Prioritas: a, Kualitas: b

Ummu Aiman

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Sahabat
http://id.wikishia.net/view/Majma_Jahani_Ahlulbait_As
Info pribadi
Nama lengkap Barakah bin Tsa'labah bin 'Amru
Lakab Ummu Aiman
Kerabat termasyhur Usamah bin Zaid
Muhajir/Anshar Muhajir
Wafat/Syahadah 5 bulan pasca wafatnya Rasulullah saw atau masa-masa awal Kekhalifahan Usman bin Affan
Informasi Keagamaan
Memeluk Islam Termasuk Kelompok Pertama
Keikutsertaan dalam Ghazwah Perang Uhud • Perang Khaibar
Hijrah ke Habasyah • Madinah
Terkenal sebagai Istri Zaid bin Haritsah
Aktivitas lain Memberikan kesaksian dalam kasus Tanah Fadak

Ummu Aiman (Bahasa Arab: اُمِّ اَیمَن ) adalah salah seorang sahabiyah (sahabat perempuan Nabi Muhammad saw) yang memiliki nama asli Barakah bin Tsa'labah bin 'Amru. Ia adalah ibu dari Usamah bin Zaid.

Ummu Aiman bersama Imam Ali as pasca wafatnya Nabi Muhammad saw memberikan kesaksian bahwa Nabi Muhammad saw telah menghadiahkan tanah Fadak untuk putrinya, Sayidah Fatimah az-Zahra. Ia pernah diperkenalkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai salah seorang perempuan surga. Ia turut membantu Mujahidin dalam perang Uhud dan perang Khaibar.

Nasab

Barakah bin Tsa'labah bin 'Amruh lebih populer dengan nama Ummu Aiman. Ia adalah budak dari Habasya[1] milik Abdullah bin Abdul Muththalib (Ayah Rasulullah saw) atau istrinya Aminah. Pasca Abdullah dan Aminah wafat, ia kemudian menjadi budak Nabi Muhammad saw.[2]

Menjadi Pengasuh Nabi Muhammad saw di Masa Kecil

Pasca wafatnya Aminah di Abwa, ia membawa Nabi Muhammad saw kecil kembali ke kota Mekah[3]. Selama beberapa waktu ia mengasuh dan menjaga Nabi Muhammad saw [4]sampai kemudian Nabi Muhammad saw mencapai masa remaja.[5]Abdul Muththalib berkata kepada Ummu Aiman, agar menjaga Nabi Muhammad saw dengan sebaik-baiknya dan jangan lalai sedikitpun. Ia berkata, “Jangan lalai dari menjaga puteraku ini. Ahli Kitab menyadari kelak puteraku ini akan menjadi nabi ummat ini.” [6]

Pernikahan dan Keturunannya

Sewaktu Nabi Muhammad saw menikah dengan Khadijah, ia membebaskan Ummu Aiman dan menikahkannya dengan 'Ubaid bin Zaid al-Khazaraji, yang dari pernikahan itu lahirlah Aiman. Oleh karena itu, ia dipanggil dengan nama Ummu Aiman. Ia hidup bersama dengan 'Ubaid dalam beberapa waktu. Namun tidak lama setelah 'Ubaid meninggal dunia, ia menikah dengan Zaid bin Haritsah (putera asuh Nabi Muhammad saw) dan dari pernikahan tersebut lahirlah, Usamah bin Zaid. [7]

Hijrah

Ummu Aiman termasuk diantara golongan yang pertama masuk Islam dan juga termasuk kelompok pertama yang melakukan hijrah ke Madinah.[8]Demikian pula diriwayatkan bahwa dia termasuk yang turut hijrah ke Habasyah.[9]

Turut serta dalam Peperangan

Ummu Aiman ikut serta dalam perang Uhud. Ia menghantarkan air pada Mujahidin yang kehausan dan mengobati mereka yang terluka dalam peperangan. Ia juga ikut serta dalam perang Khaibar bersama Rasulullah saw. [10]

Hubungannya dengan Ahlul Bait

Nabi Muhammad saw sangat mencintai Ummu Aiman sampai ia terkadang memanggilnya dengan sebutan ibu.[11] Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda mengenai maqam dan derajat tinggi Ummu Aiman. [12] Nabi Muhammad saw sering mengunjungi Ummu Aiman kerumahnya. Setelah Nabi saw, Abu Bakar dan Umar juga dengan maksud meneladani Nabi saw melanjutkan kebiasaan Nabi saw tersebut dengan turut mengunjungi rumah Ummu Aiman. [13]Dalam sejumlah riwayat hadis disebutkan mengenai keutamaan dan fadhilah yang dimiliki Ummu Aiman. [14] Dari sumber periwayatan hadis dikalangan Syiah juga menempatkan Ummu Aiman dalam posisi yang terhormat.[15]

Nabi Muhammad saw pernah mengatakan mengenai Ummu Aiman, bahwa ia salah seorang dari perempuan surga. Ummu Aiman satu-satunya bersama Imam Ali as yang memberikan kesaksian bahwa Nabi Muhammad saw pernah memberikan tanah Fadak sebagai hadiah kepada Sayidah Fatimah az-Zahra.[16]

Sejumlah hadis diriwayatkan dari Ummu Aiman. [17]Sejumlah ahli hadis meriwayatkan periwayatan darinya seperti Anas bin Malik, Abu Yazid Madani, Hanasy bin Abdullah Shan'ani. [18]

Wafatnya

Mengenai waktu yang pasti mengenai hari wafatnya tidak tercatat dalam sejarah. Namun sebagian sejarahwan berpendapat, ia wafat sekitar 5 bulan setelah wafatnya Rasulullah saw. [19], Namun sebagiannya lagi berpendapat ia masih hidup sampai masa kekhalifahan Utsman bin Affan [20]sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad. [21]

Catatan Kaki

  1. Zuhra, al-Maghāzi al-Nabawiah, 177: Thabrani, al-Mu'jam al-Kabir, jld. 25, hlm. 86.
  2. Lih: Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 8, hlm. 223; Baladzuri, Ansāb al-asyrāf, jld. 1, hlm. 96.
  3. Ibnu Qutaibah, al-Ma'ārif, hlm. 150.
  4. Baladzuri, Ansāb al-asyrāf, jld. 1, hlm. 472.
  5. Ibnu Hajar, al-ashābah, jld. 8, hlm. 360.
  6. Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 2, hlm. 343.
  7. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt, jld. 4, hlm. 61, jld. 8, hlm. 223; Baladzuri, Ansāb al-asyrāf, jld. 2, hlm. 472.
  8. Lih: Baladzuri, Ansāb al-asyrāf, jld. 1, hlm. 269; Ibnu Abdu al-Barr, al-Istiy'āb, jld. 4, hlm. 1793; Ibnu Atsir, asad al-Ghābah, jld. 5, hlm. 567.
  9. Ibnu Abdu al-Barr, al-Istiy'āb, jld. 4, hlm. 1793; Ibnu Atsir, asad al-Ghābah, jld. 5, hlm. 567.
  10. Waqidi, al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 241, 250, jld. 2, hlm. 685; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt, jld. 8, hlm. 225; Baladzuri, Ansāb al-asyrāf, jld. 1, hlm. 320.
  11. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt, jld. 8, hlm. 223.
  12. Lih: Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt, jld. 8, hlm. 223-226; Dzahabi, Sair A'lām al-Nubalā, jld. 2, hlm. 224.
  13. Muslim, Sahih, jld. 2, hlm. 1907; Ibnu Majah, Sunan, jld. 2, hlm. 523-524; Ibnu Abdu al-Barr, al-Istiy'āb, jld. 4, hlm. 1794.
  14. Lih: Muslim, Sahih, jld. 2, hlm. 1907-1908.
  15. Misalnya lih: Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 405; Ibnu Babwih, Amāli, hlm. 76.
  16. Al-Tabarsi, al-Ihtijāj, jld. 1, hlm. 121-122.
  17. Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld. 6, hlm. 421; Tabrani, al-Mu'jam al-Kabir, jld. 25, hlm. 87-91; Ibnu Majah, Sunan, jld. 2, hlm. 1107.
  18. Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzhib, jld. 12, hlm. 459.
  19. Tabrani, al-Mu'jam al-Kabir, jld. 15, hlm. 86.
  20. Lih: Tabrani, al-Mu'jam al-Kabir, jld. 25, hlm. 86; Dzahabi, Sair A'lām al-Nubalā, jld. 2, hlm. 227.
  21. Ibnu Sa'ad, jld. 8, hlm. 226.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Ali, asad al-Ghābah, Kairo, 1280 H.
  • Ibnu Babwih, Muhammad, Amāli, riset: Husain A'lami, Beirut, 1400 H/1980.
  • Ibnu Hajar al-asqalani, Ahmad, Tahdzhib al-Tahdzhib, Haidar Abad Dakan, 1327 H.
  • Ibnu Sa'adm Muhammad, al-Thabaqāt al-Kubra, Beirut, Dar Shadr.
  • Ibnu Abdu al-Barr, Yusuf, al-Istiy'āb, riset: Ali Muhammad Bajawi, Kairo, 1380 H/1960.
  • Ibnu Qutaibah, Abdullah, al-Ma'ārif, riset: Tsarwat 'Akasyah, Kairo, 1388 H/1969.
  • Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, riset: Ali Syiri, Beirut: Dar Ahya al-Turats al-'Arabi, 1408 H/1988.
  • Ibnu Majah, Muhammad, Sunan, Istanbul, 1401 H/1981.
  • Ahmad bin Hanbal, Musnad, Kairo, 1313 H.
  • Baladzuri, Ahmad, Ansāb al-asyrāf, riset: Muhmmad Hamidullah, Kairo, 1959.
  • Dzahabi, Ahmad, Sair A'lām al-Nubalā, riset: Syu'aib Arnaut dkk, Beirut, 1406 H/1986.
  • Zuhra, Abdullah, al-Maghāzi al-Nabawiah, riset: Sahil Zakar, Damaskus, 1401 H/1981.
  • Tabrani, Sulaiman, al-Mu'jam al-Kabir, riset: Hamdi Abdul Majid Salafi, Baghdad, 1981.
  • Tabari, Tārikh.
  • Al-Tabarsi, al-Ihtijāj, jld. 1, riset: Sayid Muhammad Baqir al-Khurasan, al-Najaf al-asyraf, Dar al-Nu'man, 1386 H/1966.
  • Kulaini, Muhammad, al-Kāfi, riset: Ali Akbar Ghaffari, Beirut, 1401 H.
  • Muslim bin Hajjaj, Sahih, riset: Muhammad Fawad Abdul Qadir, Istanbul, 1401 H.
  • Waqidi, Muhammad, al-Maghāzi, riset: Marceden Jhones, London, 1966.