Konsep:Ishmah Iktisabi
Ishmah Iktisabi (Bahasa Arab: عصمة الاکتسابیة) atau Ishmah Ikhtiari (Bahasa Arab: عصمة الاختیاریة) adalah sejenis ishmah (kemaksuman) yang bermakna menjauhnya manusia secara sukarela dari dosa dan kesalahan, yang diperoleh melalui usaha dan perjuangan melawan hawa nafsu.[1] Di hadapannya (sebagai lawan), terdapat ishmah mauhibati (pemberian) atau dzati, di mana seorang maksum tidak melakukan dosa atau tidak mampu melakukan dosa karena adanya kekuatan yang diletakkan Allah dalam wujudnya.[2] Menurut keyakinan sebagian orang, ishmah dzati atau mauhibati diberikan kepada sebagian manusia setelah usaha dan upaya manusia serta setelah memperoleh ishmah iktisabi.[3] Sebaliknya, Asy'ariyah dengan mengingkari ishmah iktisabi meyakini bahwa, mengingat manusia itu terpaksa (majbur), Allah telah mencabut kemampuan untuk melakukan (dosa) dari para maksum.[4]
Menurut pendapat sekelompok orang, ishmah iktisabi tidak khusus bagi seorang maksum[5] dan dimungkinkan sejumlah ulama dan arif (ahli makrifat) mencapai kedudukan ishmah.[6] Selain itu, sebagian orang mengartikan ishmah iktisabi sebagai keadilan.[7] Menurut mereka, ishmah iktisabi bermakna tidak berbuat dosa sepanjang umur, yang mana ini adalah makna dari keadilan.[8]
Menurut para teolog Syiah, para nabi dan maksumin memiliki ishmah iktisabi dan mauhibati.[9] Menurut keyakinan Khawajah Nashiruddin Thusi, para maksum mampu melakukan dosa namun mereka menghindarinya.[10] Sebagian juga berkeyakinan bahwa para maksum memperoleh ishmah iktisabi melalui perantara tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan luthf (karunia) khusus Allah.[11] Mengenai ishmah Sayidah Fatimah az-Zahra sa juga sebagian peneliti menganggapnya bersifat iktisabi dan mauhibati.[12]
Masalah hubungan antara ishmah dan ikhtiar (kehendak bebas) selalu menyibukkan pikiran para pemikir[13] dan ketidakmampuan untuk menggabungkan antara ishmah dan ikhtiar menyebabkan pengingkaran terhadap ishmah para nabi atau menganggapnya sebagai jabr (keterpaksaan).[14] Sebagian meyakini bahwa ishmah para nabi dikarenakan adanya paksaan eksternal dan manusia secara alami rentan terhadap kesalahan dan dosa. Kelompok pemikir ini dengan merujuk pada beberapa ungkapan Al-Qur'an seperti kata "akhlasnahum" dalam Ayat 46 Surah Shad dan ungkapan "yuridullahu liyudzhiba 'ankum al-rijsa ahlal-bait" dalam ayat 33 Surah Al-Ahzab, berkeyakinan: Allah hanya memurnikan dan menyucikan sebagian manusia dari dosa-dosa dan menyampaikan mereka pada kedudukan ishmah.[15]
Sebaliknya, sebagian lain meyakini bahwa ishmah dan ikhtiar dapat digabungkan (jamak), dan ishmah para nabi terwujud bukan melalui jalan paksaan (jabr), melainkan melalui jalan usaha dan perjuangan (mujahadah) melawan keinginan hawa nafsu.[16] Menurut pandangan kelompok ini, pengetahuan para nabi terhadap dosa ibarat pengetahuan terhadap beracunnya makanan yang menyebabkan mereka menghindarinya tanpa menghilangkan ikhtiar mereka.[17] Pandangan ini dikuatkan dengan bersandar pada ayat-ayat seperti Ayat 88 Surah Al-An'am dan ayat 67 Surah Al-Ma'idah.[18]
Catatan Kaki
- ↑ Subhani, Al-Fikr al-Khalid, 1425 H, jld. 1, hlm. 227-237; Ridhvani, Syiah Syenasi wa Pasokh be Syobohat, 1384 HS, jld. 1, hlm. 530-538.
- ↑ Subhani, Al-Fikr al-Khalid, 1425 H, jld. 1, hlm. 227-237; Ridhvani, Syiah Syenasi wa Pasokh be Syobohat, 1384 HS, jld. 1, hlm. 530-538.
- ↑ Diyanati Pur, Ni'mati, "Ishmah-ye Hadhrat Zahra (sa) Elahi ya Iktisabi", hlm. 108.
- ↑ Iji, Syarh al-Mawaqif, 1325 HS, hlm. 280; Subhani, Al-Fikr al-Khalid, 1425 H, jld. 1, hlm. 227-237; Ridhvani, Syiah Syenasi wa Pasokh be Syobohat, 1384 HS, jld. 1, hlm. 530-538.
- ↑ Diyanati Pur, Ni'mati, "Ishmah-ye Hadhrat Zahra (sa) Elahi ya Iktisabi", hlm. 108.
- ↑ Naseri, "Mauhebat-e Ishmah az Manzhar-e Ayat", hlm. 149.
- ↑ Al-Sanad, Al-Wiratsah al-Ishthifa'iyyah, 1431 H, hlm. 36.
- ↑ Al-Sanad, Al-Wiratsah al-Ishthifa'iyyah, 1431 H, hlm. 36.
- ↑ Subhani, Al-Fikr al-Khalid, 1425 H, jld. 1, hlm. 227-237; Ridhvani, Syiah Syenasi wa Pasokh be Syobohat, 1384 HS, jld. 1, hlm. 530-538.
- ↑ Khawajah Nashiruddin Thusi, Talkhish al-Muhashshal, 1405 H, jld. 1, hlm. 430.
- ↑ Al-Husaini, Laqad Syayya'ani al-Husain (as), 1415 H, hlm. 375.
- ↑ Diyanati Pur, Ni'mati, "Ishmah-ye Hadhrat Zahra (sa) Elahi ya Iktisabi", hlm. 108.
- ↑ Yusufian dan Syarifi, Pazhuhesyi dar Ishmah-ye Ma'suman (as), 1388 HS, hlm. 39.
- ↑ Yusufian dan Syarifi, Pazhuhesyi dar Ishmah-ye Ma'suman (as), 1388 HS, hlm. 39.
- ↑ Yusufian dan Syarifi, Pazhuhesyi dar Ishmah-ye Ma'suman (as), 1388 HS, hlm. 39-41.
- ↑ Subhani, Ishmah al-Anbiya fi al-Qur'an al-Karim, 1420 H, hlm. 29; Mishbah Yazdi, Amuzesh-e 'Aqaid, 1367 HS, jld. 2, hlm. 161.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 5, hlm. 354.
- ↑ Thabathaba'i, Al-Mizan, 1390 H, jld. 11, hlm. 163; Subhani, Mansyur-e Javid, 1382 HS, jld. 5, hlm. 29.
Daftar Pustaka
- Al-Husaini al-Maghribi, Idris. Laqad Syayya'ani al-Husain (as). Tanpa Tempat, Anwar al-Huda, 1415 H.
- Al-Sanad, Syekh Muhammad. Al-Wiratsah al-Ishthifa'iyyah li Fathimah al-Zahra (sa). Qom, Baqiyyat, 1431 H.
- Diyanati Pur, Zahra; Del-Ara Ni'mati. "Ishmah-ye Hadhrat Zahra (sa) Elahi ya Iktisabi" (Ishmah Hadhrat Zahra sa; Ilahi atau Iktisabi). Dalam Majalah Banovan-e Syi'ah, Qom, Muassasah Syiah Syenasi, Musim Panas 1386 HS.
- Iji, Mir Sayid Syarif. Syarh al-Mawaqif. Qom, Syarif Radhi, 1325 HS.
- Khawajah Nashiruddin Thusi, Muhammad bin Muhammad. Talkhish al-Muhashshal. Beirut, Dar al-Adhwa', Cetakan Kedua, 1405 H.
- Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Amuzesh-e 'Aqaid (Pendidikan Akidah). Teheran, Sazman-e Tablighat-e Eslami, 1367 HS.
- Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Atsar. Penerbit Shadra, 1389 HS.
- Naseri, Muhammad. "Mauhebat-e Ishmah az Manzhar-e Ayat" (Anugerah Ishmah dari Perspektif Ayat). Dalam Jurnal Ma'rifat, Qom, Muassasah Imam Khomeini (ra), 1370 HS.
- Ridhvani, Ali Ashghar. Syiah Syenasi wa Pasokh be Syobohat (Kajian Syiah dan Jawaban atas Syubhat). Teheran, Masy'ar, 1384 HS.
- Subhani, Ja'far. Al-Fikr al-Khalid fi Bayan al-'Aqaid. Qom, Muassasah Imam Shadiq (as), Cetakan Pertama, 1425 H.
- Subhani, Ja'far. Ishmah al-Anbiya fi al-Qur'an al-Karim. Qom, Muassasah Imam Shadiq (as), 1420 H.
- Subhani, Ja'far. Mansyur-e Javid. Qom, Muassasah Imam Shadiq (as), 1382 HS.
- Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1390 H.
- Yusufian, Hasan dan Ahmad Husain Syarifi. Pazhuhesyi dar Ishmah-ye Ma'suman (as) (Sebuah Penelitian tentang Ishmah Para Maksum as). Teheran, Pazhuheshgah-e Farhang wa Andisyeh-ye Eslami, 1388 HS.
| Ma'rifatullah | |
|---|---|
| Tauhid | Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah |
| Furu' | Tawasul • Syafa'at • Tabarruk • |
| Keadilan Ilahi | |
| Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amrun bainal Amrain • | |
| Kenabian | |
| Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran | |
| Imamah | |
| Keyakinan-keyakinan | Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah |
| Para Imam | |
| Ma'ad | |
| Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirath • Tathayur al-Kutub • Mizan • Akhirat | |
| Permasalahan Terkemuka | |
| Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja' Taklid | |