Prioritas: a, Kualitas: b
tanpa foto

Jihad

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Jihad (bahasa Arab:جهاد) adalah ajaran Islam yang bermakna berjuang sungguh-sungguh yang disertai dengan pengorbanan di jalan Allah baik dengan jiwa, harta dan lainnya. Secara terminologis, jihad adalah peperangan dan perlawanan dengan tujuan untuk menyebarkan dan mempertahankan ajaran agama Islam. Menurut Alquran, mereka yang mengorbankan nyawa dan harta di jalan Allah, memiliki keunggulan yang lebih tinggi dari pada kaum Muslimin yang lain dan kepada mereka diberikan kabar gembira berupa surga dan memperoleh kedudukan syahadah. Dalam kitab-kitab fikih, pembahasan mengenai jihad termasuk pembahasan yang sangat penting. Dalam ajaran Syiah, jihad dan syahadah memiliki kaitan erat dengan perlawanan Imam Husain as. Selama beberapa dekade terakhir ini, perilaku Islamophobia dan juga beberapa kelompok garis keras menyerang ajaran-ajaran mulia jihad. Jihad dibagi kepada dua bentuk; Ibtadai (permualaan) dan Difa'i (pertahanan).

Rabath atau murathabah (tapal garis perbatasan) juga merupakan tema yang berkaitan dengan jihad dan pada sebagian hal -berdasarkan hadis-hadis- merupakan contoh dari jihad.

Islam
کتیبه مسجد.png

Arti secara leksikal dan teknikal

Jihad adalah sebuah kata bahasa Arab berasal dari akar kata ja-ha-da berarti kesulitan, usaha sungguh-sungguh dalam suatu pekerjaan, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sesuatu. [1] Penggunaan arti makna secara umum yang terpenting adalah bentuk usaha sungguh-sungguh yaitu perlawanan di jalan Allah dengan jiwa, harta dan segala yang dimiliki dengan tujuan untuk memperluas agama Islam atau mempertahankannya. [2]

Dalam teks-teks agama, disamping makna leksikal dan tekhnikal ini, makna leksikal dan umumnya juga sangat banyak digunakan seperti penggunaan kata jihad akbar tentang usaha sungguh-sungguh melawan setan dan hawa nafsu. [3] Dalam hadis-hadis, sebagian hal-hal dianggap sebagai jihad, untuk memposisikan pentingnya kedudukan hal-hal itu, seperti amar ma’ruf nahi mungkar, berkata tentang keadilan dihadapan pemimpin korup, usaha-usaha untuk menghidupkan kembali kebiasaan-kebiasaan baik di masyarakat, menjadi istri yang baik dan usaha suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan rezeki yang halal. [4]

Diwajibkannya Jihad

Ketika hukum jihad diwajibkan di Madinah, frasa jihad dan derivasinya pada ayat-ayat Makkiyah bermakna umum dan sesuai dengan makna leksikalnya. [5] Ayat pertama kali yang berkaitan dengan diwajibkannya jihad adalah jihad defensif (difa'i) yang turun pada tahun awal Hijrah. Kaum Muslimin diberikan ijin untuk mempertahankan diri dari serangan kaum Musyrikin. [6] Ayat-ayat tentang jihad sangat banyak dijumpai pada surah-surah Madaniyyah khususnya surah Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali Imran, At-Taubah, Al-Ahzab. [7] Dalam menganalisa terhadap ayat-ayat mengenai jihad ini, tidak boleh menjauhkan diri dari sya'n Nuzul atau sebab pewahyuan ayat-ayat itu dan tujuan-tujuan politik Nabi Muhammad saw terkhusus dalam masalah falsafah perang dan perdamaian.

Setelah Fathu Mekah pada tahun ke-8 H, ayat-ayat turun yang berdasarkan perhitungan lahir menunjukkan atas peperangan dengan semua kaum musyrikin dalam semua tempat dan zaman. [8] Menurut pendapat beberapa mufassir dan fuqaha, ayat-ayat ini khususnya ayat 5 surah al-Ahzab, terkenal dengan ayat "saif" (pedang). [9] Ayat-ayat lain yang menunjukkan tentang bertoleransi dengan kaum Musyrikin [10] telah di nasakh (hapus) [11]. Sejumlah orientalis dalam menyepakati hukum dihapusnya ayat itu berkata bahwa ayat-ayat yang secara lahir memerintah kaum Muslimin berjihad dengan kaum Musyrikin, termasuk ahlul kitab dalam setiap zaman, masih tetap berlaku dan ayat-ayat lain yang mendasarkan kewajiban berjihad kepada syarat-syarat tertentu seperti adanya fitnah yang dimunculkan oleh pihak musuh, telah di mansukh. [12] Sebaliknya, orang-orang yang melawan adanya nasakh berdasarkan kaedah-kaedah nasakh ayat-ayat Alquran dan sejarah sya'n Nuzul ayat-ayat yang dimaksud, maka tidak ada kemungkinan bahwa ayat-ayat itu di nasakh. [13]

Keutamaan-keutamaan Jihad

Pada ayat-ayat dan hadis-hadis dijelaskan mengenai sebagian keutamaan-keutaaan jihad baik dari sisi duniawi maupun ukhrawinya.

Ayat-ayat Alquran

Menurut ayat-ayat Alquran [14] mereka yang mengorbankan nyawa dan harta mereka di jalan Allah, maka Allah menilai mereka sebagai seorang Muslim yang lebih unggul dari pada kaum muslimin yang lain, kepada mereka diberikan kabar gembira dari surga dan mencapai derajat syahadah. [15] Alquran mengisyaratkan bahwa penghalang manusia untuk tidak berjihad adalah ketergantungan kepada keluarga, kekayaan dan rumah. Demikian juga Alquran [16] menilai orang-orang yang menolak untuk berjihad sebagai orang-orang yang fasik dan mereka diancam dengan dengan hukuman Ilahi. Berdasarkan Alquran, kemenangan hanya berada di tangan Allah. [17] Hukum-hukum paling penting dalam jihad diantaranya adalah menaati perintah Tuhan dan Nabi Muhammad saw, menjauhi permusuhan dan perselisihan, sabar, tidak cepat menyerah dan tidak lari dari musuh. [18] Menurut ayat-ayat Alquran [19] para mujahid akan ditolong Allah dengan pertolongan ghaib seukuran dengan kualitas kesabaran dan keuletan mereka. [20] Diantara pertolongan ghaib Ilahi adalah ketenangan yang diberikan oleh Allah dalam hati para mujahid dan hilangnya rasa takut serta ditumbuhkannya rasa takut yang memenuhi hati-hati para kaum kafir. [21]

Hadis

  • Berdasarkan hadis-hadis, jihad di jalan Allah adalah sebaik-baik tindakan dan pahala ukhrawi mujahid yang syahid adalah bercita-cita kembali untuk bisa berjihad dan meraih maqam syahadah. [22]
  • Imam Ali as: Sesungguhnya jihad adalah salah satu dari pintu-pintu surga yang akan Allah bukakan bagi para auliya-Nya. Jihad adalah pakaian takwa dan baju besi bagi Allah dan perisai kuat-Nya. [23]
  • Nabi Muhammad saw: Satu malam menjadi penjaga di jalan Allah lebih baik dari pada seribu hari yang pada malam harinya dipenuhi dengan ibadah dan siangnya dijalani dengan puasa. [24]

Kitab-kitab tentang Jihad

Karena pentingnya dan kedudukan jihad dalam Islam, sangat banyak kitab-kitab yang ditulis dalam tema tersebut. [25] Demikian juga terdapat referensi-referensi komprehensif dan kitab-kitab fikih yang membahas bab tersendiri tentang hukum-hukum jihad pada bab "Jihad" atau “Perang”. Tema-tema utama dalam pembahasan ini adalah:

  1. Meningkatkan kesiapan tempur para mujahid
  2. Syarat-syarat kewajiban berjihad bagi kaum mukminin
  3. jenis-jenis jihad
  4. Hukum-hukum yang berkaitan dengan medan jihad seperti:
  • Cara berperang dan bagaimana bersikap dengan para prajurit, orang-orang yang tewas dalam peperangan, para tawanan dan para korban.
  • Cara membagi harta rampasan perang
  • Cara mengakhiri peperangan. [26]

Rabath atau murathabah (tapal garis perbatasan) juga merupakan tema yang berkaitan dengan jihad dan pada sebagian hal -berdasarkan hadis-hadis- merupakan contoh dari jihad. [27]

Penulisan kitab-kitab dengan tema “Perang” seperti al-Siyar Auza'i (w. 157) dan al-Siyar al-Shaghir wa al Siyarr al-Kabir karya Muhammad bin Hasan Syaibani (w. 189) yang menjelaskan bagaimana cara menghadapi kaum kafir pada zaman perang dan damai adalah semarak ditulis oleh oleh para fuqaha terdahulu khususnya Ahlusunah. Kitab al-Siyar al-Kabir karya Syaibani karena termasuk ulama terdahulu dan pembahasannya yang sangat komprehensif, maka kitab ini memiliki kedudukan yang sangat penting dan syarah atasnya pun telah banyak ditulis. Pemerintahan Utsmani menjadikan kitab ini sebagai kitab undang-undang yang mirip dengan aturan-aturan yang mengatur tentang hubungan internasional. [28] Kitab fikih politik seperti Al-Ahkām al-Sulthāniyyah, karya Mawardi dan kitab al-Kharaj, karya Qadhi Abu Yusuf (w. 183) juga membahas mengenai jihad. [29] Dalam referensi Syiah, disamping dibahas permasalahan-permasalah mengenai jihad, juga diterangkan pula pembahasan-pembahasan mengenai tema-tema lain seperti amar ma’ruf nahi mungkar. [30]

Fatwa mengenai Jihad

Fatwa-fatwa ulama Syiah mengenai perintah jihad, khususnya ketika menghadapi serangan dan infasi penjajah seperti peperangan antara Iran dan Rusia pada abad ke-13 yang memiliki peranan penting dalam pertahanan tanah Islam, telah dikumpulkan dalam kitab-kitab mengenai jihad. [31] Dalam beberapa periode sejarah, seruan jihad diantara ulama-ulama Ahlusunnah juga nampak, seperti seruan Ibnu Asakir (w. 571) terhadap jihad pada Perang Salib, dengan mengumpulkan 40 hadis tentang jihad. [32]

Jihad Ibtidai (Permulaan) dan Jihad Difa'i (Pertahanan)

Para fuqaha, dalam kitab-kitab mereka membagi jihad menjadi dua bagian: permulaan dan pertahanan. [33] Pada kitab-kitab terdahulu, pembagian ini tidak disebutkan secara jelas dan para fuqaha pada zaman dahulu biasanya hanya menjelaskan jihad defensif (difa'i) secara umum dan implisit. [34]

  • Jihad permulaan (ibtidai) bermakna perang dengan kaum musyrikin dan kaum kafir untuk mengajak mereka kepada agama Islam dan tauhid serta untuk menegakkan keadilan. Dalam jenis bentuk jihad ini, dimana kaum Muslimin memulai peperangan, tujuannya adalah menghilangkan dominasi kaum kafir dan mempersiapkan kemungkinan luasnya agama Ilahi. [35]
  • Jihad defensif (difa'i) bermakna perang untuk mempertahankan kaum Muslimin dari bumi Islam. [36]

Syarat-syarat Wajib Jihad Ibtidai

Fuqaha Ahlusunah mewajibkan jihad ibtidai jika hakim yang adil atau fasik memandang adanya kemaslahatan bagi Islam dan kaum Muslimin.[37] Menurut pendapat mereka, mentaati seorang hakim terkait dengan permasalahan jihad adalah wajib sebagaimana menjalankan salat 5 kali dalam sehari. [38]

  • Sebagian fuqaha Syiah Imamiyah memandang bahwa syarat melakukan jihad ibtidai adalah adanya persetujuan dan ijin Imam Maksum atau wakilnya. [39] Yang dimaksud fuqaha sebagai wakil Imam adalah wakil khusus dan tidak termasuk para wakil umum Imam (fuqaha) pada zaman ghaib. [40] Namun menurut pendapat beberapa fuqaha yang lain, ijin Imam Maksum atau wakil khusus Imam tidak diperlukan dalam hal jihad dan bahkan wakil umum Imam juga bisa mengeluarkan hukum jihad ibtidai demi mengembangkan prinsip tauhid, keadilan dan mencegah kezaliman dan melindungi kaum dzalim. [41] Menurut kesepatakan para fuqaha, ijma klaim ini bisa dipertanyakan dan arti imam adil dalam hadis jihad adalah bukan Imam Maksum. [42]

Jihad Ibtidai Wajib di hadapan Tiga Kelompok

  1. Orang-orang kafir bukan dzimmi baik Ahli Kitab maupun bukan Ahli Kitab.
  2. Para kafir dzimmi yang tidak memperhatikan syarat-syarat kafir dzimmi
  3. Kaum pembangkang [43]
  • Jihad dengan orang-orang kafir yang bukan ahli kitab hanya bertujuan untuk mengajak mereka kepada Islam. Mereka hanya memiliki dua pilihan: Memilih agama Islam atau berperang.
  • Jihad dengan orang kafir yang bukan dzimmi atau yang dzimmi yang melanggar perjanjian ke-dzimmi-an adalah untuk mengajak mereka kepada Islam atau berkomitmen dengan perjanjian dzimmah dan membayar jizyah. Jadi, mereka harus memilih salah satu dari tiga hal: memilih Islam, tetap dalam ajaran mereka dan membayar jizyah atau berperang.
  • Jihad dengan kelompok pembangkang adalah karena mereka melanggar janji dan melanggar baiat yang telah diberikan kepada Imam Ali as dan pemaksaan mereka untuk membaiat kembali. [44]

Jihad sebagai Jalan Terakhir

Menurut pandangan beberapa penulis Muslim, kewajiban berjihad tidak bermakna keharusan adanya berhadap-hadapan antara kaum Muslimin dengan selain kaum Muslimin, namun jihad sebagai jalan terkahir untuk menguatkan kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin. [45] Sebelum jihad dimulai, pihak musuh harus diajak terlebih dahulu untuk masuk ke agama Islam, supaya tidak menentang Tuhan dan tidak melecehkan hak-hak kemanusiaan. Jihad ibtidai harus dimulai dari tempat yang lebih dekat dari lokasi kekuasaan negara Islam. [46] Menurut pendapat sebagian fuqaha, berdasarkan sirah Nabi Muhammad saw ketika syarat-syarat untuk berjihad terpenuhi dan pasukan Islam juga siap untuk berjihad, maka pelaksanaan harus dilakukan minimal sekali dalam setahun. [47] Seorang prajurit tidak diperbolehkan lari dari medan perang, kecuali karena hal-hal tertentu. [48]

Kewajiban berjihad adalah Kewajiban Kifayah

Menurut pendapat masyhur dalam fikih Islam, hukum jihad ibtidai adalah wajib kifayah artinya apabila sejumlah mujahid telah memiliki kesiapan untuk berjihad, maka hal itu adalah cukup dan orang lain tidak lagi berkewajiban untuk berjihad. Namun apabila seorang hakim memandang perlu kehadiran seseorang dalam medan peperangan, maka jihad orang tertentu itu menjadi wajib aini. Setelah ia siap dan berhadap-hadapan di medan tempur, jihad menjadi wajib aini dan haram mengundurkan diri dari medan peperangan. [49]

Syarat-syarat seorang Mujahid

Syarat-syarat bagi seorang mujahid yang tercatat dalam rujukan-rujukan fikih:

  • Laki-laki
  • Berakal
  • Merdeka (bukan budak)
  • Memiliki kemampuan jasmani dan harta
  • Tidak memiliki halangan syar’i. Oleh itu, jihad tidak diwajibkan bagi budak, perempuan, anak-anak, orang gila, orang tua renta, orang yang buta dan orang-orang yang sakit parah atau menderita cacat jasmani. [50]
  • Demikian juga tidak diwajibkan bagi seseorang untuk berjihad jika ayah dan ibunya tidak rela atas kepergian anaknya ke medan perang kecuali jika jihad baginya merupakan kewajiban aini.

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai pentingnya memperoleh ijin dari ayah dan ibu musyrik dan kakek juga minta ijin dari orang yang dihutangi untuk pergi ke medan perang. [51] Demikian juga tentang sewa dan juga penyediaan ju’alah atau upah untuk berjihad, menjadi perbedaan pendapat diantara para fuqaha. [52]

Dalam jihad defensif, tidak diperlukan syarat-syarat di atas misalnya ijin dari Imam karena mempertahankan jiwa, harta serta kehormatan dan harga diri bagi setiap kaum Muslimin yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri adalah wajib dalam segala kondisi. [53]

Hukum-hukum dan Adab-adab berperang

Kebiasaan bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam melarang berperang pada Bulan-bulan Haram: Rajab, Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Islam pun membenarkan hal itu dengan bersandar kepada ayat-ayat Alquran diantaranya adalah ayat 217 surah Al-Baqarah dan ayat 5 surah At-Taubah [54] kecuali jika musuh yang memulai peperangan dan mereka tidak mengakui kehormatan bulan-bulan haram. [55] Sedangkan menurut pendapat beberapa fuqaha Ahlusunnah larangan berperang dalam bulan-bulan haram telah di nasakh (dihapus) dan jihad diperbolehkan dalam segala waktu dan tempat. [56]

  • Haram hukumnya lari dari perang, bahkan termasuk dosa-dosa besar [57] kecuali jika jumlah kaum Muslimin tidak lebih dari jumlah setengah musuh dimana jika hal ini terjadi, maka tidak wajib bagi kaum Muslimin untuk mempertahankan diri atas musuh. [58]
  • Imam as atau orang yang diangkat Imam untuk memimpin perang terlebih dahulu wajib mengajak musuh untuk masuk ke dalam agama Islam dan menyatakan kesyahadatannya kepada tauhid dan risalah Nabi Muhammad saw termasuk kepercayaan terhadap Ushuluddin dan Furu'uddin kecuali apabila sebelumnya dakwah Islam telah sampai kepada mereka, dalam hal ini pengulangan dakwah adalah mustahab. [59]
  • Permulaan peperangan mustahab dilakukan setelah mengerjakan salat Dhuhur dan Ashar. Oleh karena itu memulai peperangan sebelum zawal (matahari condong ke arah Barat) dan juga melakukan penyerangan pada malam hari hukumnya adalah makruh kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak. [60]
  • Mengajukan diri untuk memulai peperangan tanpa ijin Imam berdasarkan sebuah pendapat fuqaha adalah makruh dan sebagian menyatakan bahwa hal itu adalah haram namun dengan larangan Imam as, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu haram. Berperang demi memenuhi seruan Imam as adalah mustahab dan dengan perintahnya maka hal itu menjadi wajib. [61]
  • Berperang dengan musuh dengan segala bentuk senjata yang akan menghantarkannya menjadi pemenang dalam peperangan pada dasarnya adalah boleh, namun menebang pohon, melemparkan api ke hutan dan ke arah musuh adalah makruh. Terdapat perbedaan pendapat diantara fuqaha tentang kemakruhan menuangkan racun ke atas musuh atau kemakruhannya jika tidak dalam keadaan darurat. [62] Sebagian fuqaha, menebang pohon, merusak benteng dan menggunakan ketapel diperbolehkan jika yakin hal itu akan membawa kemenangan kepada pihak mereka. [63]
  • Dalam peperangan, haram membunuh wanita, anak-anak, orang gila dan orang-orang yang fisiknya lemah seperti: orang tua, orang buta, dan orang yang terjebak, apabila peperangan tersebut tidak menggunakan pikiran mereka itu. Demikian juga haram hukumnya membunuh orang-orang yang berada dalam keadaan seperti itu kecuali jika dalam keadaan terpaksa seperti jika orang kafir menggunakan mereka sebagai tameng atau jika karena penguasaan atas musuh hanya bisa ditempuh dengan jalan membunuhnya. [64]
  • Haram untuk memotong anggota badan musuh: memotong telinga, hidung dan anggota-anggota badan lainnya. [65]
  • Tidak diperbolehkan menipu musuh kecuali jika musuh dijamin keamanannya. [66]
  • Membunuh kuda tunggangan kaum Muslimin adalah makruh, sedangkan membunuh hewan tunggangan kaum kafir berdasarkan pendapat sebagian fuqaha adalah tidak makruh. [67]
  • Meminta tolong kepada orang kafir dalam peperangan jika terlihat ada kemaslahatannya dan mereka terlihat tidak akan mengkhianati maka boleh hukumnya. [68]
  • Para fukaha, jihad dalam kawasan Haram kawasan tertentu di Mekah dan yang termasuk bagian darinya adalah haram kecuali jika dalam kawasan itu berniat untuk melakukan perang tanding. [69]
  • Dalam sumber rujukan fikih, berdasarkan sanad-sanad hadis, sebagian pekerjaan-pekerjaan mustahab dinilai sebagai jihad, misalnya: memberi semangat juang kepada para mujahid dan mendisiplinkan mereka dengan memberi tanda-tanda dan bendera bagi setiap kelompok dan juga menyuarakan takbir dan membaca syair mengenai keberanian pasukannya [70] dan membaca doa-doa khusus. [71]

Pengakhiran Peperangan

Jihad bisa diselesaikan dengan beberapa cara: Pihak musuh menerima Islam jika tujuan berperang dengan pihak musuh adalah mengajak mereka menuju pintu hidayah, [72] pemberian suaka kepada pihak musuh kepada kaum Muslimin, mengadakan gencatan senjata baik secara sementara maupun selamanya.

Catatan Kaki

  1. Khalil bin Ahmad, Ibnu Sikkit; Jauhari, Ibnu Atsir, frasa “jahada”.
  2. Silahkan lihat: Ibnu Abidin, jld. 3, hlm. 217; Haikal, jld. 1, hlm. 44.
  3. Silahkan lihat: Hurr Amili, jld. 15, hlm. 161; Najafi, jld. 21, hlm. 350.
  4. Silahkan lihat: Kulaini, jld. 4, hlm. 259, jld. 5, hlm. 9-10 60-88, Manawi, jld. 3, hlm. 366, Hurr Amili, jld. 16, hlm. 34; Haikal, jld. 1, hlm. 46-47, 109-110.
  5. Silahkan lihat: (QS. Al-Ankabut [29]: 6, 8, 69); (Lukman [31]: 15).
  6. Silahkan lihat: (QS. Al-Haj [22]: 39, 40), juga Wahidi Nisyaburi, hlm. 208, Thabathabai, terkait dengan ayat yang sedang dibahas.
  7. Silahkan lihat: Muhammad Fuad Abdul Baqi, terkait dengan kata “jahada” dan “qatala”.
  8. Silahkan lihat: (QS. At-Taubah [9]: 5, 36 dan 41).
  9. Ya Syamsyir, Fes Khui, 1395, hlm. 305, ayat ke 36 surah Taubah disebut sebagai ayat saif.
  10. Sebagai contoh silahkan lihat: (QS. Al-A’raf [7]: 199), (QS. Al-Baqarah [2]: 109), (QS. Al-An’am [6]: 112); (QS. Al-Hijr [15]: 85), (QS. Al-Zuhruf [43]: 89).
  11. Silahkan lihat: Ibnu Hazm, al-Nasikh wa al-Mansukh, hlm. 30, 34, 35; Thusi, Al-Tibyān, terkait dengan (QS. Al-Baqarah [2] 83); Thabarsi, (QS. Al-An’am [6]: 159); (QS. Sajdah [32]: 30); Ibnu Jauzi, hlm. 242; Ibnu Katsir, hlm. 350.
  12. Islam, cet, ke-2, terkait dengan rasa “jihad”.
  13. Silahkan lihat: Suyuthi, jld. 2, hlm. 29; Rasyid Ridha, jld. 2, hlm. 215; Khui, 1395.
  14. (QS. An-Nisa [4]: 95), (Qs. Al-Ankabut [29]: 69), (Qs. At-Taubah [9]: 20).
  15. (Qs. At-Taubah [9]: 21), (Qs. Ali Imran [3]: 169).
  16. Silahkan lihat [Qs. At-Taubah [9]: 24).
  17. Silhakan lihat: (Qs. Ali Imran [3]: 126); (Qs. Al-Anfal [8]:10).
  18. Silahkan lihat: (Qs. Al-Anfal [8]: 15-16, 24-26).
  19. (Qs. Al-Anfal [8]: 65-66); (Qs. Ali Imran [3]: 123-125).
  20. Silahkan lihat: (Qs. Al-Ahzab [33]: 9-10), (Qs. At-Taubah [9]: 26).
  21. Silahkan lihat: (Qs. Ali Imran [3]: 126); (Qs. Al-Anfal [8]: 12), (Q. Al-Ahzab [33]: 26).
  22. Silahkan lihat: Ibnu Hanbal, jld. 1, hlm. 14, jld. 3, hlm. 126; Bukhari, jld. 1, hlm. 12, jld. 6, hlm. 15; Muslim bin Hajjaj, jld. 1, hlm. 88; Silahkan lihat: Malik bin Anas, jld. 2, hlm. 443-445; Kulaini, jld. 5, hlm. 2, 4 dan 53.
  23. Nahj al-Balcghah, khutbah 27.
  24. Kanz al-Ummal, jld. 4, hlm. 326.
  25. Silahkan lihat: Haji Khalifah, jld. 1, tiang 56; Baghdadi, Idhāh al-Maknun, jld. 1, tiang 251, 282, dan di buku-buku lain, jld. 2, tiang 196,707; Hadiyah al-'Arifin, jld. 1, tiang 192, 264.
  26. Silahkan lihat: Zaid bin Ali, hlm. 349-362; Syafi’i, jld. 4, hlm. 167-313; Sahanun, jld. 2, hlm. 2-50; Muslim bin Hijaj, jld. 2, hlm. 1356-1450; Kulaini, jld. 5, hlm. 2-55; Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 2-75; Ibnu Hazm, Al-Mahalli, jld. 7, hlm. 354-291; Syams Aimah Sarakhsyi, 1403; jld. 10, hlm. 2-144;Ibnu Qudamah; jld. 10, hlm. 364-635.
  27. Silahkan lihat: Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 451’ Manawi, jld. 4, hlm. 18.
  28. Syams al-Aimah Sarakhsyi, 1971, jld. 1, Mukadimah Munjid, hlm. 14, Ibid, 1403, jld. 10, hlm. 2.
  29. Untuk karya-karya dalam bidang fikih Syiah dan Ahlusunnah silahkan rujuk: Najasyi, hlm. 352, 354, 375 dan 388; Baghdadi, Hadiyah al-Arifin, jld. 1,: 5, 68, 348, 438, 589, 618, 706, jld. 2, 24, 52.
  30. Sebagai contoh silahkan lihat: Mufid, hlm. 80-812.
  31. Silahkan lihat: Mirza Buzurg Qaim Maqam, Mukadimah Zargari Nezad, hlm. 72, 74, 7, Rasāil wa Fatāwāi jihadi, hlm. 20-74.
  32. Silahkan lihat: Halwani, hlm. 11-13.
  33. Muntadzeri, jld. 1, hlm. 115.
  34. Syafi’i, jld. 4, hlm. 170; Kulaini, jld. 5, hlm. 2-13; Syams Al-Aimah, Sarakhsi, 1971, jld. 1, hlm. 187-189.
  35. Silahkan lihat: Qs. Al-Baqarah: 193; Qs. Al-Anfal: 39, Jashash, jld. 3, hlm. 65, Qurthubi, Thabthabai, pembahasan mengenai surah Al-Baqarah: 193.
  36. Muntadzeri, jld. 1, hlm. 115.
  37. Silahkan lihat: Jashash, jld. 3, hlm. 154; Syams al-Aimah Sarakhsyi, 1971, jld. 1, hlm. 156-157; Ibnu Qudamah, jld. 10, hlm. 371; Syaukani, jld. 7, hlm. 242-243.
  38. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 19 hlm. 269; Syirwani, jld. 9, hlm. 237, 277.
  39. Sebagai contoh silahkan lihat: Kulaini, jld. 5, hlm. 23; Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 8, Ibid, 1400, hlm. 290; Syahid Tsani, jld. 3, hlm. 9; Najafi, jld. 21, hlm. 11.
  40. Silahkan lihat: Najafi, Ibid.
  41. Silahkan lihat: Khui, 1410, jld.1, hlm. 364; Muntadzeri, jld. 1, hlm. 115; Khamenei, jld. 1, hlm. 331; Silahkan lihat: Mirza Qaim Maqam, hlm. 66.
  42. Silahkan lihat: Muntadzeri, jld. 1, hlm. 118.
  43. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 46.
  44. Kasyf al-Rumuz, jld. 1, hlm. 418-422; al-Muhadzdzab al-Bari’, jld. 2, hal 300-310.
  45. Zuhaili, hlm. 90-97.
  46. Silahkan lihat: Syafi’i, jld. 4, hlm. 177; Muthi’i, jld. 19, hlm. 285-287.; Fakhr al-Muhaqqiqin, jld. 1, hlm. 354; Najafi, jld. 21, hlm. 51; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 369.
  47. Silahkan lihat: Thusi, 1378, jld. 2, hlm. 10; Ibnu Qudamah, jld. 10, hlm. 367-368; Muthi’i, jld. 19, hlm. 266; Allamah Hilli, 1419-1413, jld. 1, hlm. 477; Najafi, jld. 21, hlm. 49.
  48. Najafi, jld. 21, hlm. 73; Khui, 1410, jld. 1. Hlm. 371.
  49. Najafi, jld. 21, hlm. 73; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 371.
  50. Silahkan lihat: Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 2, hlm. 4-5; Ibnu Qudamah, jld. 10, hlm. 366-367; Muthi’i, jil 19, hlm. 270-271; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 362-363.
  51. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 19, hlm. 244-246; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 27-33; Najafi, jld. 21, hlm. 21-26; Khui, 1410, jld. 1, hlm. 366-367.
  52. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 19, hlm. 280; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 54-57.
  53. Silahkan lihat: Muthi’i, jld. 9, hlm. 37; Najafi, jld. 21, hlm. 15-16, jld. 41, hlm. 650-651; Untuk mengetahui lebih detail mengenai jihad ibtidai dan jihad defensif silahkan lihat: Najafi, jld. 21, hlm. 15-16.
  54. Silahkan lihat: Thusi, 1387, jld. 2, hlm. 3; Qurtbubi, dalam pembahasan terkait dengan ayat: Qs. Al-Baqarah: 90; Najafi, 1410, jld. 1, hlm. 368-369.
  55. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 32-34.
  56. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 56.
  57. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 61.
  58. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 61.
  59. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 51-54.
  60. Jawāhir al-Kalām, jld. 21 hlm. 81-82.
  61. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 85-88.
  62. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 66-68; Isyārah al-Sabaq, hlm. 143, Ishbāh al-Syiah, hlm. 189.
  63. Al-Raudhah al-Bahiyyah, jld. 2, hlm. 392.
  64. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 68, 73-77.
  65. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 77-78.
  66. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 78-79.
  67. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 85-82.
  68. Jawāhir al-Kalām, jld. 21, hlm. 193-194.
  69. Silahkan lihat: Ibnu Jauzi, hlm. 72-74; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 9, Khui, 1410, jld. 1, hlm. 369.
  70. Zaid bin Ali, hlm. 355, jld. 5, hlm. 34; Baihaqi, jld. 9, hlm. 153; Allamah Hilli, 1414, jld. 9, hlm. 52; Bahuti Hanbali, jld. 3, hlm. 72.
  71. Ma’zi Malayari, jld. 16, hlm. 190-199.
  72. Silahkan lihat: Bukhari, jld. 1, hlm. 39; Thabari, terkait dengan (Qs. Al-Fath [48]: 16)

Daftar Pustaka

  • Al-Quran al-Karim
  • Abdul Majid Syirwani. Khasyiyah asy-Syaikh Abdul Hamid asy-Syirwani. Mesir: Dar Hawasyi al-Syarwani wa Ibnu Qasim al-Abidi ala Tuhfah al-Muhtaj bisyarah al-Minhaj, cet. Sanggi, 1315 H. Cet. Beirut: Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Abdul Salam bin Sa’id Sahanun. Al-Madinah al-Kubra, Allati Rawaha Sahanun bin Sa’id Tanawukhi an Abdurahman bin Qasim Ataqi an Malik bin Anas. Kairo: 1323 H. Beirut: Offset Beirut, Tanpa Tahun.
  • Abdurahman bin Abi Bakar Suyuthi. Al-Itqān fi Ulum al-Quran. Beirut: Dar al-Ma’rifah, tanpat tahun.
  • Abi, Hasan bin Abi Thalib. Kasyf ar-Rumuz fi Syarah Mukhtashar an-Nafi’. Riset: Ali Panah Isytihardi, Agha Husain Yazdi.Qom: 1417 H.
  • Abul Qasim Khui. Al-Bayān fi Tafsir al-Qurān. Beirut: 1395 H/1975.
  • Ahmad bin Ali Jashash. Ahkām al-Qurān. Beirut: cet. Abdul Salam Muhammad Ali Syahin, 1415 H/1995.
  • Ahmad bin Ali Najasyi. Fehrest Asmā Mushannif asy-Syiah al-Musytahar bi Rijal al-Najafi. Qom: Cet. Musa Syabiri Zanjani, 1407 HS.
  • Ahmad bin Husain Baihaqi. As-Sunan al-Kubra. Beirut: 1424H/2003.
  • Ali bin Ahmad Wahidi Nisyaburi. Asbāb an-Nuzul al-Ayāt. Kairo: 1388 H/1986.
  • Ali bin Hisam. Kanz al-Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af’āl. Beirut: Muasasah al-Risalah,1413 H/1993.
  • Ali Khameini, Rahbar Jumhuriye Islāmie Iran. Ajwibah al-Istiftaāt. Kuwait: 1415 H/1999.
  • Amili, Zainuddin bin Ali. Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum’ah al-Dimasyqiyyah (Al-Muhasyi Kalantar). Qom: Ketab Furusyi Dawari, 1410 H.
  • Haji Khalifah, Hurr Amili, Ahmad Abdul Karim Halwani. Ibnu Asakir wa Dauruhu fi al-Jihād Dhid as-Shalibiyin fi Ahd al-Daulatin al-Nawariyah wa al-Ayyubiyah. Damaskus: 1991.
  • Halabi, Ali bin Hasan. Isyārah al-Sabaq ila Ma’rifah al-Haq. Qom: Jamiah Mudarisin, 1414 H.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli. Tadzkirah al-Fuqaha.Qom: 1414 H.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Qawāid al-Ahkām, Qum, 1413-1419.
  • Hilli, Ahmad bin Muhammad Asadi. Al-Muhadzdzab al-Bari’ fi Syarh Mukhtashar an-Nafi’. Editor: Mujtaba Araki. Qom: Jamiah Mudarisin, 1417 H.
  • Husain Ali Muntadzeri. Dirāsat fi Wilayah al-Faqih wa Figh al-Daulah al-Islamiyyah. Qom: 1409-1411 H.
  • Ibnu Abidin. Radd al-Mukhtar ala Dur al-Mukhtar. Mesir: Cet. Sangi, 1271-1272 H. Beirut: Cet. Offset Beirut, 1407 H/1987.
  • Ibnu Atsir. An-Nihāyah fi Gharib al-Hadis wa al-Atsār. Beirut: Cet. Mahmud Muhammad Thanahi wa Thahir Ahmad Zawi, 1383 H/1963. Qom: cet. Offset, 1364 HS.
  • Ibnu Hanbal. Musnad al-Imām Ahmad bin Hanbal. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Jauzi. Nawāsikh al-Quran. Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyah, tanpa tahun.
  • Ibnu Hazm. Al-Muhalla. Beirut: cet. Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
  • Ibnu Hazm. Al-Nāsikh wa al-Mansukh fi al-Qurān al-Karim. Beirut: cet. Abdul Ghafar Sulaiman Bandari, 1406 H/1986.
  • Ibnu Katsir. Tafsir al-Qurān al-Azhim. Beirut: 1412 H.
  • Ibnu Qudamah. Al-Mughni. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ibnu Sikkit. Tartib Ishlāh al-Mantiq. Masyhad: cet. Muhammad Hasan Bakai, 1412 H.
  • Isa bin Hasan Mirza Buzurg Qaim Maqam. Ahkām al-Jihad wa Asbāb al-Rasyād. Teheran: cet. Ghulam Husain Zargardi Nezad, 1380 HS.
  • Ismail bin Hamad Jauhari, Al-Sehah. Tāj al-Lughah wa Shehah al-Arabiyah. Teheran: cet. Offset, 1368 HS.
  • Ismail Ma’zi Malayir. Jami’ Ahādis asy-Syiah fi Ahkām asy-Syari’ah. Qom: 1371-1383 HS.
  • Ismail, Baghdadi. Idhāh al-Maknun. Dar Haji Khalifah, jld. 3-4.
  • Ismail, Baghdadi. Hadiyah al-Arifin. jld. 1-2. Dar Haji Khalifah, jld. 5-6. Mansur bin Yunus Yahuti Hanbali. Kasyaf al-Qanna’ an Matn al-Iqna’. Beirut: cet. Muhammad Hasan Syafi’I, 1418 H/1997.
  • Kaidari, Muhammad bin Hasan. Isbāh asy-Syari’ah bi Misbāh asy-Syari’ah. Qom: Muasasah Imam Shadiq As, 1416 H.
  • Khalil bin Ahmad. Kitab al-Ain. Qom: cet. Mahdi Mahzumi wa Ibrahim Samarai, 1405 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub. Al-Kāfi. Beirut: Cet. Ali Akbar Ghafari, 1401 H.
  • Mahmud Fuad Abdul Baqi. Al-Mu’jam al-Mufahrast li Alfādz al-Qurān al-Karim. Beirut: Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Malik bin Anas. Al-Muwatha. Istanbul: 1401 H/1981.
  • Muhammad Hasan Thusi. Al-Iqitshād al-Hadi ila Thariq al-Rasyād. Teheran: 1400 H.
  • Muhammad Hasan Thusi. Al-Mabsuth fi Figh al-Imāmiyah.Teheran: cet. Muhammad Taqi Kasyfi, 1387 HS.
  • Muhammad Hasan Thusi. At-Tibyān fi Tafsir al-Qurān. Beirut: cet. Ahmad Habib Qushair Amili, tanpa tahun.
  • Muhammad Hasan Thusi. Kitab al-Masuth. Kairo: 1324-1331 H. Istanbul: cet. Offset Istanbul, 1403 H/1983.
  • Muhammad Khair Haikal. Al-Jihād wa al-Qitāl as-Siyāsah asy-Syar’iyyah. Beirut: 1417 H/1996.
  • Muhammad Abdul Rauf bin Taj al-Arifin Manawi. Faidh al-Qadir, Syarh Jami’ al-Shaghir. Beirut, 1391/1972.
  • Muhammad bin Ahmad Qurthubi. Al-Jāmi li Ahkām al-Qurān. Beirut: 1405 H/1985.
  • Muhammad bin Ahmad Syams al-Aimah Syarakhsi. Syarh Kitab al-Kabir. Kairo: cet. Islahuddin, Munjid, 1971.
  • Muhammad bin Fakhr al-Muhaqqiqin. Idhāh al-Fawāid fi Syarh Isykālāt al-Qawāid. Qom: cet. Husain Musawi Kermani, Ali Panoh Isytihardi dan Abdurahim Burujerdi, 1387-1389 HS. Cet. Offset, 1363 HS.
  • Muhammad bin Ismail Bukhari. Shahih Bukhāri. Istanbul: cet. Muhammad Dzihni Efendi, 1401 H/1981.
  • Muhammad bin Muhammad Mufid. Al-Muqni’ah. QOm: 1410 H.
  • Muhammad Hasan bin Baqir Najafi.Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarayi’ al-Islam. Beirut: 1981.
  • Muhammad Idris Syafi’i. Al-Um. Beirut: 1403 H/1983.
  • Muhammad Najib Muthi’i. Al-Takmilah ats-Tsāniyah, Al-Majmu: Syarah al-Muhadzdzab, Dar Yahya bin Syaraf Nuri, Al-Majmu’: Syarah al-Muhadzdzab. Jld. 13-20. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Muhammad Rasyid Ridha. Tafsir al-Qurān al-Hakim Al-Musytahar bismi Tafsir al-Manar. (Taqrir Dars), Syaikh Muhammad Abduh. Mesir: 1367 H.
  • Muhammad Syaukani. Nail al-Authar, Syarh Muntaqa al-Akhbar min Ahādits Sayyidul Akhyār. Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathbu’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, (tanpa tahun). Beirut: cet. Offset, tanpa tahun.
  • Muslim bin Hajjaj Shahih Muslim. Istanbul: cet. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 1401 H/1981.
  • Rasāil wa Fatāwāi Jihādi. Disusun dan dikomentari oleh Muhammad Hasan Rajabi. Tehran: Wezarat Farhang wa Irsyad slami, Mu’awenat Pazuhesyi wa Omuyesyi, 1378 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: Cet. Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, 1382-1387 H/1962-1967.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma’ al-Bayān fi Tafsir al-Qurān. Beirut: Cet. Hasyim Rasuli, Mahallati wa Fadhl Yazdi Thabathabai, 1408 H/1988.
  • Thabathabai, Muhammad Husain. Al-Mizān fi Tafsir al-Qurān. Beirut: 1390-1394 H/1971-1974
  • Wahbah Mustafa Zuhaili. Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islami. Damaskus: 1401 H/ 1981.
  • Zaid bin Ali as. Musnad al-Imam Zaid. Beirut: Dar Maktabah al-Hayah, tanpat tahun.
  • Zainuddin bin Ali Syahid Tsani. Masālik al-Afhām ila Tanqih Syarai’ al-Islam. Qom: 1419-1413 H.
  • EI 2 , s.v. "Dj ihad" (by E. Tyan).