Prioritas: a, Kualitas: c
tanpa Kategori
tanpa navbox

Nahjul Balaghah (buku)

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Nahjul Balaghah)
Lompat ke: navigasi, cari
Nahjul Balagahhttp://en.wikishia.net
Penyusun Syarif Radhi
Bahasa Arab
Subyek kumpulan ucapan, surat dan perkataan Imam Ali As
Tanggal Penerbitan 400 H/1010 M


Nahjul Balaghah (Bahasa Arab:نهج البلاغة) adalah kumpulan dari ucapan dan tulisan Imam Ali As yang penulisannya selesai pada akhir abad ke-4 Hijriah/ke-10 Mesihi (di tahun 400 H/1010). Buku ini disusun dan dikumpulkan oleh Sayid Radhi. Kriteria seleksi tuturan-tuturan Imam Ali As ini adalah sastra kefasihan. Dalam kitab ini tuturan hikmah dan pidato telah dikumpulkan, sebagaimana Sayid Radhi adalah seorang penyair besar dan tokoh sastra yang menonjol yang memiliki karya luar biasa. Adapun pekerjaan yang telah dikumpulkannya ini membuatnya bangga dan ia menulis:

"Pekerjaan ini telah membuat namaku besar dan menyebabkan ketenaranku di dunia, juga merupakan simpanan untukku di akhirat kelak. Dan dengan irama ini, cukuplah kebesaran Amirul Mukminin Ali As, ditambah dengan seluruh keutamaan lain dan latar belakang kehidupannya, dalam retorika dan kefasihan juga dikenal seakan-akan melampaui dari semua pendahulunya. Telah sampai sedikit kepada kita dari perkataan fasih dan beretorika dari nenek moyang kita, tetapi Amirul Mukminin Ali adalah sebuah lautan dengan dasar tak bertepi yang tak seorangpun mampu menandinginya dan ini adalah sebuah kumpulan dari keutamaan-keutamaannya yang tak ada seorang pun setara dengannya." [1]

Kefasihan ucapan Imam Ali As diyakini telah banyak mempengaruhi para pujangga Arab tingkat tinggi.

Namun poin utamanya adalah bahwa dari seluruh ucapan ini, keinginan imam bukan mengajarkan ilmu alam dan zoologi atau memahami poin-poin filosofis dan historis. Bentuk pembahasan semacam ini seperti Al-Quran Al-Karim yang mengupas dengan bahasa nasehat yang terasa dari setiap fenomena atau tercerna dengan akal, sebuah contoh yang jelas dan dapat dipahami oleh si pendengar, lalu perlahan-lahan membawanya ke tempat yang perlu ia datangi untuk sampai ke haribaan Allah SWT. [2]

Nahjul Balaghah disusun dalam tiga bagian: pidato-pidato, surat-surat dan kata-kata mutiara (hikmah). Imam As di sela-sela pidatonya mengajak masyarakat untuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan hal-hal yang terlarang dan dalam surat-suratnya memesan kepada para pejabat bawahannya supaya mereka menjaga dan mematuhi hak-hak masyarakat. Kata-kata mutiara pendek Nahjul Balaghah adalah kumpulan kata-kata bijak dan instruktif yang telah diungkapkan dalam puncak kefasihan sastra. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan telah banyak penjelasan atau syarah yang ditulis oleh para ulama, baik Sunni maupun Syiah.

Bentuk pengumpulan perkataan Imam Ali As dari ucapan Sayid Radhi

Gambar prangko peringatan milenium Nahjul Balaghah oleh Republik Islam Iran

Syarif Radhi menulis dalam pendahuluan Nahjul Balaghah:" Di masa muda dan masa-masa kesegaran tunas baru kehidupan, saya sibuk menulis kitab Khashāish al-Aimmah (karakteristik para Imam) kekhususan etika dan sifat-sifat dari karakter para Imam As, termasuk juga keindahan-keindahan ucapan dan mutiara hadis mereka. Adapun alasan dan sebab penulisan kitab dan tujuanku dari penulisan kitab itu, telah saya muat di awal kitab dan saya letakkan di dalam kata pengantar. Karena ada suatu peristiwa yang terjadi yang menghalagi saya untuk meneruskan sisa tulisan dari penulisan tentang sifat-sifat istimewa dan keutamaan-keutamaan Imam Ali As, maka sampai pada saat itu apa yang telah saya siapkan adalah penulisan bab-bab dan pasal-pasalnya saja.

Di akhir kitab, ada sebuah pasal yang memuat ucapan-ucapan fasih dan pendek Imam Ali As dalam nasehat-nasehat, hukum, perumpamaan serta adab dan tata cara, ini selain pidato-pidato panjang dan surat-suratnya yang lengkap. Sebagian dari para sahabat dan sanak saudara, merasa senang dan menganggap baik apa yang dimuat dalam pasal tersebut. Sementara mereka merasa takjub dan heran dari kata-kata baru dan makna yang tinggi dan jelas. Kemudian mereka meminta supaya saya memulai penulisan sebuah petikan yang memuat ucapan-ucapan imam, dari segala macam bentuk ucapannya yang lebih umum dari pidato-pidato, surat-surat, nasehat dan adab tata cara, karena mereka yakin bahwa kumpulan semacam ini, dapat mencakup seluruh rahasia sastra dan kefasihan yang menakjubkan dari intisari perkataan Arab dan dari ucapan-ucapan pencerah yang akan memenuhi dunia dan akhirat, khusus berkaitan dengan hal-hal yang belum tercantum dalam perkataan atau sebuah kitab, karena Amirul Mukminin Ali As adalah sumber kefasihan dan kesastraan yang mana rahasia keduanya tampak pada ucapannya dan kaidah-kaidahnya pula tersimpul dari ucapan tersebut. Setiap pujangga atau juru bicara yang jitu ikut merujuk kepadanya dan setiap penasehat yang fasih dalam ucapannya mencari pertolongan darinya. Seakan-akan Ali As sudah terlebih dahulu menggapai kefasihan di banding selainnya dan mereka tidak mampu untuk bersanding dengannya. Ali As sudah membumbung dan yang lainnya masih tertinggal di bawah. Karena di dalam ucapan Ali As terdapat jelmaan kalam Ilahi dan aroma ucapan Rasulullah Saw.

Akhirnya saya menjawab permintaan mereka supaya saya memulai pekerjaan tersebut dan saya tahu bahwa pekerjaan ini mengandung manfaat yang besar, yang mana hal ini dapat menyebabkan ketenaran namaku di dunia dan merupakan simpanan untuk akhiratku. Dan juga dengan irama ini, saya telah menunjukkan kepada yang lain tentang kebesaran Ali As dalam kebajikan dan keutamaan, bahwa dia benar, dan selain itu dia memiliki latar belakang semua kebajikan baik dari segi retorika maupu kefasihan yang seakan-akan semua itu telah direbut olehnya. Sedikit dari perkataan yang fasih dan penuh retorika dari sebagian ucapan para ulama telah sampai kepada kita, namun ucapan Amirul Mukminin Ali As adalah lautan luas yang tak terjangkau kedalamannya yang tidak ada seorang juru bicara pun mampu menandinginya dan ia adalah sekumpulan dari beberapa keutamaan yang tiada seorang pun mampu bersanding dengannya. [3]

Penamaan Nahjul Balaghah

Nahj (dengan "nun" yang berkarakat "fathah" dan "ha'" sukun) memiliki arti jalan yang tampak. [4] Oleh karena itu, Nahjul Balaghah berarti kefasihan dan retorika yang tampak. Sayid Radhi dalam pendahuluan kitabnya berkata: "Itu saya beri nama dengan Nahjul Balaghah, karena, pintu-pintu kefasihan akan terbuka bagi orang-orang yang ingin melihatnya, dan mengajak orang-orang yang haus kefasihan ke arahnya. Selain para cendekiawan yang memerlukannya, para pengkaji dan peneliti hakikat juga butuh padanya. Begitu pula kitab ini akan dicari oleh para pujangga dan tempat tujuan orang-orang zuhud dan ahli takwa. Dan di tengah-tengahnya cukuplah kata-kata yang fasih dan indah menakjubkan bahwa di dalam tauhid, keadilan yang menyucikan Allah dari keserupaan-Nya dengan makhluk-Nya. Di dalam suluk terdapat sebuah ungkapan yang dapat mengenyangkan orang-orang kehausan dan menyembuhkan orang-orang sakit dan menghilangkan keraguan orang-orang yang memiliki syakwa sangka dalam hatinya. [5]

Syaikh Muhammad Abduh mantan mufti Mesir, termasuk dari salah satu ulama Ahlusunnah, menulis sebuah pendahuluan dalam memberikan penjelasan Nahjul Balaghah, dia berkata: "Saya tidak menemukan satu nama untuk kitab ini yang menunjukkan arti dan makna yang paling tepat dan cocok dari nama yang telah ditulis ini. Dan di luar kemampuanku untuk menjelaskan bahwa kitab ini lebih dari nama yang telah ditujukan padanya... [6]

Kandungan Nahjul Balaghah

Akhlak
مکارم اخلاق.jpg


Ayat-ayat Akhlak
Ayat-ayat al-IfikAyat UkhuwahAyat Istirja'Ayat Ith'amAyat Naba'Ayat Najwa


Hadis-hadis Akhlak
Hadis ''Qurb Nawafil''Hadis Makarim AkhlakHadis MikrajHadis ''junud aql'' dan ''jahl''


Keutamaan-keutamaan Akhlak
Rendah HatiKepuasanDermawanMenahan AmarahIkhlasLembutZuhud


Keburukan-keburukan Moral
CongkakTamakHasudDustaGibahGunjingkikirMendurhakai orang tuaHadis ''Nafs''Besar DiriMengupingMemutus hubungan silaturahmiPenyebaran Kekejian


Istilah-istilah Akhlak
Jihad NafsNafs LawamahNafsu AmarahJiwa yang tenangPerhitunganMuraqabahMusyaratahDosaPelajaran Akhlak


Ulama Akhlak
Mulla Mahdi NaraqiMulla Ahmad NaraqiSayid Ali QadhiSayid Ridha BahauddiniDastgheibMuhammad Taqi Bahjat


Sumber Referensi Akhlak

Al-Qur'anNahjul BalaghahMishbah al-Syari'ahMakarim al-AkhlaqAl-Mahajjah al-Baidha' Majmu'atu WaramJami' al-Sa'adatMi'raj al-Sa'adahAl-Muraqabat

Sayid Radhi menulis pembagian Nahjul Balagah dalam muqaddimahnya dan berkata: Saya melihat ucapan-ucapan Ali As ada dalam tiga poros:

  • Pidato-pidato dan perintah-perintah, dan selainnya.
  • Surat-surat dan ungkapan-ungkpan dan tiga hal lainnya.
  • Hikmah-hikmah dan nasihat-nasihat.

Dengan taufik Allah Swt saya mulai menyeleksi pidato-pidato yang menakjubkan dan kemudian, surat-surat yang menawan hati dan diteruskan dengan hikmah-hikmah dan adab baiknya. Saya membuat bab terpisah dari setiap pembahasan dan di setiap pertengahan bab saya letakkan satu lembar kertas kosong, sehingga jika ada hal yang nanti saya dapatkan, akan saya tulis di sana dan jika saya peroleh sebuah perkataan dari Imam di sela-sela percakapan dengan seseorang atau tanya jawab yang terjadi atau saya mengingatnya dengan tujuan lain yang keluar dari maksud-maksud tersebut, yang sudah dijelaskan, untuk itu semua juga telah saya siapkan. Yaitu hal-hal yang saya anggap lebih tepat dan cocok untuk diletakkan di sana, maka saya akan menulisnya.

Di sela-sela perkataan Ali As yang saya pilih, terkadang terdapat bab-bab yang tidak serasi yang di sana terdapat perkataan yang menawan hati namun tidak serasi dengan urutan dan susunan yang ada. Sebabnya adalah karena poin-poin dan ucapan-ucapan sejati dan perkasa yang saya kumpulkan adalah dengan maksud kesinambungan bukan keserasian urutan kata-kata atau ucapan-ucapannya.

Dia selanjutnya berkata: dapat dilihat bahwa di tengah-tengah penyeleksian ini, terdapat satu lafadz dan makna yang berulang-ulang. Dalam hal-hal semacam ini, alasan kami adalah bahwa ucapan-ucapan Imam As diriwayatkan dengan berbagai bentuk dan di antara riwayat-riwayat yang ada juga terdapat perbedaan yang banyak. Apa lagi, jika terdapat sebuah ucapan dalam satu riwayat dan kami mengutipnya sesuai dengan apa yang kami dapatkan, kemudian ditemukan riwayat yang lain yang menjelaskan dalam bentuk yang berbeda, atau terdapat penambahan di dalamnya atau menggunakan sebuah ungkapan dengan kata yang lebih baik. Dengan begitu hal ini menuntut supaya hal tersebut diungkapkan seperti itu sehingga menjadi penguat dalam penyeleksian awal dan tujuan kami adalah merealisasikan bentuk terbaik dan terindah dalam penulisan ucapan dan perkataan Imam As.

Mungkin saya juga menulis sebuah tema di tempat lain dan kemudian setelah beberapa kali mengulangnya kembali di tempat yag berbeda, akan tetapi hal ini dikarenakan lupa dan bukan karena maksud tertentu atau sengaja. Dengan semua yang ada ini, saya tidak mengakui bahwa saya menguasai seluruh ucapan dan perkataan Imam As dan mengatakan bahwa tidak ada satupun darinya yang tersisa. Ada kemungkinan bahwa semua yang tidak saya peroleh dari perkataan dan ucapannya sangat lebih banyak dibandingkan dengan apa yang saya peroleh, dan apa yang saya muat lebih sedikit daripada yang tidak termuat. Namun wajib bagi saya untuk berusaha semampunya dan Allah akan membukakan jalan bagiku dan memberikan petunjuk serta taufikNya, Insya Allah. [7]

Dengan demikian, Nahjul Balaghah terbagi dalam tiga bagian: pidato-pidato, surat-surat, dan kata-kata mutiara pendek. Dengan memperhatikan pada perbedaan naskah para pengumpul di dalam pengurutan nomor tiga bagian ini, dalam penomorannya terdapat sedikit perbedaan. Menurut penomoran al-Mu'jam al-Mufahras li Alfadzi Nahjul Balaghah, jumlah pidato sebanyak 241 buah, jumlah surat sebanyak 79 buah dan kata mutiara pendek sebanyak 480 buah. [8] Di akhir tulisan ini, terdapat jadwal pembahasan hitungan perbandingan dari perbedaan naskah-naskah yang ada.

Pidato-pidato

Nahjul Balaghah adalah ensiklopedia dari budaya Islam: pengenalan dan pengetahuan tentang Tuhan, alam para malaikat, penciptaan alam semesta, sifat dan tabiat manusia, para umat dan pemerintahan-pemerintahan yang baik ataupun yang buruk. Namun poin yang mendasar adalah bahwa di seluruh ucapan dan perkataan ini, kehendak imam adalah bukan mengajarkan ilmu alam dan pengetahuan alam atau memberikan pemahaman tentang poin-poin filsafat atau sejarah. [9]

Ucapan-ucapan Imam Ali As seperti dalam pembahasan Al-Quran Al-Karim yang diterapkan dengan bahasa nasehat dan peringatan dari setiap peristiwa dan kejadian, baik yang dirasakan ataupun yang dicerna oleh akal yang diletakkan sebagai sebuah percontohan yang jelas dan dapat dicerna di sisi pendengarnya, yang kemudian secara perlahan dibawanya ke depan sebuah tempat yang harus sampai ke sana, yaitu di haribaan Allah yang Maha Esa.

Dalam ucapan beliau yang menceritakan tentang penciptaan langit dan bumi, tentang matahari, bulan dan bintang-bintang serta pegunungan, dia menggunakan bahasa nasehat dan peringatan bahwa semua apa yang Sang Pencipta berikan untuk kita di bumi ini hanya sekedar kebaikan untuk makhluk-Nya. Tetapi manusia tidak berterima kasih atas semua nikmat yang telah mereka dapatkan dan berpaling dari jalan Allah menuju jalan iblis. Daripada mencari pengampunan Allah, mereka menghabiskan waktunya pada tindakan kejahatan dan intrik fitnah lepas kendali. Semua nasehat dan cerita para pendahulunya mengingatkan cerita dan mengajarkan pelajaran tersebut kepada orang-orang yang masih hidup sebagai ibrah dan cermin bagi siapa saja yang melihat, namun siapa yang bercermin dan siapa yang menerima pelajaran? Lihatlah umat-umat yang telah punah dan terpendam di dalam tanah, apa yang telah mereka lakukan dan apa yang telah mereka lihat? Apakah kalian mengikuti perbuatan baik mereka atau kalian akan menjaga diri kalian dari perbuatan buruk yang akhirnya membuat mereka binasa!? [10]

Di sela-sela nasehat-nasehat ini, terkadang dia memandang kepada para sahabatnya dan berpikir dalam tentang keadaan dan prilaku mereka, tiba-tiba segunung kesedihan dan kepedihan muncul di hatinya dan ketika pandangannya terbentur pada sebuah fakta yang jelas dari masyarakat yang duduk di depan mimbarnya memandang berputar ke sekelilingnya dan membuka ufuk yang lebih jauh pada zaman Nabi Muhammad dan sahabat-sahabat sejatinya yang dengan beritikad kepada Allah dan hari akhir, lebih mendahulukan pertolongan Allah dibanding kehidupan dunia mereka. Kemudian dia meneruskan tugasnya untuk para hadirin yang telah berkumpul di depannya dan melihat bahwa sebenarnya zaman itu tiga puluh tahun belum lama berlalu, mengapa dalam jarak yang tidak begitu lama, muslim-muslim palsu telah duduk menggantikan muslim-muslim sejati? Masyarakat yang karena dunia telah tersenyum kepada mereka lalu melupakan Tuhan dan tidak lagi mentaati imam mereka. Masyarakat yang menarik tinggi leher mereka dan membanggakan dirinya dan mengatakan bahwa mereka memberikan kesayahidan dirinya di jalan Allah dan mereka juga mengharapkan air syahadah, ke mana mereka pergi? Mengapa mereka yang harus melingkar di sekitarku, lebih memilih berleha-leha dibandingkan mati syahid di jalan Allah dan setiap orang berusaha meletakkan tugas kewajiban agamanya di atas pundak yang lainnya? Ketika memandang kesamaan dan pengorbanan kaum muslimin di awal-awal peradaban Islam, bagaimana mereka mendahulukan orang lain dan berusaha menjaga dirinya supaya tidak tercemar dengan kegemerlapan dunia. Tetapi sekarang, mengapa mereka lebih mencari gemerlap dunia dan bahkan menyembah dunia? Ini percontohan dan berpuluh-puluh contoh lain dari isi dan kandungan pidato Imam Ali As. [11]

Surat-surat

Surat-suratnya lebih bersifat pernyataan sebuah keputusan dan perintah sebuah pekerjaan yang ditulis kepada para pemengang pemerintahannya, yaitu: Bagaimana mereka bergaul dan bertindak dengan berbagai kasta masyarakat dan usaha apa yang harus mereka lakukan dalam menduduki jabatan sebagai penjaga perbendaharaan negara. Apa yang harus mereka pikirkan dalam menggunakan biaya, pemakaian dan mempertimbangkan kepentingan publik. Namun isi kandungan surat-surat ini adalah tidak lebih dari perintah seorang penguasa yang bijak yang memiliki setengah dari luasnya sebuah tempat tinggal dari dunia pada saat itu yang sedang memberikan perintah kepada para bawahannya, bahkan itu adalah tulisan dari seorang ayah yang penyayang dan lanjut usia, yang telah mencicipi panas dan dinginnya kehidupan, yang mengajarkan kepada anak-anaknya cara mengelus dan mengusap kasih sayang sehingga dengan tegar dapat menghadapi segala kesulitan dan sukses dalam mengarungi kancah peperangan kehidupannya. [12]

Kata-kata Mutiara Pendek

Pada bagian ini terdapat seleksi ucapan dan ungkapan penuh hikmah Amirul Mukminin As dan nasehat-nasehatnya serta pertanyaan dan jawabannya, kemudian perkataan-perkataan pendeknya. [13]

Terjemahan-Terjemahan

Telah banyak terjemahan yang dilakukan untuk kitab Nahjul Balaghah, yang mana sebagian dari terjemahan-terjemahan itu dapat disebutkan sebagai berikut:

  • Nahjul Balagah dengan terjemahan bahasa Persia abad kelima dan keenam; penjelasan kata-kata, perbaikan dan perbandaingan teks, oleh Azizullah Juwaini. [14]
  • Nahjul Balaghah; terjemahan Sayid Ja'far Syahidi. [15]
  • Nahjul Balaghah Amirul Mukminin Ali As; terjemahan Abdul Muhammad Ayati. [16]
  • Terjemahan dan penjelasan Nahjul Balaghah; terjemahan dan penjelasan Ali Naqi Faidh al-Islam. [17]
  • Nahjul Balaghah Imam Ali As; terjemahan Muhammad Mahdi Fuladvan. [18]
  • Nahjul Balaghah Imam Ali As; terjemahan Asadullah Mubasyiri. [19]

Keterangan-keterangan dan Penjelasan-penjelasan

Telah banyak keterangan yang ditulis atas kitab Nahjul Balaghah yang sekarang sudah jarang sekali ditemukan. Para juru katalog telah banyak menghitung nama-nama kitab yang menerangkan dan menjelaskan Nahjul Balaghah, diantaranya tercantum dalam kitab surat Nahjul Balaghah bahwa lebih dari 300 karya tentang kitab ini telah disebutkan dalam pelbagai bahasa yang menurut pengakuan penulis, katalog atau daftar ini tidak lengkap. [20] Adapun yang tercantum berikut ini adalah hanya sebagian dari keterangan dan penjelasan yang penting dalam bahasa Persia dan Arab yang mana itu semua sekarang ini ada di tengah-tengah kita.

Persia

  1. Terjemahan penjelasan Nahjul Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid Mu'tazili (586-656 H) Ghulam Reza Laifi. [21]
  2. (Terjemahan) penjelasan Nahjul Balaghah, Ibnu Maitsam, Kamaluddin Maitsam Ali bin Maitsam Bahrani (wafat pertengahan kedua abad 7); para penerjemah Qurban Ali Muhammadi Muqaddam, Ali Ashgar Nawai Yahya Zadeh, [22]
  3. Terjemahan dan tafsir Nahjul Balaghah, Muhammad taqi Ja'fari. [23]

Arabi

Kitab Syarh Nahjul Balaghah Ibnu Abi al-Hadid
  1. Ma'arij Nahjul Balaghah, Zhuhairuddin Abi al-Hasan Ali bin Zaid al-Baihaqi...(wafat565 H); riset dan penyedia Muhammad Taqi Danesh Pajuh. [24]
  2. Minhaj al-Bara'ah fi Syarhi Nahjil Balaghah, Qutbuddin al-Rawandi (wafat 573 H); riset Azizullah al-Atharudi. [25]
  3. Hadaiq al-Haqaiq fi Syarhi Nahjil Balaghah, Qutbuddin al-Kaidzari al-Baihaqi; riset Azizullah al-Atharudi. [26] Penulisan keterangan ini selesai pada tahun 576 H.[27]
  4. A'lam Nahjul Balaghah, Ali bin Nasir al-Sarkhisi (abad 6 H) riset dan penyusun naskah Azizullah al-'Atharudi. [28]
  5. Syarh Nahjul Balaghah, Li Ibnu Abi al-Hadid, riset Muhammad Abulfazl Ibrahim. [29]
  6. Syarh Nahjul Balaghah, Kamaluddin Maitsam bin Ali al-Bahrani. [30]
  7. Ikhtiyar Misbah al-Salikin: Min Kalami Maulana wa Imamuna Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As (Syarh Nahjul Balaghah al-Washith), Maitsam bin Ali al-Bahrani; riset, penyedia dan pengamat: Muhammad Hadi al-Amini. [31]
  8. Minhajul Bara'ah fi Syarhi Nahjul Balaghah, Habibullah al-Hasyimi al Khui (1268-1324). [32]
  9. Bahju al-Shibaghah fi Syarh Nahjul Balaghah, Muhammad Taqi al-Tustari (1282-1374 S). [33]
  10. Nahbahu al-Syarhain: fi Syarh Nahjul Balaghah, Abdullah Syubbar (1774-1826 M) penyeleksian dari penerangan-penerangan Ibnu Maitsam dan Ibnu Abi al-Hadid. [34]
  11. Nahjul Balaghah, Syarh Muhammad Abduh (1849-1905 M) di bawah pengawasan riset dan percetakan Abdul Aziz Sayid al-Ahl. [35]

Sanad-Sanad Nahjul Balaghah

Sebagian dari para cendekiawan Ahlus Sunnah meragukan sanad Nahjul Balaghah. Diantaranya, Ibnu Khalkan (wafat 681) ia berkata: "Masyarakat berbeda pendapat tentang kitab Nahjul Balaghah, kumpulan dari perkataan dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib Ra, apakah Sayid Murtadha yang mengumpulkannya ataukah saudaranya Sayid Radhi; dan mereka mengatakan bahwa ini bukan dari ucapan-ucapan Imam Ali As, dan hanya seseorang yang mengumpukannya dan menisbahkan kepadanya, dan dia adalah juru bicaranya; wallahu a'lam." [36] Setelah dia adalah Dzahabi (wafat 748 H) dengan penuh keyakinan berkata: "Sayid Murtadha adalah penyusun kitab Nahjul Balaghah yang mana lafazd lafazdnya dinisbahkan kepada Imam Ali Ra dan tidak memiliki sanad untuk penisbahan ini. Sebagian darinya keliru dan sebagian darinya benar akan tetapi dalam prihal yang jauh dari kemungkinan Imam berkata demikian,...; dan dikatakan bahwa kitab tersebut disusun oleh saudaranya Radhi. [37]

Gambar naskah tulisan kuno dari kitab Nahjul Balaghah yang ditulis pada abad ke 6, tahun 544 H

Sebagaimana Ibnu Khalkan berkata dari keraguan masyarakat, Ibnu Abi al-Hadid (wafat 656 H) juga setelah menerangkan Pidato Syiqsyiqiyah, menukil sebuah hikayat yang muncul di tengah-tengah masyarakat dari keraguan semacam ini yang tentunya ia dengan tegas menjawabnya. Dia berkata: Pada tahun 603 H, saya mendengar dari syaikhku Misdaq bin Syabib Washithi bahwa ia berkata: Pidato ini (yakni Pidato Syiqsyiqiyah) saya bacakan kepada Abdullah bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ibnu Khusyab,... maka kepadanya saya katakan: Apakah Anda meyakini kepalsuan penisbahan pidato ini (kepada Imam Ali)? Dia berkata: Demi Allah aku bersumpah, aku yakin bahwa ini adalah pidatonya sebagaimana aku yakin bahwa engkau adalah seorang pembenar. Kemudian kepadanya aku katakan: Sebagian dari masyarakat berkata bahwa pidato ini adalah ucapan Radhi rahmatullah alaih. Dia berkata: Radhi dan semacam Radhi di mana dan kerangka ucapan ini di mana? Kami telah melihat tulisan-tulisan dan surat-surat Radhi dan aku tahu ungkapan tata bahasa, metode dan kerangka ucapan yang ia pakai; ia tidak menambah kebaikan dan keburukan dalam pidato ini. Kemudian melanjutkan: Demi Allah aku bersumpah bahwa aku melihat pidato ini telah ditulis dalam beberapa kitab, 200 tahun sebelum Radhi dilahirkan, dan aku tahu khat penulisnya dan aku tahu tulisan khat siapa dari salah satu ulama dan agama-agama, sebelum Abu Ahmad, ayah Radhi dilahirkan. [38]

Ibnu Abil al-Hadid sambil melanjutkan berkata: Saya banyak melihat pidato ini pada tulisan-tulisan syaikh kami Abu al-Qasim Balkhi, imam Mu'tazilah Baghdad, dia hidup sebelum Radhi lahir dalam pemerintahan yang berdaulat. Begitu pula tidak sedikit saya lihat darinya dalam kitab-kitab terkenal Abu Ja'far bin Qubbah, salah seorang teolog mazhab Imamiah, yang dikenal dengan kitab al-Inshaf. Abu Ja'far adalah salah satu dari murid Syaikh Abu al-Qasim Balkhi rahmatullah taala alaih dan meninggal saat itu sebelum Radhi dilahirkan. [39]

Selain jawaban-jawaban yang tegas dan berdalil di sela-sela penjelasan dan penerangan Nahjul Balaghah, seperti jawaban Ibnu Abi al-Hadid, para peneliti telah berupaya menulis dan menyusun kitab-kitab, juga kitab-kitab yang secara mandiri membahas sanad seluruh ucapan-ucapan kitab (Nahjul Balagah) tersebut. Sanad-sanad ini, menunjukkan bahwa ucapan-ucapan Imam Ali As terdapat dalam-kitab-kitab sebelum Sayid Radhi dan Sayid Murtadha atau sezaman atau sesudah mereka, namun dengan riwayat yang bukan dari mereka. Dengan demikian, jelas bahwa keraguan-keraguan tersebut tidaklah benar. Sebagaimana keraguan tentang pengumpul ucapan-ucapan itu, bahwa pengumpul yang benar adalah Sayid Radhi, bukan saudaranya. Berikut ini yang dapat diisyaratkan dari sebagian sumber-sumber sanad kitab Nahjul Balaghah yang telah berhasil dikumpulkan:

  1. Istinad Nahjul Balaghah, karangan Imtiyaz Alikhan Arsyi; terjemah, tafsir dan margin Murtadha Ayatullahi Zadeh Syirazi. [40]
  2. Mashadir Nahjul Balaghah wa Asaniduhu, Sayid Abduzzahra al-Husaini al-Khatib. [41]

Mustadrak (Pelengkap) Nahjul Balaghah

Dengan mengingat bahwa kitab Nahjul Balaghah adalah kumpulan sebagian dari perkataan-perkataan pilihan Imam Ali As, oleh karena itu di sini sebagian dari para peneliti berusaha merintis dan melakukukan upaya untuk mengumpulkan seluruh perkataan beliau. Sebagian diantara karya-karya tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tamāmu Nahjul Balāghah mimā Auradahu al-Syarif al-Radhi Atsāru Maulāna al-Imām Amirul Mukminin Ali bin Abi Thālib alaihi salam, riset, pelengkap dan kompilasi Shadiq al-Musawi; didokumentasikan oleh Muhammad 'Usaf; peninjau dan perbaikan teks oleh Farid al-Sayid. [42]
  2. Nahj al-Sa'ādah fi Mustadraki Nahjul Balāghah Bāb al-Kitāb wa al-Rasāil, karangan Muhammad Baqir al-Mahmudi; koreksi Aziz Aal Thalib. [43]
  3. Nahj al-Sa'ādah fi Mustadraki Nahjul Balāghah Bab al-Khutab wa al-Kalām, karangan Muhammad Baqir al-Mahmudi; koreksi Aziz Aal Thalib. [44]
  4. Mustadraki Nahjul Balāghah..., Al-Hadi Kasyif al-Ghita. [45]

Pengaruh Ucapan-ucapan Imam Ali As dalam Sastra Arab

Para juru bicara dan penulis Arab sejak abad pertama Hijriah dan setelahnya, berkali-kali membaca ucapan-ucapan Imam Ali As demi kematangan dan hiasan perkataan mereka dengan keindahan dan kuatnya lafaz supaya terjaga dari kata dan ungkapan yang tidak tepat dan memakai paragrafnya supaya keindahan sastra tampak dan muncul dalam perkataan atau tulisan mereka, sehingga perkataan mereka diterima oleh semua lapisan. [46]

Ketika mengulas pidato-pidato dan surat-surat sastra Arab dan juga bait-bait syair bahasa Arab periode setelah Islam, para peneliti melihat sangat sedikit sekali dari penyair atau sastrawan yang tidak menggambil atau menyadur sebuah makna dari perkataan Imam Ali As dalam sebuah tulisan atau bait syairnya. [47]

Abdul Hamid

Abdul Hamid bin Yahya ‘Amiri yang terbunuh pada tahun 132 H adalah juru tulis Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Marwan. Dikatakan bahwa seni penulisan dimulai oleh Abdul Hamid. Abdul Hamid berkata: "Aku telah menyadur tujuh puluh pidato dari pidato-pidatonya seorang yang asla (asla adalah seseorang yang tidak mempunyai rambut di depan kepalanya dan yang dimaksud adalah Amirul Mukminin As) dan pidato-pidato ini selalu berproses di benakku bagaikan mata air yang memancar.” [48]

Jahizd

Abu Utsman Jahizd (wafat 255 H) dikenal sebagai Bapak Sastrawan Arab dan Masudi meyakininya sebagai penulis salafi terfasih. Setelah penulisan paragraph ini dari perkataan Imam "Nilai setiap orang adalah apa yang membuatnya baik” [49] Jahizd berkata: Jika dari kitab ini (sepertinya kitab yang dimaksud adalah Al-Bayan wa al-Tabyiin) tidak ada perkataan lain kecuali kalimat ini, hal itu aku temukan sebagai suatu hal yang cukup dan memuaskan. Bahkan hal itu aku pandang sebagai hal yang lebih dari cukup dan akhir tujuan dan paling baiknya ungkapan adalah pendeknya ungkapan tersebut membuatmu puas dari segalanya dan maknanya tampak pada lafaz lahiriahnya. [50] Dalam kitab Al-Bayan wa al-Tabyiin, ia mengutip beberapa pidato Amirul Mukminin As. [51]

Jahizd, sebelum Sayid Radhi, telah menyeleksi seratus kalimat dari ucapan dan perkataan Imam Ali As, yang mana kalimat-kalimat tersebut telah dijelaskan oleh Rasyid Wathwath dan Ibnu Maitsam Bahrani dan yang lainnya. Ia dalam mensifati kalimat-kalimat ini berkata: Setiap satu dari kalimat-kalimat ini sepadan dengan seribu kalimat dari kalimat-kalimat pribahasa Arab yang baik. [52] Dalam karangan-karangan Jahizd terdapat sebuah kitab dengan nama "Miatu min Amtsāl Ali As[53] (seratus dari perumpamaan Ali As) dan kemungkinan besar kitab ini yang dimaksud.

Ibnu Nubatah

Ibnu Nubatah Abdurrahim bin Muhammad bin Ismail (wafat 374 H) termasuk dari para sastrawan ternama dan orator Arab yang terkenal. Pada zaman Saifu al-Daulah di kota Halab ia memiliki jabatan penceramah. Ia berkata: Aku mengambil dari pidato-pidato emas yang setiap kali kupakai tidak akan berkurang, bahkan bertambah dan kebanyakan yang aku ambil adalah seratus pasal dari nasehat-nasihat Ali bin Abi Thalib. [54]

Ibnu Ishaq Shabi

Zaki Mubarak ketika berkata tentang bentuk struktur Abu Ishaq Shabi (wafat 380 H) dalam kitab "Al-Natsr al-Fanni” ia memuat sebuah paragrap dari tulisan Shabi dan menulis demikian: Jika ungkapan ini kita bandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Syarif Radhi yang mengumpulkan perkataan Imam Ali As, kita akan melihat bahwa Shabi dan Radhi telah kenyang dan puas dari satu sumber telaga. [55]

Ucapan Ibnu Abi al-Hadid

Ibnu Abi al-Hadid dalam mensifati kefasihan Imam Ali As berkata: "Dia As, adalah imam orang-orang fasih dan pemimpin para sastrawan dan tentang ucapannya telah dikatakan bahwa "lebih rendah dari firman Allah dan lebih tinggi dari ucapan ciptaan-Nya”. Masyarakat menimba ilmu pidato dan penulisan darinya. [56]

Pengaruh Ucapan-Ucapan Imam Ali dalam Sastra Persia

Secara pasti dapat dikatakan bahwa setelah Al-Quran Al-Karim, para juru bicara dan juru tulis Iran tidak mengambil manfaat dari setiap perkataan seperti perkataan Ali. Mereka tidak menemukan hiasan yang lebih bernilai seperti ucapan dan perkataannya, sehingga dengan itu mereka dapat menghiasi perkataan-perkataan dan tulisan-tulisan mereka. Tanpa fanatik harus diakui bahwa surat-surat dan perkataan-perkataan Amirul Mukmin Ali As adalah contoh ungkapan Arab paling tinggi yang dibuat setelah Al-Quran Al-Karim. Ini adalah sebuah kenyataan yang diakui para satrawan dan juru tulis bahasa dan sastra Arab sejak 1000 tahun yang lalu hingga sekarang. Penyebab para sastrawan Arab dan sebagian Arab dari abad ketiga Hijriah mulai memberikan perhatian untuk mengumpulkan paragraf-paragraf pendek ucapan-ucapan Imam As adalah karena keindahan-keindahan lafaz dan makna dari perkataan-perkataan tersebut. [57]

Kebanyakan dari pidato-pidato atau paragraf-paragraf pendek ucapan Imam Ali As terdapat dalam sebuah sanad yang berabad-abad telah ditulis dan ada sebelum pengumpulan Nahjul Balaghah. Para sastrawan dan juru tulis Arab secara langsung atau tidak, mengambil manfaat dari pidato-pidato tersebut dalam menghiasi tulisan-tulisan dan perkataan-perkataan mereka. Beratus tahun lamanya pemanfaatan struktur keindahan puisi, penyaduran dan pengutipan dengan makna ini dilakukan, baik oleh para penulis Arab maupun para penulis dan para sekretaris Iran yang memakai bahasa Arab. Pada abad-abad pertama masuknya Islam di Iran, para sastrawan Iran kebanyakan meulis karya-karya mereka dalam bahasa Arab. Ini merupakan salah satu alasan bahwa bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran dan agama. Selain itu, mereka menginginkan kaum muslimin di luar Iran juga memanfaatkan hasil dari pemikiran mereka. [58]

Setelah bahasa tersebar dan para penyair mulai menulis syair dan puisinya dengan bahasa tersebut, sangat jarang kita melihat sebuah kumpulan puisi atau kitab yang penyair atau penulisnya tidak menghiasi perkataan mereka dengan paragraf atau beberapa baris paragraf dari ucapan-ucapan dan kalimat-kalimat pendek Imam Ali. Mereka menuliskannya bagaikan mutiara di dalam bentuk puisi dan sajaknya. [59]

Firdausi

Firdausi adalah salah satu pujangga dan penyair besar Parsi yang bisa disebut, yang mengambil ilham dari perkataan dan ucapan Imam Ali As. Ia mengambilnya tidak hanya dari Nahjul Balaghah. [60]

Nasir Khusru Qubadiyani

Nasir Khusru Qubadiyani (394-481 H) adalah orator, penyair dan penulis besar mazhab Ismaili dan memiliki perhatian khusus kepada keluarga Rasul dan Ahlulbaitnya. Dalam kumpulan puisi penyair ini dapat dilihat dan ditemukan banyaknya kandungan dan nasehat-nasehat yang terjemahannya diambil dari perkataan Maula Amirul Mukminin As. [61] Dr. Sayid Ja'far Syahidi berkata, "Dari seluruh kumpulan puisi Nasir Khusru Qubadiyani yang sempat saya baca, lebih dari enam puluh hal, persis dengan perkataan Imam Amirul Mukmini Ali As dimuat dalam bentuk piusi. Para juru bicara arif seperti Sinai Ghaznawi, ‘Athar Neishaburi, Maulana Jalaluddin Balkhi juga demikian.” [62]

Kalilah wa Dumnah

Kalileh wa Demuneh Bahramsyahi karya Khajeh Nashrullah ibnu Muhammad bin Abdulhamid sekretaris Bahramsyah Ghaznawi adalah sebuah terjemahan dari Kalileh wa Demuneh Arab. Kitab ini ditulis kira-kira pada tahunan 538-540 Hijriah. Sebagaimana al-Marhum Mujtaba Minuii dalam pendahuluan kitab Kalileh wa Demuneh menuliskan: Lebih dari dua puluh orang dari para penulis setelah Nasrullah sekretaris menulis mengikuti dan mencontoh bukunya dan terpengaruh dari tulisan puisinya. Dan pengaruh serta kemampuan penulis ini terhadap karangan makna-makna puisi dan keterampilannya dalam penulisan puisi yang dibuat begitu diterima. Namun sekretaris yang jago ini yang ingin memperkuat makna dan lafazd dalam karangannya dan meletakkannya di dalam benak pembaca akan semakin berpengaruh ketika dia membuktikan tulisannya dengan ayat-ayat Al-Quran dan potongan-potongan dari ucapan-ucapan Amirul Mukminin Ali As. [63]

Harus diperhatikan bahwa semenjak munculnya bahasa Dari sudah menjadi semacam sebuah tradisi madzhab Iran, khususnya di kawasan timur negara ini yang merupakan buaian asal mula munculnya bahasa tersebut, para pujangga dan para penulisnya mungkin karena pengenalan mereka yang sedikit atau karena menjaga kemaslahatan waktu mereka tidak memperhatikan perkataan-perkataan para imam maksum sebagaimana mestinya, dengan segala hal, dengan manifestasi bahwa "Parfum Misik walaupun dimasukkan kedalam botol dan ditutup rapat maka baunya akan menyebar” diyakini sangat sedikit sekali dari sekretaris atau seorang penyair yang tidak butuh pada ucapan-ucapan Imam untuk menghiasi ucapan-ucapannya. Apalagi setelah mazhab Syiah berkembang dan tersebar di Iran, dengan yakin dapat dikatakan bahwa dalam bait-bait syair seorang penyair dan puisinya tidak pernah kosong dari pengaruh Nahjul Balaghah dan perkataan Imam Ali As. [64]

Software Nahjul Balaghah

  1. Danishnameh Jami Nahjul Balagah atau Ensiklopedia Nahjul Balaghah. Tehran: Pusat Penelitian dan Riset Komputer Hauzah Ilmiyah Isfahan. Spesifikasi: satu buah CD dengan petunjuk, audio dan visual. CD ini mencakup: ratusan jilid penjelasan dan terjemahan dengan berbagai bahasa yang digunakan di seluruh dunia, dalam bentuk komparasi, menjangkau ribuan tema dengan metode vertikal, kamus bahasa aktif dalam teks, kemampuan tayang sumber-sumber dan perumpamaan secara aktif dan tayangan naskah tulisan tangan dan fasilitas lainnya. [65]
  2. Manhaj al-Nur: Daneshnameh Alawi (Ensiklopedia Alawi), Qom. Pusat Penelitian dan Riset Komputer Ulum Islami. Satu CD mencakup penayangan teks Nahjul balaghah berdasarkan lima naskah dengan fasilitas dapat dikomparasi; penjelasan kata-kata yang rumit; nama-nama yang jelas dan berkata ganti; perumpamaan pribahasa dan sumber-sumber Nahjul Balaghah dalam bahasa Arab dan Persia; menyediakan daftar isi, hadis-hadis, syair-syair; doa-doa; percontohan; alamat-alamat dan sumber-sumber; sebuah perpustakaan yang mencakup seratus sepuluh tema dalam dua ratus delapan puluh satu jilid dalam ranah nahjul Balaghah dan ... dan sebuah perpustakaan terperinci dari buku-buku program dengan fasilitas pencarian berbagai ragam. [66]

Telaah lebih jauh

  • Nahjul Balaghah wa Atsaruhu Ala al-Adab al=Arabi. Muhammad Hadi al-Amini al-Najafi.[67]
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Bahreh Adabiyat Farsi az Suhkanan Ali As, pada kongres peringatan millennium Nahjul Balaghah, tanpa tempat: Bunyad Nahjul Balaghah, 1360 S.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Bahreh Giri Adabiyat Farsi az Nahjul Balaghah, pada kongres kedua peringatan Nahjul Balaghah, Tehran: kementerian penasehat Islam dan Bunyad Nahjul Balaghah, 1363 S.
  • Ja'fari, Muhammad Mahdi, Asynai Ba Nahjul Balaghah, Tehran, Amir Kabir, 1364 S.


Catatan Kaki

  1. Muqaddimah Sayid Radhi bar Nahjul Balaghah, terjemahan Ayati.
  2. Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balaghah, hlm. Yad.
  3. Muqaddimah Sayid Radhi bar Nahjul Balāghah, terjemahan Ayati.
  4. Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balaghah, hlm. Lau.
  5. Muqaddimah Sayid Radhi bar Nahjul Balaghah, terjemahan Ayati.
  6. Abduh, Syarh Nahjul Balaghah, hlm. 10.
  7. Muqaddimah Sayid Radhi bar Nahjul Balāghah, terjemahan Ayati.
  8. Rujuklah: Muhammadi, Sayid Kazdim, Dasyti, Muhammad, al-Mu'jam al-Mufahras li Alfāzd Nahjul Balāghah, Qom, Percetakan Imam Ali As, 1369 S.
  9. Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balāghah, hlm. Yad.
  10. Idem.
  11. Idem, Yad, Yaha.
  12. Idem, Yaha.
  13. Syahidi, Nahjul Balāghah, hlm. 361.
  14. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/ff1ii5590
  15. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1828261
  16. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1207008
  17. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/675567
  18. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1582020
  19. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/575562
  20. Ustadzi, Ridha, perpustakaan Nahjul Balaghah, hlm. 3-4
  21. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1512746
  22. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/976684
  23. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1737942
  24. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/545488
  25. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2965984
  26. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2975819
  27. Al-Husaini al-Khatib, Mashadiru Nahjul Balaghah wa Asaniduhu, jld.1, hlm. 226.
  28. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2965983
  29. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/506593
  30. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/928760
  31. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/560089
  32. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2428468
  33. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/569381
  34. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/748217
  35. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1925260
  36. Ibnu Khalkan, Wafayāt al-A'yān wa Anbā al-Zamān.
  37. Al-Dzahabi, Siyaru A'lām al-Nubalā, jld. 17, hlm. 589.
  38. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld. 1, hlm. 205.
  39. Idem, hlm. 205-206.
  40. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/526351
  41. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/885620
  42. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/619025
  43. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/488844
  44. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/2964112
  45. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/928193
  46. Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balaghah, hlm. Zai, Ha
  47. Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balaghah, hlm. Shad. Untuk telaah lebih jauh rujuklah ke makalah Nahjul Balāghah wa Atsāruhu 'Ala al-Adab al-Arabi, hlm. 119, Muhammad Hadi Amini, penerbitan Nahjul Balāghah.
  48. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld. 1, hlm. 24; Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balāghah.
  49. Ungkapan ini ada dalam dua macam (bahkan tiga macam: mereka juga menulis seperti ini: قیمة کل انسان مایحسن akan tetapi perubahan lafazd مرء menjadi انسان tidak banyak perbedaan dalam pemahaman) periwayatan. Salah satunya adalah apa yang dimuat di atas dalam teks dan yang lainnya dengan ungkapan «‌ما یحسنه ». Dr. Syahidi dalam mukaddimah Nahjul Balaghah memuat riwayat ini dengan tanpa kata ganti (dhomir) «‌ه‌»dan dalam penjelasannya menerjemahkannya demikian: "Nilai bani Adam adalah atas apa yang dia sukai". Adapun riwayat yang disebut tadi dalam kata-kata mutiara pendek Nahjul Balahgah terjemahan Syahidi, dengan kata ganti dia menerjemahkannya sebagai berikut: Seseorang itu bernilai dengan kebaikan yang dia ketahui, itulah nilai yang dikehendaki. Para penerjemah lainnya menerjemahkan ibarat ungkapan ini dengan berbagai macam. Yang mana sebagian dari mereka menerjemahkannya demikian. Ayati: Nilai setiap orang adalah segala apa yang dia anggap baik. Arfa': Nilai setiap orang dengan sesuatu yang dia menganggapnya berharga. Anshariyan: Nilai setiap pemuda pada pekerjaannya secara baik dia lakukan. Mubasyiri: Nilai setiap orang adalah sekedar keberuntugannya. Faidh al-Islam: Imam As(mengenai seni) bersabda: Nilai setiap orang (kedudukannya di sisi masyarakat seukuran) sesuatu (kesenian) yang dia menganggapnya baik (dan dia melakukannya). Terjemahan abad keempat dan kelima Hijriah: Nilai seseorang adalah dia mengetahui hal itu dan melakukan dengan ilmu dan amal yang dia ketahui. Din Parwar: ketahuilah kepribadianmu: Nilai setiap orang pada pekerjaan baiknya. Makarim: Nilai dan harga setiap orang seukurang dengan pekerjaan yang dapat dia lakukan secara baik. Sepher: Nilai seseorang seukuran dengan perbuatan-perbautan baiknya. Pada penjelasannya harus dikatakan bahwa bentuk kata kerja mendatang dari wazan if'al ح س ن memiliki arti pengetahuan akan tetapi tidak terpisah dari amal baik sesuai dengan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, makna yang benar tampaknya adalah sebagai berikut bahwa nilai manusia adalah dengan sesuatu yang dia ketahui secara terperinci dan dilakukan secara baik. Namun dengan memperhatikan berbagai hal, lebih umum dari bahasa dan penafsiran para penjelas besar seperti Ibnu Abil al-Hadid dan juga riwayat-riwayat yang ungkapannya mereka nukil dalam sebuah teks dari Imam Ali As dengan ungkapan sebelum dan sesudahnya (rujuklah Bahju al-Shibāghah fi Syarhi Nahjul Balāghah, jld. 7, hlm. 480) yang jika diterjemahkan dengan arti ilmu atau pengetahuan saja tidak benar sebagaimana jika diterjemahkan dengan amal saja juga tidak benar.
  50. Al-Jahizd, Al-Bayan wa al-Tibyan, koreksi Abdussalam Harun, jld.1, hlm. 83; dengan penukilan Syahidi, Muqaddimah Nahjul Balāghah, hlm. Shad.
  51. Al-Jahizd, Al-Bayān wa al-Tabyiin, (naskah yang ada dalam CD perpustakaan Ahlulbait As naskah kedua) hlm. 237-240, 312.
  52. Syarh Ibnu Maitsam 'ala al-Mi'ah Kalimah li Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, editor: Mir Jalaluddin al-Husaini al-Armawi al-Muhaddits, Tehran: Organisasi percetakan universitas Tehran, 1349 S, hlm. 2. Juga dalam jilid ini: rujuklah, Wathwath, Rasyid, mathlubu kulli thālib min kalāmi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, editor: Mir Jalaluddin al-Husaini al-Armawi al-Muhaddits, Tehran: percetakan universitas Tehran, 1342 S, hlm. 2.
  53. Rujuklah Danish nāmeh Jahān Islām, madkhal, Jahizd Abu Utsman Amru bin Bahr
  54. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld 1, hlm. 24; Syahidi, Mukaddimah Nahjul Balāghah. Hlm. Ha.
  55. Al-Natsr al-fanni, jld. 2, hlm. 296; dikutip oleh Syahidi, mukaddimah Nahjul Balāghah, hlm. Shad.
  56. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balāghah, jld 1, hlm. 24.
  57. Syahidi, Bahreh Adabiyat az Sukhanan Ali As, hlm. 202.
  58. Syahidi, Bahreh Adabiyāt az Sukhanān Ali As, hlm. 205.
  59. Ibid.
  60. Rujuklah, Syahidi, Bahreh Adabiyāt az Sukhanān Ali As, hlm. 206-209.
  61. Syahidi, Bahreh Adabiyāt az Sukhanān Ali As, hlm. 209.
  62. Syahidi, Sayid Ja'far, Bahreh Ghiri Adabiyāt Fārsi az Nahjul Balāghah, hlm. 185.
  63. Syahidi, Bahreh Adabiyat az Sukhanan Ali As, hlm. 210.
  64. Ibid, hlm. 214.
  65. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/1983833
  66. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/885530
  67. http://opac.nlai.ir/opac-prod/bibliographic/885530

Daftar Pustaka

  • Syahidi, Sayid Ja'far, Nahjul Balaghah terjemah, Tehran: Ilmi wa Farhanggi, 1377.
  • Ayati, Abdulhamid, Nahjul Balaghah terjemah, tanpa tempat, penerbit: kantor penerbitan Farhang Islami, 1377 S. (Naskah yang ada dalam CD perpustakaan Ahlulbait As Naskah kedua)
  • Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, riset: Muhammad Abulfazl Ibrahim, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Isa al-Babi al-Halabi dan temen-teman, 1378 H - 1959 M.
  • Ustadzi, Ridha, Kitabnameh Nahjul Balaghah, Tehran: Bunyad Nahjul Balaghah, 1359 S.
  • Al-Husaini al-Khatib, al-Sayid Abduzzahra, Mashadir Nahjul Balaghah wa Asaniduhu, Beirut: Dar az-Zahra, 1409 H – 1988 M.
  • Ibnu Khalkan, Wafayat al-A'yan wa abna abna al-Zaman, riset: Ihsan Abbas, Lebanon: Dar al-Tsaqafah, tanpa tanggal.
  • Al-Dzahabi, Siaru a'lami al-Nubala, riset, penyalur dan tafsir: Syuaib al-Arnauuth, Muhammad Na'im al-‘arqususi, Beirut: yayasan Al-Risalah, 1406 H- 1986 M.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Bahreh Adabiyat Farsi az Suhkanan Ali As, pada kongres peringatan millennium Nahjul Balaghah, tanpa tempat: Bunyad Nahjul Balaghah, 1360 S.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Bahreh Giri Adabiyat Farsi az Nahjul Balaghah, pada kongres kedua peringatan Nahjul Balaghah, Tehran: kementerian penasehat Islam dan Bunyad Nahjul Balaghah, 1363 S.
  • Al-Jahizd, Al-Bayan wa al-Tabyin, Mesir: Al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra li Shahibiha Musthafa Muhammad, 1345 H/ 1926 M. (Naskah yang ada dalam CD perpustakaan Ahlulbait As Naskah kedua).
  • Abduh, Muhammad, Syarh Nahjul Balaghah, editor: Muhammad Muhyiddin Abdulhamid, Kairo: percetakan al-Istiqamah. (Naskah yang ada dalam CD ensiklopedia Alawi Manhaj al- Nur).
  • Muhammadi Dasyti, Sayid Kazdim, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfazdi Nahjul Balaghah, Qom: Penerbit Imam Ali As, 1369 S.