tanpa navbox
tanpa referensi

Khulafaur Rasyidin

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Khulafa Al-Rasyidin)
Lompat ke: navigasi, cari

Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) adalah sebuah defenisi yang diterapkan oleh Ahlusunah bagi para hakim pertama yang berkuasa setelah Nabi Muhammad saw. Khulafaur Rasyidin itu secara urut adalah Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib as. Di sebagian beberapa sumber Hasan bin Ali as juga diurutkan sebagai Khulafaur Rasyidin.

Ahlusunah meletakkan gelar Rasyidin, supaya membedakan para Khalifah awal Islam dari Khalifah Bani Umayyah, mereka berkeyakinan bahwa masa ini adalah masa keutamaan-keutamaan Islam berkembang.

Arti Rasyid

Para Imam as dan khalifah
Imam Ali as


ـــــــــــــــــ
(L. 3 tahun sebelum Bi'tsah/600 - W. 40 H/661)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 11/632 - 40/661

Abu Bakar
Umar bin Khattab
Utsman bin Affan


Imam Hasan al-Mujtaba as


ـــــــــــــــــ
(L. 3 H/625 - W. 50/670)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 40/661 - 50/670

Abu Bakar
Umar bin Khattab
Utsman bin Affan
Imam Ali as


Muawiyah
Imam Husain as


ـــــــــــــــــ
(L. 4 H/626 - W.61/680)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 50/670 - 61/680

Abu Bakar
'Umar bin Khattab
Utsman bin Affan
Imam Ali as
Imam Hasan as
Muawiyah


Yazid bin Muawiyah
Imam Ali Zainal Abidin as


ـــــــــــــــــ
(L. 38 H/658 – W. 94 H/713)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: L. 61/680 – 94/713

Imam Ali
Imam Hasan as
Muawiyah
Yazid
Muawiyah bin Yazid
Marwan bin Hakam
'Abd al-Malik bin Marwan
Walid bin 'Abd al-Malik


Imam al-Baqir as


ـــــــــــــــــ
(L. 57 H/677 – W. 114/733)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 94 H/713 - 114 H/733

Muawiyah bin Yazid
Marwan bin Hakam
Abd al-Malik bin Marwan
Walid bin 'Abd al-Malik

Sulaiman bin 'Abd al-Malik
Umar bin 'Abd al-'Aziz
Yazid bin 'Abd al-Malik


Hisyam bin 'Abd al-Malik
Imam al-Shadiq as


ـــــــــــــــــ
(L. 83 H/704 – W. 148 H/765)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 114 H/733 - 148 H/765

'Abd al-Malik bin Marwan
Walid bin 'Abd al-Malik

Sulaiman bin 'Abd al-Malik
'Umar bin 'Abd al-'Aziz
Yazid bin 'Abd al-Malik
Hisyam bin 'Abd al-Malik
Walid bin Yazid
Walid bin 'Abd al-Malik
Ibrahim bin Walid
Marwan bin Muhammad
Abu 'Abbas al-Shaffah
Manshur al-Dawaniqi


Imam al-Kazhim as


ـــــــــــــــــ
(L. 128 H/745 - W.183 H/799)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 148 H/765 - 183H/799

Marwan bin Muhammad
Abu l-'Abbas al-Saffah
Manshur al-Dawaniqi
Mahdi al-'Abbasi
Hadi al-'Abbasi
Harun al-Rashid


Imam al-Ridha as


ـــــــــــــــــ
(L. 148 H/766 – W.203 H/818)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 183 H/799 - 203 H/818

Manshur al-Dawaniqi
Mahdi al-'Abbasi
Hadi al-'Abbasi
Harun al-Rashid
Amin al-'Abbasi
Ma'mun al-'Abbasi


Imam al-Jawad as


ـــــــــــــــــ
(L. 195 H/811 - W.220 H/835)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 203 H/818 - 220 H/835

Amin al-'Abbasi
Ma'mun al-'Abbasi
al-Mu'tasam al-'Abbasi


Imam al-Hadi as


ـــــــــــــــــ
(L. 212 H/828 - W.254 H/868)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 220 H/835 - 254 H/868

Ma'mun al-'Abbasi
Mu'tasham al-'Abbasi
al-Watsiq bi Allah
al-Mutawakkil al-'Abbasi
al-Muntashir al-'Abbasi
Musta'in al-'Abbasi
al-Mu'tazz al-'Abbasi


Imam al-Askari as


ـــــــــــــــــ
(L. 232 H/846 - W.260 H/874)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 254 H/835 - 260 H/874

Mutawakkil al-'Abbasi
Muntasir al-'Abbasi
al-Musta'in al-'Abbasi
Mu'tazz al-'Abbasi
al-Muhtadi al-'Abbasi
Mu'tamad al-'Abbasi


Imam al-Mahdi as


ـــــــــــــــــ
(L. 255 H/869 - Masih hidup)
ـــــــــــــــــ


Masa Keimamahan: 260 H/874 - Sekarang

Mu'tazz al-'Abbasi
Muhtadi al-'Abbasi
Mu'tamad al-'Abbasi
Mu'tadad al-'Abbasi
Muktafi al-'Abbasi
Muqtadir al-'Abbasi
Qahir al-'Abbasi
Radhi al-'Abbasi


...

"Rasyid" berarti yang terhidayahi dan Khulafa Rasyidin dengan urutannya adalah sebagai berikut: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Imam Ali as. [1] Sebagian sumber-sumber Ahlusunah memasukkan Hasan bin Ali as kedalam Khulafaur Rasyidin. [2]

Sanad Riwayat

Gelar Khulafaur Rasyidin adalah berdasarkan sebuah hadis yang dihubungkan kepada Rasulullah saw, yang mana hadis itu dikutip dalam pustaka-pustaka hadis Ahlusunah dengan perbedaan sedikit. [3] Kemudian para ahli hadis dan para penulis Ahlusunah mendefinisikannya secara umum bagi empat khalifah pertama yang mana menurut pandangan mereka, karena mereka mengikuti sunnah Nabi saw dan menjaganya. [4] Begitu juga dikatakan bahwa Utsmaniyah (yaitu pengikut pihak Utsman dan keturunan Umawi) yang menggunakan gelar Khulafaur Rasyidin bagi pengganti pertama Nabi saw. [5]

Sebagian dari para tokoh dan peneliti Syiah seperti Allamah Amini, telah membahas hadis tersebut dan mengganggapnya sebagai hadis buatan. [6] Tentunya dalam teks-teks hadis Syiah, terkadang gelar ini digunakan untuk para imam dua belas Syiah. [7]

Khilafah Abu Bakar

Tulisan utama: Abu Bakar bin Abi Quhafah dan Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah

Setelah Rasulullah saw wafat, Kaum Anshar dan Muhajirin berkumpul di sebuah tempat bernama Saqifah Bani Sa'idah di Madinah dan mereka berselisih pendapat tentang pengganti Nabi saw, antara Anshar satu sama lain dan antara mereka dan Muhajirin saling berselisih faham, sekelompok lainnya telah berbaiat pada Abu Bakar sebagai Khalifah. [8] Baiat ini terjadi pada saat sebagian besar dari para sahabat Nabi tidak hadir di tempat dan kemudian masyhur dengan baiat Saqifah. [9] Sesuai dengan pandangan para teolog Ahlusunah, mereka menganggap bahwa perkumpulan para ahli halli wal aqdi adalah pondasi legalitas khilafah Abu Bakar. [10] Meskipun Imam Ali as dan Bani Hasyim serta para pengikut sejati Imam Ali as, yang sebagiannya adalah termasuk dari kaum Muhajirin dan Anshar, yang masyhur dengan para pengikut Syiah pertama, menyatakan keenganan mereka untuk berbaiat dengan bersandarkan pada nash Nabi saw yang menyebutkan bahwa Ali as adalah pengganti setelah Nabi saw dan kekerabatannya dengan Nabi saw serta keterdahuluannya dalam menyambut Islam. [11]

Khilafah Umar

Abu Bakar setelah dua tahun beberapa bulan berkuasa (khalifah: 11 H/632-13 H/634), ketika meninggal ia menulis sebuah surat wasiat yang menyatakan bahwa Umar adalah pengganti setelahnya dan dengan demikian metode yang terjadi di Saqifah tidak dijadikannya sebagai percontohan dan metode penentuan khilafah yang dilakukan oleh khalifah sebelumnya diberlakukan. [12] Pemilihan Umar walaupun menghadapi keritikan dan kekhawatiran sebagian sahabat, [13] Namun hal itu diterima dengan tenang dan tanpa pergolakan.

Tindakan-tindakan Umar

Wilayah pemerintahan Islam selama sepuluh tahun kekhalifahan Umar (Khilafah: 13 H/634-23 H/644) mengalami perluasan yang signifikan. Pondasinya adalah memprioritaskan pembayaran secara kontinyu kepada kaum Muslimin yang lebih dahulu memeluk Islam, berpartisipasi dalam Perang Badar dan juga kedekatan dengan Nabi saw dan garis keturunan suatu suku [14] yang mana hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Dia adalah Khalifah Muslim pertama yang dibunuh. Sebelum meninggal, ia menyerahkan suksesi kepada dewan enam anggota dari kaum Muhajirin periode awal, termasuk Ali as dan Utsman dan menyerahkan suara akhirnya kepada Abdurrahman bin Auf sepenuhnya jika tidak ada kesepakatan dalam dewan tersebut, yang mana hal itu menyebabkan pengurangan dalam pilihan Ali bin Abi Thalib as. Tiga anggota dewan syuro, dari setiap sisi condong kepada pihak yang lain dan tidak memilih Ali as dan Utsman dengan kondisi mengikuti kitab Allah dan Sunnah Nabi saw dan metode kedua Syaikh (Abu Bakar dan Umar) berhasil menduduki kursi khilafah.

Penentuan dan penunjukan dewan syuro dari tengah-tengah para sahabat yang tersohor dan dituakan oleh Umar, menunjukkan bahwa ini adalah pemikiran kaum Arab lama dalam memilih dan menentukan pemimpin, dalam periode ini yang berlaku adalah prinsip dan aturan pemerintahan secara turun-temurun. [15]

Khilafah Utsman

Walaupun periode kekhalifahan Utsman yang berlangsung selama dua belas tahun dari (Khilafah:23 H/644-35 H/656) dibagi menjadi dua periode enam tahun yang mana pada separuh kedua kekhalifahannya, Khalifah Utsman selama itu telah menarik tangannya dari sunnah Syaikhain sehingga hal itu menyebabkan ketidakpuasan rakyat, namun ia pada periode pertamanya pun, dalam lima tahun pertama kekhalifahannya dari sejak awal, telah menyerahkan tanggung jawab dan posisi-posisi yang paling penting dari bagian-bagian pemerintahannya serta dipercayakan kepada para kerabatnya. [16] Khalifah Utsman tahu haknya bahwa ia telah menggunakan kekuatan dan kekayaan khilafah, sesuai dengan keinginannya dengan secara bebas dan ia juga kesal dan marah atas segala bentuk protes. [17] Dukungannya terhadap Bani Umayyah dan penggunaan pendapatan pemerintah yang tak terbatas secara gratis, kemewahan, pemborosan dan kemubaziran telah dipromosikan dan disemarakkan dalam masyarakat Islam. [18]

Upayanya untuk menjadikan lahan-lahan publik berupa properti supaya menjadi milik pribadi, adalah langkah besar dan utama untuk menjadikan kekhalifahan berubah menjadi kerajaan. [19] Tindakannya terhadap beberapa sahabat dan kekejaman para pegawai dan pengikutnya dan mempromosikan inovasi bid'ah yang tidak sesuai dengan Alquran dan Sunnah Nabi saw hal itu telah mengirim protes rakyat dengan begitu parah sehingga menyebabkannya terbunuh.

Khilafah Ali as

Setelah Utsman, kaum Muslimin membaiat Ali as dan bersumpah setia kepadanya yang mana hal ini kontras dengan tiga khalifah sebelumnya, semua orang di Madinah hadir dan berpartisipasi untuk membaiatnya. [20] Imam Ali as pada awalnya didukung oleh kelompok Anshar Madinah, penduduk Kufah dan Mesir yang telah berpartisipasi dalam pembunuhan Utsman, dan sekelompok dari para Muhajirin. Untuk sementara ia juga mendapat dukungan dari kepala-kepala suku. [21]

Perombakan dan Perbaikan Ali as

Program kekhalifahannya, pembentukan kembali sistem politik dan perbaikan struktur sosial dan hukum. [22] Langkah pertama yang dilakukan Imam adalah mencopot para pegawai Utsman dan menggantikannya dengan pegawai yang kompeten, teliti dan tahu akan tugasnya serta mengembalikan hak-hak yang dilanggar dan qathayi' [23] Utsman menjadi kas Baitul Mal. [24]

Kelanjutan dari konflik internal

Pada periode Imam Ali as terdapa tiga perang yang cukup berat yang menjadi beban baginya.

Ada tiga peperangan yaitu;
  • Perang pertama adalah Perang Jamal yang dipimpin oleh Thalhah, Zubair dan Aisyah. Dan perang ini memiliki sebab khusus yang penting, dimana perang ini terjadi karena ketamakan dan keserakahan dan juga pembatalan baiat.
  • Perang kedua yaitu Perang Shiffin dengan pimpinan Muawiyah dan dengan melakukan tipu muslihat kepada yang lain dan juga hakpobia atau memerangi kebenaran dan dengan alasan membalas dendam darah Utsman yang tertumpah, [25] perang ini berlangsung lama sampai beberapa bulan dan akhirnya pada saat kondisi Muawiyah dan pasukannya dapat dipastikan kalah dalam peperangan ini, maka ia melakukan Tahkim dengan kelicikannya. Amru bin al-Ash merupakan wakil dari pihak Muawiyah. Dua wakil penentu (Amru bin al-Ash dan Abu Musa al-Asyari menurunkan Ali as dari kekhalifahannya. Namun penentuan suara tersebut keluar dari kewenangan kedua orang itu. Imam Ali as juga menentang keputusan tersebut walaupun usahanya tidak berhasil.
  • Kemudian setelah itu, sebagian orang dari pasukan Imam Ali as, memisahkan diri barisannya serta menentang dengan keputusan Ali as yang menerima Tahkim- yang mana pada Perang Shiffin mereka bersikeras untuk menerimanya- dan akhirnya ketidaktahuan dan kesalahfahaman mereka menyebabkan terbentuknya sebuah perang bernama Perang Nahrawan, perang orang-orang Khawarij. [26]
Akhirnya dengan kesyahidan Ali as di tangan para Khawarij di bulan suci Ramadhan tahun 40 H/660, khalifah keempat Nabi saw juga meninggal dunia sebagaimana dua khalifah sebelumnya dan setelah itu penduduk Kufah membaiat Hasan bin Ali as. [27]

Pemerintahan Imam Hasan as

Pemerintahan singkat dari Imam Hasan as harus diyakini sebagai kelanjutan pemerintahan Imam Ali as, karena selain kekhalifahannya didukung dan dilakukan dengan kondisi baiat para penduduk, dia juga memberikan syarat bahwa ia akan bertindak sesuai dengan Alquran dan Sunnah Nabi saw. Program terpenting, Imam Hasan as sebagaimana ayahnya, adalah konfrontasi dengan Muawiyah. [28] Dia untuk berurusan dengan Muawiyah, harus menyiapkan bala tentara, namun Muawiyah dengan melancarkan tekanan militer dan mendistribusikan kekayaannya di antara para pengikut Imam dan juga ia membayar para pasukan Imam Hasan as, untuk berhadap-hadapan dengan Imam Hasan as sendiri, sehingga konfrontasi militer pasukan Imam Hasan dengan kekuatan Muawiyah akan menjadi sulit dan Imam tahu bahwa pertempuran ini hanya akan membawa mereka pada kekalahan, dengan sangat terpaksa ia melakukan perdamaian dengan Muawiyah dan menyerahkan pemerintahan kepadanya. [29]

Akhir kekhalifahan Islam

Dengan perdamaian ini, periode tiga puluh tahun kekhalifahanpun berakhir dan sejak itu kekhalifahan, dalam bentuk penguasaan turun-temurun duniawi yang terus berlanjut seperti dinasti kerajaan. [30]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Atsir, Al-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, jld.2, hlm. 225; Ibnu Manzhur, di bawah kata Rasyid.
  2. Mas'ud, Muruj al-Dzahab, jld.3, hlm. 184.
  3. Lihat: Ibnu Hanbal, jld.4, hlm.126; Darami, jld.1, hlm 45; Ibnu Majah, jld1, hlm.16; bandingkan dengan: Syarif Radhi,hlm.174.
  4. Untuk contohnya lihat: Ibnu Khuzaimah, jld.4, hlm.325; Ibnu Abi Zaid, hlm.23; Ibnu Abdilbar, hlm.136.
  5. Mudarisi Thabathabai, hlm 141.
  6. Lihat: Amini, jld.8, hlm.206; Askari, jld.2, hlm. 233-235; Husaini Milani, hlm. 5-60.
  7. Lihat: Ibnu Babuwaih, jld.1, hlm.331-332; Majlisi, jld.25, hlm.174; jld.97, hlm.208.
  8. lihat: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.4. hlm. 310-311; Ibnu Qutaibah, Tārikh al-Khulafa, jld.1, hlm.4-9; Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.123-124; Thabari, Tārikh, jld.3, hlm.218-222
  9. Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.325-326; Hasan Ibrahim Hasan, Tārikh al-Islām: al-Siyāsi wa al-Dini wa al-Tsaqāfi wa al-Ijtimāi, jld.1, hlm.205.
  10. Rujuk: Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad, al-Mughni fi Abwab al-Tauhid wa al-‘Adl, jld.20, bagian 1, hlm.259 dan seterusnya; Mawardi, Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah, hlm.23-24; Qalqasandi, Atsār al-Inafah fi Ma'ālim al-Khilāfah, jld.1, hlm40.
  11. Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.325-326; Masudi, Tārikh, jld.3, hlm.43; Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld.1, hlm325.
  12. Ibnu Qutaibah, jld.1, hlm.18-19; Fadhlullah bin ruzbahan, hlm.80.
  13. lihat: Ibnu Qutaibah, jld.1, hlm.20; Thabari, jld.3, hlm.428.
  14. Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.153.
  15. Philip Hatta, hlm.178-179.
  16. Madlung, hlm.86-87.
  17. Idem, hlm. 81.
  18. Untuk hal-hal penonjolan kemewahan sahabat, lihat: Masudi, jld.3, hlm.76-77.
  19. Madlung, hlm.85.
  20. Masudi, jld.3, hlm.87-90, 93; Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld.3, hlm.190-191.
  21. Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.178-179.
  22. Nahjul Balaghah, khutbah.16, 126.
  23. Tanah-tanah umum yang berada di tangan orang-orang khusus.
  24. Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.178-179; Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld.3, hlm.201; Ibnu Abi al-Hadid, jld.1 hlm.269; untuk detailnya silakan rujuk: Muhammad Abdu Qadir Kharisat, hlm.81-85 .
  25. Ibnu Qutaibah, jld.1, hlm.28-49.
  26. Lihat: Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.189-190; Thabari, jld.5, hlm.64-85 .
  27. Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.214; Thabari, jld.5, hlm.158; Masudi, jld.3, hlm.181.
  28. Lihat: Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.214; Thabari, jld.5, hlm.158-159 .
  29. Lihat: Yakubi, Tārikh, jld.2, hlm.214-215 .
  30. Lihat: Masudi, Muruj al-Dzahab, jld.3, hlm.184; Suyuthi, Tārikh al-Khulāfa, hlm.9 .

Daftar pustaka

  • Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, cetakan: Muhammad Abulfadhl Ibrahim, Kairo, 1385-1387/1965-1967. Cetakan :Efest, Beirut, tanpa tanggal.
  • Ibnu Abi Zaid, Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qirwani, cetakan: Shaleh Abdu al-Sami' Abi Azhari, Beirut, tanpa tanggal.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad, al-Kāmil fi al-Tārikh, Beirut, 1386/1965-1966. Cetakan :Efest, 1399-1402/1979-1982.
  • Ibnu Atsir, Mubarak bin Muhammad, al-Nihāyah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsār, cetakan: Mahmud Muhammad Thanahi dan Tahir Ahmad Zawi, Beirut,1383/1963. Cetakan :Efest, Qum, 1364.
  • Ibnu Babuwaih, Kamāluddin wa Tamām al-Ni'mah, cetakan : Ali Akbar Ghaffari, Qum, 1363 S.