Konsep:Ayat 124 Surah Al-An'am
| Informasi Ayat | |
|---|---|
| Surah | Al-An'am |
| Ayat | 124 |
| Juz | 8 |
| Informasi Konten | |
| Sebab Turun | Mengenai para pemimpin musyrik seperti Walid bin Mughirah dan Abu Jahal |
| Tempat Turun | Makkah |
| Tentang | Pemilihan Nabi oleh Allah |
Ayat 124 Surah Al-An'am menganggap pemilihan para nabi hanya layak bagi Allah; karena pemilihan ini dilakukan berdasarkan karakteristik pribadi individu dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dengan bersandar pada ayat ini, pemilihan pengganti nabi juga dianggap eksklusif bagi Allah karena memiliki kriteria yang serupa.
Ayat ini turun sebagai jawaban atas ucapan para pemimpin kemusyrikan di Makkah. Mereka mensyaratkan beriman mereka dengan penerimaan kedudukan dan makrifat para nabi. Orang-orang ini dengan mengajukan permintaan seperti itu, di satu sisi berpura-pura bahwa mereka beriman kepada para nabi terdahulu dan di sisi lain, mengingkari kenabian Nabi Muhammad saw. Allah menyebut perilaku para pemimpin syirik ini sebagai makar dan tipu daya serta menjanjikan azab yang pedih kepada mereka.
Deskripsi dan Kedudukan
Ayat 124 Surah Al-An'am merujuk pada tema pemilihan nabi dari sisi Allah dan menganggapnya khusus bagi Allah. Syiah meyakini bahwa pengganti nabi haruslah maksum seperti nabi dan menurut ayat ini harus ditentukan oleh Allah.[1] Ayat ini juga merujuk pada jenis pandangan para pemimpin penyembah berhala. Mereka mensyaratkan beriman mereka dengan menerima kedudukan para nabi dan mukjizat-mukjizat mereka.[2] Ayat ini dianggap sebagai kelanjutan dari Ayat 123 Surah Al-An'am yang mensifatkan para pemimpin kekafiran dengan makar dan tipu daya.[3] Tempat turunnya ayat 124 Surah Al-An'am dianggap di kota Makkah.[4]
| “ | وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
|
” |
Dan apabila datang kepada mereka sesuatu keterangan, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga kami diberikan (wahyu) sama seperti yang telah diberikan kepada Rasul-rasul Allah." Allah lebih mengetahui di mana (dan kepada siapakah) Ia berikan jawatan Rasul (dan wahyu) yang diberikanNya itu. Orang-orang yang melakukan perbuatan yang salah itu akan ditimpa kehinaan di sisi Allah, dan azab seksa yang amat berat, disebabkan perbuatan tipu daya yang mereka lakukan.
Asbabun Nuzul
Menurut sebagian mufasir, ayat 124 Surah Al-An'am turun berkenaan dengan Walid bin Mughirah, pemikir utama penyembah berhala Makkah yang menganggap dirinya lebih layak menjadi nabi daripada Nabi Muhammad saw.[5] Sebagian lainnya menganggap turunnya ayat ini berkenaan dengan Abu Jahal. Ia menganggap Nabi Muhammad saw sebagai salah satu anggota kabilah Abdu Manaf bin Qushay, saingannya, dan tidak dapat menerima keunggulannya.[6] Sebagian mufasir seperti Jawadi Amuli, tidak membatasi sebab turunnya ayat pada orang-orang yang telah disebutkan namanya.[7]
Alasan-alasan Kafir
Bagian awal ayat 124 Surah Al-An'am merujuk pada turunnya ayat dan mukjizat untuk membuktikan kenabian Nabi Muhammad saw dan tidak berimannya para pemimpin syirik.[8] Mereka meminta agar apa yang telah diberikan kepada para nabi diberikan juga kepada orang-orang ini.[9] Permintaan ini diajukan bukan dengan tujuan untuk memahami kebenaran; melainkan karena rasa dengki kepada Nabi Muhammad saw.[10] Allamah Thabathaba'i dengan bersandar pada kata Rusul (jamak dari Rasul), meyakini bahwa mereka tidak hanya meminta untuk menerima makrifat milik para nabi; melainkan juga menuntut kedudukan kenabian dan ajakan kepada agama. Ia meyakini bahwa permintaan kaum musyrik ini disertai dengan semacam penghinaan terhadap kenabian Nabi Muhammad saw; karena mereka tidak percaya pada kenabian para nabi.[11] Menurut Fakhr Razi, mufasir yang populer meyakini bahwa kaum musyrik menuntut kedudukan nubuat dan sebagian lainnya menganggap tuntutan mereka sebatas menerima beberapa mukjizat Nabi Muhammad saw[12] seperti Syakkul Qamar.[13] Fakhr Razi meyakini bahwa menurut para peneliti, pendapat populer lebih selaras dengan potongan ayat selanjutnya yaitu (Allahu A'lamu Haitsu Yaj'alu Risalatahu "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.").[14]
Pemilihan Nabi dan Imam dalam Kekuasaan Allah
Bagian kedua ayat 124 Surah Al-An'am menganggap pemilihan nabi khusus bagi Allah. Para mufasir Al-Qur'an dalam menjelaskan alasan eksklusivitas pemilihan nabi di tangan Allah mengatakan bahwa kedudukan ini memerlukan kesiapan spiritual, hati yang bersih, sifat-sifat kemanusiaan yang orisinal, pemikiran yang luhur, ideologi yang kuat, dan Takwa setingkat maksum dan hanya Allah yang mengetahui sifat-sifat ini.[15] Menurut para mufasir, hanya Allah yang tahu siapa yang memiliki kemampuan untuk memikul beban tanggung jawab ini dan menanggung kesulitannya.[16] Penulis Tafsir Itsna Asyari berpendapat bahwa ayat ini adalah kiasan bahwa tidak ada seorang pun yang layak menduduki jabatan kenabian kecuali pemilik hati yang salim dan orang-orang yang terjerat oleh sifat-sifat buruk moral seperti sombong, makar, dengki, dan keras kepala tidak boleh mengharapkan apa pun selain neraka dan Azab Ilahi.[17]
Pemilihan Pengganti Nabi Muhammad saw
Menurut keyakinan Syiah, pengganti Nabi Muhammad saw memikul semua sifat dan program nabi kecuali menerima Wahyu dan penetapan hukum agama. Orang seperti itu haruslah memiliki kedudukan maksum seperti nabi agar dapat menjalankan tugasnya dan menjadi teladan yang tepat bagi masyarakat.[18] Oleh karena itu, pengganti nabi hanya ditentukan dari sisi Allah. Ucapan Imam Shadiq as yang menganggap pemilihan pengganti bagi dirinya di luar kekuasaannya, dianggap sebagai bukti atas klaim ini.[19]
Riwayat-riwayat sejarah menunjukkan bahwa orang-orang seperti Hisyam bin Ismail, gubernur Bani Umayyah di Madinah,[20] Zuhri, dari kalangan Tabiin dan ulama Ahlusunah,[21] seorang pria dari keturunan Umar bin Khattab[22] dan lainnya, telah menggunakan potongan Allahu A'lamu Haitsu Yaj'alu Risalatahu untuk memuji sebagian Imam-imam Syiah as.[23] Penggunaan potongan ini untuk sebagian imam, ditafsirkan sebagai pengakuan atas kedudukan khusus mereka sebagai pengganti nabi.[24]
Makar Orang-orang Kafir
Ayat 124 Surah Al-An'am menganggap azab yang pedih bagi para pemimpin syirik sebagai hasil dari makar mereka.[25] Muhammad Sadeqi Tehrani dalam menafsirkan makar dan tipu daya orang-orang kafir mengatakan: Para pemimpin syirik dengan meminta mukjizat yang serupa dengan mukjizat para nabi terdahulu, awalnya berpura-pura beriman kepada para nabi terdahulu kemudian memberikan sugesti kepada masyarakat umum bahwa Nabi Muhammad saw tidak termasuk dalam jajaran para nabi Ilahi.[26] Sayid Muhammad Husain Fadhlullah meyakini bahwa orang-orang ini melakukan tipu daya dengan mengkhususkan jalan penemuan kebenaran pada panca indera dan mengesampingkan Akal dan pemikiran. Mereka hanya percaya pada mukjizat-mukjizat yang telah mereka biasakan atau mereka dengar tentangnya dan tidak menerima mukjizat-mukjizat akal atau mukjizat yang sesuai dengan kondisi lingkungan.[27]
Muqatil bin Sulaiman, salah seorang mufasir abad kedua Hijriah, dalam Tafsir-nya, menganggap yang dimaksud dengan makar adalah ucapan kaum kafir yang mengatakan jika Al-Qur'an ini benar maka ia akan diturunkan kepada Walid bin Mughirah atau Abu Mas'ud al-Tsaqafi.[28] Sebagian dengan bersandar pada hadis-hadis, menafsirkan makar sebagai konspirasi rahasia dengan tujuan mencelakai seseorang atau sebuah mazhab.[29]
Akhir Tipu Daya
Pada bagian penutup ayat 124 Surah Al-An'am, kehinaan dan terjerat dalam azab yang pedih dianggap sebagai nasib orang-orang yang dengan makar dan tipu daya menolak untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw dan menghalangi orang lain untuk beriman.[30] Kehinaan ini adalah hasil dari kesombongan dan merasa diri besar yang karena demi menjaga posisi duniawi mereka, mereka mengingkari kebenaran.[31] Azab yang pedih bagi orang-orang ini disebutkan sebagai hasil dari kekeraskepalaan dan upaya keras mereka di jalan kebatilan.[32]
Catatan Kaki
- ↑ Thayyib, Athyab al-Bayan, 1369 HS, jld. 6, hlm. 196; Sadeqi, "Muqayaseh-ye Payambar va Imam az Didgah-e Imam Ridha", hlm. 78.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 430.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 341.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 143.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 559.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 430.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1392 HS, jld. 27, hlm. 107; Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 341.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 559.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 559.
- ↑ Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 13, hlm. 136; Mughniyah, Al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 259.
- ↑ Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 7, hlm. 341.
- ↑ Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 13, hlm. 136.
- ↑ Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil, 1423 H, jld. 1, hlm. 587.
- ↑ Fakhr Razi, Al-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 13, hlm. 136.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 431.
- ↑ Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 4, hlm. 559.
- ↑ Huseini Shah Abdul Azimi, Tafsir Itsna Asyari, 1363 HS, jld. 3, hlm. 371.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 431.
- ↑ Sadeqi, "Muqayaseh-ye Payambar va Imam az Didgah-e Imam Ridha", hlm. 78.
- ↑ Ibnu Sa'ad, Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 5, hlm. 170.
- ↑ Dinawari, Al-Mujalasah, 1419 H, jld. 6, hlm. 159.
- ↑ Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, Dar al-Ma'rifah, hlm. 413.
- ↑ Ibnu Jauzi, Shifwah al-Shifwah, 1421 H, jld. 1, hlm. 355.
- ↑ Majdzub Tabrizi, Al-Hadaya li Syi'ah Aimmah al-Huda, 1387 HS, jld. 2, hlm. 130.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1392 HS, jld. 27, hlm. 107.
- ↑ Sadeqi Tehrani, Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an, 1406 H, jld. 10, hlm. 262.
- ↑ Fadhlullah, Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 9, hlm. 316.
- ↑ Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil, 1423 H, jld. 1, hlm. 588.
- ↑ Jawadi Amuli, Tafsir Tasnim, 1392 HS, jld. 27, hlm. 107.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 431.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 432.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir Nemuneh, 1371 HS, jld. 5, hlm. 432.
Daftar Pustaka
- Abul Faraj al-Isfahani, Ali bin Husain. Maqatil al-Thalibiyyin. Riset: Ahmad Saqr. Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
- Dinawari, Ahmad bin Marwan. Al-Mujalasah wa Jawahir al-'Ilm. Riset: Abu Ubaidah. Bahrain, Jam'iyah al-Tarbiyah al-Islamiyah, cetakan pertama, 1419 H.
- Fadhlullah, Muhammad Husain. Min Wahy al-Qur'an (Dari Wahyu Al-Qur'an). Beirut, Dar al-Malak, cetakan pertama, 1419 H.
- Fakhr Razi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketiga, 1420 H.
- Huseini Shah Abdul Azimi, Husain. Tafsir Itsna Asyari. Penerbit Miqat, cetakan pertama, Teheran, 1363 HS.
- Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Shifwah al-Shifwah. Kairo, Dar al-Hadis, 1421 H.
- Ibnu Sa'ad, Muhammad. Thabaqat al-Kubra. Riset: Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan pertama, 1410 H.
- Jawadi Amuli, Abdullah. Tafsir Tasnim. Qom, Pusat Penerbitan Isra, cetakan kedua, 1392 HS.
- Makarem Shirazi, Naser. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama, 1371 HS.
- Majdzub Tabrizi, Muhammad bin Muhammad Ridha. Al-Hadaya li Syi'ah Aimmah al-Huda. Qom, Yayasan Ilmiah Budaya Dar al-Hadis, 1387 HS.
- Mughniyah, Muhammad Jawad. Tafsir al-Kasyif. Teheran, Dar al-Kutub al-Islami, cetakan pertama, 1424 H.
- Muqatil bin Sulaiman. Tafsir Muqatil bin Sulaiman. Riset: Syahatah Abdullah Mahmud. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, 1423 H.
- Sadeqi, Hasan. "Muqayaseh-ye Payambar va Imam az Didgah-e Imam Ridha" (Perbandingan Nabi dan Imam dari Perspektif Imam Ridha). Dalam jurnal Ma'rifat, nomor 178, tahun kedua puluh satu, Mehr 1391 HS.
- Sadeqi Tehrani, Muhammad. Al-Furqan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Farhang-e Islami, cetakan kedua, 1406 H.
- Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asyei Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
- Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Fadhlullah Yazdi Thabathabai dan Hashim Rasuli. Teheran, Nashr Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, cetakan kedua, 1390 H.
- Thayyib, Abdul Husain. Athyab al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Teheran, Islam, cetakan kedua, 1369 HS.