Prioritas: b, Kualitas: c
tanpa navbox
tanpa referensi

Kitab al-Ghaibah (karya Syaikh Thusi)

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Kitab al-Gaibahhttp://en.wikishia.net
Judul Asli كتاب الغيبة
Pengarang Muhammad bin Hasan bin Ali bin Husain, terkenal dengan Syaikh Thusi
Bahasa Arab
Subyek Kegaiban Imam Mahdi afs
Seri 1 jilid
Genre Teologi
Diterbitkan oleh Percetakan al-Nukman
Tanggal Penerbitan 1323 H/1905


Kitab al-Ghaibah (bahasa Arab: كتاب الغيبة) adalah sebuah kitab yang membahas tentang kegaiban Iman yang kedua belas Syiah karya Syaikh Thusi yang terkenal dengan "Syaikh al-Thaifah". Kitab ini termasuk literatur penting dalam mengenal Imam Zaman afs dan masalah kegaiban. Dalam kitab ini dipaparkan pandangan Syiah mengenai Imam Mahdi afs, dan berbagai keberatan dan sanggahan yang dilontarkan terkait soal kegaiban dijawab dengan dalil-dalil Alquran, hadis dan akal.

Mengenai Penulis

Muhammad bin Hasan bin Ali bin Husain (385 - 460 H/995-1068) yang masyhur dengan "Syaikh al-Thaifah" (pembesar sebuah kaum/pembesar Syiah) dan "Syaikh Thusi" adalah pengarang dua kitab dari kutub Arba'ah (empat kitab hadis penting) Syiah dan termasuk dari teolog, muhaddis, mufassir dan fukaha terbesar Syiah. Pada umur 23 tahun ia pergi dari Khurasan ke Irak dan di sana bermurid kepada ulama besar, diantaranya Syaikh Mufid dan Sayid Murtadha. Khalifah Abbasi menyerahkan kursi pengajaran teologi di Baghdad kepadanya sampai perpustakaan Syapur terbakar api dalam serangan Tughril dan Syaikh pergi ke Najaf serta mendirikan hauzah di sana.

Setelah Sayid Murtadha wafat, ia memegang wewenang kepemimpinan mazhab Jakfari. Dengan mendidik ribuan murid dan menyusun puluhan karya ilmiah ia memberikan sumbangsih besar kepada dunia Islam khususnya kepada mazhab Syiah Imamiyah. Pengaruh karya yang besar ini dapat disaksikan hingga masa kini.[1]

Diantara pengkhidmatan Syaikh Thusi adalah memutlakkan dan menyempurnakan ijtihad Syiah, menulis kitab-kitab lengkap dan berharga dalam bab fikih dan ushul, dan memandirikan ijtihad Syiah dari ijtihad Ahlusunnah, terutama dihadapan satu persatu dari mazhab-mazhab penting Ahlusunnah. [2]

Pengenalan Kitab dan Namanya

Kitab al-Ghaibah merupakan salah satu kitab dari puluhan kitab yang ditulis dengan nama ini. Kitab al-Ghaibah terkuno tidak diketahui, namun kitab-kitab literatur dan referensi sejak abad kedua dan setelahnya telah mencatat koleksi beberapa kitab dengan nama ini. Diantara kitab-kitab terpenting terkait tema ini yang ditulis dengan judul ini sebelum kitab Syaikh Thusi adalah kitab al-Ghaibah karya Nukmani wafat sekitar tahun 360 H/971, al-Gahibah karya Syaikh Mufid wafat tahun 413 H/1022 dan al-Ghaibah karya Sayid Murtadha wafat tahun 436 H/1044.

Nama kitab tersebut tidak dipilih oleh pengarang sendiri, tapi Aqa Buzurgh Tehrani menamakannya dengan al-Ghaibah.[3] Terkait kitab ini ia berkata: "Kitab al-Ghaibah karya Syaikh Thusi mengandung hujah-hujah terkuat, argumentasi aqli dan naqli tentang keberadaan Imam Zaman afs, sebab kegaibannya dan tanda-tanda kemunculannya di akhir zaman."[4]

Tahun Penulisan

Syaikh Thusi menulis kitab ini sekitar tahun 447 H/1055, yakni kira-kira 13 tahun sebelum wafatnya.[5]

Struktur Kitab

Kitab ini tersusun dalam 8 pasal:

  1. Pembahasan mengenai kegaiban: di pasal ini, pengarang secara umum menetapkan keimamahan imam yang gaib, yaitu imam Kedua Belas. Untuk menetapkan perkara ini, pengarang menetapkan beberapa premis seperti kewajiban adanya imam pada setiap zaman, kewajiban ishmah bagi imam dan kehadiran imam di tengah masyarakat. Selanjutnya ia menolak akidah-akidah Kisaniyah, Nawusiyah, Waqifiyah, Muhammadiyah, Fatahiyah dan kelompok lain mengenai kepemimpinan. Setelah itu ia menjawab kejanggalan-kejanggalan yang muncul dari meyakini tentang kegaiban. Terakhir ia menjelaskan dalil-dalil kegaiban Imam Zaman dan bahwa ia adalah imam yang kedua belas dan dari keturunan Imam Husain as serta menolak dalil-dalil pihak-pihak yang mengingkari.
  2. Kelahiran Imam Hujjah bin al-Hasan al-Askari as dan penetapan kelahirannya dengan dalil-dalil dan riwayat-riwayat.
  3. Kajian mengenai orang-orang yang pernah melihat Imam Zaman afs.
  4. Mukjizat-mukjizat Imam Mahdi afs dan sebagian surat resminya (terdapat tanda tangan beliau).
  5. Sebab-sebab yang mencegah kemunculan Imam Mahdi afs.
  6. Riwayat-riwayat berkenaan dengan para duta dan wakil Imam Zaman afs (baik wakil yang terpuji maupun yang tercela), penyebutan nama-nama dan penjelasan pencelaan orang-orang yang mengklaim diri sebagai wakilnya.
  7. Masa umur Imam Mahdi afs dan penjustifikasian riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa ia telah wafat, tidak jelasnya waktu kemunculan dan penjustifikasian riwayat-riwayat yang menentukan waktu kemunculan itu, dan penjelasan tanda-tanda kemunculan.
  8. Penjelasan sebagian karakteristik, sifat-sifat dan sirah Imam Zaman afs.[6]

Karakteristik Kitab

  1. Kitab ini menjadi referensi untuk persoalan kegaiban: karena pentingnya sang pengarang dan tema yang diangkatnya, maka kitab ini memiliki kedudukan khusus. Dapat dikatakan secara pasti bahwa jika seseorang hendak menulis kitab mengenai Mahdiisme dan kegaiban maka mesti merujuk pada kitab ini. Hal ini sejak dahulu menjadi daya tarik ulama dan para peneliti untuk memperhatikan karya ini secara khusus.
  2. Pengkhususan penerapan hukum sanksi (hudud) pada zaman kehadiran imam maksum: salah satu sanggahan yang bersandar pada penetapan kegaiban imam Zaman afs adalah kajian penerapan hudud. Tampaknya pengarang meyakini bahwa hanya seorang maksum yang dapat menjalankan hudud. Oleh karena itu, maka kita harus menerima bahwa hudud sudah dihapus.
  3. Pengaku-pengaku wakil: salah satu kajian yang dilontarkan diantara ulama sejak periode kegaiban hingga kini adalah muncul kebohongan orang-orang yang mengklaim diri sebagai wakil Imam Mahdi afs. Dalam kitab ini, pengarang menyebutkan nama sebagian mereka ini yang salah satunya adalah Husain bin Manshur Hallaj. Hal yang disebutkan pengarang sebagai dalil dari klaim orang ini adalah dua kisah yang dinukil dari Abu Sahl Naubakhti dan Syaikh Shaduq. Kalau kita melihat cerita tersebut dengan teliti dan jeli, maka tidak satupun dari kisah tersebut bisa menjadi dalil kewakilan Hallaj.
  4. Kehidupan Imam Zaman afs: pandangan umum Syiah adalah bahwa Imam Zaman afs setelah sampai kepada jabatan imam menjadi gaib dari pandangan manusia. Kegaiban itu disebut ghaibah shughra (gaib kecil). Pada periode ini, Imam Zaman afs memiliki empat wakil khusus yang mana dengan perantara mereka masyarakat dapat mengadakan hubungan dengan Imam afs. Setelah wakil keempat wafat mulailah ghaibah kubra dan berlansung hingga kini.[7]

Urgensitas Kitab

Kitab al-Ghaibah karya Syaikh Thusi merupakan literatur terpenting untuk kajian Mahdiisme. Karena Syaikh Thusi memiliki referensi tingkat pertama dan berbagai referensi serta menguasai hadis-hadis maka ia mampu menyusun kumpulan kitab berharga yang membahas secara detail persoalan-persoalan keimamahan Imam Mahdi as dan mampu menjawab dengan tegas berbagai keberatan dan sanggahan.[8]

Referensi dan Daftar Pustaka Kitab

Referensi-referensi yang digunakan Syaikh Thusi dapat dibagi kepada dua kelompok. Kelompok pertama adalah kitab-kitab yang kini masih terjangkau seperti al-Kafi, al-Ghaibah karya Nukmani, Kamaluddin, Arba'u Risālāt fi al-Ghaibah karya Syaikh Mufid, al-Dzakhirah karya Sayid Murtadha, Kitab Masāil karya Ali bin Jakfar as dan kitab Sulaim bin Qais al-Hilali.

Kelompok kedua adalah referensi-referensi yang kini tidak ada seperti al-Dhiya' fi al-Radd 'ala al-Muhammadiyah wa al-Ja'fariyah karya Sa'ad bin Abdullah Asyari Qummi, kitab al-Raj'ah dan kitab al-Qāim karya Fadhl bin Syadzan, kitab Akhbār al-Wukala' al-Arba'ah karya Ibnu Nuh Sairafi, Kitab al-Aushiya', kitab al-Ghaibah karya Syalmaghani, dan kitab fi Nushrah al-Wāqifah karya Ali bin Ahmad Alawi.[9]

Naskah dan Pencetakan

  1. Kitab ini pertama kali dicetak bersama kitab al-Bayān fi Akhbār Shahib al-Zaman pada tahun 1323 H/1905 di Tabriz dengan cetak ofset.
  2. Pada tahun 1385 H/1965 kitab ini diterbitkan di percetakan al-Nukman dengan kata pengantar Aqa Buzurgh Tehrani dengan jumlah halaman 292 dan pada tahun yang sama dicetak oleh perpustakaan Nainawa al-Haditsah
  3. Pada tahun 1409 H/1988 dicetak oleh perputakaan Bashirati dengan jumlah halaman 308
  4. Pada tahun 1411 H/1990 dicetak di Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyah, Qom dengan kata pengantar Ibadullah Sarsyar Tehrani dan Ali Ahmad Nashih dengan jumlah halaman 570. Naskah ini memiliki daftar isi ayat-ayat Alquran, nama-nama para nabi, malaikat dan 14 manusia suci, para perawi dan tokoh, hal-hal yang ambigu, kelompok dan golongan, tempat-tempat dan zaman-zaman, kitab-kitab dan referensi-referensi penelitian, dan daftar isi tema.[10]

Catatan Kaki

  1. Gurji, Tārikh-e Fiqh wa Fuqahā, hlm.183
  2. Tārikh-e Fiqh wa Fuqahā, 181
  3. Tehrani, adz-Dzarī'ah, jld.13, hlm.79; Thusi, Mukadimah kitab, hlm.24
  4. Thusi, Kitab al-Ghaibah, hlm.9
  5. Tehrani, adz-Dzarī'ah, jld.16, hlm.79
  6. Thusi, al-Ghaibah, daftar isi kitab
  7. Kitabe Syenakhte Sire-e Ma'shuman, Pusat penelitian ilmu-ilmu Islam di komputer Nur
  8. Kitab Syenakht-e Sire-e Makshuman, Pusat penelitian ilmu-ilmu Islam Komputer Nur
  9. Muhammad Mas'udi, Bazsyenāsi Mashādir-e ketab al-Ghaibah Thusi
  10. Thusi, Kitab al-Ghaibah, hlm.10 dan 11

Daftar Pustaka

  • Agha Bozorg Tehrani. Adz-Dzarī'ah. Beirut: Dar al-Adhwa', 1403 H.
  • Gurji, Abu al-Qosim. Tārikh-e Fiqh wa Fuqahā. Tehran: Entesyarat-e Samt
  • Ketab Syenakht-e Sire-e Ma'shuman. Pusat penelitian ilmu-ilmu Islam di komputer Nur.
  • Muhammad, Mas'udi. Bazsyenāsi Mashādir-e ketab al-Ghaibah Thusi (Pengenalan sumber-sumber kitab al-Ghaibah). Majalah Entedzar-e Mau'ud. No. 28, 1388 HS (2009.)
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Ghaibah. Qom: Muassisah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1411 H.