Prioritas: c, Kualitas: c

Jahiliyah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Jahiliyah (bahasa Arab:الجاهلیة), sebuah terminologi Al-Quran dan hadis tentang bentuk dari karakteristik perilaku, moral, dan doktrin akidah pada satu periode sejarah sebelum Islam di semenanjung Jaziarah Arab. Jahl atau kebodaohan serta derivasi-derivasinya juga digunakan dalam syair-syair Arab sebelum Islam. Makna jahl di era Jahiliyah lebih banyak menyoroti pada perilaku, bukan lawan dari ilmu dan pengetahuan; macam sebuah keangkuhan dalam perilaku dan jiwa sombong dan takabur, yang tidak mau tunduk di hadapan segala kekuatan, baik itu manusia ataupun Ilahi, baik itu benar ataupun salah.

Dari sejumlah hadis ditunjukkan bahwa Rasulullah saw dan para Imam as memanfaatkan dari segala kesempatan yang ada untuk meluruskan pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan jahiliyah dan kebodohan. Terkadang dasar dan asasnya, yakni fanatisme jahiliyah mereka salahkan dan terkadang manifestasi dan esensinya mereka jelaskan dan kemudian mengkritiknya.

Dalam sebagian riwayat, ketidakadanya pengetahuan seseorang akan imamah, sama dengan jahiliyah dan ditegaskan bahwa orang seperti ini jika ia mati, bagaikan matinya bagaikan matinya orang-orang jahiliyah, karena tidak berada di bawah ketaatan imam pada masanya dan sama sekali tidak mengikuti sebuah perkara yang benar. Kandungan ini juga dimuat dalam sejumlah do’a.

Secara Bahasa

Kata al-Jahiliyyah diambil dari kata Ja Ha La, gabungan dari partisipel al-Jâhil dan imbuhan/akhiran Iyyah (یّة), yang menunjukkan pada kata benda bermakna atau kata benda jamak. [1]

Dalam Al-Quran

Kata Jahiliyah digunakan sebanyak empat kali dalam surah-surah Madaniah al-Quran, seperti dalam kalimat "Dzanna al-Jahiliyyah"[2], "Hukmal Jahiliyyah"[3], "Tabarrujal Jahiliyyah"[4], dan "Hamiyyatal Jahiliyyah"[5] dan dalam empat hal tersebut disertai dengan cemoohan. Nada cemoohan ini, demikian juga terlihat dalam sebagian ayat-ayat lain yang dikemukakan dalam derivasi lainnya kata "jahl", seperti "Tajhalûna"[6], "Jahilûna"[7], dan "Jahilȋna"[8]. Umumnya dapat dikatakan, bahwa al-Quran memperhatikan sebuah periode khusus sejarah Arab di semenanjung Arab sebelum Islam dan sangat mengkritisi kriteria moralnya. Sejatinya, al-Quran menamai periode ini dengan jahiliyah dikarenakan munculnya kriteria kebodohan dalam moral dan perilaku masyarkatnya dan setelah itu nama ini disematkan untuk masa tersebut.

Surah Ali Imran ayat 154

Dalam surah Ali Imran ayat 154 "Yadzunnuna billahi Ghairal Haqqi Zhannal Jahiliyyah", sebagian orang dicela dikarenakan sangkaan keliru kepada Allah. Thabari[9] menyebut kelompok ini sebagai orang-orang munafik yang meragukan perbuatan Allah dan rasul-Nya. Syaikh Thabarsi[10] menganggap "Zhannal Jahiliyyah" adalah sangkaan kaum munafikin, yang mana Allah tidak akan menolong Rasulullah Saw dan para sahabat beliau.

Dengan demikian, ia menuturkan dua makna untuk kalimat ini: yang pertama keyakinan orang-orang munafik tentang Allah seperti keyakinan masa jahiliyah dan yang lainnya adalah sangkaan mereka seperti sangkaan orang-orang jahiliyah (yakni, orang-orang kafir dan para pengingkar terealisasinya janji-janji Allah). [11] Namun menurut Allamah Thabathabai[12], maksud dari Zhannal Jahiliyyah adalah sangkaan sebagian orang yang beranggapan dikarenakan telah memeluk Islam, maka dipastikan harus menang dalam pertempuran dan wajib bagi Allah berdasarkan janji-Nya, dengan tanpa syarat apapun, akan menolong agama-Nya dan para penganutnya. Sangkaan ini adalah salah dan jahiliyah, karena Arab Jahiliyah meyakini akan jenis-jenis Tuhan dan dengan demikian, mereka berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw termasuk juga jenis Tuhan, yang dimandati perihal kemenangan dan ghanimah dan dengan demikian, Nabi tidak akan pernah dikalahkan atau terbunuh.

Surah Al-Maidah ayat 50

Dalam surah Al-Maidah ayat 50, "Afahukmal Jahiliiyati Yabghuna", “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki”, maksud dari kata Hukmal Jahiliyyah adalah sejenis hukum dan keputusan (ketetapan) masyarakat jahiliyah. Dan untuk ayat ini dituturkan ada dua alasan:

  1. Menurut alasan pertama, sebab diturunkannya ayat ini adalah Bani Quraidhah dan Bani Nadhir menjadikan Rasulullah Saw sebagai pengambil keputusan (hukum) dalam sebuah konflik yang terjadi antara mereka dan ketika Nabi Saw memberikan keputusan yang adil kepada mereka, lantas Bani Nadhir tidak senang dan tidak menerima keputusan (hukum) Nabi, lantas turunlah ayat ini.
  2. Menurut pendapat kedua, sejatinya mereka menghendaki Rasulullah Saw seperti masa jahiliyah, agar memberikan perbedaan antara orang-orang yang terbunuh dari dua kabilah tersebut. Ayat tersebut mengacu pada makian Yahudi, meski dirinya adalah pemilik kitab dan ilmu, dalam memberikan keputusan dan penghakiman menggunakan sejenis penghakiman orang-orang jahiliyah, yang tidak berlandaskan pada wahyu dan kitab manapun dan memiliki akar dalam kebodohan dan hawa nafsu. [13] Dengan demikian ayat ini mencakup setiap orang yang meminta sebuah hukum selain dari hukum Allah. [14] Allamah Thabathabai[15] juga berdasarkan sebuah hadis dari Imam Shadiq As[16]

Dan demikian juga, adanya kontradiksi dua jenis "istifham taubikhi" (pertanyaan untuk mengingkari) dan pengingkaran yang ada dalam ayat, mengambil kesimpulan bahwa hukum tidak keluar dari dua kemungkinan: hukum Allah atau hukum jahiliyah.

Surah Al-Ahzab ayat 33

Dalam surah Al-Ahzab ayat 33, "Wa la Tabarrajna Tabarrujal Jahilliyyah al-Ûlâ", “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” para istri nabi – dan para mukminah lainnya – dilarang untuk bersolek seperti cara orang-orang jahiliyyah. Maksud dari "Tabarrjulal Jahiliyyah" dalam surah ini adalah kecongkakan dan kepongahan mereka dalam berjalan dan menampakkan perhiasan-perhiasan mereka untuk kaum lelaki, seperti para wanita jahiliyah. [17]

Terdapat perbedaan pendapat terkait maksud dari kalimat "al-Jahiliyyah al-Ûlâ" yang ada dalam ayat ini. Sebagian mereka berpendapat tentang sebuah periode masa dan dalam penentuan esensinya mereka menyebutkan pelbagai jenjang, seperti masa antara Nabi Adam dan Nuh, antara Nabi Nuh dan Idris, dan antara Nabi Isa dan Rasulullah Saw. [18] Menurut Thabari[19], maksud dari "al-Jahiliyyah al- Ûlâ" adalah jahiliyah sebelum Islam, yakni masa Nabi Adam sampai Nabi Isa. Adapun jahiliyah sebelum Islam disebut dengan jahiliyah Ûlâ karena setelah munculnya Islam juga terdapat sejenis moral jahiliyah dalam masyarakat muslim, sebagaimana sebagian riwayat dan hadis telah mengisyaratkan hal ini. [20]

Zamakhsyari[21] berpendapat bahwa maksud dari "Jahiliyah al-Ûlâ" adalah kufur sebelum Islam, lawan kata al-Jahiliyah al-Ukhrâ, yaitu kefasikan dan kemaksiatan pasca Islam, namun sebaliknya dikatakan[22] bahwa al-Ûla di sini bukanlah kebalikan dari Ukhrâ, namun maksud dari kalimat jahiliyah al-Ûla adalah jahiliyah yang dahulu.

Surah Al-Fath ayat 26

Dalam surah Al-Fath ayat 26, "Idz Ja’alal Ladzina Kafaru fi Qulubihimul Hamiyyah Hamiyyataal Jahiliyyah", “Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah” dikatakan bahwa maksud dari "Hamiyyat al-Jahiliyyah" adalah fanatisme Arab jahiliyah kepada Tuhan-Tuhan mereka, yang menyebabkan keengganan untuk menyembah selainnya; yakni sejenis arogansi yang mencegah segala bentuk ketundukan dan kepatuhan. Maksud "Hamiyyat Jahiliyah" juga diartikan ketundukan masyarakat akan pengakuan terhadap risalah Rasulullah Saw. [23] Menurut Fakhrur Razi[24] , Hamiyyah itu sendiri adalah sebuah sifat tercela dan penghubungannya dengan jahiliyah semakin menambah keburukannya.

Norma, Adab dan Tradisi Jahiliyah Lainnya

Selain itu, sebagian keyakinan, tradisi dan adat serta ritual-ritual Arab jahiliyah juga dikritik dalam al-Quran. Sebagian manifestasi riil jahiliyah dimana al-Quran secara gamblang mengatakan atau mengisyaratkan adalah: syirik, tidak berbuat baik kepada orang tua, membunuh anak-anak karena takut miskin,[25] zina,[26] memaksa para hamba sahaya untuk berzina, [27] mengubur anak perempuan hidup-hidup, [28] penyelewengan, [29] riba[30] pelecehan wanita, [31] berjudi, azlam, (mengundi nasib dengan menggunakan panah) [32] mengkultuskan sebagian hewan seperti bahirah (onta). [33]

Dalam Hadis

Dalam sebagian hadis dikemukakan sejumlah sifat dan beragam pembahasan tentang jahiliyah, manifestasi serta esensi-esensinya. Penggunaan khusus kata jahiliyah dalam hadis-hadis ini menunjukkan bahwa kata ini dari awal era Islam adalah sebuah istilah yang marak untuk menjelaskan bentuk moral dan perilaku serta tradisi religi sebelum pengutusan Rasulullah Saw.

Dari sebagian khotbah Imam Ali As dalam Nahjul Balaghah[34] disebutkan bahwa Arab pada masa jahiliyah, selain makanan dan minuman mereka tidak lezat, juga tidak memiliki keyakinan religi yang benar dan hubungan kekerabatan dan sosial yang tepat dan secara keseluruhan kehidupan individu dan sosial. Sifat-sifat semacam ini juga dikemukakan dalam ucapan-ucapan Ja'far bin Abi Thalib, pemimpin kaum muhajirin muslim ke Habasyah di hadapan raja Etiopia. [35] Khotbah tersohor Sayidah Zahra di Masjid Nabawi juga mengisyaratkan akan makna ini. [36]

Sebagian riwayat menunjukkan bahwa sahabat Rasulullah Saw menilik budaya masa jahiliyah dan kehidupannya serta mengingat kenangan-kenangan pada masa tersebut. [37] Dalam sebagian hal, Rasulullah Saw mendengarkan ucapan mereka dan terkadang Nabi tersenyum. [38] Dalam sebagian tempat juga Rasulullah Saw bersabda, pengetahuan tentang realita dan syair-syair pada masa jahiliyah adalah sebuah ilmu (pengetahuan) yang saat mengetahuinya tidak mendatangkan manfaat, dan tidak berbahaya jika tidak mengetahuinya. [39]

Termasuk masalah penting bagi para sahabat yang sering kali ditanyakan oleh baginda Rasul Saw adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan pada masa jahiliyah dan nabi dalam menjawab mengatakan, jika kalian menemukan Islam dan iman yang sahih, maka kalian tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan-perbuatan pada masa jahiliyah, jika tidak demikian maka kalian akan dimintai pertanggung jawaban selain perbuatan-perbuatan pada masa jahiliyah, juga pada masa-masa setelah Islam. [40] Terkadang para sahabat bertanya kepadanya tentang sejumlah nazar dan perjanjian-perjanjian yang dilakukan pada masa jahiliyah dan Nabi Saw terkadang menegaskan atas penepatan janji perjanjian tersebut. [41]

Reformisme Pemikiran Jahiliyah oleh Ahlulbait

Dari sejumlah hadis menunjukkan bahwa Rasulullah Saw dan para imam menggunakan setiap kesempatan untuk meluruskan pemikiran dan perbuatan-perbuatan jahiliyah dan kejahiliyahan. Terkadang menyalahkan dasar dan asasnya, yakni fanatisme jahiliyah dan terkadang menjelaskan manifestasi dan esensinya dan kemudian mengkritiknya.

Menurut sebuah hadis, Rasulullah Saw menyebut Islam sebagai perendah orang-orang yang beranggapan mulia pada masa jahiliyah dan memuliakan orang-orang yang hina pada masa jahiliyah dan menegaskan bahwa Allah menjadikan Islam sebagai sumber penghilang arogansi dan kebanggaan jahiliyah atas kabilah dan nasab. [42] Menurut hadis lain dari Nabi Saw, seseorang yang dalam hatinya memiliki fanatisme jahiliyah seukuran partikel kecil pada hari kiamat kelak ia akan dibangkitkan bersama orang-orang Arab jahiliyah. [43] Dalam beberapa hal Nabi juga menghardik dan mencerca sebagian para sahabatnya dikarenakan memiliki bentuk perilaku-perilaku jahiliyah. [44]

Rasulullah Saw sangat memusuhi kebodohan. Nabi mengganti dua hari, yang mereka adakan perayaan dan pesta pada masa jahiliyah, dengan dua hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. [45] Demikian juga, nama seseorang yang pada masa jahiliyah adalah mulia, yang menunjukkan sejenis arogansi dan kepongahan jahiliyah, Nabi menggantinya menjadi Abdur Rahman. [46] Imam Ali As juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak terjerumus dalam kubang kebodohan dan fanatisme jahiliyah dan memperkenalkan setan sebagai manifestasinya. [47]

Dalam sebagian hadis, sebagian perbuatan dan tindakan yang dikerjakan oleh kaum muslim dianggap sebagai misdaq budaya jahiliyah. Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Sajjad As, fanatisme tercela jahiliyah berartikan bahwa seseorang menganggap orang-orang hina kaumnya lebih baik dari orang-orang baik kaumnya dan membantu mereka dalam perbuatan-perbuatan lalim. [48] Demikian juga, dalam sejumlah hadis dikemukakan bahwa peminum minuman keras, salatnya tidak diterima sampai empat puluh hari dan jika dalam empat puluh hari ini meninggal dunia, maka ia mati dengan matinya jahiliyah. [49] Meninggal tanpa wasiat, [50] mengusap darah akikah ke kepala bayi[51] dan memakan makanan di tengah-tengah orang yang tertimpa musibah [52] termasuk esensi lain jahiliyah dan dicela.

Hubungan Imamah dengan Makna Jahiliyah

Termasuk masalah lain yang diperhatikan dalam sejumlah hadis terkait hal ini adalah masalah hubungan imamah dengan makna jahiliyah. Dalam sejumlah hadis ini, tidak mengetahuinya seseorang akan imamah dianggap sama dengan jahiliyah dan ditegaskan orang semacam ini seperti mati seperti orang-orang jahiliyah, karena tidak berada di bawah ketaatan imam masanya dan tidak mengikuti perintah kebenaran apapun. [53]

Makna ini juga dituturkan dalam sejumlah doa, sebagaimana dalam doa ghaibah Imam Zaman Ajf, sang pemanjat do’a meminta kepada Allah agar tidak mematikannya dengan mati jahiliyah. [54] Dalam hadis-hadis Syiah demikian juga disebutkan membenci Imam Ali As menyebabkan mati jahiliyah[55] dan sirah Imam Zaman saat zhuhur seperti Rasulullah Saw di awal Islam, adalah memberantas kejahilan. [56]

Pandangan Para Orientalis

Pada abad-abad terkini dengan penyebaran riset-riset para orientalis dalam ranah Islamologi, khususnya dalam ranah Oksidentalisme dan sirah Nabawi dan al-Quran, makna jahiliyah semakin lebih jelas dan lebih kentara.

Pandangan Ignác Goldziher

Orientalis Hungaria, Ignác Goldziher,[57] dengan penelitian dalam syair dan budaya jahiliyah sampai pada kesimpulan bahwa jahl adalah lawan hilm (yang berartikan akal), bukan ‘ilm (ilmu/pengetahuan). Dengan demikian, era jahiliyah bukan berarti era kebodohan dan ketidaktahuan, namun era barbarisme dan kepongahan dan mencakup kekerasan, tirani, egoisme, omong kosong dan semisalnya. [58] Dikatakan lawan jahl dan hilm memiliki akar dalam warisan-warisan syair Arab [59] dan sejumlah hadis dan riwayat-riwayat Islam. [60]

Demikian juga dalam referensi ini, jahl dalam penggunaan keduanya juga dipakai dalam berlawanan dengan ilmu. [61] Meski pendapat Goldziher diragukan,[62] dan sebagian para penerjemah al-Quran setelahnya, dalam menerjemahkan kata-kata padanan jahl (seperti jahiliyah) mengacuhkan pandangannya. [63] Hasil riset Goldziher selain riset-riset baru tentang kebudayaan Arab pra Islam, dijadikan bahan penelitian para peneliti berikutnya.

Pandangan Toshihiku Izutsu

Islamolog Jepang, Toshihiku Izutsu dalam buku Ethico-religious concepts in the Qur'an[64] berdasarkan sebuah riset yang mayoritas berdasarkan pada ayat-ayat al-Quran dan bukt-bukti hadis dan sejarah menyempurnakan pandangan Goldziher dan menyimpulkan bahwa dalam penggunaan al-Quran, jahl dan dilanjutkan dengan Jahiliyah menyoroti permusuhan para musuh Rasulullah Saw dengan keyakinan tauhid dan konfliknya yang menurut kadar moral mereka adalah sebuah ideologi yang ketat, sukar, dan berat.

Selain itu, Izutsu mengkhususkan satu pembahasan dalam bukunya Tuhan dan Manusia dalam al-Quran, yang menjelaskan makna jahiliyah dalam kerangka hubungan antara makna rab (Tuhan) dan ‘abd (hamba). Ia menulis, orang-orang Arab jahiliyah tidak mengenal Allah sebagai Tuhan mutlak, namun mereka mengklaim banyak Tuhan dan pembentukan konsep rububiyah (ketuhanan) mutlak Allah akan menciptakan perubahan fundamental dalam menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia, dengan artian bahwa manusia di hadapan Allah hanya semata-mata ‘abd/hamba (mentaati dengan tanpa syarat) dan makna-makna seperti ibadah, taat, qunut, khusyu’, dan tadharru’ juga dalam konteks makna ini.

Menurutnya, gambaran terpenting yang menjelaskan makna ubudiyah (penghambaan) adalah makna Islam dengan arti ketundukan semata di hadapan keinginan Tuhan. Islam dengan arti ini adalah sebuah titik dimana di situ, kehidupan seseorang dibagi menjadi dua bagian. Dua bagian ini memiliki karakter yang benar-benar berbeda, yang dapat menamainya dengan jahili atau Islami. Sejatinya, kemusliman berarti seseorang mengekang egois dan kepongahan akan kekuatan kemanusiaannya dan sebagai seorang hamba mematuhi Allah dan sebaliknya, kebodohan seseorang berarti kepongahannya terhadap kekuatan manusia dan independen mutlak.

Izutsu, dengan bersandar pada ayat-ayat al-Quran, menyebut takabur dan congkak sebagai sumber seluruh perilaku masa jahiliyah dan berkeyakinan bahwa Islam memberikan pukulan telak pada kejiwaan ini – yang secara ringkas dituturkan dalam surah Al-Fath ayat 26. Dengan demikian, dengan munculnya nilai-nilai Qurani yang berlandaskan tauhid dan keyakinan akan rububiyah mutlak Allah, yang selaras dengan penafian kesyirikan, muncullah pertempuran antara dua pokok kompatibel yakni jahiliyah dan Islam, yang sebelumnya belum pernah terjadi. [65]

Pandangan Blachère

Orientalis Perancis, Régis Blachère, dalam sejarah kesusastraan Arab berdasarkan penemuan-penemuan sebelumnya mengupas perumusan karakteristik Arab Badui dan menyebut sejumlah kriteria individu dan sosial Arab jahiliyah sebagai berikut: kebiasaan dengan kekerasan sedari kecil, yang selain miskin dan pengucilan, membuat ia sentimen, pongah, cepat marah, arogan; rasa terhormat dan mulia yang sejatinya merupakan manifestasi atensinya atas reputasi; ambisi; balas dendam, yang berkaitan dengan aspek individu dan juga aspek-aspek sosial dan agama, membual, yang merupakan manifestasi internal dan sifat-sifat artistik yang sudah dikemukakan dan biasanya muncul dalam medan pertempuran; judi dan mabuk-mabukan yang menunjukkan kebutuhan Arab badui akan pamer kekayaan dan keacuhan dalam pemakaiannya. [66]

Blachère[67] setelah menjelaskan kriteria-kriteria ini dan selain menegaskan pandangan Goldziher, mengatakan bahwa semua manifestasi psikis ini membentuk sebuah kumpulan dimana Islam menamainya dengan jahiliyah. William Watt,[68] selain mengkaji kondisi ideologi dan keyakinan Arab jahiliyah, juga menyebut kumpulan kriteria-kriteria ini dengan kalimat "Humanisme kesukuan" (Tribal Humanism). Demikian juga Rosenthal, [69] selain mengkaji kata jahiliyah secara bahasa, juga mengupas komparasi antara literatur Yahudi dan ayat-ayat al-Quran dalam bab ini.

Jahiliyah Pasca Islam

Berdasarkan bukti-bukti al-Quran dan hadis serta sejumlah pendapat dan riset para peneliti, jahiliyah dalam sejarah Arab hanya khusus pra Islam semata, namun manifestasi dan sejumlah esensinya banyak sekali dan ada dalam Islam sampai-sampai pada abad pertama Islam dinamai dengan periode memerangi budaya jahiliyah dengan nilai-nilai baru Islam. [70] Semisalnya Ibnu Taimiyah (wafat 729) dalam buku Iqtidha al-Sirath al-Mustaqȋm Mukhalafat Ashhab al-Jahȋm, menamai jahiliyah pada masa Islam dengan jahiliyah "muqayyat" [71] yang berlawanan dengan jahiliyah mutlak, dan mengisyaratkan sejumlah esensinya di eranya, seperti penyerupaan kaum muslim dengan orang-orang kafir pada sejumlah hari raya. [72]

Pandangan Muhammad bin Abdul Wahab

Pada abad-abad terakhir, Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri sekte wahabi, meninggal tahun 1206) dan para pengikutnya, yang sangat terpengaruh dengan pendapat dan pemikiran Ibnu Taimiyah, memaparkan topik jahiliyah pada era baru. Ibn Abdul Wahab berkeyakinan bahwa masyarakat di seantero dunia atau setidaknya masyarakat Arab Saudi, dikarenkaan keyakinan dan tindakan-tindakan mereka bukan berlandaskan pada wahyu, maka semuanya mengalami jahiliyah. [73]

Pada permulaan abad 20 juga para reformis seperti Muhammad Abduh (wafat 1905) dan Muhammad Rasyid Ridha (wafat 1935) dalam tafsir Al-Manar [74] juga mengisyaratkan akan hal ini. Menurut keyakinan mereka, sebagian kaum muslim di era sekarang ini, dari aspek agama dan moral berperilaku lebih jahil ketimbang para audien ayat-ayat al-Quran di era turunnya ayat.

Pandangan Maududi

Pandangan “jahiliyah baru” pada dekade terakhir, pada dasarnya dikarenakan berhadapannya dunia Islam dengan dunia baru, secara makna independen berimbas pada karya sebagian ulama dan para penulis agama. Sayid Abul ‘Ala Maududi (wafat 1979 M), pemimpin agama dan politikus Pakistan, untuk pertama kalinya pada tahun 1939 mengungkapkan pembaharuan dengan jahiliyah baru, yang menurut pandangannya, semua sistem pemerintahan dan pandangan-pandangna politik dan sosial berseberangan dengan akhlak dan budaya Islam. [75] Ia menganggap dunia Komunisme dan dua dunia barat sebagai esensi dari makna ini. [76] Pendapat Maududi muridnya, Abul Hasan Ali Hasani Nadwi (wafat 1999 M), pada tahun 1330 S/1950 menulis sebuah buku dengan nama Madza Khasara al-Alamu bi Inkhitat al-Muslimin dan di situ ia mendeskripsikan Jahiliyah Baru Maududi. Buku ini mendapat sambutan luas di sejumlah negara-negara Islam, sampai berulang kali dicetak dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa. [77] Nadwi [78] menganalogikan alam semesta seperti kereta api ekspress, dimana jahiliyah barat dengan seluruh kekuatan dan fasilitas yang ada, membawanya menuju tujuannya dan kaum muslim dengan tanpa kendali dan terpaksa menjadi musafir di samping umat-umat dunia lainnya.

Pandangan Sayyid Qutub

Di Mesir, seorang ulama religi dan aktifis politik, Sayyid Qutub (wafat 1966 M) memperluas lagi makna jahiliyah baru melebihi sebelumnya. Ia terpengaruh dengan pendapat Maududi dan Nadwi. [79] Dan setelah perjalanannya ke Amerika, dalam buku Fi Dzilal al-Quran[80] , ia menulis sebuah pembahasan dalam bab ini. Dan selanjutnya ia memublikasikan pendapat-pendapat detilnya tentang jahiliyah kontemporer dalam sebuah buku bernama Ma’alim fi al-Thariq. Ia dalam buku ini berbicara tentang kontradiksi jahiliyah dan Islam serta distorsi masyarakat jahiliyah dan mengimbau kaum muslim untuk menjauhi pemikiran jahiliyah dan bergerak menuju nilai dan membangun masyarkat Islam. [81]

Menurut pendapat Sayyid Qutub [82] , seluruh gambaran, ideologi, budaya, dan undang-undang manusia sekarang ini adalah jahiliyah (bahkan mayoritas mereka yang dianggap Islami) adalah jahiliyah seperti yang dihadapi oleh Islam di awal permulaan atau bahkan lebih buruk. Menurutnya,[83] jahiliyah adalah penghambaan manusia di hadapan manusia dan Islam adalah penghambaan manusia di hadapan Tuhan; dengan demikian, dua hal ini adalah hal yang selalu kontras dan untuk menciptakan masyarakat Islam harus berpindah dari jahiliyah menuju Islam. [84]

Pandangan Muhammad Quthub

Saudara Sayid Qutub, Muhammad Qutub (wafat 1965 M) juga menulis Jahiliyah al-Qorni al-‘Isyrina. Ia[85] berpendapat bahwa jahiliyah selain sejenis kondisi psikis, yang membelotkan seseorang untuk menerima segala bentuk hidayah dari Allah dan juga sejenis kinerja yang tidak merefleksikan penilaian sesuai dengan hukum-hukum Ilahi. Jahiliyah adalah hawa nafsu dan muslihat, yang tidak terbatas pada masa tertentu dan mencakup semua kaum dan masa.

Menurutnya, [86] jahiliyah Arab adalah sederhana dan dangkal, namun jahiliyah baru berlandaskan pada ilmu, riset, berpendapat dan selaras dengan sesuatu yang sekarang ini disebut dengan kemajuan dan modern. Muhammad Qutub menyebut jahiliyah abad 20 sebagai era jahiliyah semua era sejarah Barat [87] dan di sebagian besar bukunya ia mengkritik manifestai jahiliyah baru dalam dimensi politik, ekonomi, sosial, moral, dan seni. Di penghujung[88] ia menganggap solusi kebodohan di era baru adalah lepas dari tawanan para penguasanya, yakni dua sistem kapitalis dan komunis, dan kembali lagi ke Islam.

Pandangan Doktor Syari’ati

Dalam sebagian karya para pemikir muslim juga dapat ditemukan indikasi makna jahiliyah baru dan esensi-esensi terkininya, seperti Ali Syari’ati mengupas masalah ini dalam buku seperti Bazgast[89] dan Ba Mukhatabhaye Ashena. [90]

Catatan Kaki

  1. Rosenthal, hlm, 35; d. Islam, cetakan 2, di bawah kata, Djahiliyya, rujuk juga, Theodor Nöldeke, jld. 1, hlm. 242, catatan kaki 10.
  2. QS. Ali Imran: 154.
  3. QS. Al-Maidah: 50.
  4. QS. Al-Ahzab: 33.
  5. QS. Al-Fath: 26.
  6. QS. An-Naml: 55.
  7. QS. Al-Furqan: 63.
  8. QS. Al-Baqarah: 67; Al-A’raf: 199.
  9. Di bawah ayat.
  10. Di bawah ayat.
  11. Rujuk juga, Nuhaas, jld. 1, hlm. 499.
  12. Di bawah ayat.
  13. Rujuk, Zamakhsyari, di bawah ayat.
  14. Zamakhsyari; Thabari, di bawah ayat.
  15. Di bawah ayat.
  16. Rujuk, Kulaini, jld. 7, hlm. 407; Syaikh Thusi, Tahdzib, jld. 6, hlm. 218.
  17. Rujuk, Thabari; Thusi, al-Tibyan; Zamakhsyari; Syaikh Thabarsi, dibawah ayat.
  18. Rujuk, Thabari; Thusi, al-Tibyan; Syaikh Thabarsi, dibawah ayat.
  19. Ibid.,
  20. Semisalnya rujuk Thabari.
  21. Di bawah ayat.
  22. Fakhrur Razi, di bawah ayat.
  23. Rujuk Syaikh Thusi, al-Tibyan; Syaikh Thabarsi, di bawah ayat.
  24. Di bawah ayat.
  25. QS. Al-An’am: 151.
  26. QS. Al-Isra’: 32.
  27. QS. An-Nur: 33.
  28. QS. At-Takwir: 8.
  29. QS. Al-Baqarah: 219; Al-Maidah: 90-91.
  30. QS. Al-Baqarah: 275-276.
  31. QS. An-Nahl: 58-59.
  32. QS. Al-Maidah: 90.
  33. Ibid.,: 103.
  34. Semisalnya, rujuk khotbah 2, 26, 95.
  35. Rujuk, Ibnu Hanbal, jld. 5, hlm. 291.
  36. Rujuk, Abi Thahir, hlm. 13.
  37. Rujuk, Ibnu Hanbal, jld. 5, hlm. 105; Ibn Abd Rabbah, jld. 5, hlm. 113.
  38. Rujuk, Ibnu Hanbal, jld. 5, hlm. 105.
  39. Rujuk, Syaikh Kulaini, jld. 1, hlm. 32.
  40. Rujuk, Ibnu Hanbal, jld. 1, hlm. 379, 409; Muslim bin al-Hajjaj, jld. 1, hlm. 77-78; Barqi, jld. 1, hlm. 250.
  41. Rujuk, Ibnu Hanbal, jld. 2, hlm. 207; Bukhari, 1401, jld. 2, hlm. 260; Bukhari, 1406, hlm. 125.
  42. Rujuk, Syaikh Kulaini, jld. 5, hlm. 340; juga rujuk ke jld 8, hlm. 246; Ibn Hanbal, jld. 2, hlm. 361.
  43. Rujuk, Syaikh Kulaini, jld. 2, hlm. 308; Ibn Babawaih, 1417, hlm. 704.
  44. Rujuk, Bukhari, 1401, jld. 1, hlm. 13; Muslim bin al-Hajjaj, jld. 5, hlm. 93; Thabari, di bawah surah Al-Ahzab: 33.
  45. Rujuk, Ibn Hanbal, jld. 3, hlm. 103, 235, 250.
  46. Rujuk Ibn Hanbal, jld. 4, hlm. 178, rujuk juga jld. 5, hlm. 84.
  47. Rujuk, Nahjul Balaghah, khotbah Qashi’ah, hlm. 288-289.
  48. Rujuk, Syaikh Kulaini, jld. 2, hlm. 308-309.
  49. Rujuk, Syaikh Kulaini, jld. 6, hlm. 400-401; Syaikh Thusi, Tahdzib, jld. 9, hlm. 106-107; Haitsami, jld. 5, hlm. 72.
  50. Rujuk, Fattal Nisyaburi, jld. 2, hlm. 482.
  51. Rujuk, Ibn Babawaih, 1404, jld. 1, hlm. 29.
  52. Rujuk, Ibn Babawaih, 1414, jld. 1, hlm. 182.
  53. Barqi, jld. 1, hlm. 154; Ibn Babawaih, 1404, jld. 1, hlm. 63; Syaikh Kulaini, hlm. 376; Mazandarani, jld. 6, hlm. 354.
  54. Rujuk, Ibn Babawaih, 1363 S, jld. 2, hlm. 512.
  55. Rujuk, Ibn Babawaih, 1386, jld. 1, hlm. 144, 157.
  56. Rujuk, Syaikh Thusi, Tahdzib, jld. 6, hm. 154.
  57. Jld. 1, hlm. 201-208.
  58. Rujuk, Blachère, jld. 1, hlm. 30.
  59. Semisalnya rujuk Ashmu’i, hlm. 97; Alusi, jld. 1, hlm. 103; rujuk juga Haufi, hlm. 347-350.
  60. Rujuk, Ibn Hisyam, jld. 3, hlm. 93-94; Syaikh Kulaini, jld. 1, hlm. 112.
  61. Izutsu, 1966, hlm. 28.
  62. Rujuk Rosenthal, hlm. 32-33.
  63. D. Islam, cetakan 2, dibawah kata "Dja hiliyya".
  64. hlm. 28-35.
  65. Rujuk pada halaman 198-204.
  66. Rujuk, Blachère, jld. 1, hlm. 23-28.
  67. jld. 1, hlm. 30.
  68. hlm. 24-25.
  69. hlm. 32-35.
  70. Rujuk, Amin, hlm. 69-83.
  71. Rujuk pada halaman 69-79.
  72. Ibnu Taimiyah, hlm. 1.
  73. Dairat al-Maairf Quran, dibawah kata "Age of ignorance".
  74. Rasyid Ridha, jld. 6, hlm. 422-423.
  75. Maududi, di bawah surah Al-Maidah ayat 50; Al-Ahzab: 33.
  76. Rujuk ringkasan pendapat Maududi dalam hal ini, rujuk Dairah al-Maarif Jahane Islam Oxford, dibawah kata ah" ¦"Jahil; Daiat al-Maarif Quran, di bawah kata "Age of ignorance".
  77. Rujuk, Nadwi, hlm. 3-4; Siwan, hlm. 23.
  78. Nadwi, hlm. 259.
  79. Rujuk, Nadwi, muqaddimah Sayid Qutub, hlm. 12-16; Sayid Qutub, 1284, hlm. 63, catatan kaki 1; rujuk juga Siwan, hlm. 23.
  80. Sayid Qutub, jld. 2, hlm. 724-730.
  81. Semisalnya, rujuk hlm. 22-23, 117, 142, 146, 151.
  82. Sayid Qutub, 1384, hlm. 21.
  83. Sayid Qutub, 1384, hlm. 200-201.
  84. Untuk lebih rincinya tentang pendapat Sayid Qutub dalam hal ini rujuk ke Hadad, hlm. 85-87; Siwan, hlm. 23-27.
  85. Muhammad Qutub, hlm. 11.
  86. Ibid., hlm. 12-13.
  87. Ibid., hlm. 46.
  88. Ibid., hlm. 347.
  89. Syari’ati, Bazgast, hlm. 391.
  90. Syari’ati, Ba Mukhatabhaye Ashena, hlm. 70-71.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran
  • Abdul Malik bin Qarib Ashmu’i, al-Ashmuiyyat, cet. Ahmad Muhammad Syakir, dan Abdus Salam Muhammad Harun, Kairo, 1375/1955.
  • Abu al-A’la Maududi, Tafhim al-Quran, Lahore, 1949-1972.
  • Abul Hasan Ali Nadwi, Madza Khasar al-Alam bi Inhithath al-Muslimîn, Kairo, 1408/1988.
  • Ahmad Amin, Fajr al-Islam, Yabhatsu an al-Hayat al-Aqliyyah fi Shadr al-Islam ila Akhir al-Daulah al-Umawiyyah, Kairo, 1370/1950.
  • Ahmad bin Muhammad Barqi, Kitab al-Mahâsin, cet. Jalaluddin Muhaddis, Qom, 1331 S.
  • Ahmad bin Muhammad Nuhaas, Ma’ani al-Quran al-Karim, cet. Muhammad Ali as-Shabuni, Mekah, 1408-1410.
  • Ahmad Muhammad Haufi, al-Hayat al-Arabiyyah min al-Syi’ri al-Jahili, Kairo, 1972.
  • Ali bin Abu Bakar Haitsami, Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid, Beirut, 1408/1988.
  • Ali Syari’ati, Ba Mukhatabhaye Ashena, Tehran, 1377 S.
  • Ali Syari’ati, Bazgast, Tehran, 1357 S.
  • Allamah Thabathabai.
  • Ibid., Ilal al-Syara’i, Najaf, 1386/1966, cet Offset Qom. Bi Ta.
  • Ibid., Kitab Man La Yahdhuruhul Faqih, cet. Ali Akbar Ghaffari, Qom. 1363 S.
  • Ibid., Ma’alim fi al-Thariq (Kairo), 1384/1964.
  • Ibid., Shahih Bukhari, Istanbul, 1401/1981.
  • Ibid., Tahdzib al-Ahkam, cet. Hasan Mousawi Khorasan, Tehran, 1390.
  • Ibid., Uyun al-Akhbar al-Ridha, cet, Husein A’lami, Beirut, 1404/1984.
  • Ibn Abd Rabbah, al-Aqd al-Farid, cet. Ali Syiri, Beirut, 1408-1411/1988-1990.
  • Ibn Abi Thahir, Balaghat al-Nisa’, Qom, Maktabah Bashirati, Bi Ta.
  • Ibn Babawaih, al-Amâli, Qom, 1417.
  • Ibn Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Beirut, Dar Shadir, Bi Ta.
  • Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, cet. Taha Abdul Rauf Sa’ad, Beirut, 1411.
  • Ibnu Taimiyah, Iqtidha al-Shirat al-Mustaqîm Mukhalafah Ashhab al-Jahîm, Bi Ja, Bi Ta.
  • Izutsu, Toshihiku, Khudo wa Insan dar Quran, Penj. Ahmad Aram, Syarekat Sahami Intisyar, Tehran, 1281 S.
  • Mahmud Syukri Alusi, Bulugh al-Arb fi Ma’rifati Ahwal al-‘Arab, cet. Muhammad Bahjat al-Atsari, Beirut, 1314.
  • Muhamamd bin Hasan Fattal Nisyaburi, Raudhah al-Wâidhîn, Najf, 1386/1966, cet. Offset Qom. 1368 S.
  • Muhammad bin Hasan Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, cet. Ahmad Habib Qushair Amili, Beirut, Bi Ta.
  • Muhammad bin Ismail Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Beirut, 1406/1986.
  • Muhammad bin Umar Fakhrur Razi, al-Tafsir al-Kabir/ Mafâtîh al-Ghaib, Beirut, 1421/2000.
  • Muhammad Quthb, Jahiliyyah al-Qarn al-‘Isrîna (Kairo), 1384/1964.
  • Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Quran al-Hakim al-Syahir bi Tafsir al-Manar (Taqrirat Dars), Syaikh Muhammad Abduh, jld. 6, Mesir, 1375.
  • Muhammad Salih bin Ahmad Mazandarani, Syarh Ushul al-Kafi, ma’a Ta’liq Abul Hasan Sya’rani, cet. Ali Asyur, Beirut, 1421/2000.
  • Muslim bin al-Hajjaj, al-Jami’ al-Shahih, Beirut, Darul Fikr, Bi Ta.
  • Nahjul Balaghah, cet. Subhi Salih, Beirut (13870, cet. Offset Qom, Bi Ta.
  • Sayyid Quthb, Fi Dzilal al-Quran, Beirut, 1386/1967.
  • Syaikh Kulaini.
  • Syaikh Thabarsi.
  • Thabari, Jami’.
  • Zamakhsyari.