Lompat ke isi

Konsep:Haidar Karrar

Dari wikishia

Haidar Karrar (bahasa Arab: الحیدر الکرّار) adalah salah satu dari gelar Imam Ali as. Menurut sejumlah riwayat, nama Haidar diberikan oleh ibunda beliau, Fatimah binti Asad, saat peristiwa kelahirannya. Fakta historis ini diisyaratkan sendiri oleh Imam Ali as melalui sebuah bait syair (rajaz) yang dilantunkannya pada saat Perang Khaibar.

Julukan Karrar Ghairu Farrar (penyerang tangguh yang pantang mundur) dianugerahkan oleh Nabi Muhammad saw kepada Imam Ali as dalam epos Perang Khaibar. Gelar ini diakui secara aklamasi sebagai salah satu keutamaan istimewa Imam Ali as. Penyematan atribut Karrar ini dianugerahkan tatkala sejumlah Sahabat gagal membuahkan kemenangan dan memilih lari dari medan pertempuran. Peristiwa yang masyhur dengan sebutan Hadis Rayat ini terekam secara komprehensif, baik di dalam literatur Syiah maupun Ahlusunah.

Dalam rangka mengukuhkan keutamaan dan supremasinya di atas sahabat yang lain, Imam Ali as kerap berhujah menggunakan gelar Karrar Ghairu Farrar pemberian Rasulullah saw tersebut. Langkah argumentatif serupa turut ditempuh oleh para Imam Syiah lainnya yang mendayagunakan pusaka keutamaan ini di dalam pelbagai diskursus (ihtijaj) mereka.

Pengenalan

Sebutan "Haidar Karrar" tercatat dalam deretan gelar Imam Ali as[1] dan sebagian kalangan sejarawan meyakini bahwa beliau sangat populer dikenal dengan julukan tersebut.[2] Gelar ini kerap muncul berulang di dalam beragam sumber literatur kontemporer. Oleh karena itu, sanjungan kepada Imam Ali as yang menggunakan rujukan gelar ini memberikan gema yang luas dalam khazanah puisi dan kesusastraan, baik di dalam struktur bahasa Arab[3] maupun keindahan bahasa Persia.[4]

Penamaan Imam Ali as sebagai Haidar

Haidar[5] atau Haidarah[6] merupakan salah satu nama Imam Ali as yang secara harfiah dimaknai sebagai "singa".[7] Sejumlah penulis dan pakar mengutarakan berbagai hipotesis terkait latar belakang penamaan ini.[8] Di antaranya, disebutkan bahwa dalam kitab-kitab samawi terdahulu, nama beliau adalah "Asad" yang bersinonim dengan lafaz Haidar.[9] Ada pula yang menyatakan bahwa Haidar adalah nama asli beliau tatkala prosesi kelahiran[10] atau panggilan pamungkas yang disandangnya pada masa muda.[11] Selain itu, sebagian pihak berpendapat bahwa ketika Imam Ali as dilahirkan, sang ayah, Abu Thalib, tengah bepergian di luar tempat. Merespons situasi tersebut, Fatimah binti Asad secara independen memberikan nama Asad (Haidar) untuk sang bayi, sembari mengambil tabaruk dari nama ayahnya sendiri.[12] Namun, sekembalinya Abu Thalib, sang figur patriarki tersebut merombaknya dan memilih menetapkan nama Ali untuk putranya.[13]

Pada peristiwa agung Perang Khaibar, tepatnya tatkala berhadap-hadapan dengan Marhab sang pahlawan duel Yahudi, Imam Ali as secara lantang memperkenalkan eksistensi dirinya sebagai "Haidar", merujuk pada identitas nama yang disandangkan oleh ibundanya.[14] Berpegang teguh pada ungkapan lisan Imam ini, Abul Faraj Isfahani dalam risalah Maqatil al-Thalibiyyin menyimpulkan bahwa riwayat penamaan oleh sang ibu tersebut memegang derajat kesahihan yang jauh lebih valid jika dihadapkan pada hipotesis tandingan lainnya.[15]

Lebih dari itu, sebagian keturunan Imam Ali as terbukti mengadopsi diksi Haidar untuk merepresentasikan patronase ayahanda mereka. Sebagai ilustrasi, figur Abdullah bin Hasan pada perhelatan tragis Hari Asyura mendemonstrasikan dirinya sebagai keturunan sang Haidar tatkala membakar semangat barisan lewat lantunan syair pertempuran (rajaz).[16]

Asal-usul Gelar Karrar bagi Imam Ali as

Templat:Utama Dalam panggung peperangan Perang Khaibar, mulanya Rasulullah saw menyerahkan panji komando militer kepada beberapa orang Sahabat. Ironisnya, mereka gagal merealisasikan kemenangan yang diharapkan dan memilih memutar balik untuk melarikan diri dari gempuran palagan. Menyaksikan desersi massal tersebut, Nabi saw mendeklarasikan sebuah proklamasi agung: "Esok hari, sungguh aku akan memandatkan panji ini kepada seorang kesatria yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta di saat yang sama Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya. Ia adalah sosok Karrar Ghairu Farrar (penyerang tangguh yang pantang lari), dan melaluinyalah Allah akan menyingkapkan tabir kemenangan."[17] Keesokan harinya, sejalan dengan nubuat tersebut, beliau menyerahkan panji kepada Imam Ali as, dan melalui komando sang Imamlah benteng pertahanan terakhir Khaibar berhasil diruntuhkan.[18]

Insiden historis yang monumental dicatatkan lewat diskursus Hadis Rayat ini,[19] sukses meledakkan refleksi resonansi yang teramat luas di seantero lembaran kitab-kitab hadis, tarikh kronik sejarah, dan manual tafsir kaum Ahlusunah.[20] Melalui karya dedikatifnya Dala'il al-Shidq, Muhammad Hasan al-Mudhaffar mendokumentasikan tabulasi detail dari tiga puluh lebih kompendium referensi klasik Ahlusunah yang tidak absen memberitakan rentetan peristiwa heroik ini.[21] Syair legendaris Hassan bin Tsabit, yang notabenenya merupakan salah satu maestro penyair pionir pada masa kebangkitan Islam, terabadikan merekam memori epos prestisius ini dalam aneka sumber otentik.[22]

Secara teleologis, manifestasi historis kejadian ini dirumuskan sebagai pengejawantahan identitas keutamaan eksklusif yang hanya dipatenkan kepada ranah privilese Imam Ali as,[23] serta sekaligus memverifikasi standar supremasinya membawahi kapabilitas deretan komando Sahabat seangkatan lainnya.[24] Signifikansi dari peristiwa ini mutlak diadopsi sebagai tiang penopang dalil teologis teoretis tatkala mengafirmasi kedudukan mutlak status Imamah beliau di dunia pasca ketiadaan Nabi.[25]

Gelar Karrar dalam Berbagai Sumber

Rasulullah saw memahkotai Imam Ali as dengan penganugerahan gelar Karrar tersebut secara definitif di kancah Perang Khaibar.[26] Gelar luhur ini diwariskan dalam pelbagai varian redaksional yang meliputi klausa "Karrar Ghairu Farrar"[27] maupun redaksi padanan "Karrar Laisa bi-Farrar",[28] yang konotasi leksikalnya mentransformasikan sosok penyerang yang gigih, tidak pernah melempar punggung, dan konsisten merangsek secara tangguh ke hadapan musuh.[29] Pada sebagian serpihan rekam jejak pustaka literatur, entitasnya tercantum secara parsial sebatas pada penggalan tunggal lafaz "Ghairu Farrar" atau "Laisa bi-Farrar" saja.[30][31]

Di luar kerangka eksklusif genre disiplin manuskrip hadis, kehadiran lema gelar "Karrar Ghairu Farrar" turut diinkorporasikan dengan tegas di jantung literatur kronik penulisan sejarah tempo dulu, seperti misal karya monumental Tarikh al-Ya'qubi.[32] Walaupun pada kenyataannya, terdapat konstelasi referensi kesejarahan berhaluan kontras yang bersikap memoderasi paparan dengan mengupas inti substansi peristiwa, ketimbang menyebutkan penamaan atribut secara telanjang.[33]

Keutamaan Khusus Imam Ali as

Sejumlah representasi dari pihak ulama terkemuka mempertahankan konsepsi yang menegaskan bahwa implementasi penisbatan gelar oleh Nabi saw, bukan semata dialamatkan sekadar demi mendedah pujian sepihak atas reputasi Imam Ali as,[34] namun juga dieksploitasi selaku landasan garis demarkasi psikologis yang tajam guna mendikotomi nyali sang Imam vis-a-vis barisan apatis dari komplotan kawan-kawan seperjuangan yang melepaskan ikatan moril demi kabur lari terbirit-birit menodai kehormatan lencana pertempuran.[35] Oleh sebab itulah gelar agung ini termaktub utuh sebatas atribut termahal miliknya, menihilkan segenap desersir kaum kabur agar tak bersentuhan dengan payung hegemoni predikat "Karrar Ghairu Farrar".[36] Keistimewaan esoteris perihal titisan gelar ini lebih mendalam terungkap tatkala meneliti kepingan pewahyuan hadis ekstraksi dari narasi Abdullah bin Abbas, ia membeberkan informasi mistis di mana tepat bertepatan di penghujung dimensi langit pada seremoni pentalian peristiwa Mikraj Nabi Islam saw, panji verbal penganugerahan "Karrar Ghairu Farrar" dihujamkan sedari awal melalui lisan mulia sosok ruh suci Malaikat Jibril kepada martabat ruhaniyah Imam Ali as.[37]

Dalam kancah pergulatan forum persidangan Dewan Syura Enam Anggota, Imam Ali as merekonstruksi momentum Perang Khaibar dalam sketsa pembuktian guna mendemonstrasikan kelayakan absolut superioritas kepemimpinannya seraya mengibarkan bendera narasi pemberian gelar "Karrar Ghairu Farrar" tersebut dari titah sang Nabi saw murni selaku mahkota supremasi kebanggaannya.[38] Model argumentasi otentik itu pun diduplikasi mulus oleh rezim sekutu teologis para rentetan Imam as tatkala dikerahkan untuk membalas pukulan skakmat oposisi dari pihak seberang mengenai status legalitas hak mutlak keningratan ayahanda mereka.[39] Preseden akurat tersebut direplikasi mantap oleh Imam Hasan as, manakala dirinya dikonfrontasi gerombolan kelompok rival yang mengaburkan serta mengingkari legalitas hegemoni keunggulannya plus superioritas ayahnya; seketika memori rentetan kejadian pusaka ini meluncur sebagai peluru telak pelumpuh perlawanan dialektika.[40]

Meski disucikan sedemikian rupa, dalam gejolak pragmatisme panggung politik historis, terpampanglah oknum tokoh oportunis berlakon ala Mukhtar bin Abi Ubaid al-Tsaqafi yang lancang mencaplok privilese kepemilikan adopsi atribut Karrar Ghairu Farrar demi melambungkan profil kultusnya pribadi,[41] maupun secara absurd dikaryakan dengan tujuan memoles kredensial nama sang ayah merujuk gelar abal-abal demi menyabet selembar justifikasi prestise murah meriah.[42]

Catatan Kaki

  1. Gardizi, Zain al-Akhbar, 1363 HS, hlm. 130.
  2. Jaza'iri, Kasyf al-Asrar, 1408 H, jld. 1, hlm. 9.
  3. Hurr Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, hlm. 87; Hurr Amili, Itsbat al-Hudah, 1425 H, jld. 2, hlm. 342.
  4. Safi Golpayegani, Muntakhab al-Atsar, 1422 H, jld. 2, hlm. 384; Qomi, Muntaha al-Amal, 1379 HS, jld. 1, hlm. 404.
  5. Jaza'iri, Kasyf al-Asrar, 1408 H, jld. 1, hlm. 9
  6. Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 4, hlm. 209.
  7. Sahib bin Abbad, al-Muhith fi al-Lughah, Beirut, jld. 3, hlm. 36.
  8. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 5, hlm. 163.
  9. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 5, hlm. 163.
  10. Baihaqi, Dala'il al-Nubuwwah, 1405 H, jld. 4, hlm. 209.
  11. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 5, hlm. 163.
  12. Shalihi al-Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 11, hlm. 287.
  13. Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 39; Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 11, hlm. 290.
  14. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 2, hlm. 85; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 4, hlm. 187.
  15. Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Beirut, hlm. 39.
  16. Majlisi, Zendegani-ye Hazrat Imam Husain as (Kehidupan Hazrat Imam Husain as), 1364 HS, hlm. 55.
  17. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 56; Ibnu Thawus, al-Thara'if, 1400 H, jld. 1, hlm. 57.
  18. Syami, al-Durr al-Nazhim, 1420 H, hlm. 264; Ibnu Abi Jumhur, Awali al-La'ali, 1405 H, jld. 4, hlm. 88.
  19. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1365 HS, hlm. 94; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 21, hlm. 32.
  20. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib as, 1379 H, jld. 3, hlm. 127.
  21. Mudhaffar Najafi, Dala'il al-Shidq, 1422 H, jld. 5, hlm. 82-83.
  22. Mufid, al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 64.
  23. Thabari Amoli Kabir, al-Mustarsyid, 1415 H, hlm. 300.
  24. Mufid, al-Ifshah fi al-Imamah, 1413 H, hlm. 133.
  25. Hilli, Kasyf al-Yaqin, 1411 H, hlm. 140.
  26. Ibnu Syu'bah Harrani, Tuhaf al-'Uqul, 1404 H, hlm. 460.
  27. Mufid, al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 64; Ibnu Syadzan Qomi, al-Raudhah, 1423 H, hlm. 139.
  28. Thabarsi, al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 2, hlm. 328; Kusyi, Rijal al-Kusyi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 198.
  29. Bustani, Farhang-e Abjadi, 1375 HS, hlm. 724.
  30. Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 294; Shaduq, al-Khishal, 1362 HS, jld. 2, hlm. 555.
  31. Qadhi Nurullah Syusytari dalam kitab Ihqaq al-Haq, mengumpulkan riwayat-riwayat terkait hal ini, di mana sebagian besar riwayat merujuk pada gelar "Karrar Ghairu Farrar". (Syusytari, Ihqaq al-Haq, 1409 H, jld. 5, hlm. 369-464.)
  32. Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, jld. 2, hlm. 56.
  33. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 2, hlm. 85.
  34. Hilli, Kasyf al-Yaqin, 1411 H, hlm. 140.
  35. Mufid, al-Ikhtishash, 1413 H, hlm. 150.
  36. Mufid, al-Irsyad, 1413 H, jld. 1, hlm. 64.
  37. Thabari Amoli Shaghir, Nawadir al-Mu'jizat, 1427 H, hlm. 172.
  38. Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar, 1409 H, jld. 2, hlm. 192.
  39. Hilali, Kitab Sulaim bin Qais, 1405 H, jld. 2, hlm. 791.
  40. Thabarsi, al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 1, hlm. 272; Majlisi, Zendegani-ye Hazrat Imam Hasan Mujtaba, 1362 HS, hlm. 70.
  41. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 6, hlm. 379.
  42. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 5, hlm. 575.

Daftar Pustaka

  • Arbali, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Tabriz: Bani Hasyimi, 1381 H.
  • Baihaqi, Ahmad bin al-Husain. Dala'il al-Nubuwwah wa Ma'rifah Ahwal Shahib al-Syari'ah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1405 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabir. Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakkar. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Bustani, Fuad Afram. Farhang-e Abjadi. Tehran: Penerbit Islami, 1375 HS.
  • Gardizi, Abu Said Abdul Hay bin Dhahak. Zain al-Akhbar (Tarikh Gardizi). Tehran: Donya-ye Ketab, 1363 HS.
  • Hilali, Sulaim bin Qais. Kitab Sulaim bin Qais al-Hilali. Qom: al-Hadi, 1405 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Yaqin fi Fadha'il Amirul Mukminin as. Tehran: Kemenag, 1411 H.
  • Hurr Amili, Muhammad bin Hasan. Itsbat al-Hudah bi al-Nushush wa al-Mu'jizat. Beirut: Alami, 1425 H.
  • Ibnu Abi Jumhur, Muhammad bin Zainuddin. Awali al-La'ali al-Aziziyyah fi al-Ahadits al-Diniyyah. Qom: Dar Sayid al-Syuhada, 1405 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam. al-Kamil fi al-Tarikh. Beirut: Dar Sadir, 1385 H.
  • Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Ismail bin Umar. al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad. al-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ibnu Syadzan Qomi, Abul Fadhl Syadzan bin Jibril. al-Raudhah fi Fadha'il Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Qom: Maktabah al-Amin, 1423 H.
  • Ibnu Syu'bah Harrani, Hasan bin Ali. Tuhaf al-'Uqul. Qom: Jami'ah Mudarrisin, 1404 H.
  • Ibnu Syahr Asyub Mazandarani, Muhammad bin Ali. Manaqib Ali Abi Thalib as. Qom: Penerbit Allamah, 1379 H.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. al-Thara'if fi Ma'rifah Madzahib al-Thawa'if. Qom: Khayyam, 1400 H.
  • Isfahani, Abul Faraj Ali bin al-Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.t.
  • Jaza'iri, Ni'matullah bin Abdullah. Kasyf al-Asrar fi Syarh al-Istibshar. Qom: Dar al-Kitab, 1408 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Zendegani-ye Hazrat Imam Husain as (Terjemahan jld. 45 Bihar al-Anwar). Tehran: Islamiyah, 1364 HS.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali. Imta' al-Asma' bi ma li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H.
  • Mudhaffar Najafi, Muhammad Hasan. Dala'il al-Shidq li Nahj al-Haq. Qom: Muassasah Al al-Bait as, 1422 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah 'ala al-'Ibad. Qom: Kongres Syaikh Mufid, 1413 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. al-Ifshah fi al-Imamah. Qom: Kongres Syaikh Mufid, 1413 H.
  • Safi Golpayegani. Muntakhab al-Atsar fi Ahwal al-Imam al-Tsani Asyar. Qom: Kantor Penulis, 1422 H.
  • Sahib bin Abbad, Ismail. al-Muhith fi al-Lughah. Beirut: 'Alam al-Kutub, t.t.
  • Syami, Yusuf bin Hatim. al-Durr al-Nazhim fi Manaqib al-Aimmah. Qom: Jami'ah Mudarrisin, 1420 H.
  • Syusytari, Qadhi Nurullah. Ihqaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'ashi Najafi, 1409 H.
  • Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. al-Ihtijaj 'ala Ahl al-Lajaj. Masyhad: Penerbit Murtadha, 1403 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qubi. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Sadir, t.t.