Lompat ke isi

Konsep:Hadits Man Arafa Nafsahu

Dari wikishia
Hadits Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu
Hadits Man Arafa Nafsahu, dengan khat tsuluts jali, karya kaligrafer Turki, Hamid al-Amidi, 1972 M.
Hadits Man Arafa Nafsahu, dengan khat tsuluts jali, karya kaligrafer Turki, Hamid al-Amidi, 1972 M.
TemaMakrifat An-Nafs dan Tuhan
Diriwayatkan dariNabi Muhammad saw dan Imam Ali as
Sumber SyiahMishbah al-Syari'ah, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim
Sumber AhlusunahMathlub Kulli Thalib

Hadits man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu (Bahasa Arab: مَنْ‏ عَرَفَ‏ نَفْسَهُ‏ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ; Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya) adalah salah satu hadits masyhur dalam tradisi Islam yang menekankan pada kemungkinan mengenal Allah melalui pengenalan diri. Hadits ini telah diriwayatkan dalam berbagai bentuk dari Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as dalam sumber-sumber hadits Syiah dan Ahlusunah, meskipun tidak terdapat dalam Kutubul Arba'ah Imamiyah maupun Kutubus Sittah. Sumber-sumber seperti Mishbah al-Syari'ah, Awali al-La'ali, dan Ghurar al-Hikam termasuk di antara karya-karya yang meriwayatkan hadits ini.

Para ulama Muslim telah menyajikan beragam penafsiran mengenai hadits ini. Sebagian menganggapnya mengacu pada pengenalan sifat-sifat Ilahi melalui sifat-sifat manusia; sedemikian rupa sehingga kefakiran dan kebutuhan manusia merupakan tanda dari kekayaan mutlak Allah. Kelompok lain menilai hadits ini sebagai pendukung burhan keteraturan (dalil nazhm) dan meyakini bahwa keteraturan yang menakjubkan dalam keberadaan manusia menunjukkan adanya Pengatur yang Maha Bijaksana. Hadits ini juga memiliki kedudukan khusus dalam irfan Islam dan dikemukakan sebagai salah satu kunci suluk dan pengenalan diri.

Pentingnya dan Kedudukan

Hadits "Man arafa nafsahu" termasuk di antara hadits-hadits masyhur[1] di mana pengenalan diri diperkenalkan sebagai jalan untuk mengenal Allah: "Mَنْ‏ عَرَفَ‏ نَفْسَهُ‏ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ"; artinya barangsiapa mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya. Hadits ini dinukil baik dari Nabi Muhammad saw[2] maupun dari Imam Ali as.[3]

Menurut Mulla Shadra, berdasarkan riwayat, kandungan hadits ini terdapat dalam semua kitab samawi.[4] Selain itu, Allamah Majlisi menukil hadits ini dari suhuf Nabi Idris as.[5] Hadits ini sejak lama telah menjadi perhatian para hakim (filsuf) dan arif.[6]

Kandungan hadits "Man arafa nafsahu" juga terdapat dalam sumber-sumber riwayat serupa lainnya. Sebagai contoh, dalam sebuah hadits dari Nabi saw dinukil bahwa seseorang bernama Mujasyi' bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, apakah jalan untuk mengenal Allah?" dan Nabi saw menjawab: "Mengenal diri."[7] Juga dinukil dari Imam Ali as bahwa beliau bersabda: "Aku heran terhadap orang yang bodoh akan dirinya, bagaimana ia mengenal Tuhannya?".[8] Kandungan ini juga terdapat dalam berbagai sumber lain, di antaranya dalam Amali al-Murtadha karya Sayid Murtadha,[9] Mishbah al-Syari'ah yang dinisbahkan kepada Imam Shadiq as,[10] dan Jami' al-Akhbar karya Tajuddin Syu'airi.[11]

Sanad dan Validitas Hadits "Man Arafa Nafsahu"

Dalam Kutubul Arba'ah Syiah dan Kutubus Sittah Ahlusunah, hadits "Man arafa nafsahu" tidak tercantum, namun hadits ini dinukil dalam sumber-sumber muktabar lainnya dari kedua aliran pemikiran Islam. Hadits ini dalam kitab Mishbah al-Syari'ah dinisbahkan kepada Imam Shadiq as[12] dan dalam Awali al-La'ali al-Aziziyah karya Ibnu Abi Jumhur Ahsai diriwayatkan dari Nabi saw.[13] Selain itu, dalam Mathlub Kulli Thalib karya Jahizh, hadits ini dinisbahkan kepada Imam Ali as.[14] Di samping itu, dalam karya-karya akhlak dan hikmah seperti Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim karya Abul Fatah Amidi[15] dan Uyun al-Hikam wa al-Mawa'izh karya Laitsi Wasithi juga dinukil dari Imam Ali as.[16]

Mengenai validitas hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu", terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syiah dan Ahlusunah. Banyak muhadits Syiah menganggap hadits ini valid dan menukilnya dalam berbagai sumber.[17] Allamah Thabathaba'i dan Jawadi Amuli juga menganggapnya sebagai hadits masyhur.[18] Namun para penulis Ensiklopedia Akidah Islam (Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami) berpendapat bahwa hadits ini tidak memiliki sanad yang bersambung kepada Ahlulbait as dan termasuk jenis hadits murshal; akan tetapi mengingat kandungannya terdapat dalam sebagian ayat Al-Qur'an, tidak diperlukan pemeriksaan sanad dan validitas kontennya dapat dijadikan sandaran.[19] Sebaliknya, sebagian ulama Ahlusunah seperti Suyuthi menilainya tidak sahih[20] dan Ibnu Taimiyah menganggapnya palsu.[21]

Hubungan Hadits dengan Ayat Al-Qur'an

Sejumlah mufasir menganggap hadits "Man arafa nafsahu" bermakna sama atau berkaitan dengan sebagian ayat Al-Qur'an. Sebagai contoh, Allamah Thabathaba'i menilai sebagian ungkapan Al-Qur'an mengacu pada pengenalan diri dan dalam penafsirannya menukil hadits "Man arafa nafsahu". Di antaranya: «عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ» (Jagalah dirimu sendiri) dalam Surah Al-Ma'idah ayat 105[22] «سَنُرِ‌یهِمْ آیاتِنَا...فِی أَنفُسِهِمْ» (Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami... di dalam diri mereka sendiri) dalam Surah Fushshilat ayat 53[23] «وَ فِي الْأَرْضِ آياتٌ لِلْمُوقِنِينَ، وَ فِي أَنْفُسِكُم» (Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri) dalam ayat 20 dan 21 Surah Adz-Dzariyat[24]

Allamah Thabathaba'i menganggap ayat-ayat ini menjelaskan kapasitas manusia untuk mengenal hakikat keberadaan dirinya dan sebagai hasilnya mengenal Allah.[25] Sejalan dengan itu, Mulla Shadra, Allamah Thabathaba'i, dan Jawadi Amuli juga di bawah Surah Al-Hasyr ayat 19 «نَسُوا اللَّـهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ»[26] (Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri), berdalil dengan hadits "Man arafa nafsahu" dan menganggapnya sebagai bukti atas hubungan antara melupakan Allah dan kelalaian terhadap diri sendiri.[27]

Selain itu, Abul Hasan Ali Wahidi, mufasir Ahlusunah abad ke-5/11, juga di bawah Surah Al-Baqarah ayat 130 «وَ مَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْراهيمَ إِلاَّ مَنْ سَفِهَ نَفْسَه» (Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri)[28] mengemukakan hadits "Man arafa nafsahu" dan menganggapnya berkaitan dengan kandungan ayat tersebut.[29]

Penafsiran Hadits

Bagi Hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu", makna dan tafsir yang beragam telah dikemukakan oleh para pemikir Islam.[30] Hasan Hasanzadeh Amuli, pemikir Syiah, menyebutkan lebih dari sembilan puluh makna dan tafsir untuk hadits ini.[31] Mulla Shadra juga menyebut hadits ini sebagai burhan pengenalan diri dan menganggapnya sebagai burhan paling berharga setelah Burhan Shiddiqin untuk membuktikan keberadaan dan mengenal Allah.[32]

Beberapa penafsiran dari hadits ini adalah sebagai berikut:

Kemungkinan Mengenal Sifat Tuhan

Ulama Syiah dan Sunni meyakini bahwa karakteristik manusia bertolak belakang dengan sifat-sifat Ilahi. Oleh karena itu, pengenalan sifat-sifat manusia dapat menjadi jalan untuk mengenal Allah; karena dengan memahami keterbatasan manusia, seseorang dapat mengetahui kesempurnaan Ilahi. Sebagai contoh, dengan mengenal sifat baharu (huduts), mungkin (mumkin), lemah, dan butuh pada manusia, dapat diketahui bahwa Allah secara berturut-turut adalah qadim, Wajib al-Wujud, kuat, dan tidak butuh (Kaya).[33]

Meskipun demikian, Abdullah Jawadi Amuli menganggap tafsir jenis ini dari hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu" dangkal atau tidak tepat dan meyakini bahwa mengenal Allah melalui pengenalan diri harus didasarkan pada hakikat keberadaan manusia dan bukan semata-mata pertentangan sifat.[34]

Dalil atas Burhan Keteraturan

Nashir Makarim Syirazi berpendapat bahwa hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu" mengisyaratkan pada burhan keteraturan (dalil nazhm); karena mengenal keajaiban roh dan tubuh manusia menuntun kita pada keberadaan Allah. Menurutnya, keteraturan yang rumit dan menakjubkan ini tidak mungkin bersumber dari sesuatu selain sumber yang berilmu dan sadar.[35] Sebagian peneliti juga dengan memperhatikan ayat dan riwayat terkait, menganggap tafsir ini sebagai makna hadits yang paling jelas dan mudah dipahami.[36]

Ketidakmampuan Mengenal Tuhan Secara Sempurna

Sekelompok ulama Syiah dan Sunni dalam menjelaskan makna hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu", mengemukakan kemungkinan ini bahwa maksud riwayat adalah: Karena manusia tidak mampu mengenal hakikat dirinya secara sempurna, maka mencapai pengenalan sempurna akan hakikat Allah juga akan mustahil baginya.[37] Allamah Thabathaba'i menganggap pemahaman ini bertentangan dengan ayat dan riwayat yang memperkenalkan pengenalan diri sebagai pendahuluan bagi pengenalan Tuhan dan menekankan pada kemungkinan pengenalan relatif terhadap Allah melalui pengenalan diri.[38]

Muhammad Taqi Majlisi juga setelah mengisyaratkan pada makna ini, menganggapnya sejalan dengan bait-bait syair Sanai Ghaznawi yang kandungannya menunjukkan ketidakmampuan manusia dalam mengenal hakikat dirinya dan Tuhan.[39] Templat:Sajak

Terbukanya Mata Hati dengan Suluk

Pengenalan diri dapat ditafsirkan dalam dua bentuk. Terkadang pengenalan diri berbentuk konseptual dan argumentatif serta diperoleh melalui analisis akal; dalam keadaan ini, manusia mencapai pemahaman husuli (konseptual) tentang Tuhan. Terkadang pula pengenalan diri berbentuk eksistensial dan syuhudi (penyaksian) yang diperoleh melalui suluk irfani dan berujung pada pemahaman hudhuri (kehadiran) tentang Allah. Hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu" dapat dianggap mengacu pada kedua makna tersebut; namun menurut Abdullah Jawadi Amuli, tafsir hadits berdasarkan makna kedua yakni pengenalan diri eksistensial dan syuhudi, lebih dalam dan lebih teliti daripada tafsir konseptualnya.[40]

Pembuktian Tajarrud Nafs

Salah satu cabang yang didasarkan pada prinsip kausalitas adalah prinsip keselarasan (sanxiyat). Berdasarkan prinsip ini, setiap akibat muncul dari sebab yang selaras dengannya. Oleh karena itu, karena jiwa manusia—sebagai akibat—dalam maqam dzatnya adalah mujarrad (terlepas) dari materi, maka sebab yang mewujudkannya juga haruslah sesuatu yang mujarrad dan non-materi. Berdasarkan argumen ini, salah satu sifat Tuhan yaitu non-jasmani dan tajarrad (keterlepasan dari materi), dapat dikenal. Dan karena tajarrad dari materi adalah karakteristik dzat Ilahi, pembuktian sifat ini juga berujung pada pembuktian prinsip keberadaan Allah. Inilah poin yang ditekankan oleh hadits "Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu": Mengenal hakikat jiwa adalah jalan untuk mengenal Allah.[41]

Monograf

Karya-karya independen telah ditulis dalam syarah dan tafsir hadits "Man arafa nafsahu".[42] Mahdi Mahrizi, peneliti hadits Syiah, selain syarah-syarah yang terdapat dalam berbagai kitab, telah mendata 26 syarah independen untuk hadits ini.[43] Di antara karya-karya tersebut dapat disebutkan:

  • "Ar-Risalah al-Wujudiyyah fi Ma'na Qaulihi saw: Man Arafa Nafsahu Faqad Arafa Rabbahu" karya Muhyiddin Arabi.[44]
  • "Syarh Hadits Man Arafa Nafsahu" karya Muhammad Ghazali.[45]
  • "Mir'at al-Muhaqqiqin dar Ma'na-ye Man Arafa Nafsahu" karya Syekh Mahmud Syabistari.[46]

Catatan Kaki

  1. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 169; Jawadi Amuli, Tauhid dar Quran, 1395 HS, hlm. 181.
  2. Ja'far bin Muhammad (dinisbahkan), Mishbah al-Syari'ah, 1400 H, hlm. 13; Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 4, hlm. 102; Fakhrurrazi, Tafsir Kabir, 1420 H, jld. 1, hlm. 91, jld. 9, hlm. 460 dan jld. 30, hlm. 721.
  3. Jahizh, Mathlub Kulli Thalib, 1374 HS, hlm. 71; Tamimi Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 588; Laitsi Wasithi, Uyun al-Hikam wa al-Mawa'izh, 1376 HS, hlm. 430; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 20, hlm. 292 (Ibnu Abi al-Hadid menukil hadits ini dalam hikmah-hikmah yang dinisbahkan kepada Imam Ali (as)).
  4. Lihat: Mulla Shadra, Asrar al-Ayat, 1360 HS, hlm. 133.
  5. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 92, hlm. 456.
  6. Mahrizi, "Syarh-e Hadits-e Man Arafa Nafsahu", hlm. 144.
  7. Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 1, hlm. 246.
  8. Tamimi Amidi, Ghurar al-Hikam, 1410 H, hlm. 461; Laitsi Wasithi, Uyun al-Hikam wa al-Mawa'izh, 1376 HS, hlm. 329.
  9. Sayid Murtadha, Amali al-Murtadha, 1998 M, jld. 1, hlm. 274.
  10. Ja'far bin Muhammad (dinisbahkan), Mishbah al-Syari'ah, 1400 H, hlm. 13.
  11. Syu'airi, Jami' al-Akhbar, Penerbit Haidariyah, hlm. 4.
  12. Mishbah al-Syari'ah, 1400 H, hlm. 13.
  13. Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 4, hlm. 102.
  14. Jahizh, Mathlub Kulli Thalib, 1374 HS, hlm. 71; Ibnu Maitsam Bahrani, Syarh bar Sad Kalameh Amiralmukminin, 1375 HS, hlm. 103 dan 326.
  15. Tamimi Amidi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, 1410 H, hlm. 588.
  16. Laitsi Wasithi, Uyun al-Hikam wa al-Mawa'izh, 1376 HS, hlm. 430.
  17. Muhammadi Raysyahri dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, 1386 HS, jld. 4, hlm. 149–150.
  18. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 169; Jawadi Amuli, Tauhid dar Quran, 1395 HS, hlm. 181.
  19. Muhammadi Raysyahri dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, 1386 HS, jld. 4, hlm. 149–150.
  20. Sam'ani, Qawathi' al-Adillah, 1418 H, jld. 2, hlm. 60; Nawawi, Fatawa an-Nawawi, 1417 H, hlm. 248; Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi, 1424 H, jld. 2, hlm. 288.
  21. Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, 1416 H, jld. 16, hlm. 349.
  22. Surah Al-Ma'idah, ayat 105.
  23. Surah Fushshilat, ayat 53.
  24. Surah Adz-Dzariyat, ayat 20 dan 21.
  25. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 165–170.
  26. Surah Al-Hasyr, ayat 19.
  27. Mulla Shadra, Asrar al-Ayat, 1360 HS, hlm. 163; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 165; Jawadi Amuli, Tauhid dar Quran, 1395 HS, hlm. 145 dan 181.
  28. Surah Al-Baqarah, ayat 130.
  29. Wahidi, al-Wasith, 1416 H, jld. 1, hlm. 198.
  30. Sebagai contoh lihat: Majlisi, Lawami' Shahibqarani, 1414 H, jld. 1, hlm. 115–119; Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi, 1424 H, jld. 2, hlm. 288–291.
  31. Hasanzadeh Amuli, Hazar wa Yek Kalameh, 1381 HS, jld. 3, hlm. 200–216.
  32. Mulla Shadra, asy-Syawahid ar-Rububiyyah, 1360 HS, hlm. 46.
  33. Mengenai ulama Syiah lihat: Ibnu Maitsam Bahrani, Syarh bar Sad Kalameh Amiralmukminin, 1375 HS, hlm. 326–327 (Syarah Abdul Wahhab); Majlisi, Lawami' Shahibqarani, 1414 H, jld. 1, hlm. 118–119; Allamah Majlisi, Mir'at al-Uqul, 1404 H, jld. 9, hlm. 257; Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 HS, jld. 3, hlm. 30. Mengenai ulama Ahlusunah lihat: Wahidi, al-Wasith, 1416 H, jld. 1, hlm. 198; Fakhrurrazi, Tafsir Kabir, 1420 H, jld. 1, hlm. 91 dan jld. 9, hlm. 460; Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, 1416 H, jld. 9, hlm. 297; Nawawi, Fatawa an-Nawawi, 1417 H, hlm. 248; Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi, 1424 H, jld. 2, hlm. 290.
  34. Jawadi Amuli, Tauhid dar Quran, 1395 HS, hlm. 147.
  35. Makarim Syirazi, Akhlaq dar Quran, 1377 HS, jld. 1, hlm. 328.
  36. Muhammadi Raysyahri dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, 1386 HS, jld. 4, hlm. 155.
  37. Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, 1416 H, jld. 9, hlm. 298; Suyuthi, al-Hawi lil-Fatawi, 1424 H, jld. 2, hlm. 290; Mazandarani, Syarh al-Kafi, 1382 HS, jld. 4, hlm. 153–154 dan jld. 6, hlm. 61.
  38. Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, 1417 H, jld. 6, hlm. 169–170.
  39. Majlisi, Lawami' Shahibqarani, 1414 H, jld. 1, hlm. 118.
  40. Jawadi Amuli, Tauhid dar Quran, 1395 HS, hlm. 145–150.
  41. Mulla Shadra, al-Hikmah al-Muta'aliyah, 1981 M, jld. 8, hlm. 305; Catatan kaki Mulla Hadi Sabzawari.
  42. Lihat: Muhammadi Raysyahri dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, 1386 HS, jld. 4, hlm. 151–153.
  43. Mahrizi, "Syarh-e Hadits-e Man Arafa Nafsahu", hlm. 144.
  44. Hasanzadeh Amuli, Hazar wa Yek Kalameh, 1381 HS, jld. 3, hlm. 197.
  45. Muhammadi Raysyahri dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, 1386 HS, jld. 4, hlm. 153.
  46. Muhammadi Raysyahri dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, 1386 HS, jld. 4, hlm. 152.

Daftar Pustaka

  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Beirut, Muassasah al-Wafa, 1403 H.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir, Mir'at al-Uqul fi Syarh Akhbar Ali ar-Rasul, Tahkik dan koreksi: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1404 H.
  • Baghawi, Husain bin Mas'ud, Tafsir al-Baghawi (Ma'alim at-Tanzil), Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, cetakan pertama, 1420 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar, at-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib), Beirut, Dar Ihya at-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
  • Hasanzadeh Amuli, Hasan, Hazar wa Yek Kalameh, Qom, Daftar Tablighat Eslami, cetakan kedua, 1381 HS.
  • Ilah Badasyti, Ali, "Barresi wa Tahlil-e Hadits-e Talazum-e Ma'refat-e Nafs wa Ma'refat-e Rabb az Didgah-e Aleman-e Syi'eh", Faslnameh Jostarhaye dar Falsafeh wa Kalam, no. 88, Musim Semi dan Panas 1391 HS.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah, Syarh Nahj al-Balaghah, Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
  • Ibnu Abi Jumhur, Muhammad bin Zainuddin, Awali al-La'ali al-Aziziyah fi al-Ahadits ad-Diniyyah, Qom, Dar Sayidisy-Syuhada, cetakan pertama, 1405 H.
  • Ibnu Hajar Haitami, Ahmad bin Muhammad, al-Fatawa al-Haditsiyyah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun.
  • Ibnu Maitsam Bahrani, Maitsam bin Ali, Syarh bar Sad Kalameh Amiralmukminin, Penerjemah: Abbasquli Khan Qazwini, Korektor: Mir Jalaluddin Muhaddits Urumawi, Tehran, Muassasah Intisharat-e Elmi wa Farhangi, 1375 HS.
  • Ibnu Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim, Majmu' al-Fatawa, Tahkik: Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim, Madinah Munawwarah, Majma' Malik Fahd, 1416 H.
  • Ja'far bin Muhammad (Dinisbahkan), Mishbah al-Syari'ah, Beirut, A'lami, cetakan pertama, 1400 H.
  • Jahizh, Amr bin Bahr, Mathlub Kulli Thalib, Syarah dan tafsir: Rasyiduddin Wathwath, Koreksi: Mahmud Abedi, Tehran, Bunyad Nahj al-Balaghah, 1374 HS.
  • Jawadi Amuli, Abdullah, Tauhid dar Quran (Tafsir-e Mawdhu'i-ye Quran, jld. 2), Tahkik dan penyusunan: Haidar Ali Ayyubi, Qom, Nashr-e Asra, cetakan kedelapan, 1395 HS.
  • Khawarizmi, Muwaffaq bin Ahmad, Manaqib, Tahkik: Syekh Malik Mahmudi, Qom, Markaz Nashr-e Eslami (Jamiah Mudarrisin), cetakan kedua, 1411 H.
  • Laitsi Wasithi, Ali bin Muhammad, Uyun al-Hikam wa al-Mawa'izh, Qom, Dar al-Hadits, cetakan pertama, 1376 HS.
  • Mahrizi, Mahdi, "Syarh-e Hadits-e Man Arafa Nafsahu", dalam Mirats-e Hadits-e Syi'eh, Buku pertama, diupayakan oleh: Mahdi Mahrizi dan Ali Shadra'i Khu'i, Muassasah Farhangi Dar al-Hadits, Qom, 1377 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Akhlaq dar Quran, Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), cetakan pertama, 1377 HS.
  • Mazandarani, Muhammad Shalih bin Ahmad, Syarh al-Kafi (al-Ushul wa ar-Raudhah), Tahkik dan koreksi: Abul Hasan Sya'rani, Tehran, al-Maktabah al-Islamiyah, cetakan pertama, 1382 HS.
  • Majlisi, Muhammad Taqi, Lawami' Shahibqarani (Syarh-e Faqih), Qom, Muassasah Ismailiyan, cetakan kedua, 1414 H.
  • Muhammadi Raysyahri, Muhammad dkk, Daneshnameh-ye Aqaid-e Eslami, Penerjemah: Kelompok penerjemah, Qom, Dar al-Hadits, 1386 HS.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim, al-Hikmah al-Muta'aliyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba'ah, Beirut, Dar Ihya at-Turats, cetakan ketiga, 1981 M.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim, Asrar al-Ayat, Tehran, Anjuman-e Hekmat wa Falsafeh, 1360 HS.
  • Mulla Shadra, Muhammad bin Ibrahim, asy-Syawahid ar-Rububiyyah, Koreksi: Jalaluddin Asytiani, Tehran, Markaz Nashr-e Daneshgahi, 1360 HS.
  • Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syaraf, Fatawa an-Nawawi (al-Masa'il al-Mantsurah), Tahkik dan taklik: Muhammad Hajjar, Beirut, Dar al-Basya'ir al-Islamiyah, cetakan keenam, 1417 H-1996 M.
  • Qari, Mulla Ali, al-Asrar al-Marfu'ah fi al-Akhbar al-Maudhu'ah, Tahkik: Muhammad Shabbagh, Beirut, Dar al-Amanah - Muassasah ar-Risalah, tanpa tahun.
  • Safiri, Syamsuddin, Syarh al-Bukhari (al-Majalis al-Wa'zhiyyah fi Syarh Ahadits Khair al-Bariyyah shaw), Tahkik: Ahmad Fathi Abdurrahman, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1425 H.
  • Sam'ani, Abu Muzhaffar Manshur bin Muhammad, Qawathi' al-Adillah fi al-Ushul, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1418 H.
  • Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Amali al-Murtadha, Kairo, Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1998 M.
  • Suyuthi, Jalaluddin, al-Hawi lil-Fatawi, Beirut, Dar al-Fikr, 1424 H.
  • Syu'airi, Muhammad bin Muhammad, Jami' al-Akhbar, Penerbit Haidariyah, Najaf, cetakan pertama, tanpa tahun.
  • Tamimi Amidi, Abdul Wahid bin Muhammad, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kalim, Tahkik dan koreksi: Sayid Mahdi Raja'i, Qom, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan kedua, 1410 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Beirut, Muassasah A'lami, cetakan kedua, 1390 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Qom, Daftar Intisharat-e Eslami Jame'ah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom, cetakan kelima, 1417 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Terjemahan Tafsir al-Mizan, Penerjemah: Sayid Muhammad Baqir Musawi, Qom, Daftar Intisharat-e Eslami, cetakan kelima, 1374 HS.
  • Wahidi, Ali bin Ahmad, al-Wasith fi Tafsir al-Quran al-Majid, Tahkik: Muhammad Hasan Abul Azm Zafiti, Kairo, Wizarah al-Auqaf, cetakan pertama, 1416 H.