Prioritas: b, Kualitas: b

Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafi

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafihttp://en.wikishia.net
آیت الله مرعشی نجفی5.jpg
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Sayid Syihabuddin Mar'asyi al-Najafi
Lahir 20 Shafar 1315 H
Tempat lahir Najaf, Irak
Tempat tinggal Irak • Iran
Wafat/Syahadah 7 Shafar 1411 H
Tempat dimakamkan Qom Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi
Informasi ilmiah
Guru-guru Agha Dhiya Iraqi • Syaikh Abdul Karim Hairi • Mirza Mahdi Asytiyani dll
Murid-murid Sayid Mustafa Khomeini • Murtadha Muthahari • Sayid Muhammad Husaini Bahesyti • Imam Musa Shadr
Tempat pendidikan Najaf • Ray• Masyhad• Isfahan• Qom
Karya-karya Menulis lebih dari 150 Kitab dan Risalah
Kegiatan Sosial dan Politik
Politik Mendukung Imam Khomeini• Mendukung Revolusi Islam Iran
Sosial Membangun Perpustakaan • Membangun Madrasah Mar'asyiah, Syihabiyah, Mahdiyah dan Mukminiyah• Merehab Kubur Muhammad Baqir Majlisi

Sayyid Syihabuddin Mar’asyi Najafi (Bahasa Arab: السيد شهاب الدين المرعشي النجفي) (l. 1315 H/1898 - w. 1411 H/1991) adalah seorang Marja' Taklid Syiah setelah Ayatullah Burujerdi. Pada usia 27 tahun telah mencapai derajat ijtihad. Mar’asyi adalah murid Syaikh Abdul Karim dan Agha Dhiyauddin Araki. Ia juga belajar dari Sayid Ali Qadhi, Sayyid Ahmad Karbalai dan Mirza Jawad Maliki Tabrizi. Haluan politiknya sejalan dengan Ayatullah Khomeini. Haluan ini juga ia teruskan kepada para muridnya. Mar’asyi Najafi membangun perpustakaan yang pada masa sekarang dari sisi jumlah dan kuantitas cetakan klasik, adalah perpustakaan Iran pertama dan perpustakaan ketiga di dunia Islam. Ia sampai akhir meninggal dunia belum sempat menunaikan ibadah haji. Ia juga membangun madrasah-madrasah Mar'asyiyah, Syahabiyah, Mahdiyah dan Mukminiyah. Karya terpentingnya adalah Ta'liqāt 'ala Ihqāq al-Haq, Masyjarāt Āl Rasul, Thabaqāt al-Nasābiyin dan Hāsyiyah 'ala 'Umdah al-Thālib. Kadang-kadang untuk menulis sebuah kitab, ia melakukan safar ke berbagai negara. Ayatullah Mar'asyi –sesuai dengan wasiat yang ditulisnya- meminta supaya dikuburkan di perpustakaannya, Jalan Eram Qom. Amid Zanjani adalah putra menantu Ayatullah Mar'asyi Najafi.

Informasi Identitas

Keluarga

Nasab Ayatullah Mar'asyi sampai ke Imam Sajjad as melalui 33 perantara. Sadat Mar'asyi adalah Husaini dan nenek moyang silsilah ini bernama Sayid Āl Mar'asyi yang hidup di kota Mar’asy disekitar perbatasan Suriah dan Turki dan termasuk wilayah Turki. Pada abad ketiga hijriyah, ia hijrah ke Iran dan menikah di Mazandaran. Keluarga inti Mar'asyi Iran berada di kota Thabristan. Masyarakat utara Iran mengikuti madzab Syiah karena usaha keluarga ini. Sayyid Qiwamuddin terkenal dengan Mir Buzurg –kakek ke-15 Ayatullah Mar'asyi- adalah seorang hakim dan pemimpin pada abad ke-7 yang berkuasa di kota Amal. Kuburannya berada di Sabzeh, Meidan Amal yang memiliki pelataran. Semenjak zaman Shafawiyyah keluarga Mar'asyi telah akrab dengan pemerintah bahkan menjalin hubungan pernikahan. Ibu Syah Abbas adalah putri pertama keluarga ini.

Sayyid Hukama Syarifuddin Mar'asyi (w. 1316 H/1899) adalah kakek Ayatullah Mar'asyi. Ia berumur 114 tahun dan selama 80 tahun membuka praktek kedokteran. Ia menemukan cara membuat gigi palsu dan membuat madu dari rumus-rumus kimia yang dinisbatkan kepadanya. [1] Kakeknya terkenal dengan Syamsu Syaraf Khanum termasuk sadat (plural sayid) Thabathabai Tabriz dan seorang perempuan yang memiliki keutamaan, Amir Abdul Ghafar Thabathabai. Putranya, Abdul Wahhab Qadhi al-Qadhat berasal dari silsilah Aq Qawiwanlu yang merupakan orang-orang yang memiliki keutamaan pada masa Shafawiyyah, orang-orang terkenal lainnya juga berasal dari keluarga ini. Ayahandanya, Sayyid Mahmud Mar'asyi (lahir 1270 H) pada tahun 1311 H, menikah dengan Alawiyah Fatimah Sabzawari anak Sayyid Husain Husaini di Teheran dan darinya memiliki putra bernama Ali. Namun pernikahan ini tidak berumur lama, dan kemudian ia kembali menikah pada tahun 1314 H dengan Alawiyah Shahibah Khanum, cucu Ayatullah Sayyid Mahdi Husaini. Buah dari pernikahan ini adalah 4 anak bernama: Syihabuddin, Dhiyauddin, Fathimah dan Mardhiyah. [2]

Lahir

Masa Muda Ayatullah Mar'asyi Najafi

Sayyid Syihabuddin lahir di pagi hari Kamis, 20 Shafar 1315 S di kota Najaf Irak. Setiap ulama yang mengumandangkan azan dan iqamah memilihkan nama baginya. Nama-nama yang diberikan adalah: Muhaddits Nuri memilih nama Muhammad Husain; Mirza bin Mirza Khalil memberi julukan Agha Najafi; Sayyid Murtadha Kasymri memberi kunyah Abul Ma'ali dan Sayyid Ismail Shadr memberi julukan Syihabuddin. [3]

Ketika Sayyid Syihabuddin masih kanak-kanak dan meminum ASI, ibundanya tidak memberikan ASI pada hari-hari haidnya dan ia menyewa seorang Alawiyah untuk menyusukannya. Kata-kata yang ia ajarkan kepadanya adalah “Huwal Fattāh al-Alim” oleh Syaikh Ali Rufaisy Najafi. Ia mengenakan baju ruhani yang dikukuhkan oleh ayahandanya sendiri di Haram Imam Ali as. Ia belajar Al-Qur'an, nahwu dan sharaf dengan kitab Mughni al-Bait dari kakeknya. [4] Ia belajar sebagian mukadimah-mukadimah berbagai ilmu dari ayahandanya. Setelah itu ayahandanya mengirimnya untuk mempelajari ilmu-ilmu seperti matematika, geometri, geografi dan lainnya ke madrasah baru. Syihabuddin setelah 5 tahun belajar berhasil memiliki ijazah dan lulus sebagai juara pertama. Setelah ia selesai menyelesaikan pelajarannya, ia mempelajari ilmu-ilmu baru dari guru-guru khususnya. Ia juga tertarik untuk mempelajari ilmu tentang obat-obatan dan mempelajari sebagian kitab-kitab tentang obat-obatan dari ayahandanya dan sebagiannya lagi dari Mirza Muhammad Ali yang terkenal dengan nama Muayyid al-Athibba'. Pada usia 16 tahun ia tertarik kepada pembahasan tafsir dan oleh itu, ia lebih giat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. [5] Ia setelah menyelesaikan berbagai disiplin ilmu di Najaf hijrah ke Iran dan di Rei, Masyhad, Isfahan, dan Qom juga belajar dari guru-guru yang lain. Hasil dari kesungguhan dalam mempelajari ilmu-ilmu agama membuahkan hasil yaitu pada usia 27 tahun ia menjadi salah satu marja' Taklid sepeninggalnya Ayatullah Burujerdi dan termasuk marja’ taklid yang ternama. Risalah amaliah pertamanya terbit pada tahun 1366 H. [6]

Perjalanan Keilmuan

Pada tahun 1336 H pada usia 21 tahun ia pergi Samara dan selama kira-kira 3 tahun berada di sana. Ia bertemu dengan Syaikh Abdul Salam Kurdestani dan Syaikh Nuruddin Syafi’i dan berdiskusi dengan keduanya. Pada tahun 1340 H, ia pergi ke Kazhimain, Baghdad dan juga ke Karbala. Di Karbala ia berdiskusi dengan Syaikh Abdul Hadi Mazandarani. Ia juga bertemu dan berdiskusi dengan Haj Mirza Sayyid Musa Askuyi Tabrizi, Mirza Tsiqah Islam Tabrizi dan saudaranya yang merupakan pembesar Syaihiyyah. [7]

Ia juga pergi ke kota-kota lain Irak seperti Hillah, Maushul, Al-‘Amarah, Kaut, Basrah, Kufah, Musaib, Dujail, Zubair dan lainnya. Ketika ia pergi ke India, ia bertemu dengan pemuka agama Budha. [8] Ia berhubungan surat menyurat dengan Allamah Syaikh Thanthawi Jauhari Mishri, ketua pergerakan Ikhwanul Muslimin Mesir dan pada akhirnya ia memberikan hadiah buku “Riyadh al-Salikin fi Syarah Shahifah Sajadiyah” kepadanya. [9]

Ayatullah Mar’asyi Najafi berhijrah pada 21 Muharam 1342 H dari Najaf ke Iran dan pada tanggal 6 Shafar tahun yang sama ia pergi ke Kermansyah dan dari sana ia pergi ke Hamedan, Zanjan dan Tabriz dan menemui keluarga besarnya. Di Kermansyah, ia bertemu dengan Syaikh Hadi, putra Syaikh Abdul Karim Kermansyah. Di Hamedan, ia menemui Sayyid Abdul Husain, putra Sayyid Fadhil Lari dan membeli naskah kuno darinya. Kemudian ia pergi ke Masyhad dengan maksud hendak berziarah kepada Imam Ridha as. Pada 21 Jumadil Akhir 1343 H ia pergi ke Teheran dan selama beberapa bulan ia belajar dari beberapa guru. Pada tanggal 7 Sya’ban ia pergi ke kota Qom dan atas permintaan Ayatullah Khaeri ia tinggal dan mengajar di Qom. Pada tahun 1315 H, atas perintah Ayatullah Khaeri ia berdialog dengan seorang penyair sekaligus filosof India, Rabindranath Tagore. Dengan meninggalnya tiga ayatullah: Shadr, Hujat dan Khansari maka Ayatullah Mar’asyi diangkat menjadi salah satu marja taklid. Risalah Amaliyah diterbitkan pada rentang tahun 1366-1373 H. Setelah Ayatullah Burujerdi meninggal dunia, Ayatullah Mar’asyi Najafi menjadi Marja' yang terkemuka. [10]

Tidak pergi ke Mekah untuk berhaji

Ayatullah Mar’asyi tidak mampu untuk melakukan ibadah haji dan ia tidak menerima tawaran dari sekelompok pedagang kaya untuk memberangkatkan haji baginya. Mar’asyi dalam menjawab pertanyaan, "Bagaimana mungkin anda tidak memiliki biaya untuk haji sedangkan anda memberikan uang kepada para pelajar dan para fakir miskin? bagaimana mungkin anda tidak mampu untuk pergi berhaji?" Ia menjawab, "Uang-uang itu bukanlah milikku, melainkan uang Imam dan Sadat, kifarah puasa, dan uang-uang semacamnya dan semuanya harus digunakan pada tempatnya. Aku akan pergi haji jika aku bisa memiliki uang dari hasil usahaku." Namun setelah ia meninggal, telah lebih dari 100 orang yang meniatkan haji niyabat untuknya. [11]

Membangun Kehidupan Keluarga

Ayatullah Mar'asyi Turut Serta Melakukan Pekerjaan Rumah

Ayatullah Mar’asyi Najafi menikah pada tanggal 8 Jumadil Awal 1345 H dengan salah seorang putri bernama Guhar Taj dan ia memiliki seorang anak darinya. Namun rumah tangga ini tidak berlangsung lama dan mereka akhirnya berpisah. Kemudian ia menikah lagi dengan putri Ayatullah Sayyid Abbas Faqih Mabraqi Radhawi Qomi (w. 1335 H). [12]

Istrinya menukilkan, "Selama 60 tahun aku hidup dengannya dan selama itu ia tidak pernah berkata kasar kepadaku, tidak pernah pula bertindak tidak pantas. Ia tidak pernah memarahi dengan perkataannya. Selama ia bisa melakukan pekerjaan-pekerjaannya, ia tidak akan memerintah anggota keluarganya yang lain untuk melakukan suatu pekerjaan baginya bahkan ketika ia haus, ia akan bangun dan akan pergi ke dapur dan ia pun tidak memintaku untuk mengambilkannya. Selain ia merupakan suami penyayang dan kucintai, ia bekerja sama denganku dengan penuh kasih sayang dan menolong pekerjaan-pekerjaan rumah. Ia seringkali membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan sayuran, mencuci piring dan peralatan masak serta mencuci buah." [13]

Yang termasuk gaya tarbiyah Ayatullah Mar’asyi Najafi adalah bahwa pada setiap malam ia menceriterakan kenangan-kenangan dirinya dan menidurkan anaknya dengan menjelaskan tentang peri kehidupan para ulama dan membacakan sebuah riwayat. [14] Ayatullah Mar’asyi Najafi memiliki empat putra laki-laki dan empat putra perempuan: Sayyid Mahmud (l. 1939), Sayyid Muhamamd Kazhim lahir (l. 1943), Sayyid Muhammad Jawad lahir (l. 1947). Sedangkan putra-putra menantunya adalah Abas Ali Amin Zanjani, Ali Fadhil Langgarani (saudara tua Ayatullah Fadhil Langgarani), Sayyid Abas Musawi Hurami dan Sayyid Khalil Miri Tehrani. [15]

Para Guru

  • Matematika
  1. Abdul Karim Busyahr terkenal dengan Sa’adat (w. 1327 H)
  2. Abas bin Syaikh Asadullah Khalili terkenal dengan Iqdam
  3. Inda Laib Zadeh Tehrani
  4. Agha Muhammad Mahalati
  5. Abdurahim Badkubehi (w. 1380 H)
  6. Mahmud Ahri
  7. Baqir Irwani
  8. Sayyid Hibatuddin Syahrestani
  9. Mirza Haidar Ali Naini di Tehran

  • Ilmu-ilmu Suluk dan Irfan
  1. Abul Hasan Hindi Hairi (w.1345)
  2. Muhammad Husain bin Muhammad Khalil Syirazi (w. 1339)
  3. Dhiyauddin Sarabi
  4. Ali Akbar Hakmi Yazdi
  5. Muhammad Harazuddin

  • Nahwu dan Sharaf
  1. Kakek: Syams Asyraf Begum
  2. Ayah: Sayyid Mahmud Mar’asyi
  3. Murtadha Thaliqani
  4. Sayyid Muhammd kadhim Khuram Abadi Musawi Najafi
  5. Mahmud Husaini Mar’asyi Susytari

  • Tafsir
  1. Muhammad Husain Syirazi
  2. Syamduddin Syakui
  3. Abul Hasan Misykini Najafi
  4. Sayyid Agha Susytari Jazairi
  5. Muhammad Jawad Balaghi
  6. Farjullah Tabrizi

  • Fiqih dan Ushul
  1. Sayyid Agha Syustari, Syarah Lum’ah
  2. Abul Hasan Misykini Ardebili, Kifayah Ushul
  3. Qawanin al-Ushul Ni’matullah Larijani
  4. Muhammad Husain bin Muhammad Khalil Syirazi, Man La Yahdhuruhu al-Faqih
  5. Syaikh Ahmad Ali Kasyaf al-Ghita (w. 1344 H)
  6. Sayyid Muhammad Ridha Mar’asyi Rafsanjani
  7. Ghulam Ali Qomi
  8. Habibullah Isytihardi
  9. Mirza Hasan Rasyti
  10. Mirza Agha Istih Banati
  11. Sayyid Ali Thabathabai
  12. Abdul Husain Marandi
  13. Sayyid Ahmad bin Muhammad Baqir Bahbani Hairi
  14. Ali Asghar Tabrizi Najafi
  15. Muhammad Husain bin Ali Syaikh al-‘Araqin
  16. Syaikh Ali Najafi (cucu pengarang kitab Jawahir)
  17. Agha Dhiyauddin Araki (w. 1361 H) mulai permulaan Ushul hingga pembahasan Mutlak dan Muqayad
  18. Muhammad Husain Tehrani (w. 1340 H)
  19. Syaikh Abdul Karim Hairi Yazdi (w. 1355 H)
  20. Muhammad Ridha Masjid Syahi (w. 1362 H)

  • Rijal
  1. Sayyid Hasan Shadr
  2. Abdullah Mamaqani Najafi
  3. Abul Hadi Karbusi
  4. Syaikh Musa Kermansyahi

  • Kalam
  1. Muhammad Ismail Mahalati Najafi
  2. Muhammad Jawad Balaghi
  3. Sayyid Hibatuddin Syahrestani

  • Hikmah dan Mantik
  1. Syamsuddin Syakui Qafqazi (Mantik)
  2. Ali Muhammad Najafi Abadi (w. 1332 H)
  3. Fadhil Masyhadi (w. 1343 H)
  4. Muhammad Thahir Tanggabani (w. 1360 H)
  5. Mirza Mahdi Asytiyani (w. 1372 H)

  • Akhlak dan Irfan
  1. Sayyid Ali Qadhi Thabathabai
  2. Sayyid Ahmad Karbalai
  3. Mirza Jawad Malaki Tabrizi
  4. Mirza Ali Akbar Hakimi Yazdi
  5. Muhammad Husain Qomshehi

  • Nasab
  1. Ayah: Mengajarkan silsilah kesayyidan kepadanya
  2. Sayyid Muhammad Ridha putra Sayyid Ali terkenal dengan Saigh Bahrani Ghuraifi (w. 1339 H)
  3. Sayyid Mahdi Musawi Buhrabni (w. 1343 H) [16]

Aktivitas Mengajar dan para murid

Majelis Pelajaran Ayatullah Mar'asyi Najafi

Ayatullah Mar’asyi pada awalnya sibuk mengajar tingkatan sutuh dan mengajar kita-kitab Ma’alim al-Ushul, Syarah Lum’ah, Qawānin al-Ushul, Farāid al-Ushul, Lum’ah dan Kifāyah al-Ushul. Disamping mengajar Fiqih dan Ushul, ia juga mengajar Mantiq, Kalam, Tafsir, Filsafat, Rijal, Dirayah dan ilmu nasab hauzah. Majelis ilmunya yang berada di Madrasah Faidhiyyah berada di kubah pelataran Hadhrat Maksumah sa. Pada masa sekarang jalan pelataran itu menyambung dengan Masjid A’dzam, serambi yang berhadapan dengan pelataran besar. Pada akhir umurnya pelajarannya diadakan di Masjid Balasare Haram, kediaman pribadi dan husainiyah yang terletak didekat rumahnya. Ia mengajar sejak tahun 1964 hingga akhir-akhir umurnya. [17]

Pelajaran Fiqih Ayatullah Mar’asyi menggunakan kitab Syarayi’ al-Islam karangan Muhaqqiq Hilli. Pada akhir periode pengajarannya, ia memiliki banyak murid hingga mencapai seribuan dan oleh karenanya ia menggunakan speaker. Gaya mengajarnya adalah ketika ia sedang mengajarkan setiap permasalahan dalam pelajaran, pada awalnya ia menjelaskan temanya kemudian menjelaskan sumber rujukannya, kemudian menjelaskan pendapat-pendapat fuqaha dan kaum ushuli serta mengkritisi pendapat-pendapat mereka. Ia juga menjelaskan cabang-cabang pembahasan dan pada akhirnya menjelaskan catatan yang sesuai dengan pelajaran-pelajaran yang sedang dibahas. [18] Diantara para muridnya adalah: [19]

  • Sayyid Musthafa Khomeini
  • Murtadha Muthahhari
  • Muhammad Mufatih
  • Dr. Behesyti
  • Syahid Shaduqi
  • Syahid Qadhi Thabathabai
  • Sayyid Mahmud Thaliqani
  • Syababuddin Isyraqi
  • Murtadha Hairi
  • Husain Nuri Hamedani
  • Imam Musa Shadr
  • Abu Thalib Tajlil Tabrizi
  • Sayyid Murtadha Askari
  • Sayyid Mahdi Yathribi
  • Sayyid Ridha Shadr
  • Muhyiddin Hairi Syirazi
  • Sayyid Muhammad Baqir Sultani
  • Sayyid Muhammad Baqir Hujjati
  • Abas Zaryab Khui
  • Muhammad Danesy Pazuh
  • Ali Ridha Faidh
  • Husain Kariman
  • Ali Asghar Faqihi

Karya-karya

Ayatullah Mar’asyi menulis buku lebih dari 150 kitab dan risalah. [20] Karya-karyanya ditinjau dari sisi akses yang dapat dilakukan oleh orang lain terhadap karyanya terdapat beberapa bentuk: Sebagiannya tercetak dan bisa dibaca oleh masyarakat umum, sebagiannya masih berupa tulisan tangan, beberapanya hilang dan sebagiannya juga berupa lembaran-lembaran tersebar yang sedang dihimpun. Sebagian karya-karyanya adalah:

  • Ulumul Qur'an
  1. Al-Tajwid
  2. Al-Rad ala Anwar al-Tanzil Baidhwi
  3. Khasyiyah ala Anwar al-Tanzil Baidhawi
  4. Sanad al-Qurra' wa al-Huffazh
  5. Muqaddimah Tafsir al-Dur al-Mantsur Suyuthi

  • Nahwu dan Sharaf
  1. Quth al-Khazami min Raudhah al-Jami (Syarah Kafiyah Jami)
  2. Al-Umul fi Amr al-Mathul (Penjelasan atas Syarah Talkhish Taftazani)
  3. Al-Furuqh

  • Hadits Ad’iyah wa Ziyarat
  1. Miftah Ahadits al-Syiah
  2. Catatan al-Fushul al-Muhimmah Syaikh Hur Amili
  3. Catatan Ringkas atas kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih
  4. Majmu’ah Ad’iyah wa Ziyarat
  5. Syarah Doa Simat
  6. Syarah Ziyarat Jami’ Kabirah
  7. Muqaddimah al-Amkinah wa al-Biqa' fi Khairah Dzat al-Riqa’
  8. Fawaid terkait kitab Shahifah Sajadiyah

  • Ushul Fiqh dan Fiqh
  1. Khasyiyah Faraid al-Ushul Syaikh Anshari
  2. Hadzf al-Fudhul ‘an al-Masalik
  3. Taudhih al-Masail
  4. Al-Ghayah al-Qushwa (Khasyiyah Urwah al-Wutsqa)
  5. Masarih al-Afkar fi Taudhih Matharih al-Anzhar (Khasyiyah Taqrirat Syaikh Anshari)
  6. Misbah al-Nasikin (Manasik Haji)

  • Rijal, Biografi dan Ansab (Nasab-nasab)
  1. Al-Tabshirah fi Tarjumah Muallif al-Takmilah (Biografi Mirza Muhammad Mahdi Kasymiri)
  2. Tarajum A’yan al-Sadah al-Mar’asyiyin
  3. Biografi Imam Zadeh Sultan Ali bin Imam Baqir as
  4. Biografi Syaikh Muhammad Ja’far Kumreh-i
  5. Biografi Nashr bin Muzahim Minqari
  6. Al-Fawaid al-Rijaliyah
  7. Wasilah al-Ma’ad fi Manaqib Syaikhuna al-Ustadz
  8. Wafayat al-A’lam
  9. Masyajjirat Āl Rasul al-Akram atau Masyajjirat al-Hasyimiyin (Karya terlengkap dalam tema biografi karyanya)
  10. Risalah tentang Sadat Madinah Munawarah
  11. Keturunan Sadat Husaini Kasyani
  12. Mazarat al-Alawiyain
  13. Khasyiyah Bahr al-Ansab Sayyid Amiduddin Najafi
  14. Biografi tentang nasab tokoh-tokoh bukan Sayyid

  • Kalam, Mantik dan Ulum Gharibah
  1. Mulkhaqat Ihqaq al-Haq
  2. Raf’ al-Ghasyiyah an Wajh al-Khasyiyah Mulla Abdullah Yazdi atas Tahdzib al-Mantiq Taftazani
  3. Khasyiyah bar Kitab Sarkhab Ramal
  4. Khasyiyah bar kitab Sar al-Maknun
  5. Nasamat al-Shaba bar kitab Fawaid Ilmu Ramal, Huruf, Wirid dan Dzikir [21]

Ayatullah Mar’asyi juga memiliki karya-karya dibidang Safar Nameh, Ijazah, Ajwabah Masail dan Makatibat.

Aktivitas Sosial dan Budaya

Pelaksanaan Salat Jamaah Diimami Oleh Ayatullah Mar'asyi Najafi di Haram Sayidah Maksumah sa
  • Mendirikan Perpustakaan dan mengumpulkan naskah-naskah (Sekarang bernama Perpustakaan Mar’asyi Najafi)
  • Mendirikan husainiyah
  • Membangun dan memugar marqad (makam) Muhammad Baqir Majlisi (Pengarang Kitab Bihar al-Anwar)
  • Memperbaharui bangunan Masjid Rah Ahan Qom yang pada Perang Dunia II berubah menjadi gereja oleh para sekutu
  • Membangun Masjid Rah Ahan kota Azna
  • Membiayai biaya rumah sakit orang-orang yang sukses dengan menggunakan sumber-sumber keuangan syar’i
  • Mendirikan klinik di Rumah Sakit Nikui Qom
  • Membangun klinik untuk mengobati penyakit hati di Rumah Sakit Nikui
  • Membangun panti sosial di Meidan Imam bernama Dar al-Syifa Ali Muhammad Saw
  • Membangun 140 rumah hunian untuk para pelajar diujung jalan Adzar (Thaliqani) Qom
  • Membangun Tenaga Listrik Imam Zadeh Sultan Ali Ardahal Kasyan
  • Membantu orang-orang yang terkena bencana tanah longsor, gempa bumi dan orang-orang korban perang 8 tahun Irak-Iran serta orang-orang yang terlilit hutang
  • Mendirikan Madrasah Mahdiyah, Mukminiyyah, Syahabiyyah dan Mar’asyiyah [22]
  • Melaksanakan salat jamaah selama 60 tahun di haram Sayidah Makshumah sa
  • Menjalin hubungan surat menyurat dengan ulama madzhab-madzhab lain
  • Membangun kantor perwakilan Sadat ketika ia berada di Najaf [23]

Perpustakaan

Ayatullah Mar'asyi Najafi di Perpustakaannya

Pusat keilmuan dan budaya terbentuk ketika Ayatullah Mar’asyi Najafi sibuk menimba ilmu. Ia mulai mendirikan perpustakaan dengan melakukan salat dan puasa istijari, meniadakan satu kali menu makan, mengurangi sebagian biaya-biaya hidup dan bekerja di pabrik beras setelah selesai pelajarannya, ia juga menyiapkan sebagian tulisan tangannya dalam koleksinya. Ayatullah Mar’asyi Najafi biasanya mencatat bagaimana ia membeli buku itu disampul belakangnya. Salah satu catatan yang tertulis disebuah kitab: Dengan kepindahannya ke Iran, sebagian koleksi kitabnya juga dibawa ke Iran dan ia menyimpannya di rumah kediamannya dan menjaganya dengan hati-hati. Ia juga mengumpulkan naskah-naskah lainnya. Setelah mendirikan Madrasah Mar’asyiyah pada tahun 1965 , ia membuat perpustakaan kecil di dalam madrasah tersebut yang meliputi dua ruangan kecil. Tidak lama, pada tahun yang sama, ia meluaskan perpustakaan baru di lantai tiga Madrasah. Karena pengunjung semakin banyak, hal itu membuat ruangan perpustakaan menjadi penuh dan pada akhirnya ia mendirikan bangunan dengan luas 1000 m2 dan pada 15 Sya’ban 1394 H/3 September 1974, dibuka Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi dengan jumlah koleksi lebih dari 160 ribu judul buku baik yang masih berupa tulisan tangan ataupun cetakan. Dengan proyek baru dan adanya perluasan perpustakaan, pusat keilmuan ini menjadi tempat yang luas dan memiliki alat-alat yang canggih untuk melanjutkan layanan-layanan. Pada masa sekarang, dari sisi jumlah dan kualitas, perpustakaan Mar’asyi Najafi adalah perpustakaan terbesar dan terkemuka tingkat nasional dan nomer tiga tingkat dunia Islam. Sekarang jumlah koleksinya berjumlah 80 ribu naskah tulisan tangan dan lebih dari satu juta kitab tercetak. [24]

Kegiatan perpolitikan

Reaksi terhadap peristiwa Dewan Provinsi dan Negara

Ayatullah Sayyid Syihabuddin Mar’asyi mendukung gerakan Dewan Provinsi dan Negara Imam Khomeini. Dalam peristiwa hadirnya kaum perempuan dalam Dewan Provinsi dan Negara yang disetujui oleh Perdana Menteri pada tanggal 8 Oktober 1961, setelah penjelasan perdana menteri pada waktu itu, Asadullah Ilm, karena adanya telegram dan surat-surat yang berisi tentang kritikan ulama kepada Syah dan perdana menteri, Sayyid Syihabuddin Mar’asyi menilai bahwa pendapat pemerintah adalah pendapat yang bisa diterima. Oleh karena itu ia ingin mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun Imam Khomeini menulis surat kepadanya: Saya mengetahui bahwa Anda ingin menyebarkan teks telegram perdana menteri. Saya secara tegas menyatakan bahwa hal ini bertentangan dengan kemaslahatan Islam dan Hauzah Ilmiyah serta Anda sendiri. Saya tidak ingin jika Anda sekalian tidak dihargai dan hauzah Ilmiah tidak dihargai dan dianggap enteng oleh pemerintah dan rakyat. Usahakan Anda mencegah tersebarnya berita telegram ini dan biarkan pemerintah sendiri yang menyebarkannya. Sekarang teleponlah mereka dan jangan mempublikasikan serta menyebarkannya. [25]

Dukungan untuk Gerakan Imam Khomeini

Ia selalu mendukung pergerakan Imam Khomeini. Ia berkali-kali menjelaskan tentang hal ini. Ketika Imam Khomeini ditangkap pada tahun 1962, dengan menyatakan protes kerasnya kepada rezim Pahlavi, ia menginginkan kebebasan bagi Imam Khomeini. [26]

Ayatullah Mar’asyi dan kemarja’iyahan Ayatullah Khomeini

Ia bersama dengan para ulama dan para marja' Taqlid pergi ke Tehran demi dibebaskannya Imam Khomeini. Pada tahun 1342 S (1962), ia menjawab pertanyaan sekelompok pelajar tentang kemarjaiyahan Imam Khomeini: Sebagaimana bahwa aku telah seringkali menjelaskan Ayatullah Khomeini adalah salah satu marja di dunia tasyayu, ia adalah tiang, ulama Islam dan kebanggaan dunia tasyayu, kini aku kembali menjelaskan bahwa Ayatullah Khomeini adalah salah satu marja taklid di dunia tasyayu dan ulama Syiah, bahkan termasuk tonggak keruhanian Islam dan kebanggaan dunia Syiah. [27]

Reaksi terhadap RUU Kapitulasi

Marja ketiga yang melawan RUU Kapitulasi pada tahun 1964 dan berpidato tentang tema ini adalah Ayatullah Mar’asyi Najafi. Ia meanyampaikan ceramah pada 4 Aban 1343 S (26 Oktober 1964) setelah ceramah Imam Khomeini di hadapan orang-orang yang hadir dirumahnya. Ayatullah Mar’asyi Najafi dalam permulaan ceramahnya membahas permasalahan RUU Kapitulasi dan menjelaskan bahwa apabila seorang warga negara Amerika melakukan kesalahan apakah tidak boleh dianggap salah? Kemudian ia mengkritik berbagai propaganda penguasa terhadap tindakan kekerasan kepada ulama dan berkata, "Tulisan dan kata-kata ulama telah ditutup oleh pengguasa." [28]

Sikap terhadap Surat Kabar yang telah menghina Imam Khomeini QS

Peristiwa yang menjadi sebab Revolusi Islam meletus adalah peristiwa pada 19 Dei 1356 S (9 Januari 1978), yaitu diterbitkannya sebuah artikel yang ditulis oleh Rasyidi Mutlak dengan judul “Iran dan Kolonisasi Merah dan Hitam”. Terbitnya artikel ini membuat protes luas karena telah menghina Imam Khomeini. Ayatullah Mar’asyi bersikap keras terhadap masalah ini. [29]

Diterbitkannya Pernyataan Setelah Revolusi

Ia dengan menerbitkan pengumuman pada hari kemenangan Revolusi Islam Iran pada tanggal 22 Bahman 1357 S (11 Februari 1979) menyatakan ucapan terima kasih yang tulus kepada segenap bangsa Iran, Ia menyetujui keberadaan Dewan Revolusi dan Pemerintahan Sementara. Ia juga menyeru masyarakat untuk turut serta dalam perang Irak-Iran. [30]

Wafat

Tasyyi' Jenazah Ayatullah Mar'asyi Najafi

Ayatullah Mar’asyi Najafi meninggal pada tanggal 7 Shafar 1411 H/29 Agustus 1990 pada usia 96 tahun. Berdasarkan wasiat yang ditulisnya, ia dikuburkan di perpustakaannya di Jalan Eram Qom. [31] Berdasarkan wasiatnya pula, sajadah yang telah ia pakai selama 71 tahun, pakaian yang ia kenakan untuk mengikuti majelis aza Imam Husain as dan tanah yang ia kumpulkan dari haram para Imam dan Imam Zadegan (keturunan para Imam) juga dikuburkan bersamanya.

Catatan Kaki

  1. Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 17-18.
  2. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 18.
  3. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 17-19.
  4. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 17-19.
  5. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 21-22.
  6. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 58.
  7. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 86-88.
  8. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 86-88.
  9. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 85-86.
  10. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 23-24, 86.
  11. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 110-111.
  12. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 24.
  13. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 25.
  14. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 26.
  15. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 27.
  16. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 54-58.
  17. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 59.
  18. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 59-60.
  19. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 60.
  20. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 78.
  21. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 62-64.
  22. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 67-68.
  23. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 83.
  24. Silahkan lihat: Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 66-67.
  25. Syahshiyat Negar.
  26. Syahshiyat Negar.
  27. Syahshiyat Negar.
  28. Syahshiyat Negar.
  29. Syahshiyat Negar.
  30. Syahshiyat Negar.
  31. Guli Zawarah, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, hlm. 74.

Daftar Pustaka

  • Guli Zawarah, Ghulam Ridha, Jāmi’ Fadhl wa Fadhilat, Maqalat wa Maqulati darbareye Kar Nameh Ilmi wa Amali Hadhrat Ayatullah Mar’asyi Najafi, Ketab Khaneh Ayatullah Mar’asyi Najafi, Qom, 1970.