tanpa foto
tanpa infobox

Khutbah Fadakiyah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Khutbah Fadakiyah (bahasa Arab: الخطبة الفدكية) adalah pidato Fatimah Zahra sa yang disampaikan di masjid Nabi setelah wafatnya Rasulullah saw sebagai protes atas diambilnya tanah Fadak oleh Abu Bakar. Beberapa hari setelah Abu Bakar memegang tampuk kekhalifahan, dengan berdasarkan sebuah hadis dari Nabi saw bahwa para nabi tidak meninggalkan warisan, ia mengambil perkampungan Fadak yang telah dihibahkan oleh Nabi saw kepada Sayidah Fatimah sa dan menyita Fadak untuk kepentingan kekhilafatan.

Setelah penuntutan keadilan oleh Fatimah Zahra sa dan Imam Ali as tidak berhasil, putri Nabi saw pergi ke Masjid al-Nabi dan menyampaikan khutbah yang kemudian disebut dengan Khutbah Fadakiyah. Khutbah ini menjelaskan peristiwa dan penarikan kembali tanah Fadak. Sayidah Fatimah sa dalam pidato ini disamping menjelaskan tujuan pengutusan Nabi Muhammad saw, filosofi hukum-hukum ilahi dan kesulitan-kesulitan Imam Ali as dalam menyebarkan agama Islam, ia juga menegaskan kepemilikannya terhadap tanah Fadak dan membela secara utuh akan hak Imam Ali as mengenai kekhalifahan serta mencela kaum muslimin karena diam melihat Ahlulbait as dizalimi.

Teks khutbah ini dinukil secara mutawatir di dalam sumber-sumber Syiah dan Ahlusunnah. Di dalam beberapa referensi Arab dan Persia pidato ini disebut "khutbah al-Lummah" atau "khutbeh Lummah". Sayid Izzuddin Husaini Zanjani, Husain Ali Muntazhiri dan Mujtaba Tihrani telah menulis penjelasan atas Khutbah ini.

Sejarah Fadak

Fadak adalah sebuah perkampungan yang subur di dekat Khaibar,[1] di kawasan Hijaz dan pada jarak 160 Km dari Madinah[2] yang mana orang-orang Yahudi hidup di sana dan membangun benteng-benteng militer mereka di sekitarnya karena wilayah itu terletak pada posisi yang strategis.[3] Setelah kaum muslimin berhasil membuka dan menaklukkan kawasan Khaibar dan benteng-bentengnya pada perang Khaibar, orang-orang Yahudi yang tinggal di benteng-benteng itu dan perkebunan Fadak mengirim deligasi kepada Nabi Islam saw dan rela dengan menyerahkan diri dan perdamaian sehingga ditetapkan separuh dari tanah tersebut diberikan kepada beliau.[4] dan kapan saja Nabi saw menginginkan, mereka harus meninggalkan Fadak. Oleh karena itu, Fadak dimiliki Nabi saw tanpa peperangan.[5]

Perkampungan Fadak karena ditaklukkan tanpa diikuti oleh parajurit Islam, maka dengan hukum Alquran[6] menjadi milik khusus Nabi saw.[7] dan beliau memberikan penghasilan tanah ini kepada Bani Hasyim yang tidak mampu, dan setelah turun ayat وَآتِ ذَا الْقُرْ‌بَیٰ حَقَّهُ ; "Dan berikanlah hak keluarga", beliau menghibahkannya kepada Fatimah sa.[8][Note 1]

Ketersohoran Fadak disebabkan oleh peristiwa Fadak yang terjadi setelah wafatnya Nabi saw antara khalifah pertama dan Fatimah sa terkait kepemilikan kawasan ini. Abu Bakar ketika mendapat kursi kekhalifahan menyita Fadak untuk kepentingan khilafah.[9] Kawasan ini paska kekuasaan para khalifah pertama, pada masa dinasti Umawiyah dan Abbasiyah juga berada di tangan para penguasa. Di antara penguasa ini adalah Umar bin Abdul Aziz.[10] Dan Makmun[11] mengembalikan kawasan ini kepada anak-anak Fatimah, namun khalifah-khalifah berikutnya mengambil kembali.[12]

Kini, Fadak terletak di provinsi Hail di negara Arabistan dan dikenal dengan nama "Wadi Fatimah" dan perkebunan kurmanya disebut "Bustan Fatimah". Di kawasan ini juga terdapat masjid dan beberapa sumur yang terkenal dengan Masjid Fatimah dan 'Uyun Fatimah (mata air-mata air Fatimah).[13]

Pengambilan Fadak

Setelah Nabi saw wafat, Abu Bakar dengan bersandar pada hadis Nabi saw (yang dikatakan bahwa perawinya hanya Abu Bakar sendiri) mengklaim bahwa para Nabi tidak meninggalkan harta warisan;[14] karena itu, perkampungan Fadak yang dipegang oleh Sayidah Fatimah sa dan dikordinasi oleh pejabat-pejabat beliau[15] disitanya untuk kepentingan kekhalifahan.[16]Namun, Sayidah Fatimah sa menjawab bahwa sebelum Nabi saw wafat telah memberikan Fadak kepadanya dan membawa Imam Ali as dan Ummu Aiman sebagai saksi atas perkataannya.[17] Dalam satu penukilan dimuat bahwa Abu Bakar dalam satu kertas membenarkan kepemilikan Fatimah sa terhadap Fadak, namun Umar mengambil kertas itu dari Fatimah sa dan merobeknya.[18] Menurut sebagian referensi Ahlusunnah, Abu Bakar menolak saksi-saksi yang dibawa oleh Fatimah dan meminta dua orang laki-laki untuk memberikan saksi.[19]

Ketika Fatimah sa melihat penuntutan keadilan untuk dirinya dan suaminya, Imam Ali as, tidak menghasilkan apa-apa, bersama sekelompok wanita dari kerabatnya pergi ke masjid untuk menyampaikan pidato.[20] Dalam laporan-laporan sejarah dimuat bahwa ketika Fatimah pergi ke masjid seperti ayahnya ia berjalan, dan saat ia sampai di masjid, Abu Bakar dan sekelompok orang dari Muhajirin dan Anshar telah duduk di dalam masjid. Di antara Fatimah dan para hadirin dibatasi kain tirai. Pertama putri Nabi menangis dimana para hadirin turut menangis pula, kemudian dia diam sejenak sehingga mereka tenang, lalu memulai pembicaraannya.[21]

Berdasarkan laporan-laporan sejarah, Fatimah sa setelah kejadian ini sangat kecewa kepada Abu Bakar dan Umar dan tetap marah kepada mereka berdua hingga hari kesyahidannya.[22] Murka dan kemarahan Fatimah merupakan hal penting dilihat dari sudut ini bahwa, bukan hanya dalam sumber-sumber hadis Syiah bahkan dalam sumber-sumber hadis Ahlusunnah pun telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwa, Fatimah bagian dari tubuhku, barangsiapa membuatnya marah berarti ia telah membuatku marah.[23]

Sanad Khutbah

Majlisi dalam Bihar al-Anwar meyakini bahwa khutbah ini termasuk dari khutbah yang terkenal yang mana Syiah dan Ahlusunnah menukilnya dengan berbagai sanad.[24] Menurut penegasan Husain Ali Muntaziri sanad paling kuno pidato ini adalah kitab Balaghat al-Nisa' karya Abul Fadhl Ahmad bin Abi Thahir Marwazi (204-280 H) yang hidup pada masa Imam Hadi as dan Imam Hasan al-Askari as.[25] Sesuai penukilan Sayid Jakfar Syahidi, Ahmad bin Abi Thahir mencatat khutbah ini dengan dua redaksi dan dua riwayat. Namun, dalam sanad-sanad kontemporer dua riwayat tadi bercampur menjadi satu dan dinukil dalam satu redaksi.[26]Untuk khutbah Fadakiyah disebutkan lebih dari 16 sumber referensi.[27]

Konten Khutbah

Khutbah Fadakiyah dimulai dengan pujian dan penyifatan Allah dan dikupas tentang pengutusan Nabi saw. Kemudian menyingung tentang kedekatan Imam Ali as dengan Nabi saw, kemuliannya di antara wali-wali Allah, keberaniannya yang tidak tertandingi dalam membela Nabi saw dan Islam. Dan ia mencela para sahabat nabi karena setelah Nabi wafat mereka mengikuti setan dan terjadi kemunafikan terang-terangan di tengah mereka serta meninggalkan kebenaran. Dalam khutbah ini juga disinggung masalah peristiwa pengambilan kekhalifahan secara ilegal, dan perkataan Abu Bakar yang menegaskan bahwa para Nabi tidak meninggalkan harta warisan dinilai bertentangan dengan ayat-ayat Alquran. Sayidah Fatimah sa dalam pidato ini menyerahkan Abu Bakar kepada penghakiman Tuhan di hari kiamat dan mempertanyakan para sahabat mengapa diam melihat penzaliman ini. Secara eksplisit dia mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah pengingkaran janji mereka dengan Rasulullah. Di akhir pidato ini dia menyampaikan bahwa akibat buruk perbuatan mereka akan kekal dan berakhir dengan neraka.[28]

Teks Khutbah dan Terjemahannya

Terjemahan Teks
Segala puja dan puji kehadirat Allah atas nikmat yang diberikan, dan syukur kepada-Nya atas apa yang diilhamkan, begitu pula sanjungan atas apa yang dikaruniakan; berupa kenikmatan-kenikmatan umum yang Dia mulai, kesenangan-kesenangan berlimpah yang Dia serahkan, dan anugerah-anuegerah lengkap yang berturut-turut Dia kucurkan. Karunia-karunia yang penghitungan tak mampu membilangnya, pengganjaran tak kuasa membalasnya, dan pengetahuan tak sanggup menjangkaunya. Dia menyeru mereka untuk menambah dan melestarikan karunia itu dengan syukur, mengajak mereka untuk menderaskannya dengan bertahmid, dan menjadikan permohonan gigih sebagai faktor pelipatgandaan karunia-Nya. الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى مَا أَنْعَمَ، وَ لَهُ الشُّكْرُ عَلَى مَا أَلْهَمَ، وَ الثَّنَاءُ بِمَا قَدَّمَ مِنْ عُمُومِ نِعَمٍ ابْتَدَأَهَا، وَ سُبُوغِ آلَاءٍ أَسْدَاهَا، وَ تَمَامِ مِنَنٍ وَالاهَا، جَمَّ عَنِ الْإِحْصَاءِ عَدَدُهَا، وَ نَأَى عَنِ الْجَزَاءِ أَمَدُهَا، وَ تَفَاوَتَ عَنِ الْإِدْرَاكِ أَبَدُهَا، وَ نَدَبَهُمْ لِاسْتِزَادَتِهَا بِالشُّكْرِ لِاتِّصَالِهَا، وَ اسْتَحْمَدَ إِلَى الْخَلَائِقِ بِإِجْزَالِهَا، وَ ثَنَّى بِالنَّدْبِ إِلَى أَمْثَالِهَا
Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya; Sebuah kalimat dimana ikhlas menjadi takwil hakikatnya, gelora sambunnya terpatri di dalam hati, dan ide tauhidnya mencerahkan akal budi. Tuhan yang mata tidak mungkin melihat-Nya, lidah tidak sanggup menyifati-Nya, dan benak tidak mampu menalar Dzat-Nya. Dia mulai-ciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu yang ada sebelumnya. Dia membuatnya tanpa meniru contoh apa pun. Dia jadikan dengan kekuasaan-Nya. Dia adakan dengan kehendak-Nya. Tanpa perlu dari-Nya terhadap penjadian itu, dan tanpa keuntungan bagi-Nya dari penggambaran itu, melainkan hanya merupakan pembuktian atas kebijaksanaan-Nya, penyadaran terhadap ketataan-Nya, pengungkapan untuk kekuasaan-Nya, pengabdian bagi makhluk-makhluk-Nya, dan penghargaan untuk seruan-Nya. Kemudian Dia tetapkan pahala atas ketaatan pada-Nya, dan letakkan siksa atas kedurhakaan pada-Nya, demi menghindarkan hamba-hamba-Nya dari murka-Nya dan menarik mereka ke surga-Nya. وَ أَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، كَلِمَةٌ جُعِلَ الْإِخْلَاصُ تَأْوِيلَهَا، وَ ضُمِّنَ الْقُلُوبُ مَوْصُولَهَا، وَ أَنَارَ فِي الْفِكْرَةِ، مَعْقُولُهَا، الْمُمْتَنِعُ مِنَ الْأَبْصَارِ رُؤْيَتُهُ، وَ مِنَ الْأَلْسُنِ صِفَتُهُ، وَ مِنَ الْأَوْهَامِ كَيْفِيَّتُهُ. ابْتَدَعَ الْأَشْيَاءَ لَا مِنْ شَيْ‏ءٍ كَانَ قَبْلَهَا، وَ أَنْشَأَهَا بِلَا احْتِذَاءِ أَمْثِلَةٍ امْتَثَلَهَا، كَوَّنَهَا بِقُدْرَتِهِ، وَ ذَرَأَهَا بِمَشِيَّتِهِ، مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ مِنْهُ إِلَى تَكْوِينِهَا، وَ لَا فَائِدَةٍ لَهُ فِي تَصْوِيرِهَا، إِلَّا تَثْبِيتاً لِحِكْمَتِهِ، وَ تَنْبِيهاً عَلَى طَاعَتِهِ، وَ إِظْهَاراً لِقُدْرَتِهِ، وَ تَعَبُّداً لِبَرِيَّتِهِ، وَ إِعْزَازاً لِدَعْوَتِهِ. ثُمَّ جَعَلَ الثَّوَابَ عَلَى طَاعَتِهِ، وَ وَضَعَ الْعِقَابَ عَلَى مَعْصِيَتِهِ، زِيَادَةً لِعِبَادِهِ عَنْ‏ نَقِمَتِهِ وَ حِيَاشَةً مِنْهُ‏ إِلَى جَنَّتِهِ
Dan aku bersaksi bahwa ayahku Muhammad Saw adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Dia memilih dan memuliakannya sebelum mengutusnya, memberinya nama (meninggikannya) sebelum mencalonkannya, memurnikannya (memilihnya) sebelum mengutusnya. Di saat khalayak masih tersembunyi di kegaiban, masih ditahan di tabir kegelapan, masih berdampingan erat dengan batas ketiadaan. Dan itu karena ilmu Allah Taala atas akhir dari segala hal, dan liputan-Nya terhadap semua peristiwa masa, serta kesadaran-Nya akan posisi kadar-ukuran. وَ أَشْهَدُ أَنَّ أَبِي مُحَمَّداً (ص) عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ، اخْتَارَهُ وَ انْتَجَبَهُ‏ قَبْلَ أَنْ أَرْسَلَهُ، وَ سَمَّاهُ قَبْلَ أَنِ اجْتَبَلَهُ‏، وَ اصْطَفَاهُ قَبْلَ أَنِ ابْتَعَثَهُ. إِذِ الْخَلَائِقُ بِالْغَيْبِ مَكْنُونَةٌ، وَ بِسَتْرِ الْأَهَاوِيلِ مَصُونَةٌ، وَ بِنِهَايَةِ الْعَدَمِ مَقْرُونَةٌ، عِلْماً مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بِمَآيِلِ الْأُمُورِ، وَ إِحَاطَةً بِحَوَادِثِ الدُّهُورِ، وَ مَعْرِفَةً بِمَوَاقِعِ الْمَقْدُورِ
Allah Taala mengutusnya sebagai pelengkapan untuk urusan-Nya, tekad bulat untuk menjalankan firman-Nya, dan pemberlakuan atas takdir-takdir pasti-Nya. Lalu dia melihat bangsa-bangsa terpecah dalam agama-agama, bertapa di candi-candi api, menyembah berhala-berhala, dan mengingkari Allah padahal mengenal-Nya. Maka Allah menerangi kegelapan-kegelapan mereka dengan Muhammad –Shalawat Allah atas dia dan keluarganya-, menyingkap keburaman-keburaman dari hati mereka, dan kebingungan-kebingungan dari pandangan mereka. Dia bangkit untuk memberi petunjuk kepada massa, mengentas mereka dari kesesatan, menyelamatkan mereka dari kebutaan, menuntun mereka kepada agama yang kokoh, dan mengajak mereka ke jalan yang lurus.[29] Kemudian Allah menggenggam –Nabi- Muhammad Saw kepada-Nya dengan kasih, pilih, rindu, dan pengutamaan –akhirat atas dunia-. Maka sekarang beliau rihat dari keletihan dunia ini, diliputi malaikat-malaikat yang bajik, keridaan Rabbi Maha Pengampun, dan perdampingan Maha Raja Maha Perkasa. Bershalawatlah Allah atas ayahku nabi-Nya, manusia kepercayaan-Nya atas wahyu, pilihan-Nya dan orang yang diridai-Nya di antara khalayak. Salam sejahtera atas beliau dan rahmat Allah serta berkah-Nya. ابْتَعَثَهُ اللَّهُ تَعَالَى‏ إِتْمَاماً لِأَمْرِهِ، وَ عَزِيمَةً عَلَى إِمْضَاءِ حُكْمِهِ، وَ إِنْفَاذاً لِمَقَادِيرِ حَتْمِهِ. فَرَأَى الْأُمَمَ فِرَقاً فِي أَدْيَانِهَا، عُكَّفاً عَلَى نِيرَانِهَا، عَابِدَةً لِأَوْثَانِهَا، مُنْكِرَةً لِلَّهِ مَعَ عِرْفَانِهَا. فَأَنَارَ اللَّهُ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ ظُلَمَهَا، وَ كَشَفَ عَنِ الْقُلُوبِ بُهَمَهَا، وَ جَلَى عَنِ الْأَبْصَارِ غُمَمَهَا، وَ قَامَ فِي النَّاسِ بِالْهِدَايَةِ، وَ أَنْقَذَهُمْ‏ مِنَ الْغَوَايَةِ، وَ بَصَّرَهُمْ مِنَ الْعَمَايَةِ، وَ هَدَاهُمْ إِلَى الدِّينِ الْقَوِيمِ، وَ دَعَاهُمْ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ. ثُمَّ قَبَضَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ قَبْضَ رَأْفَةٍ وَ اخْتِيَارٍ، وَ رَغْبَةٍ وَ إِيْثَارٍ بمحمد [فَمُحَمَّدٌ] صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ عَنْ‏ تَعَبِ هَذِهِ الدَّارِ فِي رَاحَةٍ، قَدْ حُفَّ بِالْمَلَائِكَةِ الْأَبْرَارِ، وَ رِضْوَانِ الرَّبِّ الْغَفَّارِ، وَ مُجَاوَرَةِ الْمَلِكِ الْجَبَّارِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَى أَبِي نَبِيِّهِ وَ أَمِينِهِ عَلَى الْوَحْيِ وَ صَفِيِّهِ‏ وَ خِيَرَتِهِ مِنَ الْخَلْقِ وَ رَضِيِّهِ‏، وَ السَّلَامُ عَلَيْهِ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Kemudian Sayidah Zahra as mengalihkan pandangan ke arah peserta majelis seraya bersabda:Kalian wahai hamba-hamba Allah! adalah komunikan perintah dan larangan beliau, pengusung agama dan wahyu beliau, orang-orang diamanati Allah atas diri kalian satu sama yang lain, dan utusan tablig beliau ke bangsa-bangsa lain. Kalian tahu Allah telah meletakkan jaminan hak di tengah kalian, dan janji yang Dia kirimkan –melalui beliau- kepada kalian, serta pusaka yang ditinggalkan pada kalian; -yaitu- Kitab Allah yang bertutur, Al-Qur’an yang jujur, cahaya yang memancar, dan sinar yang berkilau, terang pandangan-pandangannya, terbuka kandungan-kandungannya, terjelma lahir-lahirnya, diiri pengikut-pengikutnya; penganutan padanya mengantar kepada keridaan, penyimakan terhadapnya membawa kepada keselamatan; dengannya diperoleh hujjah-hujjah Allah yang terang, kewajiban-kewajiban-Nya yang jelas, larangan-larangan haram-Nya yang diperingatkan, bukti-bukti-Nya yang gamblang, tanda-tanda burhan-Nya yang cukup, kebaikan-kebaikan utama-Nya yang indah (sunnah), rukhsah-rukhsah kemudahan-Nya yang diberikan (mubah), dan undang-undang-Nya yang dituliskan ثُمَّ الْتَفَتَتْ‏ إِلَى أَهْلِ الْمَجْلِسِ، وَ قَالَ: أَنْتُمْ عِبَادَ اللَّهِ نُصْبُ أَمْرِهِ وَ نَهْيِهِ، وَ حَمَلَةُ دِينِهِ وَ وَحْيِهِ، وَ أُمَنَاءُ اللَّهِ عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَ بُلَغَاؤُهُ إِلَى الْأُمَمِ، وَ زَعَمْتُمْ حَقٌّ لَكُمْ لِلَّهِ‏ فِيكُمْ عَهْدٌ قَدَّمَهُ إِلَيْكُمْ، وَ بَقِيَّةٌ اسْتَخْلَفَهَا عَلَيْكُمْ، كِتَابُ اللَّهِ النَّاطِقُ، وَ الْقُرْآنُ الصَّادِقُ، وَ النُّورُ السَّاطِعُ، وَ الضِّيَاءُ اللَّامِعُ، بَيِّنَةٌ بَصَائِرُهُ، مُنْكَشِفَةٌ سَرَائِرُهُ، مُتَجَلِّيَةٌ ظَوَاهِرُهُ، مُغْتَبِطَةٌ بِهِ أَشْيَاعُهُ، قَائِدٌ إِلَى الرِّضْوَانِ اتِّبَاعُهُ، مُؤَدٍّ إِلَى النَّجَاةِ إِسْمَاعُهُ‏، بِهِ تُنَالُ حُجَجُ اللَّهِ الْمُنَوَّرَةُ، وَ عَزَائِمُهُ الْمُفَسَّرَةُ، وَ مَحَارِمُهُ الْمُحَذَّرَةُ، وَ بَيِّنَاتُهُ الْجَالِيَةُ، وَ بَرَاهِينُهُ الْكَافِيَةُ، وَ فَضَائِلُهُ الْمَنْدُوبَةُ، وَ رُخَصُهُ الْمَوْهُوبَةُ، وَ شَرَائِعُهُ الْمَكْتُوبَةُ،
Maka Allah menetapkan iman sebagai penyuci bagi kalian dari kesyirikan, shalat sebagai pemisah bagi kalian dari kesombongan, zakat sebagai pengembang bagi jiwa dan penumbuh bagi rezeki, puasa sebagai pengukuh bagi keikhlasan, haji sebagai pengangkat bagi agama, keadilan sebagai perekat bagi hati, ketaatan pada kami sebagai sistem bagi bangsa, kepemimpinan kami sebagai jaminan keamanan dari perpecahan, jihad sebagai kemuliaan bagi Islam, kesabaran sebagai bantuan untuk menarik pahala, amar makruf sebagai maslahat bagi publik, bakti kepada kedua orangtua sebagai pencegah dari murka –Allah Swt-, silaturahmi sebagai penambah bilangan –orang dan umur-, kisas sebagai penjagaan bagi darah, kesetiaan pada nazar sebagai pembuka lahan untuk ampunan, pemenuhan takaran dan timbangan sebagai pengubah (pemberantas) bagi kecurangan, larangan minum khamar sebagai pembersih dari noda, penghindaran tuduhan sebagai tabir dari kutukan –Ilahi-, pelepasan pencurian sebagai pemasti bagi kesucian, dan Allah mengharamkan kesyirikan sebagai penulus ke-Rabi-an bagi-Nya. { فَجَعَلَ اللَّهُ الْإِيمَانَ تَطْهِيراً لَكُمْ مِنَ الشِّرْكِ، وَ الصَّلَاةَ تَنْزِيهاً لَكُمْ عَنِ الْكِبْرِ، وَ الزَّكَاةَ تَزْكِيَةً لِلنَّفْسِ، وَ نَمَاءً فِي الرِّزْقِ، وَ الصِّيَامَ تَثْبِيتاً لِلْإِخْلَاصِ، وَ الْحَجَّ تَشْيِيداً لِلدِّينِ، وَ الْعَدْلَ تَنْسِيقاً لِلْقُلُوبِ، وَ طَاعَتَنَا نِظَاماً لِلْمِلَّةِ، وَ إِمَامَتَنَا أَمَاناً مِنَ الْفُرْقَةِ، وَ الْجِهَادَ عِزّاً لِلْإِسْلَامِ، وَ الصَّبْرَ مَعُونَةً عَلَى اسْتِيجَابِ الْأَجْرِ، وَ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ مَصْلَحَةً لِلْعَامَّةِ، وَ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ وِقَايَةً مِنَ السَّخَطِ، وَ صِلَةَ الْأَرْحَامِ مَنْمَاةً لِلْعَدَدِ، وَ الْقِصَاصَ حَقْناً لِلدِّمَاءِ، وَ الْوَفَاءَ بِالنَّذْرِ تَعْرِيضاً لِلْمَغْفِرَةِ، وَ تَوْفِيَةَ الْمَكَايِيلِ وَ الْمَوَازِينِ تَغْيِيراً لِلْبَخْسِ، وَ النَّهْيَ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ تَنْزِيهاً عَنِ الرِّجْسِ، وَ اجْتِنَابَ الْقَذْفِ حِجَاباً عَنِ اللَّعْنَةِ، وَ تَرْكَ السَّرِقَةِ إِيجَاباً لِلْعِفَّةِ، وَ حَرَّمَ اللَّهُ الشِّرْكَ إِخْلَاصاً لَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ
Maka “bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah mati kecuali kalian dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102) dan taatilah Allah dalam apa yang Dia perintahkan kalian kepadanya serta larang kalian darinya, maka sungguh “yang takut Allah dari hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fatir [35]: 28) فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَ لا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ‏، وَ أَطِيعُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَكُمْ بِهِ وَ نَهَاكُمْ عَنْهُ فَإِنَّهُ‏ إِنَّما يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ
Kemudian Sayidah Zahra as bersabda: Wahai massa! Ketahuilah bahwa aku adalah Fathimah, dan ayahku adalah Muhammad –bershalawatlah Allah atas beliau dan keluarga beliau-. Aku katakan bukan sekali bahkan berulangkali, aku tidak mengatakan sesuatu secara salah, dan aku tidak melakukan tindakan secara menyimpang. “Sungguh telah datang kepada kalian utusan dari diri-diri kalian, berat sekali baginya apa yang kalian derita, ingin sekali –keimanan dan keselamatan- bagi kalian, sangat santun dan sangat penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 128). Maka sekiranya kalian menyelidiki nasab beliau dan mengenalinya, niscaya kalian akan mendapati beliau adalah ayahku bukan ayah perempuan-perempuan kalian, beliau adalah saudara anak pamanku bukan saudara laki-laki kalian! Alangkah baiknya hubungan nasab dengan beliau –bershalawatlah Allah atas beliau dan keluarga beliau serta bersalam-[30] ثُمَّ قَالَتْ: أَيُّهَا النَّاسُ! اعْلَمُوا أَنِّي فَاطِمَةُ وَ أَبِي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ، أَقُولُ عَوْداً وَ بَدْءاً، وَ لَا أَقُولُ مَا أَقُولُ غَلَطاً، وَ لَا أَفْعَلُ مَا أَفْعَلُ شَطَطاً لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ‏، فَإِنْ تَعْزُوهُ وَ تَعْرِفُوهُ تَجِدُوهُ أَبِي دُونَ نِسَائِكُمْ، وَ أَخَا ابْنِ عَمِّي دُونَ رِجَالِكُمْ، وَ لَنِعْمَ الْمَعْزِيُّ إِلَيْهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ
Maka beliau sampaikan misi –pelantikan Amirul Mukminin Ali as sebagai khalifah dan wasinya-, beliau memulainya dengan peringatan, memalingkan dari cara orang-orang musyrik, meletakkan pedang di bahu mereka (berjuang melawan mereka), menahan tenggorokan mereka, mengajak mereka ke jalan Tuhan-nya “dengan hikmah dan nasihat yang baik”, memecahkan berhala-berhala, meruntuhkan kepala-kepala (menggulingkan para penindas), sehingga hancur gerombolan itu dan kabur. Sampai membelah dada malam dan terbitlah fajar, muncullah hakikat dari kemurniannya, berbicaralah pemimpin agama, bungkamlah mulut-mulut setan, binasalah kemunafikan yang hina, dan terurailah simpul-simpul kekafiran dan permusuhan. فبَلَّغَ الرِّسَالَةَ، صَادِعاً بِالنِّذَارَةِ، مَائِلًا عَنْ مَدْرَجَةِ الْمُشْرِكِينَ، ضَارِباً ثَبَجَهُمْ، آخِذاً بِأَكْظَامِهِمْ، دَاعِياً إِلَى سَبِيلِ رَبِّهِ‏ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، يَكْسِرُ الْأَصْنَامَ، وَ يَنْكُثُ الْهَامَ، حَتَّى انْهَزَمَ الْجَمْعُ وَ وَلَّوُا الدُّبُرَ، حَتَّى تَفَرَّى اللَّيْلُ عَنْ صُبْحِهِ، وَ أَسْفَرَ الْحَقُّ عَنْ مَحْضِهِ، وَ نَطَقَ زَعِيمُ الدِّينِ، وَ خَرِسَتْ شَقَاشِقُ الشَّيَاطِينِ، وَ طَاحَ وَشِيظُ النِّفَاقِ، وَ انْحَلَّتْ عُقَدُ الْكُفْرِ وَ الشِّقَاقِ
Dan –pada akhirnya, berkat perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad Saw- kalian sejalan dan seirama dengan sekelompok kecil orang yang berparas putih dan berperut keroncongan (para pejihad yang bangun malam dan jaga diri) menyuarakan Kalimat Ikhlas (tiada Tuhan kecuali Allah). “Padahal –ketika itu- kalian berada di tepi jurang dari neraka.” (QS. Ali Imran [3]: 103), -menjadi- tegukan bagi setiap peminum, buruan bagi setiap orang serakah, sambaran bagi setiap orang yang tergesa-gesa, dan injakan kaki-kaki. Kalian minum air keruh, kalian santap bangkai dan kulit binatang, senantiasa dalam keadaan hina dan terusir, “takut orang-orang lain menyambar kalian” (QS. Al-Anfal [8]: 26) dari semua arah, maka Allah –tabaroka wa taala– menyelamatkan kalian melalui Nabi Muhammad –bershalawatlah Allah atas beliau dan keluarga beliau- dari semua kenistaan ini, -tapi semua itu- setelah menanggung kesulitan ini dan itu, dan setelah bergelut dengan pahlawan-pahlawan pemberani, serigala-serigala Arab, dan pembangkang-pembangkang Ahli Kitab, وَ فُهْتُمْ بِكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ فِي نَفَرٍ مِنَ الْبِيضِ الْخِمَاصِ، وَ كُنْتُمْ عَلى‏ شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ، مُذْقَةَ الشَّارِبِ، وَ نُهْزَةَ الطَّامِعِ، وَ قَبْسَةَ الْعَجْلَانِ، وَ مَوْطِئَ الْأَقْدَامِ، تَشْرَبُونَ الطَّرْقَ، وَ تَقْتَاتُونَ الْوَرَقَ‏، أَذِلَّةً خَاسِئِينَ، تَخافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ‏ مِنْ حَوْلِكُمْ، فَأَنْقَذَكُمُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ بَعْدَ اللَّتَيَّا وَ الَّتِي، وَ بَعْدَ أَنْ مُنِيَ بِبُهَمِ الرِّجَالِ، وَ ذُؤْبَانِ الْعَرَبِ، وَ مَرَدَةِ أَهْلِ الْكِتَابِ‏
“Setiap mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya.” (QS. Al-Maidah [5]: 64), atau setiap nongol tanduk setan (pengikut kesesatan), dan terbuka lebar mulut Musyrikin –untuk menelan kalian-, beliau (ayahku) lontarkan saudaranya (Amirul Mukminin Ali as) ke tengah mereka, maka dia pun (Ali as) tidak angkat tangan sampai berhasil menginjak kaki-tangan musuh dengan langkah-langkah kokohnya, dan memadamkan jilatan-jilatan api mereka dengan pedangnya, sementara dia memayahkan diri dalam Dzat Allah, berusaha keras dalam menjalankan firman Allah, dekat dari utusan Allah, penghulu wali-wali Allah, menyingsingkan lengan siaga gerak menginginkan sekali kebaikan bagi yang lain, serius dan sungguh-sungguh –sehingga tidak peduli dengan celaan siapa pun di jalan Allah Swt-, sedangkan kalian ketika itu dalam kesejahteraan hidup, nyaman tenang dan aman, kalian menantikan terjadi petaka pada kami, sigap mendengar berita, dan senantiasa mundur dari peperangan, serta kabur dari pertempuran[31] كُلَّما أَوْقَدُوا ناراً لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ‏، أَوْ نَجَمَ قَرْنٌ لِلشَّيْطَانِ‏، وَ فَغَرَتْ فَاغِرَةٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ، قَذَفَ أَخَاهُ فِي لَهَوَاتِهَا، فَلَا يَنْكَفِئُ حَتَّى يَطَأَ صِمَاخَهَا بِأَخْمَصِهِ، وَ يُخْمِدَ لَهَبَهَا بِسَيْفِهِ، مَكْدُوداً فِي ذَاتِ اللَّهِ، وَ مُجْتَهِداً فِي أَمْرِ اللَّهِ، قَرِيباً مِنْ رَسُولِ اللَّهِ، سَيِّدَ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ‏، مُشَمِّراً نَاصِحاً، مُجِدّاً كَادِحاً، وَ أَنْتُمْ‏ فِي رَفَاهِيَةٍ مِنَ الْعَيْشِ، وَادِعُونَ فَاكِهُونَ آمِنُونَ، تَتَرَبَّصُونَ بِنَا الدَّوَائِرَ، وَ تَتَوَكَّفُونَ الْأَخْبَارَ، وَ تَنْكِصُونَ عِنْدَ النِّزَالِ، وَ تَفِرُّونَ عِنْدَ الْقِتَالِ
Lalu ketika Allah Swt memilihkan rumah para nabi dan tempat para shafi (manusia terpilih-Nya) bagi Nabi Muhammad Saw, tampaklah pada diri kalian duri-duri dengki kemunafikan, usanglah kerudung agama, bercakaplah orang-orang sesat yang selama ini menahan marah, memancurlah minoritas –yang dulu- tak bernama tak bergelar, dan lepaslah pekik unta pembatilan, maka menyebarlah –unta pembatilan itu- di semua kancah kalian. Barulah setan menongolkan kepala dari persemayamannya mengontak kalian, lalu ternyata dia lihat kalian menerima seruannya, dan menyambut tipu dayanya. Kemudian dia bangkitkan kalian, dan ternyata dia temukan kalian ringan, dia provokasi kalian dan ternyata dia dapati kalian murka. Maka mulailah kalian mengecap selain unta kalian, dan memasuki selain tempat minum kalian.

Ini. Padahal waktu meninggalnya Nabi Muhammad Saw masih sangat dekat, luka ini masih lebar, sayatan ini belum pulih, dan jasad Rasulullah Saw belum dikubur, kalian sudah bergesa-gesa –meraih kekuasaan-. Kalian menganggap takut fitnah. “Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah, dan sungguh jahannam betul-betul meliputi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah [9]: 49)

فَلَمَّا اخْتَارَ اللَّهُ لِنَبِيِّهِ دَارَ أَنْبِيَائِهِ، وَ مَأْوَى أَصْفِيَائِهِ، ظَهَرَ فِيكُمْ حَسِيكَةُ النِّفَاقِ، وَ سَمَلَ‏ جِلْبَابُ‏ الدِّينِ‏، وَ نَطَقَ كَاظِمُ الْغَاوِينَ، وَ نَبَغَ خَامِلُ الْأَقَلِّينَ، وَ هَدَرَ فَنِيقُ الْمُبْطِلِينَ، فَخَطَرَ فِي عَرَصَاتِكُمْ، وَ أَطْلَعَ الشَّيْطَانُ رَأْسَهُ مِنْ مَغْرَزِهِ هَاتِفاً بِكُمْ، فَأَلْفَاكُمْ لِدَعْوَتِهِ مُسْتَجِيبِينَ، وَ لِلْغِرَّةِ فِيهِ مُلَاحِظِينَ، ثُمَّ اسْتَنْهَضَكُمْ فَوَجَدَكُمْ خِفَافاً، وَ أَحْمَشَكُمْ‏ فَأَلْفَاكُمْ غِضَاباً، فَوَسَمْتُمْ غَيْرَ إِبِلِكُمْ، وَ أَوْرَدْتُمْ غَيْرَ شِرْبِكُمْ‏، هَذَا وَ الْعَهْدُ قَرِيبٌ، وَ الْكَلْمُ رَحِيبٌ، وَ الْجُرْحُ لَمَّا يَنْدَمِلْ، وَ الرَّسُولُ لَمَّا يُقْبَرْ، ابْتِدَاراً زَعَمْتُمْ خَوْفَ الْفِتْنَةِ أَلا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَ إِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكافِرِينَ‏،
Sungguh jauh –tindakan-tindakan seperti ini- dari kalian! Bagaimana bisa hal-hal seperti itu muncul dari kalian?! Kenapa kalian pergi ke selain jalan yang benar?! Padahal Kitab Allah Swt ada di antara kalian, perintah-perintahnya tampak, hukum-hukumnya cemerlang, tanda-tandanya gamblang, peringatan-peringatannya berkilau, dan perintah-perintahnya jelas. Sungguh kalian telah meninggalkan dan membelakanginya. Apakah karena benci kepadanya, sementara kalian menginginkan yang lain? Ataukah kalian menghukumi dengan selainnya?! “Betapa buruknya pengganti bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Kahfi [18]: 50), “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam niscaya itu tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85) فَهَيْهَاتَ مِنْكُمْ! وَ كَيْفَ بِكُمْ؟! وَ أَنَّى تُؤْفَكُونَ؟ وَ كِتَابُ اللَّهِ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، أُمُورُهُ ظَاهِرَةٌ، وَ أَحْكَامُهُ زَاهِرَةٌ، وَ أَعْلَامُهُ بَاهِرَةٌ، وَ زَوَاجِرُهُ لَائِحَةٌ، وَ أَوَامِرُهُ وَاضِحَةٌ، قَدْ خَلَّفْتُمُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ، أَ رَغْبَةً عَنْهُ تُرِيدُونَ‏ ..؟، أَمْ بِغَيْرِهِ تَحْكُمُونَ؟! بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا، وَ مَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَ هُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخاسِرِينَ‏
Kemudian kalian tidak sabar menunggu kecuali sebatas kiranya kendaraan fitnah ini tenang, dan kekangnya terkendali. –Begitu kalian mampu mengendalikannya,- kalian segera mengobarkan apinya, meletup-letupkan percikannya, dan menyambut panggilan setan yang sesat, pemadaman cahaya-cahaya agama yang terang, serta pembasmian sunnah-sunnah Nabi Terpilih Saw. Dengan berdalih membersihkan kerak susu, kalian meminumnya teguk demi teguk (Seolah-olah kalian mendukung agama, padahal di balik itu kalian berbuat untuk kepentingan kalian sendiri). Kalian jalankan keluarga dan keturunan beliau Saw dalam kesulitan serta bahaya. Dan kami bersabar atas apa yang menimpa kami dari kalian seperti orang yang tubuhnya tersayat-sayat pisau dan perutnya tertusuk ujung tombak sampai ke dalam.[32] Kalian beranggapan bahwa tiada warisan bagi kami. “Apakah hukum Jahiliah yang mereka mau? Dan siapa lebih baik daripada Allah hukumnya bagi kaum yang yakin.” (QS. Al-Maidah [5]: 50). Apa kalian tidak tahu?! Tentu, gamblang sekali bagi kalian seperti matahari pagi di langit yang cerah bahwa aku adalah putri beliau. ثُمَ‏ لَمْ تَلْبَثُوا إِلَّا رَيْثَ أَنْ تَسْكُنَ نَفْرَتُهَا، وَ يَسْلَسَ قِيَادُهَا، ثُمَّ أَخَذْتُمْ تُورُونَ وَقْدَتَهَا، وَ تُهَيِّجُونَ جَمْرَتَهَا، وَ تَسْتَجِيبُونَ لِهُتَافِ الشَّيْطَانِ الْغَوِيِّ، وَ إِطْفَاءِ أَنْوَارِ الدِّينِ الْجَلِيِّ، وَ إِهْمَادِ سُنَنِ النَّبِيِّ الصَّفِيِّ، تُسِرُّونَ حَصْواً فِي ارْتِغَاءٍ، وَ تَمْشُونَ لِأَهْلِهِ وَ وُلْدِهِ فِي الْخَمَرِ وَ الضَّرَاءِ، وَ نَصْبِرُ مِنْكُمْ عَلَى مِثْلِ حَزِّ الْمُدَى، وَ وَخْزِ السِّنَانِ فِي الْحَشَا وَ أَنْتُمْ‏ تَزْعُمُونَ أَلَّا إِرْثَ لَنَا أَفَحُكْمَ الْجاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَ مَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ‏ أَ فَلَا تَعْلَمُونَ؟! بَلَى، تَجَلَّى‏ لَكُمْ كَالشَّمْسِ الضَّاحِيَةِ أَنِّي ابْنَتُهُ
Wahai Muslimin! Apa aku harus dikalahkan dalam hal warisanku?! Hai putra Abu Quhafah! Memangnya di dalam Kitab Allah diatur bahwa kamu mewarisi ayahmu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku?! “Sungguh engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar.” (QS. Maryam [19]: 27). Apa kalian sengaja meninggalkan Kitab Allah dan membuangnya ke belakang? Sebab, Allah Swt berfirman: “Dan Sulaiman mewarisi Dawud”. Dan di dalam kisah tentang Yahya bin Zakaria as Dia Swt berfirman bahwa Yahya berdoa, “Tuhanku! Anugerahkanlah untukku dari sisi-Mu seorang anak (wali) yang akan mewarisiku dan mewarisi dari keluarga Yakub.” (QS. Maryam [19]: 5-6). Dia Swt juga berfirman: “Dan orang-orang yang mempunyai hubungan rahim (darah) satu sama lain berhak –untuk waris mewarisi- di dalam Kitab Allah.” Dan berfirman: “Allah mewasiatkan (mewajibkan) kepada kalian tentang –pembagian warisan untuk- anak-anak kalian, bagi anak laki seperti bagian dua anak perempuan.” (QS. An-Nisa [4]: 11). Dan berfirman: “Jika dia meninggalkan kebaikan (harta), berwasiat untuk kedua orangtua dan para kerabat secara pantas, maka itu hak (kewajiban) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 180). أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أَ أُغْلَبُ عَلَى إِرْثِيَهْ‏؟! یَا ابْنَ أَبِي قُحَافَةَ، أَ فِي كِتَابِ اللَّهِ أَنْ تَرِثَ أَبَاكَ وَ لَا أَرِثَ أَبِي؟! لَقَدْ جِئْتَ‏ شَيْئاً فَرِيًّا، َ فَعَلَى عَمْدٍ تَرَكْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ وَ نَبَذْتُمُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ إِذْ يَقُولُ: وَ وَرِثَ سُلَيْمانُ داوُدَ؟! وَ قَالَ فِيمَا اقْتَصَّ مِنْ خَبَرِ يَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّا (ع) إِذْ قَالَ: رَبِ‏ هَبْ‏ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَ يَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ‏، وَ قَالَ: وَ أُولُوا الْأَرْحامِ بَعْضُهُمْ أَوْلى‏ بِبَعْضٍ فِي كِتابِ اللَّهِ‏، وَ قَالَ: يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ‏، وَ قَالَ: إِنْ تَرَكَ خَيْراً الْوَصِيَّةُ لِلْوالِدَيْنِ‏ وَ الْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ‏،
Sementara kalian beranggapan bahwa tiada kedudukan bagiku dan tiadalah aku mewarisi dari ayahku serta tiada hubunga rahim (darah) di antara kami. Apakah Allah Swt mengkhususkan kalian dengan ayat tertentu yang mana Dia keluarkan ayahku darinya?! Ataukah kalian mengatakan bahwa ahli (pengikut) dua agama tidak saling mewarisi?! Bukankah aku dan ayahku sama-sama termasuk ahli satu agama?! Ataukah kalian lebih tahu tentang kekhususan Al-Qur’an dan keumumannnya daripada ayahku dan putra pamanku?! Kalau begitu, rebut –dan tunggangilah unta kekuasaan- yang siap dan terkendali itu! –tapi ketahuilah bahwa- ia akan menemuimu di Hari Mahsyar. Maka sebaik-baik hakam adalah Allah Swt, jaksa adalah Muhammad Saw, dan janji pertemuan adalah Hari Kiamat. Saat itu, merugilah kalian (“merguilah pelaku-pelaku kebatilan” (QS. Al-Jasiyah [45]: 27), dan tidak akan berguna bagi kalian apabila kalian menyesal. Dan “Untuk setiap megaberita ada –waktu- terjadinya dan kelak kalian akan mengetahui.” (QS. Al-An’am [6]: 67) “Siapa yang didatangi siksa yang menghinakannya dan diselimuti siksa yang kekal.” (QS. Az-Zumar [39]:[33] أوَ زَعَمْتُمْ أَلَّا حُظْوَةَ لِي وَ لَا أَرِثَ مِنْ أَبِي وَ لَا رَحِمَ بَيْنَنَا، أَ فَخَصَّكُمُ اللَّهُ بِآيَةٍ أَخْرَجَ مِنْهَا أَبِي‏ (ص)؟! أَمْ هَلْ تَقُولُونَ أَهْلُ‏ مِلَّتَيْنِ لَا يَتَوَارَثَانِ؟!، أَ وَ لَسْتُ‏ أَنَا وَ أَبِي مِنْ أَهْلِ مِلَّةٍ وَاحِدَةٍ؟! أَمْ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِخُصُوصِ الْقُرْآنِ وَ عُمُومِهِ مِنْ أَبِي وَ ابْنِ عَمِّي؟! افَدُونَكُمَا مَخْطُومَةً مَرْحُولَةً تَلْقَاكَ يَوْمَ حَشْرِكَ، فَنِعْمَ الْحَكَمُ اللَّهُ، وَ الزَّعِيمُ مُحَمَّدٌ، وَ الْمَوْعِدُ الْقِيَامَةُ، وَ عِنْدَ السَّاعَةِ مَا تَخْسَرُونَ (يخسر المبطلون)، وَ لَا يَنْفَعُكُمْ إِذْ تَنْدَمُونَ، وَ لِكُلِّ نَبَإٍ مُسْتَقَرٌّ وَ سَوْفَ‏ تَعْلَمُونَ مَنْ يَأْتِيهِ عَذابٌ يُخْزِيهِ وَ يَحِلُّ عَلَيْهِ عَذابٌ مُقِيمٌ
Kemudian dia menoleh ke arah Anshar seraya berkata: Hai para pemimpin dan pemuka kaum serta penjaga Islam! Mengapa kelalaian dan kelengahan ini mengenai hakku dan kezaliman kepadaku mesti terjadi? Tidakkah Rasulullah saw, ayahku pernah bersabda:"Kehormatan seseorang akan terjaga dengan menghormati anak-anaknya", betapa cepat kalian membuat hal baru (menyimpang) dan betapa cepat melemah (dalam membela kebenaran), sementara kalian punya kemampuan melakukan apa yang aku upayakan dan punya kekuatan membela apa yang hendak aku cari dan capai. Apakah kalian akan mengatakan Muhammad mati? Ini musibah besar dan amat luas, besar lubangnya, lepas jahitannya, bumi menjadi gelap karena ketiadaannya, matahari dan bulan gerhana, bintang-bintang bertebaran karena musibahnya, harapan-harapan menjadi keputusasaan, gunung-gunung goyang, kehormatan diinjak-injak, kehormatan Nabi saw hilang setalah kamatiannya. Demi Allah itu ujian besar dan musibah agung, tiada musibah yang serupa dengannya, dan musibah kematian pun tidak sebanding dengannya, kitab Allah telah mengungkapkannya, kitab yang kalian baca di rumah kalian pagi dan petang dengan nada pelan dan keras. Dan musibah yang sebelumnya pernah terjadi pada para nabi dan utusan Allah adalah hukum yang pasti dan keputusan yang pasti, Allah berfirman: "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur." ثم رمت بطرفها نحو الانصار، فقالت:یا مَعْشَرَ النَّقیبَةِ وَ اَعْضادَ الْمِلَّةِ وَ حَضَنَةَ الْاِسْلامِ! ما هذِهِ الْغَمیزَةُ فی حَقّی وَ السِّنَةُ عَنْ ظُلامَتی؟ اَما كانَ رَسُولُ اللَّـهِ صَلَّی اللَّـهُ عَلَیهِ وَ الِهِ اَبی یقُولُ: «اَلْمَرْءُ یحْفَظُ فی وُلْدِهِ»، سَرْعانَ ما اَحْدَثْتُمْ وَ عَجْلانَ ذا اِهالَةٍ، وَ لَكُمْ طاقَةٌ بِما اُحاوِلُ، وَ قُوَّةٌ عَلی ما اَطْلُبُ وَ اُزاوِلُ. اَتَقُولُونَ ماتَ مُحَمَّدٌ؟ فَخَطْبٌ جَلیلٌ اِسْتَوْسَعَ وَ هْنُهُ، وَاسْتَنْهَرَ فَتْقُهُ، وَ انْفَتَقَ رَتْقُهُ، وَ اُظْلِمَتِ الْاَرْضُ لِغَیبَتِهِ، وَ كُسِفَتِ الشَّمْسُ وَ الْقَمَرُ وَ انْتَثَرَتِ النُّجُومُ لِمُصیبَتِهِ، وَ اَكْدَتِ الْامالُ، وَ خَشَعَتِ الْجِبالُ، وَ اُضیعَ الْحَریمُ، وَ اُزیلَتِ الْحُرْمَةُ عِنْدَ مَماتِهِ. فَتِلْكَ وَاللَّـهِ النَّازِلَةُ الْكُبْری وَ الْمُصیبَةُ الْعُظْمی، لامِثْلُها نازِلَةٌ، وَ لابائِقَةٌ عاجِلَةٌ اُعْلِنَ بِها، كِتابُ اللَّـهِ جَلَّ ثَناؤُهُ فی اَفْنِیتِكُمْ، وَ فی مُمْساكُمْ وَ مُصْبِحِكُمْ، یهْتِفُ فی اَفْنِیتِكُمْ هُتافاً وَ صُراخاً وَ تِلاوَةً وَ اَلْحاناً، وَ لَقَبْلَهُ ما حَلَّ بِاَنْبِیاءِ اللَّـهِ وَ رُسُلِهِ، حُكْمٌ فَصْلٌ وَ قَضاءٌ حَتْمٌ. «وَ ما مُحَمَّدٌ اِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ اَفَاِنْ ماتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلی اَعْقابِكُمْ وَ مَنْ ینْقَلِبْ عَلی عَقِبَیهِ فَلَنْ یضُرَّ اللَّـهَ شَیئاً وَ سَیجْزِی اللَّـهُ شَیئاً وَ سَیجْزِی اللَّـهُ الشَّاكِرینَ»
Hai bani Qilah-kelompok Anshar-, apakah aku diperlakukan tidak adil dalam warisan ayahku padahal kalian melihatku, mendengar perkataanku dan punya perkumpulan. Kalian mendengar seruanku dan mengetahui keadaanku, kalian berjumlah banyak dan memiliki sarana dan kekuatan, kalian punya senjata dan baju besi, suara seruanku sampai ke telinga kalian tapi kalian tidak menyambutnya, jeritanku sampai kepada kalian tapi kalian tidak menolongku, padahal kalian disifati dengan pemberani dan terkenal dengan kebaikan dan kelayakan. Dahulu kalian adalah orang-orang pilihan dan orang-orang baik yang dipilih untuk kami Ahlulbait. Kalian memerangi Arab, menahan kesulitan dan rasa lelah, berduel dengan umat dan berperang dengan para pahlawan, kami tidak lari atau kalian lari, kami menyuruh kalian dan kalian menaatinya, sehingga roda Islam berputar, susu masa diperah, suara kesyirikan sunyi, api kedustaan mereda, api kekafiran surut, seruan kepada kerusuhan tenang, aturan agama berjalan lancar, mengapa kalian bimbang setelah ada penjelasan, bersembunyi setelah terang-terangan, mundur setelah maju dan syirik setelah beriman? Celaka bagi kaum "yang melanggar sumpah (janjinya), dan telah merencanakan untuk mengusir Rasul, dan mereka yang pertama kali memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu orang-orang beriman.(QS. At-Taubah: 9) اَیها بَنی قیلَةَ! ءَ اُهْضَمُ تُراثَ اَبی وَ اَنْتُمْ بِمَرْأی مِنّی وَ مَسْمَعٍ وَ مُنْتَدی وَ مَجْمَعٍ، تَلْبَسُكُمُ الدَّعْوَةُ وَ تَشْمَلُكُمُ الْخُبْرَةُ، وَ اَنْتُمْ ذَوُو الْعَدَدِ وَ الْعُدَّةِ وَ الْاَداةِ وَ الْقُوَّةِ، وَ عِنْدَكُمُ السِّلاحُ وَ الْجُنَّةُ، تُوافیكُمُ الدَّعْوَةُ فَلاتُجیبُونَ، وَ تَأْتیكُمُ الصَّرْخَةُ فَلاتُغیثُونَ، وَ اَنْتُمْ مَوْصُوفُونَ بِالْكِفاحِ، مَعْرُوفُونَ بِالْخَیرِ وَ الصَّلاحِ، وَ النُّخْبَةُ الَّتی انْتُخِبَتْ، وَ الْخِیرَةُ الَّتِی اخْتیرَتْ لَنا اَهْلَ الْبَیتِ.قاتَلْتُمُ الْعَرَبَ، وَ تَحَمَّلْتُمُ الْكَدَّ وَ التَّعَبَ، وَ ناطَحْتُمُ الْاُمَمَ، وَ كافَحْتُمُ الْبُهَمَ، لانَبْرَحُ اَوْ تَبْرَحُونَ، نَأْمُرُكُمْ فَتَأْتَمِرُونَ، حَتَّی اِذا دارَتْ بِنا رَحَی الْاِسْلامِ، وَ دَرَّ حَلَبُ الْاَیامِ، وَ خَضَعَتْ نُعْرَةُ الشِّرْكِ، وَ سَكَنَتْ فَوْرَةُ الْاِفْكِ، وَ خَمَدَتْ نیرانُ الْكُفْرِ، وَ هَدَأَتْ دَعْوَةُ الْهَرَجِ، وَ اسْتَوْسَقَ نِظامُ الدّینِ، فَاَنَّی حِزْتُمْ بَعْدَ الْبَیانِ، وَاَسْرَرْتُمْ بَعْدَ الْاِعْلانِ، وَ نَكَصْتُمْ بَعْدَ الْاِقْدامِ، وَاَشْرَكْتُمْ بَعْدَ الْایمانِ؟ بُؤْساً لِقَوْمٍ نَكَثُوا اَیمانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ، وَ هَمُّوا بِاِخْراجِ الرَّسُولِ وَ هُمْ بَدَؤُكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ، اَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّـهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشَوْهُ اِنْ كُنْتُمْ مُؤمِنینَ
Ketahuilah, sungguh aku melihat kalian kekal dalam kesantaian, menyingkirkan orang yang lebih berhak kepada kepemimpinan, berdiam diri dengan kenyamanan, dan selamat dari kesulitan menuju kelapangan, sesuatu yang kalian simpan kalian keluarkan dari mulut, dan yang kalian telan kalian muntahkan, maka jika kalian dan semua orang di atas bumi ingkar, sungguh Allah Mahakaya dan Mahaterpuji. Ketahuilah! Sungguh aku katakan ini berdasarkan pengetahuanku terhadap kelemahan akhlak kalian, kepicikan yang hati kalian rasakan, akan tetapi ini adalah luapan jiwa yang sedih, hembusan amarah, gemuruh dada dan penunjukan dalil, maka ambillah kekhilafahan ini, namun ketahuilah bahwa ada luka di punggung unta kekhalifahan ini, ada lubang di alasnya, kehinaannya abadi, ditandai dengan murka yang Maha Perkasa dan malapetaka abadi, bersambung dengan neraka Allah yang membakar sampai ke hati. Apa yang kalian lakukan dilihat oleh Allah, "dan orang-orang yang berbuat zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali".(QS. Asy-Syuara: 227) Dan aku putri seseorang yang memberi peringatan kepada kalian akan siksa yang pedih, maka lakukan apa yang hendak kalian lakukan, kami pun akan melakukan pekerjaan kami, dan menunggulah kalian, kami pun akan menunggu. اَلا، وَ قَدْ أَری اَنْ قَدْ اَخْلَدْتُمْ اِلَی الْخَفْضِ، وَ اَبْعَدْتُمْ مَنْ هُوَ اَحَقُّ بِالْبَسْطِ وَ الْقَبْضِ، وَ خَلَوْتُمْ بِالدَّعَةِ، وَ نَجَوْتُمْ بِالضّیقِ مِنَ السَّعَةِ، فَمَجَجْتُمْ ما وَعَبْتُمْ، وَ دَسَعْتُمُ الَّذی تَسَوَّغْتُمْ، فَاِنْ تَكْفُرُوا اَنْتُمْ وَ مَنْ فِی الْاَرْضِ جَمیعاً فَاِنَّ اللَّـهَ لَغَنِی حَمیدٌ.اَلا، وَ قَدْ قُلْتُ ما قُلْتُ هذا عَلی مَعْرِفَةٍ مِنّی بِالْخِذْلَةِ الَّتی خامَرْتُكُمْ، وَ الْغَدْرَةِ الَّتِی اسْتَشْعَرَتْها قُلُوبُكُمْ، وَ لكِنَّها فَیضَةُ النَّفْسِ، وَ نَفْثَةُ الْغَیظِ، وَ حَوَزُ الْقَناةِ، وَ بَثَّةُ الصَّدْرِ، وَ تَقْدِمَةُ الْحُجَّةِ، فَدُونَكُمُوها فَاحْتَقِبُوها دَبِرَةَ الظَّهْرِ، نَقِبَةَ الْخُفِّ، باقِیةَ الْعارِ، مَوْسُومَةً بِغَضَبِ الْجَبَّارِ وَ شَنارِ الْاَبَدِ، مَوْصُولَةً بِنارِ اللَّـهِ الْمُوقَدَةِ الَّتی تَطَّلِعُ عَلَی الْاَفْئِدَةِ.فَبِعَینِ اللَّـهِ ما تَفْعَلُونَ، وَ سَیعْلَمُ الَّذینَ ظَلَمُوا اَی مُنْقَلَبٍ ینْقَلِبُونَ، وَ اَنَا اِبْنَةُ نَذیرٍ لَكُمْ بَینَ یدَی عَذابٌ شَدیدٌ، فَاعْمَلُوا اِنَّا عامِلُونَ، وَ انْتَظِرُوا اِنَّا مُنْتَظِرُونَ.
Abu Bakar menjawabnya, seraya berkata: Hai putri Rasulullah! Sungguh ayahmu bagi kaum mukminin kasih sayang, pemurah, belas kasihan dan penyayang, dan bagi orang-orang kafir merupakan azab yang pedih dan siksa yang besar. Jika kami melihat nasabnya, beliau diantara perempuan kami adalah ayahmu, dan diantara teman-teman adalah saudara suamimu yang mendahulukan beliau atas semua teman dan membantunya pada setiap perkara besar, tidak mencintai kalian kecuali orang yang bahagia dan tidak membenci kalian kecuali orang yang sangat celaka. Kalian adalah keturunan Rasulullah yang suci, yang baik dan manusia-manusia pilihan, yang menunjukkan kami kepada kebaikan dan menuntun kami menuju surga. Engkau hai sebaik-baik wanita dan putri sebaik-baik nabi, benar dalam perkataanmu, lebih dahulu dalam akal yang mumpuni, tidak akan ditolak dari hakmu dan tidak akan dicegah dari kejujuranmu. Demi Allah aku tidak menentang pendapat Rasulullah dan tidak bertindak kecuali dengan izinnya, dan seorang pemimpin tidak membohongi rakyatnya. Dan aku bersaksi kepada Allah dan sudah cukup Dia menjadi saksi, bahwa aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Kami para nabi tidak mewariskan emas, perak, rumah dan ladang pertanian, dan sesungguhnya kami mewariskan kitab, hikmah, ilmu dan kenabian, dan segala seuatu yang tersisa dari kami maka pemimpin berikut kami yang akan memutuskan hukumnya". فأجابها أبوبكر عبداللَّـه بن عثمان، و قال: یا بِنْتَ رَسُولِاللَّـهِ! لَقَدْ كانَ اَبُوكِ بِالْمُؤمِنینَ عَطُوفاً كَریماً، رَؤُوفاً رَحیماً، وَ عَلَی الْكافِرینَ عَذاباً اَلیماً وَ عِقاباً عَظیماً، اِنْ عَزَوْناهُ وَجَدْناهُ اَباكِ دُونَ النِّساءِ، وَ اَخا اِلْفِكِ دُونَ الْاَخِلاَّءِ، اثَرَهُ عَلی كُلِّ حَمیمٍ وَ ساعَدَهُ فی كُلِّ اَمْرٍ جَسیمِ، لایحِبُّكُمْ اِلاَّ سَعیدٌ، وَ لایبْغِضُكُمْ اِلاَّ شَقِی بَعیدٌ. فَاَنْتُمْ عِتْرَةُ رَسُولِ اللَّـهِ الطَّیبُونَ، الْخِیرَةُ الْمُنْتَجَبُونَ، عَلَی الْخَیرِ اَدِلَّتُنا وَ اِلَی الْجَنَّةِ مَسالِكُنا، وَ اَنْتِ یا خِیرَةَ النِّساءِ وَ ابْنَةَ خَیرِ الْاَنْبِیاءِ، صادِقَةٌ فی قَوْلِكِ، سابِقَةٌ فی وُفُورِ عَقْلِكِ، غَیرَ مَرْدُودَةٍ عَنْ حَقِّكِ، وَ لامَصْدُودَةٍ عَنْ صِدْقِكِ. وَ اللَّـهِ ما عَدَوْتُ رَأْی رَسُولِ اللَّـهِ، وَ لاعَمِلْتُ اِلاَّ بِاِذْنِهِ، وَ الرَّائِدُ لایكْذِبُ اَهْلَهُ، وَ اِنّی اُشْهِدُ اللَّـهَ وَ كَفی بِهِ شَهیداً، اَنّی سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّـهِ یقُولُ: «نَحْنُ مَعاشِرَ الْاَنْبِیاءِ لانُوَرِّثُ ذَهَباً وَ لافِضَّةًّ، وَ لاداراً وَ لاعِقاراً، وَ اِنَّما نُوَرِّثُ الْكِتابَ وَ الْحِكْمَةَ وَ الْعِلْمَ وَ النُّبُوَّةَ، وَ ما كانَ لَنا مِنْ طُعْمَةٍ فَلِوَلِی الْاَمْرِ بَعْدَنا اَنْ یحْكُمَ فیهِ بِحُكْمِهِ».
Sesuatu yang engkau inginkan telah kami gunakan untuk membeli kuda dan senjata, yang dengannya kaum muslimin berperang dan jihad melawan orang-orang kafir serta berduel dengan para pembangkang, semua itu dilakukan atas kesepakatan kaum muslimin, dan aku dalam hal ini tidak sendirian dan tidak juga aku semena-mena pada pendapatku.

Dan inilah keadaan dan hartaku, untukmu dan berada dalam wewenangmu, tidak disembunyikan darimu dan tidak disimpan untuk selainmu, sesungguhnya engkau penghulu wanita umat ayahmu dan pohon yang suci bagi anak-anakmu, keutamaanmu tidak diingkari, ranting dan batangmu tidak diletakkan, hukummu berlaku pada milikku, apakah engkau melihat aku menentang ayahmu dalam hal ini?

وَ قَدْ جَعَلْنا ما حاوَلْتِهِ فِی الْكِراعِ وَ السِّلاحِ، یقاتِلُ بِهَا الْمُسْلِمُونَ وَ یجاهِدُونَ الْكُفَّارَ، وَ یجالِدُونَ الْمَرَدَةَ الْفُجَّارَ، وَ ذلِكَ بِاِجْماعِ الْمُسْلِمینَ، لَمْ اَنْفَرِدْ بِهِ وَحْدی، وَ لَمْ اَسْتَبِدْ بِما كانَ الرَّأْی عِنْدی. وَ هذِهِ حالی وَ مالی، هِی لَكِ وَ بَینَ یدَیكِ، لاتَزْوی عَنْكِ وَ لانَدَّخِرُ دُونَكِ، وَ اَنَّكِ، وَ اَنْتِ سَیدَةُ اُمَّةِ اَبیكِ وَ الشَّجَرَةُ الطَّیبَةُ لِبَنیكِ، لایدْفَعُ مالَكِ مِنْ فَضْلِكِ، وَ لایوضَعُ فی فَرْعِكِ وَ اَصْلِكِ، حُكْمُكِ نافِذٌ فیما مَلَّكَتْ یدای، فَهَلْ‌ترین اَنْ اُخالِفَ فی ذاكَ اَباكِ صَلَّی اللَّـهُ عَلَیهِ وَ الِهِ وَ سَلَّمَ
Sayidah Fatimah berkata: Mahasuci Allah, ayahku Rasulullah tidak pernah berpaling dari kitab Allah dan tidak pula melanggar hukum-hukum-Nya, tetapi selalu mengkiuti jejaknya dan mengamalkan ayat-ayatnya. Apakah kalian hendak menuduhnya berkhianat dengan paksa, perbuatan ini setelah wafatnya mirip dengan hewan-hewan ternak yang dibentangkan untuknya pada masa beliau masih hidup. Ini kitab Allah adalah hakam yang adil dan pembicara yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, Allah berfirman: "Dia yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yaqub", dan berfirman: "Dan Sulaiman mewarisi Daud". Allah azza wajalla telah menjelaskan saham-saham yang harus dibagikan, mensyariatkan kadar-kadar dan pembagian-pembagian dalam warisan dan menerangkan bagian laki-laki dan perempuan, yang mana Dia tidak memberi alasan kepada orang-orang yang menghendaki kebatilan, dan menepis dugaan dan kejanggalan-kejanggalan sampai hari kiamat. Tidak, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf:18) فقالت: سُبْحانَ اللَّـهِ، ما كانَ اَبی رَسُولُ اللَّـهِ عَنْ كِتابِ اللَّـهِ صادِفاً، وَ لا لِاَحْكامِهِ مُخالِفاً، بَلْ كانَ یتْبَعُ اَثَرَهُ، وَ یقْفُو سُوَرَهُ، اَفَتَجْمَعُونَ اِلَی الْغَدْرِ اِعْتِلالاً عَلَیهِ بِالزُّورِ، وَ هذا بَعْدَ وَفاتِهِ شَبیهٌ بِما بُغِی لَهُ مِنَ الْغَوائِلِ فی حَیاتِهِ، هذا كِتابُ اللَّـهِ حُكْماً عَدْلاً وَ ناطِقاً فَصْلاً، یقُولُ: «یرِثُنی وَ یرِثُ مِنْ الِ یعْقُوبَ»، وَ یقُولُ: «وَ وَرِثَ سُلَیمانُ داوُد»

بَینَ عَزَّ وَ جَلَّ فیما وَزَّعَ مِنَ الْاَقْساطِ، وَ شَرَعَ مِنَ الْفَرائِضِ وَالْمیراثِ، وَ اَباحَ مِنْ حَظِّ الذَّكَرانِ وَ الْاِناثِ، ما اَزاحَ بِهِ عِلَّةَ الْمُبْطِلینَ وَ اَزالَ التَّظَنّی وَ الشُّبَهاتِ فِی الْغابِرینَ، كَلاَّ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ اَنْفُسُكُمْ اَمْراً، فَصَبْرٌ جَمیلٌ وَ اللَّـهُ الْمُسْتَعانُ عَلی ما تَصِفُونَ.

Abu Bakar berkata: Mahabenar Allah dan Rasul-Nya dan benar pula putrinya, dia adalah tambang hikmah, tempat putunjuk dan rahmat, rukun agama dan sumber hujjah. Aku tidak menolak kebenaranmu dan tidak pula menginkari perkataanmu, mereka kaum muslimin yang menjadi hakim di antara aku dan engkau, mereka mneyerahkan kekuasaan ini kepadaku, atas kesepakatan mereka aku mengambil jabatan ini, aku tidak sombong, tidak semena-mena dan tidak pula terpengaruh, dan mereka menjadi saksi atas semua itu. فقال أبوبكر: صَدَقَ اللَّـهُ وَ رَسُولُهُ وَ صَدَقَتْ اِبْنَتُهُ، مَعْدِنُ الْحِكْمَةِ، وَ مَوْطِنُ الْهُدی وَ الرَّحْمَةِ، وَ رُكْنُ الدّینِ، وَ عَینُ الْحُجَّةِ، لااَبْعَدُ صَوابَكِ وَ لااُنْكِرُ خِطابَكِ، هؤُلاءِ الْمُسْلِمُونَ بَینی وَ بَینَكِ قَلَّدُونی ما تَقَلَّدْتُ، وَ بِاتِّفاقٍ مِنْهُمْ اَخَذْتُ ما اَخَذْتُ، غَیرَ مَكابِرٍ وَ لامُسْتَبِدٍّ وَ لامُسْتَأْثِرٍ، وَ هُمْ بِذلِكَ شُهُودٌ.
Lalu Sayidah Fatimah sa menoleh ke arah para wanita seraya berkata: Hai kaum muslimin yang cepat menerima perkataan batil, dan yang memejamkan mata terhadap perbuatan buruk yang merugikan, tidakkah kalian merenungkan Alquran ataukah hati-hati sudah terkunci, tidak! Bahkan perbuatan-perbuatan buruk telah menutupi hati kalian, lalu meliputi pendengaran dan penglihatan kalian, betapa buruk apa yang kalian takwilkan –dari ayat-ayat Alquran-, betapa buruk jalan yang kalian isyaratkan dan betapa buruk apa yang kalian tukarkan, demi Allah sungguh kalian akan mendapatkan beban barat dan akibat yang pedih, disaat tersingkap tirai untuk kalian dan nampak bahaya di belakangnya serta jelas dari Tuhanmu apa yang tidak kalian perhitungkan, sungguh di sana merugi orang-orang yang berbuat kebatilan. فالتفت فاطمة علیهاالسلام الی النساء، و قالت: مَعاشِرَ الْمُسْلِمینَ الْمُسْرِعَةِ اِلی قیلِ الْباطِلِ، الْمُغْضِیةِ عَلَی الْفِعْلِ الْقَبیحِ الْخاسِرِ، اَفَلاتَتَدَبَّرُونَ الْقُرْانَ اَمْ عَلی قُلُوبٍ اَقْفالُها، كَلاَّ بَلْ رانَ عَلی قُلُوبِكُمْ ما اَسَأْتُمْ مِنْ اَعْمالِكُمْ، فَاَخَذَ بِسَمْعِكُمْ وَ اَبْصارِكُمْ، وَ لَبِئْسَ ما تَأَوَّلْتُمْ، وَ ساءَ ما بِهِ اَشَرْتُمْ، وَ شَرَّ ما مِنْهُ اِعْتَضْتُمْ، لَتَجِدَنَّ وَ اللَّـهِ مَحْمِلَهُ ثَقیلاً، وَ غِبَّهُ وَ بیلاً، اِذا كُشِفَ لَكُمُ الْغِطاءُ، وَ بانَ ما وَرائَهُ الضَّرَّاءُ، وَ بَدا لَكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ ما لَمْ تَكُونُوا تَحْتَسِبُونَ، وَ خَسِرَ هُنالِكَ الْمُبْطِلُونَ.
Kemudian Sayidah Fatimah melihat kuburan Nabi saw, seraya berkata: ثم عطفت علی قبر النبی صلی اللَّـه علیه و آله، و قالت
Setelah kepergianmu muncul berita dan perkara yang seandainya engkau ada maka tidak akan menjelma sedemikian besar قَدْ كانَ بَعْدَكَ اَنْباءٌ وَهَنْبَثَة لَوْ كُنْتَ شاهِدَها لَمْ تَكْثِرِ الْخُطَبُ
Kami kehilanganmu ibarat bumi kehilangan hujan, semantara umatmu berpecah belah, maka lihatlah bagaimana mereka menyimpang اِنَّا فَقَدْناكَ فَقْدَ الْاَرْضِ وابِلَها وَ اخْتَلَّ قَوْمُكَ فَاشْهَدْهُمْ وَ لاتَغِبُ
Setiap keluarga yang memiliki kedudukan dan posisi di sisi Allah, mereka juga terhormat di sisi orang asing, kecuali kami وَ كُلُّ اَهْلٍ لَهُ قُرْبی وَ مَنْزِلَةٌ عِنْدَ الْاِلهِ عَلَی الْاَدْنَینِ مُقْتَرِبُ
Sekelompok orang mengungkapkan rahasia-rahasia yang tersimpan dalam dada, ketika engkau pergi dan tanah menutupimu اَبْدَتْ رِجالٌ لَنا نَجْوی صُدُورِهِم لمَّا مَضَیتَ وَ حالَتْ دُونَكَ التُّرَبُ
Sekelompok orang berpaling dan meremehkan kami, ketika engkau pergi dan semua warisan kami dirampas تَجَهَّمَتْنا رِجالٌ وَ اسْتُخِفَّ بِنا مَّا فُقِدْتَ وَ كُلُّ الْاِرْثِ مُغْتَصَبُ
Dahulu engkau bulan purnama dan cahaya penerang, turun atasmu Alquran dari sisi Allah كُنْتَ بَدْراً وَ نُوراً یسْتَضاءُ بِه عَلَیكَ تنْزِلُ مِنْ ذِی الْعِزَّةِ الْكُتُبُ
Dahulu Jibril menjadi penghibur kami dengan ayat-ayat-Nya, dan setelahmu semua berita tertutupi وَ كانَ جِبْریلُ بِالْایاتِ یؤْنِسُنا فَقَدْ فُقِدْتَ وَ كُلُّ الْخَیرِ مُحْتَجَبُ
Andaikan kamatian menjemput kami sebelum engkau pergi, ketika engkau pergi maka tanah menyimpanmu di bawahnya فَلَیتَ قَبْلَكَ كانَ الْمَوْتُ صادِفُنا مَّا مَضَیتَ وَ حالَتْ دُونَكَ الْكُتُبُ

Terjemahan dan Penjelasan Khutbah

Telah ditulis banyak penjelasan untuk khutbah Fadakiyah, di antaranya adalah:

  • Syarhe Khutbah Hazrate Zahra karya Sayid Izzuddin Husaini Zanjani, diterbitkan oleh Bustan Ketab
  • Khutbeh Hazrate Zahra wa Majaraye Fadak karya Husain Ali Muntazheri, diterbitkan oleh Khirad Ava
  • Bahtsi Kutah Piramune Khutbeh Fadakiyah karya Mojtaba Tehrani, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Mashabih al-Huda
  • Khutbah Fadakiyah, Mabani Ma'refati wa Zaminehaye Tarikhi karya Sayid Mohammad Mehdi Mirbaqeri, diterbitkan oleh Tamaddune Nuvine Eslami.

Pranala Terkait

Catatan Kaki

  1. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Buldan, di bawah kata Fadak, hlm. 238
  2. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Buldan, jld. 4, hlm. 238; Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, jld. 10, hlm. 473
  3. Biladi, Mu'jam Ma'alim al-Hijaz, jld. 2, hlm. 205 dan 206, dan jld. 7, hlm. 23; Subhani, Hawadetse Sale Haftume Hejrat: Sarguzashte Fadak, hlm. 14
  4. Maqrizi, Imta' al-Asma', jld. 1, hlm. 325
  5. Thabari, Tarikh al-Uman wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 15
  6. QS. Al-Hasyr: 6-7
  7. Subhani, Forughe Welayat, hlm. 218
  8. Syahidi, Zendegani Fatimah Zahra, hlm. 97
  9. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 543; Syaikh Mufid, al-Muqni'ah, hlm. 289 dan 290
  10. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld. 45, hlm. 178 dan 179; Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm. 41; Khatib Baghdadi, al-Kharaj wa Shina'at al-Kitabah, hlm. 259-260
  11. Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Buldan, jld. 4, hlm. 240; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, jld. 7, hlm. 156; Husain, Tarikhe Siyasiye Ghaibate Imame Dawazdahum, hlm. 77; Baladzuri, Futuh al-Buldan, jld. 1, hlm. 37 dan 38
  12. Baladzuri, Futuh al-Buldan, jld. 1, hlm. 38
  13. Majlisi Kupai, Fadak az Ghasb ta Takhrib, hlm. 248 dan 250
  14. Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm. 40 dan 41
  15. Thabrisi, al-Ihtijaj, jld. 1, hlm. 91; Sayid Jakfar Murtadha, al-Shahih min al-Sirah al-Nabi, jld. 18, hlm. 241
  16. Kulaini, al-Kafi, jld.1, hlm. 543; Syaikh Mufid, al-Muqni'ah, hlm. 289 dan 290
  17. Halabi, al-Sirah al-Halabiyah, jld. 3, hlm. 512
  18. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 543. Halabi menulis, Umar mengambil kertas itu dari tangan Abu Bakar dan merobeknya (Halabi, al-Sirah al-Halabiyah, jld. 3, hlm. 512)
  19. Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm. 40
  20. Irbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 1, hlm. 353-364
  21. Ahmad bin Abi Thahir Muruzi, Balaghat al-Nisa, hlm. 16-25; menurut penukilan Syahidi, Zendeganiye Fatimah Zahra, hlm. 121-122
  22. Khazzaz Razi, Kifayat al-Atsar, hlm. 65; Bukhari, Shahih al-Bukhari, jld. 4 hlm. 79
  23. Misalnya, lihat: Bukhari, Shahih al-Bukhari, jld. 4, hlm. 210
  24. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 29, hlm. 215
  25. Muntazhiri, Khutbeh Hazrate Zahra alaihas Salam, hlm. 37
  26. Syahidi, Zendeganiye Fatimah Zahra, hlm. 122
  27. Azarbadegan, Negahi Guzara be Asnad wa Manabe'e Maktube Khotbeh Fadak, Situs Hawzah
  28. Syahidi, Zendeganiye Fatimah Zahra, hlm. 126-135
  29. Situs Wali Faqih
  30. Situs Wali Faqih
  31. Situs Wali Faqih
  32. Situ Wali Faqih
  33. Situs WaliFaqih
  1. Sebagian ahli tafsir Syiah dan Ahlusunnah, di antaranya Syaikh Thusi (Al-Tibyan, jld. 6, hlm. 468), Thabrisi (Majma al-Bayan, jld. 6, hlm. 633-634), Haskani (Syawahid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 438-439) dan Suyuthi (al-Dur al-Mantsur, jld. 4, hlm. 177) di bawah ayat 26 surah Al-Isra' menegaskan bahwa ketika ayat ini turun, Nabi saw memberikan Fadak kepada Fatimah

Daftar Pustaka

  • Ahmad bin Abi Thahir Marwazi. Balaghat al-Nisa'. Kairo: Mathbaat Madrasah Walidah Abbas al-Awwal, 1326 H.
  • Arbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat -Aimmah. Qom: Radhi, cet. I, h
  • Azarbadegan, Husain Ali. Negahi Guzara be Asnad va Manabe'e Maktube Khutbah Fadakiyah. Junal Olume Hadits, vol. 26, 1386 HS.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Futuh al-Buldan. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1988 M.
  • Biladi, Atiq bin Ghaits. Mu'jam Ma'alim al-Hijaz. Dar Makkah/Muassasah al-Rayyan, 1431 H.
  • Halabi, Alib bin Ibrahim. Al-Sirah al-Halabiyah. Riset Abdullah Muhammad Khalili. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1971 M.
  • Haskani, Ubaidullah bin Ahmad. Syawahid al-Tanzil li Qawaid al-Tafdhil. Revisi Muhammad Baqir Mahmudi. Teheran: Sazmane Chab va Entisyarat Wizarate Ersyade Eslami, 1411 H.
  • Husain, Jasim. Tarikhe Siyasiye Ghaibate Emame Dawazdahum, terjemahan Sayid Muhammad Taqi Ayatullahi. Teheran: Amir Kabir, 1367 HS.
  • Ibn Syahrasyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Al Abi Thalib. Najaf: al-Maktabah wa al-Mathbaah al-Haidariyah, 1376 H.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Madinah Dimasyq. Beirut: Dar al-Fikr, cet. I, 1415 H.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Shadir, cet. I, 1410 H.
  • Katib Bagdadi, Quddamah vin Jakfar. Al-Kharaj wa Shinaat al-Kitabah. Bagdad: Dar al-Rasyid li al-Nasyr, cet. I, 1981 M.
  • Khazzaz Razi, Ali bin Muhammad. Kifayat al-Atsar fi al-Nash ala al-Aimmah al-Itsnay 'Asyar. Revisi Abdullatif Husaini Kuhkamari. Qom: Bidar, 1401 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Yaqub. Al-Kafi. Riset Alu Akbar Ghaffari. Teheran: Darval-Kutub al-Islami, 1363 HS.
  • Majlisi Kupai, Ghulamhusain. Fadak az Ghasb ta Takhrib. Qom: Dalilema, 1388 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Muntazhiri, Husain Ali. Khotbah Hazrate Fatimah Zahra Alaihas Salam wa Majaraye Fadak. Teheran: Muassasah Farhanggi Kherad Ava, 1385 HS.
  • Maqrizi, Taqiyuddin Ahmad. Imta' al-Asma' bima li al-Nabi min al-Ahwal wa al-Amwal wa al-Hafadah wa al-Mata'. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, cet. I, 1420 H.
  • Sayid Jakfar Murtadha Amili. Al-Shahih min al-Sirah al-Nabi al-A'zam. Qom: Dar al-Hadits, 1426 H.
  • Shahih al-Bukhari, Dar al-Fikr li al-Thabaah wa al-Nasyr wa al-Tauzi', 1401 H/ 1981 H.
  • Sobhani, Jakfar. Forughe Velayatv Tarikhe Tahliliye Zendeganiye Amire Mukminan. Qom: Muassasah Imam Shadiq as, cet. VI, 1380 HS.
  • Sobhani, Jakfar. Hawadetse Sale Haftume Hejrat: Sarguzsmdasyte Fadak. Maktabe Eslam, tahun kesembilan, vol. 4, Esfand 1326 HS.
  • Suyuthi, Jalaluddin. Al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Beirut: Dar al-Ma'rifah li al-Thabaah wa la-Nasyr, tanpa Tahun.
  • Syahidi, Sayid Jakfar. Zendeganiye Fatimah Zahra Alaihas Salam. Teheran: Daftare Nasyre Farhangge Eslami, 1262HS.
  • Syaikh Mufid,Muhammad bin Muhammad Nukman. Al-Muqni'ah. Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, cet. II, 1410 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Kairo: Mathbaah al-Istiqamah, 1939 M.
  • Thabrisi, Ahmad bin Ali. al-Ihtijaj ala Ahli al-Lujaj. Riset Muhamamd Baqir Khorsan. Masyhad: Nasyre Mortadha, cet. I, 1403 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Teheran: Nashir Khasru, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa Tahun.
  • Yaqut Hamawi, Yaqut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldan. Beirut: Dar Shadir, cet. II, 1995 M.