Konsep:Ayat 72 Surah Al-Isra
Tampilan
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-Isra' |
| Ayat | 72 |
| Juz | 15 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Ada |
| Tempat Turun | Mekkah |
Ayat 72 Surah Al-Isra mengisyaratkan keadaan orang-orang yang buta hatinya di dunia; yang akibatnya, mereka akan dikumpulkan dalam keadaan buta pula di akhirat.[1] Menurut Allamah Thabathaba'i, kebutaan di dunia dan akhirat yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah kebutaan fisik atau lahiriah, melainkan hilangnya basirah (mata batin) dan penglihatan spiritual (makrifat).[2]
| “ | وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعمَىٰ فَهُوَ فِي ٱلأَخِرَةِ أَعمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلٗا
|
” |
"Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat kelak ia akan buta dan lebih tersesat jalannya."
Berkenaan dengan ayat 72 Surah Al-Isra' ini, terdapat berbagai riwayat[3] yang darinya para mufasir menguraikan ragam pemahaman berikut:
- Kedudukan Imam dalam Hidayah: Allamah Thabathaba'i[4] dan Nashir Makarim Syirazi[5] meyakini bahwa ayat ini mengisyaratkan pentingnya kedudukan Imamah. Mereka yang tidak mengenal Imamnya niscaya tidak akan memperoleh keberuntungan di akhirat. Sebagai contoh, dalam sebuah riwayat, Imam Ali as bersabda: "Kebutaan yang paling parah adalah kebutaan terhadap keutamaan kami (Para Imam)."[6]
- Perhatian terhadap Ayat-ayat Ilahi: Imam Baqir as menyatakan bahwa seseorang yang tidak tertuntun oleh tanda-tanda kebesaran Allah menuju jalan kebenaran, maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan buta di akhirat.[7] Dalam kitab Tafsir Majma' al-Bayan, disebutkan bahwa kebutaan hati terhadap nikmat-nikmat duniawi akan mengakibatkan kebutaan hati di akhirat kelak.[8] Lebih lanjut dijelaskan bahwa kebutaan ukhrawi dan kegagalan dalam menemukan jalan menuju Surga merupakan hukuman atas kebutaan hati di dunia serta ketidakmampuan dalam melihat jalan keselamatan.[9]
- Pentingnya Pelaksanaan Haji: Imam Shadiq as menafsirkan bahwa ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang mengabaikan kewajiban Haji; mereka kelak akan dikumpulkan dalam keadaan buta di akhirat.[10] Sejalan dengan itu, Makarim Syirazi mengisyaratkan bahwa ibadah haji dapat menumbuhkan penglihatan rohani dan memperdalam pemahaman terhadap pelbagai hakikat.[11]
Catatan Kaki
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1375 HS, jld. 12, hlm. 202.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 13, hlm. 169.
- ↑ Huwaizi, Tafsir Nur at-Tsaqalain, 1415 H, jld. 3, hlm. 195; Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1415 H, jld. 3, hlm. 557.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, 1352 HS, jld. 13, hlm. 169.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 12, hlm. 204.
- ↑ Huwaizi, Tafsir Nur at-Tsaqalain, 1415 H, jld. 3, hlm. 195.
- ↑ Bahrani, Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, 1415 H, jld. 3, hlm. 557.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1412 H, jld. 6, hlm. 663.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1412 H, jld. 6, hlm. 663; Thabarsi, Tafsir Jawami' al-Jami', 1408 H, jld. 2, hlm. 339.
- ↑ Ali bin Ibrahim Qummi, Tafsir al-Qummi, 1404 H, jld. 2, hlm. 24.
- ↑ Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 12, hlm. 207.
Daftar Pustaka
- Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Muassasah al-Ba'tsah, Markaz ath-Thiba'ah wa an-Nasyr, 1415 H.
- Huwaizi, Abd Ali bin Jum'ah. Tafsir Nur at-Tsaqalain. Qom, Ismailiyan, 1415 H.
- Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS.
- Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Qom, Dar al-Kitab, 1404 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan. Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1408 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Tafsir Jawami' al-Jami'. Qom, Hauzah Ilmiah Qom, 1412 H.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1352 HS/1393 H.