Lompat ke isi

Konsep:Salat Hazrat Fatimah (sa)

Dari wikishia

Salat Sayidah Fatimah sa adalah salat mustahab yang diajarkan oleh Jibril as kepada Sayidah Zahra sa dan dianggap efektif untuk menyelesaikan masalah-masalah besar. Salat dua rakaat ini juga dikenal sebagai salat Awwabin (salat orang-orang yang kembali kepada Allah). Pada rakaat pertama salat, setelah Surah al-Hamd, dibaca seratus kali Surah al-Qadr dan pada rakaat kedua setelah Surah al-Hamd, dibaca seratus kali Surah al-Tauhid dan setelah salam salat, doa "Subhāna dzil 'izzisy-syāmikh..." dibaca. Dalam sumber-sumber riwayat, salat-salat lain juga disebutkan dengan nama salat Sayidah Fatimah sa.

Pentingnya Salat

Mengenai salat Sayidah Fatimah sa, dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa setiap kali muncul masalah besar, kerjakanlah dua rakaat salat dan ini adalah salat yang biasa dilakukan oleh Sayidah Zahra sa.[1] Salat ini juga dikenal dengan nama salat Awwabin (salat orang-orang yang kembali kepada Allah).[2] Menurut Syekh Abbas Qomi, salat ini diajarkan oleh Jibril as kepada Sayidah Zahra sa.[3]

Tata Cara Pelaksanaan Salat

Syekh Abbas Qomi dalam Mafatih al-Jinan, mengenai salat Sayidah Fatimah sa menyebutkan bahwa Sayidah Zahra sa mengerjakan salat dua rakaat yang pada rakaat pertama setelah Surah al-Hamd, membaca seratus kali Surah al-Qadr dan pada rakaat kedua setelah Surah al-Hamd, membaca seratus kali Surah al-Tauhid. Setelah salam salat juga dibaca doa khusus.[4][5] Menurut Sayid bin Thawus dalam kitab Jamal al-Usbu', lebih baik setelah salat dibaca Tasbih Sayidah Fatimah sa dan setelah itu dikirimkan seratus kali selawat.[6]

Syekh Thusi juga dalam Misbah al-Mutahajjid mengatakan seyogianya setelah salat, menyingkapkan lutut dan siku, menempelkan semua anggota sujud-nya ke tanah tanpa penghalang apa pun, memohon hajat dan berdoa apa yang diinginkannya dan dalam kondisi sujud membaca zikir khusus.[7][8]

Salat-salat Lain

Dalam sumber-sumber riwayat, salat-salat lain juga disebutkan dengan nama salat Sayidah Fatimah sa; di antaranya:

  1. Syekh Thusi dan Sayid bin Thawus meriwayatkan bahwa Muhammad bin Ali Halabi pada hari Jumat bertanya kepada Imam Shadiq as bahwa ia ingin diajarkan sebuah amalan yang merupakan amalan terbaik pada hari ini. Imam Shadiq as bersabda: Aku tidak mengenal seorang pun yang di sisi Rasulullah saw lebih besar daripada Sayidah Fatimah sa dan aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih baik daripada apa yang diajarkan Nabi saw kepada putrinya. Kemudian beliau bersabda: Pada hari Jumat lakukanlah mandi dan kerjakan dua salat dua rakaat. Pada rakaat pertama setelah Surah al-Hamd, bacalah Surah al-Tauhid lima puluh kali, pada rakaat kedua setelah Surah al-Hamd, Surah al-'Adiyat lima puluh kali, pada rakaat ketiga setelah Surah al-Hamd, Surah al-Zalzal lima puluh kali dan pada rakaat keempat setelah Surah al-Hamd, Surah al-Fath lima puluh kali. Setelah salat juga baca doa khusus dibaca.[9][10]
  2. Berdasarkan riwayat yang dikemukakan Syekh Shaduq dari Imam Shadiq as, salat Sayidah Fatimah yang dinamakan salat Awwabin adalah empat rakaat dan di setiap rakaatnya setelah Surah al-Hamd, dibaca lima puluh kali Surah al-Tauhid.[11] Syekh Shaduq melanjutkan bahwa karena penduduk Kufah mengenalnya dengan nama salat Sayidah Fatimah, ia mencantumkannya dalam kitabnya dan menyebutkan pahalanya.[12]

Demikian pula Allamah Majlisi dalam Bihar al-Anwar,[13] Ahmad Rahmani Hamadani dalam kitab Fathimah al-Zahra Bahjah Qalb al-Musthafa,[14] Ismail Anshari Zanjani dalam Al-Mausu'ah al-Kubra 'an Fathimah al-Zahra[15] dan Sayid Muhammad Baqir Musawi dalam Al-Kautsar fi Ahwal Fathimah[16] meriwayatkan salat-salat lain dengan nama salat Sayidah Fatimah sa.

Catatan Kaki

  1. Nuri, Mustadrak al-Wasa'il, Muassasah Al al-Bait, jld. 6, hlm. 302.
  2. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 88, hlm. 171.
  3. Qomi, Mafatih al-Jinan, Uswah, hlm. 41.
  4. Subhāna dzil 'izzisy-syāmikhil-munīf, subhāna dzil-jalālil-bādzikhil-'azhīm, subhāna dzil-mulkil-fākhiril-qadīm, subhāna man labisab-bahjata wal-jamāl, subhāna man taraddā bin-nūri wal-waqār, subhāna man yarā atsaran-namli fis-shafā, subhāna man yarā waq'at-thairi fil-hawā, subhāna man huwa hakadzā lā hakadzā ghairuhu; Mahasuci Zat yang memiliki kemuliaan yang menjulang tinggi lagi luhur, Mahasuci Zat yang memiliki keagungan yang luhur lagi besar, Mahasuci Zat yang memiliki kerajaan yang membanggakan lagi terdahulu, Mahasuci Zat yang mengenakan kegembiraan dan keindahan, Mahasuci Zat yang berselimutkan cahaya dan kewibawaan, Mahasuci Zat yang melihat jejak semut di atas batu keras, Mahasuci Zat yang melihat kepakan sayap burung di udara, Mahasuci Zat yang Dia demikian itu dan tidak ada yang demikian itu selain-Nya. (Qomi, Mafatih al-Jinan, Uswah, hlm. 41.)
  5. Qomi, Mafatih al-Jinan, Uswah, hlm. 41.
  6. Sayid bin Thawus, Jamal al-Usbu', 1371 HS, hlm. 171.
  7. Yā man laisa ghairuhu rabbun yud'ā, yā man laisa fauqahu ilāhun yukhsya, yā man laisa dūnahu malikun yuttaqā, yā man laisa lahu wazīrun yu'tā, yā man laisa lahu hājibun yursyā, yā man laisa lahu bawwābun yughsyā, yā man lā yazdādu 'alā katsratis-su'āli illā karaman wa jūdā, wa 'alā katsratid-dzunūbi illā 'afwan wa saf-hā, shalli 'alā Muhammadin wa āli Muhammad(in) (dan setelah membaca doa ini mintalah hajat Anda). Terjemahan: Wahai Zat yang tidak ada tuhan selain-Nya yang diseru, wahai Zat yang tidak ada di atas-Nya tuhan yang ditakuti, wahai Zat yang tidak ada selain-Nya penguasa yang dipatuhi, wahai Zat yang tidak memiliki menteri yang bisa didatangi, wahai Zat yang tidak memiliki penjaga yang bisa disuap, wahai Zat yang tidak memiliki pintu yang bisa dimasuki, wahai Zat yang tidak bertambah karena banyaknya permintaan kecuali kedermawanan dan kemurahan, dan karena banyaknya dosa kecuali maaf dan pengampunan; sampaikan selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
  8. Syekh Thusi, Misbah al-Mutahajjid, 1411 H, hlm. 301.
  9. Ilāhī wa sayyidī man tahayya'a au ta'abba'a au a'adda awista'adda li-wifādati makhlūqin rajā'a rifdihi wa fawā'idihi wa nā'ilihi wa fawādhilihi wa jawā'izihi fa-ilaika yā ilāhī kānat tahyi'atī wa ta'bi'atī wa i'dādī wasti'dādī rajā'a fawā'idika wa ma'rūfika wa nā'ilika wa jawā'izika falā tukhayyibnī min dzālika yā man lā takhību 'alaihi mas'alatus-sā'ili walā tanqushuhu 'athiyyatu nā'ilin fa-innī lam āti-ka bi-'amalin shālihin qaddam tuhu walā syafā'ati makhlūqin rajautuhu ataqarrabu ilaika bi-syafā'atihi illā Muhammadan wa ahla baitihi shalawātuka 'alaihi wa 'alaihim ataituka arjū 'azhīma 'afwika-lladzī 'udta bihi 'alal-khath-thā'īna 'inda 'ukūfihim 'alal-mahārimi falam yamna'ka thūlu 'ukūfihim 'alal-mahārimi an judta 'alaihim bil-maghfirah wa anta sayyidī al-'awwādu bin-na'mā'i wa ana al-'awwādu bil-khathā' as'aluka bi-haqqi Muhammadin wa ālihit-thāhirīna an taghfira lī dzanbiyal-'azhīm fa-innahu lā yaghfirul-'azhīma illal-'azhīmu yā 'Azhīmu yā 'Azhīmu yā 'Azhīmu yā 'Azhīmu yā 'Azhīmu yā 'Azhīmu yā 'Azhīm. Terjemahan: Tuhanku dan junjunganku! Jika orang lain bersiap-siap atau berdandan atau mempersiapkan diri atau berupaya untuk menghadap makhluk karena berharap pemberiannya, manfaatnya, anugerahnya, kelebihannya, dan hadiahnya, maka Tuhanku! persiapan, dandananku, kesiapanku, dan upayaku hanya kepada-Mu karena berharap manfaat-Mu, kebaikan-Mu, anugerah-Mu, dan hadiah-Mu; maka janganlah buat aku putus asa dari semua itu, wahai Zat yang permintaan seorang peminta tidak akan sia-sia di sisi-Nya dan pemberian seorang penganugerah tidak akan mengurangi-Nya! Aku tidak datang kepada-Mu dengan amal saleh yang telah kukirimkan sebelumnya dan tidak pula dengan syafaat makhluk yang kuharapkan untuk mendekatkan diri kepada-Mu melalui syafaatnya kecuali Muhammad dan keluarganya yang semoga selawat-Mu tercurah atasnya dan atas mereka; aku datang kepada-Mu seraya berharap ampunan besar-Mu yang dengannya Engkau memaafkan para pendosa saat mereka bergelimang keharaman, dan lamanya mereka bergelimang keharaman tidak menghalangi-Mu untuk menganugerahkan ampunan kepada mereka; dan Engkau wahai junjunganku, Maha Berulang kali memberikan nikmat dan aku berulang kali berbuat salah, aku memohon kepada-Mu demi hak Muhammad dan keluarganya yang suci agar Engkau mengampuni dosaku yang besar, karena tidak ada yang mengampuni yang besar kecuali Yang Maha Besar; wahai Yang Maha Besar! wahai Yang Maha Besar! wahai Yang Maha Besar! wahai Yang Maha Besar wahai Yang Maha Besar wahai Yang Maha Besar! wahai Yang Maha Besar!.
  10. Syekh Thusi, Misbah al-Mutahajjid, 1411 H, hlm. 315; Ibnu Thawus, Jamal al-Usbu', 1371 HS, hlm. 172.
  11. Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 544.
  12. Syekh Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 1, hlm. 566.
  13. Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 88, hlm. 183–185.
  14. Rahmani Hamadani, Fathimah al-Zahra Bahjah Qalb al-Musthafa, 1378 HS, hlm. 223–228.
  15. Anshari, Al-Mausu'ah al-Kubra, 1428 H, jld. 22, hlm. 398–426.
  16. Musawi, Al-Kautsar fi Ahwal Fathimah bint al-Nabi al-Ath-har, 1386 HS, jld. 4, hlm. 535–556.

Daftar Pustaka

  • Anshari Zanjani, Ismail. Al-Mausu'ah al-Kubra 'an Fathimah al-Zahra. Qom, Dalil-e Ma, 1428 H.
  • Rahmani Hamadani, Ahmad. Fathimah al-Zahra Bahjah Qalb al-Musthafa (saw). Tehran, Monir, 1378 HS.
  • Sayid bin Thawus Hilli, Ali bin Musa. Jamal al-Usbu'. Tehran, Muassasah al-Afaq, 1371 HS.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Qom, Jami'ah Modarresin, 1413 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Misbah al-Mutahajjid. Beirut, Muassasah Fiqh al-Syi'ah, 1411 H.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut, Muassasah al-Wafa, 1403 H.
  • Qomi, Abbas. Mafatih al-Jinan. Qom, Uswah, tanpa tahun.
  • Musawi, Muhammad Baqir. Al-Kautsar fi Ahwal Fathimah bint al-Nabi al-Ath-har. Qom, Dalil-e Ma, 1386 HS.
  • Nuri, Mirza Husain. Mustadrak al-Wasa'il. Beirut, Muassasah Al al-Bait, tanpa tahun.