Para Tawanan Karbala

Prioritas: a, Kualitas: b
Dari wikishia

Para Tawanan Karbala (bahasa Arab: سبايا كربلاء) adalah mereka yang tersisa dari tragedi Karbala seperti Imam Sajjad as -imam keempat Syiah- dan Sayidah Zainab sa yang menjadi tawanan dari laskar Umar bin Sa'ad. Para tawanan atas perintah Umar bin Sa'ad pada malam 11 Muharram untuk tetap ditahan di Karbala dan setelah zuhur pada hari 11 Muharram dibawa ke Kufah untuk dihadapkan pada Ubaidillah bin Ziyad. Ibnu Ziyad menempatkan para tawanan di atas pelana unta-unta yang tidak bertirai dan tanpa atap dengan dikawal sekelompok penjaga seperti Syimr dan Thariq bin Muhaffiz dikirim menuju istana Yazid bin Muawiyah di Syam. Ia merantai tangan dan kaki beberapa tawanan diantaranya mengikat dan merantai Imam Sajjad as.

Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab sa dengan orasi-orasi mereka selama mengalami penahanan menyebabkan munculnya rasa simpatik dan penyesalan sebagian warga, bahkan menurut riwayat, Yazid (meskipun hanya secara lahiriah) turut menampakkan penyesalannya.

Beberapa ulama seperti Syekh Mufid, Syekh Thusi dan Muhaddis Nuri berpendapat para tawanan Karbala setelah mereka dibebaskan mereka kembali ke Madinah, bukan ke Karbala. Namun dari penukilan Ibnu Thawus dalam kitab Luhuf menyebutkan para tawanan dikembalikan ke Karbala.

Awal Penahanan

Setelah peristiwa Asyura, pada hari kesebelas para pasukan tentara Umar bin Sa'ad menguburkan semua tentara mereka yang mati, lalu mengumpulkan Ahlulbait Imam dan anggota keluarga dari para syuhada untuk dibawa pergi menuju ke Kufah.[1]

Laskar pasukan Umar bin Sa'ad sengaja membawa para wanita Ahlulbait melintas dari samping tubuh-tubuh para syuhada, dan pada saat itu mereka meratap dan memukuli wajah karena kesedihan. Qurrah bin Qais Tamimi menukilkan, ketika Sayidah Zainab melewati tubuh saudaranya Imam Husain as yang tergeletak di tanah, ia mengucapkan sebuah kalimat yang sangat mengiris hati yang membuat kawan dan lawan menangis.[2]

Perkataan Zainab sa, ketika melintasi tubuh Imam Husain as:

﴾يا محمداه، يا محمداه! صلى عليك ملائكة السماء، هذا الحسين بالعراء، مرمل بالدماء، مقطع الأعضاء، يا محمداه! و بناتك سبايا، و ذريتك مقتله، تسفى عليها الصبا﴿
﴾قال: فابکت و الله کل عدو و صدیق﴿

"Wahai Muhammad, Wahai Muhammad, para malaikat surga bershalawat kepadamu, Ini adalah Husain tergeletak di padang sahara, berlumuran dengan darah, terpotong anggota badannya! Wahai Muhammad, putri-putrimu menjadi tawanan, keturunanmu terbunuh tertiup angin." Perawi berkata: Demi Allah, kawan dan lawan dibuatnya menangis. [3]

Jumlah dan Nama-Nama Para Tawanan

Para sejarawan tidak sependapat mengenai jumlah tawanan Ahlulbait dan orang-orang yang tersisa dari sahabat-sahabat Imam Husain as dan masing-masing mengisyaratkan pada beberapa nama-nama dari tawanan-tawanan tersebut. Versi jumlah dari tawanan laki-laki sebanyak 4, 5, 10 dan 12 orang. Sementara penukilan yang muncul dari jumlah tawanan perempuan adalah 4, 6 dan 20 orang.[4] Sebagian melaporkan jumlah tawanan sampai 25 orang.[5] Dari berbagai laporan tersebut disebutkan tidak memungkinkan untuk mengetahui jumlah yang pasti terkait para tawanan Karbala.[6]

Nama diantara tawanan laki-laki sebagaimana yang disebutkan dari sumber-sumber yang ada: Imam Sajjad as, Imam Baqir as, Muhammad dan Umar dua putra Imam Husain as, Zaid putra dan Muhammad cucu Imam Hasan as [7], Hasan Mustanna yang tidak sadar diri dikarenakan luka yang dideritanya dalam perang [8] Qasim bin Abdullah bin Ja'far, Qasim bin Muhammad bin Ja'far, Muhammad bin ‘Aqil. [9] Dalam kitab Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami' Sayiid al-Syuhada disebutkan nama 17 orang laki-laki sebagai tawanan Karbala.[10]

Nama tawanan perempuan dari Peristiwa Karbala diantaranya: Sayidah Zainab sa, Fatimah dan Ummu Kultsum[11] dan Ruqayah[12] dari putri-putri Imam Ali as, Rabab istri Imam Husain as [13] dan Fatimah putri Imam Hasan as, [14] empat putri Imam Husain as dengan nama Sakinah, Fatimah, Ruqayyah dan Zainab. [15]

Nama mereka yang tersisa dan para tawanan yang bukan dari bani Hasyim juga disebutkan diantaranya: Muraqqa' bin Tsumamah al- Asadi, Sawwar bin Umair al-Jabiri, Amru bin Ja’badullah al-Junda'i, Uqbah bin Sam'an budak Rabab, Dhahhak bin Abdullah al-Masyriqi,[catatan 1] Muslim bin Rabah dan Gulam Abdurrahman bin 'Abd Rabbah al-Anshari. [16]Diantara mereka yang tersisa yang bukan dari golongan Bani Hasyim, Sawwar bin Umair, Aqabah, Muslim bin Rabah dan Abdurrahman bin Abd Rabbah termasuk dari para tawanan Karbala.[17]

Rute Perjalanan Tawanan

Sebagaimana yang ditulis Ibnu Abi al-Hadid dalam Nahjul Balaghah para tawanan Karbala mengendarai tunggangan tanpa pelana dan dibawa ke Kufah. Setiap warga bisa melihat mereka dan dengan kondisi demikian ketika perempuan-perempuan Kufah menyaksikan derita para tawanan Karbala mereka menangis.[18]

Terkait kapan masuknya tawanan ke Kufah tidak ada catatan sejarah pasti yang menceritakannya.[19] Namun menurut Syekh Mufid,[20] kemungkinan masuknya para tawanan Karbala ke Kufah pada hari keduabelas Muharram.[21]

Pasukan Umar Sa'ad setelah sengaja membawa para tawanan melintasi jalan-jalan dan gang-gang Kufah, mereka dibawa ke istana Ubaidillah bin Ziyad. Dilaporkan, terjadi dialog sengit antara Sayidah Zainab dan Ubaidillah bin Ziyad.[22] Perkataan terkenal dari Sayidah Zainab مارأیت الا جمیل aku tidak melihat sesuatu kecuali keindahan, disebutkan terkait dengan pertemuan ini. Ubaidillah juga mengeluarkan perintah untuk pembunuhan Imam Sajjad as yang dengan protes Sayidah Zainab sa dan kecaman keras dari Imam Sajjad as, Ibnu Ziyad mengurungkan niatnya untuk membunuhnya.[23]

Perjalanan ke Syam

Ubaidillah bin Ziyad, sekelompok pasukan diantaranya Syimr dan Thariq bin Muhaffir ditugaskan untuk menyertai para tawanan Karbala menuju Syam.[24] Menurut beberapa sumber Zahr bin Qais juga ada bersama mereka.[25]

Rute detail dari perjalanan para tawanan dari Kufah ke Syam tidak diketahui, namun dari tempat-tempat yang dinisbatkan kepada Imam Husain as, rute perjalanan tersebut ada kemungkinan dapat diidentifikasi. Tempat-tempat tersebut diantaranya maqam atau tempat kepala Imam Husain dan maqam Imam Zainal Abidin di Damaskus,[26] maqam-maqam Hemes,[27] Hama[28] , Ba'labak,[29] Hajar, [30] dan Thurh.[31]

Dalam ensiklopedia Imam Husain as disebutkan antara Kufah dan Syam pada waktu itu terdapat tiga jalan utama (jalan Badiyah, jalan di sisi sungai Eufrat dan jalan di samping Dajalah) yang setiap dari jalan utama ini memiliki banyak jalan-jalan cabang.[32] Penulis dari ensiklopedia tersebut berkeyakinan bahwa dengan tidak adanya catatan yanga meyakinkan dan jelas dari rute perjalanan para tawanan Karbala sehingga rute yang pasti tidak dapat diketahui namun dengan petunjuk-petunjuk yang ada kemugkinan besar rute para tawanan Karbala dari Kufah menuju Syam melalaui jalan Badiyah.[33]

Menurut beberapa laporan diantaranya laporan yang dimuat dalam Tarikh Tabari, catatan Syekh Mufid dan Tarikh Dimasyq, pertama kepala Imam Husain as dan kepala para syuhada yang dikirim menuju Syam lalu kemudian menyusul pasukan membawa tawanan ke Syam. Namun berdasar pada laporan-laporan yang lain, kepala para syuhada dibawa bersamaan dengan para tawanan ke Syam.[34]

Perlakukan para Petugas

Sesuai dengan penukilan Ibnu A'tsam dan al-Kharazmi, para bawahan Ubaidillah bin Ziyad membawa para tawanan dari Kufah menuju ke Syam melewati jalan-jalan dan rumah-rumah tanpa tirai dan penutup, sebagaimana layaknya mereka membawa tawanan (kafir) Turki dan Dailam.[35]

Syekh Mufid menukilkan sebuah riwayat yang menyebutkan Imam Sajjad as dapat terlihat diantara para tawanan dengan kondisi tangannya terikat dengan rantai.[36]

Dalam sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Imam Sajjad as, berikut gambaran perlakuan petugas Ibnu Ziyad: "Ali bin Husain as dinaikkan di atas seekor unta kurus dan pincang yang mana di atasnya dipasang kayu dan papan, tanpa alas (sehingga ketika berjalan tidak merata), sedangkan kepala Imam Husain as berada di atas tombak dan para wanita berada di belakang mereka dengan tombak mengitari mereka. Jika ada air mata mengalir dari mata salah seorang dari mereka, maka petugas akan memukul kepalanya dengan tombak hingga akhirnya mereka sampai di kota Syam".[37]

Kehadiran para Tawanan di Syam

Terkait situasi dan peristiwa masuknya para tawanan ke Syam, bagaimana mereka diperlakukan, tempat tinggal dan orasi sebagian dari tawanan, terdapat laporan-laporan yang terekam dalam catatan sejarah. Menurut dari laporan-laporan tersebut, masuknya kepala-kepala syuhad ke kota Syam pada hari pertama bulan Safar.[38] Pada hari itu, para tawanan dari pintu Touma atau gerbang jam dipersilahkan masuk kota dan menurut nukilan Sahl bin Sa'ad atas perintah Yazid kota didekorasi untuk menyambut mereka.[39] Lima ratus ribu dari warga dengan mengenakan pakaian baru menyambut untuk melihat para tawanan sambil mereka memukul gendang dan meniup terompet.[40] Menurut beberapa sumber, para tawanan ditahan di luar kota dan di belakang pintu gerbang selama tiga hari untuk menutup kota.[41]

Setelah para tawanan memasuki kota, mereka kemudian ditempatkan di Masjid Jami' Umawi.[42] Sekarang pada masjid ini, di depan mihrab dan mimbar asli masjid, ada sebuah tempat yang terbuat dari batu dengan dipagari kayu dikenal sebagai tempat tinggal para tawanan Karbala.[43]

Keberadaan Ahlulbait Imam Husain as di kota Syam menurut beberapa sumber selama dua hari[44] dan ditempatkan di reruntuhan bangunan tanpa atap yang dikenal dengan reruntuhan Syam.[45] Syekh Mufid menyebut tempat tawanan ditempatkan di sebuah rumah di dekat istana Yazid.[46] Pendapat yang masyhur[47] mengenai lamanya para tawanan menetap di Syam selama tiga hari, namun pendapat lain menyebutkan tujuh hari[48] dan ada yang menyebutkan selama satu bulan.[49]

Beberapa catatan sejarah mengenai tawanan Karbala selama di Syam, sebagai berikut:

Foto tempat para tawanan duduk di Masjid Umawi Damaskus
  • Masuknya para tawanan ke Istana Yazid: Setelah masuknya para tawanan Karbala ke kota Syam, Zahr bin Qais [50] melaporkan secara detail mengenai peristiwa Karbala kepada Yazid.[51] Setelah mendengarkan laporan tersebut, Yazid memerintahkan untuk memperindah istana, mengundang para pembesar Syam ke dalam istananya dan kemudian memerintahkan para tawanan untuk dimasukkan ke dalam istana.[52] melaporkan secara detail mengenai peristiwa Karbala kepada Yazid. Sumber-sumber sejarah melaporkan bahwa para tawanan dalam keadaan tangan terikat tali yang menyambung satu dengan lainnya, masuk ke ruang pertemuan.[53] pada saat itu, Fatimah binti Husain as berkata: "Hei, Yazid! Apakah layak putri-putri Rasulullah saw menjadi tawanan?". Seketika itu semua yang hadir di Istana Yazid menangis.[54]
  • Perlakuan Yazid terhadap kepala Imam Husain as di hadapan para tawanan: Yazid di hadapan para tawanan meletakkan kepala Imam di sebuah tempat terbuat dari emas[55] dan memukulnya dengan tongkat kayu.[56] Ketika Sukainah dan Fatimah kedua putri Imam Husain as melihat hal itu, mereka berteriak histeris sehingga perempuan-perempuan Yazid dan putri-putri Muawiyah bin Abu Sufyan juga ikut menangis.[57] Ada dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ridha as yang dinukil oleh Syekh Shaduq Yazid meletakkan kepala Imam di dalam sebuah baskom dan kemudian diletakkan di atas meja makan dan kemudian dia dan para pengikutnya, sibuk bersenang-senang sambil makan dan minum arak, kemudian ia meletakkan papan meja catur di atas baskom tersebut dan mulai bermain catur di atasnya bersama teman-temannya. Ketika ia memenangkan permainannya, dia mengambil cangkir dan meminum birnya hampir habis dan sisanya ia tumpahkan di samping baskom yang ada penggalan kepala Imam dan jatuh ke tanah.[58] Sukainah sa berkata tentang Yazid: "Aku bersumpah demi Tuhan! Aku belum pernah melihat orang yang lebih keras hati, lebih kafir, dan lebih keji dari Yazid, yang membuat acara untuk memandangi kepala ayahku dan bersyair."[59]
  • Protes para hadirin: Beberapa orang dari yang hadir melakukan protes dan mengecam perilaku yang dilakukan Yazid dalam pertemuan tersebut. Salah satu dari mereka adalah Yahya bin al-Hakam saudara dari Marwan bin al-Hakam dan Yazid memukulnya dengan sebuah tinju ke dadanya.[60] Abu Barzah al-Aslami juga memprotes hal itu dan Yazid memerintahkan untuk mengusirnya dari majelis.[61]

Orasi para Tawanan

Setelah masuknya para tawanan Karbala ke Kufah, Imam Sajad as[62] dan Sayidah Zainab sa melakukan dialog dengan warga setempat. Menurut catatan sejarah, keduanya mengecam warga Kufah yang tidak memberikan pertolongan kepada Imam Husain as dalam peristiwa Asyura.[63] Sayid Ja'far Syahidi seorang sejarawan kontemporer dengan bersandar pada pengawasan yang ketat dari penguasa dan ketakutan warga Kufah, ia berpendapat sulit untuk menerima bahwa orasi dan pidato semacam ini dapat disampaikan dengan mudah di Kufah.[64] Disebutkan orasi-orasi juga disampaikan oleh Fatimah Sugra putri Imam Husain as[65] dan Ummu Kultsum putri Imam Ali as.[66]

Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab sa disebutkan juga menyampaikan orasi di kota Syam. Muatan dari orasi-orasi tersebut adalah mengutuk Yazid atas kezaliman dan perlakuannya pada Ahlulbait Imam Husain as yang telah dipertontonkan ke kota-kota.[67] Begitu juga keduanya meyampaikan keutamaan Ahlulbait Nabi dan Imam Ali as.[68] Orasi-orasi tersebut dikenal dengan nama Khutbah Imam Sajjad dan Khutbah Sayidah Zainab di Syam.[69]

Kembali dari Syam

Mengenai kembalinya para tawanan Karbala dari Syam ke Madinah atau kembalinya mereka ke Karbala pada waktu yang detail (apakah pada Arbain pertama atau Arbain kedua atau pada waktu yang lain) terdapat perbedaan pendapat.[70] Syekh Mufid, [71] Syekh Thusi[72] dan Kaf'ami[73] menjelaskan bahwa kafilah Ahlulbait as setelah dari Syam mereka menuju Madinah bukan ke Karbala. Muhadits Nuri[74] Syekh Abbas al-Qummi[75] dan Murtadha Muthahari[76] juga tidak menyepakati para tawanan Karbala kembali ke Karbala pada Arbain yang pertama.

Sayid Ibnu Thawus dalam kitab al-Iqbal menyebutkan kembalinya para tawanan ke Karbala dan Madinah pada hari Arbain adalah sesuatu yang tidak mungkin. Karena kembalinya mereka ke Karbala atau ke Madinah membutuhkan waktu lebih dari 40 hari. Menurutnya, jika memang para tawanan kembali ke Karbala, maka itu bukan pada hari Arbain.[77] Sayid Ibnu Thawus dalam kitab Luhuf menukil sewaktu tawanan Karbala kembali dari Syam dan tiba di Irak, dikatakan kepada penunjuk jalan untuk membawa mereka ke Karbala. Begitu para tawanan tiba kembali di lokasi terjadinya peristiwa Karbala, mereka bertemu dengan Jabir bin Abdullah al-Anshari dan sebagian dari bani Hasyim. Merekapun menangis dan mengadakan majelis duka dan setelah beberapa hari kemudian mereka menuju Madinah.[78] Sayid Ibnu Thawus tidak menyebut waktu masuknya para tawanan di Karbala. Sayid Muhammad Ali Qadhi Thabathabai (1293-1357 HS) juga dalam kitab penelitian mengenai Arbain pertama Imam Husain as menegaskan kembalinya para tawanan ke Karbala.[79] Muthahari mengatakan dalam kitab Hamasah Husaini, bahwa kembalinya para tawanan Karbala ke Karbala hanya terdapat dalam kitab Luhuf Sayid Ibnu Thawus dan tidak ada referensi lain menyebutkan hal yang sama.[80]

Menurut penukilan Sayid Ibnu Thawus, sewaktu kafilah Ahlulbait as mendekati kota Madinah, mereka mendirikan tenda-tenda di luar kota. Atas perintah Imam Sajjad as, Basyir bin Hadzlam masuk ke kota Madinah dan di dekat Masjid Nabawi ia membacakan syair-syair duka sambil menangis. Ia menyampaikan kepada penduduk Madinah mengenai terbunuhnya Imam Husain as dan juga mengabarkan kedatangan Imam Sajjad as dan Ahlulbait Imam Husain di Madinah.[81]

Sayid Ibnu Thawus menyebut hari itu adalah hari terpahit yang dialami kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah saw dan menukilkan semua perempuan Madinah keluar dari rumah-rumah sambil menangis dan tidak ada hari yang dapat dilihat sebagaimana hari itu dimana laki-laki dan perempuan menangis.[82]

Menurut para penulis ensiklopedia Imam Husain as, perjalanan keluarga Imam Husain as yang bermula dari Madinah juga berakhir di Madinah. Perhitungan perjalanan mereka dengan memperkirakan jarak yang paling pendek dengan tidak kembali ke Karbala sejauh 4100 km. Yaitu 431 km dari Madinah ke Makah, 1447 km dari Makah ke Karbala, 70 km dari Karbala ke Kufah, 932 km dari Kufah ke Damaskus dan 1229 km dari Damaskus ke Madinah.[83]

Monografi

  • Asiran wa Janbazan Karbala, karya Muhammad Mudzaffari dan Sa'idi Jamsyidi, Qom, Penerbit Faraz Andisheh.

Pranala Terkait

catatan

  1. Disebutkan bahwa Dhahhak bin Abdullah adalah satu-satunya yang dengan izin dari Imam Husain as lari dari perang pada hari Asyura dan meninggalkan Imam Husain as. (Sekelompok peneliti, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami' Sayyid al-Syuhada, jld.2, hlm. 501

Catatan Kaki

  1. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 455-456
  2. Abu Mikhnaf, Waq'ah al-Thaf, hlm. 259:Thabari, Tārikh Thabari, jld.5, hlm.456.
  3. Syekh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.114; Thabari, Tārikh Thabari, jld.5, hlm.456.
  4. Muhammadi Reisyahri, Daneshnomeh Imam Husain as jld. 8, hlm. 204
  5. Muhaditsi, Farhange Asyuro" hlm. 49
  6. Muhammadi Reisyahri, Daneshnomeh Imam Husain as jld. 8, hlm. 204
  7. Qodhi Nu'man Syarah al-Ahkbar jld. 3, hlm. 198-199; Abu al-Farj Isfahani Maqatil al-Thayi'ibin hlm. 79; Ibnu Sa'ad Tarjumeh al-Huseini wa Maqateleh hlm. 187
  8. Muhammadi Reisyahri, Daneshnomeh Imam Husain as jld. 8, hlm.204, 1388 S
  9. Muhammadi Reisyahri, Daneshnomeh Imam Husain as jld. 8, hlm.204, 1388 S
  10. Lihat: Sekelompok peneliti, Tarikh Qiyam wa Maqtla Jami' Sayyid al-Syuhada, jld.2, hlm. 497 & 498
  11. Beydon, Mausu'ah Karbala, jld. 1, hlm. 528
  12. Mahallati, Riyahin al-Syari'ah, jld. 4, hlm. 255
  13. Muhammadi Reisyahri, Daneshnomeh Imam Husain as jld. 8, hlm.283, 1388 S
  14. Ibnu Askari, Tarikhe Madineh Damesk hlm. 261 jld. 7
  15. Ibnu Syadad, al-Alaqah al-Khatirah hlm. 47-50
  16. Muhammadi Reisyahri, Daneshnomeh Imam Husain as jld. 8, hlm. 214-217, 1388 S
  17. Sekelompok peneliti, Tarikh Qiyam wa Maqtal Jami' Sayyid al-Syuhada, jld. 2, hlm. 498; Muhammadi Ray Syahri, Daneshnameh Imam Husain as, jld. 8, hlm. 214-217
  18. Ibnu Abi al-Hadid, Syarah Nahj al-Balaghah, jld. 15, hlm. 236
  19. Tim Peneliti Sejarah, Tarikh-e Qiyam va Maqtal-e Jami Sayidu al-Syuhada, jld. 2, hlm. 39
  20. Syekh mufid, Irsyad, jld. 2, hlm. 114
  21. Tim Peneliti Sejarah, Tarikh-e Qiyam va Maqtal-e Jami Sayidu al-Syuhada, jld. 2, hlm. 39
  22. Silakan rujuk ke: Mufid, Irsyad, jld. 2, hlm. 115-116; Thabari, Tarikh, jld. 5, hlm. 457
  23. Ibnu A'tsam Kufi, al-Futuh, jld. 5, hlm. 123; Khawarizmi, Maqtal al-Husain, jld. 2, hlm. 43
  24. Baladzuri, Ansab al-Asyrag, jld. 3, hlm. 416
  25. Dinawari, Akhbar al-Thuwwal, hlm. 384-385
  26. Ibnu Asakir, Tarikh madinah Damasyq, jld. 2, hlm. 403; Naimi, al-Daris fi Tarikh Madaris, daftar isi: tempat-tempat
  27. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, jld. 4, hlm. 82
  28. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, jld. 4, hlm. 82
  29. Muhajir, Karevan-e Gham, hlm. 36-38
  30. Ibnu Shaddad, al-A'laq al-Khatirah, hlm. 138
  31. Muhajir, Karevan-e Gham, hlm. 30
  32. Muhammadi Rey Syahri, Danesh Nameh Emam Husain (as), jld. 8, hlm. 226-228
  33. Muhammadi Rey Syahri, Danesh Nameh Emam Husain (as), jld. 8, hlm. 234
  34. Muhammadi Rey Syahri, Danesh Nameh Emam Husain (as), jld. 8, hlm. 225
  35. Ibnu A'tsam, Kitab al-Futuh, jld. 5, hlm. 127; Khawarizmi, Maqtal al-Husain, jld. 2, hlm. 55-56
  36. Syekh Mufid, Amali, hlm. 321
  37. Sayid Ibnu Thawus, al-Iqbal, jld. 3, hlm. 89
  38. Abu Reyhan Biruni, Atsar al-Baqiyah, hlm. 527
  39. Syekh Shaduq, Amali; Majlis 31, hlm. 230
  40. Sya'rani, Dam'u al-Sujum, hlm. 242
  41. Qumi, Nafs al-Mahmum, hlm. 394
  42. Ibnu A'tsam, al-Futuh, jld. 5, hlm. 129-130
  43. Mahal-e Huzur-e Usara-e Karbala dar Masjid-e Umawi, Site Bainalmilali-e Quran
  44. Shaffar, Basharir al-Darajat, hlm. 339
  45. Syekh Shaduq, Amali,; Majlis 31, hadits no 4, hlm. 231
  46. Syekh Mufid, Irsyad, jld. 2, hlm. 122
  47. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 462; Khawarizmi, Maqtal al-Husain, jld. 2, hlm. 74; Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 8, hlm. 195; Ibnu Sa'ad, Tarjamah al-Husan wa Maqtaluhu, jld. 1, hlm. 83
  48. Thabarai, kamil Bahai, jld. 2, hlm. 302
  49. Sayid Ibnu Thawus, al-Iqbal, jld. 3, hlm. 101
  50. Qumi, Nafs al-Mahmum, al-Maktabah al-Haidariah, hlm. 396
  51. Thabari, Tarikh al-Ymam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 260
  52. Thabari, Tarikh al-Ymam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 461
  53. Ibnu Thawus, al-Malhuf, hlm. 231
  54. Ibnu Nama, Mutsir al-Ahzan, hlm. 99
  55. Khawarizmi, Maqtal al-Husain, jld. 2, hlm. 64
  56. Ya'qubi, Tarikh, Dar Shadir, jld. 2, hlm. 64
  57. Ibnu Atsir, al-Kamil, jld. 2, hlm. 577
  58. Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, jld. 1, hlm. 25, hadis no 50
  59. Qumi, Nafs al-Mahmum, hlm. 396
  60. Thabari, al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 465
  61. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 3, hlm. 416
  62. Ibnu Nama, Mutsir al-Ahzan, hlm. 89-90
  63. Ibnu Thaifur, Balaghat al-Nisa, hlm. 26
  64. Syahidi, Zendeghani Ali Ibnu al-Husain (as), hlm. 57
  65. Thabarsi, Ihtijaj, jld. 2, hlm. 108-140
  66. Ibnu Thawus, al-Malhuf, hlm. 198
  67. Ibnu Thawus, al-Malhuf, hlm. 213-218
  68. Rabbani Ghulpaigani, Afsargari-e Emam Sajjad dar Qiyam-e Karbala (2), hlm. 119
  69. Ibnu Nama, Mutsir al-Ahzan, hlm. 89-90; Ibnu Thaifur, Balaghat al-Nisa, hlm. 26
  70. Silakan rujuk ke: Muhammadi Rey Syahri, Danesh Nameh Emam Husain (as), jld. 8, hlm. 393
  71. Syekh Mufid, Masar al-Syiah, hlm. 46
  72. Syekh Thusi, Misbah al-Mutahajjid, jld. 2, hlm. 787
  73. Kaf'ami, al-Misbah li al-Kaf'ami, hlm. 510
  74. Muhadits Nuri, Lu'luah wa Marjan, hlm. 208-209
  75. Qummi, Muntaha al-Amal, hlm. 524-525
  76. Muthahari, Hamase-ye Husaini, jld. 1, hlm. 71
  77. Sayid Ibnu Thawus, al-Iqbal, jld. 3, hlm. 100 &101
  78. Sayid Ibnu Thawus, Luhuf, hlm. 225-226
  79. Qhadi Thabathabi, Tahqiq-e Darbareye Aval-e Arbain, hlm. 608
  80. Muthahari, Hamase-ye Husaini, jld. 1, hlm. 71
  81. Sayid Ibnu Thawus, Luhuf, hlm. 226-228
  82. Sayid Ibnu thawus, Luhuf hlm. 227
  83. Muhammad Rey Syahri, Danesh Nameh Emam Husain (as) jld. 8, hlm. 235

Daftar Pustaka

  • Mahal-e Huzur-e Usara-e Karbala dar Masjid-e Umawi Site Bainalmilali Quran, diakses 24 Urdibehest 1393, dilihat 24 Murdad 1397
  • Dinawari, Abu Hanifah Ahmad bin Daud. Akbār al-Thiwāl. Riset: I'sham Muhammad al-Haj Ali. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1421 H.
  • Baladzuri. Ansāb al-asyrāf. Riset: Suhail Zakkar dan Riyadh Zirikli. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Biruni, Abu Raihan. Ātsar al-Baqiah. Beirut: Dar Shadir.
  • Hamawi, Syahabuddin Abu Abdillah Yakut bin Abdullah. Mu'jam al-Buldān. Beirut: Dar Shadir, cet. kedua, 1995.
  • Harawi, Ali bin Abi Bakr. Al-Isyārāt ila Ma'rifati al-Ziyārāt. Riset: Janin Surdil, 1953.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Izzuddin Abdul Hamid. Syarh Nahjul Balaghah|Nahjul Balāghah. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, cet. kedua. Qom: Penerbitan Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hibbatullah. Tārikh Madinatu Dimasyq. Riset: Ali Asyur. Beirut: Dar al-Ihya al-Thurats al-Arabi, 1421 H.
  • Ibnu A'tsam Kufi, Ahmad bin A'tsam. Al-Futuh. Riset: Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adwa, 1411 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kāmil fi al- Tārikh. Beirut: Dar al-Turats al-Arabi, 1405 H.
  • Ibnu Jauzi. Tadzkiratu al-Khawāsh. Percetakan Syarif al-Radhi, 1408 H.
  • Ibnu Nama, Ja'far bin Muhammad. Mutsir al-Ahzān. Cet. ketiga. Qom: Madrasah Imam Al-Mahdi Ajf, 1406 H
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bi Ali Mazandarani (588). Manāqib Āli Abi Thālib alaihi salam. Qom, 1415 H.
  • Ibnu Syidad, Muhammad bin Ali. 'Al-I'lāq al-Khathirah fi Dzikri Umarā al-Jazirah. Damaskus, 2006.
  • Ibnu Theifur, Abul Fadhl bin Abi Thahir. Balāghat al-Nisā. Qom: Perpustakaan Bashirati.
  • Khawarizmi, Muafaq bin Ahmad Makki. Maqtal al-Husain. Riset: Muhammad Samawi. Najaf: Percetakan al-Zahra, 1367 H.
  • Mufid. Al-Irsyād fi ma'rifati Hujajullah ala al-Ibād. Riset: Yayasan Alu al-Bait, Qom: al-Mu'tamar al-Alami al-Alfiyah al-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Mufid. Amāli. Riset: Husain Ustad Wali, dan Ali Akbar Ghaffari. Qom:Jamiatu Mudarrisin, 1403 H.
  • Muhajir, Ja'far. Kāravāne Gham, Sayid Husain Mar'asyi. Teheran: penerbitan Musafir, 2011.
  • Naimi, Abdul Qadir bin Muhammad. Al-dāris fi Tārikh Madāris. Damaskus, 1367 H.
  • Qummi, Abbas. Muntahā al-Āmāl, Teheran: percetakan Husaini, 1993.
  • Sayid Ibnu Thawus, Ali bin Musa bin Ja'far. Al-Iqbāl bil-A'mal Al Hasanah. Riset: Jawad Qayyumi. Qom: Kantor Tablighat Islami, 1415 H
  • Sayid Ibnu Thawus. Al-Malhuf fi Ma'rifati ala Qatlā al-Thufuf. Riset: Faris Tabriziyan. Darul Uswah, 1414 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Husain. Al-Amāli. Qom: Yayasan al-Bi'sah, 1417 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Husain. Uyun Akhbār al-Ridhā. Editor: Husain A'lami. Beirut: Yayasan al-A'lami li al-Mathbu'at, 1404 H.
  • Shafar Qummi, Muhammad bin Hasan. Bashāir al-Darajāt. Riset Muhsen Kuce Baghi. Qom: perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Thabari, Imaduddin Hasan bin Ali. Kāmil Bahāi. Qom: Yayasan percetakan dan penerbitan, 1334.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārikh al-Muluk wa al-Umam. Riset, Muhammad Abulfazl Ibrahim. Beirut: Rowai' al-Turats al-Arabi.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijāj. Riset: Ibrahim Bahaduri dan Muhammad Hadibeh. Qom: Uswah, cet. kedua. 1416 H.
  • Yakubi, Ahmad bin Abi Yakub. Tārikh Yakubi. Beirut: Dar Shadir.