Konsep:Perjanjian Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar
Perjanjian Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar pada tahun pertama Hijriah, yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, adalah langkah mendasar dalam pembentukan umat Islam dan memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat Muslim di Madinah. Perjanjian ini dibentuk dengan tujuan memperkuat persatuan dan menghilangkan perselisihan antara Muhajirin dan Anshar, serta menghadapi ancaman internal dan eksternal, dan memperdalam rasa tanggung jawab sosial di kalangan kaum Muslimin.
Jumlah peserta awal dalam perjanjian persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar dilaporkan sebanyak 90 atau 100 orang, namun seiring bertambahnya jumlah Muslim di tahun-tahun berikutnya, jumlah ini secara bertahap bertambah. Berdasarkan sumber-sumber sejarah, pemilihan individu dalam perjanjian ini dilakukan oleh Nabi saw sendiri dan dalam pemilihan ini, kedudukan moral dan sosial setiap individu diperhatikan. Berdasarkan sumber-sumber Syiah dan Ahlusunah, Rasulullah saw di akhir upacara memilih Ali bin Abi Thalib as sebagai saudaranya dan bersabda: "Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku".
Beberapa sumber sejarah menganggap saling mewarisi di antara saudara seiman sebagai salah satu hukum awal dari perjanjian persaudaraan, namun hukum ini dinasakh (dihapus) dengan ayat "Ulu al-Arham". Tentu saja, kebenaran laporan ini diragukan oleh beberapa peneliti.
Perjanjian Persaudaraan di Madinah, Pondasi Umat Islam
Perjanjian persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar pada tahun pertama Hijriah, dilakukan atas perintah Allah dan oleh Nabi Muhammad saw.[1] Suatu hari Rasulullah saw dalam sebuah pertemuan umum, berpaling kepada para sahabatnya dan bersabda: "Ikatlah perjanjian persaudaraan agama dua orang dua orang di antara kalian."[2] Perjanjian ini dianggap sebagai langkah politik dan sosial pertama dan terpenting Nabi Islam setelah hijrah dari Mekah ke Madinah dan dianggap sebagai tanda pembentukan umat yang satu pada awal Islam.[3]
Waktu dan Tempat Perjanjian Persaudaraan
Syekh Mufid, seorang ulama Syiah, menganggap tanggal diadakannya perjanjian persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar adalah 12 Ramadan tahun pertama Hijriah.[4] Namun demikian, ada riwayat lain yang dinukil mengenai waktu perjanjian ini;[5] beberapa menyebutkan tanggalnya tiga bulan, beberapa lima bulan, dan beberapa lainnya delapan bulan setelah hijrah.[6] Selain itu, menurut riwayat Anas bin Malik, upacara ini diadakan di rumahnya[7] dan berdasarkan beberapa riwayat lain, dilakukan di Masjid Nabawi.[8]
Para sejarawan, termasuk Ibnu Hajar Asqalani, melaporkan bahwa meskipun permulaan perjanjian persaudaraan adalah pada awal kedatangan Rasulullah saw ke Madinah;[9] namun proses ini terus berlanjut, sedemikian rupa sehingga setiap kali seseorang masuk Islam atau datang ke Madinah, Nabi mempersaudarakannya dengan salah satu Muslim lainnya.[10]
Tujuan Sosial dan Politik Perjanjian Persaudaraan
Tujuan terpenting dari pelaksanaan perjanjian persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar disebutkan untuk memperkuat ikatan hati para sahabat dan menciptakan persatuan dalam menghadapi musuh-musuh Islam.[11] Menurut Ja'far Subhani, seorang ulama Syiah, Nabi setelah tiba di Madinah harus menjaga eksistensi diri dan para sahabatnya agar terhindar dari pengaruh musuh internal dan eksternal. Salah satu tantangan di jalan ini adalah perbedaan antara Muhajirin dan Anshar; karena mereka dibesarkan di dua lingkungan yang berbeda dan dengan pemikiran yang berbeda.[12]
Menghilangkan keterasingan dan kemiskinan Muhajirin di Madinah,[13] mengurangi kesenjangan kelas dan mewujudkan keadilan sosial,[14] rasa tanggung jawab kaum Muslimin terhadap satu sama lain,[15] memperkuat semangat pengorbanan (itsar)[16] dan mempersiapkan landasan untuk menegakkan nilai-nilai Islam[17] disebutkan sebagai tujuan dan dampak lain dari perjanjian persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.
Peserta dalam Perjanjian
Jumlah peserta dalam perjanjian persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar di Madinah disebutkan 90 atau 100 orang; artinya dari setiap kelompok 45 atau 50 orang.[18] Dalam riwayat lain, jumlah ini dilaporkan hingga 186[19] dan bahkan 300 orang.[20] Menurut sebuah nukilan, tidak ada seorang Muhajirin pun yang tersisa kecuali ia mengikat perjanjian persaudaraan dengan salah seorang Anshar.[21] Beberapa peneliti percaya bahwa perbedaan dalam statistik ini mungkin disebabkan oleh bergabungnya kaum Muslimin lainnya secara bertahap ke dalam perjanjian ini selama sepuluh tahun kehadiran Nabi di Madinah.[22]
Sumber-sumber sejarah menukil pemilihan individu untuk bersaudara satu sama lain oleh Nabi sendiri dengan ungkapan "Akhâ Rasulullah baina Fulan wa Fulan" (Rasulullah mempersaudarakan antara Fulan dan Fulan).[23] Dikatakan bahwa Nabi dalam pemilihan ini mempertimbangkan kedudukan moral dan sosial individu.[24] Sumber-sumber seperti Sirah Ibnu Hisyam mencatat nama-nama mereka yang dipersaudarakan.[25] Dalam proses perjanjian ini, Nabi mempersaudarakan antara Abu Bakar dan Kharijah bin Zaid al-Anshari, Umar dan Utban bin Malik al-Anshari al-Khazraji, Utsman dan Aus bin Tsabit, Abu Ubaidah al-Jarrah dan Sa'ad bin Muadz, Abdurrahman bin Auf dan Sa'ad bin Rabi', Thalhah dan Ka'ab bin Malik, Zubair dan Salamah bin Salam, Salman al-Farisi dan Abu Darda', Ammar bin Yasir dan Hudzaifah bin Najjar atau menurut riwayat lain Tsabit bin Qais, dan lain-lain.[26]
Ikatan Persaudaraan Nabi saw dan Imam Ali as
Ikatan persaudaraan antara Nabi saw dan Imam Ali as termasuk di antara mutawatir sejarah.[27] Dalam sumber-sumber sejarah disebutkan, setelah terjalinnya perjanjian persaudaraan di antara para sahabat Nabi saw, Imam Ali as dengan sedih mengeluhkan karena tidak ditentukan saudara untuknya. Nabi saw sebagai jawaban, menyebutnya sebagai saudara beliau di dunia dan akhirat[28] dan bersabda: "Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku. Engkau adalah saudaraku dan pewarisku."[29]
Selain sumber-sumber Syiah,[30] banyak sumber Ahlusunah juga menukil persaudaraan Nabi dan Imam Ali dalam peristiwa perjanjian persaudaraan Madinah.[31] Allamah Amini dalam kitab Al-Ghadir telah menunjukkan lima puluh kasus dari sumber-sumber ini.[32]
Apakah Saudara Seiman Saling Mewarisi?
Menurut laporan beberapa sumber sejarah, perjanjian persaudaraan selain dua prinsip "Haq" (keadilan) dan "Muwâsât" (saling membantu), juga mencakup masalah Warisan [catatan 1] dan umat Islam seperti dua saudara kandung saling mewarisi satu sama lain.[33] Namun hukum ini dinasakh dengan turunnya ayat «وَ أُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَیٰ بِبَعْضٍ» (Dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya)[34] dan kerabat nasab (Dzawil Arham) menggantikan saudara seiman dalam masalah warisan.[35]
Beberapa peneliti percaya bahwa hukum saling mewarisi saudara seiman dan penisbatannya kepada Nabi, tidak mungkin benar; karena pertama, masalah ini -meskipun penting- hanya disebutkan dalam beberapa sumber sejarah dan dalam beberapa laporan hanya dicukupkan dengan dua prinsip "Haq" dan "Muwâsât".[36] Kedua, penghapusan (nasakh) hukum sebelum waktu pelaksanaannya adalah hal yang batil;[37] karena menurut laporan sumber-sumber sejarah, dalam waktu singkat hukum ini, tidak ada satu pun Muslim yang meninggal sehingga warisan dapat dipindahkan.[38] Oleh karena itu, diduga bahwa umat Islam berdasarkan kebiasaan pra-Islam,[39] mengira bahwa saudara seiman juga saling mewarisi.[40]
Catatan
- ↑ "[Rasulullah saw.] telah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar di atas dasar kebenaran, saling tolong-menolong, dan agar mereka saling mewarisi setelah kematian."(Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 184; Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Dar al-Afaq al-Jadidah, hlm. 71; Shalihi Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 3, hlm. 363.)
Catatan Kaki
- ↑ Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 505; Ibnu Hayyun, Al-Manaqib wa al-Matsalib, 1423 H, hlm. 136; Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 226.
- ↑ Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 505; Ibnu Hayyun, Al-Manaqib wa al-Matsalib, 1423 H, hlm. 136; Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 3, hlm. 226.
- ↑ Deh-Pahlawani, «Peyman-e Baradari Miyan-e Muhajir wa Anshar», Situs Pajoohe.
- ↑ Syekh Mufid, Masarr al-Syi'ah, 1413 H, hlm. 23.
- ↑ Hidayat Panah, «Jaygah-e Peyman-e Baradari dar Hukumat-e Nabawi», hlm. 256.
- ↑ Diyar Bakri, Tarikh al-Khamis, Dar Shadir, jld. 1, hlm. 353; Shalihi Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 3, hlm. 367.
- ↑ Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 184; Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 3, hlm. 70.
- ↑ Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari, 1379 HS, jld. 7, hlm. 271; Shalihi Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 3, hlm. 367.
- ↑ Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari, 1379 HS, jld. 7, hlm. 271; Shalihi Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 3, hlm. 367.
- ↑ Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari, 1379 HS, jld. 7, hlm. 271; Shalihi Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 3, hlm. 367.
- ↑ Sekelompok Penulis, Mausu'ah Radd Syubuhat, 1395 HS, jld. 5, hlm. 22.
- ↑ Subhani, Furugh-e Abadiyat, 1385 HS, hlm. 445-446.
- ↑ Amiri Haradhi, Bahjah al-Mahafil, Dar al-Shadir, jld. 1, hlm. 159.
- ↑ Sajjadi dan Mahrusy, «Baradari», jld. 9, hlm. 519.
- ↑ Zargari Nejad, Tarikh-e Sadr-e Eslam, 1387 HS, hlm. 350.
- ↑ Muthahhari, Yaddasht-haye Ustad Muthahhari, 1378 HS, jld. 13, hlm. 136.
- ↑ Malik, «Peyman-e Baradari», hlm. 38.
- ↑ Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 184; Ibnu Jauzi, Al-Muntazham, 1412 H, jld. 3, hlm. 71.
- ↑ Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 1, hlm. 69.
- ↑ Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1430 H, jld. 2, hlm. 220; Subhani, Furugh-e Abadiyat, 1385 HS, hlm. 447.
- ↑ Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 271; Maqrizi, Imta' al-Asma', 1420 H, jld. 1, hlm. 69.
- ↑ Hidayat Panah, «Jaygah-e Peyman-e Baradari dar Hukumat-e Nabawi», hlm. 256.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 1, hlm. 93, 117 dan 178; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1409 H, jld. 1, hlm. 112, 170 dan 218; Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 1, hlm. 234, 300 dan 666.
- ↑ Ibnu Idris, Mujtama' al-Madinah fi 'Ahd al-Rasul saw, 1412 H, hlm. 134-136.
- ↑ Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 1, hlm. 505-506.
- ↑ Diyar Bakri, Tarikh al-Khamis, Dar Shadir, jld. 1, hlm. 353.
- ↑ Syirri, Amir al-Mu'minin as Uswah-ye wahdat, 1372 HS, hlm. 157.
- ↑ Thabari, Dzakhair al-'Uqba, 1356 H, hlm. 66.
- ↑ Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, Dar al-Uswah, jld. 1, hlm. 177.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Arbili, Kasyf al-Ghummah, 1381 HS, jld. 1, hlm. 66; Karajiki, Kanz al-Fawaid, 1410 H, jld. 2, hlm. 180.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athhar, 1409 H, jld. 2, hlm. 539; Ibnu Katsir Dimasyqi, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1407 H, jld. 7, hlm. 335; Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 3, hlm. 1098; Ibnu Sabbagh, Al-Fushul al-Muhimmah, 1422 H, jld. 1, hlm. 220.
- ↑ Amini, Al-Ghadir, 1416 H, jld. 3, hlm. 162-180.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 17, hlm. 200.
- ↑ Surah Al-Ahzab, ayat 6.
- ↑ Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 1, hlm. 184; Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Dar al-Afaq al-Jadidah, hlm. 71; Shalihi Syami, Subul al-Huda, 1414 H, jld. 3, hlm. 363.
- ↑ Hidayat Panah, «Jaygah-e Peyman-e Baradari dar Hukumat-e Nabawi», hlm. 257.
- ↑ Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1430 H, jld. 2, hlm. 220.
- ↑ Ibnu Habib, Al-Muhabbar, Dar al-Afaq al-Jadidah, hlm. 71.
- ↑ Waqidi, Al-Maghazi, 1409 H, jld. 1, hlm. 329.
- ↑ Hidayat Panah, «Jaygah-e Peyman-e Baradari dar Hukumat-e Nabawi», hlm. 257.
Daftar Pustaka
- Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ash-hab. Peneliti: Al-Bijawi, Ali Muhammad. Beirut: Dar al-Jil, cetakan pertama, 1412 H.
- Ibnu Atsir Jazari, Ali bin Muhammad. Usd al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
- Ibnu Idris, Abdullah bin Abdul Aziz. Mujtama' al-Madinah fi 'Ahd al-Rasul saw. Tanpa Tempat: Al-Maktabah al-Syamilah al-Dzahabiyyah, cetakan kedua, 1412 H.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Muntazham. Peneliti: Atha, Muhammad Abdul Qadir, Atha, Mustafa Abdul Qadir. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1412 H.
- Ibnu Habib, Muhammad bin Habib. Al-Muhabbar. Peneliti: Stetter, Ilse Lichten, Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, cetakan pertama, Tanpa Tahun.
- Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Peneliti: Abdul Maujud, Adil Ahmad, Mu'awwadh, Ali Muhammad, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1415 H.
- Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Al-Manaqib wa al-Matsalib. Beirut: Muassasah al-A'lami, cetakan pertama, 1423 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad, Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athhar. Peneliti: Husaini Jalali, Muhammad. Qom: Jama'ah al-Mudarrisin fi al-Hauzah al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1409 H.
- Ibnu Sa'ad Katib al-Waqidi, Muhammad bin Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Peneliti: Atha, Muhammad Abdul Qadir. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1410 H.
- Ibnu Sabbagh Maliki. Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma'rifah al-Aimmah. cetakan pertama, Qom: Dar al-Hadits, 1422 H.
- Ibnu Katsir Dimasyqi, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
- Ibnu Hisyam, Abdul Malik. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Peneliti: Al-Saqqa, Mustafa, Al-Abyari, Ibrahim, Syalabi, Abdul Hafizh, Dar al-Ma'rifah. Beirut: Cetakan pertama, Tanpa Tahun.
- Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Peneliti dan Korektor: Rasuli Mahallati, Hasyim, Tabriz, Nasyr Bani Hasyimi, cetakan pertama, 1381 HS.
- Al-Syarif, Ahmad Ibrahim. Makkah wa al-Madinah fi al-Jahiliyyah wa 'Ahd al-Rasul saw. Tanpa Tempat: Dar al-Fikr al-Arabi, Tanpa Tahun.
- Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab, cetakan pertama. Qom: Markaz al-Ghadir lil-Dirasat al-Islamiyyah, 1416 H.
- Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Qom: Mansyurat al-Radhi, cetakan pertama, 1421 H.
- Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Peneliti: Zakkar, Suhail, Zirikli, Riyadh. Beirut: Dar al-Fikr, cetakan pertama, 1417 H.
- Sekelompok Penulis. Mausu'ah Radd Syubuhat (Imam Ali). Teheran: Mash'ar, cetakan pertama. Hauzah Perwakilan Wali Faqih dalam Urusan Haji dan Ziarah, 1395 HS.
- Deh-Pahlawani, Tal'at. «Peyman-e Baradari Miyan-e Muhajir wa Anshar», Pusat Penelitian Baqir al-Ulum as, Situs Pajoohe.
- Diyar Bakri, Husain bin Muhammad. Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfas al-Nafis. Beirut: Dar Shadir, Tanpa Tahun.
- Zargari Nejad, Gholamhossein. Tarikh Sadr-e Islam. Teheran: Intisyarat Samt, cetakan pertama, 1387 HS.
- Subhani, Ja'far. Furugh-e Abadiyat. Qom: Bustan Kitab, cetakan kedua puluh tujuh, 1385 HS.
- Sajjadi, Shadiq dan Mahrusy, Farhang. «Baradari», dalam Da'irah al-Ma'arif Buzurg Islami. Teheran: Markaz Da'irah al-Ma'arif Buzurg Islami.
- Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Masarr al-Syi'ah fi Mukhtashar Tawarikh al-Syari'ah. Peneliti dan Korektor: Najaf, Mahdi, Kongres Internasional Milenium Syekh Mufid. Qom: cetakan pertama, 1413 H.
- Syirri, Muhammad Jawad. Amir al-Mu'minin as Uswah-ye wahdat. Penerjemah: Muhammad Reza Ataei. Masyhad: Astan Quds Razawi, 1372 HS.
- Shalihi Dimasyqi, Muhammad bin Yusuf. Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khair al-Ibad. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1414 H.
- Thabari, Muhibbuddin. Dzakhair al-'Uqba. Kairo: Maktabah al-Qudsi, 1356 H.
- Amiri Haradhi, Yahya bin Abi Bakar Amiri. Bahjah al-Mahafil wa Bughyah al-Amatsil fi Talkhish al-Mu'jizat wa al-Siyar wa al-Syamail. Pensyarah: Asykhar Yamani, Muhammad bin Abi Bakar. Beirut: Dar al-Shadir, cetakan pertama, Tanpa Tahun.
- Amili, Ja'far Murtadha. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham. Beirut: Al-Markaz al-Islami lil-Dirasat, cetakan kedua, 1430 H.
- Qunduzi, Sulaiman bin Ibrahim. Yanabi' al-Mawaddah li Dzawi al-Qurba. Qom: Dar al-Uswah, Tanpa Tahun.
- Karajiki, Muhammad bin Ali. Kanz al-Fawaid. Peneliti dan Korektor: Ni'mah, Abdullah. Qom: Dar al-Dzakha'ir, cetakan pertama, 1410 H.
- Malik, Muhammad Reza. «Peyman-e Baradari», dalam Nasyriyeh Pasdar-e Islam, Nomor 153, Shahriwar 1373 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Yaddasht-haye Ustad Muthahhari, Teheran: Sadra, cetakan pertama, 1378 HS.
- Maqrizi, Ahmad bin Ali. Imta' al-Asma' bima lil-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata'. Peneliti: Namisi, Muhammad Abdul Hamid. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1420 H.
- Maqrizi, Taqiyuddin. Imta' al-Asma' bima lil-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata'. Peneliti: Namisi, Muhammad Abdul Hamid. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1420 H.
- Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1374 HS.
- Waqidi, Muhammad bin Umar. Kitab al-Maghazi. Peneliti: Marsden Jones. Beirut: Muassasah al-A'lami, cetakan ketiga, 1409 H.
- Hidayat Panah, Muhammad Reza, «Jaygah-e Peyman-e Baradari dar Hukumat-e Nabawi», dalam Nasyriyeh Ketab-e Mah-e Tarikh wa Joghrafiya, Nomor 61 dan 62, Aban dan Azar 1281 HS.