Konsep:Hakim bin Hizam
| Info pribadi | |
|---|---|
| Nama lengkap | Hakim bin Hizam bin Khuwailid al-Asadi al-Qurasyi |
| Julukan | Abu Khalid |
| Kerabat termasyhur | Sayyidah Khadijah (sa) (bibi), Zubair bin Awwam (sepupu), Abdullah bin Hakim (anak) |
| Lahir | 13 tahun sebelum Tahun Gajah (560 M) |
| Tempat Tinggal | Mekkah dan Madinah |
| Wafat/Syahadah | 54/673-74 di Madinah |
| Informasi Keagamaan | |
| Memeluk Islam | Setelah Pembebasan Mekkah pada 8/629-30 |
| Keikutsertaan dalam Ghazwah | Perang Badar (melawan Muslim) |
| Terkenal sebagai | Pendukung Utsman bin Affan |
Hakim bin Hizam adalah sahabat Nabi Muhammad (saw) sekaligus salah satu tokoh terkemuka dari Bani Quraisy. Ia merupakan keponakan Sayyidah Khadijah (sa) dan sepupu Zubair bin Awwam. Beberapa sumber Ahlussunnah menyebutkan bahwa ia lahir di dalam Ka'bah. Namun, klaim tersebut tidak hanya dinilai memiliki sanad (rantai perawi) yang lemah, tetapi juga sering dipandang sebagai upaya politis Bani Zubair untuk menonjolkan keutamaan kerabat mereka guna mengaburkan keutamaan kelahiran Imam Ali (as) di dalam Ka'bah.
Dikenal sebagai sosok yang kaya dan dermawan, Hakim pernah membeli Zaid bin Haritsah untuk Sayyidah Khadijah (sa) pada masa Jahiliah. Selama periode pemboikotan ekonomi kaum Muslimin di Syi'ib Abi Thalib, ia secara diam-diam membawakan makanan untuk Sayyidah Khadijah (sa). Di sisi lain, Hakim tercatat sebagai peserta aktif di Dar al-Nadwah yang menentang keras dakwah Nabi Muhammad (saw) dan turut hadir ketika kesepakatan pembunuhan Nabi oleh para pemuda dari berbagai kabilah diputuskan. Ia juga terjun dalam Perang Badar di kubu musyrikin dan bertindak sebagai salah satu donatur utama pasukan Bani Quraisy. Meskipun hampir tewas dalam pertempuran tersebut, ia berhasil selamat.
Hakim beserta anak-anaknya baru memeluk Islam bertepatan dengan peristiwa Pembebasan Mekkah, dan beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Pada Perang Hunain, Hakim termasuk dalam kelompok Muallafah Qulubuhum (mereka yang dilunakkan hatinya) yang menerima porsi ghanimah (harta rampasan perang) lebih besar. Dalam lintasan sejarah pasca-wafatnya Nabi, ia dikenal sebagai pendukung setia khalifah ketiga, Utsman bin Affan, serta turut hadir dalam prosesi penyalatan dan pemakamannya.
Pasca-terbunuhnya Utsman, Hakim memang memberikan baiat kepada Imam Ali bin Abi Thalib (as), namun ia memilih bersikap netral dan menolak untuk membantu Imam (as) dalam berbagai peperangan. Ironisnya, putranya yang bernama Abdullah justru menjadi salah satu pembawa panji pasukan Aisyah dalam Perang Jamal dan tewas dalam pertempuran tersebut. Sejumlah hadis, laporan sejarah, serta riwayat fikih banyak dinukil bersumber dari Hakim. Meskipun demikian, Muhammad Taqi Syusytari, seorang pakar ilmu Rijal, mengklasifikasikannya sebagai penganut ideologi Utsmaniyah dan meyakini bahwa baiatnya kepada Imam Ali (as) dilakukan secara terpaksa.
Pengenalan singkat
Hakim bin Hizam bin Khuwailid al-Asadi al-Qurasyi al-Makki[1] yang memiliki kunyah Abu Khalid[2], merupakan keturunan dari Qushay bin Kilab[3] dari kabilah Bani Asad.[4] Ia diakui sebagai tokoh bangsawan yang sangat dihormati di kalangan Bani Quraisy,[5] baik pada era Jahiliah maupun setelah memeluk Islam.[6] Ia tergolong sebagai sahabat Nabi Muhammad (saw)[7] dan bahkan diklaim memiliki hubungan persahabatan dengan Nabi sejak sebelum hingga sesudah masa Bi'tsah.[8] Sejumlah riwayat juga menyinggung tentang besarnya rasa cinta Hakim kepada beliau.[9]
Hakim lahir di Mekkah 13 tahun sebelum Tahun Gajah.[10] Ia diyakini berusia sangat panjang, mencapai 120 tahun.[11] Riwayat sejarah menyebutkan bahwa ia menghabiskan 60 tahun hidupnya pada masa Jahiliah dan 60 tahun sisanya pada masa Islam.[12] Hakim wafat di Madinah pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan di tahun 50/670-71, 54/673-74,[13] atau 60/679-80.[14][15] Di penghujung usianya, ia mengalami kebutaan[16] dan kerap mengeluhkan kondisi fisiknya tersebut.[17]
Semasa Jahiliah, Hakim berpartisipasi dalam Perang Fijar, di mana ia harus kehilangan ayahnya.[18] Karakter pribadinya sering digambarkan sebagai individu yang bijaksana, saleh, dermawan, sekaligus saudagar kaya raya.[19] Ia dikabarkan memiliki kepakaran dalam ilmu nasab (silsilah),[20] secara khusus mengenai nasab keturunan Quraisy beserta catatan sejarah mereka.[21] Sebagai bentuk penghormatan, salah satu pintu Masjidil Haram kemudian dinamai Bab Hakim bin Hizam.[22]
Klaim kelahiran Hakim di Ka'bah
Menurut beberapa riwayat, ibu dari Hakim bin Hizam yang bernama Hakimah[23] atau Shafiyah (Fakhitah) binti Zuhair bin al-Harits[24] melahirkannya di dalam Ka'bah.[25] Muslim al-Naisyaburi, dalam kitab Shahih-nya, turut mencantumkan klaim kelahiran tersebut,[26] kendati tanpa menyertakan dokumen atau pembuktian sanad yang kuat. Nawawi, seorang ulama besar Ahlussunnah dari abad ke-7/13 M, mengutip pendapat pihak lain yang mengklaim bahwa tidak ada seorang pun selain Hakim yang lahir di dalam Ka'bah, seraya berusaha mendiskreditkan riwayat valid mengenai kelahiran Imam Ali (as) di tempat suci tersebut.[27]
Sebaliknya, mayoritas sumber dari mazhab Syiah[28] dan sejumlah ahli sejarah Ahlussunnah[29] menilai klaim ini memiliki kelemahan sanad yang fatal. Menurut standar ilmu rijal Ahlussunnah, para perawi yang menyampaikan narasi ini dikategorikan lemah.[30] Ditegaskan pula bahwa fabrikasi keutamaan (manqabah) palsu ini sengaja dirancang demi menutupi dan memudarkan keutamaan mutlak dari kelahiran Imam Ali (as) di dalam Ka'bah.[31]
Sayyid Ja'far Murtadha al-Amili memandang bahwa sentimen kekerabatan Bani Zubair terhadap Hakim menjadi motif utama di balik penciptaan narasi palsu ini. Mereka berusaha memonopoli keutamaan tersebut untuk Hakim, padahal terdapat dalil mutawatir secara historis yang membuktikan bahwa Imam Ali (as) adalah satu-satunya insan yang pernah dilahirkan di dalam Ka'bah.[32] Lebih jauh lagi, para ahli sejarah berpendapat bahwa seandainya laporan masuknya ibu Hakim ke Ka'bah itu benar adanya, peristiwa itu terjadi pada hari ketika pintu Ka'bah secara resmi dibuka untuk kunjungan umum bersama para wanita Quraisy. Hal ini jelas berbeda secara fundamental dengan mukjizat kelahiran Imam Ali (as), di mana dinding Ka'bah terbelah atas kehendak Allah untuk melindungi sang ibu yang kemudian menetap di dalamnya selama tiga hari.[33]
Melawan Islam dan Nabi Muhammad (saw)
Hakim bin Hizam merupakan salah satu anggota elit di Dar al-Nadwah, pusat majelis musyawarah bangsa Arab. Ia berperan aktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan konfrontatif melawan Nabi Muhammad (saw), salah satunya adalah pertemuan krusial yang menyepakati rencana pembunuhan Nabi oleh perwakilan pemuda dari seluruh kabilah Quraisy.[34] Sesuai tradisi, hanya tokoh yang telah berusia di atas 60 tahun yang berhak menghadiri majelis Dar al-Nadwah. Namun berkat statusnya, Hakim menjadi pengecualian langka dan diperkenankan bergabung sejak ia baru menginjak usia 15 tahun.[35]
Partisipasi dalam Perang Badar melawan Muslim
Hakim turut serta dalam barisan musyrikin pada Perang Badar, di mana ia memikul tanggung jawab krusial sebagai penyedia logistik makanan bagi pasukan Bani Quraisy.[36] Kendati sejumlah riwayat mengklaim bahwa ia sebenarnya enggan berperang dan sempat membujuk Quraisy agar membatalkan konfrontasi.[37] Saat menyadari keterlibatan para bangsawan Quraisy—termasuk Hakim—dalam peperangan ini, Nabi Muhammad (saw) mengibaratkan bahwa Mekkah telah melemparkan "buah hatinya" (para pemuka utamanya) ke medan laga.[38] Di tengah pertempuran Badar, nyawa Hakim nyaris melayang, namun ia akhirnya berhasil menyelamatkan diri.[39] Pengalaman traumatik ini membekas hingga ke masa Islamnya; setiap kali ia mengucapkan sumpah besar, ia selalu mengawalinya dengan: "Demi Tuhan yang menyelamatkanku dalam Perang Badar."[40] Laporan eksklusif mengenai penampakan malaikat yang turun membantu pasukan Muslim juga diriwayatkan bersumber dari kesaksian Hakim.[41]
Masuk Islam saat Pembebasan Mekkah
Hakim bin Hizam berserta putra-putranya baru mengucapkan syahadat pada 8/629-30, tepat di tengah pusaran peristiwa Pembebasan Mekkah.[42] Menjelang penaklukan, saat Rasulullah (saw) dan pasukan Muslim berkemah di pinggiran kota, Hakim bersama Abu Sufyan menyusup keluar demi memata-matai situasi. Setelah berpapasan dengan Abbas bin Abdul Muthalib, mereka dibawa menghadap Nabi Muhammad (saw). Usai melakukan dialog panjang dengan beliau,[43] Hakim secara resmi masuk Islam pada keesokan paginya.[44] Saat penaklukan berlangsung, Nabi Muhammad (saw) menghargai kedudukannya dengan mendeklarasikan kediaman Hakim sebagai salah satu tempat perlindungan yang aman.[45] Terdapat riwayat yang mengemukakan bahwa sehari sebelum pembebasan, Nabi secara khusus menyebut nama empat orang tokoh—termasuk Hakim—dan menyatakan ketidaksukaannya jika mereka terus memegang kekafiran.[46]
Dalam catatan lain, terungkap penyesalan mendalam dari Hakim atas keterlambatannya menerima hidayah, absennya ia dari keutamaan Hijrah ke Madinah, serta ketaatan butanya pada masa lalu terhadap para pembesar musyrik dan tradisi usang nenek moyangnya.[47] Selama menetap di Mekkah, kepemilikan dan otoritas atas Dar al-Nadwah masih berada di tangannya, hingga pada suatu saat ia melepas properti bersejarah tersebut kepada Muawiyah bin Abu Sufyan.[48] Hakim kemudian menginfakkan seluruh hasil penjualan properti tersebut ke jalan Allah.[49] Tidak lama berselang, ia menyusul berhijrah dan menghabiskan sisa hidupnya di Madinah.[50]
Partisipasi dalam Perang Hunain
Dalam stratifikasi sosiologis para Sahabat, Hakim dikategorikan sebagai golongan Thulaqa[51] (mereka yang dibebaskan saat Fathu Makkah) sekaligus Muallafah Qulubuhum.[52] Ia terjun dalam ekspedisi Perang Hunain,[53] di mana Nabi Muhammad (saw) mengalokasikan persentase ghanimah yang cukup substansial untuknya sebagai bentuk pendekatan emosional.[54] Kisah dialog sarat makna yang terjadi ketika Hakim terus-menerus meminta tambahan porsi ghanimah lalu direspons oleh nasihat bijak dari Nabi telah diabadikan dalam berbagai buku sejarah.[55] Dilaporkan bahwa tamparan spiritual dari wejangan Nabi itu mengubah karakter Hakim secara drastis, sehingga sejak saat itu hingga akhir hayatnya, ia pantang menerima santunan maupun pemberian harta dari siapa pun.[56]
Dukungan terhadap Utsman
Hakim bin Hizam dikenal publik sebagai loyalis teguh dari khalifah ketiga, Utsman bin Affan.[57] Saat Utsman tewas terbunuh, konstelasi politik memanas hingga jenazahnya terlantar selama tiga hari tanpa diperbolehkan untuk dimakamkan secara layak.[58] Menyikapi krisis ini, Hakim bersama Jubair bin Muth'im mengambil inisiatif menghadap Imam Ali (as) untuk memohon izin pemakaman, yang kemudian diluluskan oleh Imam (as).[59] Namun, rencana mereka untuk menyemayamkan Utsman di area utama pemakaman Baqi mendapat penolakan agresif dari kaum revolusioner.[60] Massa mendesak agar jenazah dikuburkan di kompleks pekuburan Yahudi. Dengan integritas kebangsawanannya, Hakim bersumpah bahwa selama ia masih bernapas—sebagai representasi keturunan Qushay—ia tidak akan menoleransi penghinaan separah itu terhadap jasad Utsman.[61] Di tengah tekanan tajam itu,[62] Hakim memimpin salat jenazah[63] dan memakamkannya di kebun bernama Hash Kaukab, yang letaknya tepat di luar tapal batas Baqi saat itu. Area ini baru secara resmi diintegrasikan ke dalam kawasan pemakaman Baqi pada era kekuasaan Muawiyah.[64]
Tidak menyertai Imam Ali (as)
Ketika tonggak kepemimpinan beralih ke tangan Imam Ali (as), Hakim tidak memiliki pilihan selain memberikan baiatnya. Akan tetapi, secara politis ia memilih posisi pasif: menolak untuk memanggul senjata membela sang Imam dalam setiap konflik, namun secara bersamaan ia juga tidak pernah membelot untuk memeranginya secara frontal.[65] Kendati demikian, berbagai literatur menyingkap indikasi kuat bahwa Hakim secara klandestin mengalirkan dukungan moral kepada kelompok yang menuntut pertanggungjawaban atas darah Utsman.[66] Tragedi memilukan menimpanya di penghujung Perang Jamal. Imam Ali (as) yang tengah memantau para korban menemukan jenazah Abdullah—putra kesayangan Hakim—terbujur kaku karena berada di garda depan pasukan Aisyah. Dalam momen reflektif itu, Imam (as) menegaskan bahwa Abdullah bertolak belakang dengan pendirian ayahnya. Beliau mengakui bahwa meskipun Hakim menolak memberikan bantuan fisik, ia tidak pernah membatalkan ikatan baiatnya.[67]
Perawi hadis
Dalam literatur hadis, posisi Hakim bin Hizam diakui sebagai salah seorang perawi dari Nabi Muhammad (saw).[68] Terdapat sekitar 40 hadis[69] yang dilacak bersumber darinya di dalam Sihah Sittah (Enam Kitab Hadis Utama Ahlussunnah).[70]
Riwayat sejarah yang dibawakan oleh Hakim mencakup berbagai diskursus vital, seperti peristiwa monumental Hilf al-Fudhul,[71] detail pernikahan Nabi Muhammad (saw) dengan Sayyidah Khadijah (sa),[72] hingga kronologi krusial Perang Badar.[73] Laporan eksklusifnya mengenai Perang Badar yang dituturkannya kepada Marwan bin Hakam menjadi referensi primer yang dikutip berulang kali dalam khazanah sejarah Islam.[74] Di samping itu, jejak transmisinya juga mewarnai perumusan dalil di ranah fikih Islam.[75]
Dalam kacamata keilmuan Syiah, Syekh al-Thusi menempatkan nama Hakim ke dalam kitab Rijal al-Thusi[76] diiringi beberapa pakar lain,[77] secara netral menderetkannya di daftar para sahabat dan perawi Nabi tanpa membubuhkan predikat pujian (tadil) ataupun celaan (jarh) yang spesifik. Di sisi lain, kritikus ilmu rijal kontemporer, Muhammad Taqi Syusytari, melalui mahakaryanya Qamus al-Rijal, menyoroti pandangan positif ulama Ahlussunnah perihal keislaman Hakim. Secara analitis, Syusytari menyimpulkan identitas politik Hakim sebagai pengikut garis keras kelompok Utsmaniyah (Utsmaniyyun) dan mendalihkan bahwa baiatnya di hadapan Imam Ali (as) sarat akan muatan paksaan dan ketiadaan keikhlasan.[78]
Kerabat terkenal
Jejaring genealogi Hakim mengikatnya kuat dengan keluarga Nabi; ia adalah keponakan langsung dari Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah (sa)[79] sekaligus bersepupu dengan panglima Zubair bin Awwam.[80] Saudara kandungnya yang bernama Khalid bin Hizam tercatat sebagai salah satu rombongan Muhajirin pertama menuju negeri Habsyah, namun gugur di tengah perjalanan akibat gigitan ular berbisa.[81] Menurut kesepakatan mufasir, asbabun nuzul turunnya Surah An-Nisa ayat ke-100 secara khusus merujuk pada insiden tragis yang menimpa saudaranya tersebut.[82]
Hakim membina keluarga dengan dikaruniai tiga orang putra, yakni Abdullah, Khalid, dan Hisyam.[83] Beberapa silsilah alternatif menyisipkan eksistensi anak keempat bernama Yahya,[84] di mana keseluruhan putra-putranya itu juga berhasil mereguk kehormatan status sebagai Sahabat Nabi.[85] Karier militer putranya, Abdullah, mencapai puncaknya saat ia dipercaya menyandang tugas sebagai pembawa panji laskar Aisyah dalam kancah Perang Jamal.[86] Sayangnya, nasib buruk menimpanya tatkala tebasan pedang Malik al-Asytar mengakhiri hidupnya di peperangan tersebut.[87] Ironisnya, ayah dari Abdullah, yaitu Hakim, diklaim sangat menentang keras keputusan putranya untuk menghunuskan senjata di hadapan Imam Ali (as).[88] Sementara itu, putranya yang lain, Hisyam, menghembuskan napas terakhir mendahului sang ayah;[89] walau ada riwayat parsial yang mengindikasikan bahwa Hisyam syahid saat mengabdi di Perang Ajnadain.[90] Dalam garis keturunan generasi berikutnya, cucu Hakim yang juga bernama Abdullah bin Abdullah ditengarai menjadi pasangan hidup dari Sakinah, putri kesayangan Imam Husain (as).[91] Prestise silsilah ini berlanjut pada nama Amr bin Khalid al-Shaidawi, yang merupakan cicit atau cucu keturunan Hakim bin Hizam yang menggapai kemuliaan tertingginya sebagai salah seorang syuhada setia yang gugur di medan Karbala.[92][93]
Pekerjaan dan kekayaan Hakim
Sejak zaman kelam Jahiliah, Hakim telah memetakan dirinya sebagai saudagar lintas wilayah dengan rute perdagangan rutin yang merambah pasar-pasar sentral di Yaman dan pesisir Syam.[94] Kepiawaiannya berbisnis mengantarkannya ke kasta tertinggi di antara segelintir konglomerat Mekkah saat itu.[95] Kendati reputasinya berkilau, Muhammad Taqi Syusytari selaku kritikus historis mengungkap skandal monopoli masa lalu yang pernah membelit Hakim. Laporan tersebut menyoroti tindakan Hakim memborong stok bahan pangan krusial demi praktik penimbunan, sebuah aksi spekulatif yang memantik teguran serta celaan keras secara langsung dari Nabi Muhammad (saw).[96] Akan tetapi, di luar sisi gelap bisnisnya itu, figur Hakim di mata kolega-koleganya senantiasa digambarkan lekat dengan nuansa kehangatan berinteraksi,[97] serta filantropi kedermawanan yang tak lekang oleh waktu.[98] Berulang kali ia mengklaim secara terbuka mengenai rutinitasnya membagi-bagikan sepertiga dari total laba perdagangannya semata untuk menyokong kehidupan para fakir miskin di kabilahnya.[99]
Sikap filantropis yang dipraktikkannya kian menggema di musim haji, kala Hakim mencatatkan rekor dengan mengurbankan seratus ekor unta pilihan dan sekaligus memerdekakan seratus nyawa budak belian.[100] Catatan lainnya menyisipkan kedermawanannya yang mewakafkan seratus[101] atau bahkan fantastis seribu ekor domba dalam satu momentum ibadah.[102] Para pakar sejarah menepis teori bahwa ledakan kedermawanannya ini hanya berpusat pada sentuhan magis doktrin Islam belaka, mengingat deretan kebajikan berdimensi sosial yang persis serupanya telah ia tabur semenjak masa Jahiliah.[103] Sebuah pepatah populer merepresentasikan karakternya bahwa tidak sepercik pun perbuatan baik yang ia gagas saat Jahiliah, kecuali pasti akan dilipatgandakannya di masa Islam.[104] Pada suatu peristiwa di tengah jerat kemusyrikan, Hakim berniat menghadiahkan sebuah jubah sutra yang terlampau mewah untuk Nabi Muhammad (saw). Menjaga independensi, Rasulullah (saw) dengan halus mengembalikan hadiah tersebut akibat terhalang status akidah Hakim yang saat itu masih teguh mensekutukan Tuhan. Meski demikian, demi menjaga keharmonisan, Rasulullah akhirnya membeli pakaian indah tersebut darinya secara purna dan berbelok menjadikannya sebagai cendera mata untuk Usamah bin Zaid.[105]
Sepanjang bergulirnya kepemimpinan al-Khulafa al-Rasyidun, komitmen Hakim memegang erat prinsipnya benar-benar diuji. Dilaporkan bahwa ia sama sekali enggan mengusik atau menerima sepeser pun keping uang dari Baitul Mal negara.[106] Kedua suksesor pertama, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, di masa awal kursi kepemimpinan mereka berulangkali mencoba mengirimkan ragam hadiah eksklusif beserta insentif tunjangan kesejahteraan bagi sang tokoh Quraisy. Akan tetapi, konsistensi Hakim tidak goyah untuk terus menolak segala manuver birokrasi tersebut.[107] Sebuah nukilan riwayat menarik memperlihatkan kelugasan Hakim menyarankan Umar bin Khattab agar menghentikan regulasi distribusi tunjangan khusus bagi para pemuka Quraisy. Argumen progresifnya menitikberatkan pada kekhawatiran bahwa gelontoran dana instan tersebut akan mengalienasi bangsa Quraisy dari etos wirausaha dan kultur perdagangan murni. Ia juga menyoroti potensi risiko instabilitas di masa depan, mengingat ketidakpastian jaminan bagi berjalannya kebijakan serupa di era berikutnya.[108]
Dukungan kepada Bani Hasyim di Syi'ib Abi Thalib
Sebagai pionir pembebasan Zaid bin Haritsah, Hakim merupakan aktor di balik pembelian awal budak setia itu yang ia serahkan penuh kepada Sayyidah Khadijah (sa). Ketika ikatan pernikahan suci antara Khadijah dan Nabi Muhammad (saw) terajut utuh, Zaid pun dihibahkan kepada Rasulullah (saw), yang kemudian dimerdekakan oleh kemuliaan akhlak beliau.[109]
Berdasarkan simpulan dari berbagai babat kronik historis, Hakim mempertaruhkan reputasinya demi mendistribusikan selundupan pasokan pangan bagi Sayyidah Khadijah (sa) di tengah jeratan embargo zalim terhadap pilar-pilar Bani Hasyim di celah pegunungan Syi'ib Abi Thalib. Aksinya tersebut memancing intrik hingga konfrontasi fisik langsung dengan Abu Jahal, dalang dari aksi persekusi terhadap kaum minoritas Muslim itu.[110] Namun hipotesis kepahlawanan ganda ini memicu rentetan sanggahan. Analis kenamaan, Sayyid Ja'far Murtadha al-Amili, menumpahkan keraguan teoretis berskala makro dengan mempertanyakan absurditas sebuah kontradiksi: akal sehat mana yang sanggup mengasimilasikan narasi yang secara linear mendedahkan sosok yang sama tengah aktif mendalangi pemufakatan jahat eksekusi Nabi, namun pada detik beriringan malah rela menjelma menjadi pahlawan yang mempertaruhkan nyawa meredam embargo kaum Nabi dan menimbun cadangan pangan kota Makkah?[111]
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Hibban, Tarikh al-Shahabah, 1408 H, hlm. 68; Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 121.
- ↑ Muqaddami al-Bashri, Al-Tarikh wa Asma al-Muhadditsin wa Kunahum, 1428 H, hlm. 159.
- ↑ Samani, Al-Ansab, 1382 H, jld. 1, hlm. 214.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 9, hlm. 288.
- ↑ Ibnu Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, 1999 M, hlm. 231.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Istiab, 1412 H, jld. 1, hlm. 362.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 15, hlm. 93.
- ↑ Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 2, hlm. 98; Zirikli, Al-Alam, 1989 M, jld. 2, hlm. 269.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 68.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 387; Ibnu Kalbi, Jamharah al-Nasab, 1407 H, hlm. 72.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 516.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 369.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 515.
- ↑ Syekh al-Thusi, Rijal al-Thusi, 1427 H, hlm. 38; Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 2, hlm. 98.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Istiab, 1412 H, jld. 1, hlm. 362; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 15, hlm. 94.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 387.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 515; Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 2, hlm. 98.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Istiab, 1412 H, jld. 1, hlm. 362.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 15, hlm. 97; Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 13, hlm. 131.
- ↑ Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 2, hlm. 98.
- ↑ Diyar al-Bakri, Tarikh al-Khamis, Beirut, jld. 1, hlm. 124.
- ↑ Ibnu Hibban, Tarikh al-Shahabah, 1408 H, hlm. 68.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35.
- ↑ Ibnu Kalbi, Jamharah al-Nasab, 1407 H, hlm. 72; Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 366; Ibnu Hibban, Tarikh al-Shahabah, 1408 H, hlm. 68; Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 36.
- ↑ Al-Naisyaburi, Shahih Muslim, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 3, hlm. 1164.
- ↑ Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 121.
- ↑ Syusytari, Ihqaq al-Haq, 1409 H, jld. 33, hlm. 231; Murtadha al-Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-Azham, 1426 H, jld. 2, hlm. 161.
- ↑ Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawash, 1418 H, hlm. 20.
- ↑ Tim Penjawab Syubhat, "Apakah ada riwayat yang valid tentang kelahiran Amirul Mukminin as di dalam Kakbah?", Situs Lembaga Penelitian Wali Ashr af.
- ↑ "Kelahiran Ajaib di Kakbah, Keutamaan Unik Imam Ali as", Ayin-e Rahmat.
- ↑ Murtadha al-Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-Azham, 1426 H, jld. 2, hlm. 162.
- ↑ "Kelahiran Ajaib di Kakbah, Keutamaan Unik Imam Ali as", Ayin-e Rahmat.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 370; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Beirut, jld. 1, hlm. 481.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 367; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 69.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 384; Thabarsi, Ilam al-Wara, 1417 H, jld. 1, hlm. 168.
- ↑ Maqrizi, Imta al-Asma, 1420 H, jld. 1, hlm. 102; Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 3, hlm. 65.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 437.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 2, hlm. 437; Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 61; Tamimi, Al-Sirah al-Nabawiyyah wa Akhbar al-Khulafa, 1417 H, jld. 1, hlm. 168.
- ↑ Ibnu Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, 1999 M, hlm. 231; Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35.
- ↑ Maqrizi, Imta al-Asma, 1420 H, jld. 1, hlm. 108.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 68.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 2, hlm. 814-815; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 68.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 55; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 68.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 55.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 374.
- ↑ Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 1, hlm. 368-369.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 367.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 69.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 516.
- ↑ Maliki, Al-Shuhbah wa al-Shahabah, 1422 H, hlm. 192-193.
- ↑ Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Beirut, hlm. 473.
- ↑ Ibnu Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, 1999 M, hlm. 231.
- ↑ Ibnu Saad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 2, hlm. 116.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 377; Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 37.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 69.
- ↑ Madelung, Suksesi Muhammad, 1377 HS, hlm. 168.
- ↑ Khuza'i, Takhrij al-Dalalat, 1419 H, hlm. 204.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 9, hlm. 288.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 9, hlm. 289; Khuza'i, Takhrij al-Dalalat, 1419 H, hlm. 204.
- ↑ Ibnu Atsam Kufi, Kitab al-Futuh, 1411 H, jld. 2, hlm. 436.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 9, hlm. 288-289.
- ↑ Ibnu Atsam Kufi, Kitab al-Futuh, 1411 H, jld. 2, hlm. 436.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 9, hlm. 289.
- ↑ Madelung, Suksesi Muhammad, 1377 HS, hlm. 217.
- ↑ Madelung, Suksesi Muhammad, 1377 HS, hlm. 202.
- ↑ Mufid, Al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 255.
- ↑ Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafayat, 1401 H, jld. 13, hlm. 130.
- ↑ Zirikli, Al-Alam, 1989 M, jld. 2, hlm. 269.
- ↑ Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 2, hlm. 97.
- ↑ Ibnu Habib al-Baghdadi, Al-Munammaq, 1405 H, hlm. 186; Ibnu Saad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 103.
- ↑ Ibnu Saad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 12-13.
- ↑ Maqrizi, Imta al-Asma, 1420 H, jld. 1, hlm. 108.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 371; Abul Faraj al-Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 4, hlm. 386.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Bukhari, Shahih al-Bukhari, 1422 H, jld. 3, hlm. 64.
- ↑ Syekh al-Thusi, Rijal al-Thusi, 1427 H, hlm. 38.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Astarabadi, Manhaj al-Maqal, 1422 H, jld. 4, hlm. 354; Tafresyi, Naqd al-Rijal, 1377 HS, jld. 5, hlm. 49.
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 3, hlm. 629.
- ↑ Ibnu Abdil Barr, Al-Istiab, 1412 H, jld. 1, hlm. 362.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 1, hlm. 522.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 1, hlm. 569.
- ↑ Suyuthi, Al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 2, hlm. 208; Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Quran al-Azhim, 1419 H, jld. 3, hlm. 1050.
- ↑ Ibnu Hibban, Tarikh al-Shahabah, 1408 H, hlm. 68.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 515.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 11, hlm. 515; Ibnu Abdil Barr, Al-Istiab, 1412 H, jld. 1, hlm. 362.
- ↑ Mufid, Al-Jamal, 1413 H, hlm. 324; Al-Dzahabi, Tarikh al-Islam, 1413 H, jld. 3, hlm. 485.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 4, hlm. 525.
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 3, hlm. 630.
- ↑ Ibnu Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, 1999 M, hlm. 231.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 4, hlm. 623.
- ↑ Abul Faraj al-Isfahani, Al-Aghani, 1415 H, jld. 17, hlm. 219; Ibnu Kalbi, Jamharah al-Nasab, 1407 H, hlm. 72; Ibnu Abdullah, Kitab Nasab Quraisy, 1999 M, hlm. 59.
- ↑ Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1967 M, jld. 5, hlm. 446.
- ↑ Samawi, Ibshar al-Ain, 1419 H, hlm. 117.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 378-379.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 69.
- ↑ Syusytari, Qamus al-Rijal, 1410 H, jld. 3, hlm. 630.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35; Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 384.
- ↑ Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 1, hlm. 522; Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, 1430 H, hlm. 122.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 378.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 383.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 36.
- ↑ Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1423 H, jld. 1, hlm. 368.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35; Ibnu Imad al-Hanbali, Syadzarat al-Dzahab, 1406 H, jld. 1, hlm. 254.
- ↑ Abu Nuaim, Marifah al-Shahabah, 1422 H, jld. 2, hlm. 35; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 1, hlm. 522.
- ↑ Ibnu Saad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 4, hlm. 48; Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 373, 379.
- ↑ Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 15, hlm. 97.
- ↑ Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 8, hlm. 69; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 15, hlm. 108.
- ↑ Ibnu Bakkar, Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha, 1419 H, jld. 1, hlm. 384.
- ↑ Ibnu Saad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 386; Ibnu Qani al-Baghdadi, Mujam al-Shahabah, 1424 H, jld. 5, hlm. 1703.
- ↑ Ibnu Ishaq, Sirah Ibnu Ishaq, 1410 H, hlm. 161; Amin, Ayan al-Syiah, 1403 H, jld. 8, hlm. 116.
- ↑ Murtadha al-Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-Azham, 1426 H, jld. 3, hlm. 200.
Daftar Pustaka
- Abu Nuaim, Ahmad bin Abdullah. Marifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1422 H.
- Abul Faraj al-Isfahani, Ali bin Husain. Al-Aghani. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1415 H.
- Al-Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-Alam. Tahqiq: Umar Abdul Salam Tadmuri. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, cetakan kedua, 1413 H.
- Al-Naisyaburi, Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Editor: Muhammad Fuad Abdul Baqi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
- Amin, Muhsin. Ayan al-Syiah. Beirut: Dar al-Taaruf lil Mathbuat, 1403 H.
- Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab. Qom: Markaz al-Ghadir lil Dirasat al-Islamiyyah, 1416 H.
- Astarabadi, Muhammad bin Ali. Manhaj al-Maqal fi Tahqiq Ahwal al-Rijal. Qom: Muassasah Aal al-Bait, 1422 H.
- Baihaqi, Abu Bakar. Dalail al-Nubuwwah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
- Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Dar Thauq al-Najah, 1422 H.
- Diyar al-Bakri, Husain. Tarikh al-Khamis. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
- Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Istiab fi Marifah al-Ash-hab. Tahqiq: Ali Muhammad al-Bajawi. Beirut: Dar al-Jil, 1412 H.
- Ibnu Abi Hatim, Abdurrahman bin Muhammad. Tafsir al-Quran al-Azhim. Riyadh: Maktabah Nizar Mushthafa al-Baz, cetakan ketiga, 1419 H.
- Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
- Ibnu Atsam Kufi, Ahmad. Kitab al-Futuh. Tahqiq: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, 1411 H.
- Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah fi Marifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
- Ibnu Bakkar, Zubair. Jamharah Nasab Quraisy wa Akhbaruha. Riyadh: Dar al-Yamamah, cetakan kedua, 1419 H.
- Ibnu Habib, Muhammad. Al-Muhabbar. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, tanpa tahun.
- Ibnu Habib al-Baghdadi. Al-Munammaq fi Akhbar Quraisy. Tahqiq: Khursyid Ahmad Faruq. Beirut: Alam al-Kutub, 1405 H.
- Ibnu Hajar al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Muawwadh. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
- Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban. Tarikh al-Shahabah alladzina Ruwiya anhum al-Akhbar. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1408 H.
- Ibnu Hisyam, Himyari Maafiri. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Marifah, tanpa tahun.
- Ibnu Imad al-Hanbali, Abdul Hay bin Ahmad. Syadzarat al-Dzahab fi Akhbar Man Dzahab. Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1406 H.
- Ibnu Ishaq, Muhammad. Sirah Ibnu Ishaq (Kitab al-Siyar wa al-Maghazi). Qom: Daftar Muthalaat Tarikh wa Maarif Islami, 1410 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Shifah al-Shafwah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1423 H.
- Ibnu Jauzi, Sibth. Tadzkirah al-Khawash. Qom: Mansyurat al-Syarif al-Radhi, 1418 H.
- Ibnu Kalbi, Hisyam bin Muhammad. Jamharah al-Nasab. Beirut: Alam al-Kutub, 1407 H.
- Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Qani al-Baghdadi, Abdul Baqi. Mujam al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1424 H.
- Ibnu Saad, Muhammad. Al-Thabaqat al-Kubra. Tahqiq: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
- "Kelahiran Ajaib di Kakbah, Keutamaan Unik Imam Ali as". Ayin-e Rahmat. Diakses: 3 Aban 1403 H.
- Khuza'i, Ali bin Muhammad. Takhrij al-Dalalat. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1419 H.
- Madelung, Wilferd. Suksesi Muhammad (Janesyini-ye Muhammad). Terjemahan Namai. Masyhad: Astan Quds Razavi, 1377 HS.
- Maliki, Hasan bin Farhan. Al-Shuhbah wa al-Shahabah bain al-Ithlaq al-Lughawi wa al-Takhshish al-Syari. Amman: Markaz al-Dirasat al-Tarikhiyyah, 1422 H.
- Maqrizi, Ahmad bin Ali. Imta al-Asma bima lil-Nabi minal Ahwal wal Amwal wal Hafadah wal Mata. Tahqiq: Muhammad Abdul Hamid al-Namisi. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
- Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Numan. Al-Irsyad fi Marifah Hujajillah alal Ibad. Qom: Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
- Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Numan. Al-Jamal wa al-Nushrah li Sayyid al-Itrah fi Harb al-Bashrah. Qom: Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
- Muqaddami al-Bashri, Muhammad bin Ahmad. Al-Tarikh wa Asma al-Muhadditsin wa Kunahum. Qom: Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Marasyi Najafi, 1428 H.
- Murtadha al-Amili, Jafar. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-Azham. Qom: Dar al-Hadits, 1426 H.
- Nawawi, Yahya bin Syaraf. Tahdzib al-Asma wa al-Lughat. Damaskus: Dar al-Risalah al-Alamiyyah, 1430 H.
- Samawi, Muhammad bin Thahir. Ibshar al-Ain fi Anshar al-Husain. Qom: Universitas Syahid Mahallati, 1419 H.
- Samani, Abdul Karim bin Muhammad. Al-Ansab. Tahqiq: Abdurrahman bin Yahya al-Muallimi al-Yamani. Hyderabad: Majlis Dairah al-Maarif al-Utsmaniyyah, 1382 H.
- Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wafi bi al-Wafayat. Beirut: Dar al-Nasyr Franz Steiner, cetakan kedua, 1401 H.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Matsur. Qom: Perpustakaan Umum Ayatullah al-Uzhma Marasyi Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
- Syekh al-Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan ketiga, 1427 H.
- Syusytari, Muhammad Taqi. Qamus al-Rijal. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1410 H.
- Syusytari, Qadhi Nurullah. Ihqaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil. Qom: Maktabah Ayatullah al-Marasyi al-Najafi, 1409 H.
- Tafresyi, Mushthafa bin Husain. Naqd al-Rijal. Qom: Muassasah Aal al-Bait, 1377 HS.
- Tamimi, Abu Hatim. Al-Sirah al-Nabawiyyah wa Akhbar al-Khulafa. Beirut: Al-Kutub al-Tsaqafiyyah, cetakan ketiga, 1417 H.
- Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Tahqiq: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Ilam al-Wara bi Alam al-Huda. Qom: Muassasah Aal al-Bait, 1417 H.
- Tim Penjawab Syubhat. "Apakah ada riwayat yang valid tentang kelahiran Amirul Mukminin as di dalam Kakbah?". Situs Lembaga Penelitian Wali Ashr af. Tanggal posting: 11 Ordibehesht 1394 HS. Diakses: 7 Aban 1403 HS.
- Waqidi, Muhammad bin Umar. Al-Maghazi. Beirut: Al-Alami, 1409 H.
- Zirikli, Khairuddin. Al-Alam. Beirut: Dar al-Ilm lil Malayin, cetakan kedelapan, 1989 M.