Prioritas: b, Kualitas: b

Surah Al-Kafirun

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Surah Al-Kafirun
Surah Al-Kautsar← →Surah Al-Nashr
Arti Orang-orang Kafir
nomor 109
Nama lain Al-Jahd • Al-Ibadah • Al-Musyaqsyaqah.
Juz Juz 30
Wahyu
No. urut pewahyuan 18
Klasifikasi Makkiyah
Informasi
Jumlah ayat 6

Surah Al-Kafirun (bahasa Arab: سورة الْكَافِرُون, Al-Kāfirun, "Orang-orang Kafir") adalah surah ke-109 berdasarkan susunan mushaf dan surah ke-18 sesuai urutan pewahyuan Al-Quran. Surah ini dinamai Al-Kafirun lantaran diturunkan berkaitan dengan orang-orang kafir dan menjadi obyek seruan pada awal surah ini. Surah Al-Kafirun merupakan salah satu surah Makkiyah yang berisikan perintah kepada Rasulullah saw untuk berkata tegas kepada orang-orang kafir bahwa dalam urusan agama dan ibadahnya untuk bersikap kukuh dan tidak berkompromi dengan mereka dalam urusan ini.

Identitas Surah Al-Kafirun

Dari sisi isi, surah Al-Kafirun termasuk salah satu surah Al-Qishar Al-Mufashshalat dan menjadi salah satu bagian dari surah-surah juz ammah pada hizb ke-4 juz 30 Al-Quran. Surah ini adalah surah ke-11 dan surah terakhir yang bernada seruan (neda) dan mukhatabat (audiens). Demikian juga surah ke-2 yang dimulai dengan kata "قُل" "Katakanlah." Surah ini dan tiga surah lainnya (Al-Ikhlash, Al-Nas dan Al-Falaq) disebut sebagai empat qul. Surah Al-Kafirun mencakup upaya untuk menuntaskan hujjah kepada orang-orang kafir dan tiadanya kompromi, sinkretisme, campur aduk antara ajaran tauhid dan syirik serta penyembahan berhala. [1]

Kondisi Pewahyuan (Sya'n Al-Nuzul)

Para ahli tafsir (di antaranya Thabari, Syeikh Thusi, Maibadi, Zamaksyari, Syeikh Thabrisi dan Abul Futuh) terkait dengan kondisi pewahyuan atau sebab-sebab turunya surah ini menulis bahwa sebagian dari pembesar Quraisy yang merupakan para pemimpin kekafiran dan kesesatan, di antaranya Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, Umayah bin Khalaf, Aswad bin Abdul Muthhalib, dan Harits bin Qais datang ke hadapan Rasulullah saw dan mengusulkan untuk berkomporomi dan berdamai di antara dua belah pihak. Mereka berkata, "Selama beberapa waktu (setahun) engkau mengikuti agama kami, sembahlah berhala dan tuhan-tuhan kami. Dan sebaliknya selama beberapa lama (setahun) kami akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu." Nabi Muhammad Saw menolak dengan tegas tawaran ini dan kemudian turunlah surah ini. [2]

Beberapa Poin Tafsir

Allamah Thabathabai dalam memberikan penafsiran ayat keenam surah Al-Kafirun ini menulis, "Ayat ini sesuai dengan maknanya menegaskan persoalan yang disebutkan sebelumnya. Yaitu bahwa Rasulullah saw tidak bersama dengan orang-orang musyrik. Lam dalam lakum dan dalam li adalah lam khusus; artinya adalah agama kalian yaitu penyembahan berhala adalah terkhusus untuk kalian sendiri dan tidak akan menciderai (agama) saya dan agama saya khusus untuk saya dan tidak akan mencakup kalian." [3] Di sini boleh jadi terlintas anggapan dalam benak seseorang bahwa ayat ini berisikan pesan bahwa manusia bebas dalam memilih agama. Setiap orang sesuai dengan pilihannya masing-masing dapat memilih agama syirik dan sebaliknya dengan pilihannya memilih agama tauhid; atau terlintas penilaian dalam benak seseorang bahwa ayat ini menginstruksikan kepada Rasulullah saw untuk tidak mengurusi agama orang-orang musyrik. Adapun pemaknaan kami (Allamah Thabathabai) atas ayat ini akan menghilangkan anggapan dan penilaian seperti ini, karena kami katakan bahwa ayat ini menyatakan kalian tidak akan mengikuti agamaku dan saya juga tidak akan mengikuti agamamu; pada dasarnya merupakan ajakan kepada kebenaran yang menjadi tugas Al-Quran melenyapkan anggapan seperti ini. [4] Sebagian ahli tafsir untuk menghilangkan anggapan ini berkata, "Kata din yang disebutkan pada ayat tidak bermakna agama dan ajaran, melainkan bermakna jaza (ganjaran) artinya ganjaran kalian untuk kalian dan ganjaran saya untuk saya. [5] Sebagian lainnya berkata, "Pada ayat ini terdapat mudhaf yang telah terhapus dan secara implisit menyatakan demikian, "«لكم جزاء دينكم ولى جزاء دينى» bagi kalian pahala agama kalian dan bagi saya pahala agama saya. Namun penafsiran seperti ini tidak dapat diterima. [6]

Nama-nama Surah Al-Kafirun

  • Al-Kafirun: Surah ini dinamai Al-Kafirun lantaran diturunkan berkaitan dengan orang-orang kafir dan menjadi obyek seruan pada awal surah ini.
  • Al-Jahd (Ingkar): Karena surah ini berbicara tentang orang-orang yang mengingkari agama Allah swt.
  • Al-Ibadah: Lantaran kata ini (dengan derivasi yang beragam) disebutkan sebanyak 8 kali dalam surah ini.
  • Al-Musyaqsyaqah: Disebut Al-Musyaqsyaqah karena bermakna penyuci dan penjauh nifak, syirik dan kesesatan. Surah ini dengan tegas dan tandas menolak penyembahan berhala dan selain Tuhan di samping itu menjauhkan dan menyucikan manusia dari syirik dan kemunafikan. [7]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Dānesynāmeh Qur'ān wa Qur'ān Pazyuhi, jld. 2, hlm. 1269-1670.
  2. Qur'ān Karim, Tarjamah, Taudhihat wa Wāzye Nāme: Bahauddin Khuramsyahi, terkait dengan surah Al-Kafirun.
  3. Allamah Thabathabai, Al-Mizān, jld. 20, sehubungan dengan surah Al-Kafirun.
  4. Allamah Thabathabai, Al-Mizān, jld. 20, sehubungan dengan surah Al-Kafirun.
  5. Allamah Thabathabai, Al-Mizān, jld. 20, sehubungan dengan surah Al-Kafirun.
  6. Allamah Thabathabai, Al-Mizān, jld. 20, sehubungan dengan surah Al-Kafirun.
  7. Dānesynāmeh Qur'ān wa Qur'ān Pazyuhi, jld. 2, hlm. 1269-1670.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran, Terjemahan Persia Muhammad Mahdi Fuladmand. Tehran: Dar al-Qur'an al-Karim, 1418 H/1376 S.
  • Dānesynameh Qur'ān wa Qur'ān Pazyuhi, jld. 2, disusun oleh Bahauddin Khuramsyahi. Tehran: Dustan-Nahid, 1377 S.

Pranala Luar

Matan Surah dan Terjemahan

سورة الْكَافِرُون
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾

Surah Al-Kafirun
Dengan Nama-Nya Yang Mahakasih dan Mahasayang

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (2) Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (5) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (6)