Lompat ke isi

Konsep:Perang-perang Imam Ali (as)

Dari wikishia

|| || || || || || || || editorial box Perang-perang Imam Ali as (bahasa Arab: حُرُوبُ الإمَامِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ) mengacu pada perang Jamal, Shiffin, Nahrawan, dan serangan-serangan Muawiyah (Gharat) yang terjadi pada masa Pemerintahan Imam Ali as. Perang-perang ini terjadi sebagai reaksi atas pemberontakan internal dan menyusul kebijakan reformasi Imam dalam pembagian baitul mal secara adil serta pemecatan pejabat yang korup. Meskipun pertempuran ini memberikan tekanan ekonomi pada pemerintahan, namun tidak mampu menggoyahkan fondasi politik dan sosialnya secara menyeluruh.

Para fakih Syiah dan Ahlusunah dengan bersandar pada riwayat-riwayat Nabi dan hukum fikih terkait ahlu baghi, membenarkan legitimasi perang-perang ini. Imam Ali as senantiasa mengutamakan prinsip menghindari perang dan hanya melakukan konfrontasi militer setelah gagalnya cara-cara damai dan ketika menghadapi serangan militer musuh. Beliau menggunakan taktik militer dan psikologis di medan perang, sembari tetap memegang teguh prinsip-prinsip moral seperti larangan menyerang warga sipil dan menjaga hak-hak tawanan.

Di dalam pasukan Imam Ali as hadir laki-laki dan perempuan dari berbagai kabilah. Mengenai perang-perang ini telah ditulis berbagai karya, seperti buku «Siyasat-e Nizhami-ye Emam Ali as» (Politik Militer Imam Ali as) karya Asghar Qaidan dan «Al-Istiratijiyah al-'Askariyah 'inda al-Imam Ali as» karya Muhammad al-Bustani.

Hakikat Perang-perang Imam Ali as dan Dampaknya bagi Pemerintahan

Perang-perang Imam Ali as yang meliputi perang Jamal, Shiffin, dan Nahrawan merupakan reaksi pertahanan yang terbentuk dalam menghadapi pemberontakan internal melawan pemerintahannya.[1] Menurut para peneliti, Ali as tidak pernah memulai perang,[2] melainkan berusaha mencegah terjadinya konflik dengan menggunakan cara-cara damai[3] atau setidaknya melakukan Itmam al-Hujjah kepada para penentang,[4] dan hanya melakukan konfrontasi militer ketika seluruh jalan damai telah menemui jalan buntu.[5]

Perang-perang ini meskipun memberikan tekanan ekonomi dan politik yang signifikan terhadap pemerintahan Alawi—termasuk penjarahan harta umum, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada sistem perpajakan—[6] namun tidak mampu melemahkan legitimasi dan basis dukungan rakyat terhadap pemerintahan Imam Ali as.[7] Ibrahim Baidhun, profesor sejarah Islam asal Lebanon, meyakini bahwa pemerintahan Imam Ali as, meskipun dengan adanya perang berturut-turut yang dilakukan untuk membimbing umat Islam dan mencegah penyimpangan, pada hakikatnya dianggap sebagai kelanjutan dari pemerintahan Nabi saw.[8]

Mengapa Masa Pemerintahan Imam Ali Dihabiskan dalam Peperangan?

Kebijakan reformasi Imam Ali as dalam pembagian baitul mal secara adil dan pemecatan para pejabat korup dianggap sebagai faktor utama terbentuknya oposisi dan konflik bersenjata pada masa itu.[9] Menurut Rasul Jafariyan, peneliti sejarah Iran, meskipun pada awalnya Imam Ali as tidak berkeinginan menerima pemerintahan, namun setelah menerima kekhalifahan, demi menjalankan reformasi beliau terpaksa berhadapan dengan kelompok-kelompok yang melihat kepentingan materi dan posisi sosial mereka terancam.[10]

Wilferd Madelung, islamolog Jerman, membagi masyarakat Islam saat itu menjadi tiga arus utama: Pertama, pendukung Imam Ali as yang meliputi kaum Anshar dan penentang Utsman; kedua, Bani Umayyah dan pendukungnya yang menganggap kekhalifahan sebagai hak mereka; dan ketiga, mayoritas Quraisy yang menginginkan kembalinya metode kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Menurut Madelung, perselisihan yang berakar pada konflik kepentingan antar kelompok ini memicu perang saudara.[11]

Husain Muhammad Jafari, peneliti sejarah asal Pakistan, berpendapat bahwa tokoh-tokoh berpengaruh seperti Aisyah, Thalhah, dan Zubair, serta kemudian Muawiyah, yang melihat pemerintahan Imam Ali as sebagai ancaman bagi posisi mereka, bangkit melawan pemerintahan Alawi dengan dalih menuntut darah Utsman.[12] Konflik bersenjata di antara kaum muslimin ini meninggalkan dampak negatif dan permanen pada umat Islam.[13]

Apakah Perang-perang Imam Ali as Melawan Muslim Disyariatkan?

Menurut pandangan Syiah yang meyakini kemaksuman para Imam, tidak ada keraguan dalam legalitas (syariat) perang-perang Imam Ali as melawan penentang muslim.[14] Namun, sebagian sahabat yang dikenal sebagai qa'idin (orang-orang yang duduk diam), meragukan legalitasnya karena konfrontasi tersebut melibatkan dua kelompok muslim, sehingga mereka menahan diri untuk mendukung salah satu pihak.[15] Syiah bersandar pada poin-poin berikut untuk membuktikan legalitas perang-perang ini:

  • Riwayat Nabi: Berdasarkan berbagai hadis yang dinukil dalam sumber Syiah[16] dan Sunni[17] dari Nabi Muhammad saw, Imam Ali as ditetapkan sebagai tolok ukur untuk membedakan yang hak dan yang batil; oleh karena itu, pasukan Ali as berada di pihak yang benar, dan musuh-musuhnya berada di pihak yang berlawanan dengan kebenaran.[18]
  • Legalitas Perang Melawan Bughat: Perang-perang Imam Ali merupakan contoh perlawanan terhadap baghi dan muharib yang secara fikih dianggap sah (masyru').[19] Menurut laporan Abdurrauf al-Manawi, penulis Ahlusunah, Malik, Syafi'i, dan Abu Hanifah, dari para imam mazhab empat Ahlusunah, sepakat (ijma) atas kebenaran Ali as dan status pemberontak (baghi) bagi para penentangnya.[20]

Informasi Umum Mengenai Perang

Dalam Pemerintahan Imam Ali as, terjadi perang Jamal, Shiffin, Nahrawan, dan Gharat (serangan-serangan) Muawiyah. Perang Jamal adalah perang pertama pada masa pemerintahan Imam Ali as[21] dan perang pertama di antara dua kelompok muslim yang terjadi akibat pelanggaran janji dan ambisi kekuasaan Ashab al-Jamal (Thalhah, Zubair, dan Aisyah).[22] Perang ini dimulai di dekat Basrah[23] dan berakhir dengan kekalahan Ashab al-Jamal.[24]

Muawiyah bin Abu Sufyan yang memprovokasi Ashab al-Jamal untuk berperang,[25] memperkenalkan dirinya sebagai penuntut darah Utsman dan menuduh Ali as bersalah atas pembunuhan Utsman.[26] Imam Ali ingin memecat Muawiyah dari pemerintahan Syam;[27] namun cara-cara damai Ali as untuk memberhentikan Muawiyah tidak membuahkan hasil dan kedua belah pihak bersiap untuk perang, sehingga pecahlah Perang Shiffin.[28] Setelah pertempuran sengit antara kedua pasukan, Muawiyah dan Amru bin Ash yang melihat kekalahan pasukan mereka sudah dekat, mengikat Al-Qur'an di ujung tombak dan mengajak pasukan lawan untuk melakukan tahkim.[29] Tipu muslihat ini berhasil dan Perang Shiffin berakhir tanpa hasil.[30]

Kaum Khawarij yang telah memaksa Imam Ali as untuk menerima arbitrase, setelah arbitrase tidak membuahkan hasil, menuntut Ali as untuk bertobat dan meninggalkan perjanjian arbitrase.[31] Ketika Khawarij menghadapi penolakan Ali as, mereka melakukan banyak kejahatan.[32] Saat berita kejahatan ini sampai kepada Ali as, beliau mengarahkan pasukannya dari kamp perang melawan Muawiyah menuju Perang Nahrawan.[33] Dengan dimulainya perang, dengan cepat seluruh Khawarij terbunuh atau terluka.[34]

Setelah Perang Nahrawan, Muawiyah bin Abu Sufyan melancarkan berbagai serangan (Gharat) ke wilayah-wilayah di bawah pemerintahan Imam Ali as, melakukan pembunuhan dan penjarahan terhadap rakyat dan pendukung Imam Ali as.[35] Gharat dirancang sedemikian rupa agar tersebar dan tiba-tiba, sehingga reaksi cepat pasukan Imam Ali as pun tidak efektif.[36]

Mengingat berbagai laporan sejarah yang berbeda, mendapatkan statistik pasti jumlah korban dalam perang-perang Imam Ali adalah mustahil, dan statistik perkiraan menyebutkan sekitar 150.000 korban jiwa.[37] Namun demikian, sebagian peneliti meyakini bahwa statistik yang disajikan dalam buku-buku sejarah tidak sesuai dengan rincian laporan terkait perang dan tampak berlebihan.[38]

Tujuan

Menurut Yadullah Hajizadeh, penulis buku Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin as (Sirah Militer Amirul Mukminin), Ali bin Abi Thalib mengejar tujuan-tujuan berikut dalam perang-perang masa pemerintahannya:

  • Memerangi penyimpangan dan mereformasi masyarakat: Imam Ali meyakini bahwa agama Islam telah menyimpang dari jalur utamanya dan untuk mengembalikannya ke jalur utama, tidak ada jalan lain selain perang.[39]
  • Memerangi agresor: Filosofi jihad dalam pandangan Ali as dianggap sebagai pembelaan terhadap kebebasan dan pencegahan dominasi orang-orang yang sewenang-wenang, dan tidak berperang melawan agresor dianggap sebagai kelemahan, kemalasan, dan kerelaan terhadap maksiat Ilahi.[40]
  • Menegakkan keadilan: Hajizadeh dengan bersandar pada ucapan-ucapan Imam Ali as, memperkenalkan tujuan perang-perangnya sebagai penegakan keadilan.[41]

Taktik

Dari wasiat Imam Ali as kepada pasukan yang dikirim ke Syam
Apabila kalian bertemu musuh, atau musuh bertemu kalian, maka jadikanlah perkemahan kalian di tempat yang tinggi, atau di kaki-kaki gunung, atau di antara sungai-sungai, agar menjadi tempat berlindung bagi kalian dan penghalang serangan musuh. Mulailah perang dari satu arah atau dua arah. Tempatkanlah para pengintai di puncak-puncak gunung dan di atas bukit-bukit, jangan sampai musuh menyerang kalian secara tiba-tiba dari tempat yang kalian takuti atau dari arah yang tidak kalian khawatirkan! Dan ketahuilah bahwa pasukan pendahulu (vanguard) adalah mata-mata pasukan, dan para pengintai adalah perintis pasukan.

Imam Ali menggunakan berbagai taktik untuk memenangkan pertempuran.[43] Muhammad Khudhair Abbas al-Jilawi, salah satu dosen Universitas Syekh Thusi di Najaf, meyakini bahwa Imam Ali as meletakkan dasar bagi gaya militer baru dan taktik perang yang belum pernah ada sebelumnya.[44] Imam Ali as karena kehadirannya dalam berbagai perang, mengetahui taktik dan siasat perang (seperti cara menyerang jantung pasukan musuh, pengepungan, metode memecahkan pengepungan, dan serangan mendadak) dan menerapkannya pada waktu yang tepat.[45]

Imam Ali as sebelum setiap perang, mengajarkan prinsip dan teknik militer kepada pasukannya.[46] Beberapa prinsip dan teknik tersebut antara lain: cara mengambil posisi di area alami yang tepat (seperti berada di ketinggian atau di antara sungai-sungai), jalur pergerakan pasukan, waktu bergerak dan berhenti (bergerak di awal atau akhir hari dan menghindari pergerakan di awal malam), metode menghadapi musuh (keharusan menyerang jantung pasukan musuh dan melakukan perang dari satu arah serta menghindari dua arah), formasi militer (menggunakan pengintai di ketinggian), dan menentukan waktu yang tepat untuk menyerang.[47]

Gambar bagan organisasi pasukan Imam Ali (as) dalam Perang Jamal, diambil dari buku Atlas Syiah.[48]

Selain pelatihan individu, Imam Ali as juga mengajarkan pelatihan kolektif kepada pasukannya (seperti cara pergerakan pasukan menuju musuh dan posisi pasukan saat menyerang).[49] Pasukan Imam Ali as biasanya memiliki bagian pendahulu (muqaddamah), sayap kiri, sayap kanan, jantung pasukan (qalb), dan bagian belakang (saqah).[50] Dalam perang-perang Imam Ali, berbeda dengan perang-perang awal Islam, pertarungan satu lawan satu, kelompok, dan massal dimulai secara bersamaan.[51]

Imam Ali as menggunakan taktik tipuan (khud'ah) dalam perang[52] dan menganggap tipuan perang lebih efektif daripada kekuatan dan kemampuan militer.[53] Misalnya, Imam Ali as dalam Perang Shiffin pergi ke medan perang dengan menyamarkan pakaiannya dan membunuh beberapa orang musuh; ketika tidak ada lagi yang berani melawannya, beliau memperkenalkan dirinya, dan dengan tindakan ini beliau memberikan kekuatan hati kepada pasukannya dan menakuti musuh.[54]

Imam Ali as mementingkan operasi psikologis dan memanfaatkannya untuk memperkuat semangat pasukannya dan melemahkan semangat musuh;[55] contoh operasi psikologis Imam Ali as adalah penggunaan bendera pasukan Nabi saw, mengenakan jubah dan serban Nabi saw, serta memanfaatkan kehadiran para sahabat di pasukannya.[56] Untuk efisiensi lebih tinggi dan meminimalkan korban dalam perang, Imam Ali melakukan pengumpulan informasi (intelijen)[57] dan menjaga agar informasi pasukannya tidak bocor.[58] Beliau menggunakan mata-mata dan orang-orang dekat musuh untuk mengumpulkan informasi.[59]

Sirah Imam Ali dalam Perang

Dalam buku-buku analisis sejarah awal Islam, mengenai sirah (perilaku) Ali bin Abi Thalib dalam perang, disebutkan poin-poin berikut:

  • Kehadiran langsung di medan dan memegang komando pasukan: Menurut Aziz Sayid Jasim, penulis Irak, Imam Ali as berbeda dengan khalifah-khalifah sebelumnya dan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw, beliau hadir dalam perang dan memegang sendiri komando perang-perang besar.[60]
  • Tidak terburu-buru memulai perang: Imam Ali as hanya melakukan tindakan militer jika musuh telah menampakkan perlawanannya secara terang-terangan dan melakukan tindakan praktis.[61]
  • Tindakan sebelum agresi musuh: Menurut Aziz Sayid Jasim, ketika Imam Ali as mengetahui musuh memutuskan untuk melakukan agresi, beliau mengambil inisiatif cepat bergerak menuju musuh dan mengubah posisi ofensif musuh menjadi defensif.[62]
  • Perhatian khusus pada kebutuhan spiritual dan materi pasukan serta keluarga mereka: Menurut Aziz Sayid Jasim, Imam Ali as memperhatikan kelayakan dan usaha pasukannya serta mengurus keluarga mereka agar mereka dapat berjihad dengan keyakinan penuh.[63]
  • Memulai perang di jam-jam akhir hari: Berdasarkan riwayat dalam kitab Al-Kafi, Imam Ali as selalu memulai perangnya pada sore hari agar jumlah korban berkurang; karena pasukan yang kalah dan mereka yang mencari keselamatan dapat melarikan diri dengan datangnya malam.[64]
  • Pengenalan akurat tentang musuh dan mengenalkan budaya serta keahlian mereka kepada pasukannya.[65]
  • Mengajak musuh untuk damai dan menyerah.[66]
  • Pemberian wawasan politik bagi sahabat dan musuh.[67]
  • Melakukan Itmam al-Hujjah dua kali sebelum memulai perang.
  • Menggunakan segala kapasitas untuk menarik orang-orang dari pihak musuh.
  • Mencukupkan diri pada ghanimah (harta rampasan) perang dan tidak mengganggu harta pribadi serta wanita musuh.[68]
  • Tidak menyerang orang yang terluka, anak-anak, wanita, dan orang tua.[69]
  • Menghindari cara-cara yang tidak ksatria dan tidak etis.[70]
  • Mengumumkan amnesti umum setelah mengalahkan musuh dan membebaskan tawanan.[71]
  • Menyalatkan jenazah pasukan sendiri dan pasukan musuh serta menguburkan jenazah mereka.[72]
  • Mengancam musuh setelah kemenangan untuk mencegah pemberontakan kembali.[73]

Pasukan dan Peralatan Perang

Imam Ali as dalam suratnya kepada Malik Ashtar, menganggap rakyat sebagai cadangan pertahanan utama negara.[74] Beliau mengajak rakyat untuk menghadapi musuh dengan membacakan khotbah[75] dan dalam beberapa kasus juga mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai wilayah, meminta mereka mengumpulkan pasukan untuk menghadapi musuh.[76] Di dalam pasukan Imam Ali terdapat kabilah Hamdan, Himyar, Madzhij, Thay', Qais, 'Abs, Dzubyan, Hadhramaut, Azd, Khats'am, Khuza'ah, dan lainnya, dan Imam Ali as menyerahkan komando setiap kabilah kepada orang-orang dari kabilah itu sendiri.[77]

Dalam perang-perang Imam Ali as, para wanita juga turut hadir.[78] Di antara wanita-wanita ini dapat disebutkan nama-nama seperti Ummul Fadhl binti Harits, Ummu Dzaraih, Laila Ghafariyah, Ummul Khair binti Harisy al-Bariqiyah, Zarqa binti Adi, Bakarah Hilaliyah, dan 'Ikrisyah binti al-Athrasy.[79] Menyampaikan informasi musuh kepada Imam Ali as, mendorong orang-orang untuk berperang melawan musuh, dan melawan propaganda negatif musuh adalah hal-hal yang dilakukan para wanita dalam perang-perang Imam Ali as.[80]

Imam Ali as selain menggunakan kharaj (pajak), juga memanfaatkan bantuan rakyat dan harta pribadinya untuk membiayai perang.[81] Senjata terpenting pasukannya adalah pedang, dan selain itu digunakan pula tombak, busur, baju besi, helm, dan perisai.[82]

Buku Al-Istiratijiyah al-'Askariyah 'inda al-Imam Ali as karya Muhammad al-Bustani tentang strategi militer Imam Ali as.

Monografi

Terdapat berbagai buku yang ditulis mengenai perang-perang Imam Ali as, beberapa di antaranya adalah:

  • Sireh-ye Akhlaqi wa Tarbiyati-ye Hazrat-e Ali as ba Ruikard-e Nizhami dar Dauran-e Khilafat (Sirah Akhlak dan Pendidikan Sayidina Ali as dengan Pendekatan Militer di Masa Kekhalifahan), karya Sayid Muhammad Ali Ali Hasyim; pembahasan buku ini disusun dalam tiga bagian utama dan menjelaskan topik-topik seperti fungsi dan kedudukan perang dalam pemikiran Islam serta sirah akhlak dan pendidikan Imam Ali as dalam perang.[83] Karya ini diterbitkan oleh penerbit Mahd-e Azadi Tabriz pada tahun 2021 M dalam 376 halaman.[84]
  • Siyasat-e Nizhami-ye Emam Ali as (Politik Militer Imam Ali as), karya Asghar Qaidan; buku ini diterbitkan oleh lembaga penerbitan budaya Foruzan di Teheran pada tahun 1996 M dalam 256 halaman.[85] Materi buku ini disusun dalam lima bab dan penulis selain membahas perang-perang masa Pemerintahan Imam Ali as, juga mengkaji sirah militer Ali bin Abi Thalib pada masa Nabi saw.[86]
  • Al-Istiratijiyah al-'Askariyah 'inda al-Imam Ali as, karya Muhammad al-Bustani; karya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Hasan Ali-Akbari dan diterbitkan oleh penerbit Organisasi Riset Swasembada Basij pada tahun 1999 M dengan judul Strategi Militer Imam Ali as.[87]

Catatan Kaki

  1. Zarrinkub, Bamdad-e Eslam, 1376 HS, hlm. 109.
  2. Sebagai contoh lihat: Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 72; Dilsyad Tehrani, Hukmrani-ye Hakimaneh, 1395 HS, hlm. 319.
  3. Dilsyad Tehrani, Hukmrani-ye Hakimaneh, 1395 HS, hlm. 296.
  4. Hajizadeh, "Jaygah-e Jang dar Muvajereh ba Dosyman dar Sireh-ye Nizhami-ye Emam Ali (as)", hlm. 121.
  5. Zain, Al-Imam Ali bin Abi Thalib wa Tajrubah al-Hukm, 1994 M, hlm. 143.
  6. Gul-Makani dan Hadi Vakili, "Payamad-haye Eqteshadi-ye Jang-haye Dauran-e Khilafat-e Emam Ali (as)", hlm. 26–27.
  7. Baidhun, Al-Imam Ali fi Ru'yah al-Nahj wa Riwayah al-Tarikh, 2009 M, hlm. 149.
  8. Baidhun, Al-Imam Ali fi Ru'yah al-Nahj wa Riwayah al-Tarikh, 2009 M, hlm. 172.
  9. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 72.
  10. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 72.
  11. Madelung, Janesyini-ye Hazrat-e Muhammad (saw), 1377 HS, hlm. 205.
  12. Jafari, Tasyayyu' dar Masir-e Tarikh, 1380 HS, hlm. 118.
  13. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 72.
  14. Qadrdan Qaramaleki, "Jang-haye Seh-ganeh Emam Ali (as); 'Ilal wa Masyru'iyat-e Anha", hlm. 35.
  15. Qadrdan Qaramaleki, "Jang-haye Seh-ganeh Emam Ali (as); 'Ilal wa Masyru'iyat-e Anha", hlm. 35–36.
  16. Sebagai contoh lihat: Syekh Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 89; Syekh Mufid, Al-Fushul al-Mukhtarah, 1413 H, hlm. 97.
  17. Sebagai contoh lihat: Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, 1416 H, jld. 2, hlm. 24; Khathib Baghdadi, Tarikh Baghdad, 1417 H, jld. 14, hlm. 322; Ibnu 'Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1415 H, jld. 42, hlm. 449.
  18. Qadrdan Qaramaleki, "Jang-haye Seh-ganeh Emam Ali (as); 'Ilal wa Masyru'iyat-e Anha", hlm. 37.
  19. Qadrdan Qaramaleki, "Jang-haye Seh-ganeh Emam Ali (as); 'Ilal wa Masyru'iyat-e Anha", hlm. 37–38.
  20. Al-Manawi, Faidh al-Qadir, 1356 H, jld. 6, hlm. 365.
  21. Thabathaba'i, Syi'ah dar Eslam, 1378 HS, hlm. 42.
  22. Dilsyad Tehrani, Sauda-ye Peyman-Syikanan, 1394 HS, hlm. 14.
  23. Syekh Mufid, Al-Jamal wa al-Nushrah, 1413 H, hlm. 279.
  24. Dinawari, Al-Akhbar al-Thiwal, 1368 HS, hlm. 151.
  25. Dilsyad Tehrani, Sauda-ye Peyman-Syikanan, 1394 HS, hlm. 61.
  26. Gharib, Khilafah Utsman bin Affan, Kairo, hlm. 152.
  27. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 81.
  28. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 87–88.
  29. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 94–95.
  30. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 95–97.
  31. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 99–100.
  32. Thabathaba'i, Syi'ah dar Eslam, 1378 HS, hlm. 44.
  33. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 1387 H, jld. 5, hlm. 80–92.
  34. Jafariyan, Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah, 1390 HS, hlm. 105.
  35. Pur-Aryan dan Rughanchian Rudsari, "Gharat-e Muawiyah wa Ta'tsir-e An dar Bar-amadan-e Umaviyan", hlm. 35.
  36. Pur-Aryan dan Rughanchian Rudsari, "Gharat-e Muawiyah wa Ta'tsir-e An dar Bar-amadan-e Umaviyan", hlm. 39.
  37. Shadiqi, "Naqdi bar Amar-e Talafat-e Jang-haye Emam Ali (as)", hlm. 49–50.
  38. Shadiqi, "Naqdi bar Amar-e Talafat-e Jang-haye Emam Ali (as)", hlm. 73.
  39. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 35–36.
  40. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 38–39.
  41. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 43–44.
  42. Nahj al-Balaghah, Koreksi: Shubhi Shalih, Surat 11, hlm. 371.
  43. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 145.
  44. Khudhair Abbas al-Jilawi, "Al-Imam Ali bin Abi Thalib (as) wa Manhajuhu al-Ishlahi li-Nazhm al-'Ulum al-'Askariyah al-Islamiyah", hlm. 430.
  45. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 155.
  46. Moini-nia, Sireh-ye Idari-ye Emam Ali (as) dar Dauran-e Khilafat, 1379 HS, hlm. 177.
  47. Moini-nia, Sireh-ye Idari-ye Emam Ali (as) dar Dauran-e Khilafat, 1379 HS, hlm. 178–182.
  48. Jafariyan, Atlas Syi'ah, 1387 HS, hlm. 54.
  49. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 116.
  50. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 125.
  51. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 149.
  52. Hajizadeh, "Anjam-e Khud'ah wa Tark-e Ghadr dar Sireh-ye Nizhami-ye Emam Ali (as)", hlm. 45.
  53. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, 1404 H, jld. 20, hlm. 312.
  54. Ibnu A'tsam Kufi, Al-Futuh, 1411 H, jld. 3, hlm. 112.
  55. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 178.
  56. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 184.
  57. Khudhair Abbas al-Jilawi, "Al-Imam Ali bin Abi Thalib (as) wa Manhajuhu al-Ishlahi li-Nazhm al-'Ulum al-'Askariyah al-Islamiyah", hlm. 430.
  58. Khudhair Abbas al-Jilawi, "Al-Imam Ali bin Abi Thalib (as) wa Manhajuhu al-Ishlahi li-Nazhm al-'Ulum al-'Askariyah al-Islamiyah", hlm. 435.
  59. Khudhair Abbas al-Jilawi, "Al-Imam Ali bin Abi Thalib (as) wa Manhajuhu al-Ishlahi li-Nazhm al-'Ulum al-'Askariyah al-Islamiyah", hlm. 430.
  60. Jasim, Ali bin Abi Thalib Sulthah al-Haq, 1427 H, hlm. 243–244.
  61. Hajizadeh, "Jaygah-e Jang dar Muvajereh ba Dosyman dar Sireh-ye Nizhami-ye Emam Ali (as)", hlm. 125.
  62. Jasim, Ali bin Abi Thalib Sulthah al-Haq, 1427 H, hlm. 244.
  63. Jasim, Ali bin Abi Thalib Sulthah al-Haq, 1427 H, hlm. 251–252.
  64. Kulaini, Al-Kafi, 1407 H, jld. 5, hlm. 25.
  65. Jasim, Ali bin Abi Thalib Sulthah al-Haq, 1427 H, hlm. 246.
  66. Moini-nia, Sireh-ye Idari-ye Emam Ali (as) dar Dauran-e Khilafat, 1379 HS, hlm. 184.
  67. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 126.
  68. Jasim, Ali bin Abi Thalib Sulthah al-Haq, 1427 H, hlm. 241.
  69. Khudhair Abbas al-Jilawi, "Al-Imam Ali bin Abi Thalib (as) wa Manhajuhu al-Ishlahi li-Nazhm al-'Ulum al-'Askariyah al-Islamiyah", hlm. 436.
  70. Hajizadeh, "Akhlaq-e Nizhami dar Maktab-e Alavi wa Andisyeh-haye Makiavelli", hlm. 196.
  71. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 186–193.
  72. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 201.
  73. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 204.
  74. Nahj al-Balaghah, Koreksi: Shubhi Shalih, 1414 H, Surat 53, hlm. 429.
  75. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 108.
  76. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 105.
  77. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 125.
  78. Moini, "Naqsy-e Siyasi-ye Zanan dar Hukumat-e Hazrat Ali (as)", hlm. 59–61.
  79. Moini, "Naqsy-e Siyasi-ye Zanan dar Hukumat-e Hazrat Ali (as)", hlm. 59–61.
  80. Moini, "Naqsy-e Siyasi-ye Zanan dar Hukumat-e Hazrat Ali (as)", hlm. 59–61.
  81. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 113.
  82. Hajizadeh, Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as), 1392 HS, hlm. 112.
  83. Ali-Hasyim, Sireh-ye Akhlaqi wa Tarbiyati-ye Hazrat-e Ali (as) ba Ruikard-e Nizhami, 1400 HS, hlm. Daftar Isi.
  84. Ali-Hasyim, Sireh-ye Akhlaqi wa Tarbiyati-ye Hazrat-e Ali (as) ba Ruikard-e Nizhami, 1400 HS, hlm. Identitas Buku.
  85. Qaidan, Siyasat-e Nizhami-ye Emam Ali (as), 1375 HS, hlm. Identitas Buku.
  86. Qaidan, Siyasat-e Nizhami-ye Emam Ali (as), 1375 HS, hlm. Daftar Isi.
  87. Bustani, Strategi Militer Imam Ali (as), Terjemahan: Hasan Ali-Akbari, 1378 HS, hlm. Identitas Buku.

Daftar Pustaka

  • Ali-Hasyim, Sayid Muhammad Ali. Sireh-ye Akhlaqi wa Tarbiyati-ye Hazrat-e Ali (as) ba Ruikard-e Nizhami dar Dauran-e Khilafat. Tabriz: Mahd-e Azadi, 1400 HS.
  • Al-Manawi, Abdurrauf. Faidh al-Qadir Syarh Jami' al-Shaghir. Kairo: Al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, 1356 H.
  • Baidhun, Ibrahim. Al-Imam Ali fi Ru'yah al-Nahj wa Riwayah al-Tarikh. Beirut: Bisan, 2009 M.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1394 H.
  • Bustani, Muhammad. Strategi Militer Imam Ali (as). Terjemahan: Hasan Ali-Akbari. Teheran: Sazman-e Tahqiqat-e Khodkafaei-ye Basij, 1378 HS.
  • Dinawari, Ahmad bin Daud. Al-Akhbar al-Thiwal. Teheran: Nashr-e Ney, 1368 HS.
  • Dilsyad Tehrani, Mushthafa. Hukmrani-ye Hakimaneh. Teheran: Darya, 1395 HS.
  • Dilsyad Tehrani, Mushthafa. Sauda-ye Peyman-Syikanan. Teheran: Darya, 1394 HS.
  • Gharib, Ma'mun. Khilafah Utsman bin Affan. Kairo: Markaz al-Kitab li al-Nasyr, tanpa tahun.
  • Gul-Makani, Wajihah, dan Hadi Vakili. "Payamad-haye Eqteshadi-ye Jang-haye Dauran-e Khilafat-e Emam Ali (as)". Fasl-nameh Ilmi-Pazhuhesyi Syi'ah-syinasi, No. 57, Musim Semi 1396 HS.
  • Hajizadeh, Yadullah. "Jaygah-e Jang dar Muvajereh ba Dosyman dar Sireh-ye Nizhami-ye Emam Ali (as)". Majallah-e Jostar-haye Tarikh-e Eslam, No. 4, Musim Gugur dan Musim Dingin 1401 HS.
  • Hajizadeh, Yadullah. "Akhlaq-e Nizhami dar Maktab-e Alavi wa Andisyeh-haye Makiavelli". Pazhuhesy-nameh Akhlaq, No. 7 dan 8, Musim Semi dan Musim Panas 1389 HS.
  • Hajizadeh, Yadullah. "Anjam-e Khud'ah wa Tark-e Ghadr dar Sireh-ye Nizhami-ye Emam Ali (as)". Fashl-nameh Pazhuhesyi Tarikh-e Farhang wa Tamaddun-e Eslami, No. 5, Musim Dingin 1390 HS.
  • Hajizadeh, Yadullah. Sireh-ye Nizhami-ye Amirul Mu'minin (as). Qom: Markaz-e Mudiriyat-e Hauzah-haye Ilmiyah, 1392 HS.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahj al-Balaghah. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Ibnu A'tsam Kufi, Ahmad. Al-Futuh. Beirut: Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibnu 'Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad. Kairo: Dar al-Hadits, 1416 H.
  • Ibnu Muzahim, Nashr. Waq'ah Shiffin. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Jafari, Husain Muhammad. Tasyayyu' dar Masir-e Tarikh. Terjemahan: Sayid Muhammad Taqi Ayatullahi. Teheran: Daftar-e Nasyr-e Farhang-e Eslami, 1380 HS.
  • Jafariyan, Rasul. Atlas Syi'ah. Teheran: Sazman-e Jughrafiyayi-ye Niruha-ye Musallah, 1387 HS.
  • Jafariyan, Rasul. Hayat-e Fikri-Siyasi-ye Imam-an-e Syi'ah. Teheran: Nashr-e 'Ilm, 1390 HS.
  • Jasim, Aziz al-Sayid. Ali bin Abi Thalib Sulthah al-Haq. Qom: Al-Ijtihad, 1427 H.
  • Khathib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1417 H.
  • Khudhair Abbas al-Jilawi, Muhammad. "Al-Imam Ali bin Abi Thalib (as) wa Manhajuhu al-Ishlahi li-Nazhm al-'Ulum al-'Askariyah al-Islamiyah". Fashl-nameh Tahqiqat-e Jadid dar 'Ulum-e Insani, No. 34, Musim Dingin 1400 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Madelung, Wilferd. Janesyini-ye Hazrat-e Muhammad (saw). Terjemahan: Ahmad Namayi dkk. Masyhad: Bonyad-e Pazhuhesy-haye Eslami, 1377 HS.
  • Moini, A'zham. "Naqsy-e Siyasi-ye Zanan dar Hukumat-e Hazrat Ali (as)". Majallah-e Andisyeh-haye Qur'ani-ye Mutafakkiran-e Mu'ashir, No. 13, Mehr 1384 HS.
  • Moini-nia, Maryam. Sireh-ye Idari-ye Emam Ali (as) dar Dauran-e Khilafat. Teheran: Chap wa Nasyr-e Bainul-Milal, 1379 HS.
  • Pur-Aryan, Fuad, dan Abbas Rughanchian Rudsari. "Gharat-e Muawiyah wa Ta'tsir-e An dar Bar-amadan-e Umaviyan". Tarikh-e No, No. 13, Musim Dingin 1394 HS.
  • Qadrdan Qaramaleki, Muhammad Hasan. "Jang-haye Seh-ganeh Emam Ali (as); 'Ilal wa Masyru'iyat-e Anha". Majallah-e Ma'rifat, No. 65, Ordibehesht 1382 HS.
  • Qaidan, Asghar. Siyasat-e Nizhami-ye Emam Ali (as). Teheran: Muassasah Intisharati Farhangi Foruzan, 1375 HS.
  • Shadiqi, Mushthafa. "Naqdi bar Amar-e Talafat-e Jang-haye Emam Ali (as)". Fashl-nameh Tarikh-e Eslam, No. 7, Musim Gugur 1380 HS.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah. Koreksi: Shubhi Shalih. Qom: Hejrat, 1414 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Fushul al-Mukhtarah. Qom: Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Jamal wa al-Nushrah li-Sayid al-'Itrah fi Harb al-Bashrah. Qom: Kongres Syekh Mufid, 1413 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Teheran: Kitabchi, 1376 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh al-Thabari). Cetakan kedua. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Syi'ah dar Eslam. Qom: Daftar-e Intisharat-e Eslami, 1378 HS.
  • Tsaqafi, Ibrahim bin Muhammad. Al-Gharat. Teheran: Anjoman-e Atsar-e Melli, 1353 HS.
  • Zain, Hasan. Al-Imam Ali bin Abi Thalib wa Tajrubah al-Hukm. Beirut: Dar al-Fikr al-Hadits, 1994 M.
  • Zarrinkub, Abdul Husain. Bamdad-e Eslam. Teheran: Amirkabir, 1376 HS.

Pranala Luar