Prioritas: a, Kualitas: c

Idul Fitri

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Salat Idul Fitri diimami oleh pemimpin tertinggi Rapublik Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, Teheran 2013

Idul Fitri (bahasa Arab:عید الفطر) adalah hari pertama bulan Syawal. Hari raya Idul Fitri adalah hari raya terpenting bagi kaum Muslimin di berbagai negara Islam pada umumnya yang disertai dengan hari libur resmi nasional. Pada hari ini tidak diperbolehkan untuk melakukan puasa. Pada hari ini juga, umat Islam mengerjakan salat Id. Pada hari raya Idul Fitri, kaum Muslimin wajib membayar zakat Fitrah.

Makna Fitri

Makna kata “فِطْر” secara leksikal adalah tidak berpuasa. Kata ini diambil dari kata فَطر yang berarti terbuka, permulaan dan penciptaan. [1] Akar kata “fitri” berasal dari firman Allah Swt:

إِذَا السَّماءُ انْفَطَرَتْ
“Apabila langit terbelah”(Qs. Infithar [82]: 1)

dan juga “تَفَطَّرَتْ” dan “اِنْفَطَرَتْ” dengan satu arti dan “اِفْطَار” dan “عِيْدُ الفِطْرِ” juga berasal dari akar kata ini karena orang-orang yang berpuasa akan membuka puasanya pada waktu maghrib dan hari raya Idul Fitri. [2]

Penentuan Hari Raya Idul Fitri

Idul Fitri adalah hari pertama pada bulan Syawal. Oleh karena itu, dengan terlihatnya hilal bulan Syawal pada akhir hari ke-29 bulan Ramadhan atau dengan berlalunya 30 hari dari 30 hari bulan Ramadhan, maka hari itu dimulainya bulan Syawal dan ditetapkan sebagai hari raya Idul Fitri.

Berdasarkan sebagian riwayat, lama bulan Ramadhan selalu 30 hari dan tidak akan pernah sekali pun kurang dari 30 hari. [3] Sekelompok dari ulama zaman dahulu juga meyakini hal ini. [4] Namun, ada sekelompok riwayat yang menjelaskan bahwa bulan Ramadhan sebagaimana bulan-bulan lainnya yang berubah-ubah seperti 29 hari ataupun 30 hari. [5] Kebanyakan fukaha menerima pandangan ini. [6]

Idul Fitri dalam Alquran

Para mufassir berkata, yang dimaksud dengan “walitukabbirullah” dalam وَ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ وَ لِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ “Supaya kamu dapat menyempurnakan jumlah (hari yang telah ditentukan itu), mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, dan supaya kamu bersyukur.” [7] adalah takbir-takbir yang dikumandangkan pada malam hari raya Idul Fitri. [8]

Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, yang dimaksud dengan “tazakka” dan “fashalla” pada ayat قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) [9] dan وَ ذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى dan dia ingat nama Tuhan-nya, lalu dia salat” [10] adalah membayar zakat Fitrah dan mengerjakan salat idul fitri. [11]

Idul Fitri dalam Riwayat

  • Menurut Jabir dari Imam Baqir as, Nabi Muhammad saw bersabda, "Pada hari pertama bulan Syawal, akan ada panggilan kepada kaum Mukminin, oleh karena itu, bergegaslah menuju hadiah yang dijanjikan kepada Anda". Kemudian beliau bersabda, "Wahai Jabir! Hadiah Tuhan bukanlah hadiah dari para raja itu". Kemudian beliau melanjutkan sabdanya, “Hari itu adalah hari pembagian hadiah.” [12]
  • Nabi Muhammad saw bersabda, "Para malaikat pada hari raya Idul Fitri akan berdiri di gang-gang dan jalan-jalan yang dilewati penduduk dan berkata: 'Bergegaslah menuju Tuhanmu untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa yang telah kalian lakukan'".[13]
  • Imam Ali as bersabda, "Ini adalah hari raya orang yang puasa dan ibadahnya diterima oleh Allah swt, setiap hari dimana Allah swt tidak dimaksiati di dalamnya adalah hari raya". [14]
  • Imam Hasan as pada hari raya Idul Fitri melihat orang-orang yang sibuk bermain-main dan bersenda gurau. Kemudian Imam berkata kepada sahabatnya, Allah swt menjadikan bulan Ramadhan sebagai lahan pertandingan bagi hamba-Nya untuk bergerak menuju keridhaan Ilahi. Sekelompok dari mereka menang dan unggul dan sekelompok yang lainnya tertinggal dan kalah. Aku heran dari para pemeran pada hari dimana orang-orang baik akan memperoleh pahala dan orang-orang yang menyepelekan berbuat kebaikan akan sial. Aku bersumpah, apabila tabir disingkapkan, orang-orang yang baik akan sibuk dengan kebaikannya dan orang-orang yang berbuat kejelekan, akan tersiksa oleh kejelekannya sendiri. [15]
  • Imam Ridha as bersabda: "Idul Fitri, dijadikan hari raya bagi orang Islam karena terdapat sisi kemasyarakatan yaitu pada hari itu orang-orang saling berkumpul dan pergi keluar untuk memuji Tuhan atas nikmat-nikmat yang dikaruniakan, hari raya Idul Fitri adalah hari berkumpul, hari berbukanya orang-orang berpuasa, hari membayar zakat, hari suka cita dan berdoa, hari pertama awal bulan di mana pada hari itu diperbolehkan makan dan minum karena bulan Ramadhan adalah bulan pertama kali menurut orang-orang yang hak. Oleh sebab itu, Allah swt senang jika pada hari ini, terdapat pertemuan besar yang di dalamnya akan diagungkan dan dipuji-Nya dan pada hari ini, takbir dan salat dilakukan lebih banyak dari pada hari-hari lainnya karena takbir dan penghormatan dan pujian terhadap-Nya atas nikmat dan hidayah-Nya, sebagaimana yang Allah swt firmankan: “Mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, dan supaya kamu bersyukur.” dan pada hari itu terdapat 12 kali takbir dengan rincian 7 takbir pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua, kedua takbir itu tidak sama karena hukumnya mustahab untuk mengawali salat wajib dengan tujuh takbir. Oleh karena itu, pada saat salat Idul Fitri dimulai dengan tujuh takbir. Pada rakaat kedua terdapat lima takbir karena takbiratul ikhram dalam salat sehari semalam ada 5 takbir, dan supaya takbir-takbir dalam dua rakaat dibaca secara ganjld.". [16]

Hukum-hukum dan Adab-adab

Malam Idul Fitri

  • Membaca doa, salat dan membaca Alquran. Imam Ali as bersabda, "Apabila kamu mampu menjaga malam Idul Fitri dan malam Idul Qurban, maka lakukanlah dengan memperbanyak doa, salat dan membaca Alquran pada malam-malam tersebut".[17]
  • Pada awal bulan Syawal, mustahab untuk membaca doa Istihlal ketika melihat hilal bulan Syawal.[18]
  • Membaca doa ziarah Imam Husain as pada awal malam bulan Syawal adalah mustahab. [19]
  • Mustahab mandi pada malam Idul Fitri. Diriwayatkan bahwa sebelum tenggelam matahari malam Idul Fitri supaya mandi. Juga diriwayatkan bahwa mustahab mandi pada akhir malam hari raya Idul Fitri. [20]
  • Berdasarkan pendapat sebagian besar fukaha kontemporer, zaman kewajiban membayar zakat pada saat matahari tenggelam. Sebagian berkeyakinan bahwa pembayaran zakat dilakukan pada saat terbit fajar. [21]
  • Salat; Imam Shadiq as menukil dari Imam Ali as bersabda, Barang siapa yang mendirikan salat pada malam Idul Fitri sebanyak 2 rakaat: pada rakaat pertama membaca Surah Al-Fatihah dan membaca surah at-Tauhid sebanyak 1000 kali dan pada rakaat kedua membaca surah al-Fatihah dan membaca surah at-Tauhid sebanyak satu kali, maka Allah akan memberikan apa-apa yang ia minta. [22]
  • Membaca takbir setelah salat; Menurut nukilan dari Muawiyah bin Ammar, aku mendengar bahwa Imam Shadiq as bersabda, Terdapat takbir dalam Idul Fitri. Aku bertanya: Kapan? Pada salat maghrib malam Idul Fitri, Isya, Subuh dan salat Idul Fitri. Kemudian terputus. Dan inilah maksud dari kalam Ilahi

وَ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْن mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, dan supaya kamu bersyukur.[23] Dan takbir yaitu membaca الله اکبر الله اکبر، لا اله الا الله و الله اکبر، و لله الحمد علی ما هدانا، و له الشکر علی ما اولانا [24]

  • Menghidupkan malam Idul Fitri; Imam Kazim as bersabda, Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Dengan amalan ini, akan membuat kami bahagia: ia menghidupkan empat malam dengan beribadah: malam Idul Fitri, malam Idul Kurban, malam Nisfu Sya’ban, dan malam awal bulan Rajab. [25]
  • Imam Baqir as bersabda, Ayahku, Ali bin Husain as pada malam Idul Fitri tinggal di masjid sampai subuh untuk melaksanakan salat dan menghidupkan malam untuk beribadah dan bersabda, Wahai putraku! Malam ini tidak kurang (keutamaannya) dari pada malam Qadar. [26]

Hari Raya Idul Fitri

  • Salah satu sunah muakkad pada hari raya Idul Fitri adalah mandi. Waktunya semenjak terbitnya fajar. Terdapat perbedaan terkait dengan kapan berakhirnya melakukan mandi apakah sebelum melakukan salat Id ataukah ketika matahari menurun (waktu salat dhuhur) atau ketika tenggelamnya matahari. [27]
  • Mendirikan salat Id pada ketika masa ghaibah adalah mustahab dan wajib pada masa kehadiran dan kekuasaan Imam Zaman Afs. [28]
  • Mustahab sebelum melakukan salat Id untuk makan sesuatu khususnya kurma [29]
  • Berdasarkan pendapat masyhur, mustahab untuk membaca takbir sebagaimana yang telah dijelaskan dalam riwayat setelah salat Subuh dan salat Id. [30]
  • Haram berpuasa pada hari raya Idul Fitri. [31][Note 1]
  • Mustahab untuk memberi kelapangan kepada keluarga berupa makanan dan lainnya[32]dan juga membaca doa Nudbah.
  • Bepergian pada hari raya Idul Fitri setelah terbitnya matahari dan sebelum dilaksanakannya salat Id jika diasumsikan atas wajibnya salat Id, maka hal itu adalah haram, jika tidak demikian, maka makruh hukumnya. [33]

Liburan Hari Raya Idul Fitri

Idul Fitri merupakan hari raya utama bagi kaum Muslimin di berbagai negara Islam baik di negara-negara Arab maupun non Arab yang disertai dengan liburnya instansi-instansi pemerintah, bank-bank dan sekolah-sekolah selama 2 hingga 12 hari.Di Iran, liburan perkantoran-perkantoran pemerintah hanya sehari yaitu pada hari Idul Fitri saja, namun semenjak tahun 2011 dengan persetujuan Majelis Syura Islami dan penandatanganan Dewan Garda Revolusi hari libur pada hari Idul Fitri bertambah menjadi dua hari (pada hari Idul Fitri dan sehari setelahnya). [34]

Negara Arab Saudi Qatar Suriah Iraq Kuwait Malaysia Sudan Indonesia Bahrain Afganistan Jordan Emirat Oman Pakistan Turki Iran
Liburan 12 Hari 12 Hari 9 Hari 9 Hari 7 Hari 7 Hari 5 Hari 5 Hari 5 Hari 3 Hari 4 Hari 4 Hari 4 Hari 3 Hari 3 Hari 2 Hari

Catatan Kaki

  1. Lisān al-Arab, jld. 5, hlm 55.
  2. Lisān al-Arab, jld. 5, hlm 55.
  3. Hurr Amili, Wasāil Syiah, jld. 10, hlm 264-274.
  4. Sayid Ibnu Thawus,Al-Iqbāl, jld.. 1, hlm 33-35.
  5. Hurr Amili,Wasāil Syiah, jld. 10, hlm 261-268.
  6. Amuli,Misbāh al-Hudā, jld. 8, hlm 384.
  7. (QS. Al-Baqarah: 185).
  8. Fakhrurrazi, al-Tafsir al-Kabir, jld. 2, hlm 69.
  9. (QS. Al-A’la: 14).
  10. (QS. Al-A’la: 15).
  11. Thabathabai, Al-Mizān, jld. 20, hlm 269.
  12. Kulaini, Ushul Kāfi, jld. 7, hlm 650.
  13. Nuri, Mustadrak al-Wasāil, jld. 6, hlm 154.
  14. Nahj al-Balaghah, Hikmah 428.
  15. Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, jld. 2, hlm. 172.
  16. Shaduq, Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih, jld. 1, hlm 552.
  17. Thusi, Misbāh al-Mutahajjid, hlm 590-589.
  18. Mufid, Masār al-Syi’ah, hlm 29.
  19. Sayid Ibnu Thawus,Iqbāl al-A’mal, hlm 577.
  20. Sayid Ibnu Thawus, Iqbāl al-A’māl, hlm 572.
  21. Yazdi, Urwah al-Wutsqā, jld.. 4, hlm 222.
  22. Sayid Ibnu Thawus,Iqbāl al-A’mal, hlm 575.
  23. (QS. Al-Baqarah: 185)
  24. Ibnu Thawus, Iqbāl al-A’māl, hlm 574.
  25. Thusi, Misbāh al-Mutahajjid, hlm 589; Silahkan lihat: Iqbāl al-A’māl, hlm 577.
  26. Sayid Ibnu Thawus,Iqbāl Al-A’māl, hlm 577.
  27. Amuli, Misbāh al-Huda, jld. 7, hlm 86.
  28. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 11, hlm 332-333.
  29. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 11, hlm 377.
  30. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 11, hlm 378-382.
  31. Najafi, Jawāhir al-Kalām, jld. 16, hlm 324
  32. Abu Shalah al-Halabi, al-Kafi fi al-Fiqh, hlm.155
  33. Abu Shalah al-Halabi, Al-Kāfi fi al-Fiqh, hlm 155.
  34. Site Syurā Negahbān.
  1. Sayid Ibnu Thawus berkata: orang yang berpuasa ketika berbuka pada hari Idul Fitri adalah untuk mentaati perintah Allah Swt sehingga pada keadaan makan pun juga seperti pada saat puasa yaitu berada dalam keadaan beribadah dan kebahagiaan. Iqbāl al-A’māl, hlm 586

Daftar Pustaka

  • Alquran al-Karim
  • Amuli, Muhammad Taqi. Misbah al-Hudā fi Syarh Urwah al-Wutsqa. Tehran: 1310 H.
  • Halabi, Abul Salah, Taqiyuddin bin Najmuddin. Al-Kāfi fi al-Fiqh. Muhaqiq Ridha Ustadi. Kitab Khaneh Umirul Mukminin As. Isfahan: 1403 H.
  • Ibnu Babawaih, Muhammad bin Ali. Man Lā Yahdhuruhu al-Faqih. Editor: Ghifari, Ali Akbar. Jamiah Mudarisin. Qom: 1413 H.
  • Ibnu Mandzur, Muhammad bin Mukaram. Lisān al-Arab. Beirut: Dar Shadir, Cet. 3, 1414.
  • Ibnu Thawus. Iqbāl al-A’māl. Beirut: Cet, A’lami, 1417, 1996.
  • Khaza’i, Husain bin Ali. Raudha al-Jinān wa Ruh al-Jinān fi Tafsir al-Qurān. Tehran, tanpa tahun.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’qub. Al-Kāfi. Dar al-Hadis. Qom: 1429 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawāhir al-Kalām fi Syarh Syarāyi’ al-Islām. Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi. Beirut: 1404.
  • Nuri, Husain bin Muhammad Taqi. Mustadrak al-Wasāil wa Mustanbath al-Masail. Muasasah Ali al-Bayt As. Qom, 1408 H.
  • Syaikh Mufid. Masār al-Syiah, Konggres Syaikh Mufid. Qom: 1413 H.
  • Syarif Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balāghah. Editor: Salehi, Subhi. Qom: Hijrat, 1414.
  • Thabathabai, Muhammad Husain. Al-Mizān fi Tafsir al-Qurān. Jamiah Mudarisin Qom, tanpa tahun.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Misbāh al-Muahajjid wa Salāh al-Muta’abid. Muasasah A’lami. Beirut: 1418, 1998.
  • Yazdi, Sayid Kadzim Thathabai. Fi Ma Ta’ummu bihi al-Balwa (Muhasysyi). Jamiah Mudarisin, 1419.