tanpa link
tanpa referensi

Imam Muhammad al-Jawad as

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Imam Jawad as)
Lompat ke: navigasi, cari
Muhammad bin Ali al-Taqi al-Jawad
Example alt text
Deskripsi Imam Muhammad al-Jawad
Posisi Imam Kesembilan
Nama Muhammad bin Ali
Julukan Abu Ja'far(al-Tsani)
Gelar Al-Taqi, al-Jawad, Bab al-Hawaij
Tanggal Lahir 10 Rajab 195 H
Tempat Lahir Madinah
Tanggal Wafat Akhir Dzulqaidah 220 H
Nama Ayah Ali bin Musa
Nama Ibu Subaikah
Masa Hidup 25 Tahun
Tempat Dikuburkan Kazhimain, Irak
Istri-istri Samanah al-Maghribiyah, Ummu al-Fadhl
Anak-anak Ali, Musa, Fatimah, Umamah
Berkas:Emam1.jpg
Haram suci Imam Jawad dan Imam Kazim As di Kazhimain
Berkas:Emam2.jpg
Kubah emas haram Imam Jawad dan Imam Kazim As
Berkas:Emam4 (2).jpg
Pembatas pusara suci Imam Jawad dan Imam Kazim As
Berkas:Emam4 (1).jpg
Gambar lama dari Haram Imam Jawad dan Imam Kazim as

Muhammad bin Ali bin Musa (As), (bahasa Arab: محمّد بن علی بن موسی علیه السلام) yang masyhur dengan Imam Jawad (امام الجواد) adalah Imam Kesembilan Syiah, lahir pada tanggal 10 Rajab 195 H/810 di Madinah. Imam Jawad syahid pada usia 25 tahun, oleh Mu'tashim. Beliau dikuburkan di Kazhimain, di samping pusara datuknya, Imam Musa bin Ja'far as. Setelah Imam Ridha as syahid, sebagian orang-orang Syiah menyebut saudaranya, Abdullah sebagai Imam. Sebagian lainnya bergabung dengan kelompok Waqifiyyah, namun mayoritas Syiah menerima keimamahannya, meskipun dengan umur yang masih belia. Pada masa ini, karena adanya batasan-batasan yang dibuat untuk Imam, komunikasi dengan para Syiah kebanyakan dilakukan melalui perantara para wakil. Dialog Imam Jawad as dengan para cendekiawan mazhab-mazhab Islam lainnya tentang masalah khalifah, pemotongan tangan pencuri dan masalah haji merupakan salah satu dialog populer imam.

Nasab, Julukan dan Gelar

Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far bin Muhammad, adalah Imam Kesembilan Syiah duabelas Imam, yang masyhur dengan Imam Jawad. Ayah beliau adalah Imam Ridha as, Imam kedelapan Syiah dua belas Imam. Ibunda beliau bernama Subaikah, berasal dari keluarga Maria Qibtiah, istri Rasulullah saw. Disebutkan dalam sebagian referensi bahwa ibunda beliau bernama Khizran dan Raihanah.[1] Julukan beliau adalah Abu Ja'far, yang mana biasanya dalam riwayat-riwayat sejarah disebut sebagai Abu Ja'far Tsani(kedua) supaya tidak keliru dengan Abu Ja'far pertama, yakni Imam Baqir as.[2] Gelar terpopuler beliau adalah Jawad dan gelar-gelar lain yang disematkan untuk beliau adalah seperti Taqi, Murtadha, Qani', Radhi, Mukhtar, Mutawakkil dan Muntajab. [3]

Kelahiran dan Syahadah

Menurut penuturan para sejarawan, Imam Jawad as lahir di kota Madinah, pada tahun 195 H. Namun terdapat perbedaan terkait hari dan bulan kelahirannya. Pendapat masyhur dan tunggal adalah pada tanggal 10 Rajab, yang dinukilkan oleh Syaikh Thusi dalam Misbah al-Mutahajjid[4], namun kebanyakan referensi menyebut hari kelahiran Imam pada pertengahan bulan Ramadhan.[5] Imam Jawad as syahid pada tahun 220 H di Baghdad, oleh Mu'tashim khalifah Abbasiah dan beliau dikuburkan di samping pusara datuknya, Imam Kazhim di kota Kazhimain.[6]

Istri dan Keturunan

Istri

Imam Jawad menikah dengan putri Makmun Abbasi, yang bernama Ummul Fadhl pada tahun 215 H.[7] Pernikahan ini atas permintaan Makmun, yang mana Imam mengumumkan persetujuannya atas pernikahan ini dengan menentukan sebuah mahar yang setara dengan maharnya Sayidah Fatimah Sa, yakni 500 Dirham. Imam tidak memiliki keturunan dari pernikahan ini[8] dan seluruh keturunan beliau berasal dari istri lain yang bernama Samanah al-Maghribiyah.[9] Sebagian mengatakan bahwa saat Imam Ridha as menetap di Khurasan, Imam Jawad as pergi ke kawasan ini untuk pertama kalinya guna mengunjungi ayahnya[10] dan dalam pertemuan ini, Makmun mengakadkan putrinya dengan Imam Jawad. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir bahwa pinangan akad Imam Jawad as dengan putri Makmun dilangsungkan di masa hayatnya Imam Ridha as, namun pernikahan dengan izin Makmun pada tahun 215 H/830, di Tikrit.[11] Pendapat ini tidak bertentangan dengan ucapan sebagian yang mengatakan bahwa pernikahan berlangsung pada tahun 202 H dengan sebagian yang menyebutkannya pada tahun 215, namun tidak terlalu selaras dengan cerita populer dialog Yahya bin Aktsam dengan Imam Jawad di Baghdad.[12]

Keturunan

Menurut penuturan Syaikh Mufid, Imam Jawad memiliki empat anak, yaitu Ali (Imam Hadi), Musa, Fatimah dan Umamah.[13] Namun, sebagian perawi mengatakan bahwa putri Imam ada tiga orang, yaitu Hakimah, Khadijah dan Ummu Kultsum.[14]

Dalil Keimamahan

Keimamahan Imam Jawad as selama 17 tahun, yakni dari tahun 203 (syahadah Imam Ridha as) sampai tahun 220 H. Banyak riwayat dan indikasi yang menunjukkan akan keimamahan beliau, seperti salah seorang sahabat Imam Ridha bertanya tentang penggantinya, Imam Ridha as dengan tangannya mengisyaratkan kepada putranya, Abu Ja'far (Imam Jawad as), yang berdiri di hadapannya.[15] Dalam riwayat lain Imam Ridha as berkata, "Ini adalah Abu Ja'far yang aku dudukkan di tempat dudukku dan aku serahkan maqomku kepadanya. Kami adalah keluarga yang mana anak-anak kecil kami saling mewarisi dari para pembesar kami (yakni sebagaimana orang-orang dewasa mewarisi ilmu, anak-anak kecil kami juga mewarisi ilmu dari orang-orang besar, dengan tanpa perbedaan sama sekali)."[16] Dalam riwayat lain, Abul Hasan bin Muhammad (sahabat Imam Ridha) mengatakan, aku mendengar bahwa beliau berkata, "Abu Ja'far adalah penggantiku di antara keluargaku."[17]

Bayi Penuh Kebaikan dan Keberkahan

Imam Jawad as lahir di akhir-akhir umur Imam Ridha as, dengan demikian sebelum kelahirannya dan dengan memperhatikan bahwa Imam Ridha as tidak memiliki keturunan, sebagian para penentangnya menyebarkan isu di kalangan masyarakat dengan mengatakan, Imam Ridha as tidak memiliki keturunan dan silsilah imamah terputus dan sejatinya mereka ingin memanifestasikan sabda Rasulullah saw yang bersabda, imam sepeninggalku adalah 12 orang sebagai suatu hal yang dusta; karena jika Imam Ridha as tidak memiliki keturunan, maka silsilah keimamahan akan terputus di angka kedelapan. Dengan memperhatikan kondisi ini, saat Imam lahir ke dunia dan beliau dibawa ke pangkuan ayahnya, Imam berkata, tidak ada kelahiran yang lebih memiliki berkah bagi Syiah-syiah kami dari kelahiran ini. Demikian juga, dalam sebuah riwayat yang dinukilkan dari Ibnu Asbat dan Ibad bin Ismail mengatakan, kami berada di dekat Imam Ridha as, dimana beliau membawa Abu Ja'far (Imam Jawad as). Kami berkata, ini adalah bayi yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan? Imam Ridha berkata: "Ini adalah seorang bayi yang dilahirkan dalam Islam, tidak ada yang lebih berkah darinya."[18]

Keimamahan dan Masa Kecil

Imam Jawad mencapai keimamahannya di usia belia, yakni pada umur delapan tahun dan masalah ini menyebabkan sebagian orang Syiah tidak menerima keimamahannya, dan memilih orang lain sebagai imam mereka. Sebagian lainnya juga masih kebingungan sampai jelasnya masalah imamah di usia belia, sampai pada akhirnya masalah ini terselesaikan buat mereka dan akhirnya mereka mendapatkan keyakinan akan keimamahan beliau. Masalah ini adalah salah satu isu yang dilontarkan oleh sebagian orang pada masa Imam Ridha as dan juga pada masa hayat Imam Jawad as dan dua imam ini memberikan jawaban-jawaban Al-Quran. Salah satu jawaban ini adalah pengisyaratan tentang kenabian Yahya, dimana Allah Swt berfirman dalam Al-Quran,"Dan kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) selagi ia masih kanak-kanak". [19] Jawaban lain adalah ucapan Nabi Isa as pada hari pertama kelahirannnya [20], surah Maryam ayat 30-32 dari lisan Al-Masih mengisyaratkan akan masalah ini, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

Kaum Syiah setelah Syahadah Imam Ridha as

Imam Ridha as syahid pada tahun 203 H, pada saat itu putranya, Imam Jawad as yang meneruskan keimamahannya berusia tidak lebih dari 8 tahun dan masalah ini menyebabkan perselisihan di kalangan kaum Syiah, sampai-sampai sebagian dari mereka mengikuti Abdullah bin Musa bin Ja'far, saudara Imam Ridha as, namun dengan bertolak bahwa mereka tidak mau menerima keimamahan seseorang tanpa disertai dengan dalil, maka mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Abdullah, dan setelah mereka mendapatkan jawaban akan ketidakmampuannya, lantas mereka pun meninggalkannya. Sebagian kaum Syiah juga bergabung dengan kelompok Waqifiyyah, menurut Naubakhti, sebab kemunculan perselisihan ini adalah mereka menganggap akil balig adalah sebagai salah satu syarat keimamahan.[21] Namun, mayoritas Syiah meyakini keimamahan Imam Jawad as dengan usia belianya, meskipun sebagian melontarkan kebeliaan umur Imam, namun dalam menjawab Imam dengan mengisyaratkan penggantinya Sulaiman dari Daud mengatakan, nabi Sulaiman saat masih anak-anak dan masih mengembala kambing, nabi Daud mengangkatnya sebagai penggantinya.[22] Saat Imam Jawad as mencapai keimamahannya di usia belia, sekelompok orang dari Baghdad dan kota-kota lain pada musim haji pergi ke Madinah guna menemuinya dan duduk di rumah Imam Shadiq as yang sudah kosong. Pada saat itu, Abdullah bin Musa (paman Imam) masuk dan para hadirin bertanya kepadanya, namun Abdullah salah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dengan demikian orang-orang Syiah kebingunan dan bersedih, selang beberapa saat Imam Jawad as memasuki majlis dan mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan beliau menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dengan benar dan lengkap. Para hadirin pun gembira saat mendengar jawaban ini, mereka mendoakan Imam dan memujinya.[23]

Keimamahan

Masa keimamahan beliau berbarengan dengan dua khalifah Abbasiah. Yang pertama adalah Ma'mun (193-218), dimana Imam menghabiskan 23 tahun umurnya di masa kekhilafahan Ma'mun. Kedua adalah Mu'tashim Abbasi (218-227), yang mana 2 tahun dari kepemerintahannya bertepatan dengan keimamahan Imam Jawad as. Tempat tinggal Imam adalah Madinah, namun atas permintaan dua khalifah tersebut beliau pergi ke Baghdad, yang mana kepergian beliau pada masa Mu'tashim menyebabkan kesyahadahannya. Dia untuk pertama kalinya pergi ke Baghdad pada masa khilafah Ma'mun pada tahun 214 (atau 215) dan setelah menetap sejenak di situ dalam dialog ilmiah, beliau kembali ke Madinah bersama istrinya (putri Ma'mun), di musim haji. Namun saat Imam pergi ke Baghdad pada masa kekhilafahan Mu'tasim, dia beberapa kali singgah di kota ini dan dia melakukan beberapa dialog dengan para ulama dan para fakih kerajaan dan lain-lainnya dalam pelbagai masalah.[24]

Dialog

Dialog di Majlis Ma'mun

Salah satu dialog penting Imam yang terjadi pada masa Ma'mun Abbasiah di Baghdad adalah dialog dengan faqih kerajaan, yakni Yahya bin Aktsam. Sebab terjadinya dialog ini adalah saran pernikahan Imam dengan Ummul Fadhl dari pihak Ma'mun. Setelah para pembesar Abbasiah mengetahui masalah, maka mereka menentang keras saran Ma'mun tersebut; dengan demikian Ma'mun untuk membuktikan ucapannya kepada para penentangnya mengatakan, kalian dapat mengujinya (Imam Jawad as). Mereka menerimanya dan mereka menguji Imam dalam bentuk sebuah dialog antara orang paling terpandai mereka dan imam. Tibalah hari yang sudah dijanjikan. Pertama-tama Yaya bertanya tentang seseorang yang berburu hewan pada saat dia melakukan ihram. Imam dalam menjawab dengan melontarkan beberapa pelbagai asumsi masalah, meminta manakah yang dimaksudkan oleh Yahya bin Aktsam. Yahya bin Aktsam pun tidak berkutik dan para hadirin pun kebingunan dan takjub. Lantas Imam memberikan jawaban satu persatu kepada mereka. Orang-orang istana dan para ulama Abbasiah setelah mendengar jawaban lengkap Imam mengakui akan keilmuan dan pengetahuannya yang melimpah dan Ma'mun merasa sangat gembira karena benar pilihannya ia mengatakan, Alhamdulillah sesuai dengan apa yang saya pikirkan.[25]

Dialog tentang Khalifah

Imam Jawad berdialog dengan Yahya bin Aktsam tentang keutamaan-keutamaan para khalifah (Abu Bakar dan Umar) dalam sebuah masjid yang diselenggarakan di hadapan Ma'mun dan sejumlah para fakih istana kerajaan. Yahya berkata kepada Imam, Jibril as dari pihak Allah telah berkata kepada Rasul-Nya: Tanyalah kepada Abu Bakar, apakah dia sudah ridha kepadaKu? Aku sudah meridhainya. Imam menjawab: Aku tidak memungkiri keutamaan-keutamaan Abu Bakar, namun orang yang menukilkan riwayat ini harus memperhatikan hadis-hadis lain yang telah disampaikan oleh Rasulullah (saw) dan itu adalah ketika Rasulullah saw bersabda, "Jika ada hadis yang sampai ke kalian, maka sandingkanlah dengan Al-Quran dan sunnahku. Terimalah jika hal itu sesuai dengannya dan jika tidak, maka janganlah kalian terima karena akan banyak para pendusta dan para pembuat hadis." Kemudian, Imam melanjutkan, hadis ini tidak sesuai dengan Al-Quran, karena Allah berfirman, "Kami lebih dekat dari urat nadi kalian", apakah Allah tidak mengetahui tentang keridhaan ataupun tidak ridhanya Abu Bakar, sehingga harus menanyakan hal itu kepadanya? dengan demikian, masalah kalian tidaklah tepat.[26] Setelah itu, Yahya bertanya tentang riwayat ini, "Perumpamaan Abu bakar dan Umar di bumi laksana Jibril dan Mikail di langit", Imam menjawab: kandungan riwayat sangatlah benar, karena Jibril dan Mikail senantiasa menghamba kepada Allah dan tidak pernah melakukan maksiat sesaatpun, sementara Abu Bakar dan Umar, bertahun-tahun melakukan kemusyrikan sebelum masuk Islam.[27]

Pemotongan Tangan Pencuri

Pada masa Imam tinggal di Baghdad, terjadi beberapa peristiwa yang menyebabkan kedudukan imamahnya tersebar di kalangan masyarakat, contoh yang dapat diisyaratkan adalah fatwa Imam tentang seorang pencuri. Terdapat perselisihan di kalangan para fakih istana mengenai batas pemotongan tangan seorang pencuri, dari batasan tangan mana yang harus dipotong; sebagian mengatakan dipotong dari pergelangan tangan dan sebagian lagi mengatakan dipotong dari siku. Mu'tashim Abbasiah meminta Imam supaya menjelaskan pendapatnya. Setelah pemaksaan khalifah, Imam berkata, hanya jari-jari pencuri saja yang dipotong dan seluruh anggota tangan lainnya masih tetap utuh. Beliau menuturkan dalilnya dengan ayat,
﴾ وَ أَنَّ الْمَساجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً﴿
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah hanya milik Allah, maka janganlah kamu beribadah (menyembah) seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” (QS. Al-Jin: 18).

Mu'tashim sangat memuji jawaban Imam dan memerintahkan supaya memotong jari-jari sang pencuri.[28]

Menghadapi Sekte

Ahli Hadis Di masa Imam jawad as juga ada banyak sekte seperti pada masa-masa para imam lainnya, dan aktif dalam pelbagai ranah dan mereka berupaya untuk menyebarkan pemikiran dan ideology mereka ke dalam tubuh masyarakat dan menjauhkan Syiah dari ideologi aslinya. Di antara sekte ini adalah Ahli Hadis, yaitu mazhab mujassimah dan mengasumsikan Allah dengan benda (jism). Guna menjaga ideologi-ideologi otientik Syiah, Imam Jawad melarang kaum Syiah berkomunikasi dengan mereka dan berkata, orang-orang Syiah tidak boleh melakukan salat di belakang mereka dan memberikan zakat kepada mereka.[29]

Waqifiyyah Waqifiyyah termasuk sekte yang aktif pada masa Imam Jawad, mereka adalah kelompok yang berdiri dan berhenti dengan keimamahan Imam Musa bin Ja'far as dan tidak menerima keimamahan Imam Ridha as. Sewaktu Imam Jawad ditanya tentang salat di belakang sekte Waqifiyyah, beliau menjawab, laranglah orang-orang Syiah jangan sampai mereka melakukannya.[30]

Zaidiyah Zaidiyah adalah sekte lain yang ada pada era Imam, yang tersempal dari Syiah 12 Imam. Permusuhan Zaidiyah dengan Imamiah dan cercaan mereka terhadap para imam menyebabkan sikap keras Imam, khususnya Imam Jawad as terhadap mereka. Semisalnya Imam menyebut manifestasi ayat Wujuhun yaumaidzin khasyi'ah Amilahtun Nashibah adalah Zaidiah dan mensejajarkan mereka dengan kaum Nasibi.[31]

Komunikasi dengan Kaum Syiah

Imam Jawad melakukan komunikasi dengan para Syiahnya, dengan mengangkat para wakil di pelbagai kawasan dunia Islam. Di sini ada beberapa dalil kenapa beliau tidak berkomunikasi secara langsung dengan para Syiahnya dan malah menggunakan wakil, pertama adalah karena beliau berada di bawah pengawasan dan penjagaan penguasa, dan dalil yang lainnya adalah Imam hendak mempersiapkan ranah masalah kegaiban. Imam memiliki wakil atau para wakil secara terpisah di kawasan-kawasan Islam, seperti di Baghdad, Kufah, Ahwaz, Bashrah, Hamedan, Qom, Rey, Sistan dan Lashkar Gah.[32] Demikian pula, komunikasi Syiah dengan Imam juga melalui surat menyurat (lihatlah Tauqi'). Banyak sekali pengatahuan dan permasalahan-permasalahan yang tersimpan dari beliau, dalam sebuah surat-surat yang ditulis kepada para Syiahnya.[33] Orang-orang Syiah mengutarakan banyak pertanyaan-pertanyaannya seputar fikih dan Imam menjawabnya. Dalam banyak tempat, nama dan tanda-tanda orang yang menulis surat kepada Imam diketahui [34] dan dalam beberapa hal juga nama penulis surat tidaklah diketahui. [35] Dalam buku Mausu'ah al-Imam al-Jawad [36], selain ayah dan anak Imam, dikumpulkan nama dan tanda-tanda 63 orang yang mana Imam melakukan komuniasi surat menyurat kepada mereka, yang termasuk kumpulan referensi hadis dan rijal, namun sebagian dari surat-surat itu ditulis dalam menjawab sekelompok orang-orang Syiah.[37] Imam Jawad beberapa kali menulis surat kepada para perantaranya di pelbagai kota, seperti Hamedan dan Lashkar Gah serta sebagian orang-orang Syiah Iran juga mengunjungi Imam, dengan pergi ke Madinah, ini semua adalah pertemuan-pertemuan antara Imam dan para Syiahnya, selain pertemuan-pertemuan yang berlangsung pada hari-hari haji.[38]

Hadis-hadis Imam

Dengan memperhatikan bahwa Imam Jawad as syahid di usia 25 tahun dan dari satu sisi beliau berada di bawah pengawasan dan tekanan pihak penguasa, dengan demikian beliau tidak memilki banyak kesempatan untuk menjelaskan hukum dan ideologi-ideologi Syiah. Namun, dalam beberapa kesempatan singkat dan dalam kondisi yang diciptakan oleh pihak penguasa ini, beliau banyak upaya dalam mendidik para murid dan menjelaskan hadis-hadis dalam masalah-masalah fikih, tafsir, akidah, doa dan munajat. Adapun hal-hal yang telah sampai ke tangan kita sekarang ini, kurang lebih 250 hadis dalam pelbagai ranah Islam.[39]

Keutamaan dan Manaqib

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Tathayur al-Kutub • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Terijabahnya Doa Imam as

Daud bin Qasim mengatakan, suatu hari kami pergi ke kebun bersama Imam Jawad as. Aku berkata kepadanya, aku menjadi tebusanmu! Aku sangat gemar memakan tanah. Tolong doakan untukku! (supaya menjauhkan kebiasaan buruk ini). Imam tidak memberikan jawaban dan setelah beberapa hari, dengan tanpa pendahuluan beliau berkata: Wahai Abu Hasyim! Allah telah menjauhkanmu dari memakan tanah. Abu Hasyim berkata: Setelah itu tidak ada sesuatu yang lebih buruk dan lebih aku benci ketimbang tanah.[40]

Berbuahnya Pohon

Imam dalam perjalanan pulangnya dari Baghdad menuju Madinah, sekelompok masyarakat menemani Imam sampai ke luar kota untuk berpamitan, saat salat Maghrib mereka sampai ke sebuah tempat yang memilki masjid kuno, Imam pergi ke masjid tersebut guna menunaikan salat, di halaman masjid terdapat pohon bidara, yang mana sampai pada waktu itu belum pernah berbuah. Imam meminta air dan berwudhu di samping pohon tersebut dan melakukan salat berjamaah dan setelah salat, beliau melakukan sujud syukur. Setelah itu beliau berpamitan dengan masyarakat dan beliaupun pergi. Keesokan malamnya, pohon tersebut berbuah dan banyak memberikan buah, masyarakat sangat merasa takjub dengan masalah ini. Syaikh Mufid mengutip bahwa di tahun-tahun setelahnya Imam sendiri melihat pohon itu dan memakan buah pohon tersebut.[41]

Syahadah

Mu'tashim, khalifah Abbasiah mengundang Imam Jawad as dari Madinah menuju Baghdad. Imam masuk kota Baghdad pada hari 28 Muharram tahun 220 H/835 dan beliau meninggal pada bulan Dzul Qo'dah, tahun 220 di Baghdad.[42] Disebutkan dalam sebagian referensi bahwa hari dan tanggal syahadah beliau adalah 5 atau 6 Dzul Hijjah [43] dan dalam sebagian yang lain adalah akhir bulan Dzul Hijjah.[44] Terkait sebab kesyahidan beliau dikatakan, Qadhi Baghdad Ibnu Abi Duwad menggunjing di sisi Mu'tashin khalifah Abbasiah dan dalilnya adalah karena diterimanya pendapat Imam tentang dipotongnya tangan pencuri, yang mana hal ini membuat Ibn Abi Duwad dan sebagian besar para fakih dan para anggota istana menjadi malu. Setelah khalifah terpengaruh dengan ucapan qadhi ini, maka khalifah pun berniat membunuh Imam, sementara Imam tidak lebih hanya berumur 25 tahun. Mu'tashim merealisasikan niatnya lewat salah seorang petugas menterinya dan Imam pun syahid dengan racun.[45] Namun, sebagian orang meyakini bahwa beliau diracun oleh Ummul Fadhl, putri Ma'mun.[46] Syaikh Mufid (wafat 413 H) mengatakan, meskipun sebagian orang mengatakan bahwa Imam Jawad as meninggal dengan racun; namun masalah ini belum terbuktikan untukku, sehingga aku dapat memberikan kesaksiannya. Imam Mas'udi (wafat 346 H) mengatakan, Mu'tashim dan Ja'far bin Ma'mun (saudara Ummul Fadhl, istri Imam Jawad) senantiasa berfikir untuk membunuh Imam Jawad as. Dengan memperhatikan bahwa Imam Jawad tidak memiliki keturunan dari Ummul Fadhl, dan anaknya Ali dari istri lainnya, Ja'far pun memprovokasi saudarinya, Ummul Fadhl supaya meracunnya. Dengan cara inilah racun dituang ke dalam anggur dan Imam pun meminumnya. Selanjutnya, Mas'udi menulis bahwa Ummul Fadhl setelah itu menyesal dan menangis dan Imam pun melaknatnya dan laknat inipun terealisasi dan akhirnya Ummul Fadhl terkena penyakit parah.[47]

Para Sahabat

Mayoritas para sahabatnya, yang mana termasuk sahabat-sahabat ayah dan putranya (Imam Hadi) juga termasuk orang-orang yang memiliki karangan dalam ranah fikih dan teologi dan dianggap sebagai para tokoh yang berpengaruh dalam masyarakatnya. Para sahabat dan para perawi Imam Jawad kurang lebih berjumlah 120 orang, dimana mereka kurang lebih menukil 250 riwayat dari beliau. Riwayat-riwayat dalam pelbagai topik, fikih, tafsir dan akidah. Sedikitnya riwayat yang dinukilkan dari Imam karena beliau berada di bawah kendali dan minimnya umur beliau. Di antara para perawi dan sahabat populer beliau adalah Ali bin Mahziar, Ahmad bin Abu Nasr Bazanti, Zakaria bin Adam, Muhammad bin Ismail bin Bazi', Hasan bin Said Ahwazi dan Ahmad bin Muhammad Barqi. Para perawi dan sahabat Imam Jawad tidak hanya terbatas pada orang-orang Syiah saja, bahkan ada juga dari sekte-sekte lain, seperti Ahlusunnah.[48]

Mengenal Sebagian Para Sahabat

Abdul Adzim Hasani Abdul Adzim Hasani adalah salah satu sahabat Imam Jawad as yang telah menukil beberapa riwayat darinya. Abdul Adzim tinggal di Rey dan sangat aktif dalam menyebarkan hadis-hadis Ahlulbait, banyaknya Syiah di kawasan ini karena hasil dari upaya-upayanya. Disebutkan, sebab hijrahnya Abdul Adzim dari Madinah ke Rey akibat tekanan dan banyak himpitan dari pihak khalifah Abbasiah, yang mana banyak sekali Alawiyyun terpaksa meninggalkan rumah dan gubuk mereka dan setiap darinya pergi ke kota-kota lain. Abdul Adzim Hasani pergi ke kota Rey dan meninggal di situ dan pusaranya sekarang ini juga sangat terkenal dan populer serta banyak sekali dari masyarakat yang menziarahi pusaranya, bahkan ada juga dari kalangan Ahlusunnah.[49]

Ibrahim bin Hasyim Qummi Ibrahim bin Hasyim termasuk salah seorang sahabat Imam Jawad as, dimana para ulama rijal menyebutnya dengan Jalil al-Qadr (kedudukan yang agung), tsiqoh (dipercaya) dan termasuk pemuka hadis. Ibrahim berasal dari Kufah yang berhijrah ke Qom dan dia melakukan penyebaran hadis dan riwayat-riwayat di kota ini. Buku Nawadir dan keputusan-keputusan Imam Ali termasuk dari karya-karyanya. Dia termasuk salah seorang murid dari Yunus bin Abdul Rahman (sahabat Imam Ridha as). Dia banyak menukil riwayat dari Imam Jawad as dalam pelbagai bab, seperti manaqib, dilalah, sahabat dan zakat. [50]

Ucapan Para Pemuka Ahlusunnah tentang Beliau

Pembicaraan dan dialog ilmiah Imam Jawad pada masa pemerintahan Makmun dan Mu'tashim yang menyelesaikan problem dan masalah-masalah ilmiah dan fikih menyebabkan kekaguman dan pujian para cendekiawan dan para peneliti Islam, baik itu dari kalangan Syiah maupun Ahlusunnah, sampai-sampai banyak sekali dari mereka yang menganggap kepribadian ilmiah Imam adalah hal yang istimewa dan mereka menyanjungnya, dimana akan kami isyaratkan beberapa hal disini: Sibth Ibn Jauzi mengatakan, "Dia dalam ilmu, takwa, zuhud dan kedermawanan berdasarkan metode ayahnya."[51] Ibn Hajar Haitsami menulis, "Makmun memilih dia sebagai menantunya karena meskipun umurnya masih belia, namun dari sisi keilmuan, pengetahuan dan santun memiliki prioroitas di atas semua para ilmuan."[52] Fattal Nisyaburi menjelaskan bahwa, Makmun sangat tertarik denganya (Imam Jawad), karena meskipun dia masih belia namun dia sering melihat bahwa dari sisi keilmuan, hikmah, adab dan kesempurnaan akal, dia berada pada tingkatan tinggi yang mana tidak ada seorangpun dari para pemuka ilmiah pada waktu itu yang sampai pada landasan tersebut.[53] Jahid Utsman Mu'tazili, dimana termasuk tokoh penentang keluarga Ali bin Abi Thalib as menuturkan Imam Jawad termasuk dalam bilangan kesepuluh orang dari Talibani (keluarga Abu Thalib), dimana tentang mereka dikatakan sebagai berikut, setiap dari mereka adalah alim, zahid, rajin beribadah, pemberani, dermawan, suci dan tersucikan.[54]

Tawassul kepada Imam Jawad as

Sebagian orang-orang Syiah dengan memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan sebagian para ulama Syiah hendaknya bertawassul kepada Imam Jawad as guna meminta kelapangan rezeki dan kelapangan dalam urusan materi dan dalam maaslah ini mereka menyebutnya dengan Bab al-Hawaij (pintu hajat). Contoh dari pesan ini adalah penukilan Majlisi Tsani (kedua) dari Abul Wafa Syirazi, yang mengklaim bahwa dalam mimpinya Rasulullah saw menganjurkannya supaya bertawassul kepada Imam Jawad dalam urusan materi.[55]

Telaah lebih lanjut

  • Musnad Imam Jawad as, dikumpulkan dan disusun oleh Azizullah al-'Atharidi, al-Mu'tamar al-Alami lil Imam al-Ridha as, Qom, Amir, 1420 Q.
  • Zendegi Syiasi Imam Jawad as, Ja'far Murtadha Amili, al-Markas al-Islami lil Dirasat.
  • Pisywayane Hidayat, Guruhe Muallifan, Intisyarat Majma' Jahani Ahlulbait.
Didahului oleh:
Imam Ridha as
Imam ke-9 Syiah Imamiyah
203 H-220 H
Diteruskan oleh:
Imam Ali al-Hadi as

Catatan Kaki

  1. Kulaini, Ushul Kafi, jld. 1, hlm. 315 dan 492; Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 50, hlm. 1.
  2. Kulaini, Ushul Kafi, jild. 1, hlm. 315 dan 492; Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 50, hlm. 1.
  3. Ibn Syahr Asyub, Manaqib Ali bin Abi Thalib, jld. 4, hlm. 379; Majlisi, Bihar al-Anwar, jild. 50, hlm. 12-13.
  4. hlm. 804-805/ Fadhl bin Hasan Thabarsi, 1417, hlm. 128.
  5. Semisalnya, rujuklah Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, hlm. 99/ Dalāil al-Imāmah, hlm. 383.
  6. Ibn Syahr Asyub, Manāqib Ali bin Abi Thalib, jld. 4, hlm. 379; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 50, hlm. 12-13.
  7. Thabari menganggap pernikahan ini pada tahun 202 H. Thabari, jild. 7, hlm. 149.
  8. Ibn Syahr Asyub, jld. 4, hlm. 380.
  9. Qummi, Muntahal Amāl, jld. 2, hlm. 235.
  10. Ibn Fandaq, Tārikh baihaq, hlm. 46.
  11. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 10, tahkik, Ali Syirazi, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H/ 1988 M, hlm. 295.
  12. Ringkasan dialog ini ada dalam pembahasan berikutnya.
  13. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 284.
  14. Ibn Syahr Asyub, Manāqib Ali bin Abi Thalib, jld. 4, hlm. 380.
  15. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 265.
  16. Ibid., hlm. 266.
  17. Syaikh Shaduq, 'Uyun Akhbār al-Ridhā, jild. 2, hlm. 586.
  18. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 50, hlm. 20, 23 dan 35.
  19. Q.S. Maryam: 12.
  20. Kulaini, Ushul al-Kāfi, jild. 1, hlm. 382.
  21. Ibn Syahr Asyub, Manaqib Ali bin Abi Thalib, jld. 1, hlm. 382.
  22. Naubakhti, Hasan bin Musa, hlm. 88.
  23. Thabari, Dalāil al-Imāmah, hlm. 204-306; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 50, hlm. 98-100.
  24. Ibn Syahr Asyub, Manaqib Ali bin Abi Thalib, jild. 4, hlm. 380.
  25. Thabarsi, al-Ihtijaj, hlm. 443 dan 444; Al-Mas'udi, Itsbat al-Washiyyah lil Imam Ali bin Abi Thalib as, hlm. 189-191.
  26. Thabarsi, Al-Ihtijaj, jild. 2, hlm. 478.
  27. Ibid.,
  28. Ayasyi, Kitab al-Tafsir, jild. 1, hlm. 319 dan 320; Majlisi, Bihar al-Anwar, jild. 50, hlm. 5 dan 6.
  29. Syaikh Shaduq, Al-Tauhid, hlm. 101.
  30. Syaikh Thusi, Man La Yahdhur al-Faqih, jild. 1, hlm. 379 dinukil dari Hayate Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, hlm. 490.
  31. Ibid., Ikhtiyar Ma'rifah al-Rijal, hlm. 229.
  32. Jasim, Husein, Tarikh Siyasi Ghaibat Imame Dawozdahum, hlm. 79.
  33. Rujuklah, Ja'fariyan, hlm. 489.
  34. Semisalnya, rujuklah Kulaini, jild. 3, hlm. 399, jild. 4, hlm. 275, 534, jild. 5, hlm. 347; Kasysyi, hlm. 610-611.
  35. Mausu'ah al-Imam al-Jawad, jild. 2, hlm. 515-521.
  36. Jild. 2, hlm. 416-508.
  37. Semisalnya, rujuklah Kulaini, jild. 3, hlm. 331, 398, jild. 5, hlm. 394, jild. 7, hlm. 163; Kasysyi, hlm. 606, 611.
  38. Ja'fariyan, Rasul, Hayate Fikri wa Siyasi Imamane Syiah, hlm. 492 dan 493.
  39. 'Atharidi, hlm. 249.
  40. Syaikh Mufid, Al-Irsyad, jild. 2, hlm. 586.
  41. Ibn Syahr Asyub, Manaqib Ali bin Abi Thalib, jild. 4, hlm. 390; Syaikh Mufir, Al-Irsyad, jild. 2, hlm. 278; Fattal Nisyaburi, hlm. 241 dan 242.
  42. Mufid, Al-Irsyad, Qom, Said bin Jabir, 1428 H, hlm. 481.
  43. Ibn Abi al-Tsalj, hlm. 13.
  44. Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, hlm. 99/ Fadhl bin Hasan Thabarsi, 1417, jild. 2, hlm. 106.
  45. Ayasyi, jild. 1, hlm. 320.
  46. Amili, hlm. 153.
  47. Al-Mas'udi, Itsbat al-Washiyyah lil Imam Ali bin Abi Thalib as, hlm. 192.
  48. Ibid., hlm. 314, 315, 262, 283, 319 dan 271.
  49. 'Atharidi, Musnad al-Imām al-Jawad, hlm. 298-308.
  50. Ibid., hlm. 252 dan 253.
  51. Sibth ibn Jauzi, Tazkira al-Khawash, hlm. 359.
  52. Haitsami, Ibn Hajar, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 206.
  53. Fattal Nisyaburi, Raudhah al-Wā'idzin, hlm. 237.
  54. Amili, Murtadha, Zendegāni Siyāsi Imām Jawad, hlm. 106.
  55. Ucapan Abu Lufa yang dinukil oleh Allamah Majlisi adalah sebagai berikut: saat (putra Ilyas) penguasa kawasan Kirman tertawan, tidak lama kemudian, dibawa dengan tali dan rantai di penjara. Dengan berlalunya masa aku memahami bahwa mereka telah melakukan rencana konspirasi pembunuhanku, aku sangat gelisah, apa yang harus aku perbuat supaya dapat selamat dan lolos dari konspirasi ini? Suatu malam aku menangis di keharibaan Allah, aku bertawassul kepada Imam Ali Zainal Abidin dan aku meminta keselamatanku, pada saat itu juga mataku terpejam dan aku melihat Rasulullah saw di alam mimpi, dimana beliau bersabda, janganlah bertawassul kepadaku dan putriku Fatimah serta Hasan dan Husein as, namun bertawassullah kepada Imam Jawad, putraku untuk meminta rezeki dan penghasilan serta penyelesaian muskilah, dimana Allah karenanya akan mengijabahkan hajat-hajatmu. Da'wat Rawandi, 191, hadis, 530; Bihar al-Anwar, jild. 91, hlm. 35 dan jild. 99, hlm. 249.

Daftar Pustaka

  • Ibn Abi al-Tsalj, Tarikh al-Aimmah, Dar Majmu'ah Nafisah fi Tarikh al-Aimmah, cet Mahmud Mar'asyi, Qom, perpustakaan Ayatullah Mar'asyi, 1406 Q.
  • Al-Mas'udi, Abul Hasan Ali bin al-Husein bin Ali, Itsbat al-Washiyyah lil Imam Ali bin Abi Thalib Alaihi as-Salam, Qom, Mansyurat al-Radhi, 1404 Q.
  • Baihaqi, Abul Hasan Ali bin Zaid, Tarikh Baihaqi, Tehran, Kitabfurusyi Furughi, hasyiyah Ahmad Bahmaniar, dengan pendahuluan Muhammad bin Abdul Wahhab Qazwini.
  • Jasim, Husein, Tarikh Siyasi Ghaibat Imame Dawozdahum, terj. Muhamamd Taqi Ayatullahi, Tehran, Muasasah Intisyarat Amir Kabir, 1386 S.
  • Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdad, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
  • Dimasyqi, Ismail bin Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, 1413/1993.
  • Sibth bin Jauzi, Tadzkirah al-Khawash, Tehran, Nashir Khusru Marwi, Maktabah Nainawa al-Haditsah.
  • Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, Al-Maqalat wa al-Firaq, cet. Muhammad Jawad Masykur, Tehran, 1341 S.
  • Ibn Syahr Asyub, Abi ja'far Muhammad bin Ali, Manaqib Ali bin Abi Thalib, Beirut, Dar al-Adhwa'.
  • Syaikh Thusi, Abi Ja'far Muhammad bin al-Hasan, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal, editor dan hasyiyah Hasan Mustafawi, Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 S.
  • Ibid., Tahdzib al-Kalam, analisis Sayid Hasan al-Harsan, Beirut, Dar al-Adhwa', cet. 3, 1406 H/ 1985 M.
  • Syaikh Shaduq, Ibn Babawaih, Al-Tauhid, editor Hasyim al-Tehrani, Qom, Intisyarat al-Nasyr al-Islami.
  • Ibid., 'Uyun Akhbar al-Ridha, pen. Ali Akbar Ghaffari, Nasyre Shaduq, Tehran, 1, 1373 S.
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man, Al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah ala al'Ibad, ter. Hashim Rasuli Mahallati, Intisyarat Ilmiah Islamiyyah, 2.
  • Dalail al-Imamah, yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Jarir Thabari Amuli, Qom, Muassasah al-Bi'tsah, 1413 Q.
  • Thabarsi, al-Ihtijaj, editor Ibrahim al-Baharudi dan Muhammad Hadi Bih, Qom, Intisyarat Uswah, cet. 1, 1413 Q.
  • Amili, Ja'far Murtadha, Zendegani Siyasi Imam Jawad.
  • 'Atharidi, Azizullah, Musnad al-Imam al-Jawad, Qom, al-Mu'tamar lil Imam al-Ridha, 1410 Q.
  • 'Ayashi, Abi Nasr Muhammad bin Mas'ud, al-Tafsir al-'Ayasyi, Tehran, Al-Maktabah al-Ilmiyyah al-Islamiyyah, editor Hasyim Rasuli Mahallati.
  • Thabarsi, Abi Mansur Ahmad bin Ali bin Abi Thalib, Ihtijaj, Masyhad, Universitas Masyhad, 1348 S.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Thabari, Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbuat.
  • Thabarsi, Fadh bin Hasan, I'lam al-Wara fi A'lam al-Huda, Qom, 1417 Q.
  • Muhammad bin Hasan Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, 1411/1991.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Dar Ihya al-Turats, Al-Arabi, Beriut, 3, 1403 Q/ 1983.
  • Mausuah al-Imam al-Jawad as, Qom, Muassasah Wali al-'Ashr As Lid Dirasat al-Islamiyyah, 1419 Q.
  • Naubakhti, Hasan bin Musa, Firaq al-Syiah, Beirut.