Lompat ke isi

Konsep:Bibliografi Nabi Muhammad saw

Dari wikishia

c || || || || || - || || || editorial box

Novel Payambar (saw) (Nabi saw) karya Naghi Soleimani

Bibliografi Nabi Muhammad saw (bahasa Persia: کتاب‌شناسی پیامبر ص) adalah kumpulan karya tulis mengenai Rasulullah saw dalam topik-topik seperti Penulisan Sirah, Studi Sirah, penulisan hadis, Penulisan Maghazi, Penulisan Syamail, penulisan Dalail (bukti kenabian), Penulisan Manaqib, dan Penulisan Khasais. Selain itu, karya sastra berbentuk nazham (puisi) dan prosa, serta karya-karya tentang Nabi saw dalam sastra anak dan remaja juga termasuk dalam bibliografi ini.

Di antara para nabi Ilahi dan tokoh-tokoh sejarah yang berpengaruh, Nabi Muhammad saw dianggap sebagai satu-satunya tokoh yang memiliki karya tulis terbanyak mengenai dirinya dibandingkan dengan yang lain. Dikatakan bahwa penulisan tentang beliau dimulai tak lama setelah wafatnya dan berkembang pesat pada periode-periode berikutnya. Karya-karya ini telah ditulis dan diterbitkan dalam berbagai bahasa dan bentuk. Banyak dari karya ini ditulis oleh orang-orang beriman dan pecintanya, sementara beberapa lainnya ditulis oleh para penentangnya.

Di antara tulisan-tulisan mengenai Nabi saw, Penulisan Sirah dianggap sebagai jenis penulisan pertama dan Syiah dianggap sebagai pelopor dalam bidang ini. Sirah Ibnu Ishaq karya Muhammad bin Ishaq (W. 151 H) disebut sebagai sirah Nabawi komprehensif dan independen yang pertama. Dalam bidang studi sirah, kitab Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham karya Sayid Ja'far Murtadha Amili (W. 1441 H), seorang sejarawan Syiah, disebut sebagai karya yang menonjol.

Kedudukan Nabi saw dalam Budaya Tulis Global

Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham karya Sayid Ja'far Murtadha Amili, sejarawan Syiah

Di antara para nabi Ilahi dan tokoh sejarah yang berpengaruh, Nabi Muhammad saw dianggap sebagai satu-satunya tokoh yang, dibandingkan dengan yang lain, memiliki karya tulis yang sangat banyak mengenai dirinya.[1] Dikatakan bahwa penulisan tentang beliau dimulai tak lama setelah wafatnya dan berkembang pesat pada periode-periode berikutnya.[2]

Disebutkan bahwa karya-karya ini telah ditulis dan diterbitkan dalam berbagai bahasa dan bentuk.[3] Banyak dari karya ini ditulis oleh orang-orang beriman dan pecintanya, dan beberapa lainnya oleh para penentangnya.[4]

Tulisan-tulisan mengenai beliau diklasifikasikan dalam topik-topik seperti Penulisan Sirah, Studi Sirah, penulisan hadis, Penulisan Maghazi, penulisan Syamail (karakteristik fisik dan akhlak), penulisan Dalail (bukti kenabian), Penulisan Manaqib, dan Penulisan Khasais.[5] Selain itu, karya sastra berbentuk puisi dan prosa serta karya-karya tentang Nabi saw dalam sastra anak dan remaja juga dimasukkan dalam bibliografi tentang beliau.[6]

Di antara tulisan-tulisan ini, penulisan sirah dianggap sebagai jenis penulisan pertama dan sebuah karya dari Sahl bin Abi Hatsmah (W. sekitar 41 H) dianggap sebagai contoh pertama penulisan sirah.[7] Dalam bidang studi sirah, kitab Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham karya Sayid Ja'far Murtadha Amili (W. 1441 H), seorang sejarawan Syiah, dikenang sebagai karya yang menonjol.[8]

Mengenai karya-karya yang ditulis tentang Nabi saw, beberapa indeks (daftar) juga telah disusun; antara lain: Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah saw karya Salahuddin Munajjid (W. 1431 H), seorang bibliografer Suriah, yang memuat daftar tulisan berbahasa Arab dari sekitar 1550 penulis;[9] Kitab-syenasi Payambar saw (Bibliografi Nabi saw) yang disiapkan oleh Pusat Informasi Islam Nasional (PARSA) yang memuat daftar sekitar 4400 buku dalam bahasa Persia dan Arab;[10] Maqaleh-syenasi Payambar Eslam saw (Bibliografi Artikel Nabi Islam saw) yang disiapkan oleh Khane-ye Pazhuhesy Qom (Rumah Riset Qom) yang memuat daftar sekitar 1400 artikel dalam bahasa Persia.[11]

Penulisan Sirah

Subul al-Huda wa al-Rasyad karya Muhammad bin Yusuf Shalihi Syami (W. 942 H)

Penulisan sirah (Sireh-negari) merujuk pada tulisan-tulisan yang melaporkan berita terkait awal dakwah Islam serta penjelasan tentang keadaan dan sejarah peperangan (ghazwah) Rasulullah saw.[12] Penulisan sirah dianggap sebagai topik pertama dari historiografi Islam yang mendapat perhatian para sejarawan Muslim.[13] Alasan hal ini adalah diperkenalkannya Nabi saw dalam Al-Qur'an sebagai teladan (uswah); hal yang mendorong umat Islam untuk mengatur kehidupan individu dan sosial mereka sesuai dengan ucapan dan tindakan Nabi saw.[14]

Menurut Rasul Jafarian, peneliti sejarah Islam, penulisan sirah sejak awal mencakup dua bagian mendasar: Bi'tsah (pengutusan) yang dimulai dari penjelasan keadaan leluhur Nabi saw dan berakhir dengan Hijrah; dan Maghazi yang mencakup peristiwa militer dan non-militer setelah hijrah.[15]

Menurut Shadiq Ainawand (W. 1394 HS/2015), peneliti sejarah Islam, landasan munculnya jenis tulisan ini adalah bab-bab maghazi dan sirah dalam kitab-kitab hadis yang setelah beberapa waktu mendapat perhatian secara independen.[16] Ia menganggap gerakan ilmiah penulisan sirah sebagai gerakan yang luas dan berkembang pesat di mana umat Islam telah menghasilkan banyak karya di bidang ini.[17] Meskipun jumlah karya ini sangat banyak, Munajjid telah menyajikan daftar dari karya-karya tersebut.[18]

Sebuah karya dari sejarawan Syiah Aban bin Utsman al-Ahmar

Menurut beberapa peneliti, karya-karya terkait sirah Nabawi diproduksi dalam periode yang berbeda dengan bentuk dan pendekatan yang beragam: Banyak informasi terkait sirah Rasulullah saw dinukil dalam karya-karya sejarah lainnya, seperti sejarah umum, Thabaqat, Tarajim (biografi),[19] dan monografi tematik.[20] Selain itu, karya-karya dengan pendekatan tematik tentang Nabi saw, seperti penulisan Syamail dan penulisan Dalail, juga dikategorikan di bawah karya-karya sirah.[21]

Sayid Hasan Sadr dalam kitab Ta'sis al-Syi'ah li 'Ulum al-Islam, menganggap Syiah sebagai pelopor dalam penulisan sirah.[22] Dalam beberapa sumber, para penulis sirah awal Syiah di bidang sirah Nabawi, yang sebagian merupakan murid para Imam as, telah didaftar; orang-orang seperti Aban bin Taghlib (W. 141 H), Abu Mikhnaf (W. 157 H), Abu Ma'syar al-Sindi (W. 170 H), Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya al-Madani (W. 184 H), Abdullah bin Maimun al-Qaddah (W. abad ke-2 H), Aban bin Utsman al-Ahmar (W. abad ke-2 H), Muhammad bin Abi Umair (W. 217 H), Ahmad bin Muhammad bin Khalid al-Barqi (W. 274 atau 280 H), dan Bani Fadhal.[23]

Karya Terkemuka

Sirah Ibnu Ishaq karya Muhammad bin Ishaq (W. 151 H) disebut sebagai sirah Nabawi yang komprehensif dan independen pertama, yang karena urutan logis dalam penukilan peristiwa, dikenal sebagai karya orisinal pertama di bidang ini.[24] Di antara karya-karya terkemuka dan independen lainnya di bidang ini disebutkan hal-hal berikut:

  • Aujad al-Siyar li Khair al-Basyar karya Ahmad bin Faris al-Lughawi (W. 395 H)
  • Al-Durar fi Ikhtishar al-Maghazi wa al-Siyar karya Ibnu Abdil Barr al-Andalusi (W. 463 H)
  • Jawami' al-Sirah karya Ibnu Hazm al-Andalusi (W. 456 H)
  • Al-Wafa bi Ahwal al-Musthafa karya Ibnu Jauzi (W. 597 H)
  • Subul al-Huda wa al-Rasyad karya Muhammad bin Yusuf Shalihi Syami (W. 942 H)
  • Al-Sirah al-Halabiyyah karya Ali bin Ibrahim Halabi (W. 1044 H).[25]

Studi Sirah

Sireh-ye Rasulullah karya Abbas Zaryab Khui (W. 1373 HS)

Studi sirah (Sireh-pazhuhi) dianggap sebagai jenis Studi Islam yang secara interdisipliner meneliti tentang sirah Nabi saw dan para maksum lainnya.[26] Berdasarkan hal ini, dikatakan bahwa studi sirah bukanlah ilmu yang mandiri, melainkan cabang interdisipliner yang dengan bantuan beberapa ilmu Islam, seperti sejarah, hadis, dan kalam, menelaah dalil dan kredibilitas berita dengan metode analitis dan kritis.[27]

Dalam beberapa penelitian, berdasarkan tujuan dalam studi sirah, para peneliti sirah dibagi menjadi tiga kelompok:[28] Pertama, kelompok yang menggunakan sirah sebagai sumber pengetahuan agama dan merujuk pada sirah Rasulullah saw dengan tujuan menemukan ajaran fikih;[29] Kedua, kelompok yang memandang sirah sebagai laporan sejarah dan mempelajari sirah Nabi saw dengan tujuan menyingkap peristiwa eksternal;[30] Ketiga, kelompok yang mengenal sirah sebagai model praktis dan menelaah sirah dengan tujuan mengenal gaya hidup Nabi saw.[31]

Menurut Murtadha Kariminia, peneliti sirah, perhatian terhadap penelitian sirah Nabi saw di kalangan Muslim, baik di negara-negara Islam maupun di negara-negara Barat dan tradisi akademis mereka, sangat signifikan.[32] Selain itu, studi sirah dianggap sebagai cabang dari penelitian luas para Islamolog non-Muslim.[33]

Di kalangan Ahlusunah, Fiqh al-Sirah karya Muhammad Ghazali (W. 1416 H) dan di kalangan Syiah, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham karya Sayid Ja'far Murtadha Amili (W. 1441 H), Sireh-ye Rasul-e Khoda az Aghaz ta Hejrat (Sirah Rasulullah dari Awal hingga Hijrah) karya Abbas Zaryab Khui, Seiri dar Sireh-ye Nabawi (Perjalanan dalam Sirah Nabi) karya Murtadha Muthahhari, dan Sireh-ye Rasul-e Khoda (dari kumpulan Sejarah Politik Islam) karya Rasul Jafarian dianggap sebagai karya studi sirah terkemuka di kalangan umat Islam.[34]

Buku Muhammad (saw) karya Maxime Rodinson (W. 2004)

Studi Sirah dalam Karya Non-Muslim

Latar belakang studi sirah di kalangan non-Muslim dan orientalis pada Abad Pertengahan serta karya-karya polemik sebagian dari mereka terhadap Nabi saw dan kenabian beliau telah ditunjukkan;[35] namun demikian, Harald Motzki (W. 2019), Islamolog Jerman, menunjukkan latar belakang kajian ilmiah sirah Nabi saw di Barat pada paruh pertama abad ke-19 Masehi: Sirah riset pertama diterbitkan oleh Gustav Weil (W. 1889), Islamolog Jerman, pada tahun 1843 yang selain Al-Qur'an juga didasarkan pada sejumlah sumber Islam di masa kemudian.[36]

Motzki menunjukkan tiga pendekatan dasar dalam sejarah studi sirah non-Muslim:

  • Pendekatan optimis terhadap sumber-sumber sirah tanpa kekhawatiran bahwa waktu penyusunan sumber-sumber ini kembali ke dua atau tiga abad setelah wafatnya Rasulullah saw.[37]
  • Pendekatan skeptis terhadap keaslian sumber-sumber sirah yang meluas setelah penerbitan bagian kedua buku Muhammedanische Studien (Studi Islam) karya Ignaz Goldziher pada tahun 1890.[38] Penerbitan buku ini menyebabkan munculnya orientalis yang meyakini bahwa hampir semua riwayat terkait sirah adalah palsu; orang-orang seperti Leone Caetani (W. 1935), Joseph Schacht (W. 1969) dalam buku The Origins of Muhammadan Jurisprudence, John Wansbrough (W. 2020) dalam buku Quranic Studies, dan Michael Cook dalam buku Muhammad.[39]
  • Pendekatan moderat berdasarkan keyakinan pada nilai yang tidak pasti atau meragukan dari sumber-sumber sirah dan upaya untuk menulis sirah dengan mengandalkan pandangan kritis.[40] Pendekatan ini ditunjukkan dalam karya-karya seperti Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956) karya William Montgomery Watt, Mohammed und der Koran karya Rudi Paret (W. 1983), dan Mahomet karya Maxime Rodinson (W. 2004).[41]
Al-Maghazi karya Muhammad bin Umar al-Waqidi (W. 207 H)

Penulisan Hadis

Penulisan hadis atau penulisan sirah perkataan (sireh-ye goftari)[42] sebagai pengumpulan dan pencatatan riwayat-riwayat Nabi saw, baik secara terbatas dan tematik maupun secara umum dan berdasarkan urutan abjad, dianggap sebagai salah satu jenis tulisan tentang Nabi saw.[43]

Dikatakan bahwa di kalangan Ahlusunah, jenis penulisan ini berfokus pada riwayat Nabi saw serta perkataan dan fatwa Sahabat dan Tabi'in, dan banyak karya telah dihasilkan di bidang ini yang mencakup sebagian besar tulisan hadis mereka.[44] Di antara karya-karya ini adalah Kutubussittah (Enam Kitab Induk Hadis) dan karya-karya seperti Al-Jami' al-Shaghir min Hadits al-Basyir al-Nadzir karya Jalaluddin Suyuthi (W. 911 H) dan Kanz al-'Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af'al karya Muttaqi Hindi (W. 975 H).[45]

Menurut beberapa sumber, di kalangan Syiah, karena penambahan perkataan dan perbuatan para Imam as sebagai sumber agama di samping perkataan dan perbuatan Nabi saw, dalam sebagian besar kitab hadis, hadis-hadis Nabi saw dikumpulkan bersama riwayat para maksum lainnya.[46] Berdasarkan hal ini, dikatakan bahwa riwayat Nabi saw telah dikumpulkan di sebagian besar kompilasi hadis Syiah, termasuk Kutub Arba'ah, dan karya-karya juga telah ditulis secara khusus tentang Nabi saw di bidang ini, di antaranya adalah kitab Ain al-Hayat karya Muhammad Baqir al-Majlisi dan Nahj al-Fashahah karya Abul Qasim Payandeh (W. 1363 HS).[47]

Penulisan Maghazi

Templat:Artikel Utama Menurut beberapa peneliti, penulisan Maghazi (Maghazi-negari), berdasarkan adanya dua makna khusus dan umum dari maghazi, merujuk pada dua jenis historiografi tentang Nabi saw: berdasarkan makna umum, setara dengan konsep Penulisan Sirah, dan berdasarkan makna khusus merujuk pada jenis tulisan yang tujuannya adalah menukil peristiwa terkait peperangan Nabi saw.[48]

Penyusunan maghazi dalam sejarah Islam karena penulisan monografi tentang peperangan (ghazwat), dianggap sebagai tulisan sejarah Islam pertama, sangat awal dan sebelum penulisan kitab-kitab sirah yang komprehensif.[49] Menurut laporan beberapa peneliti, banyak kitab maghazi awal telah hilang; namun demikian, salah satu darinya tetap ada meskipun sudah tua: Kitab Al-Maghazi karya Muhammad bin Umar al-Waqidi (W. 207 H).[50] Kitab ini dianggap sebagai salah satu dasar penting di mana banyak tulisan selanjutnya dalam sirah dan maghazi bergantung pada nukilannya.[51]

Munajjid telah menyajikan daftar karya penulisan maghazi.[52] Aqa Bozorg Tehrani mencantumkan penulis Syiah yang karyanya berjudul maghazi dinisbatkan kepada mereka dalam Al-Dzari'ah; di antaranya: Abu Mikhnaf (W. 157 H), Aban bin Utsman al-Ahmar (W. 170 H), Ahmad bin Muhammad bin Khalid al-Barqi, Ibrahim bin Muhammad al-Tsaqafi al-Kufi (W. 283 H), dan Ali bin Ibrahim al-Qummi (hidup pada 307 H).[53]

Penulisan Syamail

Templat:Artikel Utama

Syamail al-Nabi karya Tirmidzi terjemahan Mahmoud Mahdavi Damghani

Salah satu jenis tulisan lain tentang Nabi saw dianggap sebagai penulisan Syamail (Syamail-nevisi), yang merupakan upaya untuk menggambarkan karakteristik fisik Nabi saw, di samping deskripsi kebaikan akhlaknya.[54] Alasan munculnya tulisan semacam itu oleh beberapa peneliti digambarkan sebagai berikut: Karena pengetahuan tentang penampilan fisik Nabi saw, seperti sirah perilaku beliau, sangat penting bagi umat Islam, deskripsi penampilan fisiknya menarik perhatian banyak dari mereka.[55]

Hal inilah yang dianggap menyebabkan banyak ulama Syiah dan Sunni selama berabad-abad berusaha mendeskripsikan wajah Nabi saw, di samping mendeskripsikan sifat-sifat akhlaknya; upaya yang menghasilkan penyusunan banyak karya independen dan non-independen di bidang ini;[56] di antaranya Syama'il al-Nabi, karya Abu Isa Muhammad bin Isa Tirmidzi (W. 279 H), Akhlaq al-Nabi karya Ibnu Abi al-Syaikh (W. 369 H), Syama'il al-Nabi karya Ja'far bin Muhammad Mustaghfiri (W. 432 H), dan Al-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa karya Qadhi Iyadh (W. 544 H).[57] Di antara karya-karya yang dinisbatkan kepada beberapa penulis awal Syiah, buku-buku dengan judul yang berkaitan dengan penulisan Syamail juga dilaporkan; termasuk kitab Shifat al-Nabi karya Wahb bin Wahb[58] dan kitab Aushaf al-Nabi karya Syekh Shaduq.[59]

Di antara buku-buku yang ada di bidang penulisan Syamail, kitab Syamail al-Nabi karya Tirmidzi dianggap sebagai yang pertama[60] dan terbaik.[61] Menurut laporan beberapa peneliti, berbagai syarah (penjelasan) telah ditulis untuk buku ini, juga diringkas, diterjemahkan, dan riwayat-riwayatnya dinukil dalam kitab-kitab Syiah dan Ahlusunah;[62] dalam karya-karya Syiah, riwayat-riwayatnya dinukil dalam Manaqib Ibnu Syahr Asyub dan Bihar al-Anwar, dan Syekh Abbas al-Qummi, ahli hadis Syiah, menyusun ringkasannya dengan judul Mukhtashar al-Syama'il al-Muhammadiyyah.[63]

Penulisan Dalail

Dala'il al-Nubuwwah karya Abu Nu'aim al-Isfahani

Penulisan Dalail (Dalail-negari) atau Alamat al-Nubuwwah[64] atau A'lam al-Nubuwwah[65] dianggap sebagai kecenderungan khusus dalam Penulisan Sirah di mana pembuktian kenabian Rasulullah saw dan penukilan sirah beliau dilakukan dalam bentuk penyebutan mukjizat-mukjizatnya.[66] Alasan munculnya tulisan semacam itu dianggap karena penyebaran Islam di wilayah-wilayah baru pada abad-abad awal dan perlunya umat Islam membela kenabian Rasulullah saw di hadapan non-Muslim dan membuktikannya.[67]

Rasul Jafarian, sejarawan Syiah, menganggap periode berkembangnya penulisan Dalail pada abad ke-4 Hijriah;[68] meskipun demikian, beberapa peneliti meyakini bahwa latar belakang penulisan di bidang ini kembali ke masa sebelum itu, pada awal abad ke-3 Hijriah dan dalam karya-karya sejarawan seperti Madaini (W. 224 atau 228 H) dan Ibnu Qutaibah al-Dinawari (W. 276 H).[69]

Dalam beberapa karya, disebutkan beberapa kitab penulisan Dalail yang paling penting: Al-Din wa al-Daulah fi Itsbat Nubuwwah al-Nabi Muhammad saw karya Ali bin Rabban Thabari (W. 260 H), ayat al-Nabi karya Madaini, A'lam al-Nubuwwah karya Abu Dawud Sajistani (W. 275 H), Tatsbit Dala'il al-Nubuwwah karya Qadhi Abd al-Jabbar Mu'tazili (W. 416 H), Dala'il al-Nubuwwah karya Abu Nu'aim al-Isfahani (W. 430 H), dan Dala'il al-Nubuwwah wa Ma'rifah Ahwal Shahib al-Syari'ah karya Ahmad bin Husain Baihaqi (W. 458 H).[70]

Penulisan Manaqib

Penulisan Manaqib (Manaqib-negari) atau penulisan fadhail[71] dianggap sebagai salah satu metode pengumpulan Hadis yang umum dalam sejarah umat Islam sejak awal periode kodifikasi hadis.[72] Dalam metode ini, subjek hadis yang dikumpulkan dalam satu koleksi adalah keutamaan dan kemuliaan Nabi saw, Ahlulbait as lainnya, dan Sahabat (di kalangan Ahlusunah).[73] Berdasarkan hal ini, sebagian dari karya penulisan manaqib, baik secara khusus maupun tidak, ditulis mengenai Nabi saw.[74]

Di antara penulisan manaqib khusus tentang Nabi saw, disebutkan kitab Mathalib al-Sa'ul fi Manaqib al-Rasul karya Muhammad bin Thalhah Syafi'i (W. 652 H) dan Ujalah al-Rakib fi Dzikr Asyraf al-Manaqib karya Ibnu Zamlakani Dimasyqi (W. 727 H).[75] Di antara penulisan manaqib non-khusus tentang Nabi saw di kalangan Syiah dan Ahlusunah, disebutkan hal-hal berikut:

  • Syiah: Manaqib Al Abi Thalib karya Ibnu Syahr Asyub (W. 588 H) yang dianggap sebagai tulisan manaqib paling komprehensif[76] dan Al-Tsaqib fi al-Manaqib karya Ibnu Hamzah Thusi, dari abad ke-6 H, yang dianggap sebagai salah satu karya manaqib paling terkenal.[77]
  • Ahlusunah: Kitab Al-Samthain fi Manaqib al-Rasul wa al-Batul wa al-Sibthain, karya Ibrahim bin Muhammad Juwaini (W. 722 H), Nazhm Durar al-Samthain fi Fadha'il al-Musthafa wa al-Murtadha wa al-Batul wa al-Sibthain karya Muhammad bin Yusuf Zarandi Hanafi (W. 750 H).[78]
Al-Mawahib al-Ladunniyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah, karya Ahmad bin Muhammad Qasthalani (W. 923 H)

Penulisan Khasais

Penulisan Khasais (Khasais-negari) merujuk pada tulisan-tulisan yang ditulis mengenai hal-hal khusus Nabi saw; hal-hal yang disebut dengan judul Khashaish al-Nabi.[79] Yang dimaksud dengan Khashaish al-Nabi adalah karakteristik unik pribadi Nabi saw dan juga ajarannya yang membedakannya dari orang lain, baik Muslim maupun nabi-nabi lainnya.[80] Munculnya jenis tulisan ini, karena perhatian pada judul dan topik baru dalam sirah Nabi saw, dianggap sebagai transformasi besar dalam penulisan sirah.[81]

Buku tertua yang tersisa mengenai penulisan Khasais disebutkan adalah kitab Nihayah al-Su'ul fi Khasha'ish al-Rasul karya Umar bin Hasan al-Andalusi, yang dikenal sebagai Ibnu Dihyah al-Kalbi (W. 633 H).[82] Juga di antara karya terpenting di bidang ini adalah kitab Kifayah al-Thalib al-Labib fi Khasha'ish al-Habib, yang dikenal sebagai Al-Khasha'ish al-Kubra, karya Suyuthi.[83] Al-Lafzh al-Mukarram fi Khasha'ish al-Nabi karya Ahmad bin Abdussalam Syafi'i (W. 931 H) dan Al-Mawahib al-Ladunniyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah, karya Ahmad bin Muhammad Qasthalani (W. 923 H) adalah karya lain yang ditulis di bidang ini.[84]

Di antara karya-karya Syiah, Najasyi, ulama Rijal Syiah, menyebutkan keberadaan sebuah buku berjudul Khasha'ish al-Nabi di bawah karya-karya seseorang bernama Ahmad bin Muhammad Daul al-Qummi (W. 350 H).[85]

Bait pertama dari Musammat Adib al-Mamalik Farahani tentang kelahiran Nabi saw

Bangkitlah wahai pawang unta, ikatlah tandu
Karena dari cakrawala telah tampak panji Kaveh
Di dahan pohon terdengar suara burung Cakaveh
Dan karena panjangnya perjalanan, penyesalanku bertambah
Lewatilah dengan cepat, dari sungai Samawah
Lihatlah di mataku Danau Saveh
Dan dari dadaku Kuil Api Pars tampak [86]

Karya Sastra Puisi

Menurut beberapa peneliti, banyak penyair dalam bahasa Persia, Arab, dan bahasa-bahasa lain di Dunia Islam telah menggubah puisi tentang Nabi Muhammad saw dan memujinya, di antara karya-karya mereka ada yang, karena nilai sejarah dan sastranya, berada di atas karya-karya lainnya, sehingga disebutkan secara khusus.[87] Dikatakan bahwa dalam Diwan (kumpulan puisi) penyair Muslim, ada puisi-puisi yang didedikasikan untuk memuji Nabi saw; sehingga misalnya di awal nazham (puisi) Persia, setelah memuji Tuhan, pujian kepada Nabi saw adalah topik kedua.[88]

Muhammad Reza Hakimi, peneliti sastra agama, menyebutkan beberapa karya ini dalam sastra Arab: Qasidah Lamiyah karya Ka'ab bin Zuhair (W. 26 H), Qasidah Burdah karya Bushiri (W. 694 H), Qasidah Kafiyah karya Safiuddin Hilli (W. 750 H), Qasidah Qur'aniyah Nabawiyah karya Ibnu Jabir al-Andalusi (W. 780 H), Qasidah Mimiyah karya Husain bin Abdul Shamad al-Haritsi ayah Syekh Bahai, dan Qasidah Nuniyah Nabawiyah karya Muhammad Shalih Hairi Mazandarani.[89]

Menurut laporan Hakimi, dalam Diwan penyair berbahasa Persia juga, sejak zaman paling kuno, terdapat banyak contoh puisi tentang pujian kepada Nabi saw; di antaranya bait-bait pujian Nabi saw dalam Syahnameh Abul Qasim Firdausi, Tarkib-band Jamaluddin Abdurrazzaq Isfahani tentang Nabi saw (W. sekitar 588 H), madah (pujian) Nizhami Ganjawi (W. 614 H) dalam pengantar Masnawi-nya, Musammath Adib al-Mamalik Farahani tentang kelahiran Nabi saw (W. 1336 H), Taj-e Risalat karya Muhammad Husain Gharawi Isfahani (1361 H), Qasidah Awaz-e Nabi karya Sayid Karim Amiri Firuzkuhi (1363 HS/1985), dan Qasidah Payam karya Ni'mat Azram Khurasani.[90]

Di antara karya sastra puisi Persia tentang Nabi saw, juga disebutkan puisi-puisi bertema khusus tentang Nabi saw seperti Mi'raj-nameh di mana kisah Mi'raj Nabi saw dituangkan dalam bentuk puisi.[91] Dalam beberapa sumber, dikumpulkan Mi'raj-nameh dari Sanai Ghaznawi, Nizhami Ganjawi, Abdurrahman Jami, Wahsy Bafqi, dan Syahriar.[92]

Payambar (Nabi) karya Zainal Abidin Rahnema

Karya Sastra Prosa

Haft Hekayat az Bache-ha wa Payambar (Tujuh Cerita dari Anak-anak dan Nabi) karya Musthafa Rahmandust

Di antara banyak karya yang ditulis tentang Nabi, beberapa dianggap sebagai karya sastra yang membahas kehidupan dan sirah Nabi saw dalam bahasa Persia dan Arab;[93] antara lain:

  • Bagian-bagian yang berkaitan dengan kehidupan Nabi saw dari kitab Tarikh-e Bal'ami yang merupakan terjemahan kuno ke dalam bahasa Persia dari Tarikh al-Thabari dan dianggap memiliki nilai sastra yang tinggi dalam bahasa Persia.[94]
  • Kitab Sirat-e Rasulullah saw terjemahan ke bahasa Persia dari Sirah Ibnu Ishaq, ditulis oleh Rafi'uddin Ishaq bin Muhammad Hamadani (W. 623 H) yang dianggap sebagai teks sastra yang patut diperhatikan dalam bahasa Persia.[95]
  • Muhammad Rasulullah wa al-ladzina ma'ahu karya Abdul Hamid bin Judah al-Sahhar (W. 1974), novelis dan penulis skenario Mesir, yang dalam 20 jilid meriwayatkan kehidupan Nabi saw dengan gaya novel sejarah.[96]
  • Kitab Payambar saw karya Zainal Abidin Rahnema (W. 1368 HS/1989) yang diterbitkan di Damaskus pada tahun 1316 HS/1938.[97] Buku ini dianggap sebagai buku pertama bergaya novel sejarah Barat yang ditulis dalam bahasa Persia tentang kehidupan Nabi saw.[98]
  • Akharin Payam-awar (Pembawa Pesan Terakhir) karya Sayid Muhammad Shadiq Musavi Garmaroudi di mana masa kanak-kanak dan remaja Nabi saw diriwayatkan dalam bahasa cerita.[99]
  • Kumpulan 20 jilid Payambar saw karya Misagh Amir Fajr yang diterbitkan oleh Lembaga Mahd Quran Karim.[100]
  • Dastan-hayi baraye Film-nameh Piramun-e Payambar-e A'zam saw (Cerita-cerita untuk Skenario Seputar Nabi saw) karya Mahdi Dawudabadi yang diterbitkan oleh Penerbit Din wa Resaneh pada tahun 1392 HS/2014.[101]
  • Be Amin Begu Dustesy Daram (Katakan pada Amin Aku Mencintainya), sebuah novel karya Maryam Rahi yang diterbitkan oleh Penerbit Kitab Nistan pada tahun 1399 HS/2020.[102]

Sastra Anak dan Remaja

Dalam bidang sastra anak dan remaja, banyak karya telah ditulis tentang Nabi saw yang dalam beberapa sumber daftarnya sebagai berikut:

  • Haft Hekayat az Bache-ha wa Payambar saw (Tujuh Cerita dari Anak-anak dan Nabi saw) karya Musthafa Rahmandust untuk anak-anak (1374 HS/1996).[103]
  • Anak An Yatim-e Nazar Kardeh (Itulah Anak Yatim yang Terpilih), novel dalam empat jilid karya Mohammad Reza Sarshar untuk remaja (1374 HS/1996).[104]
  • Ey Rasul-e Khuda! (Wahai Rasulullah!) karya Reza Shirazi untuk kelompok usia remaja (1379 HS/2000).[105]
  • Muhammad, novel berdasarkan kehidupan Nabi Islam saw karya Ibrahim Hasan Beigi untuk kelompok usia remaja (1386 HS/2008).[106]
  • Payambar saw, novel panjang dalam 9 jilid untuk remaja karya Naqi Sulaimani (1387 HS/2009).[107]
  • Payambar wa Qesse-hayesy (Nabi dan Kisah-kisahnya) karya Ghulamreza Haidari Abhari, koleksi tiga jilid untuk anak-anak (1392 HS/2014).[108]
  • 365 Qesseh az Zendegi-ye Hazrat-e Muhammad saw (365 Kisah dari Kehidupan Nabi Muhammad saw) karya Majid Mulla Muhammadi untuk kelompok usia anak-anak (1398 HS/2019).[109]
  • Seh Kahen (Tiga Pendeta) karya Majid Qaishari untuk remaja (1399 HS/2020).[110]

Catatan Kaki

  1. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 9.
  2. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 9.
  3. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 9.
  4. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 9.
  5. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 9-12.
  6. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 9-12.
  7. Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 233; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48-49.
  8. Sepehri, Sirat-e Javidaneh, 1384 HS, jld. 1, hlm. 20.
  9. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 3.
  10. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 4.
  11. Khane-ye Pazhuhesh Qom, Maqaleh-shinasi Payambar Eslam (saw), 1383 HS, hlm. 4.
  12. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 249.
  13. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 249.
  14. Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
  15. Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 45.
  16. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 250.
  17. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 251.
  18. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 110-132.
  19. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 203-318.
  20. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 319-338.
  21. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 339-419.
  22. Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 232.
  23. Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 235; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 51-112.
  24. Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 62; Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 111.
  25. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 183-192; Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 108-109.
  26. Mardani, «Mabadi-ye Sireh-pazhuhi», hlm. 98.
  27. Mardani, «Mabadi-ye Sireh-pazhuhi», hlm. 98.
  28. Mardani, «Mabadi-ye Sireh-pazhuhi», hlm. 101-102.
  29. Thusi, Al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh, 1417 H, jld. 2, hlm. 565-567; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma'ad, 1415 H, jld. 1, hlm. 39-40.
  30. Sebagai contoh lihat: Amili, Al-Shahih, 1415 H, jld. 1, hlm. 13.
  31. Sebagai contoh lihat: Thabathaba'i, Sunan al-Nabi (saw), 1422 H, hlm. 92-93.
  32. Kariminia, «Moqaddameh-ye Virastar», hlm. 7.
  33. Kariminia, «Moqaddameh-ye Virastar», hlm. 7.
  34. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 248-254.
  35. Kariminia, «Seiri Ejmali dar Sireh-negari-ye Payambar-e Eslam dar Gharb», hlm. 12.
  36. Motzki, «Moqaddameh», hlm. 9.
  37. Motzki, «Moqaddameh», hlm. 9-10.
  38. Motzki, «Moqaddameh», hlm. 10.
  39. Motzki, «Moqaddameh», hlm. 10-13.
  40. Motzki, «Moqaddameh», hlm. 10-11.
  41. Motzki, «Moqaddameh», hlm. 11-12.
  42. Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
  43. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 247.
  44. Fadhli, Ushul al-Hadits, 1420 H, hlm. 43.
  45. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 252-260.
  46. Ma'aref, Tarikh-e Omumi-ye Hadits, 1396 HS, hlm. 32.
  47. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 148.
  48. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 288.
  49. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 363.
  50. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 363.
  51. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 363-364.
  52. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 133-138.
  53. Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 21, hlm. 289-291.
  54. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 6, hlm. 11.
  55. Muhammadi, «Jamal-e Aftab: Syamail-shenasi-ye Rasul-e Khoda (saw)», hlm. 162.
  56. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 6, hlm. 11; Muhammadi, «Jamal-e Aftab: Syamail-shenasi-ye Rasul-e Khoda (saw)», hlm. 162.
  57. Haji Khalifah, Kasyf al-Zhunun, 1941 M, jld. 2, hlm. 1059; Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 347-353.
  58. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 430.
  59. «Majmu'eh Atsar-e Syekh Shaduq», di situs Pusat Riset Komputer Noor.
  60. Sakhawi, Al-I'lan bi al-Taubikh, Beirut, hlm. 168.
  61. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 6, hlm. 11.
  62. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 192-195; Muhammadi, «Jamal-e Aftab: Syamail-shenasi-ye Rasul-e Khoda (saw)», hlm. 162.
  63. Tirmidzi, Syamail al-Nabi, 1372 HS, Pengantar Penerjemah, hlm. 13; Sekelompok Penulis, Syenakht-nameh-ye Mohaddes Qommi, 1389 HS, hlm. 21.
  64. Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 102.
  65. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 380.
  66. Khanjani, «Dalail-negari dar Sireh-ye Nabawi», hlm. 61.
  67. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 379-380; Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 100.
  68. Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslam, 1393 HS, hlm. 99.
  69. Khanjani, «Dalail-negari dar Sireh-ye Nabawi», hlm. 61.
  70. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 62-65; Khanjani, «Dalail-negari dar Sireh-ye Nabawi», hlm. 132-135.
  71. Asgharpour, «Barresi-ye Mehvar-haye Manaqib va Fazail dar Kotob-e Sheshganeh Ahl-e Sonnat», hlm. 40.
  72. Asgharpour, «Kitab-shinasi-ye Tarikhi-ye Manaqib-negari-ye Ahl-e Bait (as) az Aghaz ta Payan-e Qarn-e Sevvom», hlm. 130.
  73. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 345; Thabathaba'i, Tarikh-e Hadits-e Syi'eh, 1390 HS, jld. 2, hlm. 39.
  74. Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 345.
  75. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 191.
  76. Ma'aref dkk, «Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Bait Miras-e Mosytarak-e Ommat», hlm. 117.
  77. Gerami, «Jaygah-e Imam Reza dar Adabiyat-e Sireh-negari va Manaqib-negari», hlm. 107.
  78. Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 191.
  79. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 410.
  80. Husaini Semnani, «Khashaish al-Nabi», hlm. 544.
  81. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 410.
  82. Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 411.
  83. Husaini Semnani, «Khashaish al-Nabi», hlm. 544.
  84. Husaini Semnani, «Khashaish al-Nabi», hlm. 544-545.
  85. Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 90.
  86. Adib al-Mamalik Farahani, Divan-e Kamel-e Adib al-Mamalik Farahani, 1378 HS, jld. 1, hlm. 499.
  87. Razavipur, «Baztabi az Syakhsiyat-e Payambar (saw) dar Seh Qasideh-ye Ziba-ye Arabi», hlm. 14.
  88. Hasani Jalilian, «Chegunegi-ye Yadkard-e Payambar (saw) dar Adabiyat-e Farsi», di situs ISNA.
  89. Hakimi, Adabiyat va Ta'ahhod dar Eslam, 1364 HS, hlm. 235-236.
  90. Hakimi, Adabiyat va Ta'ahhod dar Eslam, 1364 HS, hlm. 252-273; Shahrokhi, Simaye Mohammad (saw) dar Ayeneh-ye She'r-e Farsi, 1374 HS, hlm. 200-201.
  91. Ranjbar, Chand Me'raj-nameh, 1364 HS, hlm. 9-10.
  92. Ranjbar, Chand Me'raj-nameh, 1364 HS, hlm. 7-8.
  93. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 12.
  94. Bal'ami, Tarikh-e Bal'ami, 1353 HS, Pengantar Peneliti, hlm. 5-7.
  95. Rafi'uddin Hamadani, Sirat Rasulullah, 1383 HS, Pengantar Peneliti, hlm. 19.
  96. Zirikli, Al-A'lam, 1989 M, jld. 3, hlm. 285.
  97. Muhaqqiq, «Ketabi ke ba Forush-e Nan Bastani Kharidam», di situs Alef.
  98. Muhaqqiq, «Ketabi ke ba Forush-e Nan Bastani Kharidam», di situs Alef.
  99. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 221.
  100. «Majmu'eh-ye 20 Jeldi-ye Payambar-e A'zam (saw)», di situs Misagh Amir Fajr.
  101. «Ketab-e Dastan-hayi baraye Film-nameh Piramun-e Payambar-e A'zam (saw)» di situs Gisoom.
  102. «Mo'arrefi-ye Panj Roman az Rokhdad-haye Zendegi-ye Payambar (saw) be Qalam-e Ebrahim Hassanbeigi ta Majid Qeysari», di situs Honar Online.
  103. Mohajerani, «Behtarin Ketab-hayi ke az Payambar baraye Kudakan Miguyad», di situs Shia News.
  104. «Mo'arrefi-ye Panj Roman az Rokhdad-haye Zendegi-ye Payambar (saw) be Qalam-e Ebrahim Hassanbeigi ta Majid Qeysari», di situs Honar Online.
  105. Parsa, Kitab-shinasi Payambar (saw), 1386 HS, hlm. 210.
  106. «Mo'arrefi-ye Panj Roman az Rokhdad-haye Zendegi-ye Payambar (saw) be Qalam-e Ebrahim Hassanbeigi ta Majid Qeysari», di situs Honar Online.
  107. «Mo'arrefi-ye Panj Roman az Rokhdad-haye Zendegi-ye Payambar (saw) be Qalam-e Ebrahim Hassanbeigi ta Majid Qeysari», di situs Honar Online.
  108. Mohajerani, «Behtarin Ketab-hayi ke az Payambar baraye Kudakan Miguyad», di situs Shia News.
  109. Mohajerani, «Behtarin Ketab-hayi ke az Payambar baraye Kudakan Miguyad», di situs Shia News.
  110. «Mo'arrefi-ye Panj Roman az Rokhdad-haye Zendegi-ye Payambar (saw) be Qalam-e Ebrahim Hassanbeigi ta Majid Qeysari», di situs Honar Online.

Daftar Pustaka

  • Ainavand, Sadiq, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, Teheran, Pazhuheshgah-e Ulum-e Ensani va Motale'at-e Farhangi, 1377 HS.
  • Aqa Bozorg Tehrani, Muhammad Muhsin bin Ali, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah, Tahqiq: Sayid Ahmad Husaini Isykevari, Beirut, Dar al-Adhwa', 1403 H.
  • Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakar, Zad al-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1415 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Adib al-Mamalik Farahani, Muhammad Shadiq bin Husain, Divan-e Kamel-e Adib al-Mamalik Farahani, Tahqiq: Mojtaba Barz-abadi Farahani, Teheran, Entesharat-e Ferdows, 1378 HS.
  • Asgharpour, Hasan, «Barresi-ye Mehvar-haye Manaqib va Fazail dar Kotob-e Sheshganeh Ahl-e Sonnat», *Faslnameh Ulum-e Quran va Hadis*, No. 81, Musim Gugur dan Musim Dingin 1387 HS.
  • Bal'ami, Muhammad bin Muhammad, Tarikh-e Bal'ami, Tahqiq: Muhammad Taqi Bahar, Teheran, Ketabforushi-ye Zavvar, 1353 HS.
  • Tirmidzi, Muhammad bin Isa, Syamail al-Nabi, Terjemahan: Mahmoud Mahdavi Damghani, Teheran, Nashr-e Ney, 1372 HS.
  • PARSA (Paygah-e Ettela Rasani-ye Sarasari-ye Eslami), Kitab-shinasi Payambar (saw), Teheran, Muassasah Ettela-rasani-ye Marja', 1386 HS.
  • Jafarian, Rasul, Manabe'-e Tarikh-e Eslam, Teheran, Nashr-e Elm, 1393 HS.
  • Sekelompok Penulis, Syenakht-nameh-ye Mohaddes Qommi, Kongres Peringatan Muhaddits Qommi, Qom, Nur-e Mathaf, 1389 HS.
  • Haji Khalifah, Musthafa bin Abdullah Katib Chalabi, Kasyf al-Zhunun 'an Asami al-Kutub wa al-Funun, Baghdad, Maktabah al-Mutsanna, 1941 M.
  • Hasani Jalilian, Mohammad Reza, «Chegunegi-ye Yadkard-e Payambar (saw) dar Adabiyat-e Farsi», di situs ISNA, posting: 29 Mehr 1400 HS, diakses: 10 Aban 1404 HS.
  • Husaini Semnani, Batul, «Khashaish al-Nabi», dalam *Daneshnameh Jahan-e Eslam* (Jld. 15), Teheran, Bonyad-e Da'irat al-Ma'arif-e Eslami, 1390 HS.
  • Husainiyan Muqaddam, Husain, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari ba Tekiyeh bar Naqsh-e Ashab-e Emaman (as), Qom, Pazhuheshgah-e Hozeh va Daneshgah, 1395 HS.
  • Hakimi, Mohammad Reza, Adabiyat va Ta'ahhod dar Eslam, Teheran, Daftar-e Nashr-e Farhang-e Eslami, 1364 HS.
  • Khanjani, Qasem, «Dalail-negari dar Sireh-ye Nabawi», dalam *Ketab-e Mah-e Tarikh va Joghrafiya*, No. 61 dan 62, Aban dan Azar 1381 HS.
  • «Ketab-e Dastan-hayi baraye Film-nameh Piramun-e Payambar-e A'zam (saw)» di situs Gisoom, diakses: 8 Aban 1404 HS.
  • Khane-ye Pazhuhesh Qom, Maqaleh-shinasi Payambar Eslam (saw), Qom, Muassasah Ettela-rasani-ye Eslami-ye Marja', 1383 HS.
  • Razavipur, Sayid Fazlullah, «Baztabi az Syakhsiyat-e Payambar (saw) dar Seh Qasideh-ye Ziba-ye Arabi», dalam *Baharistan-e Sokhan*, No. 7, Musim Gugur 1385 HS.
  • Rafi'uddin Hamadani, Ishaq bin Muhammad, Sirat Rasulullah (Terjemahan Sirah Ibnu Ishaq), Tahqiq: Ja'far Modarres Sadeghi, Teheran, Nashr-e Markaz, 1383 HS.
  • Ranjbar, Ahmad, Chand Me'raj-nameh, Teheran, Muassasah Entesharat-e Amirkabir, 1364 HS.
  • Zirikli, Khairuddin, Al-A'lam, Beirut, Dar al-Ilm lil-Malayin, 1989 M.
  • Sepehri, Muhammad, Sirat-e Javidaneh, Teheran, Pazhuheshgah Farhang va Andisheh Eslami, 1384 HS.
  • Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman, Al-I'lan bi al-Taubikh liman Dzamma al-Tarikh, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Tanpa Tahun.
  • Shahrokhi, Mahmoud, Simaye Mohammad (saw) dar Ayeneh-ye She'r-e Farsi, Teheran, Sazman Chap va Entesharat Vezarat Farhang va Ershad Eslami, 1374 HS.
  • Sadr, Sayid Hasan, Ta'sis al-Syi'ah li 'Ulum al-Islam, Beirut, A'lami, 1416 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Kazim, Tarikh-e Hadits-e Syi'eh, Qom, Entesharat Dar al-Hadits, 1390 HS.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Sunan al-Nabi (saw), Tahqiq: Muhammad Hadi Fiqhi, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1422 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-'Uddah fi Ushul al-Fiqh, Tahqiq: Muhammad Reza Ansari Qomi, Qom, Entesharat Tizhoosh, 1417 H.
  • Amili, Sayid Ja'far Murtadha, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham (saw), Beirut, Dar al-Hadi, 1415 H.
  • Fadhli, Abdul Hadi, Ushul al-Hadits, Beirut, Muassasah Ummul Qura, 1420 H.
  • Kariminia, Morteza, «Seiri Ejmali dar Sireh-negari-ye Payambar-e Eslam dar Gharb», dalam *Sireh-pazhuhi dar Gharb (Gozideh-ye Motun va Manabe')*, Teheran, Moavenat Farhangi Majma Jahani Taqrib Mazaheb Eslami, 1386 HS.
  • Kariminia, Morteza, «Moqaddameh-ye Virastar», dalam *Sireh-pazhuhi dar Gharb (Gozideh-ye Motun va Manabe')*, Teheran, Moavenat Farhangi Majma Jahani Taqrib Mazaheb Eslami, 1386 HS.
  • Gerami, Sayid Mohammad Hadi, «Jaygah-e Imam Reza dar Adabiyat-e Sireh-negari va Manaqib-negari-ye Sadeh-haye Motaqaddem va Miyaneh», dalam Kumpulan Artikel *Ab'ad-e Syakhsiyat va Zendegi-ye Hazrat-e Reza Alaihissalam* (Jld. 2), Diedit oleh: Morteza Salman-nejad, Universitas Imam Shadiq (as), Teheran, 1393 HS.
  • Muhammadi, Ramazan, «Jamal-e Aftab: Syamail-shenasi-ye Rasul-e Khoda (saw)», dalam *Ketab-e Mah-e Tarikh va Joghrafiya*, No. 61 dan 62, Aban dan Azar 1381 HS.
  • «Majmu'eh-ye 20 Jeldi-ye Payambar-e A'zam (saw)», di situs Misagh Amir Fajr, posting: 7 Aban 1404 HS.
  • «Majmu'eh Atsar-e Syekh Shaduq», di situs Pusat Riset Komputer Noor, posting: 11 Aban 1392 HS, diakses: 10 Aban 1404 HS.
  • Muhaqqiq, Javad, «Ketabi ke ba Forush-e Nan Bastani Kharidam», di situs Alef, posting: 12 Bahman 1391 HS, diakses: 7 Aban 1404 HS.
  • «Mo'arrefi-ye Panj Roman az Rokhdad-haye Zendegi-ye Payambar (saw) be Qalam-e Ebrahim Hassanbeigi ta Majid Qeysari», di situs Honar Online, posting: 12 Mehr 1400 HS, diakses: 1404 HS.
  • Mardani, Mahdi, «Mabadi-ye Sireh-pazhuhi», dalam *Nasyriyeh Misykat*, No. 157, Musim Dingin 1401 HS.
  • Ma'aref, Majid dkk, «Akhbar-e Manaqib-e Ahl-e Bait Miras-e Mosytarak-e Ommat», dalam *Majallah Maqalat va Barresi-ha*, Edisi 88, Musim Panas 1387 HS.
  • Munajjid, Salahuddin, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Tahqiq: Nadi Attar, Kairo, Dar al-Qadhi Iyadh lil-Turats, Tanpa Tahun.
  • Mohajerani, Sayid Muhammad, «Behtarin Ketab-hayi ke az Payambar baraye Kudakan Miguyad», di situs Shia News, posting: 30 Khordad 1391 HS, diakses: 7 Aban 1404 HS.
  • Ma'aref, Majid, Tarikh-e Omumi-ye Hadits (ba Ruykard-e Tahlili), Teheran, Entesharat Kavir, 1396 HS.
  • Motzki, Harald, «Moqaddameh», dalam *Zendegi-nameh-ye Muhammad (Barresi-ye Manabe')*, Editor Kepala: Harald Motzki, Terjemahan: Muhammad Taqi Akbari dan Abdullah Azimaei, Masyhad, Bonyad Pazhuhesh-haye Eslami Astan Quds Razavi, 1386 HS.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali, Rijal al-Najasyi, Tahqiq: Sayid Musa Syubairi Zanjani, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
  • Nassar, Ammar Aboudi, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw) nazd-e Movarrekhin-e Mosalman ta Payan-e Asr-e Abbasi, Terjemahan: Ameneh Mousavi Shajari dan Seif Ali Zahedifar, Qom, Pazhuheshgah Ulum va Farhang Eslami, 1399 HS.