Konsep:Ayat 56 Surah Al-Ma'idah
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-Ma'idah |
| Ayat | 56 |
| Juz | 6 |
| Informasi Konten | |
| Tempat Turun | Madinah |
| Tentang | Keyakinan (Akidah) |
| Deskripsi | Menerima Wilayah |
| Ayat-ayat terkait | Ayat 55 Surah Al-Ma'idah (dikenal sebagai Ayat Wilayah) |
Ayat 56 Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:آیة ۵۶ سورة المائده) memperkenalkan orang-orang yang menerima perwalian (wilayah) Allah, Rasulullah, dan orang-orang mukmin khusus sebagai penolong Allah (Hizbullah) dan menganggap kemenangan mereka sebagai sesuatu yang pasti.[1] Ayat ini dianggap sebagai pelengkap kandungan ayat sebelumnya dan kelanjutan tujuannya.[2] Syiah, dengan memperhatikan makna "Hizb" yang berarti sekelompok orang, menafsirkan Wilayah dalam ayat ini sebagai kepemimpinan, perwalian, dan otoritas dalam urusan (tasharruf).[3] Menurut Fakhrurrazi, salah seorang mufasir Ahlusunah, "Hizbullah" juga ditafsirkan secara ekuivalen sebagai "Jundullah" (Tentara Allah) dan "Ansharullah" (Penolong Allah).[4] Dalam tafsir Athib al-Bayan, yang dimaksud dengan kemenangan adalah keberuntungan di dunia dan akhirat.[5] Para mufasir Ahlusunah menafsirkan wilayah dalam ayat ini dengan makna persahabatan dan pertolongan.[6]
"Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman walinya, maka sesungguhnya penolong (agama) Allah itulah yang pasti menang." (QS. Al-Maidah : 56)
Para mufasir Syiah dan sebagian Ahlusunah menganggap Sya'n Nuzul ayat ini berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib as.[7] Mengenai sebab turunnya ayat ini dinukilkan bahwa setelah turunnya Ayat 55 Surah Al-Ma'idah, Nabi saw pergi menuju masjid bersama para sahabat, dan setelah beliau mengetahui peristiwa pemberian cincin kepada orang miskin oleh Imam Ali as saat sedang Ruku', beliau bertakbir dan membaca ayat 56 Surah Al-Ma'idah.[8]
Mufasir Syiah dan Sunni meyakini bahwa kata "Yatawalla" (یَتَوَلَّی) dalam ayat 56 Surah Al-Ma'idah berasal dari akar kata "Wala" (وَلَی) yang bermakna menerima perwalian (wilayah).[9] Mufasir Syiah dengan menolak makna persahabatan dan pertolongan yang diajukan oleh sebagian ulama Ahlusunah, menafsirkan "Wali" sebagai pemimpin dan penguasa.[10] Menurut pandangan mereka, orang-orang mukmin harus menerima wilayah (kepemimpinan)[11] dan siapa pun yang bergabung dengan wilayah Allah dan Imam Maksum as, maka ia adalah Hizbullah dan akan menang.[12] Nashir Makarim Syirazi menekankan bahwa kata "Hizbullah" dan "Ghalabah" (kemenangan/dominasi) menunjukkan makna kepemimpinan dan pemerintahan untuk kata wilayah, bukan sekadar persahabatan dan pertolongan.[13]

Mufasir Syiah menganggap ayat ini sebagai dalil penetapan suksesi Imam Ali as setelah Nabi Muhammad saw[14] dan menisbatkan frasa "Alladzina Amanu" (orang-orang yang beriman) kepada Imam Ali as.[15] Hakim Haskani dari kalangan Ahlusunah juga menganggap ayat 56 memuji Ali as dan menukil dari Ibnu Abbas bahwa "Hizbullah" bermakna "Syiah Allah", "Syiah Muhammad", dan "Syiah Ali", serta menafsirkan "Ghalibun" sebagai hamba-hamba yang unggul dan kemenangan atas para penentang.[16]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 433; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 433; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 433; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10.
- ↑ Fakhrurrazi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 12, hlm. 387.
- ↑ Thayyib, Athib al-Bayan, 1369 HS, jld. 4, hlm. 405.
- ↑ Fakhrurrazi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 12, hlm. 386-387; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 1, hlm. 5; Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, 1414 H, jld. 1, hlm. 2.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10; Fakhrurrazi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 12, hlm. 386-387; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 1, hlm. 5; Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, 1414 H, jld. 1, hlm. 2; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, 1419 H, jld. 3, hlm. 127.
- ↑ Wahidi, Asbab al-Nuzul, 1411 H, hlm. 202.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10; Fakhrurrazi, al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 12, hlm. 386-387; Baidhawi, Anwar al-Tanzil, 1418 H, jld. 1, hlm. 5; Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, 1414 H, jld. 1, hlm. 2; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-Azhim, 1419 H, jld. 3, hlm. 127.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 433; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10; Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1391 HS, jld. 23, hlm. 152; Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 83.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1391 HS, jld. 23, hlm. 152; Jafari, Tafsir Kautsar, 1376 HS, jld. 3, hlm. 192.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1391 HS, jld. 23, hlm. 152; Jafari, Tafsir Kautsar, 1376 HS, jld. 3, hlm. 192.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 433.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 89; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10.
- ↑ Thabrisi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 7, hlm. 89; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 6, hlm. 10.
- ↑ Haskani, Syawahid al-Tanzil, 1411 H, jld. 1, hlm. 246.
Daftar Pustaka
- Baidhawi, Abdullah bin Umar. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil. Beirut, Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
- Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
- Haskani, Ubaidullah bin Abdullah. Syawahid al-Tanzil li-Qawa'id al-Tafdhil. Teheran, Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, 1411 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-Azhim. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419 H.
- Jafari, Ya'qub. Tafsir Kautsar. Qom, Muassasah Entisharat-e Hejrat, 1376 HS.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Isra, 1391 HS.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
- Rasyid Ridha, Muhammad. Tafsir al-Manar. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1414 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1390 H.
- Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nashir Khusro, 1372 HS.
- Thayyib, Abdul Husain. Athib al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Islam, 1369 HS.
- Wahidi, Ali bin Ahmad. Asbab Nuzul al-Qur'an. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1411 H.