Hijr Ismail

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: c, Kualitas: a
Hijr Ismail

Hijr Ismail (bahasa Arab: حجر اسماعيل) adalah area kosong diantara bangunan Ka'bah dan tembok setengah lingkaran yang membentang dari utara Ka'bah (disebut juga Rukun Araqi) sampai sisi barat (disebut rukun Syami). Sebagian orang menyebutnya Hadzirah.

Setelah Nabi Ibrahim as bersama Hajar dan bayinya (Nabi Ismail as) sampai di Lembah Mekah, dengan petunjuk Malaikat Jibril mereka berada di tempat dimana Hijr Ismail sekarang berada. Lalu Hajar dan Ismail as bersama kambing-kambing mereka, tinggal didalam kemah dari kayu yang dibuat di sekitar tempat itu. Hajar dan Ismail dikuburkan ditempat itu ketika mereka wafat.

Hijr Ismail dihormati sejak sebelum Islam. Nabi Muhammad saw pun setelah pengutusan beliau menjadi Nabi, beliau duduk di Hijr Ismail. Selain melakukan ibadah dan membaca Al-Qur'an, ditempat itu beliau juga menjawab pertanyaan-pertanyaan kaum muslimin. Menurut ulama Imamiah, berdasarkan pada hadis terpercaya Hijr Ismail bukan bagian dari bangunan Ka'bah.

Penyebab Penamaan

Hijr artinya penghalang dan pelindung, dipakai juga untuk makna penjagaan dan perlindungan, juga tempat suci; asal kata Hajr dan Hujr juga banyak dipakai untuk makna ini [1] Dengan alasan inilah ruang antara tembok Ka'bah dan tembok setengah lingkaran antara rukun Araqi dan rukun syami disebut Hijr Ismail, tembok ini memisahkan orang yang melakukan tawaf di sekitar Ka'bah. [2] Dalam hadis, Hijr Ismail biasanya disebut dengan Hijr tapi kadang disebut juga dengan Jadr yakni tembok [3] dan Hathimun [4]. Madzhab Hanafi juga menyebut area Hijr Ismail dengan Hathim [5] sebagian lagi menyebut Hijr Ismail dengan Hadzirah, ada juga yang menamainya Mahutha. [6]

Sejarah Ringkas

Tempat tinggal Hajar dan Ismail as

Sesuai laporan beberapa sumber, Setelah Nabi Ibrahim as bersama Hajar dan bayinya (Nabi Ismail as) sampai di Lembah Mekah, dengan petunjuk Jibril mereka berada di tempat dimana Hijr Ismail sekarang berada. Lalu Hajar dan Ismail bersama kambing-kambing mereka, tinggal didalam kemah dari batang kayu yang dibuat disekitar tempat itu [7] dari sini sebagian sumber menyebut tempat kediaman Hajar dan Ismail dengan Baitu Ismail. [8]

Kuburan para Nabi as

Berdasarkan sumber hadis dan rujukan sejarah, Hajar dimakamkan ditempat tersebut ketika wafat. Ismail as membuat tempat itu lebih tinggi biar tidak diinjak-injak masyarakat [9]. Nabi Ismail as juga dimakamkan ditempat ini ketika meninggal dunia [10]. Menurut beberapa riwayat beberapa anak perempuan Ismail as dan beberapa nabi as juga dimakamkan ditempat ini [11].

Pemugaran sebelum Islam

Menurut beberapa sumber, lima tahun sebelum Bi’tsah Nabi Muhammad saw, setelah dihancurkannya Ka’bah, Bani Qurays mengajukan syarat ketika dilakukan pemugaran, yaitu pemugaran dilakukan menggunakan harta halal, tapi karena lemahnya ekonomi untuk pemugaran menyeluruh, beberapa bagian dari Ka'bah dipendam, kurang lebih 6 dzira yakni sekitar 3 meter berada di bagian Hijr Ismail. [12] permukaan Hijr Ismail pun diberi penghalang sehingga orang-orang yang tawaf, melakukan tawaf diluar batasan itu. [13]

Renovasi setelah Islam

Pada tahun 64 H, Abdullah bin Zubair ketika ingin memperbaharui bangunan Ka'bah yang rusak akibat serangan Yazid bin Muawiyah yang memanfaatkan hadis yang dinuqil dari Aisyah dari Nabi saw, dia sedikit memberi tambahan dan kembali menyatukan Hijr Ismail dengan Ka'bah [14]. Hajaj Attsaqafi selepas mengambil kembali Mekah dari Abdullah bin Zubair, pada tahun 64 H, dia membangun Ka'bah dan Hijr Ismail seperti kondisi sebelumnya sesuai perintah raja Abdul Malik bin Marwan. Ka'bah dibangun seperti bangunan Quraisy. Abdul Malik setelah mengetahui riwayat yang dinukil Aisyah dia menyesali perintahnya [15]. Perubahan pada bangunan Ka'bah dan Hijr Ismail menjadi penyebab munculnya silang pendapat para fuqaha terkait hukum yang berhubungan dengannya, perbedaan pendapat terjadi apakah Hijr Ismail bagian dari bangunan Ka'bah atau bukan. [16]

Tembok Hijr

Tembok Hijr Ismail sampai pemerintahan raja Manshur Abbasi (136-158 H) dibuat dari batu biasa dari sahara, pada tahun 140 H. Ketika Manshur melakukan manasik haji, dia memerintahkan pimpinan Mekah agar menggantinya dengan batu marmer rukham [17]. Sejak saat itu disebabkan terjadinya beberapa kali kerusakan lantai dan tembok Hijr Ismail pun diperbaiki atau diganti. [18]

Ukuran Hijr Ismail

Jarak antara tembok utara Ka'bah sampai tengah tembok Hijr Ismail sekitar 4,48 m dengan tinggi tembok 3,11 m. Jarak antara pintu masuk timur dan barat berkisar antara 8 m. Pintu masuk timur Hijr Ismail sampai gundukan sekeliling bangunan Ka'bah kurang lebih 3,02 m dan pintu masuk barat Hijr Ismail kurang lebih 2,32 m [19]. Mungkin saja adanya perbedaan ukuran Hijr Ismail disebabkan adanya beberapa kali perombakan pada bangunan dalam waktu yang berbeda-beda. [20] Pipa air Ka'bah menghadap ke arah Hijr Ismail dan aliran air dari atap Ka'bah langsung jatuh ke area Hijr Ismail.

Kesucian dan Penghormatan terhadap Ka'bah

Hijr Ismail sudah dihormati dan disucikan sejak sebelum Islam. Abdul Muththalib pembesar Mekah dan kakek dari Nabi Muhammad saw, memiliki kedudukan khusus di Hijr Ismail, untuknya disiapkan permadani khusus yang tidak berhak duduk kecuali olehnya [21]. Disebutkan juga beberapa mimpi benarnya seperti diperdalamnya sumur Zamzam dan lahirnya Nabi Muhammad saw serta kenabiannya ia lihat ketika berada di Hijr Ismail [22]. Juga disebutkan dalam riwayat bahwa Abu Thalib juga melihat dalam mimpinya kelahiran dan kebesaran Ali as serta masa depan gemilangnya di Hijr Ismail [23].

Nabi Muhammad saw pun setelah pengutusannya sebagai nabi, ia duduk di Hijr Ismail. Selain melakukan ibadah dan membaca Al-Qur'an, ditempat itu ia juga menjawab pertanyaan masyarakat [24]. Dan ditempat ini pula sebagian Quraisy pernah meminta mukjizat berupa membelah bulan [25]. Begitu juga dalam beberapa hadis tempat mulai isra mi'raj di Masjidil Haram tepat berada di Hijr Ismail [26]. Para Imam Ahlulbait as juga berdoa dan melakukan ibadah di Hijr Ismail atau duduk disana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat.[27]

Hijr Ismail dalam Al-Qur'an

Kata Hijr Ismail tidak terdapat dalam Quran, tapi menurut Iyasyi, melalui sanad dari Imam Shadiq as [28] salah satu bentuk riil dari Ayat bayyinat (آیات بَینات) tanda yang nyata dalam ayat 97 surat Ali Imran itu berada di Masjidil Haram, tanda yang nyata tersebut adalah Hijr Ismail [29].

Pembahasan Fikih berhubungan dengan Hijr Ismail

Berhubungan atau tidak ada hubungan antara Hijr Ismail dengan bangunan Ka'bah.

Salah satu pembahasan fikih tentang Hijr Ismail adalah apakah Hijr Ismail itu bagian dari Ka'bah atau bukan? Sebagian kelompok Ahlusunnah menilai seluruh area Hijr Ismail adalah bagian dari Ka'bah [30]. Sebagian yang lain menilai Hijr Ismail bukan bagian dari bangunan Ka'bah [31].

Menurut pendapat masyhur ulama Imamiah dengan berlandaskan pada hadis-hadis terpercaya Hijr Ismail tidak termasuk bangunan Ka'bah [32]. Dalilnya di Hijr Ismail dimakamkan Hajar dan Nabi Ismail as dan beberapa Nabi lainnya, dengan memperhatikan kesucian Ka'bah tidak mungkin orang dikubur ditempat tersebut [33]. Sebagian ulama imamiah juga ada yang berpendapat bahwa Hijr Ismail adalah bagian dari Ka'bah [34] bahkan Syahid awal, menyebut pendapat ini dengan pendapat masyhur [35] sanad yang dipakai mungkin dari adanya perintah untuk melakukan tawaf diluar area Hijr Ismail [36].

Keharusan tawaf diluar area Hijr Ismail

Pandangan kebanyakan dalam fikh imamiah dan juga Ahlusunnah bahwa ketika tawaf maka harus menghindari area Hijr Ismail jadi diluar area tersebut, jadi jika melanggar maka tawafnya batal dan harus diulangi [37].

Para ulama fikh imami sebagai dalil selain dengan sanad sirah nabawi mereka juga merujuk pada beberapa hadis para Imam as serta dalil Ijma[38]

Dibolehkannya salat menghadap Hijr Ismail

Salah satu pembahasan terkait Hijr Ismail adalah sah dan tidaknya salat menghadap Hijr Ismail dimana dalam posisi tidak disebut sedang menghadap Ka'bah.

Sebagian fakih imami menilai salat menghadap Hijr Ismail itu benar [39] tapi menurut pendapat lainnya shalat ini tidak sah, ini didasarkan pada hadis-hadis yang menyatakan bahwa Hijr Ismail bukan bagian dari Ka'bah. Juga berdasarkan pada pendapat sebagian besar alim ulama Imami, tidak bisa diyakini bahwa Hijr Ismail adalah bagian dari Ka'bah, keraguan ini tertutupi dengan yakin bahwa salat harus menghadap ke arah ka’bah [40].

Amalan Mustahab di Hijr Ismail

Beberapa amalah mustahab dilakukan di Hijr Ismail:

  1. Doa dan menyampaikan hajat kepada Allah swt, berdasarkan hadis dan sirah Nabi Muhammad saw dan Imam as, tempat terbaik untuk berdoa di Hijr Ismail adalah dibawah pipa dari Ka'bah yang menghadap ke Hijr Ismail. [41]
  2. Menjadi muhrim dalam haji tamattu' dilakukan di Hijr Ismail atau maqam Ibrahim dengan melakukan salat dua rakaat sebelum ihram. [42].

Catatan Kaki

  1. Jauhari, al-Shihah, Fuyumi, al-Mishbahul Munir, pada item yang dimaksud.
  2. Misykini, Mushthalahatul Fiqh, hlm. 199.
  3. Lih. Darimi, Sunan ad-Darimi, jld. 2, hlm. 54.
  4. Lih. Hurr Amili, jld. 13, hlm. 355.
  5. Rasul Ja'fariyan, Atsar Islami Mekah wa Madinah, hlm. 116 yang dinukil dari kitab al-Zahur al-Muqtathafah, hlm. 73.
  6. Untuk contoh lih. Ibnu Najim, al-Bahrul Raiq, jld. 2, hljm. 574.
  7. Lih. Azraqi, Akhbar Makah wa Majaa fiha, jld. 1, hlm. 54; Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 201; Hurr Amili, Wasailul Syiah, jld. 13, hlm. 355.
  8. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 210; Hurr Amili, Wasailul Syiah, jld. 13, hlm. 354.
  9. Lih. Ibnu Hisyam, al-Siratul Nabawiyah, jld. 1, hlm. 6; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat, jld. 1, hlm. 52; Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 210; Hurr Amili, Wasailul Syiah, jld. 13, hlm. 354-355.
  10. Ibnu Hisyam, al-Siratul Nabawiyah, jld. 1, hlm. 6; Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 210; Ibnu Babwaih, Ilal al-Syarayi, jld. 1, hlm. 38; untuk lebih detail bisa lih. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 312, 317.
  11. Lih. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 2, hlm. 66; Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 210; Hurr Amili, Wasailul Syiah, jld. 13, hlm. 354-355.
  12. Lih. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 159, 160, 163; Fasi, Syifaul Gharam, jld. 1, hlm. 182-183.
  13. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 288-289.
  14. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 206; Baihaqi, al-Sunanul Kubra, jld. 5, hlm. 89.
  15. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 210-211; Fasi, Syifaul Gharam, jld. 1, hlm. 189-190.
  16. Lihat lanjutan makalah.
  17. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 313; Fasi, Syifaul Gharam, jld. 1, hlm. 408-409.
  18. Lih. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 313-314, 317, 321; Fasi, Syifaul Gharam, jld. 1, hlm. 409-410; Husain Abdullah Basalamah, Tarikhul Ka'bah al-Ma'dzhumah, hlm. 132-133; Muhammad Thahir Kurdi, al-Tarikhul Quyyum, jld. 2, juz 3, hlm. 67.
  19. Untuk lebih lengkapnya lih. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 320-322; Fasi, Syifaul Gharam, jld. 1, hlm. 411-412.
  20. Lih. Husain Abdullah Basalamah, Tarikhul Ka'bah al-Ma'dzhumah, hlm. 122-123, 138-139.
  21. Azraqi, Akhbar Makah, jld. 1, hlm. 314-315.
  22. Ibnu Hisyam, al-Siratul Nabawiyah, jld. 1, hlm. 92-94; Majlisi, Biharul Anwar, jld. 15, hlm. 254-255.
  23. Lih. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, hlm. 254-255; Majlisi, Biharul Anwar, jld. 38, hlm. 47-48.
  24. Lih. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, jld. 1, hlm. 76-77.
  25. Lih. Quthb Rawandi, al-Kharaij wa al-Jaraih, jld. 1, hlm. 141-142.
  26. Lih. Ibnu Thawus, Sa'adul Su'ud, hlm. 195-196; Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, jld. 7, hlm. 155; Majlisi, Biharul Anwar, jld. 18, hlm. 317, 390.
  27. Lih. Humairi, Qurbul Asnad, hlm. 316; Ayyasyi, al-Tafsir, jld. 3, hlm. 106-107; Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 187-188; Ibnu Babawaih, Ilal al-Syarayi, jld. 2, hlm. 448; Nuri, Mustadrak al-Wasail, jld. 9, hlm. 427.
  28. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 223.
  29. Ayyasyi, al-Tafsir, jld. 1, hlm. 326.
  30. Lih. Nawawi, al-Majmu', jld. 8, hlm. 25.
  31. Lih. Nawawi, al-Majmu', jld. 8, hlm. 25; Ibnu Najim, al-Bahrul Raiq, jld. 2, hlm. 574.
  32. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 210; Musawi Amili, Madarakul Ahkam, jld. 8, hlm. 128-129; Hurr Amili, Wasailul Syi'ah, jld. 5, hlm. 276 dan jld. 13, hlm. 353, 355; Najafi, Jawahir al-Kalam, jld. 19, hlm. 293.
  33. Lih. Hasan Zadeh Amuli, Durus Ma'rifatul Waqat wa al-Kiblah, hlm. 517-519.
  34. Lih. Allamah Hilli, Kitab Muntaha al-Mathlab, jld. 2, hlm. 691; Hamu, Tadzkiratul Fuqaha, jld. 3, hlm. 22.
  35. Al-Durus al-Syar'iyah, jld. 1, hlm. 394.
  36. Lih. Bahrani, al-Hadaiqul Naadhirah, jld. 16, hlm. 104-105, 108; Najafi, Jawahir al-Kalam, jld. 19, hlm. 292-294.
  37. Lih. Hurr Amuli, Wasailul Syi'ah, jld. 13, hlm. 356-357; Khomaeni, Manasik Haj, hlm. 244-246; Nawawi, al-Majmu', jld. 8, hlm. 25-26.
  38. Lih. Syahid Tsani, al-Raudatul Bahiyyah, jld. 2, hlm. 249-250; Hurr Amuli, Wasailul Syi'ah, jld. 13, hlm. 356-357; Najafi, Jawahirul Kalam, jld. 19, hlm. 292.
  39. Lih. Allamah Hilli, Nihayatil Ahkam, jld. 1, hlm. 392, 397; Hamu, Tadzkiratul Fuqaha, jld. 3, hlm. 22.
  40. Lih. Najafi, Jawahirul Kalam, jld. 7, hlm. 326-329; Hasan Zadeh Amuli, Durus Ma'rifatul Waqt wal Qiblah, hlm. 520-521.
  41. Lih. Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 214, 525, 526; al-Fiqhul Mansub lil Imamil Ridha alahissalam, hlm. 222; Fasi, Syifaul Gharam, jld. 1, hlm. 413-414; Hurr Amuli, Wasailul Syi'ah, jld. 5, hlm. 274-276, jld. 13, hlm. 334-335, 425; Majlisi, Biharul Anwar, jld. 90, hlm. 349.
  42. Lih. Hurr Amuli, Wasailul Syi'ah, jld. 11, hlm. 339; Najafi, Jawahirul Kalam, jld. 19, hlm. 23.


Daftar Pusaka

  • Ibnu Babawaih, Ilal al-Syarayi, Najaf, 1385-1386 H, cet. Offset Qom, tanpa tahun.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari: Syarah Shahih al-Bukhari, Bulaq, 1300-1301 H, cet. Offset Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat, Beirut.
  • Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, cet. Hasyim Rasul Muhallati, Qom, tanpa tahun.
  • Ibnu Thawus, Sa'adul Sa'ud lil Nufus, Qom, 2001.
  • Ibnu Najim, al-Bahrul Raiq Syarh Kanzul Daqaiq, Beirut, 1418 H/1997.
  • Ibnu Hisyam, al-Siratul Nabawiyah, cet. Musthafa Saqa, Ibrahim Abyari dan Abdul Hafidz Syalbi, Beirut: Dar Ahya al-Turats al-'Arabi, tanpa tahun.
  • Azraqi, Muhammad bin Abdullah, Akhbar Makah wa Maajau fiha minal Atsar, cet. Rusydi Shalih Malhas, Beirut, 1403 H/1983, cet. Offset Qom, 1369 S.
  • Al-Fiqhul Mansub lil Imam al-Ridha alaihissalam dan al-Musytahar bi Fiqhul Ridha, Masyhad: Muassasah Al al-Bait, 1406 H.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad, al-Hadaiqul Nadhirah fi Ahkamil 'Itratil Thahirah, Qom, 1984-1988.
  • Baihaqi, Husain, al-Sunanul Kubra, Beirut: Darul Fikr, tanpa tahun.
  • Jauhari, Ismail bin Hamad, al-Shihah: Tajul Lughah wa Shihahil 'Arabiyah, cet. Ahmad bin Abdul Ghaffar 'Aththar, Kairo, cet. Offset Beirut, 1407 H.
  • Hurr Amuli, Wasailul Syi'ah.
  • Hasan Zadeh Amuli, Hasan, Durus Ma'rifatul Waqt wal Qiblah, Qom, 1416 H.
  • Husain Abdullah Basalamah, Tarikhul Ka'bah al-Ma'dzhumah, cet. Yahya Hamzah Waznah, Kairo, 1420 H/2000.
  • Humairi, Abdullah bin Ja'far, Qurbul Asnad, Qom, 1413 H.
  • Khomaini, Ruhullah, Manasik Haj: Mathabiq bi Aftawai Hadhrat Ayatullah al-Uzhma Imam Khomaeni Salamullah 'alaihi, Bi Ahwasyi Maraji' Muadzham Taqlid, Tehran, 2005.
  • Darimi, Abdullah bin Abdurrahman, Sunan al-Darimi, cet. Muhammad Ahmad Dahman, Damaskus: Maktabah al-I'tidal, tanpa tahun.
  • Syahid Awal, Muhammad bin Makki, al-Durus al-Syar'ah fi Fiqhil Imamiyah, Qom, 1412-1414 H.
  • Syahid Tsani, Zainudddin bin Ali, al-Raudatul Bahiyyah fi Syarhil Lum'atil Damsyiqiyah, cet. Muhammad Kalantar, Beirut, 1403 H/1983.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Tadzkirahtul Fuqaha, Qom, 1414 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Kitab Muntahal Mathlab, cet. Sanngi Tabriz, 1316-1333 S, cet. Offset, tanpa kota, tanpa tahun.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf, Nihayatul Ahkam fi Ma'rifah Ahkam, cet. Mahdi Rajaai, Qom, 1410 H.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud, al-Tafsir, Qom, 1421 H.
  • Fasi, Muhammad bin Ahmad, Syifaul Gharam bi Akhbaril Baladil Haram, cet. Iman Faud Sayid dan Musthafa Muhammad Dzahabi, Mekah, 1999.
  • Fuyyumi, Ahmad bin Muhammad, al-Mishbahul Munir fi Gharibil Syarhil Kabir lil Rafi'i, Beirut: Darul Fikr, tanpa tahun.
  • Quthb Rawandi, Sa'id bin Habatillah, al-Kharaij wa Jaraih, Qom, 1409 H.
  • Kulaini, al-Kafi.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Biharul Anwar.
  • Muhammad Thahir Kurdi, al-Tarikhul Quyyum li Makkah wa Baitillahil Karim, Beirut, 1420 H/2000.
  • Misykini, Ali, Musthahalatul Fiqh, Qom, 1998.
  • Musawi, Amili, Muhammad bin Ali, Madarikul Ahkam fi Syarhi Syara'il Islam, Qom, 1410 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan bin Baqir, Jawahirul Kalam fi Syarhi Syara'il Islam, Beirut, 1981.
  • Nuri, Husain Muhammad Taqi, Mustadrakul Wasail wa Mustanbathul Masail, Qom, 1407-1408 H.
  • Nawawi, Yahya bin Syarf, al-Majmu': Syarhul Mahadzdzab, Beirut: Darul Fikr, tanpa tahun.