Lompat ke isi

Konsep:Tongkat Musa as

Dari wikishia

Tongkat Musa as termasuk di antara Wadi'ah al-Imamah (pusaka titipan imamah) yang melaluinya beberapa Mukjizat Nabi Musa as terjadi. Tongkat ini, yang dianggap berasal dari pepohonan surga, diwariskan dari Nabi Adam as kepada Nabi Syuaib as dan kemudian sampai kepada Nabi Musa as. Berdasarkan riwayat, tongkat ini berada di tangan para Imam as dan pada saat kemunculan, akan berada di tangan Imam Mahdi as.

Berubahnya tongkat menjadi ular, terbelahnya laut dan penyeberangan Bani Israil melaluinya, serta memukulkan tongkat ke batu hingga memancar dua belas mata air darinya, adalah mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Musa as melalui tongkatnya.

Mukjizat Nabi Musa as dengan Tongkat

Nabi Musa as memiliki beberapa mukjizat melalui tongkatnya yang disebutkan dalam Al-Qur'an:

  • Mukjizat berubahnya tongkat Nabi Musa as menjadi ular disebutkan dalam lima surah Al-Qur'an dan delapan ayat.[1] Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an, tongkat Musa as berubah menjadi ular dalam tiga peristiwa:
    1. Berubahnya tongkat menjadi ular di Gunung Thur: Berdasarkan apa yang disebutkan dalam tiga surah, yaitu Al-Qashash, An-Naml, dan Thaha,[2] tongkat Nabi Musa as berubah menjadi ular setelah dilemparkan ke tanah.[3]
    2. Berubahnya tongkat menjadi ular besar di hadapan Firaun: Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an,[4] ketika Musa as pergi menemui Firaun untuk mengajaknya ke jalan yang benar, Firaun memintanya membawa bukti untuk membuktikan kebenarannya, lalu Nabi Musa as melemparkan tongkatnya ke tanah dan berubah menjadi ular besar.[5]
    3. Berubahnya tongkat menjadi ular di hadapan para penyihir: Berdasarkan ayat-ayat surah Asy-Syu'ara, Al-A'raf, dan Thaha, Musa as setelah mengubah tongkatnya menjadi ular besar di hadapan Firaun,[6] memenuhi permintaan Firaun untuk bertanding dengan para penyihir. Ia melemparkan tongkatnya ke tanah, dan tongkat itu berubah menjadi ular yang menelan semua tali para penyihir.[7] Peristiwa ini berakhir dengan berimannya para penyihir[8] namun di sisi lain ditentang oleh Firaun.[9]
  • Terbelahnya laut dan penyeberangan Bani Israil darinya: Berdasarkan Ayat 63 Surah Asy-Syu'ara, Allah mewahyukan kepada Musa as agar memukulkan tongkatnya ke laut supaya terbuka jalan di tengah laut. Maka Musa as memukulkan tongkatnya ke air, laut terbelah, dan Musa as beserta pengikutnya menyeberangi air tersebut; namun Firaun dan pasukannya tenggelam.[10]
  • Memukulkan tongkat ke batu dan memancarnya air darinya: Berdasarkan Ayat 60 Surah Al-Baqarah, Musa as di padang pasir yang kering di mana Bani Israil berada dalam kesulitan, memohon air kepada Allah. Kemudian datang perintah dari sisi Allah agar memukulkan tongkatnya ke sebuah batu khusus. Tiba-tiba dua belas mata air memancar dari batu tersebut.[11]

Tongkat Musa as di Tangan Para Imam Syiah

Tongkat Musa as dianggap sebagai salah satu dari Wadi'ah al-Imamah. Dalam sebuah hadis dari Imam Baqir as dinukilkan: "Tongkat Musa as adalah peninggalan dari Nabi Adam as yang sampai kepada Syuaib as, dan setelah Syuaib as jatuh ke tangan Nabi Musa as, dan sekarang berada di tangan kami. Tongkat tersebut dipersiapkan untuk Al-Qaim Alu Muhammad dan dengannya beliau akan melakukan apa yang telah dilakukan Musa as."[12] Imam Shadiq as juga bersabda: "Tongkat Musa as ada pada kami."[13]

Deskripsi Tongkat

Mengenai nama, jenis, karakteristik, dan penggunaan tongkat Musa as telah dinukilkan beberapa hal dalam kitab-kitab Fariqain (dua mazhab Syiah dan Ahlusunah).[14] Dinukil dari Imam Baqir as bahwa Nabi Adam as membawa tongkat Musa as dari surga ke bumi dan tongkat tersebut berasal dari pohon 'Ausaj surga.[15] Dalam hadis lain Imam Shadiq as bersabda: "Tongkat Musa as adalah kayu dari pohon surga Al-Murd (pohon yang menyerupai delima)."[16] Dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir as disebutkan bahwa setelah mengamati tongkat tersebut, beliau menyifatkannya dengan berkata bahwa tongkat itu berwarna hijau seperti hari saat dipotong dari pohonnya. Jika engkau berbicara dengannya, ia akan menjawab.[17]

Berdasarkan beberapa laporan, Nabi Syuaib as meminta Nabi Musa as agar memilih salah satu tongkat dari dalam rumah. Musa as ketika hendak memilih sebuah tongkat, hingga tiga kali tongkat Nuh as dan Ibrahim as (tongkat Nuh as yang telah sampai kepada Ibrahim as) secara mukjizat bergerak dan berada di tangan Musa as. Setelah itu Syuaib as meminta Musa as untuk mengambil tongkat tersebut; karena Allah telah mengkhususkannya untukmu.[18]

Pencarian Terkait

Catatan Kaki

  1. Rahnama dan Parchehbaf, "Ta'ammoli dar Ta'rif-e Kalami-ye Mo'jezeh...", hal. 5.
  2. Rahnama dan Parchehbaf, "Ta'ammoli dar Ta'rif-e Kalami-ye Mo'jezeh...", hal. 8-9.
  3. Tim Budaya dan Sastra Lembaga Penelitian Islam, Farhangnameh-ye Qur'ani, 1372 HS, jld. 2, hal. 602.
  4. Surah Asy-Syu'ara, ayat 32.
  5. Tharihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 2, hal. 17-18.
  6. Surah Asy-Syu'ara, ayat 32.
  7. Surah Al-A'raf, ayat 117.
  8. Surah Al-A'raf, ayat 120, 121; Surah Thaha, ayat 70; Surah Asy-Syu'ara, ayat 46-48.
  9. Surah Al-A'raf, ayat 123; Surah Thaha, ayat 71; Surah Asy-Syu'ara, ayat 49.
  10. Thabathabai, Al-Mizan, 1390 H, jld. 15, hal. 277-278; Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 13, hal. 257.
  11. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, 1374 HS, jld. 1, hal. 271 dan 272.
  12. Kulaini, Al-Kafi, 1381 HS, jld. 1, hal. 231; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 52, hal. 318.
  13. Kulaini, Al-Kafi, 1381 HS, jld. 1, hal. 231.
  14. Sebagai contoh lihat: Majlisi, Bihar al-Anwar, 1390 HS, jld. 13, hal. 60; Tsa'labi, Qishash al-Anbiya, 2007 M, hal. 176.
  15. Majlisi, Tarikh-e Payambaran, 1388 HS, jld. 1, hal. 609.
  16. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1379 HS, jld. 4, hal. 250.
  17. Kulaini, Al-Kafi, 1381 HS, jld. 1, hal. 231; Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 52, hal. 318.
  18. Majlisi, Tarikh-e Payambaran, 1388 HS, jld. 1, hal. 603; Rawandi, Qishash al-Anbiya, 1409 H, hal. 152.

Daftar Pustaka

Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1390 HS. Majlisi, Muhammad Baqir. Tarikh-e Payambaran 'Alaihimus Salam; Hayat al-Qulub. Teheran, Adineh Sabz, 1388 HS. Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh (Tafsir Teladan). Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 HS. Rahnama, Reza dan Mohammad Parchehbaf. "Ta'ammoli dar Ta'rif-e Kalami-ye Mo'jezeh bar Asas-e Gozaryesy-e Qur'an az Mo'jezeh-ye 'Asaye Hazrate Musa as" (Renungan atas Definisi Teologis Mukjizat Berdasarkan Laporan Al-Qur'an tentang Mukjizat Tongkat Nabi Musa as). Dalam majalah Pazhuhesy-haye Qur'ani, Nomor 89, Musim Dingin 1397 HS. Rawandi, Quthbuddin. Qishash al-Anbiya. Masyhad, Astan-e Qods-e Razavi, 1409 H. Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, 1379 HS. Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami, 1390 H. Tharihi, Fakhruddin bin Muhammad. Majma' al-Bahrain. Teheran, Murtadhawi, 1375 HS. Tim Budaya dan Sastra Lembaga Penelitian Islam. Farhangnameh-ye Qur'ani. Teheran, 1372 HS. Tsa'labi, Abi Ishaq Ahmad al-Naisaburi. Qishash al-Anbiya (Arais al-Majalis). Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2007 M. Ya'qub Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Teheran, Maktabah al-Shaduq, 1381 HS.