Prioritas: b, Kualitas: b
tanpa referensi

Talak

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Talak (bahasa Arab: طلاق ) adalah sebuah istilah fikih yang bermakna berpisahnya seorang istri dan suami. Dalam bahasa Indonesia, kita lebih mengenalnya dengan istilah perceraian. Islam memperbolehkan talak dengan syarat-syarat tertentu, meskipun hal ini termasuk dalam perbuatan yang dibenci Allah swt. Dalam Alquran dijelaskan bahwa ketika terjadi perselisihan antara suami dan istri maka pihak keluarga disarankan untuk mendamaikan diantara keduanya supaya tidak terjadi perceraian dan dalam Alquran terdapat surah yang khusus membahas masalah talak yaitu surah yang bernama At-Thalaq.

Talak dibagi kedalam dua jenis, yang pertama adalah talak Raj'i yang artinya suami dengan syarat-syarat tertentu bisa menceraikan istrinya namun bisa kembali lagi kepada sang istri tanpa harus membaca akad baru. Kedua adalah talak Ba'in yang tidak memiliki ketentuan seperti talak Raj'i. Talak Ba'in dibagi menjadi dua jenis yaitu talak Khal' dan talak Mubarat. Talak Tawafuqi adalah bentuk "talak baru" yang sebenarnya bukanlah bagian dari kriteria talak yang diatur dalam syariat karena hal itu hanya sekedar kesepakatan 2 belah pihak tentang syarat-syarat bercerai yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Hak untuk talak berada pada suami. Namun, dalam kondisi terpaksa hak ini bisa diambil alih oleh hakim Syar'i. Dalam buku nikah, umumnya disebutkan bahwa dalam keadaan khusus dan syarat tertentu, seorang suami bisa mewakilkan pada istrinya untuk melakukan cerai.

Definisi

Talak secara bahasa bermakna melepaskan, membebaskan, mengacuhkan, meletakkan, memutuskan dan memisahkan. [1]

Talak secara istilah berarti berpisahnya istri dari suaminya dalam pernikahan daim (selamanya) dengan terucapnya akad dan terpenuhinya syarat-syarat khusus secara syar'i. [2] Talak merupakan salah satu jenis I'qaat (hak sepihak) bukan U'qud (hak kedua bela pihak), sehingga (sudah menjadi sah) ketika diucapkan oleh pihak laki-laki. Di berbagai negara terdapat bermacam-macam aturan berbeda mengenai cara melakukan talak. Namun hampir di semua negara terdapat pengadilan atau kantor urusan agama yang ditunjuk khusus untuk menangani masalah ini. Lebih dari itu, terdapat cara-cara yang beragam untuk melakukan talak sesuai madzhab yang dianut.

Sejarah

Talak merupakan bagian dari sejarah manusia yang tak terpisahkan dan tercatat di berbagai peradaban seperti Yunani, Iran, Mesir dan China. Namun, talak secara mutlak dilarang dalam aturan kristen Katolik. Dalam katolik saat terjadi masalah dan kedua mempelai ingin bercerai, mereka cukup berpisah dan keduanya tidak memiliki hak untuk menikah dengan orang lain. [3]

Dalam keyakinan Ortodoks, talak hanya dibolehkan dalam kondisi adanya pihak perempuan yang berselingkuh namun tidak sebaliknya (lelaki diperbolehkan), dalam keadaan talak keduanya dilarang untuk menikah dengan pihak lain. Tetapi sejalan dengan perubahan zaman, banyak negara penganut Kristiani terpaksa mengadopsi aturan yang mengijinkan talak oleh pihak perempuan dalam undang-undang negaranya.

Talak dalam Islam

Talak dalam islam merupakan amalan yang halal [4]namun sangat dibenci oleh Allah swt, [5] terdapat sekitar 1.200 hadis yang membahas tentang masalah talak dalam berbagai kitab fikih.

Kata talak juga digunakan dalam berbagai ayat Alquran. Kata talak disebutkan 14 kali dalam Alquran dan sebagian besar terkait tentang penggunaan akad talak serta perempuan ketika kondisi Iddah menekankan bagi pelakunya untuk kembali ke kehidupan normalnya. Sebagai contoh dalam surah Al-Baqarah terdapat 12 kali pengulangan kata "ma'ruf", pengulangan ini dimaksudkan untuk menunjukkan penghormatan pada hak orang lain dan memerintah manusia untuk tidak menyalahi hak orang lain serta menggunakan hak tersebut dalam kebaikan dengan cara yang terhormat.

Pada Surah Al-Thalaq selain membahas mengenai fikih Talak, masa Iddah, fikih Nafaqah perempuan, fikih Riza', fikih menyusui bayi, fikih ibu menyusui dan hak-haknya, disebutkan pula bahwa seorang laki-laki yang melakukan talak Raj'i pada istrinya, maka selama kurun waktu talak itu, sang istri dilarang untuk keluar rumah.

Dalam surah An-Nisa disebutkan bahwa seorang suami ditekankan untuk menjauhi talak, serta diharuskan baginya untuk memahami dan mensyukuri bahwa Allah swt telah menganugerahinya perempuan yang memiliki banyak kelebihan. [6]Ketika ada kekurangan yang terdapat pada suami atau istri dan menimbulkan perselisihan, Alquran memberikan solusi agar keduanya menghadirkan wakil-wakil dari keluarga mereka untuk bermusyawarah dan menemukan jalan keluar. [7] Allah swt menetapkan, laki-laki dan perempuan setelah sepakat untuk bercerai maka satu sama lain tidak lagi saling membutuhkan. [8]

Syarat-Syarat dan Hukum Talak

  • Talak memiliki 4 rukun utama yaitu:
  1. Adanya orang yang menalak,
  2. Adanya penerima talak,
  3. Diucapkannya akad talak,
  4. Adanya saksi atau penyaksian. [9]
  • Syarat-syarat orang yang menceraikan[10]:
  1. Baligh,
  2. Berakal,
  3. Saat mengucapkan talak, dilakukan dengan ikhtiar bukan karena paksaaan,
  4. Ketika mengucapkan pernyataan talak memang berniat secara sadar untuk melakukan talak.

Adapun perempuan penerima talak, harus memiliki syarat-syarat umum berikut ini:

  • Talak dilakukan saat ia sedang suci dari haid atau nifas. Jika perempuan dalam kondisi haid atau nifas ditalak oleh suaminya maka talak tersebut batal. Syarat ini tidak berlaku bagi perempuan yang :
  1. Sudah menopause,
  2. Perempuan yang belum sampai umur haid, dan
  3. Perempuan yang sedang hamil.
  • Talak diucapkan pada saat perempuan dalam kondisi suci ketika tidak terjadi hubungan badan antara suami dan istri.
  • Disebutkan dengan jelas siapa istri yang menerima talak, hal ini berlaku jika seseorang memiliki beberapa istri. [11]

Dalam pengucapan lafadz talak, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:

  • Lafadz khusus talak هی طالِقٌ یا فُلانَة طالِقٌ یا اَنتِ طالِقٌ (dia-pr- diceraikan /wahai Fulanah –pr- kuceraikan/ engkau –pr- kuceraikan) harus dibaca dengan bahasa arab kecuali seseorang itu bisu. [12]
  • Disaksikan oleh 2 orang adil saat pengucapan talak. [13][14]

Pembagian Talak

Talak berdasarkan kemungkian kembalinya kedua mempelai dibagi menjadi 2 yaitu talak Ba'in dan talak Raj'i.

Talak Raj'i

Talak Raj'i yaitu talak yang memungkinkan sang suami untuk rujuk kembali dengan istrinya pada masa iddah (maksud dari rujuk disini adalah sang suami dapat kembali pada istrinya tanpa mengucapkan akad nikah baru dan khutbah nikah), dalam kondisi yang akan dijelaskan pada penjelasan selanjutnya maka talak ini dikategorikan dalam talak Raj'i.

Talak Ba'in

Dalam talak Ba'in seorang suami yang menceraikan istrinya tidak memiliki hak untuk kembali (rujuk) dengan istrinya pada masa iddah. Hal ini dibagi dalam 5 jenis:

  1. Talak seorang perempuan yang umurnya belum sampai 10 tahun.
  2. Talak seorang perempuan yang sudah menopause.
  3. Talak pada seorang perempuan yang setelah melakukan akad nikah belum disetubuhi oleh suaminya.
  4. Talak seorang perempuan yang telah ditalak untuk yang ketiga kalinya oleh suaminya.
  5. Talak seorang perempuan yang ditalak secara Khulu' atau Mubarat.

Ketika seorang perempuan menolak untuk melanjutkan kehidupan dengan sang suami, sesuai syariat maka ia dapat memberikan sejumlah harta pada suaminya agar diberikan cerai untuknya, dalam kondisi ini talak dibagi menjadi 2 macam:

  1. Talak Khulu'
  2. Talak Mubarat

Talak Khulu'

Sesuai dengan fatwa nomor 1146 (Talak khulu' adalah talak yang dilakukan perempuan dari suaminya karena keburukan suami dengan memberikan sebagian harta (fidyah) kepada sang suami untuk mendapatkan cerainya). Talak Khulu' memiliki syarat-syarat berikut ini:

  • Ketidaksukaan perempuan terhadap suami,
  • Diberikannya sejumlah fidyah – boleh saja jumlah fidyah sesuai dengan Mahriyah yang telah diberikan suami, boleh lebih banyak atau lebih sedikit.
  • Talak meskipun sebagai bentuk Iqa'at dimana untuk sahnya tidak memerlukan persetujuan dari si perempuan, namun, jika dilakukan dalam bentuk Khulu' dimana sang perempuan memberikan harta pengganti maka hukumnya berlaku seperti akad yang harus dilakukan kedua belah pihak yaitu pihak laki-laki dan perempuan lalu dikabulkan oleh keduanya.

Dalam talak ini jika sang perempuan menyesal dan ingin kembali rujuk maka dapat dilakukan dengan mengembalikan fidyahnya, kemudian merubah talak Ba'in menjadi talak Raj'i. perlu diperhatikan bahwa, setelah dikembalikannya fidyah tersebut pada si perempuan maka rujuk bisa segera dilakukan. Namun demikian jika talak benar-benar terjadi maka laki-laki memiliki hak sepenuhnya untuk menggunakan fidyah tersebut untuk hal apapun, dan si perempuan hanya bisa mendapatkan kembali fidyah yang diberikan selama masa iddah. Karena itu, jika si wanita ingin melakukan rujuk, maka rujuk harus dilakukan secepatnya pada masa iddah agar suami dapat segera menggunakan hak rujuk dalam pernikahan.

Talak Mubarat

Menurut fatwa nomor 1147 talak mubarat adalah talak disebabkan kesalahan dua belah pihak, dalam hal ini penggantian tidak harus seimbang sesuai dengan mahar yang diberikan. Akad talak mubarat seperti akad dalam Khulu'. Akad ini seperti akad dari kedua belah pihak, yakni laki-laki tidak dapat melakukan talak sepihak, namun harus mendapat kerelaan dari perempuan.  

Iddah Talak

Setelah diucapkannya akad talak maka wanita wajib menjaga dirinya selama masa iddah dan selama masa iddah ia tidak dapat menikah dengan orang lain. Dalam talak Raj'i laki-laki tidak boleh memberi izin pada wanita sebelum masa iddahnya berakhir.  

Hak Talak

Dalam undang-undang dasar Iran yang mengikuti fikih Imamiyah, hak talak hanya dimiliki laki-laki. Aturan ini menyebabkan laki-laki mengalami banyak tekanan dan menggunakannya dengan semena-mena. Namun, dalam surat nikah tercantum pula beberapa persyaratan yang juga telah ditandatangani oleh mempelai pria yang memungkinkan bagi wanita untuk menggugat cerai suaminya melalui pengadilan jika :

  1. Tidak dipenuhinya nafkah jasmani dan ruhani atau hak-hak lainnya selama 6 bulan.
  2. Keburukan/kasarnya akhlak suami, yang tidak dapat ditahan oleh istri dan anak-anaknya.
  3. Suami mengalami penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan membahayakan kehidupan istri beserta anak-anaknya.
  4. Suami menjadi gila dan tidak bisa disembuhkan.
  5. Suami melakukan pekerjaan yang membahayakan dan merusak harga diri perempuan serta keluarganya.
  6. Suami dihukum (penjara) selama kurun waktu 5 tahun keatas.
  7. Suami mengkonsumsi narkoba yang membahayakan keluarganya. Suami mengkonsumsi narkoba yang menjadikannya pengangguran, lalu menjual harta benda serta menyebabkan bahaya jasmani dan rohani istri beserta anak-anaknya.
  8. Mengabaikan keluarganya selama 6 bulan tanpa sebab dan alasan yang jelas.
  9. Suami melakukan berbagai macam kejahatan yang menjatuhkan harkat dan martabat istri.
  10. Suami tidak bisa memberikan anak selama lima tahun.
  11. Hilangnya suami dalam jangka waktu yang lama dan tidak diketahui jejaknya.
  12. Suami menikah lagi tanpa izin dari istri.

Meskipun pria memiliki hak talak setelah diucapkannya akad nikah terhadap istrinya, namun wanita dapat menolak untuk diceraikan dan mengambil maharnya jika suami menceraikannya tanpa terpenuhinya syarat-syarat yang diatas. Aturan perundangan yang berlaku mengharuskan lembaga pengadilan untuk mengeluarkan surat anjuran rujuk dan membina keluarga harmonis sebelum dijatuhkannya vonis talak, dan jika seseorang menceraikan istrinya tanpa berkonsultasi atau melaporkannya ke pengadilan, maka ia diancam hukuman penjara selama satu tahun.

Catatan Kaki

  1. Farhang Muasir Arabi-Farsi, hal. 402.
  2. Jawāhir al-Kalām, jilid 32, hal. 2.
  3. Barresie Huquq Zanone dar Mas'aleh Talak, hal. 20-23.
  4. Rasul saw: ما أحَلَّ اللّه ُ شیئا أبغَضَ إلَیهِ مِن الطَّلاقِ : (Allah swt tidak menghalalkan sesuatu namun Ia sangat membencinya kecuali talak), Kanzul Ummal, hadits 27871..
  5. Rawdz al-Jinān, Jilid 5, hal. 7.
  6. Surah An-Nisa' ayat 19.
  7. Surah An-Nisa' ayat 35.
  8. Surah An-Nisa' ayat 130.
  9. Lum'ah al-Damsyqie, Jilid 2, hal. 387.
  10. Lum'ah al-Damsyqie, Jilid 2, hal. 387.
  11. Jawāhir al-Kalām, Jilid 32, hal. 4-56.
  12. Jawāhir al-Kalām, Jilid 32, hal. 4-56.
  13. Jawāhir al-Kalām, Jilid 32, hal. 4-56.
  14. Tahrir al-Wasilah, jilid 2, hal 441.

Daftar Pustaka

  • Muhammad bin Jamaluddin Muhammad Amili, Lum'ah al-Damasqie, cet. Qom, Muassasah Ismailiyan, 1375 S.
  • Najaf, Syeikh Muhammad Hasan, Jawāhir al-Kalām, editor: Muhamad Quchani, cet. Beirut, 1981 M.
  • Imam Khomeini ra, Tahrir al-Wasilah, cet. Qom, Muassasah Ismailiyan, 1407 H.
  • Adzartas Adzarnusy, Farhangge Muassir, Arabi-Farsi, 1385 S.
  • Imami va Safa'i, Huquq Khanevadeh, percetakan Universitas Teheran.
  • Gawohi, Zahra, Barresie Huquq Zanone dar Masail Talaq.