Penyerangan Rumah Fatimah Zahra sa

Prioritas: a, Kualitas: b
Dari wikishia

Penyerangan Rumah Fatimah Zahra sa (bahasa Arab:واقعة الهجوم على بيت الزهراء عليها السلام) adalah peristiwa yang mengacu pada kedatangan Umar bin Khattab bersama teman-temanya di depan rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa untuk memaggil Imam Ali as dan orang-orang yang hadir dalam rumah tersebut agar berbaiat kepada Abu Bakar. Berbagai sumber, baik dari Syiah maupun dari Sunni meriwayatkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw (28 Shafar 11 H), Umar bin Khattab mengancam bahwa jika para penghuni rumah tidak keluar maka ia akan membakar rumah tersebut.

Dalam kitab Sulaim bin Qays, Itsbat al-Washiyyah dan Tafsir al-'Ayyasyi sebagai sumber pertama dalam mazhab Syiah menyebutkan bahwa peristiwa ini yang berakhir dengan pendobrakan dan pembakaran pintu rumah menyebabkan janin yang dikandung Sayidah Fatimah sa yang bernama Muhsin keguguran dan selang beberapa waktu setelah kejadian tersebut, Sayidah Fatimah sa menyambut panggilan Allah swt.

Sumber-sumber Ahlusunah mengingkari peristiwa pembakaran pintu rumah dan tidak mengakui bahwa Sayidah Fatimah sa terluka pada insiden tersebut bahkan mereka justru menuduh para perawi riwayat tersebut sebagai seorang Rafidhi.

Dikatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa ini salah satunya adalah karena Abu bakar sangat membutuhkan baiat Imam Ali as untuk memperkuat posisi kepemimpinannya. Menurut perkataan Muhammad Hadi Yusufi Gharawi, peneliti sejarah Islam, peristiwa ini terjadi 50 hari setelah wafatnya Rasulullah saw.

Menurut penukilan kitab Sulaim dan kitab al-Imamah wa al-Siyasah bahwa dalam pertemuannya dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Sayidah Fatimah sa membacakan Hadis Badh'ah dan menjadikan Allah swt sebagai saksi bahwa keduanya telah mengganggunya dan membuatnya marah.

Menurut sumber-sumber Ahlusunah yang dikutip dari Abu Bakar bahwa didetik-detik akhir kehidupannya, ia (Abu Bakar) menyesali perbuatannya dan berkata seandainya di waktu itu ia tidak memerintahkan untuk memasuki rumah Sayidah Fatimah sa.

Kedudukan

Peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa terjadi setelah Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah dan dengan tujuan mengambil baiat dari Imam Ali as untuk kepemimpinan Abu Bakar [1], yang menyebabkan kesyahidan Sayidah Fatimah az-Zahra sa [2]. Peristiwa ini merupakan salah satu dari beberapa masalah yang mempengaruhi hubungan Syiah dan Sunni.

Sebagian sumber-sumber pertama dalam mazhab Ahlulbait seperti Kitab Sulaim, Itsbat al-Washiyah, Tafsir 'Ayasyi dan Dalail al-Imamah mencatat peristiwa penyerangan tersebut dan pesan-pesan yang terdapat didalamnya. [3] Sebaliknya dalam sumber-sumber Ahlusunah mengingkari peristiwa pembakaran pintu rumah Sayidah Fatimah az-Zahra dan peristiwa gugurnya Muhsin putra Sayidah Fatimah az-Zahra sa dan menganggap bahwa perawi riwayat tersebut adalah Rafidhi dan tidak dapat dipercaya.[4]

Para pencinta Ahlulbait Nabi saw mengadakan majelis duka setiap tahunnya untuk mengenang hari kesyahidan Sayidah Fatimah sa yang dinamakan Hari-hari Fatimiyah.[5]

Kedudukan Rumah Sayidah Fatimah sa dan Penghuninya

Terdapat sebuah riwayat dari Rasulullah saw yang dinukil dari periwayatan Syiah dan Sunni bahwa rumah Sayidah Fatimah Zahra sa dan Imam Ali as diperkenalkan sebagai contoh paling terbaik dari rumah-rumah yang disebutkan dalam Alquran Surah An-Nur ayat 36:

فِی بُیوتٍ أَذِنَ اللهُ أَن تُرْ‌فَعَ وَیذْکرَ فِیهَا اسْمُهُ یسَبِّحُ لَهُ فِیهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Di rumah-rumah yang telah Allah izinkan untuk dimuliakan dan namanya disebutkan di dalamnya. Di rumah itu, mereka bertasbih kepadanya setiap pagi dan sore hari.[6]

Dalam sumber-sumber Syiah dan Ahlusunah, dikatakan bahwa ada beberapa ayat Alquran yang sebab turunnya berkaitan dengan penghuni rumah Sayidah Fatimah Zahra sa (Imam Ali as, Sayidah Fatimah sa, Imam Hasan as, Imam Husain as). Diantara ayat-ayat tersebut adalah Ayat Ith'am[7] dan Ayat at-Tathir[8]

Faktor-Faktor dan Latar Belakang

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, sekelompok dari kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di Saqifah Bani Saidah untuk menyepakati kepemimpinan Abu Bakar dan berbaiat kepadanya.[9] menurut Ibnu Katsir pembaiatan kepada Abu Bakar terjadi sebelum penguburan Nabi saw.[10] Saat itu Imam Ali as sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad saw untuk dimakamkan.[11]

Nabi Muhammad saw telah memperkenalkan Ali bin Abi Thalib as sebagai penggantinya pada tanggal 18 Dzulhijjah 10 H saat Kembali dari Haji Wada' .[12] Umar bin Khattab di waktu itu termasuk diantara mereka yang memberikan selamat kepada Imam Ali as atas kepemimpinannya.[13]

Menurut periwayatan Husain Muhammad Ja'fari, penulis kitab Tasayyu' dar Masir-e Tarikh (Syiah dalam lembaran sejarah), karena ketakutan Abu Bakar terhadap reaksi yang sungguh-sungguh dari Imam Ali as dan para pengikutnya maka Abu Bakar dan Umar meminta mereka untuk berbaiat kepadanya dan ketika mereka menolak maka Abu Bakar dan Umar menggunakan paksaan dan kekerasan.[14]

Deskripsi Peristiwa

Menurut Ya'qubi, seorang sejarawan abad ketiga melaporkan bahwa pada peristiwa Saqifah Bani Sa'idah, sebagian sahabat seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, dan Bura' bin Azib menolak untuk berbaiat kepada Abu Bakar.[15] Sayid Murtadha Askari, seorang sejarawan abad ke 15 H mengatakan bahwa mereka yang tidak berbaiat kepada Abu Bakar adalah orang-orang yang bersama dengan Imam Ali as di rumah Sayidah Fatimah sa.[16] Thabari menyebutkan bahwa Thalhah dan Zubair juga bagian dari orang yang bersama dengan Imam Ali as.[17]

Perintah Abu Bakar untuk Mengambil Baiat dari Imam Ali as dan Para Sahabatnya

Setelah peristiwa baiat selesai, Abu Bakar mendatangi sebagian sahabat yang belum berbaiat kepadanya.[18] berdasarkan penukilan kitab al-Imamah wa al-Siyasah yang di nisbahkan kepada Ibnu Qutaibah bahwa Abu Bakar empat kali mengirim Umar dan Qunfuz ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa untuk meminta Imam Ali as dan orang-orang yang ada dalam rumah tersebut agar berbaiat kepada Abu Bakar.[19]

Berdasarkan periwayatan ini, pada kali pertama, setelah diancam oleh Umar, laki-laki yang ada di rumah selain Imam Ali as keluar dan berbaiat kepada Abu Bakar. Imam Ali as telah bersumpah bahwa sampai Alquran belum dikumpulkannya maka ia tidak akan keluar dari rumah. Abu Bakar pada kali kedua dan ketiga mengirim Qunfudz ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa dan lagi-lagi ia tidak memperoleh jawaban positif dan pada kali keempat Umar bersama sekelompok orang mendatangi rumah Sayidah Fatimah sa dan membawa Imam Ali as keluar untuk menemui Abu Bakar.[20]

Menurut perkataan Muhammad Hadi Yusufi Gharawi peneliti sejarah Islam dan Tasayyu' Abu Bakar mengirim orang sebanyak tiga kali ke rumah Imam Ali as untuk memintanya berbaiat kepada Abu Bakar. Pada kali pertama dan kedua mereka ditolak dan pada kali ketiga Imam Ali as dipaksa keluar dari rumahnya untuk berbaiat kepada Abu Bakar.[21]

Dalam kitab al-Ikhtishash yang dinisbahkan kepada Syekh al-Mufid tertulis bahwa ketika Imam Ali as dibawa menuju Masjid, Zubair yang ada dalam rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa menghunuskan pedangnya dan berkata wahai putra-putra Abdul Mutthalib! Apakah kalian masih hidup, sementara Ali diperlakukan seperti ini? Ia menyerang Umar namun Khalid bin Walid melemparnya dengan batu sehingga pedangnya terlepas dari tangannya, lalu Umar mengambil pedang tersebut dan membenturkannya ke batu sampai pedang tersebut patah.[22] berdasarkan penukilan Thabari sebagai sejarawan abad ketiga, ketika Zubair keluar dari rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa, kakinya terpeleset sampai pedangnya terjatuh dari tangannya.[23]

Kemudian, mereka membawa Imam Ali as ke hadapan Abu Bakar dan mengancamnya bahwa jika tidak berbaiat maka akan dipenggal kepalanya.[24] dalam kitab Sulaim tertulis bahwa Imam Ali berdebat dengan mereka yang ada dalam kumpulan tersebut dan mengingatkan perkataan Rasulullah saw di hari Ghadir dan di hari-hari lainnya kepada seluruh yang hadir di tempat tersebut berkaitan dengan kepemimpinannya sebagai pengganti Rasulullah saw, tetapi Abu Bakar berkata bahwa Rasulullah saw pernah bersabda bahwa kenabian dan kepemimpinan tidak akan berkumpul dalam ahlul baitnya.[25]

Berdasarkan perkataan Syekh Mufid bahwa pada hari Saqifah, Imam Ali as tidak berbaiat kepada Abu Bakar, tetapi berkaitan dengan apakah Imam Ali as setelah itu ia berbaiat atau tidak, ada beberapa catatan terkait hal tersebut. Salah satunya adalah bahwa setelah 40 hari atau enam bulan kesyahidan Sayidah Fatimah az-Zahra sa, Imam Ali as berbaiat kepadanya. Syekh Mufid sendiri meyakini bahwa Imam Ali as sama sekali tidak pernah berbaiat kepada Abu Bakar.[26]

Menurut sebuah riwayat, ketika mereka mengancam Imam Ali as, Abbas paman Rasulullah saw menarik tangan Imam Ali as dari tangan Abu Bakar untuk menyelamatkannya, lalu mereka melepas Imam Ali as.[27] namun berdasarkan penukilan dari kitab al-Imamah wa al-Siyasah, Abu Bakar berkata, "Selama Fatimah ada di sisinya maka ia tidak akan memaksa Ali untuk berbaiat kepadanya."[28]

Reaksi Sayidah Fatimah Zahra sa

Setelah utusan Abu Bakar yang pertama mendatangi rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa untuk membawa Imam Ali as dan para sahabatnya, Sayidah Fatimah sa berdiri dekat pintu dan berkata, "Aku tidak pernah menemukan ada suatu kaum yang lebih buruk dari kalian, yang mana kalian meninggalkan jenazah Rasulullah saw di sisi kami dan kalian bersepakat dalam hal kepemimpinan setelah Rasulullah saw, sementara kalian tidak meminta pendapat kami dan kalian tidak memerhatikan hak-hak kami.[29]

Pada kali keempat, Umar mendatangi rumah Sayidah Fatimah sa untuk membawa Imam Ali as, Sayidah Fatimah az-Zahra sa berseru keras,"Wahai Ayah! Wahai Rasulullah! Setelah kepergianmu, betapa banyaknya penderitaan yang kami alami atas perlakuan yang dilakukan oleh putra Khattab dan putra Abu Quhafah terhadap kami!". Setelah mendengar seruan Sayidah Fatimah az-Zahra, Sebagian orang yang bersama Umar terharu mendengar seruan tersebut dan memutuskan kembali ke rumahnya masing-masing.[30]

Menurut Ya’qubi, Sayidah Fatimah sa berkata kepada mereka yang memasuki rumahnya secara paksa, "Aku bersumpah demi Allah swt jika kalian tidak keluar dari rumahku maka Aku akan menyeru kepada Allah swt untuk meminta keadilan". Setelah mereka mendengar ucapan Sayidah az-Zahra sa, semuanya keluar dari rumah tersebut.[31]

Abu Bakar Jauhari (w. 323 H) menyebutkan dalam kitab al-Saqifah wa Fadak bahwa ketika Umar membawa Imam Ali as secara paksa keluar dari rumahnya, Fatimah az-Zahra sa berdiri di sisi pintu rumah dan berkata kepada Abu Bakar, "Betapa cepatnya engkau menyerang keluarga Rasulullah saw! Demi Allah swt, Aku tidak akan berbicara dengan Umar hingga aku dipanggil oleh-Nya."[32] Kelanjutan riwayat ini menyebutkan bahwa setelah kejadian tersebut, beberapa waktu kemudian Abu Bakar mendatangi Sayidah Fatimah az-Zahra untuk meminta maaf, lalu Sayidah az-Zahra sa memaafkannya.[33] Namun berdasarkan riwayat yang lain yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari bahwa Sayidah Fatimah az-Zahra sa juga marah kepada Abu Bakar karena merampas tanah Fadak dari tangan Sayidah Fatimah az-Zahra sa dan selama beliau masih hidup, beliau tidak ridha dan tidak berbicara kepadanya.[34]

Dalam Tafsir 'Ayyasyi juga disebutkan bahwa ketika Imam Ali as dibawa keluar dari rumahnya, Sayidah Fatimah az-Zahra sa mendatangi Abu Bakar dan mengatakan bahwa jika Ali as tidak dibebaskan maka ia akan pergi ke kuburan Rasulullah saw dan dengan rambut acak-acakan ia akan mengadu kepada Allah swt atas peristiwa ini. Imam Ali as mengirim Salman ke sisi Sayidah Fatimah az-Zahra sa supaya tidak melakukan hal tersebut. Karena Sayidah Fatimah menerima pesan dari Imam Ali as, maka beliau kembali ke rumahnya.[35]

Ancaman Pembakaran Rumah

Menurut beberapa sumber referensi Ahlusunah, seperti al-'Aqd al-Farid[36], Tarikh Thabari,[37] Ansab al-Asyraf,[38] al-Musannaf[39] dan al-Imamah wa al-Siyasah.[40] Umar bin Khattab atas perintah Abu Bakar mendatangi rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa untuk membawa Imam Ali as beserta sahabatnya ke sisinya untuk berbaiat kepadanya. Ketika ia memperoleh penentangan dari penghuni rumah maka ia memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar dan mengancam bahwa ia akan membakar rumah tersebut bersama penghuninya.

Menurut Ibnu Abdul Rabbah, seorang penulis dan sejarawan abad ketiga dan keempat hijriah, Abu Bakar berkata kepada Umar, jika penghuni rumah tersebut menolak keluar dari rumah maka perangilah mereka. Umar yang sementara menggenggam api obor di tangannya, mengancam bahwa jika penghuni rumah tidak berbaiat maka ia akan membakar rumah tersebut.[41] Menurut kitab al-Imamah wa al-Siyasah, ketika Umar mengancam akan membakar rumah tersebut, orang-orang yang hadir mengatakan kepadanya bahwa Sayidah Fatimah sa ada dalam rumah tersebut, Umar menjawab bahkan walaupun dia ada dalam rumah.[42]

Pada beberapa sumber disebutkan nama-nama yang ikut bersama Umar dalam peristiwa penyerangan tersebut, diantaranya Usaid bin Hudhair, Salamah bin Salāmah bin Waqsy {enote|pada kutipan yang lain bernama Salamah bin Aslam bin Juraisy (Thabari Imami, al-Mustarsyad fi al-Imamah, 1415 H, hal.378)}, Tsabit bin Qais bin Syammas Khazraji,[43] Abdurrahman bin 'Auf, Muhammad bin Muslimah[44] dan Zaid bin Aslam.[45]

Sayid Ja'far Syahidi meyakini bahwa ancaman Umar untuk membakar rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa yang dinukil dari kitab Ansab al-Asyraf[46] dan al-Aqd al-Farid[47] tidak bisa dianggap palsu dan buatan para pendukung Syiah atau buatan kelompok politisi yang sepakat dengan Syiah, karena di abad-abad pertama mereka belum memiliki kekuatan dan termasuk kelompok minoritas. Disamping itu, menurut catatan sumber sejarah Islam Barat, kelompok Syiah belum ada pada waktu itu.[48] Syahidi meyakini bahwa mereka yang hadir di Saqifah lebih peduli kepada pemerintahan dari pada peduli kepada agama.[49]

Pembakaran pintu, Cideranya Sayidah Fatimah sa dan Gugurnya Muhsin

Di sebagian sumber-sumber lama Syiah tercatat bahwa pada peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa, mereka membakar pintu rumah dan Sayidah Fatimah sa mengalami cedera serta mengalami keguguran. Dalam kitab Sulaim bin Qays di nukil bahwa Umar bin Khattab membuktikan ancamannya tersebut dengan membakar pintu rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa, lalu memasuki rumahnya dan ketika ia memperoleh perlawanan dari Sayidah Fatimah sa maka ia memukul sisi perut Sayidah Fatimah az-Zahra sa dengan sarung pedang.[50]

Hal ini juga disebutkan dalam kitab Itsbat al-Washiyah yang dinisbahkan kepada Ali bin Husain Mas’udi sejarawan abad keempat, mereka menyerang rumah dan membakar pintu serta menyeret Imam Ali as dari rumahnya secara paksa dan menjepit pemimpin para wanita dua alam ini di belakang pintu hingga Muhsin yang masih dalam kandungan gugur.[51] Menurut nukilan kitab "Dalaail al-Imamah", bahwa Umar memerintahkan kepada Qunfuz untuk memukul Sayidah Fatimah sa. 'Ayyasyi seorang Muhaddis Syiah pada masa kegaiban kecil juga mengatakan bahwa Umar menendang pintu rumah yang terbuat dari pelepah kurma hingga rusak lalu memasuki rumahnya dan membawa Imam Ali as keluar dari rumah dengan bahu terikat.[52]

Waktu Kejadian

Muhammad Hadi Yusufi Gharawi, seorang peneliti sejarah Islam dan Tasayyu' dengan bersandar pada beberapa bukti meyakini bahwa waktu penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa tidak langsung terjadi setelah peristiwa Saqifah dan pembaiatan kepada Abu Bakar, akan tetapi hal itu terjadi sekitar lima puluh hari atau lebih setelah wafatnya Rasulullah saw.[53]

Bukti pertama adalah seseorang yang bernama Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami yang ikut bersama pasukan Usamah menuju Muta, setelah kembali ke Madinah dan memperoleh kabar tentang peristiwa Saqifah, ia bersama dengan beberapa orang dari kabilahnya mengungkapkan bahwa ia adalah pengikut Imam Ali as dan mengatakan bahwa selama Imam Ali as belum berbaiat maka kami juga tidak akan berbaiat. Setelah kejadian tersebut, Abu Bakar bersama orang-orang yang berada di sekelilingnya berpikir untuk mengambil baiat dari Imam Ali as.

Menurut perkataan Yusuf Gharawi dengan bersandar pada waktu pulang perginya pasukan dan peristiwa sebelum dan setelahnya, maka peristiwa penyerangan terjadi sekitar lima puluh hari setelah wafatnya Rasulullah saw.[54]

Akibat-akibat

Berikut ini adalah beberapa akibat dari penyerangan rumah Sayidah Fatimah sa :

  • Kemarahan Sayidah Fatimah sa terhadap Abu Bakar dan Umar

Dalam kitab Sulaim bin Qays, al-Imamah wa al-Siyasah dan Dalail al-Imamah disebutkan bahwa setelah peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah sa, Abu Bakar dan Umar mencoba meminta maaf dan meminta ridha dari Sayidah Fatimah az-Zahra sa dengan mendatanginya. Sayidah Fatimah sa menolak mereka berdua, namun mereka menjadikan Imam Ali as sebagai perantara sehingga mereka berdua berhasil menemui Sayidah Fatimah sa. Dalam pertemuan tersebut Sayidah Fatimah sa berpaling dari mereka dan mengingatkan mereka akan sabda Nabi saw, "Fatimah adalah bagian dari diriku, barang siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku", kemudian beliau berkata, "Aku menjadikan Allah swt sebagai saksi bahwa kalian berdua telah menyakitiku dan membuatku marah."[55]

  • Gugurnya Muhsin as dan Syahidnya Sayidah Fatimah az-Zahra sa

Sumber-sumber tertua yang meriwayatkan gugurnya Muhsin as dalam peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra adalah kitab Sulaim bin Qays yang merupakan salah satu sumber abad pertama hijriyah dan sebagian besar sumber-sumber syiah setelahnya seperti al-Ihtijaj karya Ahmad bin Ali Tabarsi, Ghayat al-Maram karya Sayid Hasyim al-Bahrani dan Bihar al-Anwar karya Allamah Majlisi mengutip peristiwa tersebut dari kitab Sulaim bin Qays.[56]

  • Penyesalan Abu Bakar

Beberapa sumber Ahlusunah seperti Tarikh Madinah Dimasyq[57] karya Ibnu Asakir, al-Mu’jam al-Kabir[58] karya Tabarani dan Tarikh al-Islam[59] karya Dzahabi menyatakan bahwa di detik-detik akhir kehidupan Abu Bakar, ia menyesali tiga hal yang telah dilakukannya, salah satunya adalah perintahnya untuk memasuki rumah Sayidah Fatimah sa.

Pandangan Ahlusunah

Catatan terkait ancaman Umar bin Khattab akan membakar rumah Sayidah Fatimah sa disebutkan dalam sumber-sumber Ahlusunah, seperti kitab Ansab al-Asyraf,[60] Tarikh Thabari,[61] al-Aqd al-Farid,[62] al-Mushannaf[63] dan al-Imamah wa al-Siyasah.[64] Namun ada beberapa hal yang diingkarinya yaitu peristiwapembakaran pintu rumah, cideranya Sayidah Fatimah sa akibat himpitan pintu dan gugurnya Muhsin karena serangan tersebut. Mereka menuduh bahwa perawi peristiwa ini adalah Rafidhah.

Muhammad bin Abdul Karim Syahrestani, penulis kitab Milal wa Nihal dan pengikut mazhab asy'ariah (w. 548 H) dalam menerangkan pandangan Abu Huzail (pendiri Firqah Huzailiyah yang termasuk Firqah Mu'tazilah) mengatakan mereka berkeyakinan bahwa Umar menciderai Sayidah Fatimah az-Zahra sa pada hari pengambilan baiat yang menyebabkan anak yang dikandungnya gugur. Syahrestani menyebutkan bahwa laporan ini adalah dusta.[65]

Khalil bin Ibak al-Shafdi (w. 746 H) di kitab al- Wafi bi al-Wafayat dalam memperkenalkan Ibrahim bin Sayyar yang di kenal sebagai Nazzam dari pembesar Mu'tazilah menganggap bahwa ia condong ke Rafidhah dan ia menukil perkataannya bahwa Umar mencederai Fatimah dan menyebabkan Muhsin gugur.[66]

Monografi

Buku-buku independen yang berkaitan tentang peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa telah ditulis, diantaranya :

  • Al-Hujum 'ala Baiti Fatimah 'alaihassalam (serangan ke rumah Fatimah alaihassalam) karya Mahdi Abdul Zahra dalam bahasa Arab. Tujuan dari buku ini adalah menyajikan gambaran yang jelas tentang peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa yang dikutip dari sumber-sumber kredibel Syiah dan Sunni. Kitab ini telah diterjemahkan dan dipublikasikan oleh beberapa penerbit dengan judul Pandangan Terhadap Dokumen Penyerangan ke Rumah Siddiqah Thahirah sa dari Abad Pertama Hijriyah sampai Sekarang.[67]
  • Haqiqat-e Hujum be Khane-e Fatimah az-Zahra sa az Manobe-e ommeh. (Hakekat penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra dari sumber-sumber Ahlusunah) karya Ja'far Tabrizi dalam bahasa Persia. Menurut penulis, kitab ini berbicara tentang kumpulan peristiwa dan penindasan yang terjadi terhadap Sayidah Fatimah az-Zahra sa setelah wafatnya Rasulullah saw. Buku ini mencoba meriwayatkan peristiwa penyerangan ke rumah Sayidah Fatimah az-Zahra sa dari sumber-sumber Ahlusunah dan menjawab beberapa kritikan berkaitan dengan hal tersebut.[68] Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.[69]

Pranala Terkait

Catatan Kaki

  1. Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hal. 30-31.
  2. Thabari Imami, Dalā'il al-Imāmah, hal. 134.
  3. Sulaim bin Qays, Kitāb Sulaim bin Qays, jld. 1, hal. 150; Mas'udi, Itsbāt al-Washiyyah, jld. 1, hal. 146; 'Ayyasyi, Tafsīr al-'Ayyāsyī, jld. 2, hal. 67.
  4. Safadi, al-Wāfī bi al-Wafayāt, jld. 6, hlm. 15; Dzahabi, Siar A'lām an-Nubalā', jld. 15, hlm. 578; Ibn Hajar Asqalani, Lisān al-Mīzān, jld. 1, hlm. 609.
  5. Ayyam-e Syahadat-e Hazrat-e Fateme-e az-Zahrā Salām Allāh 'Alaihā Dar Pakestan, Site IRNA; Marasem-e Suguwari-e Syahadat-e Hazrat-e Fateme (as) Dar Jumhuri-e Azarbeijan wa Tajikestan, Site Tajik IRIB; [Suguwari-e Ayyam-e Fatemiyye Dar Markaz-e Eslami Hamburg, Site Mehr News].
  6. QS. Nur:36; As-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsūr, jld. 6, hlm. 203; Arbil, Kasyf al-Ghummah, jld. 1, hlm. 313.
  7. Lihat: Thusi, at-Tibyān, jld. 10, hlm. 211; Thabrasi, Majma' al-Bayān, jld. 10, hlm. 611 & 612; Haskani, Syawāhid at-Tanzīl, jld. 2, hlm. 403 - 408; Fakhrurrazi, at-Tafsīr al-Kabīr, jld. 30, hlm. 746.
  8. Lihat: Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzī, jld. 5, hlm. 699; Shaduq, Ma'ānī al-Akhbār, jld. 2, hlm. 403; Thabari, Jāmi' al-Bayān, jld. 20, hlm. 264 - 267; Ibn Abi Hatim, Tafsīr al-Qur'ān al-'Adzhīm, jld. 9, hlm. 341 - 343.
  9. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 3, hlm. 206; Ibn Atsir, al-Kāmil Fī at-Tārīkh, jld. 2, hlm. 327.
  10. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 5, hlm. 248.
  11. Ibn S'ad, ath-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 2, hlm. 212.
  12. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 5, hlm. 209-210.
  13. Khatib Baghdadi, Tārīkh Baghdād, jld. 8, hlm. 248; Mufid, al-Irsyād, jld. 1, hlm. 177.
  14. Ja'fari, Tasyayyu' Dar Masir-e Tarikh, hlm. 67-68.
  15. Ya'qubi, Tārīkh al-Ya'qūbī, jld. 2, hlm. 124.
  16. Askari, Saqife: Barresi-e Nawhe Syekl Giri-e Hukumat Pas Az Payambar, hlm. 99.
  17. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 3, hlm. 202.
  18. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30-31.
  19. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30-31.
  20. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30-31.
  21. Yusufi Ghurawi, Tarikh-e Hujum Be Khane-e Hazrat-e Zahra, Majalah Pazuhesy, vol. 29, hlm. 14.
  22. Dinisbatkan kepada Syekh Mufid, al-Ikhtishāsh, hlm. 186.
  23. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 3, hlm. 202.
  24. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30-31.
  25. Sulaim bin Qais, Kitāb Sulaim bin Qais, jld. 1, hlm. 153-155.
  26. Mufid, al-Fushūl al-Mukhtārah, hlm. 56-57.
  27. Ayyasyi, Tafsīr al-'Ayyāsyī, jld. 2, hlm. 68.
  28. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30-31.
  29. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsyah, jld. 1, hlm. 30-31; Syusytari, Ihqāq al-Haqq, jld. 33, hlm. 360.
  30. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsyah, jld. 1, hlm. 30-31; Syusytari, Ihqāq al-Haqq, jld. 33, hlm. 360.
  31. Ya'qubi, Tārīkh al-Ya'qūbī, jld. 2, hlm. 126.
  32. Jauhari, as-Saqīfah Wa Fadak, hlm. 53; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balāghah, jld. 2, hlm. 138.
  33. Jauhari, as-Saqīfah Wa Fadak, hlm. 53.
  34. Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, jl. 8, hlm. 149, no. 6727.
  35. Ayyasyi, Tafsīr al-'Ayyāsyī, jld. 2, hlm. 67.
  36. Ibn Abd Rabbah, al-'Aqd al-Farīd, jld. 5, hlm. 13.
  37. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 3, hlm. 202.
  38. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 586.
  39. Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, jld. 13, hlm. 469.
  40. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30.
  41. Ibn Abd Rabbah, al-'Aqd al-'Farīd, jld. 5, hlm. 13.
  42. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30-31
  43. Syaibani Baghdadi, as-Sunnah, jld. 2, hlm. 553; Diyar Bakari, Tārīkh al-Khamīs, jld. 2, hlm. 169.
  44. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 5, hlm. 250.
  45. Allamah Hilli, Nahj al-Haqq, hlm. 271.
  46. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 586.
  47. Ibn Abd Rabbah, al-'Aqd al-Farīd, jld. 5, hlm. 13.
  48. Syahidi, Zendegani-e Fateme-e Zahra, hlm. 109.
  49. Syahidi, Zendegani-e Fateme-e Zahra, hlm. 111-112.
  50. Sulaim bin Qais, Kitāb Sulaim bin Qais, jld. 1, hlm. 150.
  51. Mas'udi, Itsbāt al-Washiyyah, hlm. 146.
  52. Ayyasyi, Tafsīr al-'Ayyāsyī, jld. 2, hlm. 67.
  53. Yusufi Ghurawi, Tarikh-e Hujum Be Khane-e Hazrat-e Zahra, Majalah Pazuhesy, vol. 29, hlm. 9-14.
  54. Yusufi Ghurawi, Tarikh-e Hujum Be Khane-e Hazrat-e Zahra, Majalah Pazuhesy, vol. 29, hlm. 9-14.
  55. Sulaim bin Qais, Kitāb Sulaim bin Qais, jld. 1, hlm. 869; Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 31; Thabari Imami, Dalā'il al-Imāmah, hlm. 134-135.
  56. Allah Akbari, Muhsin Bin Ali (as), Majalah Thulu', vol. 29, hlm. 69.
  57. Ibn Asakir, Tārīkh Madīnah Damisyq, jld. 30 , hlm. 422.
  58. Thabrani, al-Mu'jam al-Kabīr, jld. 1, hlm. 62.
  59. Dzahabi, Tārīkh al-Islām, jld. 3, hlm. 118.
  60. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 586.
  61. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 3, hlm. 202.
  62. Ibn Abd Rabbah, al-'Aqd al-Farīd, jld. 5, hlm. 13.
  63. Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, jld. 13, hlm. 469.
  64. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 30.
  65. Syahrestani, al-Milal Wa an-Nihal, jld. 1, hlm. 57.
  66. Shafadi, al-Wāfī Bi al-Wafayāt, jld. 6, hlm. 15.
  67. Abduz Zahra, Negaresyi Be Esnad Wa Madarek-e Hujum Be Khane-e Shiddiqe-e Thahere (as), hlm. 10.
  68. Tabrizi, Haqiqat-e Hujum Be Khane-e Fateme-e Zahra (as) Az Manabe'e Āmme, hlm. 10 & 11.
  69. Kitāb al-Hujūm 'Alā Bait as-Sayyidah Fāthimah az-Zahrā' (as) Min al-I'tidā' Ilā al-I'tirāf (Bi Lisān Mashādir Ahl as-Sunnah Wa al-Jamā'ah,, Site Gisoom.

Daftar Pustaka

  • Abduzzahra, Mahdi. Negaresyi Be Esnad Wa Madarek-e Hujum Be Khane-e Shiddiqe-e Thahere (as) Az Qarn-e Awwal-e Hejri Ta Kunun. Tehran: Nasyr-e Tak. Cet. 5, 1391 HS/2013.
  • Abu Hayyan Tauhidi, Ali bin Muhammad. Al-Bashā'ir wa adz-Dzakhā'ir. Beirut: Dar Shadir, 1408 H.
  • Abu Na'im Ishfahani, Ahmad bin Abdullah. Ma'rifah ash-Shahābah. Riyadh: Dar al-Wathan Li an-Nasyr, 1419 H.
  • Allah Akbari, Muhammad. Muhsin Bin Ali (as). Majalah Thulu'. Tahun 8. Vol: 29, 1388 HS/2010.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Nahj al-Haqq wa Kasyf ash-Shidq. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani, 1982.
  • Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah Fī Ma'rifah al-A'immah. Qom: Radhi, 1421 H.
  • Ayyam-e Syahadat-e Hazrat-e Fateme-e az-Zahrā Salām Allāh 'Alaihā Dar Pakestan. Site IRNA. Diakses tanggal 23 Mei 2021.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsīr al-'Ayyāsyī. Riset: Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati. Tehran: Al-Mathba'ah al-Ilmiyyah. Cet. 1, 1380 H.
  • Bahrani, Sayyid Hasyim. Al-Burhān Fī Tafsīr al-Qurān. Muassasah Bi'tsah.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansāb al-Asyrāf. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Shahīh al-Bukhārī. Riset Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir. Dar Thauq an-Najah. Cet. 1, 1422 H.
  • Diyar Bakri, Husain. Tārīkh al-Khamīs. Beirut Dar Shadir.
  • Dzahabi, Ahmad bin Ahmad. Tārīkh al-Islām. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1413 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Sair A'lām an-Nubalā'. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1405 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. At-Tafsīr al-Kabīr. Beirut: Dar Ihya' at-Turats, 1420 H.
  • Haskani, Abdullah bin Abdullah. Syawāhid at-Tanzīl Li Qawī'id at-Tafdhīl. Riset Muhammad Baqir Mahmudi. Tehran: Wezarat-e Farhangg Wa Ersad-e Eslami. Cet. 1, 1411 H.
  • Ibn Abd Rabbah, Ahmad. Al-'Aqd al-Farīd. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
  • Ibn Abi Hatim, Abdurrahman bin Muhammad. Tafsīr al-Qurān al-Adzhīm. Riset: As'ad Muhammad ath-Thayyib. Mekkah: Maktabah Nizar Mushtafa al-Bazz.
  • Ibn Abi Syaibah, Abdullah bin Muhammad. Al-Mushannaf. Riset Muhammad Lahidan. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 1425 H.
  • Ibn Asakir, Ali bin Hasan. Tārīkh Madīnah Damisyq. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H.
  • Ibn Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Lisān al-Mīzān. Beirut: Dar al-Basya'ir al-Islamiyyah, 2002.
  • Ibn Hisyam, Hisyam bin Abdul Malik. As-Sīrah an-Nabawiyyah. Mesir: Syarikah Maktabah Wa Mathba'ah Mushtafa al-Bab al-Halabi Wa Awladih. Cet. 2, 1375 H.
  • Ibn Qutaibah. Al-Imāmah wa as-Siyāsah. Qom: Sayyid Radhi, 1413 H.
  • Ibn Sa'd, Muhammad. Ath-Thabaqāt al-Kubrā. Riset Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Cet. 1, 1410 H.
  • Ibn Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Al-Manāqib. Qom: Allame, 1379 H.
  • Ja'fari, Husain Muhammad. Tasyayyu' Dar Masir-r Tarikh. Penerjemah Muhammad Taqi Ayatullahi. Tehran: Daftar-e Nasyr-e Farhanggi-e Eslami. Cet. 14, 1386 HS/2008.
  • Jauhari Bishri, Abu Bakr Ahmad bin Abdul Aziz. As-Saqīfah wa Fadak. Beirut: Syarikah al-Kutubi Li ath-Thiba'ah wa an-Nasyr. Cet. 2, 1401 H.
  • Marasem-e Suguwari-e Ayyam-e Fatemiyye Dar Markaz-e Eslami Markaz-e Hamburg. Site Mehr News. Diakses tanggal 23 Mei 2021.
  • [http://tajik.irib.ir/persian/news/%D8%AA%D8%A7%D8%AC%DB%8C%DA%A9%D8%B3%D8%AA%D8%A7%D9%86/item/18271-%D9%85%D8%B1%D8%A7%D8%B3%D9%85-%D8%B3%D9%88%DA%AF%D9%88%D8%A7%D8%B1%DB%8C-%D8%B4%D9%87%D8%A7%D8%AF%D8%AA-%D8%AD%D8%B6%D8%B1%D8%AA-%D9%81%D8%A7%D8%B7%D9%85%D9%87-%D8%B3-%D8%AF%D8%B1-%D8%AC%D9%85%D9%87%D9%88%D8%B1%DB%8C-%D8%A2%D8%B0%D8%B1%D8%A8%D8%A7%DB%8C%D8%AC%D8%A7%D9%86-%D9%88-%D8%AA%D8%A7%D8%AC%DB%8C%DA%A9%D8%B3%D8%AA%D8%A7%D9%86 Marasem-e Suguwari-e Syahadat-e Hazrat-e Fateme (as) Dar Jumhuri-e Azarbeijan Wa Tajikestan.} Site Tajik IRIB. Diakses tanggal 23 Mei 2021.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Itsbāt al-Washiyyah. Qom: Anshariyan, 1384 HS/2005.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Murūj adz-Dzahab wa Ma'ādin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Dar al-Hijrah. Cet. 2, 1409 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Fushūl al-Mukhtārah. Editor Ali Mir Syarifi. Qom: Konggere-e Syekh Mufid. Cet. 1, 1413 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Ikhtishāsh. Editor Ali Akbar Ghaffari & Mahmud Mahrami Zarandi. Qom: al-Mu'tamar al-Alami Li Alfiyah as-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyād Fī Ma'rifah Hujaj Allāh 'Alā al-'Ibād. 1413 H.
  • Samhudi, Ali bin Ahmad. Wafā' al-Wafā' Bi Akhbār Dār al-Mushtafā. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2006.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. 'Uyūn Akhbār ar-Ridhā. Tehran: Nasyr-e Jahan, 1378 HS/2000.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Ma'ān īal-Akhbār. Riset Ali AKbar Ghaffari. Qom: Entesyarat-e Eslami, 1403 H.
  • Shafadi, Khalil bin Aibak. Al-Wāfī Bi al-Wafayāt. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Sulaim bin Qais. Kitāb Sulaim bin Qais. Qom: Al-Hadi, 1420 H.
  • Suyuthi, Jalaluddin. Ad-Durr al-Mantsūr. Beirut: Dar al-Fikr.
  • Syahidi, Sayyid Ja'far. Zendegani-e Fateme-e Zahra. Tehran: Daftar-e Nasyr-e Eslami, 1363 HS/1985.
  • Syahrestani, Muhammad bin Abdul Karim. Al-Milal wa an-Nihal. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
  • Syaibani Baghdadi, Abdullah bin Ahmad. As-Sunnah. Saudi: Dar Ibn al-Qayyim, 1406 H.
  • Syusytari, Qadhi Nurullah. Ihqāq al-Haqq wa Izhāq al-Bāthil. Qom: Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi an-Najafi, 1409 H.
  • Tabrizi. Haqiqat-e Hujum Be Khane-e Hazrat-e Fateme-e Zahra (as) Az Manabe'e Āmme. Dar ash-Shiddiqah asy-Syahidah, 1397 HS/2019.
  • Thabari Imami, Muhammad bin Jarir bin Rustam. Dalā'il al-Imāmah. Qom: Be'sat 1413 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi' al-Bayān Fī Ta'wīl al-Qur'ān. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1420 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk. Beirut: Muassasah al-A'lami. Cet. 4, 1403 H.
  • Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Mu'jam al-Kabīr. Kairo: Maktabah Ibn Taimiyyah, 1415 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayān. Beirut: Dar al-Ma'rifah.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. At-Tibyān Fī Tafsīr al-Qur'ān. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-Arabi.
  • Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzī. Riset & editor Abdul Wahhab Abdul Lathif. Beirut: Dar al-Fikr. Cet. 2, 1403 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Ishaq. Tārīkh al-Ya'qūbī. Dar Shadir.
  • Yusufi Ghurawi, Muhammad Hadi. Tarikh-e Hujum- Be Khane-e Hazrat-e Zahra ('Alaihā as-Salām). Majalah Pazuhesy. Vol: 27, 1379 HS/2000.