Muhammad bin Abu Bakar

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: c
Sahabat Imam as
Muhammad bin Abu Bakar
Muhammad b. Abi Bakr's tomb.jpg
Makam Muhammad bin Abu Bakar
Nama Lengkap Muhammad bin Abu Bakar bin Abi Quhafah
Sahabat dari Imam Ali as
Julukan Abu al-Qasim
Kerabat termasyhur Abu Bakar (Khalifah Pertama), Asma binti Umais, Aisyah
Lahir 10 Dzulkaidah H/631
Wafat/Syahadah Shafar 38 H/658
Penyebab
Wafat / Syahadah
Dibunuh oleh Muawiyah bin Hudaij lalu jenazah Muhammad dimasukkan ke dalam perut bangkai keledai lalu dibakar.
Aktivitas Gubernur Mesir di zaman Imam Ali as, Komandan perang pasukan Imam Ali as


Muhammad bin Abu Bakar bin Abi Qahafah (bahasa Arab: محمد بن أبي بكر بن أبي قحافه) lahir pada Dzulkaidah 10 H dan wafat pada bulan Shafar 38 H, merupakan pendukung Imam Ali as. Imam Ali as mengangkatnya sebagai Gubernur di Mesir.

Muhammad adalah putra khalifah pertama, Abu Bakar, dengan Asma binti Umais. Setelah Abu Bakar wafat, Asma menikah dengan Imam Ali as, sejak itu Muhammad bin Abu Bakar tumbuh dan diasuh di rumah beliau. Antara Imam Ali as dan Muhammad terjalin tali kasih yang erat. Imam Ali as menganggapnya sebagai putra sendiri. Orang melihat kedudukannya di sisi Imam Ali as layaknya kedudukan Abu Dzar di sisi Rasulullah saw.

Muhammad bin Abu Bakar sangat menentang kebijakan-kebijakan khalifah ketiga. Di masa pemerintahan Imam Ali as, dia termasuk anggota Syurthah al-Khamis. Dalam Perang Jamal dan Shiffin, Muhammad dipercayai untuk mengomando sebagian barisan tentara Imam Ali as. Muhammad mati syahid dalam serangan pasukan Syam ke Mesir.

Imam Pertama Syiah
Ali bin Abi Thalib As

Haramimamali1.jpg

Biografi
Geneologi Imam Ali • Peristiwa Ghadir • Lailatul Mabit • Yaum al-Dar • Timeline


Lakab
Amirul Mukminin • Abu Turab • Zauj Al-Batul • Ya'sub al-Din • Abu Al-Sibthain • Abu Raihanatain • Faruq • Shiddiq al-Akbar • Saqi Kautsar


Warisan
Nahj al-Balaghah • Ghurar al-Hikam • Khutbah Syiqsyiqiyyah • Haram Imam Ali As


Keutamaan
Keutamaan Ahlulbait As • Ayat Wilayah • Ayat Ahlu Zikr • Ayat Ulil Amri • Ayat Tathir • Ayat Mubahalah • Ayat Mawaddah • Ayat Shadiqin • Ayat Syira' • Hadis Madinatul ‘Ilmi • Hadis Tsaqalain • Hadis Rayat • Hadis Safinah • Hadis Kisa' • Khutbah al-Ghadir • Hadis Manzilah • Hadis Yaumuddar • Hadis Sadd al-Abwab


Sahabat
Ammar bin Yasir • Malik al-Asytar • Abu Dzar • Uwais al-Qarni • 'Ubaidillah bin Abi Rafi' • Muhammad bin Abu Bakar • Hujr bin 'Adi • lain



Kelahiran, Nasab dan Nama Panggilan

Muhammad bin Abu Bakar lahir pada bulan Dzulkaidah bertepatan dengan tahun dilaksanakannya Haji Wada. [1] Dia lahir di daerah Dzul Hulaifah (8 Km sebelah barat daya Masjid Nabi arah Mekah) ketika Nabi saw melakukan perjalanan haji. [2]

Nama panggilannya adalah Abul Qasim, sama seperti panggilan Nabi saw. Dia adalah putra Abu Bakar, khalifah pertama umat Islam. Ketika Muhammad bin Abu Bakar berumur dua tahun beberapa bulan ayahnya meninggal dunia. Ibu Muhammad bernama Asma binti Umais, wanita mulia di masa munculnya Islam. Dulunya dia adalah istri Ja'far bin Abu Thalib, setelah kesyahidannya, dia menikah dengan Abu Bakar. Dari pernikahannya ini dia melahirkan Muhammad bin Abu Bakar. [3]

Diasuh di Rumah Imam Ali as

Setelah Abu Bakar meninggal, Asma binti Umais menikah dengan Imam Ali as. Sejak itu Muhammad tinggal di rumah Imam Ali as. [4]

Muhammad menerima didikan langsung dari Imam Ali as. Dari dekat dia mengenal dengan baik bagaimana pola hidup dan keseharian Imam Ali as. Hal itu membuatnya begitu mencintai Imam Ali as. Begitu sebaliknya, Imam Ali as juga sangat mencintainya dan menganggapnya anak sendiri. Imam Ali as menyatakan, “Muhammad adalah putraku dari Abu Bakar”. [5] Dalam Kitab Nahjul Balaghah disebutkan, Imam Ali as mengungkapkan: “Aku mencintainya (Muhammad bin Abu Bakar) dan telah mengasuhnya”. [6]

Pada kesempatan lain Imam menyatakan: “Muhammad bin Abu Bakar, semoga Allah swt merahmatinya, telah syahid. Kami memohon pahalanya pada Allah. Dia adalah putra yang murah hati, pekerja keras, giat, pedang tajam dan pilar pertahanan.” (Nahjul Balaghah, Surat 35).

Kepribadian dan Ideologi

Sumber sejarah masa awal Islam mengakui akan kesetiaan, kejujuran, keshalihan dan kemuliaan Muhammad bin Abu Bakar. [7]

Sebuah hadis menyebutkan, “(Muhammad) meskipun bukan termasuk Ahlul Bait, namun dia juga mulia seperti mereka. Dia yang paling mulia di antara keluarganya.” [8]

“Dia orang yang bertanggung jawab, semua tugasnya dikerjakan dengan baik.” [9] Muhammad bin Abu Bakar selalu berbuat baik pada orang lain dan dengan senang hati menerima kritikan. Dia berpesan, jika dia sampai berbuat buruk supaya langsung ditegor. [10] Orang melihat kedudukan Muhammad bin Abu Bakar di sisi Imam Ali as layaknya kedudukan Abu Dzar al-Ghifari di sisi Rasulullah saw. Dia adalah pendukung setia Imam Ali as. [11]

Muhammad bin Abu Bakar memandang bahwa tiga khalifah pertama itu menempati hak Imam Ali as. Menurutnya, Utsman bin Affan telah melenceng dari syariat Allah swt dan sunnah Rasulullah saw. [12]

Dia meyakini Imam Ali as adalah orang pertama kali yang mengimani kenabian Rasulullah saw, paling gigih membela dan selalu siap mengorbankan jiwanya demi Rasulullah saw. Baginya, Muawiyyah dan Bani Umayyah adalah orang-orang zalim dan perampas, perang melawan mereka adalah jihad di jalan Allah swt.

Kegiatan Politik

Di Masa Khalifah Utsman

Muhammad bin Abu Bakar mulai terjun ke politik dan militer pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Menurut sebagian penulis Barat, Muhammad terlibat dalam proses pembunuhan Utsman. [13]Namun melihat bukti-bukti yang ada, hal itu tidak benar. Salah satu buktinya adalah, saat itu Muhammad baru berumur 13 tahun. Di samping itu, catatan sejarah masa awal Islam tidak ada yang menyebutkan hal itu.

Menentang Kebijakan Utsman

Setelah melewati masa remaja dan telah balig, Muhammad bin Abu Bakar bergabung menjadi prajurit Islam dan ikut serta dalam berbagai peperangan melawan kaum kafir di masa Utsman. Dalam salah satu peperangan yang dikenal dengan Perang Dzatu Shawari, Muhammad menentang kebijakan yang diambil Utsman. [14]Pada Perang Dzatu Shawari Utsman menjadikan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh sebagai panglima perang Angkatan Laut, padahal Nabi saw telah menghalalkan darah orang ini. Selain itu, Abdullah pernah diasingkan dari Hijaz, bahkan al-Qur’an telah menjelaskan akan kekufurannya. [15]Muhammad mengecam keras tindakan Utsman itu, bukan menyerahkan tanggung jawab pada sahabat Nabi saw yang jujur malah pada orang seperti Abdullah bin Sa’ad. [16]

Selain itu, pada akhir-akhir masa kekuasaan Utsman, Muhammad banyak menentangnya karena berbagai alasan, di antaranya: tidak ditegakkannya keadilan di antara para sahabat Nabi saw. Utsman banyak merekrut saudara dan kerabatnya seperti Marwan bin Hakam untuk menduduki posisi penting di pemerintahan, di saat yang sama banyak sahabat besar Nabi saw yang dibiarkan tidak menjabat apa-apa. Hal lainnya, Utsman banyak melenceng dari sunnah Nabi saw dan menjalankan syariat sesuka hati. Ini yang dikecam oleh Muhammad bin Abu Bakar dari Utsman. [17]

Pembunuhan Utsman

Pada peristiwa pengepungan rumah Utsman selama empat puluh hari (7 Dzulkaidah-18 Dzulhijjah 35 H/655) [19] Muhammad bin Abu Bakar ikut mengawasi langsung dari dekat. [18]

Di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat berbeda mengenai keterlibatan Muhammad bin Abu Bakar atas terbunuhnya Utsman, di antaranya:

  1. Sebagian berpendapat, Muhammad bin Abu Bakar bersama beberapa orang masuk ke rumah Utsman. Dialah yang pertama menyerang Utsman [19] lalu dilanjutkan Saudan bin Hamran dan Amr bin Hamq hingga tewas.
  2. Pendapat lain menyatakan, Muhammad bersama 13 orang memasuki rumah Utsman. Setelah memprotes kebijakan Utsman terkait para pejabat yang dia angkat di berbagai daerah, Muhammad menyuruh salah satu dari 13 orang tersebut untuk menyerangnya. [20]
  3. Pendapat ketiga menyatakan, meski Muhammad aktif dalam memprovokasi masyarakat untuk melawan Utsman dan hadir langsung ketika terjadi pengepungan rumah Utsman, namun dia bukanlah pembunuhnya. Yang terjadi adalah setelah Muhammad menemui Utsman dan keluar dari rumahnya, para pembunuh Utsman baru masuk untuk menghabisinya. [21]

Bukti-bukti dan konteks yang ada cenderung menguatkan pendapat ketiga. [22]

Di Masa Khalifah Ali As

Di masa kekhalifahan Imam Ali as Muhammad merupakan anggota Syurtah al-Khamis. [23]

Perang Jamal

Menurut Muhammad bin Abu Bakar, semangat balas dendam atas kematian Utsman yang didengungkan Golongan Nakitsin dalam Perang Jamal hanyalah dalih untuk melancarkan ambisi terselubung mereka. Tentang mereka Muhammad menyatakan, “Demi Allah, pembunuh Utsman tidak lain adalah mereka sendiri.” [24]

Pada perang Jamal Imam Ali as menunjuk Muhammad bin Abu Bakar sebagai Panglima Infanteri Militer. Selama pertempuran dia menunjukkan ketangkasannya, bahkan berhasil memukul jatuh salah seorang panglima pasukan unta. [25] Seusai perang, Muhammad tetap bersikap biasa dengan orang-orang yang pernah dia kalahkan dalam Perang Jamal. Misalnya, atas ijin Imam Ali as, Muhammad mengantar Abdullah bin Zubair kepada Aisyah. [26]

Atas perintah Imam, dengan penuh hormat Muhammad bin Abu Bakar mengantar saudarinya, Aisyah, beserta 40 wanita Bashrah lainnya ke Mekah dan dilanjutkan ke Madinah. [27]

Perang Shiffin

Memang sebelum terjadi Perang Shiffin Imam Ali as menugaskan Muhammad bin Abu Bakar sebagai Gubernur di Mesir, namun banyak bukti menunjukkan dia juga bergabung dengan pasukan Imam Ali as dalam perang melawan Muawiyah. [28] Sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as menyebutkan, ada lima orang Quraisy yang menyertai Imam Ali as dalam Perang Shiffin, salah satunya adalah Muhammad bin Abu Bakar, lelaki mulia sebagimana ibunya, Asma binti Umais. [29]

Selama peperangan, Muhammad beserta Imam Hasan as dan Imam Husain as berada di bawah komando Imam Ali as. Imam Ali as menujuknya sebagai Panglima Infanteri Militer. Sebagian riwayat menyebutkan, dia ditugaskan untuk memimpin kekuatan poros kiri. [30]

Salah satu syair yang didengungkan pasukan Imam Ali as ketika melawan pasukan Muawiyah berbunyi, “Wahai jiwa-jiwa yang suci, putra mulia ini, Muhammad bin Abu Bakar, bersama kita.” [31]

Menurut sebagian referensi, ketika Muawiyah mengutus Ubaidullah bin Umar beserta bala tentara untuk memerangi Imam Ali as, Imam as mengutus Muhammad bin Abu Bakar beserta pasukan berkuda untuk menghadapinya. Kedua kubu tersebut bertemu dan berperang hingga menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. [32]

Gubernur Mesir

Pada awal Bulan Ramadhan tahun 36 H/656 Imam Ali as mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai Gubernur Mesir. [33] Kebanyakan referensi sejarah menyebutkan, Muhammad bin Abu Bakar lebih dulu diutus untuk menjabat sebagai Gubernur Mesir sebelum Malik al-Asytar. [34] Bukti-bukti yang ada menjelaskan, di masa awal kekhalifahan Imam Ali as, pemerintahan Mesir dipercayakan pada Qais bin Sa’ad bin Ibadah kemudian diteruskan Muhammad bin Abu Bakar. Saat dipimpin Muhammad Mesir mengalami kekacauan, karena itu Imam Ali as mengutus Malik al-Asytar untuk menggantikannya. [35]

Berikut adalah penggalan surat Imam Ali as untuk rakyat Mesir: “Wahai rakyat Mesir, dukunglah dengan baik pemimpin kalian, Muhammad. Teguhlah dalam mentaati perintahnya hingga kalian kembali ke telaga Nabi kalian saw” (Mufid, al-Amali, Majlis 31, hadis 3, hlm. 269-260).

Perjuangan Mengatur Kondisi Mesir

Masalah pertama bagi Muhammad bin Abu Bakar di Mesir adalah menghadapi kelompok yang mengisolasikan diri. Mereka adalah orang-orang yang ingin menuntut balas atas kematian Utsman. Sebagai ungkapan rasa sedih mereka menyepi di Khurbata, Mesir. Selain itu, mereka menolak berbaiat kepada Imam Ali as. Sebulan setelah sampai di Mesir, atas perintah Imam Ali as, Muhammad menulis surat untuk kelompok tersebut. Mereka diberi pilihan, patuh dan berbaiat pada Imam atau keluar dari Mesir. Mereka menolak apa yang disampaikan Muhammad dengan menjawab, “Jangan tergesa-gesa ingin perang dengan kami.” [36]Selama beberapa waktu Muhammad membiarkan mereka hingga selesai Perang Shiffin. Awalnya mereka tidak berani menghadapi Muhammad. Namun dengan berakhirnya Perang Shiffin dan ketegangan yang terjadi dalam kekhalifahan Islam saat itu, membuat mereka berani membangkang dan menyatakan siap melawan. Peperangan demi peperangan antara pasukan Muhammad dengan kelompok ini terjadi. Kubu Muhammad mengalami kekalahan. Muhammad melihat, sulit baginya untuk meredam perlawanan mereka, karena itu dia menawarkan perjanjian damai. Mereka setuju untuk tidak memasuki Fustat, daerah kekuasaan Muhammad. Mereka pun bermigrasi ke wilayah kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan kemudian bergabung dengannya. [37]

Karena situasi di Mesir makin sulit sedangkan Muhammad tidak mampu menundukkan kelompok penentang, ditambah sebagian rakyat Mesir tidak puas dengan Muhammad karena dianggap masih terlalu muda, [38]

Imam Ali as memutuskan memilih orang yang lebih kuat dan berpengalaman untuk mengatur wilayah ini, dan diutuslah Malik al-Asytar ke Mesir. Meskipun Malik al-Asytar tidak sampai menggantikan Muhammad karena syahid dibunuh antek Muawiyah di daerah Qulzum dalam perjalanan menuju Mesir, namun Muhammad merasa muram karena tahu Imam Ali as telah menunjuk orang lain untuk menggantikan posisinya di Mesir. Untuk menenangkan Muhammad, Imam Ali as menulis surat untuknya:

“Aku dengar kau merasa tidak enak hati karena kukirim al-Asytar ke tempatmu. Yang aku lakukan ini bukan karena kau lambat kerja atau berharap kau lebih berusaha lagi. Jika aku ambil apa yang jadi wewenangmu sekarang, itu karena aku ingin menempatkanmu pada posisi yang lebih mudah dan menarik.” [39]

Serangan Syam ke Mesir

Setelah berakhirnya Perang Shiffin, Muawiyah berencana menyerang Mesir. Dia mengirim surat kepada pimpinan kelompok pendukung Utsman yang mengisolasikan diri, isinya adalah ajakan untuk bergabung dengannya. [40]Ketika 6000 pasukan Muawiyah yang dipimpin Amr bin Ash bergerak menyerang Mesir, 10000 orang dari kelompok tersebut ikut bergabung dengan mereka. [41]Peperangan pun terjadi. Karena kekuatan yang tak seimbang, pasukan Muhammad bin Abu Bakar yang hanya berjumlah 2000 orang di bawah pimpinan Kinanah bin Basyar akhirnya kalah.

Kesyahidan dan Letak Makam

Ada beberapa pendapat tentang bagaimana syahidnya Muhammad bin Abu Bakar. Kebanyakan referensi menyebutkan, setelah pasukan Muhammad mengalami kekalahan, orang-orang sekitarnya kabur meninggalkannya. Muhammad kemudian berusaha menyelamatkan diri, namun Muawiyah bin Hudaij berhasil menangkapnya dan membunuhnya. Tak hanya itu, jenazah Muhammad dimasukkan ke dalam perut bangkai keledai lalu dibakar. [42]

Pendapat lain menyatakan, setelah ditinggalkan orang-orang sekitarnya, Muhammad bersembunyi di rumah Jabalah bin Masruq atau seorang wanita dari Bani Ghafiq. Kemudian, pada sebuah pertempuran Muhammad syahid terbunuh saat melawan Muawiyah bin Hudaij. [43]Sedangkan pendapat lain menyebutkan, Amr bin Ash yang berhasil menawan dan membunuhnya. [44]

Tanggal kesyahidan Muhammad bin Abu Bakar adalah Bulan Shafar tahun 38 H/658. [45] Imam Ali as menangis saat menerima kabar tentang kesyahidan Muhammad. Imam berkata: “Bagi Allah, dia (Muhammad) adalah hamba yang shalih, bagiku, dia adalah anak yang shalih”. [46]

Diriwayatkan, sejak kematian Muhammad bin Abu Bakar, Aisyah, saudari Muhammad sama sekali tidak mau makan daging bakar. Dia selalu mencela Muawiyah, Amr bin Ash dan Muawiyah bin Hudaij. Sedangkan ibu Muhammad, Asma binti Umais, meninggal dunia karena kesedihan yang mendalam atas kematian putranya. [47]

Menurut sebagian riwayat, jenazah Muhammad dimakamkan di tempat dia wafat. Tepatnya di sebuah masjid bernama Zumam yang terletak di luar Kota Fustat, Mesir. Ada yang mengatakan, hanya kepalanya yang dimakamkan di sana. [48]Namun pendapat lain menyatakan, kaum Muslimin saat itu memakamkan jasad Muhammad lengkap dengan kepalanya di tempat tersebut. [49]

Istri dan Anak

Menurut pendapat masyhur, istri Muhammad adalah putri dari Yazdegerd, penguasa terakhir dari Kekaisaran Sasaniyah di Negeri Persia. Konon, dulu ada dua putri Yazdegerd yang ditawan oleh kaum Muslimin, satu menikah dengan Imam Husain as, dan satunya menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar. [50]

Salah satu anak Muhammad bin Abu Bakar bernama Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (wafat tahun 92 H/711 atau 108 H/726). Qasim adalah fakih dan ulama besar Madinah. [51]

Sepeninggal Muhammad, Qasim diasuh oleh bibinya, Aisyah. [52] Dia termasuk sahabat khusus Imam Ali Zainal Abidin al-Sajad as dan Imam Muhammad al-Baqir as. Qasim memiliki putri bernama Ummu Farwah. Ummu Farwah menikah dengan Imam Muhammad al-Baqir as, dan dari rahimnya lahirlah Imam Ja’far al-Shadiq as. [53]

Surat Menyurat dengan Imam Ali as

Selama memerintah Mesir Muhammad sering melakukan surat-menyurat dengan Imam Ali as. Ada dua penggal surat Imam Ali as untuk Muhammad yang tercatat di kitab Nahjul Balaghah. [54]Adapun surat-surat lainnya banyak dijumpai di kitab-kitab sejarah dan fikih. Surat-surat tersebut mencakup berbagai tema, seperti nasihat ahlak dan sosial, masalah fikih dan hukum, politik dan lain sebagainya. Kondisi sosial di Mesir saat itu antara umat Islam dengan kelompok agama lain bercampur baur. Dalam beberapa hal terjadi gesekan hubungan sosial antar mereka. Untuk memecahkannya Muhammad merasa perlu meminta pendapat dan bantuan dari Imam Ali as. Muhammad banyak meminta bimbingan dari Imam Ali as dalam masalah syariat dan fikih, khususnya hukum pengadilan, halal dan haram, sunnah Nabi saw dan lain sebagainya. [55]

Menyikapi hal itu, Imam Ali as tentu merasa senang. Melalui suratnya, belaiu memberikan jawaban rinci atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Muhammad. [56]

Setelah Mesir diserang Amr bin Ash, surat-surat yang diterima Muhammad dari Imam Ali as dirampas dan dikirim ke Syam untuk diserahkan ke Muawiyah. Muawiyah kemudian menyimpannya. Surat-surat tersebut selalu disimpan rapat oleh Bani Umayyah. Baru di masa kekhalifahannya, Umar bin Abdul Aziz mengungkap surat-surat itu. [57]

Catatan Kaki

  1. Thusi, Rijal Thusi, hlm. 49. Tastari, Qamus al-Rijal, jld. 9, hlm. 18. Syusytari, Majalis al-Mukminin, jld. 1, hlm. 277. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, jld. 2, hlm. 57. Khui, Mu’jam Rijal al-Hadits, jld. 14, hlm. 230. Ibnu Atsir, Usdu al-Ghabah, jld. 4, hlm. 326.
  2. Ibnu Abdul Barr, al-Isti’ab, jld. 3, hlm. 1366. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 538.
  3. Syusytari, Majalis al-Mukminin, jld. 1, hlm. 277. Thuraihi, Majma’ al-Bahrain, jld. 1, hlm. 231 dan jld. 4, hlm. 88. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld. 4, hlm. 326. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 538.
  4. Syusytari, Majalis al-Mukminin, jld. 1, hlm. 277. Thuraihi, Majma’ al-Bahrain, jld. 1, hlm. 231 dan jld. 4, hlm. 88. Ibnu Atsir, Asad al-Ghabah, jld. 4, hlm. 326. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 538.
  5. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, jld. 2, hlm. 57.
  6. Nahjul Balaghah, khutbah ke-67.
  7. Husaini, Sayyid Hasan, Majalah Masykuh, no. 83, hlm. 61.
  8. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, jld. 2, hlm. 57. Thusi, rijal al-Kasysyi, hlm. 64. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 33, hlm. 585. Syusytari, Qamus al-Rijal, jld. 7, hlm. 496.
  9. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 4, hlm. 83.
  10. Tsaqafi, al-Gharat, jld. 1, hlm. 226. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld. 3, hlm. 203.
  11. Hirzuddin, Maraqid al-Ma’arif, jld. 2, hlm. 246.
  12. Nashr ibnu Muzahim Munqari, Waq’ah Shiffin, hlm. 118. Ibnu Abi al-Hadid Syarh Nahjul Balaghah, jld. 2, hlm. 92.
  13. Wilferd Madelung, Janisyini Hadrat-e Muhammad, hlm. 101.
  14. Pada peperangan yang terjadi pada tahun 31/34 H ini, Muawiyah menjadi panglima tertinggi seluruh pasukan muslimin. Kapal pasukan Roma yang dipimpin Heraklius berjumlah sekitar 700 buah, sedangkan kapal pasukan muslimin tidak lebih dari 100 buah. Namun peperangan tersebut dimenangkan pihak Islam. Lih. Jamaluddin Yusuf bin Taghari, al-Nujum al-Zahirah fi Muluk Mishr wa al-Qahirah, riset Muhammad Husain Syamsuddin, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, 1413 H, jld. 1, hlm. 102. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, terjemah Abbas Khalili, Tehran, Yayasan Ilmi, jld. 3, hlm. 196. Muhammad Yusuf al-Kandi, Wullat Mishr, riset Husain Nussar, Bairut, Dar Bairut li al-Thaba’ah wa al-Nasyr, 1379 H, hlm. 50.
  15. Al-An’am: 93.
  16. Husaini, Sayyid Hasan, Majalah Masykuh, no. 83, hlm. 83, hlm. 63.
  17. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 405.
  18. Tarikh Ya’qubi, jld. 2, hlm. 176.
  19. Ibnu Sa’ad, Thabaqat al-Kubra, jld. 3, hlm. 73.
  20. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 405.
  21. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 415. Ibnu Syabbah, Tarikh Madinah al-Munawwarah, jld. 4, hlm. 1288.
  22. Lih. Husaini, Sayyid Hasan, Menelisik Kehidupan dan Kepribadian Muhammad bin Abu Bakar, Majalah Masykuh, Sy. 83, hlm. 65-66.
  23. Khui, Mu’jam Rijal al-Hadits, jld. 14, hlm. 230.
  24. Syaikh Mufid, al-Jamal wa al-Nushrah Sayyid al-‘Itrah fi Harb al-Bashrah, hlm. 239.
  25. Ibnu A’tsam, al-Futuh, hlm. 434.
  26. Ibnu A’tsam, al-Futuh, hlm. 427. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4, hlm. 11.
  27. Al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4, hlm. 9.
  28. Ahmad bin Ali, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, jld. 6, hlm. 152. Qurthubi, al-Isti’ab, jld. 3, hlm. 422.
  29. Kasysyi, Rijal al-Kasysyi, jld. 1, hlm. 281. Tastari, Qamus al-Rijal, jld. 9, hlm. 18. Mamaqani, Tanqih al-Maqal, jld. 2, hlm. 57. Khui, Mu’jam Rijal al-Hadits, jld. 14, hlm. 230.
  30. Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 9, hlm. 70.
  31. Minqari, Waq’ah Shiffin, hlm. 293. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld. 3, hlm. 112.
  32. Ibnu A’tsam, al-Futuh, hlm. 533.
  33. Tsaqafi, al-Gharat, jld. 1, hlm. 224. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulukm jld. 3, hlm. 556. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 2, hlm. 393.
  34. Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 1, hlm. 614. Maqrizi, al-Khuthath al-Maqriziah, jld. 1, hlm. 828.
  35. Husaini, Sayyid Hasan, Menelisik Kehidupan dan Kepribadian Muhammad bin Abu Bakar, Majalah Masykuh, Sy. 83, hlm. 68.
  36. Tsaqafi, al-Gharat, jld. 1, hlm. 254. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4, hlm. 38. Kunduri, Wulat Mishr, hlm. 51. Maqrizi, al-Khuthath al-Maqriziah, jld. 1, hlm. 828.
  37. Kunduri, Wilāh Misri, hlm. 51: Muqrizi, al-Khathat al-Muqrizi, jld. 1, hlm. 828.
  38. Suyuthi, Husnu al-Muhadharah fi Tarikh Mishr wa al-Qahirah, jld. 1, hlm. 583.
  39. Nahjul Balaghah, surat 34.
  40. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 4, hlm. 76. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 4, hlm. 162.
  41. Suyuthi, Husnu al-Muhadharah fi Tarikh Mishr wa al-Qahirah, jld. 1, hlm. 584.
  42. Qurthubi, al-Isti’ab, jld. 3, hlm. 423. Ibnu Jauzi, al-Muntdzam, jld. 3, hlm. 1318. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 2, hlm. 403. Ibnu Syabbah, Tarikh Madinah al-Munawwarah, jld. 4, hlm. 1285.
  43. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 4, hlm. 80. Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 9, hlm. 70. Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 1, hlm. 634.
  44. Qurthubi, al-Isti’ab, jld. 3, hlm. 423. Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 9, hlm. 70.
  45. Tsaqafi, al-Gharat, jld. 1, hlm. 285. Damiri, Hayat al-Haiwan al-Kubra, jld. 1, hlm. 350. Qurthubi, al-Isti’ab, jld. 3, hlm. 422.
  46. Syusytari, Majalis al-Mukminin, jld. 1, hlm. 278.
  47. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld. 6, hlm. 88.
  48. Damiri, Hayat al-Haiwan al-Kubra, jld. 1, hlm. 351.
  49. Zarkali, al-A’lam, jld. 6, hlm. 220. Hirzuddin, Maraqid al-Ma’arif, jld. 2, hlm. 244.
  50. Wafayat al-A’yan, jld. 4, hlm. 59. A’yan al-Syi’ah, jld. 8, hlm. 446.
  51. Mas’udi, Tanbih al-Asyraf, hlm. 264.
  52. Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, jld. 6, hlm. 15.
  53. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld. 3, hlm. 190. Hirzuddin, Maraqid al-Ma’arif, jld. 2, hlm. 249.
  54. Nahjul Balaghah, surat 27 dan 34.
  55. Tsaqafi, al-Gharat, jld. 1, hlm. 227.
  56. Tsaqafi, al-Gharat, jld. 1, hlm. 228. Syusytari, Nahju al-Shabaghah, jld. 14, hlm. 453-460.
  57. Lih. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld. 3, hlm. 211. Syusytari, Nahju al-Shabaghah, jld. 14, hlm. 450. Hirzuddin, Maraqid al-Ma’arif, jld. 2, hlm. 247.

Daftar Pustaka

  • al-Kanani, Ahmad bin Ali, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiah, 1853.
  • Hirzuddin, Muhammad, Maraqid al-Ma’arif, riset Muhammad Husain Hirzuddin, Qom, Mansyurat Said bin Jubair, 1413 H.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, terjemah Mahmud Mahdawi Damaghani, Tehran, Penerbit Nai, 1410 H.
  • Ibnu Abi Ya’qub, Ahmad, Tarikh Ya’qubi, Bairut, Dar Shadir li- al-Thaba’ah wa al-Nashr dan dar Bairut li al-Thaba’ah wa al-Nashr, 1379 H.
  • Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, terjemah Abdul Muhammad Ayati, Tehran, Yayasan Muthaleat wa Tahkikat-e Farhanggi, 1405 H.
  • Kasysyi, Muhammad bin Umar, Ikhtiyar Ma’rifah al-Rijal al-Ma’ruf Birijal al- Kasysyi, Rajai, Mahdi, Thusi, Muhammad bin Hasan, Yayasan Alu al-Bait As, Qom, 1363 H.
  • Khui, Abul Qasim, Mu’jam Rijal al-Hadits, Penerbit Madinatul Ilmi Ayatullah al-Uzma al-Khui, Najaf, 1398 H.
  • Madelung, Wilferd, Janisyini Hadrat-e Muhammad saw, terjemah Ahmad Namai, Bunyad Pazuhesyha-e Islami Astan-e Qods Razawi, 1419 H.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali, al-Khuthath al-Maqriziah, riset Muhammad Zainuhum, Kairo, Perpustakaan Madbuli, 1998.
  • Mas’udi, Abul Hasan Ali bin Hasan, Tanbih al-Asyraf, terjemah Abul Qasim Payandeh, Tehran, Yayasan Tarjumeh wa Nashr Kitab (terjemah dan Penerbitan Kitab), 1390 H/1970.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, al-Amali, Ali Akbar Ghaffari, riset Husain Ustad Wali, Husain, Kongres Syaikh Mufid, Qom.
  • Munqari, Nashr bin Muzahim , Waq’ah Shiffin, riset Abdussalam Muhammad Harun, Qom, Yayasan al-Arabiah al-Haditsah li al-Thab’I wa al-Nasyr wa al-Tauzi’, 1382 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman, Husnu al-Muhadharah fi Tarikh Mishr wa al-Qahirah, riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Kairo, Dar Ihya’al-Kutub al-Arabiah.
  • Syarif Ridha, Nahjul Balaghah, Ali bin Abi Thalib as, Imam pertama, Syarih Abdul Hamid bin Hibatullah Ibnu Abil Hadid, riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Perpustakaan Ayatullah al-Uzma Mar’asyi Najafi, Qom.
  • Syusytari, Nurullah, Majalis al-Mukminin, penyusun Sayyid Ahmad al-Musawi, Tehran, Toko Kitab Islamiah.
  • Tustari, Muhammad Taqi, Qamus al-Rijal, Daftar Intisyarat Islami, 1410 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Rijal al-Thusi, riset Jawad Qayyumi Isfahani, Yayasan al-Nashr al-Islami al-Tabi’ah li Jama’ah al-Mudarrisin bi Qom, Qom, 1373 H.
  • Tsaqafi Kufi, Ibrahim bin Muhammad, al-Gharat, riset Mir Jalaluddin Husaini, Tehran, Penerbir Anjuman Asar-e milli, 1395 H.