Prioritas: aa, Kualitas: b

Haram (tempat suci)

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Pamplet yang terbuat dari karpet "Tujuh Kota Cinta", milik Museum Haram Imam Ridha as, yang mana tujuh Haram didesain di dalamnya: Masjidil Haram, Masjid Nabi, Haram Imam Ali, Haram Imam Husain, Haram Imam Ridha, Haram Kadzimain dan Haram Askariyain

Haram (Bahasa Arab: الحرم) (Tempat Suci) adalah sebuah sebutan dari batasan rentang kawasan tempat-tempat suci, yang mana penisbatannya kembali pada kesucian-kesucian Islam yang memiliki kehormatan tersendiri dan kawasan tersebut tidak bisa disamakan dengan kawasan-kawasan umum lainnya. kawasan haram atau tempat suci yang terpenting bagi umat Islam adalah Tanah Haram Mekah dimana Baitullah berada di sana. dan tingkatan selanjutnya adalah Haram Madinah yang mencakup rumah dan pusara Rasulullah saw dan berada di sisi Tanah Haram Mekah, sehingga disebut dengan Haramain Syarifain.

Dalam perluasan maknanya kata Haram atau tempat suci juga digunakan untuk pusara para Imam, dan bahkan keturunan para imam serta para wali dan mereka memakai istilah seperti Haram Alawi, Haram Ridhawi dan atau Haram Abdul Azhim Hasani. Haram dalam tradisi atau uruf umum di kalangan Syiah Imamiyah adalah dikenal dengan masjid atau rentang batasan tempat berziarah yang berada di sekitar makam.

Menurut pandangan masyhur di kalangan para faqih Syiah (para mujtahid), mereka mengeluarkan hukum-hukum khusus untuk haram-haram tersebut seperti Tanah Haram Mekah, Haram Nabawi, Masjid Kufah dan Hair Husaini(batasan sekeliling pusara Imam Husain) dan secara masyhur mereka memperbolehkan dan bahkan merupakan hal yang mustahab untuk melakukan salat secara sempurna ("tamam") bagi seorang musafir di tempat-tempat tersebut.

Secara Bahasa

Kata Haram berasal dari kata Ha-Ra-Ma (artinya: terlarang), terkadang bermakna keluarga dan kerabat seseorang atau tempat tinggal mereka, yang menjaga mereka dari keikutsertaan orang lain. [1] Dalam referensi dan teks-teks Islam, kata ini biasanya dipakai untuk kawasan di sekitar tempat-tempat suci, yang memiliki norma-norma tersendiri untuk masuk dan berada di situ. Misalnya kata Haram, Haramullah atau Tanah Haram Mekah biasanya mencakup kawasan di tempat suci Baitullah sampai batasan-batasan tertentu. [2] Terkadang penamaan haram kawasan tempat-tempat ini karena kemuliaan tempat tersebut atau keharaman untuk melakukan sebagian perbuatan-perbuatan di situ. [3]

Aplikasi Penggunaan

Ungkapan Haramur Rasul atau Haram Nabawi dipakai untuk Haram Rasulullah Saw di Madinah. Demikian juga, susunan Haramain Syarifain dipakai untuk mengisyaratkan dua Haram, Mekah dan Madinah, dua Haram Najaf dan Karbala, dua Haram Baitul Maqdis dan al-Khalil. Dituturkan dalam referensi agama, kata Haram terkadang dipakai untuk makna-makna yang lebih sempit, yakni terkait Masjidil Haram atau Masjid Nabawi atau makna yang lebih luas, yakni dataran yang mencakup Mekah atau Madinah.

Makam Para Maksum dan Keturunan Imam

Demikian juga, penggunaan kata Haram untuk pusara-pusara para Imam Syiah sangatlah marak sekali, seperti Hair Husaini untuk pusara Imam Husain as dan Haram Razavi untuk pusara Imam Ridha as. [4]

Haram-haram para maksum dan anak keturunan mereka biasanya terbentuk dalam istilah-istilah berikut yang kesemuanya berarti makam atau pusara:

  • Marqad
  • Dharih
  • Bargah
  • Rawaq
  • Shahn

Tanah Haram Mekah

Garis hijau menunjuk tapal batas Tanah Haram Mekah

Tanah Haram Mekah merupakan manifestasi terpenting dan terkemukanya Haram. Hirmi (ahli Haram) ditujukan kepada seseorang yang dinisbahkan ke Tanah Haram ini dan muhrim ditujukan kepada seseorang yang memasuki kawasan Haram untuk melakukan amalan ihram. Daerah di luar Haram disebut dengan Hill. [5] Kemuliaan dan kesucian Tanah Haram Mekah memiliki sejarah yang panjang. Menurut hadis dari Rasulullah Saw, kawasan ini sejak penciptaan langit dan bumi sudah dimuliakan dan berdasarkan hadis lainnya, Dahw al-Ardh (perluasan atau pemerataan bumi) dimulai dari Tanah Haram Mekah. [6]

Haram Nabawi

Tempat ini termasuk Haram terpenting lainnya, yang berdasarkan hadis dan fatwa-fatwa fikih, memiliki adab dan hukum-hukum khusus. Menurut hadis, Rasulullah Saw mengemban syafa'at penduduk Madinah pada hari kiamat. [7] Para penganut Hanafi tidak mengklaim adanya Haram untuk Madinah, yang memiliki hukum-hukum khusus. [8] Sebagian para faqih kontemporer Syiah juga meragukan ke-Haram-an Madinah, seperti yang dijelaskan tentang Mekah dan hadis masyhur Rasulullah yang menisbatkan Haram Madinah kepada dirinya dan Haram Mekah kepada Nabi Ibrahim as [9] ditafsirkan dengan arti kelaziman menjaga kemuliaan nasab kota ini atau kemuliaan pusara sucinya. Para faqih ini, guna berhati-hati, mengklaim sebagian hukum-hukum haram untuk Madinah. [10] Sebagian penganut Maliki, Syafi'i, termasuk Malik bin Anas dengan bersandar pada hadis tersebut dan juga karena Madinah adalah tempat tinggal kaum Muhajirin dan tempat menetap para sahabat menganggap Haram Nabawi lebih utama dari Tanah Haram Mekah [11]. Namun mayoritas para faqih , kecuali pusara Rasulullah yang dikenal sebagai penggalan terbaik alam semesta, menganggap Tanah Haram Mekah lebih utama. [12]

Batasan Haram Nabawi

Dalam sebagian hadis diperkenalkan bahwa batasan haram Nabawi seukuran satu barid dari setiap empat arah. [13] Menurut hadis lainnya – yang dinukil dari Syiah dan juga Ahlusunnah – haram Nabawi terletak di antara dua timbunan tanah dari batu hitam (ma baina labataiha) di timur dan barat Madinah. [14]

Para faqih Syiah menganggap batasan haram Nabawi, sesuai dengan hadis adalah dari gunung ‘Air (atau ‘A'ir) sampai gunung Wa'ir[15]. Namun sebagian para faqih Ahlusunnah, dengan bersandar pada hadis-hadis lain, memberitahu batasan haram ini dari gunung ‘Air sampai gunung Tsaur, yang berjarak 12 mil. Mereka menganggap ‘Air di miqat dan Tsur di belakang gunung Uhud. [16] Sebagian lainnya, dengan memperhatikan adanya gunung Tsaur di Mekah, melakukan justifikasi hadis-hadis tersebut, dan diantaranya memprediksi bahwa para perawi salah, sebagai ganti dari kata Uhud, menuturkan kata Tsaur atau nama sebelum Uhud adalah Tsaur. [17] Demikian juga, mungkin yang dimaksudkan Rasulullah saw adalah jarak yang setara dengan jarak dua gunung ‘Air dan Tsaur di Mekah atau dia sendiri menamakan dua gunung yang ada di Madinah adalah kiasan dari gunung A'ir dan Tsaur. [18]

Adab dan Hukum-Hukum Haram Nabawi

Adab dan hukum-hukum terpenting haram Nabawi adalah sebagai berikut:

  1. Disunahkan memasuki dengan mandi di Haram Nabawi;
  2. Disunahkan berdekatan di Madinah.
  3. Disunahkan berpuasa pada sebagian hari dalam satu minggu.
  4. Diharamkan merusak tumbuh-tumbuhan dan memotong pepohonan, khususnya bibit pepohonan, kecuali untuk makanan hewan ternak.
  5. Diharamkan berburu hewan. [19]

Sebagian para faqih pendahulu Ahlusunnah menyebutkan hukuman bagi yang melakukan sebagian keharaman Haram Nabawi. [20]

Haram Imam Husain As

Menurut orang-orang Syiah, Haram Imam Husain as sangat suci sekali. Para faqih terkait batasan Haram ini yang memiliki hukum fikih khusus—juga memiliki pendapat yang beragam, seperti batasan pusaranya, keluarga dan sahabat-sahabatnya, kecuali Abbas as [21], seluruh kota Karbala [22] dan raudhah suci Imam Husain[23] termasuk batasan ini.

Dalam hadis yang dinukil dari Imam Ali as, Kufah disebut sebagai Haramnya. [24]

Hukum-Hukum Khusus Haramain, Masjid Kufah dan Hair Husaini

Di antara hukum-hukum khusus Haram Mekah, Haram Nabawi, Masjid Kufah dan Hair Husaini menurut pendapat masyhur para Faqih Syiah adalah diperbolehkan dan bahkan disunahkan untuk melakukan salat secara sempurna (tamam) bagi seorang musafir, meskipun diperbolehkan baginya untuk melaksanakan salat qashar. [25] Para Faqih menganggap pendapat ini hasil dari penggabungan hadis-hadis yang menunjukkan tentang kebolehan untuk mendirikan salat secara ringkas (qashar) dan sempurna di empat tempat dan hadis-hadis yang menunjukkkan tentang dianjurkan menyempurnakan salat di situ. [26] Dalam hadis-hadis tersebut, terdapat ungkapan-ungkapan seperti Haramain Syarifain, Mekah, Madinah dan Masjidain, [27] dengan demikian, sebagian para Faqih memberlakukan hukum tersebut hanya di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi saja, bukan dalam semua wilayah Haram Mekah dan Haram Nabawi. [28]

Ibnu Babuwaih [29] mengklaimkan kewajiban meringkas salat (qashar) di tempat-tempat ini dan menganggapnya tidak memiliki prioritas apapun. Kemungkinan pandangan ini bersandar pada argumentasi secara umum akan kewajiban meringkas salat bagi musafir dan juga hadis-hadis yang mewajibkan untuk meringkas salat di empat tempat, [30] namun para Faqih lainnya tidak menerima argumentasi ini dengan menafsirkan hadis ini pada taqiyyah [31] dan dengan bersandar pada dalil lainnya. [32] Sejumlah Faqih juga dalam rangka berhati-hati atau ihtiyath mengharamkan untuk meringkas salat di empat Haram ini. [33]

Sebagian Faqih terdahulu, seperti Ibnu Junaid [34] Iskafi dan Alamul Huda [35] mewajibkan pelaksanaan salat secara sempurna bagi musafir di empat tempat ini, dan bahkan untuk Haram semua para Imam Syiah. [36] Ibnu Idris Hilli, selain Haram Mekah dan Madinah hanya mengklaim cakupan hukum ini pada Hair Husaini saja. Para faqih Syiah juga memaparkan pembahasan ini, yaitu apakah hukum "takhyiri" (hukum yang kita bisa memilih) tersebut hanya mencakup Masjid Kufah dan Hair Husaini saja atau juga mencakup semua kota Kufah dan Karbala. [37] Para pengikut Hanafi, yang seperti para faqih Imamiyah yang meyakini akan kewajiban meringkas (qashar) salat di saat bepergian – menganggap pelaksaan salat secara sempurna di Haram Mekah adalah mengikuti Rasulullah saw dan karena pelipatgandaan ganjaran perbuatan di Haram menganggap salat sempurna itu lebih baik daripada salat qashar. [38]

Hukum dan Adab-adab Lainnya

Hukum dan adab-adab lainnya juga dituturkan dalam referensi-referesi fikih Syiah untuk haram-haram ini dan juga haram-haram para Imam Syiah (Masyahid Musyarrafah), misalnya:

  1. Orang yang dalam keadaan junub dan haid diharamkan memasuki tempat-tempat ini. [39]
  2. Diharamkan membuat najis tempat-tempat tersebut dan wajib untuk menghilangkan najis tersebut. [40]
  3. Disunahkan mandi sebelum memasuki tempat-tempat ini, makruh memindahkan mayit untuk dikuburkan ke tempat lainnya, kecuali ke tempat-tempat ini. [41]
  4. Pelarangan menjalankan hukuman "had"(eksekusi) dan "qishash" di haram-haram ini. [42]

Catatan Kaki

  1. Ibn Atsir, di bawah kata “Dal Ain Mim Shad”, Ibn Mandzur, di bawah kata, Jabrati, jld. 2, hlm. 143.
  2. Jauhari, Zubaidi, Tajul Arus di bawah kata haram.
  3. Kurdi, at-Tarikhul Qawim, jld.1, juz,1, hlm. 101; Burujerdi, Mustanadul Urwatul Wutsqa, jld. 8, hlm. 423.
  4. Minhaji Alsyuthi, Jawahir al-Uqud Jld. 2, hlm. 474; Bahrani, jld. 7, hlm. 317-318, jld. 11, hlm. 455; Baghdadi, jld. 2, sutun 541; Agha Buzurg Tehrani, jld. 6, hlm. 194, jld. 8, hlm. 224, jld. 21, hlm. 299.
  5. Khalil bin Ahmad farahidi, kitab al-Ain; Ibn Atsir, Al-Nihayah Ibn Mandzur, Lisan al-Arab di bawah kata.
  6. Fakihi, jld. 2, hlm. 270; Ibn Babwaih, Man Lā Yahdhur al-Faqih, jld. 2, hlm. 241; Hur Amili, jld. 13, hlm. 241-242.
  7. Ibn Hanbal, jld. 6, hlm. 370; Muslim bin Hajjaj, jld. 4, hlm. 113.
  8. Ibn Abidin, jld. 2, hlm. 256; Raf'at Basya, jld. 1, hlm. 447.
  9. Bukhari, jld. 5, hlm. 40; Muslim bin Hajjaj, jld. 4, hlm. 113.
  10. Hakim, Dalil al-Nāsik, hlm. 493; Khalkhali, jld. 5, hlm. 513.
  11. Ibn Abidin, jld. 2, hlm. 688.
  12. Thusi, al-Khilāf, jld. 2, hlm. 451-452; Ibn Abidin, jld. 2, hlm. 256; Zahili, jld. 3, hlm. 323.
  13. Thusi, at-Tahdzib, jld. 6, hlm. 13; Nawawi, jld. 7, hlm. 489; Haitsami, 1404, jld. 2, hlm. 323.
  14. Kulaini, jld. 4, hlm. 564; Nawawi, jld. 7, hlm. 487; Ahmad bin Abdullah Thabari, hlm. 670-671.
  15. Hilli, jld. 1, hlm. 651; Bahrani, jld. 11, hlm. 302; Najafi, jld. 20, hlm. 75-76; Khalkhali, jld. 5, hlm. 512.
  16. Ibn Qudamah, jld. 3, hlm. 376; Khatib Syarbini, jld. 1, hlm. 529; Bahuti Hanbali, jld. 2, hlm. 551.
  17. Nawawi, jld. 7, hlm. 486.
  18. Ibn Qudamah, jld. 3, hlm. 370.
  19. Ibn Idris Hilli, jld. 1, hlm. 651-652; Zarkasyi, 1410, hlm. 243-245, 261; Gulpaigani, hlm. 187, 210; Zahili, jld. 3, hlm. 335-336.
  20. Ahmad bin Abdullah Thabari, hlm. 675-676.
  21. Mufid, hlm. 126; Ibn Idris Hilli,Al-Sarāir jld. 1, hlm. 342.
  22. Ibn Said, hlm. 93.
  23. Bahrani, jld. 11, hlm. 463; naraqi, jld. 8, hlm. 316; Hakim, Mustamsak Urwah, jld. 8, hlm. 188.
  24. Kulaini, jld. 4, hlm. 563.
  25. Thusi, al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa, hlm. 124; Allamah Hilli, Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, jld. 1, hlm. 333; Syahid Tsani, jld. 1, hlm. 787-788; Huseini Marasyi, jld. 1, hlm. 453.
  26. Kulaini, jld. 4, hlm. 524; Thusi, 1376 S, jld. 5, hlm. 470-475.
  27. Bahrani, jld. 11, hlm. 456-459.
  28. Allamah Hilli, Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, jld. 3, hlm. 132; Syahid Tsani, jld. 2, hlm.
  29. Ibnu Babuwaih, al-Muqni', hlm. 262.
  30. Naraqi, jld. 8, hlm. 309.
  31. Bahrani, jld. 2, hlm. 441, 448, 452; Naraqi, jld. 8, hlm. 310; Burujerdi, jld. 8, hlm. 406-410.
  32. Muqaddas Ardabili, Majma' al-Fāidah wa al-Burhān, jld. 3, hlm. 424-425; Bahrani, jld. 11, hlm. 440
  33. Musawi Amili, jld. 4, hlm. 468; Mirza Qummi, jld. 1, hlm. 73, Najafi, jld. 14, hlm. 337; Bahjat, hlm. 599.
  34. Iskafi, Majmu'ah Fatawa Ibn al-Junaid, hlm. 89-90.
  35. Alamul Huda, Rasāil al-Syarif al-Murtadhā, jld. 3, hlm. 47.
  36. Bahrani, jld. 11, hlm. 438, 465; Burujerdi, jld. 8, hlm. 420-421.
  37. Burujerdi, jld. 8, hlm. 414-420; Ruhani, jld. 6, hlm. 427-428.
  38. Kasani,Badā'i al-Sanā'i, jld. 1, hlm. 91-92; Ibn Qudamah,Al-Mughni, jld. 2, hlm. 107.
  39. Musawi Amili, jld. 1, hlm. 282; Qis Naraqi, jld. 2, hlm. 292.
  40. Thabathabai Yazdi, jld. 1, hlm. 89-90.
  41. Musawi Amili, jld. 2, hlm. 152; Thabathabai Yazdi, jld. 1, hlm. 447.
  42. Ibn Idris Hilli, Al-Sarā ir jld. 3, hlm. 363-364; Qis Khu'i, jld. 2, hlm. 184-185.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran Al-Karim.
  • Agha Buzurg Tehrani.
  • Ibn Atsir, al-Nihayah fi Gharib al-Hadis wa al-Atsar, cet. Mahmud Muhammad Thanahi, Thahir Ahmad Zawi, Beirut, 1383/1963, cet. Offset, Qom, 1364 S.
  • Ibn Idris Hilli, al-Sarair al-Hawi li Tahrir al-Fatawa, Qom, 1410-1411.
  • Ibn Babawaih, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, cet. Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1404.
  • Ibn Babawaih, al-Muqni', Qom, 1415.
  • Ibn Junaid Iskafi, Majmu'ah Fatawa Ibn al-Junaid, Ali Panah Isytaharudi, Qom, 1416.
  • Ibn Jauzi, al-Muntazam fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, cet. Muhammad Abdul Qadir ‘Atha, Musthafa Abdul Qadir ‘Atha, Beirut, 1412/1992.
  • Ibn Hajar Askalani, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, cet. Ali Muhammad Bajawi, Beirut, 1412/1992.
  • Ibn Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Istanbul, 1402/1982.
  • Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, cet. Thaha Abdur Rauf Sa'ad, Beirut, 1409/ 1989.
  • Ibn Sa'id, al-Jami' li Syara'i, Qom, 1405.
  • Ibn Dzahirah, al-Jami' al-Latif fi Fadhli Makkah wa Ahliha wa Banai al-Bait al-syarif, Mekah, 1392/ 1972.
  • Ibn Abidin, Rad al-Muhtar ‘ala al-Dar al-Mukhtar, cet. Sanggi Mesir, 1271-1272, cet. Offset Beirut 1407/1987.
  • Ibn Fahd, Ithaf al-Wara fi Akhbar Umm al-Qura, cet. Fahim Muhammad Syaltut, Mekah (1983-1984 ?)
  • Ibn Qudamah, al-Mughni, Beirut, Darul Kitab al-Arabi, Bi Ta.
  • Ibn Mandzur.
  • Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, cet. Musthafa Saqa, Ibrahim Abiyari, Abdul Hafidz Syalbi (Beirut), Dar Ibn Katsir, Bi Ta.
  • Muhammad bin Abdullah Azraqi, Akhbar Makkah wa Ma Ja'a fiha min al-Atsar, cet. Rusydi Shalih Mulhis, Beirut, 1403/ 1983, cet. Offset Qom, 1369 S.
  • Ahmad bin Muhammad Asadi Makki, Akhbar al-kiram fi Akhbar al-masjid al-haram, cet. Hafidz Ghulam Mushtafa, Banaras, 1396/ 1976.
  • Yusuf bin Ahmad Bahrani, al-Hadaiq al-Nadhirah fi Ahkam al-‘Itrah al-Thahirah, Qom, 1363-1367 S.
  • Muhammad bin Ismail Bukhari, Shahih Bukhari (cet. Mehmed Zihni Efendi), Istanbul, 1401/ 1981.
  • Murtadha Broujerdi, Mustanad al-Urwah al-Wustsqa, Ujaran Pelajaran Ayatullah Khu'i, jld. 8, Qom, 1367 S.
  • Ismail Baghdadi, Hidayah al-Arifin, jld. 2, Dar Haji Khalifah, jld. 6.
  • Muhammad Taqi Bahjat, Jami' al-Masail, Qom, 1378 S.
  • Manshur bin Yunus Bahuti Hanbali, Kasysyaf al-Qana' ‘an Matni al-Iqna', cet. Muhammad Hasan Syafi'i, Beirut, 1418/ 1997.
  • Abdur Rahman Jabrati, Tarikh Ajaib al-Atsar fi al-Tarajum wa al-Akhbar, Beirut, Dar al-Jail, Bi Ta.
  • Ahmad bin Ali Jashshash, Ahkam al-Quran, cet. Abdus Salam Muhammad Ali Syahin, Beirut, 1415/ 1994.
  • Ismail bin Hammad Jauhari, al-Shihah, Taj al-Lughah wa Shihah al-Arabiyyah, cet. Ahmad Abdul Ghafur Aththar, Beirut, Bi Ta, cet. Offset Tehran 1368 S.
  • Hur Amili.
  • Ismail Huseini Mar'asyi, Ijmaiyyat Fiqh al-Syiah wa Ahwath al-Aqwal min Ahkam al-Syariah, jld. 1, Qom, 1419.
  • Muhammad bin Muhammad Haththab, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil, cet. Zakaria Amirat, Beirut, 1416/ 1995.
  • Muhammad Hakim, Dalil al-Nasik, cet. Muhammad Qadhi Thabathabai, Bi Ta, Muassasah al-Manar, Bi Ta.
  • Muhsin Hakim, Mustamsik al-Urwah al-Wutsqa, cet. Offset Qom, 1404.
  • Muhammad Ahmad Khatib Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma'rifah Ma'ani al-fadz al-Minhaj, ta'li Jubli bin Ibrahim Syafi'i, Beirut, Dar al-Fikr, Bi Ta.
  • Ridha Khalkhali, Mu'tamid al-Urwah al-Wutsqa, Muhadharah Ayatullah Khu'i, Qom, 1405-1410.
  • Khalil bin Ahmad, Kitab al-‘Ain, cet. Mahdi Makhzumi dan Ibrahim Samerai, Qom, 1405.
  • Abul Qasim Khu'i , Mabani Takmilah al-Minhaj, Qom, 1396.
  • Muhammad Ahmad Dasuqi, Hasyiah al-Dasuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir, Beirut, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, Bi Ta.
  • Ibrahim Raf'at Basya, Mirat al-Haramain, atau al-Rihlat al-Hijaziyyah wa al-Haj wa Masyairihi al-Diniyyah, Beirut, Dar al-Ma'rifah, Bi Ta.
  • Muhammad Shadiq Ruhani, Fiqh al-Shadiq, Qom, 1412-1414.
  • Muhammad bin Muhammad Zubaidi, Taj al-Ars min Jawahir al-Qamus, cet. Ali Syiri, Beirut, 1414/1994.
  • Wahbah Musthafa Zahili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatihi, Damaskus, 1404/ 1984.
  • Muhammad bin Bahadur Zarkasyi, A'lam al-Sajid fi Ahkam al-Masajid, cet Abul Wafa Musthafa Maraghi, Kairo, 1410/ 1989.
  • Ibid., al-Burhan fi Ulumil Quran, cet. Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Beirut, 1408/ 1988.
  • Suyuthi.
  • Muhammad Idris Syafi'i, al-Umm, cet. Muhammad Zuhri Najjar, Beirut, Bi Ta.
  • Muhammad Husein Syarif Radhi, Haqaiq al-Ta'wil fi Mutasyabih al-Tanzil, cet. Muhammad ridha Al Kasyif al-Ghitha', Beirut, Bi Ta, cet. Offset Qom, Bi Ta.
  • Muhammad bin makki Syahid Awwal, al-Durus al-Syariah fi Fiqh al-Imamiyyah, Qom, 1412-1414.
  • Zainuddin bin Ali Syahid Tsani, al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'ah al-Damisyqiyyah, cet. Muhammad Klantar, Beirut, 1403, 1983.
  • Thabathabai.
  • Muhammad Kadzim bin Abdul Adzim Thabathabai Yazdi, al-Urwah al-Wustqa, Beirut, 1409.
  • Thabarsi.
  • Ahmad bin Abdullah Thabari, al-Qura al-Qashid Umm al-Qura, cet. Musthafa Saqa, Beirut, Bi Ta.
  • Muhammad bin Jarir Thabari, Jami'.
  • Muhammad bin Hasan Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, cet. Ahmad Habib Qashir Amili, Beirut, Bi Ta.
  • Ibid., Tahdzib al-Ahkam, cet. Ali Akbar Ghaffari, Tehran, 1376 S.
  • Ibid., Kitab al-Khalaf, Qom, 1407-1417.
  • Ibid., al-Mabsuth fi Fiqh al-Imamiyyah, jld. 1-2, cet. Muhammad Taqi Kasyfi, Tehran, 1387.
  • Ibid., al-Nihayah fi Mujarrad al-Fiqh wa al-Fatawa, Beirut, 1400/ 1980.
  • Abdul Malik bin Abdullah Dahisy, al-Haram al-Makki al-Syarif wa al-A'lam al-Muhithah bihi, Mekah, 1415/ 1995.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Tahrir al-Ahkam al-Syariah ‘ala Mazhab al-Imamiyyah, cet. Ibrahim Bahaduri, Qom, 1420-1422.
  • Ibid., Tadzkirah al-Fuqaha, Qom, 1414.
  • Ibid., Mukhtalaf al-Syiah fi Ahkam al-Syariah, Qom, 1412-1420.
  • Ali bin Husein Alamul Huda, Rasail al-Syarif al-Murtadha, cet. Mahdi Rajai, risalah 30, jumal al-Ilm wa al-Amal, Qom, 1405-1410.
  • Muhammad bin Ahmad Fasi, Syifa al-Gharam fi Akhbar al-Balad al-Haram, cet. Aiman Fuad Sayid dan Musthafa Dzahabi, Mekah, 1999.
  • Muhammad Ishak Fakihi, Akhbar Makkah fi Qadim al-Dahr wa Haditsihi, cet. Abdul Malik bin Abdullah bin Dahisy, Beirut, 1419/1998.
  • Muhammad bin Ahmad Qurthubi, al-Jami' li Ahkam al-Quran, Beirut, Dar al-Fikr, Tanpa tanggal.
  • Abu Bakar bin Mas'ud Kasani, Bada'i al-Shana'i fi Tartib al-Syara'i, cet. Muhammad Adnan bin Yasin Darwis, Beirut, 1419/ 1998.
  • Ja'far bin Khidhr Kasyif al-Ghitha', Kasyf al-Ghitha' ‘an Mubhimmat al-Syariat al-Gharra', Isfahan, Intisyarat Mahdawi, Bi Ta.
  • Muhammad Thahir Kurdi, al-Tarikh al-Qawim li Makkah wa Baitullah al-Karim, Beirut, 1420/ 2000.
  • Abdul Husein Kelidar, Bughyah al-Nubala fi Tarikh Karbala, cet. Adil Kelidar, Baghdad, 1966.
  • Kulaini.
  • Muhammad Ridha Gulpaigani, Manasik al-Haj, Qom, 1413.
  • Ali bin Muhammad Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyyah wa al-Wilayah al-Diniyyah, Baghdad, 1409/ 1989.
  • Majlisi.
  • Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, cet. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Istanbul, 1401/ 1981.
  • Fauziah Husein Mathar, Tarikh Imarah al-Haram al-Makki al-Syarif ila Nihaya al-‘Ashar al-Abbasi al-Awwal, Jeddah, 1402/ 1982.
  • Muhammad bin Muhammad Mufid, al-Muqni'ah, Qom, 1410.
  • Ahmad bin Muhammad Muqaddas Ardabili, Zubdah al-Bayan fi Ahkam al-Quran, cet. Muhammad Baqir Behbudi, Tehran, Bi Ta.
  • Ibid., Majma' al-Faidah wa al-Burhan fi Syarh Irsyad al-Idzhan, cet. Mujtaba Araqi, Ali Panah Isytiharudi, dan Husein Yazdi Isfahani, jld. 3, Qom, 1362 S.
  • Muhammad bin Ahmad Minhaji Asyuthi, Jawahir al-‘Uqud wa Mu'in al-Qudhah wa al-Muwaqi'in wa al-Syuhud, cet, Mus'id Abdul Hamid Muhammad Sya'dani, Beirut, 1417/ 1996.
  • Muhammad bin Ali Musawi Amili, Madarik al-Ahkam fi Syarh Syara'i al-Islam, Qom, 1410.
  • Abul Qasim bin Muhammad Hasan Mirza Qummi, Jami' al-Syatat, cet. Murtadha Razavi, Tehran, 1371 S.
  • Muhammad bin Hasan bin Baqir Najafi, Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam, Beirut, 1981.
  • Ahmad bin Muhammad Mahdi Naraqi, Mustanad al-Syiah fi Ahkam al-Syari'ah, Qom, jld. 2, 1415, jld. 8, 1416, jld. 13, 1417.
  • Yahya bin Syaraf Nawawi, al-Majmu'; Syar al-Muhadzdzab, Beirut, Dar al-Fikr, Bi Ta.
  • Ali bin Abu Bakar Haitsami, Kasyf al-Astar ‘an Zawaid al-Bazar ‘ala al-Kutub al-Syiah, jld. 2, cet. Habib al-Rahman A'dzami, Beirut, 1404/ 1984.
  • Ibid., Majma' al-Zawaid wa Manba' al-Fawaid, Beirut, 1408/ 1988.
  • Yaqut Hamawi.
  • Ya'qubi, Tarikh.