Masjid Agung Kufah

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Masjid Kufah)
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c tanpa link tanpa foto tanpa Kategori tanpa infobox tanpa navbox tanpa alih tanpa referensi

Masjid Kufah (Bahasa Arab:مسجد الكوفة) biasa juga disebut dengan Masjid Jami' Kufah adalah salah satu masjid besar di dunia. Masjid Kufah oleh umat Islam Syiah diyakini sebagai masjid keramat keempat setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Masjid Kufah termasuk situs terpenting dan terkuno di Kota Kufah yang banyak dikunjungi para peziarah. Sebagian riwayat menyebutkan, yang pertama kali merancang dan membangun Masjid Kufah adalah Nabi Adam As, dan setelah terjadi banjir bandang, Nabi Nuh As merenovasinya. Pada tahun 18 H pada zaman Sa'ad bin Abi Waqash, atas saran Salman al-Farisi, Masjid Kufah mengalami pemugaran disertai dengan pendirian Darul Imarah.

Dalam sepanjang sejarah Masjid Kufah telah didatangi para nabi dan imam maksum, di antaranya Imam Ali As, Imam Hasan As, Imam Husain As dan sebagian imam lainnya.

Pada tahun 36 H Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As datang ke Masjid Kufah, tentunya hal itu memberikan nilai lebih bagi masjid tersebut. Berkali-kali Imam Ali As salat dan menyampaikan ceramah di Masjid Kufah. Ia juga menggunakannya sebagai pengadilan dan urusan kenegaraan. Dan pada akhirnya Imam Ali As menjemput kesyahidannya di mihrab masjid ini.

Selain Darul Imarah Kufah, di samping Masjid Kufah terdapat kuburan para pembesar Islam, di antaranya: Maitsam al-Tammar, Muslim bin Aqil, Hani bin Urwah, Mukhtar al-Tsaqafi. Di dekat sana juga ada rumah Imam Ali As. Masjid Kufah memiliki banyak Maqam. Di sana sangat dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan tertentu yang khusus menyangkut masjid ini.

Keistimewaan lain dari Masjid Kufah adalah, saat di dalamnya musafir bisa memilih mengerjakan salat dengan cara sempurna (tamam) atau disingkat (qashar), sebagaimana halnya ketika berada di dalam Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Haram Imam Husain As. Banyak riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan Masjid Kufah, di antaranya: Masjid Kufah adalah salah satu taman surga di bumi, barang siapa memasukinya maka dosanya akan terampuni, kelak Kota Kufah akan menjadi pusat pemerintahan Imam Mahdi Afs dan Masjid Kufah adalah kantor pusatnya.

Kota Kufah

Kufah adalah sebuah kota di Irak. Kota ini berada di kawasan selatan Irak. Tepatnya di 10 Km sebelah utara Kota Najaf. Kota Kufah dibangun di dekat sungai Eufrat. Air dan udara di Kufah relatif baik. Sejak dulu daerah ini cukup subur dan makmur.

Dulunya Kufah bernama Suristan. Pada tahun 17 H, beberapa bulan sebelum dibangunnya Kota Bashrah, atas perintah Khalifah Umar, Sa'ad bin Abi Waqash membangun kota ini sebagai pangkalan militer yang ditinggali para tentara bersama keluarganya. Dalam waktu singkat Kufah berubah menjadi salah satu kota penting bagi Islam. Banyak peristiwa penting terjadi di sana. Masjid Kufah, tempat dipukulnya Imam Ali As hingga syahid, dibangun pada periode ini.

Keterangan Masjid Kufah

Masjid Kufah memiliki panjang 110 m dan luas 101 m. Secara keseluruhan, luasnya mencapai 11162 m2. Di sekililingnya berdiri tembok setinggi 10 m. Di sana terdapat ruang terbuka seluas 5662 m2. Luas tempat peribadatannya 5520 m2. Masjid ini memiliki 187 buah tiang, 4 menara setinggi 30 m, dan 5 gerbang. Nama-nama gerbang tersebut adalah: Babul Hujjah (gerbang utama), Babu al-Tsu'ban, Babu al-Rahmah, Babu Muslim bin Aqil, dan Babu Hani bin Urwah. [1]

Sejarah

Menurut sebagian riwayat, pendiri pertama kali Masjid Kufah adalah Nabi Adam As. [2] Setelah terjadi banjir bandang, masjid ini direnovasi oleh Nabi Nuh As.[3]

Pada tahun 17 H pasukan Islam menduduki Madain. Saat itu kondisi air dan udara di sana sangat buruk hingga membuat tidak nyaman para tentara. Akibatnya sebagian mereka banyak yang menjadi kurus dan lemah. Melihat kondisi demikian, Hudzaifah melaporkannya kepada Khalifah Umar melalui surat yang dia kirim. Setelah menerima surat tersebut Umar memerintahkan Sa'ad bin Abi Waqash supaya mengutus Salman dan Hudzaifah untuk mencari wilayah baru yang lebih layak. Keduanya menyanggupinya. Salman menelusuri daerah sebelah barat Sungai Furat sedangkan Hudzaifah sebelah timurnya. Setelah lama tidak menemukan daerah yang bagus, akhirnya mereka sampai di Kufah. Mereka sepakat bahwa Kufah adalah daerah yang tepat untuk dijadikan pangkalan militer. Mereka lalu salat dua rakaat dan berdoa pada Allah Swt supaya menjadikan daerah tersebut sebagai tempat yang tenang dan kokoh. [4] Ketika Sa'ad bin Abi Waqash beserta pasukannya sampai di Kufah, dia memerintahkan orang-orangnya supaya lebih dulu membangun masjid baru kemudian bangunan lain. Untuk menentukan batasan masjid yang baru, Abu al-Haija al-Asadi [5] berdiri di suatu tempat lalu membidikkan anak panah ke berbagai arah. Berdasarkan itu, ditetapkanlah batasan Masjid Kufah yang baru. [6]

Pendidikan dan Pengajaran di Masjid Kufah

Sejak awal berdiri, Masjid Kufah merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan kota. Ketika Imam Ali As datang ke Kufah pada tahun 36 H, pertama kali yang dikunjunginya adalah Masjid Kufah. Di sana beliau menyampaikan ceramah kepada masyarakat. Begitu menetap di Kufah, Imam Ali As mengajarkan tafsir al-Qur'an dan ilmu-ilmu lainnya. Di sana beliau memiliki banyak murid, di antaranya adalah Kumail bin Ziyad dan Ibnu Abbas. [7]

Keutamaan Masjid Kufah

  • Menurut Pandangan Imam Ali As

Ashbagh bin Nubatah berkata, “Amirul Mukminin As berkata kepada masyarakat Kufah, ‘Allah menganugerahi kalian sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Dia menjadikan masjid kalian ini sebagai tempat istimewa. (Masjid Kufah) ini adalah rumah Adam As, Maqam Nuh As, Maqam Idris As, tempat salat Khalilullah Ibrahim dan saudaraku Khidir As, dan juga tempat salatku. Masjid kalian ini adalah satu dari empat masjid pilihan Allah Swt bagi hambanya. Di hari kiamat nanti masjid ini akan hadir di Padang Mahsyar dan menyeru orang-orang yang pernah salat di dalamnya. Dia akan memberikan syafaat kepada mereka, dan syafaat dari Allah Swt tidak akan tertolak. Kelak, Hajar Aswad akan dipasang di dalam masjid ini. Dan suatu hari nanti masjid ini akan menjadi tempat salat al-Mahdi, putraku, dan orang-orang yang beriman. Nanti seluruh mukmin di dunia pasti pernah masuk ke sini, mereka akan merasa senang di sini. Jangan sekali-kali meninggalkannya. Salatlah di dalamnya, dekatkan diri kalian kepada Allah Swt dengan melakukan salat. Haraplah hajat kalian dari-Nya. Seandainya semua orang mengetahui keutamaan masjid ini, pasti orang-orang dari seluruh penjuru dunia akan segara datang ke sini meski jika harus dengan merangkak di atas salju.'” [8]

  • Istana Surga

Sebagian riwayat menyebut Masjid Kufah sebagai “Istana dari Surga”. Imam Ali berkata, “Di dunia ini ada empat istana surga: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid al-Aqsha dan Masjid Kufah.”[9]

  • Tempat Sujud Para Malaikat

Di sebutkan dalam riwayat, sebelum Nabi Adam As, para malaikat telah lebih dulu beribadah di tempat suci ini. Imam Ali As berkata, “Tempat pertama kali yang digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt adalah Kufah. Saat Allah Swt memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam As, mereka melakukannya di Kufah. Tiap malam para malaikat turun ke Masjid Kufah.” [10] Masjid Kufah memiliki nilai istimewa di sisi Allah Swt. Barang siapa yang masuk ke dalamnya maka dosanya akan diampuni. Imam Ali Ridha As pernah bertanya kepada seseorang di mana tempat tinggalnya. Orang tersebut menjawab, dia tinggal di Kufah. Kemudian Imam Ridha As menyampaikan tentang keutamaan Masjid Kufah padanya, “Sesunggunya Masjid Kufah adalah rumah Nuh As. Jika seseorang memasukinya sebanyak 100 kali maka Allah Swt akan mengampuninya 100 kali. Sesungguhnya doa yang dipanjatkan Nuh As ketika di Masjid Kufah adalah: رَبِّ اغْفِرْ لِی وَ لِوَالِدَی وَ لِمَنْ دَخَلَ بَیتِی مُؤْمِناً “Ya Tuhanku, ampunilah diriku, kedua orangtuaku, dan orang yang masuk rumahku dalam keadaan beriman.” [11]

  • Tempat Salat Para Nabi

Abu Bashir meriwayatkat hadis dari Imam Ja'far Shadiq As, berkenaan dengan Masjid Kufah beliau berkata, “Masjid yang paling utama adalah Masjid Kufah, seribu nabi dan seribu washi telah salat di sana…” [12]

  • Salat di Masjid Kufah Dilakukan dengan Cara Tamam

Ketika seseorang bepergian ke suatu tempat dengan niat tidak lebih dari 10 hari, maka salatnya harus dilakukan dengan cara qashar, kecuali pada 4 tempat. Imam Shadiq As berkata, “Salat yang dikerjakan di tempat berikut ini (hendaknya) dilakukan dengan cara tamam: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Kufah dan Haram Imam Husain As.” [13]

  • Salat di Masjid Kufah Sebanding dengan Haji

Imam Muhammad Baqir As menyebutkan keutamaan salat di Masjid Kufah, “Jika orang mengetahui keutamaan yang dimiliki Masjid Kufah, meski di tempat jauh, mereka pasti akan datang ke sana. Sesungguhnya (pahala) melakukan salat wajib di Masjid Kufah itu sebanding dengan (pahala) ibadah haji, dan (pahala) melakukan salat sunnah di sana sebanding dengan (pahala) ibadah umrah.” [14]

  • Lebih Baik dari Semua Masjid Lain

Menurut Imam Ja'far Shadiq As, salat di Masjid Kufah itu sebanding dengan 1000 salat yang dilakukan di masjid lain. Imam Ali Ridha As juga menyatakan, “Salat sendirian di Masjid Kufah lebih baik dibanding 70 salat berjamaah yang dilakukan di masjid lain.” [15]

  • Haram Imam Ali As

Dalam kitab Biharul Anwar terdapat riwayat dari Imam Ja'far Shadiq As yang menyebutkan bahwa, Mekkah adalah Haram Allah Swt, Madinah adalah Haram Nabi Muhammad Saw, dan Kufah adalah Haram Imam Ali As. Kufah sebagai Haram Imam Ali As itu sebagaimana Mekkah bagi Nabi Ibrahim As dan Madinah bagi Nabi Muhammad Saw. [16]

  • Makam Para Nabi dan Washinya

Para nabi sudah banyak yang pernah salat di Kufah dan Masjid Kufah. Sebanyak 370 nabi dan 600 washi nabi juga dikuburkan di sana.

  • Pusat Pemerintahan Imam Mahdi As

Diriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir As, beliau berkata, “Ketika nanti al-Qaim (Imam Mahdi As) bangkit berjuang dan menuju Kufah, seluruh mukminin akan menyusulnya dan tinggal di sana”. [17] Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As juga berkata, “Suatu saat nanti (Masjid Kufah) ini akan menjadi tempat salatnya al-Mahdi Af.” [18]

  • Kediaman Nabi Khidir As.
  • Rumah dan Tempat Ibadah Nabi Nuh As.
  • Dari tempat ini kelak akan dibangkitkan 70.000 orang tanpa proses perhitungan amal. [19]
  • Duduk di dalam Masjid Kufah adalah ibadah meski tidak membaca al-Qur'an. [20]

Maqam di Masjid Kufah

Masjid Kufah memiliki banyak Maqam (kedudukan/tempat yang digunakan untuk beribadah) dan tempat penting yang banyak dikenal masyarakat, di antaranya:

  • Rahbah Amirul Mukminin: Ini adalah tempat yang dulu digunakan Imam Ali As untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umat tiap sebelum salat atau pada kesempatan lain. Letaknya berada di depan Masjid Kufah. Sebagian riwayat menyebutkan tentang hal ini. [21]
  • Dakkatul Qadza: Tempat yang digunakan Imam Ali As untuk menghakimi masalah-masalah umat. Di tempat ini terdapat tiang bertuliskan ayat:

إِنَّ اللهَ یأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ اْلإِحْسانِ... “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,” [22] (Qs. Al-Anfal: 90).

  • Bait al-Thasyti : Tempat terjadinya salah satu karomah Imam Ali As. [23]
  • Maqam Nabi Adam As: Tiang ketujuh Masjid Kufah dikenal dengan Maqam Nabi Adam As. Di sana dulu Nabi Adam As bertaubat dan Allah Swt menerimanya. [24]Itu merupakan tempat salat Imam Ali As sehingga juga dikenal dengan Maqam Amiril Mukmin.
  • Maqam Nabi Ibrahim As: Berada pada tiang keempat Masjid Kufah. Ini adalah tempat yang digunakan Nabi Ibrahim As untuk salat. [25]
  • Maqam Malaikat Jibril As: Tiang kelima Masjid Kufah ditetapkan sebagai Maqam Jibril. Pada Malam Mi'raj, saat Nabi Muhammad Saw diangkat Allah Swt dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsha, ketika melewati Kufah Malaikat Jibril As berkata kepada Nabi Saw, “Ya Rasulallah, saat ini engkau ada di depan Masjid Kufah,” atas ijin Allah Swt di sana Nabi Saw melakukan dua rakaat salat. [26] Imam Hasan As juga melakukan salat di dekat tiang tersebut, sehingga tempat itu juga dikenal dengan Maqam Imam Hasan As. [27]
  • Maqam Imam Ali Zainal Abidin As: Tiang ketiga Masjid Kufah adalah tempat salat Imam Ali Zainal Abidin As. Abu Hamzah al-Tsumali berkata, “Aku melihat Ali bin al-Husain As memasuki Masjid Kufah dan melakukan salat dua rakaat lalu berdoa. Saat akan kembali ke Madinah beliau ditanya seseorang, ‘Untuk apa engkau kemari? Ini adalah tempat dibunuhnya ayah dan kakekmu.' Imam Zainal Abidin As menjawab, ‘Aku meziarahi ayahku dan salat di masjid ini'.” [28]
  • Mihrab Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As: Di sini Abdurrahman bin Muljam menghujam kepala Imam Ali As dengan pedang sehingga beliau syahid beberapa hari kemudian.
  • Maqam Imam Ja'far Shadiq As: Periwayat berkata, “Suatu hari di masa Bani Abbasiah, aku melihat Imam Shadiq As masuk masjid dari Babul Fil lalu melakukan salat di dekat tiang keempat.” [29]
  • Maqam Nabi Khidir As.
  • Tempat terdamparnya kapal Nabi Nuh As.

Amalan-amalan di Masjid Kufah

Masjid Kufah memiliki amalan-amalan atau ritual khusus, di antaranya salat, munajad dan doa ziarah. Tata caranya termaktub dalam panduan amalan Masjid Kufah.

Kuburan Yang Ada di Samping Masjid Kufah

  • Kuburan Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah

Setelah kesyahidan Muslim dan Hani, dengan persetujuan Ubaidillah, Kabilah Bani Mudhij mengubur jasad keduanya di samping Darul Imarah. Kemungkinan tempat itu dipilih supaya lebih mudah dipantau oleh penguasa sehingga akan ketahuan siapa saja yang sering datang ke sana. Hingga tahun 65 H kuburan tersebut dalam kondisi tanpa atap. Di tahun itu kuburan tersebut dibangun oleh Mukhtar al-Tsaqafi lengkap dengan kubah di atasnya. Nama Muslim dan Hani dipahat di atas batu marmer kemudian diletakkan di atas kuburan mereka. Pada tahun 368 H Adhuddin al-Daulah merenovasi makam Muslim bin Aqil. Dia juga membangun pemukiman di sekitar makam Muslim. Tiap bulannya dia memberikan dana bagi mereka yang tinggal di sana. Pada tahun 656 H Muhammad bin Mahmud Razi kembali merenovasi kompleks makam tersebut. Pada tahun 1263 H Ayatullah Shahib Jawahir juga merenovasinya. Hal serupa juga dilakukan Ayatullah Sayid Muhsin Hakim. Dengan sokongan Haji Muhammad Rusyad, kubah kuburan tersebut dilapisi emas. Pembangunan itu mengahbiskan dana sebesar 180 ribu Dinar Irak.[30]

  • Kuburan Mukhtar al-Tsaqafi

Kuburan Mukhtar al-Tsaqafi juga terletak di samping Masjid Kufah, dekat kuburan Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah.

  • Masjid Kufah di Masa Imam Mahdi Af

Menurut banyak riwayat, kelak pusat pemerintahan Imam Mahdi Af adalah Kota Kufah. Mufaddhal bin Umar bertanya kepada Imam Ja'far Shadiq As tentang tempat pemerintahan Imam Mahdi Af kelak. Imam Sadiq As menajwab, “Pusat pemerintahannya adalah Kota Kufah, kantor pemerintahannya adalah Masjid Kufah, dan lembaga baitul mal serta tempat pembagian ghanimah adalah Masjid Sahlah.” [31]

Langkah Yang Diambil Imam Mahdi di Kota Kufah

  • Memperluas masjid terkhusus Masjid Kufah

Di masa pemerintahan Imam Mahdi Af nanti masyarakat dan para pengikutnya akan banyak sekali yang datang ke Kufah untuk menemui beliau. Supaya mereka dapat melakukan salat jamaah dengan Imam dengan nyaman maka Masjid Kufah akan diperluas. Di masjid itu akan ada 1000 pintu masuk. Imam Ja'far Shadiq As berkata: “Ketika al-Qaim berkuasa nanti di Kufah akan dibangun masjid yang memiliki seribu pintu. Rumah-rumah di Kufah akan sangat ramai hingga menyambung ke sungai Furat yang ada di Karbala.” Imam Ali As juga berkata: “Suatu saat nanti Kota Kufah akan menyambung dengan Kota Al-Hirah. Tanah di sana akan sangat bernilai. Harga per-jengkalnya akan sangat mahal. Di Al-Hirah akan dibangun sebuah masjid yang memiliki 500 buah pintu. Al-Qaim akan salat di sana karena Masjid Kufah tidak muat lagi.” [32]

  • Perobohan Masjid-masjid Tidak Berkah

Kelak Imam Mahdi Af akan mengadakan perombakan di Kufah. Jalan-jalan dan masjid-masjid akan diperluas. Saking banyaknya, rumah-rumah di Kufah akan menyambung ke sungai Furat. Masjid-masjid yang dibangun Bani Umayyah akan dirobohkan. [33]

  • Masjid Kufah Sebagai Pengadilan

Imam Ja'far Shadiq As berkata: “Pusat pemerintahan Imam Mahdi Af nanti ada di Kufah, dan Masjid Kufah akan digunakan sebagai pengadilan olehnya.”[34]

Catatan Kaki

  1. Website Masjid Jami' Kufah.
  2. Man La Yahdhuruh al-Faqih, jld. 1, hlm. 320.
  3. Tafsir ‘Ayyasyi, jld. 2, hlm. 144.
  4. Tarikh Ibnu Atsir, terjemah DR. Muhammad Hasan Ruhani, jld. 4, hlm. 1448.
  5. Kamil Salman al-Juburi, Tarikh al-Kufah, jld. 1, hlm. 64.
  6. Goli Zawareh, Sima-I Kufah, hlm. 198.
  7. Dairah al-Ma'arif al-Islamiah, jld. 10, hlm. 359.
  8. Ma'arif wa Ma'arif, jld. 8, hlm. 610. Biharul Anwar, jld. 100, hlm.389.
  9. Wasail al-Syiah, jld. 5, hlm. 282. Tarikh al-Kufah, Baraqi, hlm. 58.
  10. Ibid, hlm. 57.
  11. Wasail al-Syiah, jld. 5, hlm. 282.
  12. Al-Kafi, jld. 3, hlm. 492. Man La Yahdhuruh al-Faqih, jld. 1, hlm. 231.
  13. Al-Kafi, jld. 4, hlm. 586. Muhammad bin Ja'far al-Masyhadi al-Hairi, Fadhl al-al-Masjid al-Kufah wa Masjid-ha, hlm 37.
  14. Al-Kafi, jld. 4, hlm. 28.
  15. Biharul Anwar, jld. 100, hlm. 397. Wasail al-Syiah, jld. 5, hlm. 239.
  16. Tarikh al-Kufah, Sayid Husain al-Baraqi al-Najafi, hlm. 39.
  17. Biharul Anwar, jld. 52, hlm. 385. Thusi, Ghibah, hlm. 275.
  18. Raudhah al-Wa'idhin, jld. 2, hlm. 337. Itsbat al-Hudat, jld. 3, hlm, 452.
  19. Biharul Anwar, jld. 100, hlm. 395.
  20. Ibid, jld. 100, hlm. 405.
  21. Danesy Nameh-e Imam Ali As, jld. 9, hlm. 378.
  22. Mafatih al-Jinan, hlm. 387.
  23. Ibid, hlm. 388.
  24. Ibid, hlm. 390.
  25. Ibid, hlm. 391.
  26. Fadhl al-Masjid al-Kufah wa Masjid-ha, hlm. 28. Biharul Anwar, jld. 100, hlm. 397.
  27. Mafatih al-Jinan, hlm. 393. Biharul Anwar, jld. 100, hlm. 398.
  28. Baraqi, Tarikh al-Kufah, hlm. 47.
  29. Biharul Anwar, 100, hlm. 402.
  30. Dairah al-Ma'arif Tasyayu', jld. 1, hlm. 111.
  31. Biharul Anwar, jld. 53, hlm. 11.
  32. Ibid, jld. 52, hlm. 374, hadis: 147.
  33. Ibid, jld. 52, hlm. 335.
  34. Ibid, jld. 53, hlm. 11.