Prioritas: c, Kualitas: b

Haram (fikih)

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Harām (bahasa Arab: الحرام ) dalam pandangan fikih Islam adalah suatu tindakan yang dilarang dan masyarkat diminta untuk menghindarinya dan melakukan itu akan menyebabkan adanya hukuman. Haram adalah salah satu hukum dari lima hukum fikih yang terdapat dalam syariat Islam yang berarti larangan melakukan sesuatu amalan atau pengharusan untuk meninggalkan suatu amalan.

Definisi

Makna Haram dalam Islam adalah suatu amalan yang dilarang untuk dikerjakan dan masyarakat diminta untuk menghindarinya[1]. Mukallaf yang mengerjakan amalan yang diharamkan, disebut sebagai pendosa atau pelaku dosa. [2]

Pembagian

Haram terbagi atas beberapa kategori, yang dapat dijabarkan secara singkat sebagai berikut:

Haram yang dibagi berdasarkan mukaddimah taklif:

  • Haram Mutlak yaitu amalan yang pengharamannya tidak bergantung pada syarat atau kondisi tertentu.
  • Haram Muqayyad yaitu amalan yang pengharamannya disebabkan oleh faktor-faktor tertentu atau karena ketiadaan sesuatu. [3]

Haram yang dibagi berdasarkan ketentuan pembuat syariat:

  • Haram Munajjaz yaitu amalan yang keharamannya tidak bergantung pada sesuatu yang lain.
  • Haram Mu'allaq yaitu amalan yang keharamannya bergantung pada sesuatu yang lain, misalnya dengan masuknya waktu tertentu.

Haram yang dibagi karena keterkaitannya dengan taklif:

  • Haram Asli yaitu amalan yang diharamkan sejak pada dasarnya telah dilarang oleh pembuat syariat.
  • Haram Taba'i, yaitu amalan yang keharamannya disebabkan karena adanya amalan yang haram lainnya.

Haram yang dibagi karena tergolong taklif:

  • Haram Ta'yini yaitu amalan yang dengan sendirinya telah diharamkan dan mukallaf tidak punya ikhtiar untuk memilih apakah akan meninggalkan atau mengganti.
  • Haram Takhyiri, yaitu amalan yang pada saat yang sama ada dua atau lebih amalan lainnya yang membuat mukallif memiliki pilihan untuk meninggalkan satu dari kesemua amalan itu. [4]seperti apakah memilih untuk masuk kesebuah tempat yang diharamkan atau duduk bersama dengan orang fasik. [5]

Haram yang dibagi berdasarkan jenisnya:

  • Haram ‘Aini yaitu, amalan yang diharamkan untuk semua mukallaf.
  • Haram Kifayah, yaitu amalan yang diharamkan untuk sebagian mukallaf, sementara bagi yang lain tidak haram, seperti tidak ikut berjihad karena jumlah pasukan yang dibutuhkan telah cukup dan sebagainya. [6]

Haram yang dibagi berdasarkan syarat pelaksanaan taklif:

  • Haram Tawassuli yaitu amalan haram yang meninggalkannya tidak membutuhkan niat karena Allah swt.
  • Haram Ta'abbudi yaitu amalan haram yang meninggalkannya dibutuhkan niat karena Allah swt, seperti hal-hal yang dapat membatalkan puasa di bulan Ramadhan, yang niat tidak melakukannya harus diniat karena Allah swt. [7]

Haram yang dibagi berdasarkan penyebab keharamannya:

  • Haram Nafsi yaitu amalan yang diharamkan karena memang pada dasarnya amalan tersebut amalan haram bukan karena didahului amalan haram lainnya.
  • Haram Ghairi yaitu amalan yang keharamannya disebabkan karena menjadi pembuka (mukaddimah) bagi amalan haram lainnya. [8]

Amalan Haram yang Masyhur

Ibadah-ibadah yang diharamkan

  1. Puasa sunnah yang dilakukan oleh anak yang dilarang oleh orangtuanya.
  2. Puasa bagi seseorang yang yakin bahwa puasa akan menyebabkan kesulitan baginya.
  3. Puasa dihari Tasyriq bagi yang berada di Mina.
  4. Puasa sunnah perempuan yang dilarang oleh suaminya.
  5. Puasa di yaumul Syak, jika ia niatkan sebagai puasa dihari pertama Ramadhan.
  6. Puasa pada hari Idul Fitri.
  7. Puasa pada hari Idul Qurban.
  8. Puasa berbicara. [9]
  9. Puasa Washal. [10]
  10. Puasa dalam keadaan safar.
  11. Shalat bagi perempuan dalam keadaan haidh dan seterusnya.

Transaksi-transaksi yang Diharamkan

Berikut beberapa bentuk transaksi yang diharamkan[11]:

  • Bermuamalah dengan sesuatu yang najis, seperti anjing, babi, bangkai dan berbagai minuman keras. Namun jika muamalah tersebut dilakukan untuk pemanfaatan yang halal dan rasional, seperti jual beli darah untuk keperluan medis dan pengobatan di rumah sakit atau jual beli bangkai untuk kepentingan praktikum penelitian oleh mahasiswa kedokteran dan semacamnya, maka diperbolehkan.
  • Jual-beli sesuatu yang keharamannya dikarenakan adanya niat kedua belah pihak dari transaksi tersebut seperti jual beli alat-alat perjudian, alat-alat musik hura-hura, perabotan yang terbuat dari emas dan perak, salib, berhala dan lain-lain. Atau jual-beli barang yang tidak memiliki manfaat lain selain dimanfaatkan pada sesuatu yang diharamkan, atau jika memiliki manfaat lain selain yang diharamkan, tapi niat pembelinya dari barang tersebut adalah untuk digunakan pada hal yang diharamkan. Misalnya, menjual anggur kepada orang yang bermaksud membuat minuman keras darinya, kehususnya apabila si penjual sendiri bertujuan agar anggur itu digunakan sebagai bahan pembuatan minuman keras.
  • Jual-beli sesuatu yang tidak memberi manfaat di mata orang-orang yang berakal (uqala) seperti jual beli ular, kalajengking dan semacamnya. Oleh sebab itu,jika dalam waktu dan tempat tertentu sesuatu tersebut memiliki manfaat dan nilai yang rasional (Uqalai untuk diperjual belikan, maka diperbolehkan.
  • Mencari penghasilan dari pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan, seperti: penipuan, māsyithah[12], tathfif [13], tanjim [14], penyogokan, permusuhan kepada kaum mukminin, sihir, guna-guna, sulap, mengelabui dalam muamalah [15], perjudian dan lain-lain.

Amalan-amalan Haram Lainnya

  1. Ghibah
  2. Menfitnah
  3. Berbohong
  4. Menghina orang lain
  5. Minum minuman keras
  6. Boros dan melakukan penghamburan
  7. Mencuri
  8. Memakan bangkai
  9. Mengumpat
  10. Memata-matai
  11. Berzina

Catatan Kaki

  1. Nashir Makarim Syirazi, Dairatul Ma'arif Fiqh Maqarin, 1385 HS, hlm.430
  2. Syahrudi, Farhang Fiqh,jld. 3. hlm. 291.
  3. Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 418.
  4. Farhang Nameh Ushul Fiqh, hlm. 418.
  5. Muhammadi, jld. 2, hlm. 390.
  6. Muhammadi, jld. 2, hlm. 390.
  7. Muhammad, jld. 2, hlm. 390.
  8. Fadhil Lankarani, jld. 4, hlm. 478.
  9. Yaitu berniat untuk tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak membatalkan puasa, seperti tidak hendak berbicara sedikitpun selama berpuasa.
  10. Yaitu sengaja melakukan dua hari puasa berturut-turut tanpa melakukan buka puasa diantara dua puasa tersebut.
  11. Anshari, Makāsib Muharramah, jld. 1, hlm. 5-380.
  12. Dandan atau riasan wajah seorang perempuan yang tidak menampakkan wajah aslinya sehingga seorang laki-laki bisa tertipu dengan dandanannya tersebut dan menyangkanya rupawan sehingga menjatuhkan pilihan untuk menikahinya.
  13. Aksi penipuan dengan menambah atau mengurangi berat timbangan.
  14. Melakukan peramalan akan berita masa depan melalui ilmu perbintangan (zodiak)
  15. Aksi penipuan dengan melakukan pencampuran barang yang berjenis bagus dengan yang berjenis buruk.

Daftar Pustaka

  • Anshari, Murtadha. Al-Makāsib al-Muharramah. Qom, Kongres Internasional Syaikh Anshari, 1415 H.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad. 'Idhāh al-Kifāyah. Qom: Nasyr Nuh, 1385 HS.
  • Farhang Nameh Ushul Fiqh. Markaz Iththilā’āt wa Madārik Islami. Qom: Pezuhesyghah Ulum wa Farhang Islami, 1385 HS.
  • Hasyimi, Syahrudi, Sayid Mahmud. Farhang Fiqh Muthabiq Mazhab Ahlulbait. Muassasah Dāirah al-Ma'ārif Fiqh Islami bar Mazhab Ahlulbait, Qom: 1426 H.
  • Muhammadi, Ali. Syarh Kifāyah al-Ushul. Qom: Nasyr Imam Hasan, cet. 4, 1385 HS.