwa dan baju besi bagi Allah dan perisai kuat-Nya. [23]
  • Nabi Muhammad saw: Satu malam menjadi penjaga di jalan Allah lebih baik dari pada seribu hari yang pada malam harinya dipenuhi dengan ibadah dan siangnya dijalani dengan puasa. [24]

Kitab-kitab tentang Jihad

Karena pentingnya dan kedudukan jihad dalam Islam, sangat banyak kitab-kitab yang ditulis dalam tema tersebut. [25] Demikian juga terdapat referensi-referensi komprehensif dan kitab-kitab fikih yang membahas tentang sebagai bab tersendiri dalam bab ‘’Jihad’’ atau “Perang”. Tema-tema utama dalam pembahasan ini adalah:

  • Meningkatkan kesiapan tempur para mujahid
  • Syarat-syarat kewajiban berjihad bagi kaum mukminin
  • jenis-jenis jihad
  • Hukum-hukum yang berkaitan dengan medan jihad seperti:
  • Cara berperang dan bagaimana bersikap dengan para prajurit, orang-orang yang tewas dalam peperangan, para tawanan dan para korban.
  • Cara membagi harta rampasan perang
  • Cara mengakhiri peperangan. [26]

Rabath atau murathabah (tapal garis perbatasan) juga merupakan tema yang berkaitan dengan jihad dan pada sebagian hal, berdasarkan hadis-hadis juga tema-tema yang berkaitan dengan jihad dan pada sebagian yang lain berdasarkan hadis-hadis merupakan contoh dari medan jihad. [27] Penulis kitab-kitab dengan tema “Perang” seperti al-Sir Auza’i (w. 157) dan al-Sir al-Saghir wa al Sir al-Kabir Muhammad bin Hasan Syaibani (w. 189) juga yang menjelaskan bagaimana cara menghadapi kaum kafir pada zaman perang dan damai adalah kitab terkenal yang ditulis oleh oleh para fuqaha terdahulu khususnya Ahlus Sunah. Kitab Al-Sir al-Kabir karya Syaibani karena termasuk ulama terdahulu dan pembahasannya yang sangat komprehensif, maka kitab ini memiliki kedudukan yang sangat penting dan syarah atasnya pun telah banyak ditulis. Pemerintahan Utsmani menjadikan kitab ini sebagai kitab undang-undang yang mirip dengan aturan-aturan yang mengatur tentang hubungan internasional. [28] Kitab fikih politik seperti Al-Ahkam al-Sultaniyyah Mawardi dan kitab al-Kharaj Qadhi Abu Yusuf (w. 183) juga membahas mengenai jihad. [29] Dalam referensi Syiah, disamping dibahas permasalahan-permasalah mengenai jihad, juga diterangkan pula pembahasan-pembahasan mengenai tema-tema lain seperti amar ma’ruf nahi mungkar. [30]

Fatwa mengenai Jihad

Fatwa-fatwa mengenai perintah jihad ulama Syiah ketika menghadapi serangan dan infasi penjajah seperti peperangan antara Iran dan Rusia pada abad ke-13 yang memiliki peranan penting dalam pertahanan tanah islam juga dikumpulkan dalam kitab-kitab mengenai jihad. [31] Dalam beberapa periode sejarah, seruan jihad diantara ulama-ulama Ahlusunnah juga nampak, seperti seruan Ibnu Masakir (w. 571) terhadap jihad pada Perang Salib, dengan mengumpulkan 40 hadis tentang jihad. [32]

Jihad Ibtidai (Permulaan) dan Jihad Defensif (Pertahanan)

Para fuqaha, dalam kitab-kitab mereka membagi jihad menjadi dua bagian: permulaan dan pertahanan. [33] Pada kitab-kitab terdahulu, pembagian ini tidak disebutkan secara jelas dan para fuqaha pada zaman dahulu biasanya hanya menjelaskan jihad defensif secara umum dan implisit. [34]

  • Jihad ibtidai bermakna perang dengan kaum musyrikin dan kaum kafir untuk mengajak mereka kepada agama Islam dan tauhid serta untuk menegakkan keadilan. Dalam jenis bentuk jihad ini, kaum Muslimin tidak memulai peperangan, tujuannya adalah menghilangkan dominasi kaum kafir dan mempersiapkan kemungkinan luasnya agama Ilahi. [35]
  • Jihad defensif bermakna perang untuk mempertahankan kaum Muslimin dari bumi Islam. [36]

Syarat-syarat Wajib Jihad Ibtidai

Fuqaha Ahlu Sunah mewajibkan jihad ibtidai jika terdapat kemaslahatan bagi Islam dan kaum Muslimin wajib menjalankan kewajiban tersebut apakah kewajiban itu dikeluarkan oleh seorang hakim yang adil ataukah fasik. [37] Menurut pendapat mereka, mentaati seorang hakim terkait dengan permasalahan jihad adalah wajib sebagaimana menjalankan salat 5 kali dalam sehari. [38]

  • Sebagian fuqaha Syiah Imamyyah memandang bahwa syarat melakukan jihad ibtidai adalah adanya persetujuan dan ijin Imam Maksum atau wakilnya. [39] Yang dimaksud fukaha sebagai wakil Imam adalah wakil khusus dan tidak termasuk para wakil umum Imam (fuqaha) pada zaman ghaib. [40] Namun menurut pendapat beberapa fuqaha yang lain, ijin Imam Maksum atau wakil khusus Imam tidak diperlukan dalam hal jihad dan bahkan wakil umum Imam juga bisa mengeluarkan hukum jihad ibtidai demi mengembangkan prinsip tauhid keadilan dan mencegah kezaliman dan melindungi kaum dzalim. [41] Menurut kesepatakan para fuqaha, ijma klaim ini bisa dipertanyakan dan arti imam adil dalam hadis jihad adalah bukan Imam Maksum. [42]

Jihad Ibtidai Wajib di hadapan Tiga Kelompok

  • Orang-orang kafir bukan dzimmi baik Ahli Kitab maupun bukan Ahli Kitab.
  • Para kafir dzimmi yang tidak memperhatikan syarat-syarat kafir dzimmi
  • Kaum pembangkang [43]
  • Jihad dengan orang-orang kafir selain bukan Islam hanya bertujuan untuk mengajak mereka kepada Islam. Mereka hanya memiliki dua pilihan: Memilih agama Islam atau berperang.
  • Jihad dengan orang kafir bukan dzimmi yang melanggar perjanjian kaum kafir dzimmi, mereka harus memilih tiga hal: memilih Islam, tetap dalam ajaran mereka dan membayar jizyah atau berperang.
  • Jihad dengan kelompok pembangkang merupakan jihad ibtidai karena mereka melanggar jani dan melanggar baiat yang telah diberikan kepada Imam Ali as dan pemaksaan mereka untuk membaiat kembali. [44]

Jihad sebagai Jalan Terakhir

Menurut pandangan beberapa penulis Muslim, kewajiban berjihad tidak bermakna keharusan adanya berhadap-hadapan antara kaum Muslimin dengan selain kaum Muslimin, namun jihad sebagai jalan terkahir untuk menguatkan kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin. [45] Sebelum jihad dimulai, pihak musuh harus diajak terlebih dahulu untuk masuk ke agama Islam, supaya tidak menentang Tuhan dan tidak melecehkan hak-hak kemanusiaan. Jihad ibtidai harus dimulai dari tempat yang lebih dekat dari lokasi kekuasaan negara Islam. [46] Menurut pendapat sebagian fuqaha, berdasarkan sirah Nabi Muhammad saw ketika syarat-syarat untuk berjihad terpenuhi dan pasukan Islam juga siap untuk berjihad, maka pelaksanaan harus dilakukan minimal sekali dalam setahun. [47] Seorang prajurit tidak diperbolehkan lari dari medan perang, kecuali karena hal-hal tertentu. [48]

Kewajiban berjihad adalah Kewajiban Kifayah

Menurut pendapat masyhur dalam fikih Islam, hukum jihad ibtidai adalah wajib kifayah artinya apabila sejumlah mujahid telah memiliki kesiapan untuk berjihad, maka hal itu adalah cukup dan orang lain tidak lagi berkewajiban untuk berjihad. Namun apabila seorang hakim memandang perlu kehadiran seseorang dalam medan peperangan, maka jihad orang tertentu itu menjadi wajib aini. Setelah ia siap dan berhadap-hadapan di medan tempur, jihad menjadi wajib aini dan haram mengundurkan diri dari medan peperangan. [49]

Syarat-syarat seorang Mujahid

Syarat-syarat bagi seorang mujahid yang tercatat dalam rujukan-rujukan fikih:

  • Laki-laki
  • Berakal
  • Merdeka (bukan budak)
  • Memiliki kemampuan jasmani dan harta
  • Tidak memiliki halangan syar’i. Oleh itu, jihad tidak diwajibkan bagi budak, perempuan, anak-anak, orang gila, orang tua renta, orang yang buta dan orang-orang yang sakit parah atau menderita cacat jasmani. [50]
  • Demikian juga tidak diwajibkan bagi seseorang untuk berjihad jika ayah dan ibunya tidak rela atas kepergian anaknya ke medan perang kecuali jika jihad baginya merupakan kewajiban aini.

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai pentingnya memperoleh ijin dari ayah dan ibu kafir dan kakek juga minta ijin dari orang yang dihutangi untuk pergi ke medan perang. [51] Demikian juga tentang sewa dan juga penyediaan ju’alah atau upah untuk berjihad, menjadi perbedaan pendapat diantara para fuqaha. [52] Dalam jihad defensif, tidak diperlukan syarat-syarat di atas misalnya ijin dari Imam karena mempertahankan jiwa, harta serta kehormatan dan harga diri bagi setiap kaum Muslimin yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri adalah wajib dalam segala kondisi. [53]

Hukum-hukum dan Adab-adab berperang

Kebiasaan bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam melarang berperang pada Bulan-bulan Haram: Rajab, Dzul Kaidah, Dzul Hijjah, Muharram dan Islam pun membenarkan hal itu dengan bersandar kepada ayat-ayat al-Quran diantaranya adalah ayat 217 surah al-Baqarah dan ayat 5 surah Taubah [54] kecuali jika musuh yang memulai peperangan dan mereka tidak mengakui kehormatan bulan-bulan haram. [55] Sedangkan menurut pendapat beberapa fuqaha Ahlusunnah larangan berperang dalam bulan-bulan haram telah di nasikh dan jihad diperbolehkan dalam segala waktu dan tempat. [56]

  • Haram hukumnya lari dari perang, bahkan termasuk dosa-dosa besar [57] kecuali jika jumlah kaum Muslimin tidak lebih dari jumlah setengah musuh dimana jika hal ini terjadi, maka tidak wajib bagi kaum Muslimin untuk mempertahankan diri atas musuh. [58]
  • Imam as atau orang yang diangkat Imam untuk memimpin perang terlebih dahulu wajib mengajak musuh untuk masuk ke dalam agama Islam dan menyatakan kesyahadatannya kepada tauhid dan risalah Nabi Muhammad saw termasuk kepercayaan terhadap Ushuluddin dan Furu’uddin kecuali apabila sebelumnya dakwah Islam telah sampai kepada mereka, dalam hal ini pengulangan dakwah adalah mustahab. [59]
  • Permulaan peperangan mustahab dilakukan setelah mengerjakan salat Dhuhur dan Ashar. Oleh itu memulai peperangan sebelum zawal (matahari condong ke arah Barat) dan juga melakukan penyerangan pada malam hari hukumnya adalah makruh kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak. [60]
  • Mengajukan diri untuk memulai peperangan tanpa ijin Imam berdasarkan sebuah pendapat fuqaha adalah makruh dan sebagian menyatakan bahwa hal itu adalah haram namun dengan larangan Imam as, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu tidak dilarang. Berperang demi memenuhi seruan Imam as adalah mustahab dan dengan perintahnya maka hal itu menjadi wajib. [61]

Berperang dengan musuh dengan segala bentuk senjata yang akan menghantarkannya menjadi pemenang dalam peperangan pada dasarnya adalah boleh namun menebang pohon, melemparkan api ke hutan dan ke arah musuh adalah makruh. Terdapat perbedaan pendapat diantara fuqaha tentang kemakruhan menuangkan racun ke atas musuh atau kemakruhannya jika tidak penting. [62] Sebagian fuqaha, menebang pohon, merusak benteng dan menggunakan ketapel diperbolehkan jika yakin hal itu akan membawa kemenangan kepada pihak mereka. [63]

  • Dalam peperangan, haram membunuh wanita, anak-anak, orang gila dan orang-orang yang fisiknya lemah seperti: orang tua, orang buta, dan orang yang terjebak, apabila peperangan tersebut tidak menggunakan pikiran orang itu. Demikian juga haram hukumnya membunuh orang-orang yang berada dalam keadaan seperti itu kecuali jika dalam keadaan terpaksa seperti jika orang kafir menggunakan mereka sebagai tameng atau jika karena penguasaan atas musuh hanya bisa ditempuh dengan jalan membunuhnya. [64]
  • Haram untuk memotong anggota badan musuh: memotong telinga, hidung dan anggota-anggota badan lainnya. [65]
  • Tidak diperbolehkan menipu musuh kecuali jika musuh dijamin keamanannya. [66]
  • Membunuh kuda tunggangan kaum Muslimin adalah makruh, sedangkan membunuh hewan tunggangan kaum kafir berdasarkan pendapat sebagian fuqaha adalah tidak makruh. [67]
  • Meminta tolong kepada orang kafir dalam peperangan jika terlihat ada kemaslahatannya dan mereka terlihat tidak akan mengkhianati maka boleh hukumnya. [68]
  • Para fukaha, jihad dalam kawasan Haram kawasan tertentu di Mekah dan yang termasuk bagian darinya adalah haram kecuali jika dalam kawasan itu berniat untuk melakukan perang tanding. [69]
  • Dalam sumber rujukan fikih, berdasarkan sanad-sanad hadis, sebagian pekerjaan-pekerjaan mustahab dinilai sebagai jihad, misalnya: memberi semangat juang kepada para mujahid dan mendisiplinkan mereka dengan memberi tanda-tanda dan bendera bagi setiap kelompok dan juga menyuarakan takbir dan membaca syair mengenai keberanian pasukannya [70] dan membaca doa-doa khusus. [71]

Pengakhiran Peperangan

Jihad bisa diselesaikan dengan beberapa cara: Pihak musuh menerima Islam jika tujuan berperang dengan pihak musuh adalah mengajak mereka menuju pintu hidayah, [72] pemberian suaka kepada pihak musuh kepada kaum Muslimin, mengadakan gencatan senjata baik secara sementara maupun selamanya.

Catatan Kaki

  1. Khalil bin Ahmad, Ibnu Sukait; Jauhari, Ibnu Atsir, frasa “jahada”.
  2. Silahkan lihat: Ibnu Abidin, jld. 3, hlm. 217; Haikal, jld. 1, hlm. 44.
  3. Silahkan lihat: Hurr Amili, jld. 15, hlm. 161; Najafi, jld. 21, hlm. 350.
  4. Silahkan lihat: Kulaini, jld. 4, hlm. 259, jld. 5, hlm. 9-10 60-88, Manawi, jld. 3, hlm. 366, Hurr Amili, jld. 16, hlm. 34; Haikal, jld. 1, hlm. 46-47, 109-110.
  5. Silahkan lihat: (Qs Al-Ankabut [29]: 6, 8, 69); (Lukman [31]: 15).
  6. Silahkan lihat: (Qs Al-Haj [22]: 39, 40), juga Wahidi Nisyaburi, hlm. 208, Thabathabai, terkait dengan ayat yang sedang dibahas.
  7. Silahkan lihat: Muhammad Fuad Abdul Baqi, terkait dengan kata “jahada” dan “qatala”.
  8. Silahkan lihat: (Qs Taubah [9]: 5, 36 dan 41).
  9. Ya Syamsyir, Fes Khui, 1395, hlm. 305, ayat ke 36 surah Taubah disebut sebagai ayat saif.
  10. Sebagai contoh silahkan lihat: (Qs al-A’raf [7]: 199), (Qs Al-Baqarah [2]: 109), (Qs Al-An’am [6]: 112); (Qs Al-Hijr [15]: 85), (Qs Al-Zuhruf [43]: 89).
  11. Silahkan lihat: Ibnu Hazm, al-Nasikh wa al-Mansukh, hlm. 30, 34, 35; Thusi, Al-Tebyān, terkait dengan (Qs Al-Baqarah [2] 83); Thabarsi, (Qs al-An’am [6]: 159); (Qs Sajdah [32]: 30); Ibnu Jauzi, hlm. 242; Ibnu Katsir, hlm. 350.
  12. Islam, cet, ke-2, terkait dengan rasa “jihad”.
  13. Silahkan lihat: Suyuthi, jld. 2, hlm. 29; Rasyid Ridha, jld. 2, hlm. 215; Khui, 1395.
  14. (Qs Nisa [4]: 95), (Qs Al-Ankabut [29]: 69), (Qs Taubah [9]: 20).
  15. (Qs Taubah [9]: 21), (Qs Ali Imran [3]: 169).
  16. Silahkan lihat [Qs Taubah [9]: 24).
  17. Silhakan lihat: (Qs Ali Imran [3]: 126); (Qs Al-Anfal [8]:10).
  18. Silahkan lihat: (Qs Al-Anfal [8]: 15-16, 24-26).
  19. (Qs Al-Anfal [8]: 65-66); (Qs Ali Imran [3]: 123-125).
  20. Silahkan lihat: (Qs al-Ahzab [33]: 9-10), (Qs Taubah [9]: 26).
  21. Silahkan lihat: (Qs Ali Imran [3]: 126); (Qs Al-Anfal [8]: 12), (Qs Al-Ahzab [33]: 26).
  22. Silahkan lihat: Ibnu Hanbal, jld. 1, hlm. 14, jld. 3, hlm. 126; Bukhari, jld. 1, hlm. 12, jld. 6, hlm. 15; Muslim bin Hijaj, jld. 1, hlm. 88; Silahkan lihat: Malik bin Anas, jld. 2, hlm. 443-445; Kuliani, jld. 5, hlm. 2, 4 dan 53.
  23. Nahj al-Balāghah, khutbah 27.
  24. Kanz Amal, jld. 4, hlm. 326.
  25. Silahkan lihat: Haji Khalifah, jld. 1, tiang 56; Baghdadi, Aidhah al-Maknun, jld. 1, tiang 251, 282, dan di buku-buku lain, jld. 2, tiang 123.
  26. Silahkan lihat: Zaid bin Ali, hlm. 349-362; Syafi’i, jld. 4, hlm. 167-313; Sahanun, jld. 2, hlm. 2-50; Muslim bin Hijaj, jld. 2, hlm. 1356-1450; Kulaini, jld. 5, hlm. 2-55; Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 2-75; Ibnu Hazm, Al-Mahalli, jld. 7, hlm. 354-291; Syams Aimah Sarakhsyi, 1403; jld. 10, hlm. 2-144;Ibnu Qudamah; jld. 10, hlm. 364-635.
  27. Silahkan lihat: Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 451’ Manawi, jld. 4, hlm. 18.
  28. Syams Aimah Sarakhsyi, 1971, jld. 1, Mukadimah Munjid, hlm. 14, Ibid, 1403, jld. 10, hlm. 2.
  29. Untuk karya-karya dalam bidang Fikih Syiah dan Ahlu Sunah silahkan rujuk: Najasyi, hlm. 352, 354, 375 dan 388; Baghdadi, Hadiyah al-Arifin, jld. 1,: 5, 68, 348, 438, 589, 618, 706, jld. 2, 24, 52.
  30. Sebagai contoh silahkan lihat: Mufid, hlm. 80-812.
  31. Silahkan lihat: Mirza Buzurg Qaim Maqam, Mukadimah Zargari Nezad, hlm. 72, 74, 7, Rasail wa Fatawai jihadi, hlm. 20-74.
  32. Silahkan lihat: hlm. 11-13.
  33. Muntadzeri, jld. 1, hlm. 115.
  34. Syafi’i, jld. 4, hlm. 170; Kulaini, jld. 5, hlm. 2-13; Syams Al-Aimah, Sarakhsi, 1971, jld. 1, hlm. 187-189.
  35. Silahkan lihat: Qs Al-Baqarah: 193; Qs al-Anfal: 39, Jashash, jld. 3, hlm. 65, Qurthubi, Thabthabai, pembahasan mengenai surah al-Baqarah: 193.
  36. Muntadzeri, jld. 1, hlm. 115.
  37. Silahkan lihat: Jashash, jld. 3, hlm. 154; Syams al-Aimah Sarakhsyi, 1971, jld. 1, hlm. 156-157; Ibnu Qudamah, jld. 10, hlm. 371; Syaukani, jld. 7, hlm. 242-243.
  38. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 19 hlm. 269; Syirwani, jld. 9, hlm. 237, 277.
  39. Sebagai contoh silahkan lihat: Kulaini, jld. 5, hlm. 23; Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 8, Ibid, 1400, hlm. 290; Syahid Tsani, jld. 3, hlm. 9; Najafi, jld. 21, hlm. 11.
  40. Silahkan lihat: Najafi, Ibid.
  41. Silahkan lihat: Khui, 1410, jld.1, hlm. 364; Muntadzeri, jld. 1, hlm. 115; Khamenei, jld. 1, hlm. 331; Silahkan lihat: Mirza Qaim Maqam, hlm. 66.
  42. Silahkan lihat: Muntadzeri, jld. 1, hlm. 118.
  43. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 46.
  44. Kasyf al-Ramuz, jld. 1, hlm. 418-422; Al-Muhadzdzab al-Bari’, jld. 2, hal 300-310.
  45. Zahili, hlm. 90-97.
  46. Silahkan lihat: Syafi’i, jld. 4, hlm. 177; Muthi’i, jld. 19, hlm. 285-287.; Fahr al-Muhaqqiqin, jld. 1, hlm. 354; Najafi, jld. 21, hlm. 51; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 369.
  47. Silahkan lihat: Thusi, 1378, jld. 2, hlm. 10; Ibnu Qudamah, jld. 10, hlm. 367-368; Muthi’i, jld. 19, hlm. 266; Allamah Hilli, 1419-1413, jld. 1, hlm. 477; Najafi, jld. 21, hlm. 49.
  48. Najafi, jld. 21, hlm. 73; Khui, 1410, jld. 1. Hlm. 371.
  49. Najafi, jld. 21, hlm. 73; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 371.
  50. Silahkan lihat: Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 2, hlm. 4-5; Ibnu Qudamah, jld. 10, hlm. 366-367; Muthi’i, jil 19, hlm. 270-271; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 362-363.
  51. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 19, hlm. 244-246; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 27-33; Najafi, jld. 21, hlm. 21-26; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 366-367.
  52. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 19, hlm. 280; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 54-57.
  53. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 9, hlm. 37; Najafi, jld. 21, hlm. 15-16, jld. 41, hlm. 650-651; Untuk mengetahui lebih detail mengenai jihad ibtidai dan jihad defensif silahkan lihat: Najafi, jld. 21, hlm. 15-16.
  54. Silahkan lihat: Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 3; Qurtbubi, dalam pembahasan terkait dengan ayat: Qs Al-Baqarah: 90; Najafi, 1410, jld. 1, hlm. 368-369.
  55. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 32-34.
  56. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 56.
  57. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 61.
  58. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 61.
  59. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 51-54.
  60. Jawāhir al-Kalām, jld. 21 hlm. 81-82.
  61. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 85-88.
  62. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 66-68; Isyarah al-Sabaq, hlm. 143, Ishah al-Syiah, hlm. 189.
  63. Al-Raudhah al-Bahiyyah, jld. 2, hlm. 392.
  64. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 68, 73-77.
  65. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 77-78.
  66. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 78-79.
  67. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 85-82.
  68. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 193-194.
  69. Silahkan lihat: Ibnu Jauzi, hlm. 72-74; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 9, Khui, 1410, jld. 1, hlm. 369.
  70. Zaid bin Ali, hlm. 355, jld. 5, hlm. 34; Baihaqi, jld. 9, hlm. 153; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 52; Bahuti Hanbali, jld. 3, hlm. 72.
  71. Ma’zi Malayari, jld. 16, hlm. 190-199.
  72. Silahkan lihat: Bukhari, jld. 1, hlm. 39; Thabari, terkait dengan (Qs al-Fatah [48]: 16)

Daftar Pustaka

  • Abdul Majid Syarwani, Khasyiyah al-Syaikh Abdul Hamid al-Syirwani, Dar Hawasyi al-Syarwani wa Ibnu Qasim al-Abidi ala Tuhfah al-Muhtaj bisyarah al-Minhaj, cet. Sanggi, Mesir, 1315, cet. Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Abdul Salam bin Sa’id Sahanun, Al-Madunah al-Kubra, Allati Rawaha Sahanun bin Sa’id Tanawukhi an Abdurahman bin Qasim Ataqi an Malik bin Anas, Qahirah, 1323, cet. Offset Beirut, Tanpa Tahun.
  • Abdurahman bin Abi Bakar Suyuthi, Al-Itqān fi Ulumul Quran, Beirut, Dar al-Ma’rifah, tanpat tahun.
  • Abi, Hasan bin Abi Thalib, Kasyf al-Rumuz fi Syarah Mukhtashar al-Nafi’, Riset: Ali Panah Isytihardi, Agha Husain Yazdi, Qum, 1417 H.
  • Abul Qasim Khui, Al-Bayān fi Tafsir al-Qurān, Beirut, 1395/1975.
  • Ahmad bin Ali Jashash, Ahkām al-Qurān, cet. Abdul Salam Muhammad Ali Syahin, Beirut, 1415/1995.
  • Ahmad bin Ali Najasyi, Fehrest Asmā Mushaffi al-Syiah al-Musytahrab bi Rijal al-Najafi, cet. Musa Syabiri Zanjani, Qum, 1407 S.
  • Ahmad bin Husain Baihaqi, Al-Sunan al-Kubra, Beirut, 1424/2003.
  • Al-Quran al-Karim
  • Ali bin Ahmad Wahidi Nisyaburi, Asbāb al-Nuzul al-Ayāt, Qahirah, 1388/1986.
  • Ali bin Hisam, Kanz al-Ammal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, Muasasah al-Risalah, Beirut, 1413 H, 1993 M.
  • Ali Khameini, Rahbar Jumhuriye Islāmie Iran, Ajwabah al-Istiftaat, jld. 1, Kuwait, 1415/1999.
  • Amili, Zainuddin bin Ali, Al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarah li Lum’ah al-Damsyiqiyyah (Al-Mahsyi Kalantar), Ketab Furusyi Dawari, Qum, 1410 H.
  • Haji Khalifah, Hurr Amili, Ahmad Abdul Karim Halwani, Ibnu Asakir wa Dureh fi al-Jihād Dhid Salibin fi Ahd al-Daulatin al-Nawariyah wa al-Aiwabiyah, Damisyq, 1991.
  • Halabi, Ali bin Hasan, Isyarah al-Sabaq ila Ma’rifah al-Haq, Jamiah Mudarisin, Qum, 1414 H.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, Qum, 1414.
  • Hilli, Ahmad bin Muhammad Asadi, Al-Madzhab al-Bari’ fi Syarah Mukhtashar al-Nafi’, Musahih: Mujtaba Araki, Jamiah Mudarisin Qum, 1417 H.
  • Husain Ali Muntadzeri, Dirāsat fi Wilayah al-Faqih wa Figh al-Daulah al-Islamiyyah, Qum, 1409-1411.
  • Ibid, Al-Mabsuth fi Figh al-Imāmiyah, jld. 2, cet. Muhammad Taqi Kasyfi, Tehran, 1387.
  • Ibid, Al-Nasikh wa al-Mansukh fi al-Qurān al-Karim, cet. Abdul Ghafar Sulaiman Bandari, Beirut, 1406/1986.
  • Ibid, Al-Tebyān fi Tafsir al-Qurān, cet. Ahmad Habib Qushair Amili, Beirut, tanpa tahun.
  • Ibid, Hadiyah al-Arifin, jld. 1-2. Ibid, jld. 5-6, Mansur bin Yunus Yahuti Hanbali, Kasyaf al-Qana’ an Matan al Aqna’, cet. Muhammad Hasan Syafi’I, Berut, 1418/1997.
  • Ibid, Kitab al-Masuth, Qahirah, 1324-1331, cet. Offset Istanbul, 1403/1983.
  • Ibid, Qawāid al-Ahkām, Qum, 1413-1419.
  • Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtar ala Dar al-Mukhtar, cet. Sangi, Mesir, 1271-1272, Cet. Offset Beirut, 1407/1987.
  • Ibnu Atsir, Al-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa al-Atsar, cet. Mahmud Muhammad Thanahi wa Thahir Ahmad Zawi, Beirut, 1383/1963, cet. Offset Qum, 1364 S.
  • Ibnu Hanbal, Musnad al-Imām Ahmad bin Hanbal, Beirut, Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Jauzi, Nawasikh al-Quran, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, tanpa tahun.
  • Ibnu Jazm, Al-Mahalli, cet. Ahmad Muhammad Syakir, Beirut, Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
  • Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurān al-Adhim, Beirut, 1412.
  • Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ibnu Sekit, Tartib Islāh al-Mantiq, cet. Muhammad Hasan Bakai, Masyhad, 1412.
  • Isa bin Hasan Mirza Buzurg Qaim Maqam, Ahkām al-Jihad wa Asbab al-Rasyād, cet. Ghulam Husain Zargardi Nezad, Tehran, 1380 S.
  • Ismail bin Hamad Jauhari, Al-Sehah, Taj al-Lughah wa Sehah al-Arabiyah, cet. Offset Tehran, 1368 S.
  • Ismail Ma’zi Malayir, Jami’ Ahadis al-Syiah fi Ahkam al-Syari’ah, Qum, 1371-1383 S.
  • Ismail, Baghdadi, Aidhah al-Maknun, jld. 1-2, Dar Haji Khalifah, jld. 3-4.
  • Kaidari, Muhammad bin Hasan, Asbah al-Syari’ah bi Misbah al-Syari’ah, Muasasah Imam Shadiq As, Qum 1416 H.
  • Khalil bin Ahmad, Kitab al-Ain, cet. Mahdi Mahzumi wa Ibrahim Samarai, Qum, 1405.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, al-Kafi, cet. Ali Akbar Ghafari, Beirut, 1401.
  • Mahmud Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufehrest li Alfādz al-Qurān al-Karim, Beirut: Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Malik bin Anas, Al-Muwathā, Istanbul, 1401/1981.
  • Muhamad Hasan Thusi, Al-Iqitshād al-Hadi ila Thariq al-Risyad, Tehran, 1400.
  • Muhamad Khair Haikal, al-Jihad wa al-Qital al-Siyāsah al-Syar’iyyah, Beirut, 1417/1996.
  • Muhammad Abdul Rauf bin Taj al-Arifin Manawi, Faidz al-Ghadir, Syarah Jami’ al-Saghir, Beirut, 1391/1972.
  • Muhammad bin Ahmad Qurthubi, Al-Jami li Ahkām al-Qurān, Beirut, 1405/1985.
  • Muhammad bin Ahmad Syams al-Aimah Syarakhsi, Syarah Kitab al-Kabir, cet. Islahuddin, Munjid, Qahirah, 1971.
  • Muhammad bin Fahr al-Muhaqqiqin, Aidhah al-Fawāid fi Syarah Isykalat al-Qawāid, cet. Husain Musawi Kermani, Ali Panoh Isytihardi, dan Abdurahim Burujerdi, Qum, 1387-1389, cet. Offset, 1363 S.
  • Muhammad bin Ismail Bukhari, Sahih Bukhāri, (cet. Muhammad Dzhini Efendi), Istanbul, 1401/1981.
  • Muhammad bin Muhammad Mufid, Al-Muqna’ah, Qum, 1410.
  • Muhammad Hasan bin Baqir Najafi, Jawāhir al-Kalām fi Syarah Syarayi’ al-Islam, Beirut, 1981.
  • Muhammad Idris Syafi’i, Al-Umam, Beiut, 1403-1983.
  • Muhammad Najib Muthi’i, Al-Tukalamah al-Tsaniyah, Al-Majmu: Syarah al-Muhadzdzab, Dar Yahya bin Syaraf Nuri, Al-Majmu’: Syarah al-Muhadzdzab, jld. 13-20, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qurān al-Hakim, Al-Musyathar bismi Tafsir al-Manar, (Taqrir Dars), Syaikh Muhammad Abduh, Mesir, jld. 2, hlm. 1367.
  • Muhammad Syaukani, Nil al-Authar, Syarah Muntaqi al-Akhbar min Ahadits Sayidul Akhbar, Mesir, Syirkatah Maktabah wa Mathbu’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, (tanpa tahun), cet. Offset, Beirut, tanpa tahun.
  • Muslim bin Hujaj, Sahih Muslim, cet. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Istanbul, 1401/1981.
  • Rasail wa Fatawai Jihādi, Riset: Tahsyiyyah az Muhammad Hasan Rajabi, Tehran, Wezarat Farhang wa Irsyad slami, Mu’awenat Pazuhesyi wa Omuyesyi, 1378 S.
  • Risalah wa Fatawai Jihadi, Riset: Muhammad Hasan Rajabi, Muawen Pazuhesy wa Omuyesyi, 1378 S.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Thabari, Tārikh al-Umam wa a-Muluk, cet. Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, Beirut, 1382-1387/19 62-1967.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma’ al-Bayān fi Tafsir al-Qurān, cet. Hasyim Rasuli, Mahalati wa Fadhl Yazdi Thabathabai, Beirut, 1408/1988.
  • Thabathabai, Muhammad Husain, Al-Mizān fi Tafsir al-Qurān, Beirut, 1390-1394/1971-1974
  • Wahbah Mustafa Zahaili, Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islami, Damisyq, 1981/1401.
  • Zaid bin Ali as, Musnad al-Imām Zaid, Beirut, Dar Maktabah al-Hayah, tanpat tahun.
  • Zainuddin bin Ali Syahid Tsani, Masalik al-Afham ila Tanqih Syarai’ al-Islam, Qum, 1419-1413.

EI 2 , s.v. "Dj ihad" (by E. Tyan).