Lompat ke isi

Konsep:Wasiat Imam Husain as kepada Muhammad bin Hanafiyah

Dari wikishia

Wasiat Imam Husain as kepada Muhammad bin Hanafiyah adalah surat yang ditulis oleh Imam Husain as kepada saudaranya, Muhammad bin Hanafiyah, saat keberangkatan terakhirnya dari Madinah menuju Mekah. Dalam surat wasiat ini, Imam Husain as selain bersaksi atas Tauhid, Kenabian, dan Maad, juga menyebutkan tujuan-tujuan kebangkitannya. Beliau memperkenalkan kebangkitannya bukan karena kesombongan, kerusakan, ataupun kezaliman, melainkan untuk mencari perbaikan (ishlah) pada umat kakeknya, menjalankan Amar Makruf Nahi Mungkar, serta mengamalkan sirah Nabi saw dan sirah Imam Ali as.

Wasiat ini dilaporkan tanpa penyebutan rangkaian sanad dan dengan perbedaan redaksi oleh Ibnu A'tsam al-Kufi, Akhthab Khawarizm, dan Muhammad bin Abi Thalib al-Hairi. Selain itu, Ali bin Mahdi Thabari Mamthiri dan Ibnu Syahrasyub juga menukilkan sebagian dari wasiat ini sebagai ucapan lisan Imam Husain as kepada Ibnu Abbas.

Rasul Jafarian menganggap riwayat ini tidak memiliki sanad dan melemahkannya karena penukilan tanpa sanad di dalam kitab Al-Futuh. Sebaliknya, pendekatan Jafarian dikritik karena kedudukan kitab Al-Futuh yang kredibel serta adanya riwayat-riwayat lain yang mengonfirmasi kandungan wasiat tersebut. Dalam penukilan Ibnu A'tsam dan Khawarizmi, selain sirah Nabi saw dan Imam Ali as, disebutkan pula sirah Khulafaur Rasyidin yang menurut Sayid Murtadha Askari merupakan bagian dari distorsi yang ditambahkan kemudian ke dalam ucapan Imam Husain as. Karena alasan ini pula, Muhammad Hadi Yusufi Gharawi melemahkan penukilan Ibnu A'tsam dan lebih menguatkan laporan Ibnu Syahrasyub.

Urgensi Wasiat

Wasiat Imam Husain as kepada Muhammad bin Hanafiyah adalah teks yang ditulis oleh Imam Husain as kepada saudaranya dalam perjalanan terakhir sebelum kesyahidannya.[1] Dalam wasiat ini, Imam as mengisyaratkan tujuan kebangkitannya seperti perbaikan umat Nabi saw, amar makruf, nahi mungkar, serta mengikuti sirah Nabi saw dan Imam Ali as.[2]

Muhammad Taqi Misbah Yazdi berkeyakinan bahwa kebangkitan Imam Husain as bukan bermaksud untuk mencari kekuasaan, melainkan tujuannya adalah merealisasikan tujuan-tujuan agama.[3] Murtadha Muthahhari juga meyakini bahwa memperbaiki kondisi masyarakat Islam dan menghidupkan kembali amar makruf dan nahi mungkar adalah tujuan utama kebangkitan Imam Husain as.[4] Shalihi Najafabadi menganggap kebangkitan Imam Husain as sebagai gerakan perbaikan dari ruh Islam.[5] Sayid Ali Khamenei, pemimpin kedua Republik Islam Iran, dengan bersandar pada wasiat ini juga berkeyakinan bahwa Imam Husain as setelah menyaksikan kondisi dekadensi masyarakat Islam dan keluarnya masyarakat dari jalur Nabi saw, bangkit demi ishlah umat dan Amar Makruf Nahi Mungkar.[6]

Latar Belakang dan Teks

Berdasarkan laporan kitab Tasliyah al-Majalis, pada pagi hari saat Imam Husain as memutuskan untuk keluar dari Madinah menuju Mekah, beliau bertemu dengan saudaranya Muhammad bin Hanafiyah. Muhammad bin Hanafiyah meminta Imam as untuk menghindari perang agar tidak terluka dan memberikan beberapa solusi untuk mencegah peperangan. Imam Husain as menjawab bahwa meskipun tidak ada satu pun tempat yang aman di dunia ini, beliau tetap tidak akan melakukan baiat kepada Yazid.[7]

Pada saat itu, Muhammad bin Hanafiyah menangis dan Imam Husain as pun ikut menangis bersamanya. Imam Husain as kemudian berterima kasih atas niat baik saudaranya dan menyatakan tekadnya untuk bergerak menuju Mekah bersama keluarga dan para pengikutnya (Syiah). Beliau meminta Muhammad bin Hanafiyah untuk tetap tinggal di Madinah guna memantau situasi di sana. Akhirnya, Imam Husain as menulis sebuah wasiat yang ditujukan kepada saudaranya:[8]

Menurut nukilan Allamah Majlisi, Imam Husain as menyegel surat tersebut, menggulungnya, dan memberikannya kepada saudaranya. Kemudian beliau mengucapkan selamat tinggal dan keluar dari Madinah pada tengah malam.[9]

Analisis Sanad dan Isi

Ibnu A'tsam al-Kufi (wafat: setelah 320/932) dalam kitab Al-Futuh,[10] Akhthab Khawarizm (wafat: 567/1171-72) dalam Maqtal Khawarizmi,[11] dan Muhammad bin Abi Thalib al-Hairi (wafat: paruh kedua abad ke-10/16) dalam Tasliyah al-Majalis[12] melaporkan wasiat Imam Husain as ini dengan beberapa perbedaan. Sandaran Allamah Majlisi dalam Bihar al-Anwar adalah laporan dari Tasliyah al-Majalis.[13] Ali bin Mahdi Thabari Mamthiri (wafat: 360/970-71) dan Ibnu Syahrasyub (wafat: 588/1192) juga menukilkan sebagian wasiat ini sebagai ucapan lisan Imam Husain as kepada Ibnu Abbas.

Rasul Jafarian (lahir: 1964-65) menganggap riwayat ini tidak memiliki sanad dan melemahkannya karena penukilan tanpa sanad di dalam kitab Al-Futuh. Sebaliknya, pendekatan Jafarian dikritik karena kedudukan kitab Al-Futuh yang kredibel serta adanya riwayat-riwayat lain yang mengonfirmasi kandungan wasiat tersebut. Dalam penukilan Ibnu A'tsam dan Khawarizmi, selain sirah Nabi saw dan Imam Ali as, disebutkan pula sirah Khulafaur Rasyidin yang menurut Sayid Murtadha Askari (wafat: 2007-08) merupakan bagian dari distorsi yang ditambahkan kemudian ke dalam ucapan Imam Husain as. Karena alasan ini pula, Muhammad Hadi Yusufi Gharawi (lahir: 1948-49) melemahkan penukilan Ibnu A'tsam dan lebih menguatkan laporan Ibnu Syahrasyub.

Catatan Kaki

  1. Muthahhari, Majmu'eh Asar (Kumpulan Karya), 1384 HS, jld. 17, hlm. 151.
  2. Dawudi dan Rustamnezhad, Asyura Risheh-ha, Angizeh-ha, Ruydad-ha va Payamad-ha (Asyura: Akar, Motivasi, Peristiwa, dan Dampak), 1387 HS, hlm. 330.
  3. Misbah Yazdi, Azarakhshi Digar az Asman-e Karbala (Kilatan Lain dari Langit Karbala), 1382 HS, hlm. 124.
  4. Muthahhari, Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Muthahhari (Hikmat-ha va Andarz-ha) (Kumpulan Karya: Hikmah dan Nasihat), 1384 HS, jld. 22, hlm. 292.
  5. Shalihi Najafabadi, Syahid-e Javid (Syahid yang Abadi), 1387 HS, hlm. 288-289.
  6. Khamenei, "Pernyataan dalam Khotbah Salat Jumat Teheran", Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah Khamenei.
  7. Husaini Musawi, Tasliyah al-Majalis, 1418 H, jld. 2, hlm. 156-158.
  8. Husaini Musawi, Tasliyah al-Majalis, 1418 H, jld. 2, hlm. 160.
  9. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 44, hlm. 330.
  10. Ibnu A'tsam al-Kufi, Al-Futuh, 1411 H, jld. 5, hlm. 21.
  11. Akhthab Khawarizm, Maqtal al-Husain as, 1381 HS, jld. 1, hlm. 273.
  12. Husaini Musawi, Tasliyah al-Majalis, 1418 H, jld. 2, hlm. 160-161.
  13. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 44, hlm. 327-330.

Daftar Pustaka

  • Akhthab Khawarizm, Muwaffaq bin Ahmad. Maqtal al-Husain as. Qom: Anwar al-Huda, 1381 HS.
  • Askari, Sayid Murtadha. Ma'alim al-Madrasatain. Teheran: Muassasah al-Bi'tsah, 1412 H.
  • Dawudi, Said dan Mahdi Rustamnezhad. Asyura Risheh-ha, Angizeh-ha, Ruydad-ha va Payamad-ha. Di bawah pengawasan Naser Makarem Syirazi. Qom: Intisyarat-e Emam Ali bin Abi Thalib as, 1387 HS.
  • Husaini Musawi, Muhammad bin Abi Thalib. Tasliyah al-Majalis wa Zinah al-Majalis (Maqtal al-Husain as). Qom: Muassasah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1418 H.
  • Ibnu A'tsam al-Kufi, Muhammad bin Ali. Al-Futuh. Beirut: Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibnu Syahrasyub Mazandarani, Muhammad bin Ali. Manaqib Alu Abi Thalib as. Qom: Allamah, 1379 H.
  • Jafarian, Rasul. Ta'ammoli dar Nahzat-e Asyura. Qom: Muwarrikh, 1386 HS.
  • Khamenei, Sayid Ali. "Pernyataan dalam Khotbah Salat Jumat Teheran". Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Ayatullah Khamenei. 26 Farvardin 1379 HS.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi. Azarakhshi Digar az Asman-e Karbala. Qom: Markaz Intisyarat Muassasah Amouzesyi va Pazhouhesyi Emam Khomeini, 1382 HS.
  • Muthahhari, Murtadha. Majmu'eh Asar-e Ostad Syahid Muthahhari. Teheran: Sadra, 1384 HS.
  • Shalihi Najafabadi, Ni'matullah. Syahid-e Javid. Teheran: Omid-e Farda, 1387 HS.
  • Thabari Mamthiri, Ali bin Mahdi. Nuzhah al-Abshar wa Mahasin al-Atsar. Teheran: Al-Majma' al-Alami lil Taqrib baina al-Madzahib al-Islamiyyah, 1387 HS.