Lompat ke isi

Konsep:Ayat Mut'ah

Dari wikishia
Ayat Mut'ah
Informasi Ayat
NamaAyat Mut'ah
SurahAn-Nisa
Ayat24
Juz5
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangKebolehan nikah mut'ah dalam Islam


Ayat Mut'ah adalah ayat ke-24 Surah An-Nisa yang mengisyaratkan tentang kebolehan Nikah Mut'ah.[1] Menurut para mufasir, yang dimaksud dengan kata "istamta'tum" (Templat:Arab)[2] dalam ayat ini adalah akad nikah yang memiliki batasan waktu tertentu;[3] oleh karena itu, karena prinsip kebolehan nikah mut'ah sudah pasti, ayat ini hanya menjelaskan tentang kewajiban menentukan dan membayar Mahar.[4] Menurut Allamah Thabathaba'i, ayat ini turun di Madinah. Pada masa itu, nikah sementara yang disebut dengan Mut'ah sudah dikenal di kalangan Muslim dan lazim diamalkan.[5]

Dan (diharamkan juga kamu berkahwin dengan) perempuan-perempuan bersuami, kecuali hamba sahaya yang kamu miliki. (Itulah) ketetapan Allah atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (iaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikahwini, bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajipan; dan tiadalah berdosa kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling meredhainya sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.


Sebagian mufasir Ahlusunah, dengan bersandar pada riwayat-riwayat dari sahabat Nabi Muhammad saw, menganggap ayat ini telah di-mansukh (dihapus hukumnya) dan dengan mengisyaratkan pada beberapa riwayat, mereka mengatakan: Mut'ah dua kali diumumkan sebagai perbuatan Mubah pada masa Nabi Muhammad saw dan dua kali di-haramkan.[6] Mereka juga mengatakan bahwa mut'ah halal sebelum Perang Khaibar dan diharamkan pada perang tersebut; kemudian pada saat Fathu Makkah, kebolehannya kembali diumumkan oleh Rasulullah saw dan setelah tiga hari, untuk terakhir kalinya diumumkan haram hingga Hari Kiamat.[7] Berdasarkan hal ini, naskh (penghapusan hukum) ayat tersebut terjadi melalui Nabi Muhammad saw, dan Umar bin Khattab hanya mengumumkan keharamannya secara umum karena ketidaktahuan sebagian Muslim.[8]

Ibnu 'Asyur dalam tafsir Al-Tahrir wa al-Tanwir, ketika menelaah riwayat-riwayat dan mengisyaratkan pada perbedaan pendapat para sahabat Nabi Muhammad saw mengenai kebolehan nikah mut'ah, sampai pada kesimpulan bahwa pengharaman mut'ah dalam berbagai kasus dan pernyataan kebolehannya dalam kasus lain, tidak menunjukkan adanya naskh atas ayat ini; melainkan kebolehannya terbatas pada kondisi darurat.[9] Sebaliknya, para mufasir Syiah dengan bersandar pada ijma' (kesepakatan) para perawi dan mufasir dari Syiah dan Ahlusunah mengenai pensyariatan mut'ah dan kebolehannya pada masa Nabi Muhammad saw, tidak menerima klaim naskh tersebut; mereka menyatakan bahwa naskh (penghapusan) suatu ayat hanya dapat dibuktikan dengan ayat lain atau riwayat mutawatir, sedangkan riwayat-riwayat yang menjadi sandaran klaim naskh tersebut memiliki konten yang idhtirab (goncang/bertentangan) dan merupakan khabar wahid yang tidak memiliki kekuatan untuk me-naskh ayat Al-Qur'an.[10] Sayid Hasyim Bahrani dalam Tafsir al-Burhan menukil riwayat-riwayat dari para Imam Syiah yang menganggap ayat ini sebagai dalil kebolehan nikah sementara.[11]

Muhammad Jawad Balaghi juga dengan menelaah sumber-sumber riwayat Ahlusunah dan Syiah, berupaya membuktikan bahwa pengharaman Nikah Mut'ah tidak terjadi pada masa Nabi Muhammad saw dan larangan Umar bin Khattab tidak pantas untuk me-naskh kebolehan mut'ah.[12]

Dalam kitab Shahih Muslim juga dinukil sebuah riwayat dari Jabir bin Abdullah al-Anshari bahwa mut'ah pada masa Nabi Muhammad saw dan pada masa Abu Bakar serta hingga pertengahan masa pemerintahan Umar adalah halal, lalu Umar melarangnya.[13]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 335.
  2. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 4, hlm. 272.
  3. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 53.
  4. Makarim Syirazi, Tafsir Namuneh, 1374 HS, jld. 3, hlm. 335.
  5. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1417 H, jld. 4, hlm. 272.
  6. Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 498.
  7. Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 3, hlm. 7.
  8. Al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, 1415 H, jld. 3, hlm. 7.
  9. Ibnu 'Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir, 1420 H, jld. 4, hlm. 89.
  10. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 297.
  11. Al-Bahrani, Al-Burhan, 1415 H, jld. 2, hlm. 58.
  12. Al-Balaghi, Ala' al-Rahman, Penerbit Wijdani, jld. 2, hlm. 75-80.
  13. Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 2, hlm. 296.

Daftar Pustaka

  • Al-Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma'ani fi Tafsir al-Qur'an al-'Azhim wa al-Sab' al-Matsani. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, 1415 H.
  • Al-Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Muassasah al-Bi'tsah, 1415 H.
  • Al-Balaghi, Muhammad Jawad. Ala' al-Rahman fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Nasyr-e Wijdani, Tanpa tahun.
  • Al-Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Nashir Khosro, 1372 HS.
  • Al-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf 'an Haqaiq al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-'Arabi, 1407 H.
  • Ibnu 'Asyur, Muhammad Thahir. Al-Tahrir wa al-Tanwir. Beirut, Muassasah al-Tarikh al-'Arabi, 1420 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Namuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1371 HS.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil Mathbu'at, 1390 H.