Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa navbox

Ayat

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Ayat Alquran

Ayat (bahasa Arab: آیة) secara teknis adalah kalimat-kalimat yang membentuk Alquran dengan urutan-urutan tertentu dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya dan akan membentuk surah-surah Alquran. Dalam Alquran, kata ayat digunakan dengan makna teknis ini. Ayat-ayat Alquran digunakan sebagai "bayyinah" yaitu penjelas dan terang.

Para pakar Ulumul Quran membahas tentang ayat dalam berbagai pembahasan misalnya: jumlah ayat, tauqifi ayat, koherensi dan ketaksesuaian urutan ayat. Dalam Alquran ayat memiliki makna lain, yaitu setiap makhluk yang menunjukkan sifat Tuhan dan mukjizat yang dibawakan oleh para nabi. Dalam penggunaan makna ini, Alquran membagi tanda-tanda Tuhan menjadi ayat-ayat afaqi dan ayat-ayat anfusi. Ayat-ayat āfāqi adalah tanda-tanda yang berada di luar wujud manusia, sedangkan ayat-ayat anfusi adalah tanda-tanda yang berada di dalam wujud diri manusia dan memberi bimbingan manusia kepada Tuhan.

Arti Ayat

Kata "ayat" secara leksikal berarti tanda-tanda, [1] sesuatu yang terang dan jelas. [2]

Adapun makna ayat secara teknikal adalah potongan dari Alquran yang terletak pada sebuah surah, mempunyai awal dan akhir, terbentuk oleh beberapa kalimat atau kata, walaupun sebagiannya tidak dinyatakan secara eksplisit (muqaddar). [3] Dengan kata lain, ayat secara teknis (yang juga diambil dari makna "anda" dan alamat) adalah kata, ungkapan atau kalimat Alquran yang kemudian membentuk surah dalam Alquran. Jumlah ayat-ayat yang terdapat itu dalam setiap surah sudah ditentukan dari sisi Pembuat Syariat dan bersifat tauqifi. Setiap bagian ini merupakan satu tanda yang menunjukkan keberadaan Allah swt seperti tanda-tanda natural tentang wujud Allah swt atau sebagiannya tentang akidah, hukum-hukum praktis dan akhlak.[4]

Ayat dalam Alquran

Dalam Alquran, kata ayat dinyatakan dalam bentuk tunggal/mufrad, tasyniyah/dua (ayatain) dan jama'/plural (āyāt) semuanya berjumlah 382. [5]

Makna asli ayat adalah tanda dan kadang-kadang juga digunakan dengan makna: tanda[6], ibrah/pelajaran[7], mukjizat[8], perintah aneh dan indah[9], argumen dan dalil/bukti[10][11]

Ayat-ayat Alquran merupakan sebuah ketetapan (tauqifi) [12] dan pengetahuan mengenai hal itu hanya dapat diperoleh dengan ilmu-ilmu Ilahi karena sebagian huruf dan kata seperti "Alif-lam-mim-shad" adalah sebuah ayat tapi sebagian yang lain seperti "Alif-lam-mim-ra" bukan merupakan sebuah ayat. [13]

Ayat Pertama dan Terakhir

Pendapat yang paling sahih dan paling berkembang mengenai surah yang pertama kali turun atas Nabi Muhammad adalah 5 ayat pertama surah Al-'Alaq.[14] Namun terdapat ragam pendapat terkait dengan ayat atau ayat-ayat yang terakhir turun. Salah satu pendapat itu berkata bahwa ayat yang terakhir turun adalah ayat Ikmal:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu."[15]

Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad saw pulang dari Hajjatul Wida di Ghadir Khum. Surah Al-Maidah berisi tentang hukum-hukum dan mengabarkan tentang kesempurnaan dan kemenangan Islam, khususnya bahwa ayat ini mengabarkan tentang berakhirnya tugas risalah Nabi Muhammad saw, oleh itu, tepat saja jika ayat Ikmal ini adalah ayat yang terakhir turun dari surah yang terakhir turun (surah al-Maidah).[16]

Ayat Terpendek dan Terpanjang

Terlepas dari adanya huruf-huruf terputus (muqattha'ah), ayat terpendek dari sisi jumlah katanya adalah ayat "mudhammatan"[17] [18] dan dari sisi jumlah hurufnya adalah "walfajr"[19] dan "wal 'ashr"[20] dan seperti keduanya (wal fajr dan wal 'ashr). [21]

Ayat Alquran yang paling panjang adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengambil utang atau melakukan muamalah tidak secara tunai untuk masa tertentu, hendaklah kamu menulisnya…[22]. Ayat ini dikenal dengan nama ayat al-dain (ayat yang menerangkan tentang utang) kira-kira mencakup satu halaman Alquran.

Kaligrafi Ayat 1000 Dinar (Ayat 2-3 surah Al-Thalaq)

Klasifikasi Ayat

Klasifikasi ayat-ayat Alquran dari berbagai sudut pandang:

Muhkam dan Mutasyabih

Dalam Alquran, pembagian ayat dibagi menjadi dua: muhkam dan mutasyabih. [23] Menurut Allamah Thabathabai muhkamat adalah ayat-ayat yang maknanya jelas dan tidak akan keliru dengan makna selainnya. Ayat-ayat muhkamat ini harus diyakini dan diamalkan. Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang memiliki makna samar dan bermakna lain dari apa yang yang nampak secara lahir. Tiada yang mengetahui makna hakiki dari ayat-ayat mutsayabih ini selain Allah swt. Ulama Syiah berpendapat bahwa Nabi Muhammad saw dan para Imam juga mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabih. [24]

Allamah Thabathabai menambahkan bahwa ayat mutasyabih harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Dari riwayat-riwayat yang ada mengenai hal ini, ayat-ayat mutasyabih tidak dapat menyampaikan maksud ayatnya sendiri secara bebas dan harus dikembalikan ke ayat-ayat muhkamat supaya memperoleh makna dan arti yang terang. Oleh itu, dalam Alquran, tidak ada satu ayat pun yang tidak dapat diperoleh makna-makna hakikinya. [25]

Kebanyakan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat dan perbuatan (af'āl) Tuhan. Dengan menyandarkan kepada ayat-ayat muhkamat, maka ayat-ayat mutasyabih ini akan memiliki makna-makna yang kuat dan jelas. Dari sisi jumlah, ayat-ayat mutasyabih tidak lebih dari 200 ayat. [26]

Pembagian Lain Ayat

Para pakar Ulumul Quran mengklasifikasikan ayat dalam pembagian yang beragam [27]seperti: ayat ahkam, ayat istidraj, ayat nasikh dan ayat mansukh.

Ayat-ayat Masyhur

Kaligrafi Ayat Kursi

Sebagian ayat Alquran menjadi masyhur dan memiliki nama khusus disebabkan oleh dalil yang beragam. Jumlah ayat-ayat masyhur ini mencapai lebih dari 100 ayat. Terdapat sebagian hadis dan perkataan yang berkembang di masyarakat terkait dengan membaca, menghafal, menulis dan membawa serta ayat-ayat ini. Karena diyakini bahwa ayat-ayat ini memiliki manfaat dan khasiat tertentu bagi mereka yang membaca, menghafal, menulis dan membawanya. Meski sebagian dari hadis dan perkataan itu memiliki sandaran dan sebagiannya tidak. Sebagian ayat-ayat yang mempunyai nama khusus:

  1. Ayat Kursi (Q.S. al-Baqarah [2]: 255-257)
  2. Ayat Nur (Q.S. Nur [24]: 35)
  3. Ayat Syahadah (Q.S. Ali Imran [3]: 18)
  4. Ayat Al-Ifk (Q.S. Nur [24]: 12)
  5. Ayat Amanah (Q.S. al-Ahzab [33]: 72)
  6. Ayat Mulk (Q.S. Ali Imran [3]: 26)
  7. Ayat Mubahalah ( Q.S. Ali Imran [3]: 61)
  8. Ayat Tathir (Q.S. al-Ahzab [33]: 33)
  9. Ayat al-Saif (Q.S. al-Taubah [9]: 5)
  10. Ayat Tabligh (Q.S. al-Maidah [5]: 67)
  11. Ayat Wilayah (Q.S. al-Maidah [5]: 55)
  12. Ayat Hijab (Q.S. Nur [24]: 31)
  13. Ayat Ikmal (Q.S. al-Maidah [5]: 3)
  14. Ayat Ujian Nabi Ibrahim as (Q.S. al-Baqarah [2]: 124)
  15. Ayat Shadiqin (Q.S. Taubah [9]: 119)
  16. Ayat Lailatul Mabid (Q.S. al-Baqarah [2]: 201)
  17. Ayat Khairul Bariyyah ( Q.S. Al-Bayyinah [97]: 98)

Dalam sebagian riwayat Nabi Muhammad saw dan Ahlulbait as sebagian nama-nama tertentu disandarkan kepada sebagian ayat-ayat, seperti ayat yang paling komprehensip (Q.S. Al-Nahl [16]: 90) dan ayat yang menakutkan adalah (Q.S. al-Zalzalah [99]: 7 dan 8).

Sebagai contoh, Nabi Muhammad bersabda: Ayat yang paling mulia adalah ayat Kursi.

"Allah, tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui segala yang berada di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."[28]

Diriwayatkan dari Imam Ali as bahwa ayat yang paling memberi harapan adalah ayat: [29]

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
"Dan kelak Tuhan-mu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)mu menjadi puas."

Urutan Ayat

Para ulama berbeda pendapat mengenai urutan ayat-ayat Alquran. Kebanyakan ulama Ahlusunah dan Syiah berkeyakinan bahwa kedudukan ayat pada surah ditentukan oleh Nabi Muhammad saw berdasarkan petunjuk malaikat Jibril yang kemudian dijalankan oleh para sahabat. Oleh itu, urutan ayat-ayat yang ada adala tauqifi, artinya tidak diperbolehkan mengganti urutan surat yang ada. [30] Pendapat lainnya yang berbeda dengan pendapat di atas adalah boleh jadi ayat-ayat Alquran sudah disusun sejak zaman Nabi Muhammad saw tapi dalam proses penyusunannya selera dan ijtihad para sahabat berpengaruh dalam menyusun ayat-ayat itu. Menurut Allamah Thabathabai, riwayat tentang pengumpulan Alquran pada zaman khalifah Abu Bakar menegaskan bahwa ijtihad para sahabat berperan dalam menyusun urutan ayat Alquran. Apabila riwayat ini kita terima yaitu bahwa semua ayat disusun berdasarkan perintah Nabi artinya bukanlah bahwa yang disusun oleh para sahabat itu, juga ayat-ayat yang disusun pada zaman Nabi saw. Kesepakatan atas kesamaan urutan yang ada pada zaman sekarang dengan urutan pada zaman Nabi Muhammad saw adalah konsensus naratif (ijma' manqul) dan tidak bisa bersandar kepadanya. [31]

Jumlah Ayat

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat Alquran. Salah satu faktor-faktor yang menentukan perbedaan ini adalah pada saat Nabi Muhammad saw membaca sebuah ayat, maka suatu ketika ia berhenti pada akhir sebuah ayat, jika demikian, jelaslah bahwa di situ merupakan akhir sebuah ayat. Namun kadang-kadang beliua demi untuk menyempurnakan dan karena ada kaitannya dengan ayat sebelumnya, maka tempat waqf itu disambungkan dengan ayat selanjutnya. Dari sinilah pendengar kadang-kadang menyangka dan menghitung dua ayat sebagai satu ayat.

Oleh itu, perbedaan riwayat tentang wasl atau waqf menyebabkan perbedaan dalam jumlah ayat dan pada akhirnya terbentuklah berbagai pendapat dalam hal ini, misalnya:

  • Penduduk Kufah: 6236
  • Penduduk Madinah: dua angka yaitu 6000 dan 6214
  • Penduduk Basrah: 6204
  • Penduduk Syria: 6225

Menurut ulama Ulumul Quran, jumlah ayat yang dikatakan oleh kelompok Kufi karena disandarkan kepada Ali as, lebih mendekati kepada kebenaran dan memiliki kredibilitas khusus. Jumlah ayat pada lembaran mulia sesuai dengan kelompok Kufah. Menurut Allamah Thabathabai, tidak terdapat nash mutawatir atau khabar wāhid yang terpercaya tentang jumlah ayat yang dikatakan sehingga bisa disandarkan kepadanya. Oleh itu tidak perlu percaya kepada hitungan manapun, namun bisa menerima dengan mengadakan penelitan atasnya atau menyangkal masing-masing dari pendapat itu. [32]

Koherensi Ayat-ayat

Koherensi (kesesuaian) antara ayat-ayat dalam satu surah atau mempunyai satu kesamaan konteks yang menjadi kesepakatan ahli tafsir atau korelasi antara beberapa ayat dalam satu surah yang mempunyai tujuan atau tujuan yang beraneka -macam dan setelah mencapai tujuan itu, maka surah itu akan berakhir. Panjang atau pendeknya surat kembali kepada sebab ini. [33]

Sekelompok ulama yang berkeyakinan bahwa urutan surat secara tauqifi, menandaskan pentingnya membahas munasabah ini. Allamah Thabarsi (lahir 548/1153) adalah ahli tafsir yang paling menaruh perhatian terhadap koherensi (munasabah) ayat-ayat dan surah-surah. Ia menjelaskan munasabah dalam setiap permulaan surah dan kaitan atau hubungannya dengan surah sebelumnya. Ia ketika menafsirkan setiap ayat dengan nama "al-nazhm" menjelaskan keterkaitan maknawi ayat yang sedang dibahas dengan ayat sebelum dan setelahnya. Mufasir-mufasir yang juga menaruh perhatian dalam hal munasabah adalah Zamakhsyari dalam Al-Kasyaf, Fahr Razi dalam Tafsir Al-Kabir, Alusi dalam Ruh al-Ma'ani, Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar, Syaikh Mahmud Syaltut dalam Tafsir Alquran al-karim.

Sebagian mufassir yang lain, walaupun meyakini adanya koherensi antara ayat, namun mereka berkata, "Alquran bukan merupakan kitab ilmu eksak dan pelajaran sehingga mempunyai bagian-bagian dan keteraturan yang khusus dalam penulisannya. Namun koherensi ini harus berdasarkan hubungan antara bagian awal dan akhir surah yang harus berkaitan. Oleh itu, tidak seharusnya memberi penyandaran-penyandaran yang keliru terhadap Alquran. [34]

Menurut Allamah Thabathabai, boleh jadi beberapa ayat dalam bentuk kalimat sisipan yang merupakan penjelas bagi ayat-ayat lain, di antara dua ayat juga memiliki konteks yang sama. Oleh itu tidak perlu untuk bersusah payah mencari korelasi dan hubungan antara ayat yang satu dengan yang lainnya dan tidak ada dalil untuk mencari korelasi antara, kecuali pada surah-surah yang turun pada satu tempat atau ayat-ayat yang memiliki koherensi jelas dan terang. [35]

Makna Lain Ayat

Ayat juga mempunyai makna umum dan maknanya adalah bahwa ayat-ayat Ilahi merupakan suatu perkara yang membuktikan adanya Tuhan, kekuatan, hikmah, kebesaran dan sifat-sifat tinggi-Nya. Oleh itu, ayat digunakan dalam hubungannya dengan hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan. Alquran al-Karim setelah menjelaskan tentang penciptaan dunia, إِنَّ في‏ ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." [36] Perlu diperhatikan bahwa dalam Alquran kata "mukjizat" tidak dipakai dan sebagai gantinya digunakan istilah "ayat" dan "bayyinah." [37] Istilah "mukjizat" biasanya digunakan oleh para teolog. [38]

Sisi koherensi antara makna teknikal dan leksikal ayat adalah bahwa ayat-ayat Alquran dari satu sisi adalah mukjizat karena seseorang tidak mampu membawakan sepertinya dan dari sisi lain adalah bukti kebenaran pembawanya, mendatangkan pelajaran bagi ahli dzikir, berisi argumentasi-argumentasi atas kandungannya yang merupakan hidayah dan ilmu bagi manusia-manusia dan juga sebagai penjelas bagi kekuatan, ilmu, hikmah dan sifat-sifat Ilahi yang lain. [39]

Sesuatu dapat disebut sebagai ayat karena standar yang berbeda-beda dan memiliki tingkatan yang lemah dan kuat. Misalnya sebagian ayat dari Alquran disebut sebagai ayat Tuhan karena manusia tidak mampu membawakan yang semisalnyna dengannya. Hukum-hukum dan taklif Ilahi disebut sebagai ayat-ayat Tuhan karena dengan perantaranya manusia akan menjadi takwa dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Makhluk-makhluk dan entitas-entitas disebut sebagai ayat Tuhan karena wujud dan tipologi eksistensialnya mengantarkan manusia untuk mengenal Tuhan. Para nabi dan auliya juga merupakan ayat-ayat Allah karena mengajak manusia kepada Tuhan dengan ucapan dan amalan mereka. Misalnya ketika ditanya tentang ayat, "Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan (di malam hari) dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk". [40] Imam Shadiq as dari Imam Ridha as menjawab: "Yang dimaksud dengan "najm" adalah Rasulullah saw dan yang dimaksud dengan "alamat" adalah para Imam. [41]

Perkara-perkara luar biasa dan mukjizat para nabi juga disebut ayat karena merupakan sebuah petunjuk yang jelas akan kebesaran dan kekuasan Tuhan dan juga menunjukkan kebenaran Nabi dalam dakwah mereka. [42]

Ayat Takwini dan Tasyri'i

Ayat-ayat Ilahi, pada tahap pertama dapat dibagi menjadi dua bagian: tasyri'i dan takwini. Ayat tasyri'i adalah Alquran dan kitab-kitab samawi lainnya. [43] Namun sebagian ayat-ayat Alquran juga menjelaskan tentang ayat-ayat takwini yang meliputi akidah, hukum-hukum praktis atau akhlak yang mengantarkan manusia kepada Tuhan. [44]

Ayat-ayat takwini Tuhan adalah segala yang nampak di alam semesta yang menunjukkan tentang keesaan Tuhan dalam penciptaan dan penyifatan Tuhan dengan sifat-sifat sempurna dan terbebas dari kekurangan dan kebutuhan. [45] Ayat-ayat takwini Ilahi terbagi lagi menjadi dua bagian: biasa dan luar biasa. Ayat takwini biasa terdiri dari kejadian-kejadian alam semesta namun ayat takwini luar biasa meliputi perkara-perkara di luar dari kebiasaan-kebiasaan dan merupakan mukjizat para Nabi. [46]

Ayat Āfāqi dan Anfusi

Pada umumnya terdapar dua cara untuk mengenal Allah swt: 1. Mempelajari tanda-tanda Tuhan yang ada di badan dan jiwa manusia. Hal yang demikian disebut ayat Ānfusi. 2. Mempelajari ayat-ayat yang berada di luar wujud manusia. Hal yang demikian disebut ayat Āfāqi.[47]

Dalam Alquran dan riwayat-riwayat, terhadap tadabur terdapat dua kekhususan: khususnya bertadabur terhadap ayat-ayat anfusi mendapat penegasan yang lebih banyak, sebagaimana firman Allah swt:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dunia dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar." (Q.S. al-Fushilat [41]: 53)

Ulama Islam mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai macam-macam dan contoh-contoh ayat afaqi dan anfusi. [48] Seperti: langit-langit, bumi, keteraturan yang ada di lautan, gurun pasir, tumbuh-tumbuhan dimana berkontemplasi (tadabbur) tentangnya akan membawa manusia untuk mengenal-Nya dan membukakan jalan bagi pencari kebenaran.

Ayat anfusi juga merupakan ayat-ayat yang ada didalam wujud manusia, berupa keruwetan anggota badan manusia, kekuatan manusia [49] atau tentang non-materinya jiwa dan pelbagai tipologi khasnya.

Pada riwayat juga ditegaskan tentang pentingnya makrifat afaqi secara mendalam. Nabi saw bersabda, "Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya." [50]; [51]

Imam Ali as memaparkan dalil ketika menjelaskan ayat Āfāqi tentang wujud Tuhan, "Karena itu, Anda lihatlah matahari, bulan, tumbuhan, tanaman, air, batu, perbedaan malam ini dan siang, mengalirnya sungai-sungai, banyaknya gunung-gunung, tingginya puncak-puncaknya, perbedaan bahasa-bahasa dan aneka ragamnya lidah. Maka celakalah orang yang tidak mempercayai Pengatur dan menolak Penguasa. Mereka percaya bahwa mereka adalah seperti rumput yang untuk itu tak ada pemelihara dan tak ada yang membuat bentuknya yang aneka ragam. Mereka tidak bersandar pada sesuatu argumen atas apa yang mereka tegaskan, dan tak ada pula penelitian atas apa yang mereka dengar. Mungkinkah ada bangunan tanpa pembangun, atau pelanggaran tanpa ada yang melanggar?"[52]

Dalam dispilin ilmu Filasafat dan Irfan juga dibahas mengenai ayat-ayat Āfāqi dan Anfusi. [53]

Catatan Kaki

  1. Al-Burhān fi Ulumul Qurān, jil. 1, hal. 363.
  2. Raghib Isfahani, Mu’jam Mufradāt Alfādz al-Qurān, hal. 34.
  3. Suyuthi, Al-Itqān, jil. 1, hal. 145.
  4. Thabathabai, Al-Mizān, jil. 18, hal. 159.
  5. Abdul Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras, hal. 103-108.
  6. Q.S. Al-Baqarah [2]: 284
  7. Q.S. Yunus [10]: 92
  8. Q.S. Al-Baqarah [2]: 12
  9. Q.S. Al-Mukminun [23]: 50
  10. Q.S. Al-Rum [30]:
  11. Al-Mu’jam Al-Wasith, jil, 1, hal. 25; Manāhil al-Irfān fi Ulumul Qurān, jil. 1, hal. 338; Burhān fi Ulumul Qurān, jil, 1, hal. 266.
  12. Gharāib Alquran wa Raghāib al-Furqān, jil. 1, hal. 66.
  13. Manāhil al-Irfān, jil. 1, hal. 339.
  14. Kebanyakan kitab tafsir sehubungan dengan ayat terkait.
  15. Q.S. Al-Maidah [5]: 3
  16. Tārikh al-Qur’ān, hal. 46.
  17. Q.S. al-Rahman [55]:64
  18. Al-Tahrir wal-Tanwir, jil. 1, hal. 77.
  19. Q.S. al-Fajr [89]: 1
  20. Q.S. Al-'ashr [103]:1
  21. Al-Itqān, jil. 2, hal. 357.
  22. Q.S. Al-Baqarah [2]: 282
  23. Q.S. Ali Imran [3]: 7.
  24. Thabathabai, Al-Mizān, jil. 3, hal. 32-43.
  25. Thabathabai, Qurān dar Islām, hal 37.
  26. Al-Tamhid, jil. 3, hal. 14.
  27. Al-Itqān, jil. 1, hal. 10.
  28. Q.S. al-Baqarah [2]: 255
  29. Al-Itqān, jil. 2, hal. 353.
  30. Al-Itqān, jil. 1, hal. 132.
  31. Thabathabai, Al-Mizān, jil. 12, hal. 127-129.
  32. Thabathabai, Al-Mizān, jil 13, hal. 232.
  33. Al-Tamhid, jil. 5, hal. 239.
  34. Syaikh Izzuddin berdasarkan Al-Itqān, jil. 2, hal. 234.
  35. Al-Mizān, jil. 4, hal. 359.
  36. Quran Syināsi, jil. 1, hal. 33.
  37. Majmu’ah Atsār, jil. 2, hal. 161; Rāh Syenāsi, hal. 82.
  38. Majmu’ah Atsār, jil. 2, hal. 161; Idhāh al-Murād, hal. 381.
  39. Manāhil Irfān fi Ulumul Qurān, jil. 1, hal. 339.
  40. (Q.S. Al-Nahl [16]: 16)
  41. Ushul Kāfi, jil. 1, hal. 207; Al-Mizān, jil. 1, hal. 250.
  42. Qurān Syināsi, jil. 1, hal. 33.
  43. Qurān Syināsi, jil. 1, hal. 33.
  44. Al-Mizān, jil. 18, hal. 159.
  45. Ibid, jil. 18, 185.
  46. Quran Syenasi, jil. 1, hal. 34.
  47. Tafsir Nemuneh, jil. 18, hal. 328.
  48. Silahkan lihat: Jāmi' al-Bayān, jil. 11, hal. 4; Majma' al-Bayān, jil. 9, hal. 29; Al-Mizan, jil 17, hal. 405.
  49. Al-Mizān, jil. 18, hal. 405.
  50. Bihār al-Anwār, jil. 2, hal. 32; Ghurār al-Hikam, hal. 232.
  51. Untuk melihat tafsir hadis ini silahkan lihat: Mashābih al-Anwār, jil. 1, hal. 204; Ilāhiyāt fi Madrasah Ahlul Bayt as.
  52. Nahj al-Balāghah, khutbah 185.
  53. Al-asfār al-Arba'ah, jil. 7, hal. 14; Isrār al-Ayāt, Al-asfār al-Arba’ah, jil. 7, hal. 14.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran al-Karim
  • Alusi, Mahmud, Ruh al-Ma'āni, Qahirah, Idarah al-Thaba'ah al-Muniriyah.
  • Ibnu Duraid, Jumhuriyah al-Lughah, jil. 1, hal. 192.
  • Ibnu Faris, Ahmad, Mu'jam Maqāyis al-Lughah.
  • Amrul Qais, Daiwan, Beirut, 1958.
  • Bustani, Juhari, ‘Adnan, Rai fi Tahdid 'ashr al-Rāghib al-Isfahāni, Majalah al-Majma al-Lughah al-Arabiyyah, Damisy, 1986, 61 (1)/ hal. 191-200.
  • Jauhari, Ismail, Shihah al-Lughāt.
  • Haji Khalifah, Kasyf Dzunun, Istanbul. 1931.
  • Khalil bin Ahmad, Kitāb al-'Ain, Riset: Mahdi Makhzumi dan Ibrahim Samarai, hal. 441, Qum, 1405.
  • Raghib Isfahani Husain, Mu'jam Mufrādat Alfāzh al-Qurān, frasa iy, i.
  • Ridha, Muhammad Rasyid, Al-Manār, Beirut, Dar al-Ma'rifah.
  • Zubaidi, Tāj al-'Arus, frasa y, h.
  • Zarkasyi, Muhammad, Al-Burhān fi Ulumul Qurān, jil. 1, hal. 52-53, Riset: Muhammad Abul Fadhl, Beirut, 1972.
  • Suyuthi, Al-Itqān, Riset: Muhammad Abul Fadhl, jil. 1, hal. 223-225, jil. 3, hal. 369-389, Beirut, 1967.
  • Syaikhu, Syu'ara al-Nasyrāniyyah qabla al-Islām, Beirut, Dar al-Masyraq.
  • Sadra al-Muta’allihin, asrār al-Ayāt, Riset: Muhammad Khawaji, Anjuman Islami Hikmat wa Fasafah Iran, Tehran, 1360.
  • Thabathabai, Qurān dar Islām, Bustan Kitab.
  • Thabathabai, Muhammad Husain, Al-Mizān, Beirut, 1393.
  • Thabarsi, Fadhl, Majma' al-Bayān, Seida, 1333.
  • Abdul Baqi, Muhammad Fuad, Al-Mu'jam al-Mufahras, Qahirah, 1364.
  • ‘Urwah bin al-Wurud, Beirut, 1980.
  • Fahruddin Razi, Muhammad, Al-Tafsir al-Kabir, Dar Ihya al-Turats al-Arabi.
  • Firuz Abadi, Muhammad, Al-Qāmus al-Muhith, frase a.
  • Misbah Yazdi, Qurān Syenāsi, Riset: Muhammad Rajabi.
  • Musthafawi, Al-Tahqiq fi Kalamāt al-Qurān al-Majid, jil. 1, hal. 171-174, 1360.
  • Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir
  • Al-Tamhid fi Ulumul Qurān