tanpa referensi

Sarah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Sarah
Istri pertama Nabi Ibrahim as
Grave of Sarah.jpg
Julukan Muhaddatsah
Afiliasi agama Tauhid
Kerabat termasyhur Nabi Ibrahim as (suami) • Nabi Ishak as (anak)
Tempat tinggal SuriahPalestina • Mesir
Tempat dimakamkan Masjid al-Ibrahimi, Hebron

Sarah (bahasa Arab:ساره ) adalah istri pertama Nabi Ibrahim as dan ibu Nabi Ishak as. Terdapat dua surah dalam Alquran yang mengabadikan kisahnya. Sarah adalah salah seorang perempuan Muhaddatsah. Setelah ia menikah dengan Nabi Ibrahim as sampai diusia tua disebabkan kemandulan tidak memiliki anak, namun setelah malaikat menyampaikan berita bahwa ia akan memiliki anak, maka lahirlah Ishak dari rahimnya.

Disebutkan dalam literatur sejarah, Sarah adalah perempuan dengan wajah yang cantik. Dalam peristiwa hijrahnya Nabi Ibrahim as dan Sarah ke Mesir, Raja Mesir menghadiahkan kepada Sarah seorang budak perempuan cantik yang bernama Hajar sebagai permohonan maaf atas perlakukannya yang buruk. Sarah dan Ibrahim as setelah melakukan beberapa perjalanan seperti ke Syam (sekarang Suriah) dan ke Mesir, ia memutuskan untuk menetap di Palestina. Setelah beberapa lama, dalam usia 128 tahun, Sarah meninggal dunia dan dimakamkan di Hebron (sekarang al-Khalil).

Menurut beberapa sumber, yang mendidik anak-anak Syiah di Alam Barzakh adalah Nabi Ibrahim as dan Sarah. Mengenai perjalanan hidup Sarah dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya juga tertulis dalam kitab Taurat.

Garis Keturunan

Menurut sumber Islam, Sarah adalah sepupu Nabi Ibrahim as. [1] Ibu Sarah dengan ibu Nabi Ibrahim as adalah kedua putri Nabi Lahij as ( لاحج ). Salah satu dari keduanya menikah dengan Tarukh (ayah Ibrahim) dan yang satunya menikah dengan saudara Tarukh, Batuael. [2] Sarah adalah saudara tiri Nabi Luth as. [3] Ia disebutkan lahir di wilayah Kutsa di pegunungan Babilonia Irak. [4]

Sarah dan saudaranya Luth as, menerima ajakan Nabi Ibrahim as untuk memeluk agama tauhid. [5]

Menikah dengan Ibrahim

Sarah menikah dengan putra pamannya sendiri, Ibrahim as. Nabi Ibrahim as menikah saat usia 37 tahun. [6] Dalam sebagian literatur disebutkan, Sarah adalah perempuan tercantik dimasanya. [7] Ia memiliki banyak lahan pertanian dan peternakan yang kemudian kesemuanya itu diserahkan kepada Ibrahim as untuk mengurusnya. [8]

Hijrah ke Syam, Mesir dan Palestina

Setelah Nabi Ibrahim as mendakwahkan ajaran tauhid di Babilonia dan hanya sedikit yang ikut mengimaninya, ia terpaksa bersama Sarah dan Luth as pindah ke Syam dan menetap di Harran (sekarang di Turki). Disebabkan terjadi bencana kelaparan dan menyebarnya wabah penyakit, Sarah bersama suaminya pergi ke Mesir. [9] Untuk menyembunyikan kecantikan Sarah dari tatapan mata penduduk, ia memasukkan Sarah ke dalam kotak. Ketika hendak memasuki Mesir, penjaga perbatasan meminta Ibrahim untuk membuka kotak yang ia bawa. Ibrahim awalnya menolak, namun karena penjaga perbatasan memaksa, akhirnya kotak itupun berhasil dibuka. Melihat kecantikan Sarah, penjaga perbatasan melaporkan yang dilihatnya tersebut kepada Raja Mesir. [10]

Perlakuan Raja Mesir kepada Sarah

Setelah laporan mengenai kecantikan Sarah sampai ke telinga Raja Mesir, ditanyakan kepada Ibrahim mengenai hubungannya dengan Sarah. Ibrahim tahu, jika ia menjawab Sarah adalah istrinya, maka Raja Mesir akan memerintahkan untuk dia dibunuh, karena itu Ibrahim menjawab bahwa ia adalah saudara Sarah, yang ia maksudkan adalah saudara seagama. Raja Mesir pun memerintahkan, agar Sarah didandani dan dibawa ke hadapannya. Menurut literatur sejarah, ketika Sarah dibawa menuju Raja Mesir, Nabi Ibrahim as menyibukkan diri dengan salat dan memohon pertolongan dari Allah swt.

Ketika Raja Mesir hendak menyentuh Sarah, tangannya tiba-tiba menjadi kaku dan mati rasa. Iapun memohon kepada Sarah agar berdoa kepada Allah swt untuk tangannya disembuhkan, sebagai balasannya ia berjanji tidak akan menyentuh Sarah. Sarahpun berdoa, dan tangan Raja Mesir normal kembali. Namun, Raja Mesir mengingkari janjinya, ia kembali bermaksud menyentuh Sarah. Seperti sebelumnya, tangannya tiba-tiba mati rasa dan tidak bisa digerakkan. Ia kembali memohon kepada Sarah, agar tangannya didoakan untuk disembuhkan dan berjanji tidak akan menyentuh Sarah. Hal tersebut berulang sebanyak tiga kali. [11] Raja Mesir akhirnya sadar, Sarah bukan perempuan biasa dan ia tidak akan mungkin memenuhi hajatnya. Oleh karena itu, sebagai permohonan maaf atas perlakuan buruknya, Raja Mesir menghadiahkan kepada Sarah seorang budak yang bernama Hajar. [12]

Diserahkannya Hajar kepada Ibrahim

Disebabkan Sarah tidak juga mampu memberikan anak kepada suaminya, dan ia tidak menghendaki Nabi Ibrahim as tanpa keturunan dan generasi pelanjut, ia pun memberikan budaknya yang bernama Hajar kepada Ibrahim as agar dengan menikahi Hajar, Ibrahim jadi memiliki keturunan. Setelah pernikahan Ibrahim dengan Hajar, lahirlah Ismail. Menurut sebagian riwayat, karena tidak mampu memberikan keturunan untuk Ibrahim, Sarah diliputi kesedihan. [13]

Berita Baik dari Malaikat

Setelah beberapa tahun dari kelahiran Ismail, malaikat mendatangi Sarah yang saat itu berusia 90 tahun untuk memberikan kabar gembira yang ia tidak lama lagi akan hamil dan melahirkan putra bernama Ishak. Mendengar informasi tersebut, Sarah heran dan dengan tertawa berkata, "Bagaimana mungkin seorang perempuan tua dan mandul bisa hamil?" [14] Namun yang disampaikan malaikat tersebut terbukti. Beberapa lama kemudian Sarah hamil dan melahirkan putra yang dinamakan Ishak. [15]

Sarah dalam Alquran

Peristiwa yang berkaitan langsung dengan Sarah disinggung Alquran pada dua tempat. Yaitu pada surah Hud, peristiwa kedatangan malaikat di rumah Ibrahim yang memberikan kabar gembira untuk mereka mengenai akan hamil dan melahirkannya Sarah di usia tua.[16] Dan juga pada surah al-Dzariyat, mengenai percakapan malaikat dengan Sarah, yang membuat Sarah takjub dengan berita yang disampaikan malaikat mengenai akan lahirnya Ishak dari rahimnya. [17]

Penggambaran Buruk Sarah dalam Beberapa Riwayat

Dalam beberapa riwayat yang melaporkan mengenai kehidupan Sarah disebutkan Sarah memiliki sejumlah akhlak dan perangai yang buruk. Pada riwayat-riwayat tersebut disebut Sarah adalah perempuan yang penuh hasad dan memiliki akhlak yang buruk yang karena itu ia mendapat ujian dari Allah swt. [18] Dari riwayat tersebut disebutkan penyebab hasadnya Sarah adalah karena ia mandul sementara Hajar mampu memberikan Nabi Ibrahim as putra bernama Ismail. Sejumlah peneliti, menyebutkan hadis-hadis yang memberikan penggambaran buruk mengenai akhlak Sarah memiliki sanad periwayatan yang lemah sehingga tidak bisa diterima. [19]

Muhaddatsah

Sesuai dengan Alquran dan sejumlah riwayat, Sarah melakukan dialog dan percakapan dengan malaikat, sehingga ia pun termasuk dalam kategori Muhaddatsah, yaitu manusia yang berdialog langsung dengan malaikat. [20] Muhaddats adalah merupakan keutamaan dan fadhilah yang hanya dimiliki oleh para Nabi as, Aimmah Maksum as, Sayidah Zahra sa, Sayidah Maryam sa, Yokebed (ibu Nabi Musa as) dan Sarah. [21]

Pendidikan Anak-anak Syiah

Pada sebagian riwayat disebutkan pendidikan dan pengasuhan anak-anak Syiah dan keturunan kaum Mukminin di alam Barzakh dilakukan oleh Nabi Ibrahim as dan Sarah yang kemudian setelah tiba waktunya diserahkan kepada ayah dan ibunya. [22]

Sarah dalam Taurat

Dalam kitab Taurat disebutkan Sarah adalah saudari tiri Ibrahim yang kemudian melakukan pernikahan dan menjadi suami istri. [23] Sarah yang disebabkan karena mandul, ia menyerahkan budaknya Hajar untuk dinikahi oleh Ibrahim agar Ibrahim memiliki keturunan. Menurut Taurat, setelah beberapa lama Hajar hamil, yang dengan itu ia merasa sombong dan meremehkan Sarah yang mandul. Dengan sikapnya tersebut, Sarah memperlakukan Hajar dengan buruk dan bermaksud mengusirnya dari rumah. [24] Sarah kemudian meminta Nabi Ibrahim as agar Hajar dan Ismail dikeluarkan dari rumah. Atas sikap buruk Sarah tersebut, Nabi Ibrahim as menjadi kecewa, namun Allah swt menenangkan hatinya dan meminta Ibrahim memenuhi keinginan Sarah. [25] Janji Tuhan akan memberikan keturunan kepada Sarah yang akan memperbanyak kaumnya dan menjadikan raja-raja dari keturunan Sarah, adalah diantaranya janji Tuhan yang tertulis dalam kitab Taurat. [26]

Dalam beberapa bagian dari kitab Taurat, disebutkan kepribadian Hajar lebih baik dibandingkan Sarah. [27]

Kematian dan Lokasi Pemakaman

Sarah diriwayatkan meninggal dunia pada usia 127 tahun di kawasan yang bernama Hebron. Setelah Sarah meninggal dunia, Ibrahim as membeli sebuah tempat di Hebron dari penduduk setempat dan menguburkan Sarah di tempat tersebut. [28] Selanjutnya di tempat itu pula dimakamkan Nabi Ibrahim as, Nabi Ishak as dan Nabi Ya'kub as. Dimasa sekarang, tempat pemakaman tersebut dikenal dengan Masjid al-Ibrahimi, kawasan al-Khalil Palestina.

Catatan kaki

  1. al-Hasani al-'Amili, al-Anbiyah Hayatuhum-Qashashhum, hlm. 115
  2. al-Hasani al-'Amili, al-Anbiyah Hayatuhum-Qashashhum, hlm. 115
  3. al-Hasani al-'Amili, al-Anbiyah Hayatuhum-Qashashhum, hlm. 115
  4. Mahallati, Rayahain al-Syari'ah, jld. 5, hlm. 116 dan 117
  5. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 1, hlm. 182-183
  6. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 1, hlm. 183
  7. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 1, hlm. 101; Maqdisi, al-Bada wa al-Tarikh, jld. 1, hlm. 441
  8. Al-Kulaini, al-Kafi, jld. 8, hlm. 370
  9. Daqas, Asynai ba Zanan-e Qur'ani (Mengenal Perempuan-perempuan dalam Alquran), hlm. 110-111
  10. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 1, hlm. 150; Fa'al 'Iraqi, Dastanhai Qur'an wa Tarikh Anbiya dar Al-Mizan (Kisah-kisah Alquran dan Sejarah Anbiyah dalam Al-Mizan), hlm. 368
  11. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 2, hlm. 22-23
  12. Maqdisi, al-Bada wa al-Tarikh, jld. 1, hlm. 441
  13. Maqdisi, al-Bada wa al-Tarikh, jld. 1, hlm. 441-442
  14. Daqas, Asynai ba Zanan-e Qur'ani, hlm. 116-119
  15. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 1, hlm. 187
  16. Qs. Hud: 71-73
  17. Qs. Al-Dzariyat: 29-30
  18. Shaduq, al-Khishal, hlm. 307; Shaduq, Ma'ani al-Akhbar, hlm. 128; Qumi, Tafsir al-Qumi, jld. 1, hlm. 60
  19. Tahami/Farjami, Sarah Hamsar-e Ibrahim dar Qur'an wa Rewayat (Sarah Istri Ibrahim dalam Alquran dan Riwayat), nmr. 43, hlm. 96-120
  20. Murtadha, Sarah Hamsar-e Qahreman-e Tauhid (Sarah Istri Pejuang Tauhid); Hajar, Muhajir Sar Samin-e Tauhid (Hajar, Pengembara di Tanah Tauhid)
  21. Muhaddats Fadhilah ya Wizegih Khas (Muhaddats, Keutamaan atau Pemberian Khusus), Situs Internet al-Tibyan
  22. Shaduq, Man Laa Yahdhuru al-Faqih, jld. 3, hlm. 490; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 5, hlm. 293
  23. Kitab Kejadian, bab 11, ayat 26-31
  24. Kitab Kejadian, bab 16, ayat 1-6
  25. Kitab Kejadian, bab 21, ayat 9-15
  26. Kitab Kejadian, bab 17, ayat 15-16
  27. Nuruni, Ali, Zanan-e Ibrahim dar Riwayat wa Tawarikh Yahudi-Masihi wa Islami, nmr. 36-37, hlm. 121
  28. Ibnu Khaldun, Tarikh, jld. 1, hlm. 36-37

Daftar Pustaka

  • Buruni, Ali. Zanān-e Ibrāhīm dar Riwāyāt wa Tawārīkh Yahūdī, Masihī wa Islāmī. Majalah Tarikh-e Pazuhi. Masyhad: Danesygah Firdausi. No. 36 dan 37, 1387 HS (2009).
  • Daqas, Fuad Hamdu. Āsynāyī ba Zanān-e Qur'ānī. Diterjemahkan oleh Fathimah Haidari. Tehran: Masy'ar, 1389 HS (2011).
  • Fa’al Iraqi, Hasan. Dāstānhā-ye Qur'ān wa Tārīkh-e Anbiyā' dar al-Mīzān. Tehran: Subhan, 1378 HS (2000).
  • Hasani 'Amili, 'Abdush Shahib. Al-Anbiyā' Hayātuhum – Qashashuhum. Beirut: Muassisah al-A'lami li al-Mathbu'at, 2002 M.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad al-Jazari. Al-Kāmil fī At-Tārīkh. Diterjemahkan oleh Abu al-Qasim Halat dan Abbas Khalili. Tehran: Muassisah Mathbu'ati 'Ilmi, 1371 HS (1993).
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad al-Jazari. Al-Kāmil fī At-Tārīkh. Beirut: Dar ash-Shadir, 1385 H.
  • Ibnu Hisyam, As-Sīrah an-Nabawiyyah. Diedit oleh Musthafa as-Saqqa'. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Al-'Ibar: Tārīkh Ibnu Khaldūn. Cet. I. Diterjemahkan oleh Abdul Muhammad Ayati. Muassisah (Pazuhesygah) Muthale'at wa Tahqiqat-e Farhanggi, 1363 HS (1985).
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kāfi. Riset Ali Akbar Ghaffari. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Mahallati, Dzabihullah. Rayāhīn asy-Syarī'ah. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1369 HS (1991).
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār al-Jāmi'ah li Dhurar Akhbār al-Aimmah al-Athhār. Cet. II. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1403 H.
  • Muhaddetse Budan Fazīlat Ast yā Wīzegī-e Khās? . Guruh-e Tarikh wa Sire-ye Ma'shumin Paygah-e Interneti Mu'assise-ye Farhanggi wa Ettela' Resani-ye Tebyan. 1395 HS (2017).
  • Muqaddasi, Muhammad bin Thahir. Al-Bad'u wa at-Tārīkh. Cet. I. Diterjemahkan oleh Muhammad Ridha Syafi'i Kadkani. Tehran: Ogah, 1374 HS (1996).
  • Murtazawi, Sayyid Dhiya’. “Sārah Hamsar-e Qahremān-e Tauhīd; Hājar Muhājer-e Sarzamīn-e Tauhīd”. Majalah Payam-e Zan. No. 85. Qom: Nasyriyat-e Daftar-e Tablighat-e Islami Hauzah Ilmiah Qom. 1378 HS (2000).
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsīr al-Qummī. Riset Sayyid Musawi Jaza’iri. Qom: Dar al-Kitab, 1363 HS (1985).
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih. Man lā Yahdhuruhu al-Faqīh. Cet. II. Riset Ghaffāri. Qom: Entesyarat-e Islami Jami'ah al-Mudarrisin, 1413 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Ma'ānī al-Akhbār. Qom: Daftar-e Entesyarat-e Islami, 1361 HS (1983).
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khisāl. Diedit oleh Ali Akbar Ghaffari. Qom: Entesyarat-e Islami Jami'ah al-Mudarrisin, 1403 H.
  • Tarjume-ye Tafsīrī Ketāb-e Muqaddas. Tehran: Asathir, 1377 HS (2000).
  • Thabari, Muhammad bin Jarir.Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk. Cet. V. Diterjemahkan oleh Abdul Qasim Poyande. Tehran: Asathir, 1375 HS (1997).
  • Tihami, Fathimah Sadat dan A'dzam Farjami. Sārah Hamsar-e Ibrāhīm as dar Qur'ān wa Riwāyāt. Majalah Shahife-ye Mubin. Tehran: Pazuhesykade Quran wa Etrat – Mu'awenat-e Farhanggi Danesygah Azad. No. 43, 1378 HS (1999).