Lompat ke isi

Konsep:Pernikahan Nabi saw dengan Aisyah

Dari wikishia

c || || || || || - || || || editorial box

Pernikahan Nabi saw dengan Aisyah adalah salah satu topik sejarah yang kontroversial dan khususnya oleh sebagian Orientalis dan penulis kontemporer, dijadikan dalih untuk melontarkan tuduhan terhadap kepribadian Nabi Muhammad saw. Aisyah, putri Abu Bakar, berdasarkan riwayat masyhur Ahlusunah, diperkenalkan sebagai satu-satunya istri Nabi yang masih gadis setelah Sayidah Khadijah sa dan dalam beberapa sumber, dianggap sebagai istri yang paling dicintai oleh Nabi; meskipun sejumlah peneliti mengajukan keraguan tentang kebenaran klaim-klaim ini. Pernikahan ini terjadi setelah wafatnya Sayidah Khadijah sa dan setelah pernikahan Nabi dengan Saudah, dan sebagian orang menilainya sebagai bagian dari tujuan sosial dan politik Nabi saw, termasuk memperkuat hubungan dengan Bani Taim.

Sumbu perbedaan pendapat terpenting di kalangan peneliti sejarah mengenai peristiwa kehidupan Nabi saw ini adalah usia Aisyah pada saat pernikahan. Pandangan masyhur Ahlusunah menyebutkan usianya saat akad nikah adalah enam atau tujuh tahun dan saat zafaf (malam pertama) sekitar sembilan tahun; namun sekelompok peneliti kontemporer dengan membaca ulang data sejarah, tidak menerima laporan ini dan memperkirakan usia Aisyah antara tiga belas hingga delapan belas atau bahkan sembilan belas tahun. Untuk menolak teori usia muda Aisyah saat menikah, digunakan bukti-bukti seperti perbandingan usianya dengan kakaknya Asma, laporan tentang kelahiran semua anak Abu Bakar di Masa Jahiliah, dan fakta bahwa sebagian besar riwayat tentang usia Aisyah berasal dari penuturannya sendiri atau Urwah bin Zubair.

Beberapa penelitian menganggap motivasi untuk menampilkan Aisyah sebagai sosok yang masih sangat muda adalah untuk menciptakan semacam keistimewaan dan karakteristik eksklusif baginya di antara Istri-istri Nabi saw. Waktu pernikahan ini diperkirakan dua atau tiga tahun sebelum Hijrah.

Pentingnya

Pernikahan Rasulullah saw pada usia sekitar 55 tahun dengan Aisyah yang masih muda, adalah salah satu proposisi sejarah yang menyebabkan sebagian penulis, khususnya para orientalis, melontarkan tuduhan terhadap Rasulullah saw.[1] Aisyah putri Abu Bakar, di antara Istri-istri Nabi saw, dianggap sebagai satu-satunya istri Nabi yang masih gadis setelah Sayidah Khadijah sa[2] yang menurut beberapa sumber Ahlusunah, merupakan istri Nabi saw yang paling cantik dan paling dicintai.[3] Tentu saja, sebagian pihak dengan merujuk pada laporan dari penulis Ahlusunah,[4] meragukan keperawanan Aisyah[5] dan juga statusnya sebagai yang paling dicintai.[6] Aisyah dinikahi Nabi saw setelah wafatnya Khadijah sa dan setelah pernikahan Nabi dengan Saudah.[7][8]

Dikatakan bahwa sebagian besar Pernikahan Nabi saw bertujuan untuk mendapatkan dukungan kabilah dan memperkuat pengaruh politik kaum Muslimin, dan pernikahan dengan Aisyah dari Bani Taim juga dinilai dalam konteks yang sama.[9]

Usia Aisyah Saat Menikah

Usia Aisyah saat menikah dilaporkan antara enam hingga sembilan tahun.[10] Pendapat yang masyhur adalah bahwa ia berusia enam atau tujuh tahun saat akad nikah[11] dan sekitar sembilan tahun saat zafaf (malam pertama).[12] Namun, beberapa peneliti dengan menganalisis data sejarah, menganggap usianya sekitar delapan belas tahun[13] dan sebagian lainnya antara tiga belas hingga tujuh belas tahun.[14]

Untuk menolak usia muda Aisyah, disebutkan beberapa dalil:

  • Aisyah Muslim Ke-19: Sayid Ja'far Murtadha Amili, sejarawan dan ulama dari Lebanon, menolak usia muda Aisyah dan dengan merujuk pada ucapan sejarawan yang menganggap Aisyah sebagai Muslim ke-19,[15] menyimpulkan bahwa ia berusia sekitar tujuh tahun pada awal Bi'tsah dan sekitar tujuh belas tahun pada saat akad nikah.[16]
  • Perawi Riwayat adalah Aisyah Sendiri: Dikatakan bahwa dalam tidak ada satu pun riwayat dari Nabi saw mengenai usia Aisyah dan sebagian besar riwayat ini berasal dari Aisyah sendiri, dan tabiat kewanitaan dalam menampilkan diri lebih muda pasti memiliki peran dalam penukilan ini.[17]
  • Perbandingan Usia Aisyah dengan Kakaknya: Sebagian dengan membandingkan usia Asma (kakak Aisyah) yang lahir 27 tahun sebelum Hijrah,[18] dan di sisi lain ucapan sejarawan yang menganggap Asma sepuluh tahun lebih tua dari Aisyah,[19] menyimpulkan bahwa Aisyah lahir 17 tahun sebelum Hijrah dan pada tahun kedua Hijriah saat menikah dengan Nabi, ia berusia sembilan belas tahun.[20]
  • Kelahiran Semua Anak Abu Bakar di Masa Jahiliah: Sebagian dengan memperhatikan nukilan sejarawan Thabari yang mengatakan semua anak Abu Bakar lahir pada Masa Jahiliah,[21] dan usia Aisyah pada saat wafat (tahun 57 H)[22] dianggap tujuh puluh tahun,[23] mengklaim bahwa teori sembilan tahun menjadi dipertanyakan.[24]

Motivasi Menampilkan Usia Muda Aisyah Saat Menikah

Motivasi menampilkan Aisyah berusia muda saat menikah dengan Nabi saw oleh dirinya sendiri atau keponakannya (Urwah bin Zubair) dianggap untuk menciptakan karakteristik khusus dan eksklusif baginya di antara Istri-istri Nabi saw.[25] Menurut sebagian peneliti, untuk mencapai tujuan ini, Aisyah menganggap dirinya sebagai satu-satunya istri perawan Nabi yang menikah dengan Nabi pada usia muda dan memperkenalkan Khadijah sebagai wanita berusia tua dan janda.[26] Sementara mengenai keperawanan Khadijah terdapat perbedaan pendapat; beberapa sumber sejarah Ahlusunah memperkenalkannya sebagai janda,[27] namun banyak ulama Syiah meyakini bahwa Khadijah saat menikah dengan Nabi adalah seorang gadis.[28]

Gambar sampul buku Difa' az Payambar-e Mazhlum

Waktu Pernikahan dengan Aisyah

Mengenai waktu pernikahan ini, sebagian menganggapnya dua atau tiga tahun sebelum Hijrah.[29] Menurut laporan masyhur, Nabi saw menikah dengan Aisyah pada tahun kesebelas Bi'tsah[30] dan menetapkan maharnya empat ratus dirham.[31] Sayid Murtadha Askari, penulis buku "Naqsy-e Aisyeh dar Islam" (Peran Aisyah dalam Islam), meyakini bahwa akad nikah terjadi pada tahun kesebelas Bi'tsah di Mekkah dan zafaf di Madinah setelah Perang Badar (tahun kedua Hijriah) atas desakan Abu Bakar.[32] Kehidupan bersama Nabi dan Aisyah berlangsung selama sembilan tahun dan lima bulan.[33]

Monograf

Pembahasan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah dibahas di sela-sela kitab sejarah;[34] namun buku mandiri mengenai topik ini jarang ditulis, di antaranya dapat disebutkan dua buku: Difa' az Payambar-e Mazhlum (Goftari Piramun-e Ezdewaj-e Payambar-e Akram ba Aisyeh) (Pembelaan terhadap Nabi yang Terzalimi: Pembahasan Seputar Pernikahan Nabi Mulia dengan Aisyah), karya Mohsen Ebrahim (Penerbit Ebtekar-e Danesy) dan Tahlili bar Ezdewaj-e Rasul-e Khuda saw ba Aisyeh Ummul Mukminin (Analisis Pernikahan Rasulullah saw dengan Aisyah Ummul Mukminin), karya Amir Sadegh Tabrizi (Penerbit Kurdistan).[35]

Catatan Kaki

  1. Shamimi, Muhammad dar Urupa, 1382 HS, hlm. 419-421; Ansari, Bazsyenasi-ye Qur'an, 1378 HS, hlm. 362-363.
  2. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 406.
  3. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 8, hlm. 68; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 8, hlm. 99.
  4. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 47; Asqalani, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 232.
  5. "Jubair bin Muth'im Hamsar-e Awwal-e Aisyeh", Paygah-e Takhassusi-ye Hazrat-e Khadijah sa.
  6. Ibnu Thawus, Al-Thara'if, 1400 H, jld. 1, hlm. 290; Taghizadeh Dawari, Taswir-e Khanewadeh-ye Payambar dar Da'irat al-Ma'arif Islam, 1387 HS, hlm. 97–104.
  7. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 46; Ibnu Qutaibah, Al-Ma'arif, 1410 H, hlm. 133-134.
  8. Ibnu Abdil Barr, Al-Isti'ab, 1412 H, jld. 4, hlm. 1881.
  9. Qadrdan Qaramaleki dan Moharrami, Pasukh be Syubahat-e Kalami: Darbare-ye Payambar-e A'zam, 1393 HS, hlm. 298.
  10. Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 232; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 22, hlm. 191.
  11. Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 47–48.
  12. Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 644; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 47–48.
  13. Taghizadeh Dawari, Taswir-e Khanewadeh-ye Payambar dar Da'irat al-Ma'arif Islam, 1387 HS, hlm. 92–93.
  14. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 3, hlm. 285-287.
  15. Ibnu Ishaq Hamadani, Al-Siyar wa al-Maghazi, 1398 H, jld. 1, hlm. 143.
  16. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 3, hlm. 285-287.
  17. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 3, hlm. 287; Jalali Liqwan dan Mirsepah, "Bazpazhuhesy dar Sen-e Aisyeh Hengam-e Izdiwaj ba Payambar saw", Tarikh-e Islam dar Ayine-ye Pazhuhesy, hlm. 33.
  18. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, 1419 H, jld. 69, hlm. 9; Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, 1414 H, jld. 2, hlm. 288.
  19. Thabarani, Al-Mu'jam al-Kabir, 1404 H, jld. 24, hlm. 77; Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, 1417 H, jld. 7, hlm. 11.
  20. Jalali Liqwan dan Mirsepah, "Bazpazhuhesy dar Sen-e Aisyeh Hengam-e Izdiwaj ba Payambar saw", Tarikh-e Islam dar Ayine-ye Pazhuhesy, hlm. 34.
  21. Thabari, Tarikh al-Thabari, 1387 H, jld. 3, hlm. 426.
  22. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 8, hlm. 101; Ibnu Thawus, Al-Thara'if, 1400 H, jld. 2, hlm. 503.
  23. Ibnu Abdi Rabbih, Al-Iqd al-Farid, 1404 H, jld. 5, hlm. 7.
  24. Jalali Liqwan dan Mirsepah, "Bazpazhuhesy dar Sen-e Aisyeh Hengam-e Izdiwaj ba Payambar saw", Tarikh-e Islam dar Ayine-ye Pazhuhesy, hlm. 33.
  25. Jalali Liqwan dan Mirsepah, "Bazpazhuhesy dar Sen-e Aisyeh Hengam-e Izdiwaj ba Payambar saw", Tarikh-e Islam dar Ayine-ye Pazhuhesy, hlm. 36.
  26. Jalali Liqwan dan Mirsepah, "Bazpazhuhesy dar Sen-e Aisyeh Hengam-e Izdiwaj ba Payambar saw", Tarikh-e Islam dar Ayine-ye Pazhuhesy, hlm. 36.
  27. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, 1417 H, jld. 1, hlm. 406; Ibnu Habib, Al-Munammaq, 1495 H, hlm. 247.
  28. Ibnu Syahrasyub, Manaqib Alu Abi Thalib, 1376 H, jld. 1, hlm. 159; Kufi, Al-Istighatsah, 1373 HS, jld. 10, hlm. 70; Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 20, hlm. 212.
  29. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 22, hlm. 235; Ibnu Hajar, Al-Ishabah, 1415 H, jld. 8, hlm. 232.
  30. Ibnu Sayyid al-Nas, Uyun al-Atsar, 1414 H, jld. 2, hlm. 368.
  31. Suhaili, Al-Raudh al-Unuf, 1412 H, jld. 7, hlm. 534.
  32. Askari, Naqsy-e Aisyeh dar Islam, 1390 HS, jld. 1, hlm. 45.
  33. Ibnu Hazm, Jawami' al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 27.
  34. Sebagai contoh: Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Dar al-Ma'rifah, jld. 2, hlm. 644; Ibnu Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 8, hlm. 47–48; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, 1408 H, jld. 8, hlm. 99; Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 3, hlm. 285-287.
  35. "Tahlili bar Izdiwaj-e Rasul-e Khuda saw ba Aisyeh Ummul Mukminin", Gisoom.

Daftar Pustaka

  • Amili, Ja'far Murtadha. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham. Qom: Dar al-Hadits, 1426 H.
  • Ansari (Roshangar), Mas'ud. Bazsyenasi-ye Qur'an. Paris: Nasyr-e Nima, 1378 HS.
  • Askari, Sayid Murtadha. Naqsy-e Aisyeh dar Islam. Qom: Muassasah Ilmi Farhangi Allamah Askari, 1390 HS.
  • Asyuri Langarudi, Hasan. Hamsaran-e Payambar saw (Pursesy-ha wa Pasukh-ha: 4). Tehran: Nasyr-e Hasti Nama, 1386 HS.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansab al-Asyraf. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Mizan al-I'tidal fi Naqd al-Rijal. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1382 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Siyar A'lam al-Nubala. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1414 H.
  • Ibnu Abdi Rabbih, Ahmad bin Muhammad. Al-Iqd al-Farid. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1404 H.
  • Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashhab. Beirut: Dar al-Jil, 1412 H.
  • Ibnu Asakir, Abu al-Qasim. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1419 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karam. Usd al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Ibnu Habib Baghdad, Muhammad. Al-Munammaq fi Akhbar Quraisy. Beirut: Alam al-Kutub, 1405 H.
  • Ibnu Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibnu Hazm Andalusi, Ali bin Ahmad. Jawami' al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Hisyam. Al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Ma'rifah, Tanpa Tahun.
  • Ibnu Ishaq Hamadani, Muhammad. Al-Siyar wa al-Maghazi. Beirut: Dar al-Fikr, 1398 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1408 H.
  • Ibnu Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Ma'arif. Kairo: Al-Hai'ah al-Mishriyyah al-Ammah li al-Kitab, 1410 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad. Al-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ibnu Sayyid al-Nas, Muhammad bin Abdullah. Uyun al-Atsar. Beirut: Dar al-Qalam, 1414 H.
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib. Najaf: Al-Maktabah al-Haidariyyah, 1376 H.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Thara'if fi Ma'rifah Madzahib al-Thawa'if. Qom: Khayyam, 1400 H.
  • Jalali Liqwan, Reza dan Akbar Mirsepah. "Bazpazhuhesy dar Sen-e Aisyeh Hengam-e Izdiwaj ba Payambar saw". Tarikh-e Islam dar Ayine-ye Pazhuhesy, No. 45, Musim Gugur dan Dingin 1397 HS.
  • "Jubair bin Muth'im Hamsar-e Awwal-e Aisyeh", Paygah-e Takhassusi-ye Hazrat-e Khadijah sa, tanggal kunjungan: 27 Aban 1404 HS.
  • Khatib Baghdadi, Ahmad bin Ali. Tarikh Baghdad. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1422 H.
  • Kufi, Ali bin Ahmad. Al-Istighatsah fi Bida' al-Tsalatsah. Tehran: Muassasah A'lami, 1373 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Qadrdan Qaramaleki, Muhammad Hasan dan Ghulam Hasan Muharrami. Pasukh be Syubahat-e Kalami: Darbare-ye Payambar-e A'zam saw. Tehran: Intisyarat-e Pazhuhesygah-e Farhang wa Andisyeh-ye Islami, 1393 HS.
  • Shamimi, Minoo. Muhammad dar Urupa. Penerjemah: Abbas Mehrpuya. Tehran: Intisyarat-e Ittela'at, 1382 HS.
  • Suhaili, Abdurrahman. Al-Raudh al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1412 H.
  • Taghizadeh Dawari, Mahmoud. Taswir-e Khanewadeh-ye Payambar saw dar Da'irat al-Ma'arif Islam. Qom: Intisyarat-e Syi'eh Syenasi, 1387 HS.
  • "Tahlili bar Izdiwaj-e Rasul-e Khoda saw ba Aisyeh Ummul Mukminin", Gisoom, tanggal kunjungan: 28 Aban 1404 HS.
  • Thabarah, Afif Abdul Fattah. Ma'a al-Anbiya' fi al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 2003 M.
  • Thabarani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Mu'jam al-Kabir. Mosul: Maktabah al-Zahra, 1404 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari (Tarikh al-Rusul wa al-Muluk). Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.