Lailatul Qadar

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c
Doa, Munajat dan Ziarah
مسجد جامع خرمشهر.jpg

Lailatul Qadr (Bahasa Arab: لَیلَةُ القَدر ) (malam ketetapan) merupakan malam yang penuh keutamaan dalam tradisi Islam. Lailatul Qadr tidak bisa dikenali secara jelas bahwa malam ini berada di malam yang mana. Malam Qadr menurut keyakinan Syiah, kemungkinan berada pada malam-malam: 19 atau 21 atau 23 bulan Ramadhan. Al-Qur'an mengisyaratkan tentang Lailatul Qadr dalam dua surah yaitu surah al-Qadr dan Al-Dukhan. Ditebasnya kepala Imam Ali as hingga kesyhahidannya pada malam-malam ini semakin menambah penting Lailatul Qadr.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, Lailatul Qadr tidak hanya khusus terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw saja, melainkan berkelanjutan dan suatu malam yang secara berketerusan berulang pada setiap tahunnya. Kaum Syiah, berdasarkan riwayat-riwayat yang ada menggunakan Lailatul Qadr ini sebagai sarana untuk menetapkan hujjah Allah swt di bumi karena para malaikat akan turun atas pengganti Nabi Muhammad saw yang memiliki ciri-ciri kekhususan seperti: maksum -akan tetap ada hingga hari kiamat.

Definisi Qadar

Qadr adalah sebuah kata dari bahasa Arab yang memiliki ukuran dan takaran setiap sesuatu. [1]Sedangkan secara teknis, qadr adalah tipologi eksistensial dan ontologikal, bagaimana penciptaannya dan dengan istilah lain ukuran dan takaran eksistensial segala sesuatu.[2]

Alasan Penamaan

Poster Peringatan Lailatul Qadar

Terkait dengan mengapa mala mini disebut sebagai malam Qadr terdapat beberapa sisi: Berdasarkan satu sisi, pada malam ini akan ditentukan takaran dan ukuran para hamba tentang hal-hal yang akan terjadi selama setahun, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Dukhan ayat 4:

﴾فیها یفْرَقُ کُلُّ أَمْر حَکیم﴿ Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

Berdasarkan berbagai riwayat, pada malam Qadr takdir, rizki dan ajal manusia selama satu tahun ke depan akan ditetapkan. Berdasarkan sebagian riwayat yang lainnya sebab penamaan malam ini dengan malam Qadr adalah kemuliaan dan ketinggian malam ini karena Al-Qur'an yang begitu tinggi nilainya turun atas hati Nabi pada malam ini. [3]

Makna Teknis Lailatul Qadr

Dalam budaya Islam, Lailatul Qadr adalah salah satu malam-malam dalam satu tahun yang memiliki kesucian khusus. Berdasarkan riwayat-riwayat Islami, pada malam ini, Allah swt akan menetapkan setiap tahunnya akan tadir manusia selama satu tahun ke depan. Terjadinya sebagian peristiwa-peristiwa pada malam ini menambah pentingnya malam Qadr ini seperti Al-Qur'an turun secara utuh ke atas hati Nabi, Imam Ali as pada malam ini menemui kesyahidannya, dengan adanya kejadian ini menurut keyakinan pengikut Syiah malam Qadr semakin penting.

Pada malam Qadr, pengikut Syiah mengerjakan amalan-amalan mustahab seperti dzikir, membaca Al-Qur'an dan juga mengadakan majelis duka bagi Imam Ali as. Para mufassir Al-Qur'an berdasarkan sisi lahir Al-Qur'an berkeyakinan bahwa malam Qadr akan terjadi pada setiap tahun dan maksudnya adalah malam turunnya al-Qurna dan tidak hanya terjadi pada masa Nabi saja. Kenyataan ini didukung oleh adanya riwayat-riwayat yang sampai pada derajat mutawatir. [4]

Berdasarkan sebagian riwayat, malam Qadr merupakan karunia Tuhan kepada umat Islam, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis, "Allah swt memberikan malam Qadr kepada umatku dan tidak ada seorang pun dari umat-umat sebelumnya yang mendapatkan karunia ini." [5]

Lailatul Qadr dalam Al-Qur'an

Dalam Al-Qur'an beberapa penjelasan tentang Lailatul Qadr terdapat dalam dua surah: Surah al-Qadr dan Surah al-Dukhan.

Surah al-Qadr

﴾إنَّا أَنزَلْنَاهُ فِی لَیلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاک مَا لَیلَةُ الْقَدْرِ لَیلَةُ الْقَدْرِ خَیرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ و تَنَزَّلُ الْمَلَائِکةُ وَالرُّوحُ فِیهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن کلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِی حَتَّی مَطْلَعِ الْفَجْرِ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qar itu. Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu malam. Pada malam itu, para malaikat dan ruh (malaikat Jibril) turun dengan izin Tuhan mereka untuk menentukan segala urusan. Malam itu (penuh) dengan kesejahteraan hingga terbit fajar."[6]

Surah al-Dukhan

﴾وَالْکتَابِ الْمُبِینِ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِی لَیلَةٍ مُّبَارَکةٍ إِنَّا کنَّا مُنذِرِینَ فِیهَا یفْرَقُ کلُّ أَمْرٍ حَکیمٍ أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا کنَّا مُرْسِلِینَ رَحْمَةً مِّن رَّبِّک إِنَّهُ هُوَ السَّمِیعُ الْعَلِیمُ؛﴿ Hâ Mîm. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah pemberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Penurunan Al-Qur’an itu) sebagai perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah pengutus (Muhammad), sebagai rahmat dari Tuhan-mu. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [7]

Lailatul Qadr dan Imam Zaman Afs

Dalam literatur riwayat Syiah, terdapat sebuah riwayat bahwa malam dan surah al-Qadr digunakan untuk menetapkan hidupnya Imam Zaman afs. Berdasarkan riwayat ini, pada Lailatul Qadr, malaikat turun kepada Nabi Muhammad Saw untuk menurunkan takdir pada tahun yang akan datang.

Dari sisi bahwa Lailatul Qadr terjadi pada setiap tahun dan tidak terkhusus pada zaman Nabi saja, para malaikat akan turun kepada para pengganti Nabi yaitu para Imam Ma’sum, seseorang yang paling mirip dengannya. Kaum Syiah berkeyakinan bahwa Lailatul Qadr akan berulang setiap tahun dan turunnya para malaikat pada malam itu adalah sebuah ketetapan; dari sisi lain, turunnya malaikat ini perlu tempat untuk turun yang layak, maka Muslim Syiah menggunakan dalil ini sebagai adanya hujjah Tuhan (baca: Imam) di setiap zaman hingga hari kiamat. Sebagian riwayat-riwayat itu adalah riwayat Imam Baqir as, "Wahai sekalian pengikut Syiah! Berpeganglah kepadaku! Jika kalian menghadapi musuh-musuhmu gunakan surah al-Qadr supaya kalian mengalami kemenangan. Aku bersaksi bahwa surah ini adalah hujat Allah setelah Rasul. Surah ini adalah bukti agamamu, ilmu dan pengetahuan kita yang terakhir." [8]

Sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas yang menyebutkan Malam Qadr terjadi setiap tahunnya dan Allah swt menurunkan seluruh perkara pada tahun tersebut. Setelah Rasulullah saw juga terdapat orang-orang yang memikul urusan ini. Ibnu Abbas bertanya kepada Imam as. "Siapakah mereka itu?" Imam Ali as bersabda, "Aku dan sebelas putraku yang merupakan imam dan kami bercakap-cakap dengan para malaikat.” [9] Analisa argumen dari riwayat-riwayat di atas adalah:

  1. Pada Lailatul Qadr, ketatapan selama satu tahun telah turun pada Nabi Muhammad saw
  2. Lailatul Qadr tidak terkhusus pada masa Nabi saja akan terjadi secara berulang dalam setiap tahun hingga hari kiamat
  3. Turunnya malaikat dan ketetapan Ilahi pada malam Qadr memerlukan tempat turun seperti orang-orang yang memiliki sifat-sifat seperti Nabi misalnya ishmah
  4. Tempat turunnya ini, berdasarkan berbagai riwayat, para Imam Maksum Ahlulbait as.

Kesimpulan: Pada masa kini, mau tidak mau harus ada seorang Imam Maksum yang masih hidup di mana menurut riwayat-riwayat yang ada, Imam akhir tersebut adalah Imam Mahdi as.

Penentuan Malam Lailatul Qadr

Dalam literatur-literatur agama Islam, malam Qadr tidak ditentukan berada pada malam yang mana. Kaum Muslimin dengan memperhatikan tanda-tanda dan ciri-ciri yang ada dalam Al-Qur'an, mengabarkan tentang kemungkinan-kemungkinan kapan terjadinya malam Qadr. Meskipun demikian, dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa para Imam memberikan tanda-tanda yang tepat untuk menentukan Lailatul Qadr ini.

Peringatan Lailatul Qadar di Haram Imam Ridha Masyhad

Pandangan Syiah

Berdasarkan riwayat Syiah, Lailatul Qadr berada pada salah satu malam-malam: 19, 21 atau 23 bulan Ramadhan. Namun kemungkinan besarnya terjadi pada malam ke-23. Ibnu Babuwaih Shaduqi: Pendapat para pembesar kami tentang Lailatul Qadr, semua berkata bahwa terjadi pada malam ke-23. [10] Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Shadiq as Malam Qadr akan ada hingga hari kiamat dan terjadi pada malam ke-23.[11] Berdasarkan riwayat yang lain, takdir terjadi pada malam ke -23 dan ibram (penegasan akan hal-hal yang telah ditakdirkan) pada malam ke-21 dan penandatangannya pada malam ke-23. [12]

Pandangan Ahlusunnah

Ahlusunnah dengan berdasarkan terhadap hadis nabawi berpandangan bahwa salah satu malam dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan berdasarkan hadis kitab Al-Sihah al-Sitah [13] biasanya pada malam ke 27 dinilai sebagai Lailatul Qadr dan pada malam itu mereka berdoa dan tetap terjaga hingga Subuh untuk beribadah. Sebagian Ahlusunnah berpandangan bahwa selama Nabi Muhammad Saw hidup, Lailatul Qadr terjadi setahun sekali, namun setelah Nabi wafat, tidak ada lagi Lailatul Qadr. [14]Menurut sebagian yang lain, Lailatul Qadr kapan saja bisa terjadi sepanjang setahun dan malam-malam itu tidak ditentukan. Pada tahun Bi’tsah, Lailatul Qadr terjadi pada bulan Ramadhan, namun pada tahun-tahun yang lainnya mungkin saja terjadi pada bulan-bulan lainnya. [15]

Keutamaan Lailatul Qadr

Dalam Al-Qur'an, terdapat sebuah surah yang khusus mendeskripsikan dan mengagungkan Lailatul Qadr dan disebut dengan nama ini. Sebagian dari fadhilah-fadhilah malam ini, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis adalah: Lebih mulia dari 1000 bulan: Al-Qur'an menjelaskan bahwa malam ini lebih baik dari pada 100 malam.

﴾لَیلَةُ القَدرِ خَیرٌ مِن اَلفِ شَهرٍ﴿

Dalam doa Shahifah Sajadiyah doa ke 44 disebutkan:

فَضلُ لَیلَةٌ واحِدَةُ مِن لَیالیهِ، عَلَی لَیالی اَلفَ شَهرٍ و سشَّماهَا، لَیلَةَ القَدرِ

Fadhilah salah satu malam (pada bulan Ramadhan) lebih baik dari pada 1000 bulan, sebuah malam yang disebut Allah dengan nama Lailatul Qadr. [16]

Malam turunnya Al-Qur'an: Berdasarkan sekumpulan ayat-ayat Al-Qur'an dan berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, Al-Qur'an turun secara utuh dari lauh mahfudz ke langit dunia atau baitul ma’mur atau hati Nabi Muhammad. Dalam istilah Ulumul Quran hal ini dinamakan turunnya Al-Qur'an secara daf’i (utuh). Namun Al-Qur'an juga turun secara tadriji dan detail, yang turun selama 23 tahun selama kenabian Nabi Muhammad dalam bentuk alfadz. Malam pengampunan dosa: Nabi Muhammad Saw bersabda: Barang siapa yang menghidupkan Malam Qadr dan ia adalah seorang mukmin dan beriman kepada hari Kiamat, maka semua dosanya akan diampuni. [17]

Jantung bulan Ramadhan: Dalam riwayat yang berasal dari Imam Shadiq as: Bilangan-bilangan nabi disisi Allah adalah 12 bulan dan penghulu bulan-bulan itu adalah bulan Ramadhan dan hati bulan Ramadhan adalah malam Qadr.[18]

Penghulu Malam: Nabi Muhammad Saw: لَیلَةُ القَدرِ سَیدَةُ اللَّیالِی Malam Qadr adalah penghulu malam-malam [19]

Keutamaan hari-hari Qadr

Berdasarkan riwayat-riwayat dan fikih, hari-hari Qadr memiliki kedudukan sebagaimana malam-malamnya yaitu malam-malam yang dihormati dan diutamakan. [20]

Amalan Mustahab Malam-malam Qadr

Amalan-amalan Lailatul Qadr ada dua jenis: Amalan-amalan yang dilaksanakan selama 3 malam dan disebut dengan amalan umum dan amalan khusus setiap malam-malam: malam ke-19, 21 dan 23. [21]

Catatan Kaki

  1. Farahidi, Kitāb al-‘Ain, jld. 5, hlm. 113; Qarisyi, Sayid Ali Akbar, Qamus Quran jld. 5, hlm. 22-227.
  2. Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, jld. 12, hlm. 144.
  3. Maliki Tabrizi, Mirza Jawad, Al-Murāqabat, hlm. 237-252.
  4. Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh jld. 27, hlm. 190
  5. Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh jld. 27, hlm. 190.
  6. Qs Al-Qadr: 1-5
  7. Surah al-Dukhan ayat 1-5
  8. Kulaini, Kāfi, jld. 1, hlm. 249.
  9. Kulaini, Kāfi, jld. 247 dan 248
  10. Al-Khishāl: hlm. 519.
  11. Thabarsi, Majma’ al-Bayān, jld. 10, hlm. 786.
  12. Kulaini, Ushul Kāfi, jld. 2, hlm. 772.
  13. Muslim, Sahih Muslim, jld. 8, hlm. 65.
  14. Al-Qasimi, Tafsir al-Qāsemi, jld. 17, hlm. 217.
  15. Ibnu Al-Miftah, Abdullah, Syarh al-Azhar, jld. 1, hlm. 57.
  16. Sahifah Sajādiyah, hlm. 187.
  17. Kasyani, Tafsir Minhaj al-Shādiqin, jld. 10, hlm. 308.
  18. Huwaizi, Tafsir Nuruts Tsaqālain, jld. 5, hlm. 918.
  19. Majlisi, Bihar al-Anwār, jld. 40, hlm. 54.
  20. Syaikh Thusi, Al-Tahdzib, jld. 4, hlm. 331, hadis. 101.
  21. Site Syi’ayan

Daftar Pustaka

  • Ibnu al-Miftah, Syarh al-Azhar, Al-Hijaz, Qahirah, tanpa tahun.
  • Huwaizi, Ali bin Jum’ah, Tafsir Nur Tsaqalain, Qum, Ismailiyan.
  • Shahifah Sajādiyah, Terjemah Muhsin Gharawiyan, Qum, Al-Hadi, 1378.
  • Thabthabai, Sayid Muhammad Husain, Mizān fi Tafsir Al-Qur'an, Qum, Ismailiyan, 1371.
  • Thabarsi, Fadhl Husain, Majma’ al-Bayān fi Tafsir Al-Qur'an, Tehran, Nasir Khosro, 1372.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan (Syaikh Thusi), Al-Tahdzib, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, 1365.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad, Kitab al-Ain
  • Faidh Kasyani, Mula Muhsin, Tafsir Shāfi, Terjemah Abdurahim Aqiqi Bahsyayesyi, Qum, Nuyad Islami, 1358.
  • Qarisyi, Ali Akbar, Qāmus al-Qurān, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Al-Qasemi, Muhammad Jamaluddin, Tafsir al-Qāsemi, Beirut, Tanpa tahun.
  • Qumi, Syaikh Abbas, Mafātih al-Jinan, tentang Amalan Malam-malam Lailatul Qadr
  • Kasyani, Mula Fathullah, Tafsir Minhaj al-Shādiqin, Tehran, Ilmi, 1340.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Ushul Kāfi, Terjemah Muhammad Baqir Kumrehi, Qum, USwah, 1375.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwār, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi
  • Muslim, Sahih Muslim, Dar al-Kutun al-Ilmiyah, Beirut.
  • Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, Nashir, Tafsir Nemuneh, Tehran, Dar al-Kitab Islamiyah, 1371.
  • Maliki Tabrizi, Mirza Jawad, Al-Murāqibat fi A’mal al-Sanah, Beirut, Dar al-I’tisham.
  • Ibnu Babuwaih, Muhammad Ali, Al-Khishal, Penyunting: Ghifari, Ali Akbar Jamiah Mudarisin Qum, 1362.