Lompat ke isi

Konsep:Inqitha' al-Wahy

Dari wikishia

Inqitha' al-Wahy atau Fatrat al-Wahy,[1] adalah periode-periode dalam kehidupan Nabi Islam (saw) di mana wahyu tidak diturunkan kepada beliau.[2] Berdasarkan penukilan para sejarawan, hal ini menimbulkan kekhawatiran di dalam hati Nabi (saw) dan orang-orang di sekitarnya.[3] Berbagai sumber menyebutkan durasi periode ini mulai dari dua belas hari hingga tiga tahun.[4] Masa ini diingat sebagai salah satu periode tersulit dalam kehidupan Nabi (saw),[5] saat orang-orang mulai berprasangka buruk dan kaum musyrik melakukan olok-olokan serta penganiayaan terhadap Nabi (saw).[6] Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada masa ini, meskipun hubungan Jibril dengan Nabi (saw) terputus, Israfil menyertai beliau.[7]

Mengenai waktu dan jumlah frekuensi terputusnya wahyu juga terdapat berbagai pendapat:[8]

Awal Bi'thah: Para mufasir meyakini bahwa setelah dimulainya bi'tsah Nabi (saw), terjadi penundaan dalam penurunan Al-Qur'an untuk periode yang singkat, yang disebut sebagai "Fatrat al-Wahy".[9] Sekelompok orang menganggap periode ini berakhir dengan turunnya kelanjutan ayat-ayat Surah Al-Alaq,[10] sementara kelompok lain menganggapnya berakhir dengan turunnya Surah Ad-Duha.[11]

Kasus Lainnya:

  • Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada tahun ketujuh bi'tsah, orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi (saw) tentang ruh, Zulkarnain, dan Ashabulkahfi, dan Nabi (saw) menyatakan bahwa beliau akan memberikan jawaban esok hari. Namun wahyu tidak turun selama lima belas hari, kemudian setelah itu Surah Al-Kahf diturunkan.[12]
  • Dalam peristiwa Perubahan Kiblat, Nabi (saw) menengadahkan mata ke langit untuk waktu yang cukup lama menunggu ayat-ayat terkait perubahan kiblat diturunkan. Penurunan ini terjadi setelah satu setengah tahun.[13]
  • Dalam Peristiwa Ifk, di mana Aisyah dituduh dengan tuduhan palsu, memakan waktu lebih dari sebulan hingga ayat-ayat pembebasannya diturunkan.[14]

Catatan Kaki

  1. Bahadori, "Fatrat al-Wahy", hlm. 52.
  2. Ramyar, Tarikh-e Qur'an, 1369 HS, hlm. 73.
  3. Ramyar, Tarikh-e Qur'an, 1369 HS, hlm. 73.
  4. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 96; Ramyar, Tarikh-e Qur'an, 1369 HS, hlm. 72.
  5. Ansari, Mas'ud, "Fatrat al-Wahy", hlm. 1545.
  6. Tabari, Tarikh, 1403 H, jld. 2, hlm. 52.
  7. Ma'rifat, al-Tamhid, 1417 H, hlm. 67.
  8. Ma'rifat, Tarikh-e Qur'an, 1383 HS, hlm. 33.
  9. Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 27, hlm. 96.
  10. Ma'rifat, Tarikh-e Qur'an, 1383 HS, hlm. 33.
  11. Ansari, Mas'ud, "Fatrat al-Wahy", hlm. 1545.
  12. Nekoonam, "Pezhuhesyi dar-bare-ye Fatrat al-Wahy", hlm. 97.
  13. Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 1, hlm. 141, dikutip dari Bahadori, Fatrat al-Wahy, hlm. 57.
  14. Ramyar, Tarikh-e Qur'an, 1369 HS, hlm. 76.

Daftar Pustaka

  • Ansari, Mas'ud. "Fatrat al-Wahy". Dalam Majmu'e Maqalat-e Danisy-nameh Qur'an. Teheran: Nasyre Dustan, 1377 HS.
  • Bahadori, Atena. "Fatrat al-Wahy ya Thabi'at al-Wahy". Jurnal Hadits wa Andisye, nomor 3, Musim Semi dan Musim Panas 1386 HS.
  • Farhang-nameh Ulum-e Qur'ani. Teheran: Pezhuhesy-gah Ulum wa Farhang-e Eslami, 1394 HS.
  • Ma'rifat, Mohammad Hadi. Tarikh-e Qur'an. Teheran: Penerbit Samt, 1383 HS.
  • Ma'rifat, Mohammad Hadi. Talkhis al-Tamhid. Qom: Muasasah al-Nasyr al-Islami, 1417 H.
  • Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh. Qom: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
  • Nekoonam, Jafar. "Pezhuhesyi dar-bare-ye Fatrat al-Wahy". Jurnal Shahifeh Mobin, nomor 27 dan 28, Musim Gugur dan Musim Dingin 1381 HS.
  • Ramyar, Mahmoud. Tarikh-e Qur'an. Teheran: Muasasah Entesyarat Amirkabir, 1369 HS.
  • Tabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh-e Tabari. Beirut: A'lami, 1403 H.