Kazhim (Gelar)

Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa Kategori
tanpa referensi
Dari wikishia

Al-Kazhim (bahasa Arab: الكاظم) adalah gelar yang paling masyhur dari Imam Musa bin Ja'far as.[1] Penyebab ini disematkan kepada Imam Ketujuh Syiah ini adalah kemampuannya dalam mengontrol amarah.[2] Ia sabar dalam berhadapan dengan kejahatan orang-orang zalim.[3] Dalam kitab-kitab akhlak juga memuat bahwa barang siapa yang dengan kuat mampu mengontrol kemarahannya maka akan disebut dengan Kazhim as.[4]

Dalam kitab Tadzkirah al-Khash karya Sibt bin Jauzi (w. 654 H) disebutkan Imam Musa al-Kazhim as digelari dengan Khazim karena setiap seseorang menghendaki sesuatu darinya maka Imam Musa as mengirimkan untuknya.[5] Sayid Hasyim Ma'ruf al-Hasani (w. 1984) juga dalam kitab Sirah al-Aimmah al-Itsna Asyari dengan bersandar pada riwayat yang dinukil dalam kitab Tadzkirah al-Khawash mengatakan Imam Musa as digelari al-Kazhim as dikarenakan ketika ia dipandang buruk oleh seseorang maka ia mengirimkan harta untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut.[6]

Riwayat-riwayat yang berbeda dari beragam sumber menyebutkan Imam Kazhim as mampu mengontrol amarahnya kepada para musuh dan siapapun yang menilainya buruk.[7] Disebutkan seorang laki-laki dari keturunan Umar bin Khattab menghina Imam Ali as di hadapan Imam Musa al-Kazhim as. Sahabat-sahabat Imam as seketika hendak menyerang orang tersebut, namun Imam melarangnya. Setelah itu Imam pergi ke ladang orang tersebut. Ketika laki-laki itu melihat Imam Kazhim as, dia mulai berteriak agar Imam as tidak menginjak-injak tanamannya. Imam mendekatinya dan bertanya, “Berapa banyak yang Anda habiskan untuk menanam pertanian Anda?”

Laki-laki itu berkata, “100 dinar!”

Lalu Imam bertanya, “Berapa banyak yang Anda bisa dapatkan dari ladang ini?” Orang itu menjawab, "Saya tidak tahu ilmu gaib."

Imam berkata, “Yang saya tanyakan, berapa banyak yang Anda harapkan darinya?”

Laki-laki itu menjawab, “200 dinar!”

Imam kemudian memberinya 300 dinar dan berkata, “300 dinar ini untukmu dan hasil panenmu juga tersisa untukmu.”

Lalu dia pergi ke masjid. Orang itu kemudian bergegas tiba di mesjid lebih awal dan setelah melihat Imam Kazhim as memasuki masjid, ia bangkit menyambut Imam dan membacakan ayat ini dengan lantang, اللَّه أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِ‌سَالَتَهُ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. [Anam-124][8]

Catatan Kaki

  1. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 743.
  2. Ibn Atsir, Al-Kāmil, jld. 6, hlm. 164.
  3. Thabrasi, I'lām al-Warā, jld. 2, hlm. 32.
  4. Narraqi, Jāmi' as-Sa'ādāt, jld. 1, hlm. 333; Ghazali, Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn, jld. 3, hlm. 176.
  5. Sibth bin Jauzi, Tadzkirah al-Khawāsh, hlm. 312.
  6. Al-Hasani, Sīrah al-A'immah al-Itsnai 'Asyar, jld. 3, hlm. 305.
  7. Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 233; Qurasyi, Hayāh al-Imām Mūsā Ibn Ja'far, jld. 2, hlm. 160-162.
  8. Baghdadi, Tārīkh Baghdād, jdl. 13, hlm. 30.

Daftar Pustaka

  • Al-Hasani, Sayyid Hasyim. Sīrah al-A'immah al-Itsnai 'Asyar. Najaf: Perpustakaan al-Haidariyah, 1382 H.
  • Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah Fī Ma'rifah al-A'immah. Qom: Radhi, 1421 H.
  • Ghazali, Muhammad bin Muhammad. Ihyā' 'Ulūm ad-Dīn. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
  • Ibn Atsir, Izzuddin. Al-Kāmil Fī at-Tārīkh. Beirut: Dar as-Shadir, 1385 H.
  • Narraqi, Muhammad Mahdi. Jāmi' al-Sa'ādāt. Beirut: Yayasan al-A'lami Li al-Mathbu'at.
  • Qurasyi, Baqir Syarif. Hayāh al-Imām Mūsā bin Ja'far 'Alaihimā al-Salām. Mehr-e Deldar, 1429 H.
  • Sibht Ibn Jauzi, Yusuf bin Qazaughli. Tadzkirah al-Khawāsh Fī Dzikr Khashā'ish al-A'immah, Qom: Masnsyurat asy-Syarif ar-Radhi, 1418 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. I'lām al-Warā Bi A'lām al-Hudā. Qom: Yayasan Āl al-Bait, 1417 H.