Dzulkifli

Prioritas: c, Kualitas: c
Dari wikishia
Makam yang dinisbahkan Kepada Nabi Dzulkifli as di kota Dezful, Iran

Dzulkifli (bahasa Arab: ذو الكفل) adalah seorang tokoh yang disebut namanya dalam Alquran, ia termasuk seorang yang saleh, sabar dan gemar berbuat baik. Sebagian mufasir menilai bahwa Dzulkifli termasuk Nabi. Terkait dengan namanya, terdapat beberapa nama seperti Yehezkiel dan Yusyah. Dzulkifli berjanji untuk berpuasa pada seluruh hari, menghidupkan malam, beribadah kepada Allah swt dan tidak akan pernah marah.

Nama dan Julukan

Alquran menamakan Surah Al-Anbiya [1] dan Surah Shad [2] dengan nama Dzulkifli. Alquran menilai bahwa Dzulkifli termasuk orang-orang yang saleh, baik dan mendapatkan rahmat Ilahi. [3]

Terkait dengan penamaan Dzulkifli terdapat perbedaan diantara ulama. Sebagian menyebut ia dengan Yehezkiel. [4] Terdapat pula perkataan-perkataan yang mengatakan bahwa ia adalah Ilyas, Yusya' atau Yas'. [5] Sebagian ulama lain percaya bahwa ia adalah seorang anak yang merupakan putra dari Nabi Ayub as. [6] Sebagian juga meyakini bahwa nama aslinya adalah Uwaidiya. [7]

Al-Kifl dipakai dalam dua makna: nasib dan perwalian.[8] Oleh karenanya, terdapat beberapa julukan bagi Dzulkifli:

  • Ia disebut dengan Dzulkifli karena Allah swt memberi anugerah yang sangat besar kepadanya atas ibadah yang ia kerjakan. Allah swt memberikan pahala yang besar dan rahmat kepadanya. [9]
  • Ia disebut dengan Dzulkifli karena ia mengambil perwalian dari 70 Nabi yang berada dalam bahaya. [10]
  • Sangat banyak dari Bani Israel yang lari dari musuh ia lindungi kemudian ia jamin kebutuhan makanan mereka. [11]
  • Ia telah berjanji untuk bersabar demi keridhaan Allah swt dan bersabar atas perilaku masyarakat. Karena janji inilah ia dikenal dengan nama Dzulkifli. [12]

Kenabian

Kebanyakan ulama menilai bahwa Dzulkifli termasuk Nabi. [13] Ayat-ayat Alquran menuliskan namanya bersamaan dengan nama-nama Nabi yang lain. Sebagian ulama yang lainpun menilai, bentuk lahir ayat-ayat ini membuktikan akan kenabiannya. [14] Terdapat sebuah riwayat dari Imam Baqir as bahwa Dzulkifli adalah nama Nabi dari kaum Bani Israel yang diutus setelah Nabi Sulaiman as dan melakukan pekerjaan-pekerjaan proses pengadilan seperti Nabi Daud as. [15]

Sebagian Ahlusunnah meyakini bahwa Dzulkifli termasuk dari nabi-nabi Bani Israil.[16]Abu Musa al-Asy'ari menukilkan riwayat dari Nabi Muhammad saw bahwa Dzulkifli bukan termasuk Nabi dan ia hanya seoarang hamba Allah swt yang saleh. [17]

Akhlak dan Perilaku

Berdasarkan sebagian riwayat-riwayat, Dzulkifli telah berjanji kepada para Nabi sebelumnya:

  • Akan berpuasa setiap hari
  • Akan selalu berjaga untuk beribadah
  • Tidak akan pernah marah [18]

Dzulkifli menepati janjinya, ia melewati malam-malamnya dengan salat. Siangnya ia lalui dengan berpuasa dan tidak pernah marah sedikitpun. Sebagian cerita menuliskan bahwa setan berupaya untuk mengganggu Dzulkifli supaya ia marah namun tidak berhasil. [19] Dzulkifli juga melakukan pekerjaan-pekerjaan pengadilan. [20]

Kuburan

Dalam kota Dezful terdapat sebuah kuburan yang dinisbatkan kepada Yehezkiel Nabi dan mengingat bahwa sebagian ulama menilai bahwa Dzulkifli adalah Hezekiel, maka kuburan ini terkenal dengan kuburan Dzulkifli. [21] Di bagian selatan Irak juga terdapat sebuah kuburan yang diyakini sebagai kuburan Dzulkifli. [22]

Catatan Kaki

  1. Ayat 85-86
  2. Ayat 48
  3. Balaghi, Hujah al-Tafāsir wa Balagh al-Iksir, 1386 S, jld. 1 (Mukadimah), hlm. 463.
  4. Mula Khisy, Bayān al-Ma'āni, 1382 H, jld. 5, hlm. 208.
  5. Ibnu Asakir, Tārikh Madinah Damisyq, 1415 H, jld. 17, hlm. 370.
  6. Alusi, Ruh al-Ma'āni fi Tafsir al-Qur'ān al-Adzim, 1415 H, jld. 9, hlm. 78.
  7. Thabathabai, al-Mizān fi Tafsir al-Qur'ān, 1417 H, jld. 17, hlm. 216.
  8. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 S, jld. 13, hlm. 483.
  9. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 S, jld. 13, hlm. 483.
  10. Mula Khisy, Bayān al-Ma'āni, 1382 H, jld. 5, hlm. 208.
  11. Husaini Hamedani, Anwār Derakhsān, 1404 H, jld. 14, hlm. 137.
  12. Zuhaili, Tafsir al-Wasith, 1422 H, jld. 2, hlm. 1608.
  13. Najafi Khomeini, Tafsir Asān, 1398 H, jld. 12, hlm. 333.
  14. Najafi Khomeini, Tafsir Asān, 1398 H, jld. 12, hlm. 333.
  15. Mula Khisy, Bayān al-Ma'āni, 1382 H, jld. 5, hlm. 208.
  16. Mullahuyes, Bayan al-Ma'ani, jld. 5, hlm. 208
  17. Thabari, Jami al-Bayān fi Tafsir al-Qur'ān, 1412 H, jld. 17, hlm. 60.
  18. Zuhaili, Tafsir al-Wasith, 1422 H, jld. 2, hlm. 1608.
  19. Zuhaili, Tafsir al-Wasith, 1422 H, jld. 2, hlm. 1608.
  20. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an, 1419 H, jld. 19, hlm. 275.
  21. Apakah Anda mengetahui bahwa kakek Rasulullah dikubur di Iran? (Site al-Kautsar)
  22. Yaqut al-Hamawi, Mu'jam al-Buldān, 1995, jld. 3, hlm. 372.

Daftar Pustaka

  • Alusi, Sayid Mahmud. Ruh al-Ma'āni fi Tafsir al-Quran al-Azim. Peneliti: Athiyah, Abdulbari. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cet. I, 1415 H.
  • Balaghi, Sayid Abdulhujjat. Hujjah at-Tafāsir wa Balāgh al-Iksir. Qom: Intisyarat Hikmat, 1386 HS.
  • Fadhlullah, Sayid Muhammad Husain. Tafsir min Wahyi al-Quran. Beirut: Dar al-Milak li al-Thabaah wa al-Nasyr, cet.II, 1419 H.
  • Husaini Hamedani, Sayid Muhammad Husain. Anwāri Dirakhsyān. Peneliti: Behbudi, Muhammad Baqir. Teheran: Kitabfurusyi Luthfi, cet. I, 1404 H.
  • Situs al-Kautsar: Tahukah Anda datuk Rasulullah saw dimakamkan di Iran?
  • Ibnu Asakir, Abul Qasim Ali bin Husain. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Makarim Syirazi, Nasir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah. Cet. I, 1374 HS.
  • Mullahuyas Al Ghazi, Abdul Qadir. Bayān al-Ma'āni. Damaskus: Mathbaah al-Taraqqi, cet. I, 1382 H.
  • Najafi Khomaini, Muhammad Jawad. Tafsir Āsān. Teheran: Penerbit Islamiyah, cet. I, 1398 HS.
  • Thabari, Abu Jakfar Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayān fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cet.I, 1412 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizān fi Tafsir al-Quran. Pengantar: Balaghi, Muhammad Jawad. Qom: Daftar Intisyarat Islami, cet.V, 1417 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Teheran: Nasir Khosru. Cet. III 1372 HS.
  • Yaqut Hamudi, Syihabuddin Abu Abdillah. Mu'jam al-Buldān. Beirut: Dar Shadir, cet.II, 1995 H.
  • Zuhaili, Wahbah bin Musthafa. Tafsir al-Wasith. Damaskus: Dar al-Fikr, cet. I, 1422 H.