Kebangkitan Imam Husain as

Dari wikishia

Kebangkitan Imam Husain as (bahasa Arab:قیام الامام الحسين (ع)) adalah gerakan protes Imam Husain as terhadap pemerintahan Yazid bin Muawiyah, yang berujung pada kesyahidannya dan para sahabatnya pada tanggal 10 Muharram 61 H, serta penawanan keluarganya.

Gerakan ini dimulai dengan penolakan Imam Husain as untuk melakukan baiat (bersumpah setia) kepada penguasa Madinah sebagai wakil dari Yazid lalu meninggalkan Madinah pada bulan Rajab 60 H dan diakhiri dengan kembalinya para tawanan ke Madinah.

Kebangkitan Imam Husain as menjadi titik awal pembentukan kebangkitan gerakan-gerakan lainnya dalam melawan pemerintah Umayyah dan memainkan peran dalam kejatuhan kekuasaannya.

Setiap tahun, Syiah mengadakan berbagai upacara berkabung pada hari peringatan peristiwa ini, seperti majelis Asyura, penyebaran budaya aza'(dukacita) dan ratapan, membuat seni budaya Asyura , pembangunan tempat- tempat yang bernuansa mazhab dan religi, serta penguatan semangat anti tirani dan kezaliman sebagai pengaruh besar dari peristiwa ini terhadap masyarakat dan budaya Syiah.

Tujuan utama Kebangkitan Imam Husain as, sebagaimana dinyatakan dalam wasiatnya kepada Muhammad bin Hanafiah, adalah untuk mengembalikan masyarakat Islam ke jalan yang benar dan melawan segala penyimpangan. Namun, pembentukan pemerintahan, kesyahidan, menjaga kelangsungan hidup dan menghindar dari baiat kepada Yazid adalah beberapa tujuan lainnya.

Setelah penulisan buku Shahid Jâvid dan pengangkatan tema pembentukan pemerintahan sebagai tujuan utama Imam Husain as, serta kritikan dari para penulis Syiah, pembahasan tujuan kebangkitan Imam Husain as memasuki studi yang lebih mendetail mengenai Asyura dan berbagai teori muncul dalam hal ini, dimana tujuan kesyahidan dan pembentukan pemerintahan adalah salah satu tujuan yang terpenting.

Peristiwa Asyura

Peristiwa Karbala menceritakan pertempuran Imam Husain as dan para sahabatnya dengan tentara Kufah pada bulan Muharram 61 H. Peristiwa ini, yang terjadi setelah Imam Husain as menolak baiat kepada Yazid bin Muawiyah, yang menyebabkan Imam Husain as dan para sahabatnya menjemput kesyahidan, serta penawanan Ahlulbaitnya.

Pada Rajab 60 H, Imam Husain as meninggalkan Madinah bersama keluarganya dan sejumlah orang dari bani Hasyim karena menolak melakukan janji setia kepada gubernur (penguasa) Madinah dan pergi ke Mekah[1] lalu menetap disana selama kurang lebih empat bulan. Selama waktu ini, surat undangan dari orang-orang Kufah sampai kepadanya dan memintanya untuk menjadi pemimpin bagi mereka.[2]

Oleh karena itu, Imam as berangkat ke Kufah pada tanggal 8 Dzulhijjah.[3] Sebelum mencapai Kufah, Imam as mengetahui tentang adanya pengkhianatan dari warga Kufah[4] dan setelah bertemu dengan tentara Hur bin Yazid al-Riyahi, Imam dan rombongannya membelokkan arah ke Karbala dan di sanalah Imam as bersama sahabatnya menghadapi tentara dalam jumlah besar yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad.[5]

Di Karbala terjadi pertempuran, tepatnya pada tanggal 10 Muharram. Setelah Imam Husain as dan para sahabatnya syahid, orang-orang yang selamat termasuk ahlulbaitnya digiring sebagai tawanan.[6]

Alasan Kebangkitan Imam Husain as

Beberapa peneliti telah menganggap penyimpangan masyarakat Islam dari keyakinan agama dan moral Islam sebagai penyebab utama kebangkitan Imam Husain as[7] Karena pada masa kekuasaan Bani Umayyah, budaya jahiliah dan kesukuan memperoleh kekuasaan[8] dan juga adanya perseteruan diantara suku, khususnya antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah menjadi faktor lainnya[9] kembali menguat.

Juga, pengangkatan Yazid oleh Muawiyah sebagai khalifah dan desakan Yazid untuk mengambil baiat dari Imam Husain as adalah penyebab dan dasar lain dari kebangkitan ini. Imam Husain as tidak menganggap Yazid sama sekali layak menjadi khalifah dan menganggap pengangkatannya sebagai khalifah bertentangan dengan perjanjian damai antara Imam Hasan as dan Muawiyah, karena dinyatakan dalam perjanjian damai bahwa Muawiyah tidak memiliki hak untuk menunjuk penggantinya.[10]

Imam Husain as berkata:

إنّي لَم أخرُجْ أَشِراً ولا بَطِراً ولا مُفسِداً ولا ظالِماً وإنَّما خَرَجْتُ لِطَلَبِ الْإصلاحِ في اُمَّةِ جَدّي اُرِيدُ أن آمُرَ بِالْمَعرُوفِ و أنهي عَنِ الْمُنكَرِ و أسِيرَ بِسيرَةِ جَدّي وَ أبي عَليِّ بنِ أبي طالِبٍ عليه السّلام

Sesungguhnya aku tidak bangkit karena kesombongan, keingkaran, tidak pula untuk merusak dan menzalimi akan tetapi aku bangkit untuk mereformasi umat kakekku, aku ingin melaksanakan taklif amar makruf nahi munkar, dan menjalankan sirah dan sunah kakekku dan ayahku Ali bin Abi Thalib as.[11]

Tujuan dan Rencana Kebangkitan

Menurut sejarawan Mohammad Esfandyari (lahir tahun 1338 S) dalam buku 'Asyura Syenâsi tujuan utama Imam Husain as dalam kebangkitannya di hari Asyura adalah untuk menegakkan kebenaran, amar makruf nahi munkar, menghidupkan kembali sunnah dan menghilangkan bid’ah.[12] Juga

Ayatullah Khamenei, menganggap bahwa tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya adalah mengembalikan masyarakat Islam ke jalan yang benar dan melawan penyimpangan besar.[13] Menurut keyakinannya, banyak yang keliru antara menentukan tujuan dan hasilnya karena hasil dari tujuan ini adalah terbentuknya pemerintahan atau mati syahid, sementara sebagian menganggap dua hal itu sebagai tujuan Imam Husain as.[14]

Menurut Esfandiyari, pembahasan tentang tujuan Imam Husain as menjadi lebih jelas dengan adanya buku yang berjudul Syahid Jâvid.[15] Ia menilai telah terjadi kekeliruan dalam penentuan tujuan dan rencana Imam Husain as. Oleh karena itu, beliau menyebutkan rencana Imam Husain as untuk mencapai tujuannya dijadikan sebagai tujuan tingkat kedua, dan dalam hal ini terdapat tujuh teori yang bisa diutarakan:[16]

Menghindari Baiat dan Menyelamatkan Hidup

Menurut pandangan ini, gerakan Imam Husain as dari Madinah ke Mekkah dan dari sana ke Kufah bukanlah untuk tujuan kebangkitan melainkan untuk pertahanan dan aksi protes. Karena Imam as menolak untuk berbaiat kepada Yazid, hidupnya dalam ancaman dan bahaya, karena itulah Imam as meninggalkan Madinah menuju Mekah untuk menyelamatkan hidupnya.[17] Ali Panah ishtahardi[18] dan Mohammad Sehati Sardaroudi[19] adalah termasuk pembela pandangan ini. Akan tetapi konsekuensi dari penerimaan pandangan ini adalah melemahkan perjuangan epik dan merendahkan kemuliaan dan kedudukan Imam Husain as.[20]

Mendirikan Pemerintahan

Berdasarkan pandangan ini, Imam Husain as bangkit untuk mendirikan sebuah pemerintahan. Ni’matullah Shalehi Najafabadi (1385-1302 S) dalam bukunya Syahid Jâvid, mengatakan bahwa tujuan pertama Imam Husain as dalam kebangkitannya adalah pembentukan pemerintahan.[21] Dia meyakini bahwa Sayyid Murtadha, salah satu ulama teolog Syiah, juga memiliki pandangan yang sama.

Menurut Sayyid Murtadha, Imam Husain as bermaksud ke Kufah dan menerima undangan penduduk Kufah, setelah menerima banyak surat yang berisi desakan orang-orang Kufah dan melihat kekuasaan pemerintah di Kufah pada saat itu melemah.[22]

Dia percaya bahwa faktor-faktor kemenangan dari Imam Husain as secara zahir sudah tersedia; Namun kejadian selanjutnya membuat cerita tersebut bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Ketika pengkhianatan orang-orang Kufah terungkap, Imam Husain as memutuskan untuk kembali dan menghindari konflik, seperti yang dilakukan oleh Imam Hasan as. Namun gencatan senjata perang tidak diterima darinya.[23]

Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa pandangan ini tidak sesuai dengan keberadaan ilmu gaib Imam as, karena pandangan ini melazimkan bahwa Imam Husain as tidak mengetahui bahwa dirinya tidak akan memenangkan konflik. Dalam jawabannya dikatakan bahwa Imam Husain as sadar dan mengetahui bahwa dirinya akan syahid dan pemerintahannya tidak akan terbentuk, tetapi Imam as ditugaskan untuk bertindak berdasarkan pengetahuan zahir bukan dengan ilmu ghaibnya.[24]

Kesyahidan

Beberapa pihak meyakini bahwa tujuan Imam Husain as dalam kebangkitannya adalah mencapai  kesyahidan, meskipun ada berbagai interpretasi kesyahidan di sini, yakni:

  • Kesyahidan Siyâsi (secara politik): Menurut teori ini, Imam Husain as dengan kesyahidannya berusaha untuk mendelegitimasi pemerintahan Yazid dan menyelamatkan Islam dari tangan Bani Umayyah.[25] Menurut Mohammad Esfandiyari, ini adalah teori yang paling terkenal dan memiliki banyak pendukung.[26] Ali Syariati, Mirza Khalil Kamrohi, Murtadha Muthahhari, Sayyid Ridha Sadr, Jalaluddin Farsi, Sayyid Muhsin Amin, Hasyim Ma’ruf al-Hasani, Ayatullah Shafi Gulpaygani dan Mohammad Javad Mughniyah adalah diantara tokoh dan ulama yang memiliki pandangan teori ini.[27]
  • Kesyahidan Fidyati (Penebusan): Beberapa pihak percaya bahwa Imam Husain as syahid untuk menjadi pemberi syafaat bagi para pendosa dan membawa mereka ke tingkat spiritual yang lebih tinggi.[28] Seperti dalam agama Kristen, beberapa memiliki pandangan seperti itu tentang anggapan penyaliban Isa As.[29] Syarif Thabathabai, Mulla Mahdi Naraqi, Mulla Abdulrahim Isfahani termasuk di antara penganut teori ini.[30] Bahkan ada juga yang memahami bahwa Imam Husain as syahid agar orang-orang menangis untuknya dan dengan wasilah tangisan inilah dapat dibimbing ke jalan yang benar.[31]
  • Kesyahidan Irfâni (Mistik): Berdasarkan pandangan ini, Imam Husain as bangkit untuk meraih berkah dan nikmat kesyahidan.[32] Begitu juga untuk para sahabat dan ahlulbaitnya untuk mencapai nikmat kesyahidan ini.[33] Dalam interpretasi ini, tidak ada lagi pembicaraan tentang sebuah perjuangan, akan tetapi interpretasi kebangkitan depolitisasi (tanpa adanya muatan politik) dan sebuah kebangkitan pengujian peningkatan maknawi.[34] Sayyid Ibn Thâwûs, Fâdhîl Darbandi, Safi Ali Syah, ‘Amân Sâmâni dan Nayir Tabrizi telah menghadirkan interpretasi mistik (irfani) atas kebangkitan Imam Husain as.[35]
  • Kesyahidan Taklifi (Taklif kewajiban): Beberapa ulama telah memperkenalkan pendapat mengenai kebangkitan Imam Husain as sebagai sesuatu yang penuh misteri dan kerahasiaan langit, yang diperintahkan oleh Tuhan kepadanya untuk mencapai kesyahidan, tetapi tujuannya diketahui oleh manusia biasa, dan hanya Tuhan yang mengetahui tujuannya.[36]

Dalam kritik terhadap teori kesyahidan, dikatakan bahwa teori ini tidak sesuai dengan riwayat dan sejarah yang menceritakan bahwa Imam Husain as mempertahankan hidupnya dan tidak ingin dirinya masuk ke dalam kehancuran.[37]

Mendirikan Pemerintahan dan Mati Syahid

Beberapa percaya bahwa tujuan Imam Husain as dalam pemberontakan adalah kombinasi dari pendirian pemerintahan Ilahiah dan kesyahidan. Menurut kelompok ini, Imam Husain as bangkit dengan tujuan membentuk pemerintahan ilahiah. Namun ketika tidak mendapatkan teman dan penolong dalam perjuangannya, maka Imam as merubah tujuannya menjadi mati syahid.[38]

Beberapa pihak meyakini bahwa tujuan politik dari kebangkitan Imam Husain as masuk di dalam empat tahap rencana. Tahapan pertama adalah sejak masa bergerak sang Imam as dari Madinah ke Mekkah yang ditandai dengan protes terhadap kekuasaan Yazid. Tahap kedua adalah dari saat memutuskan untuk pergi ke Kufah hingga pertemuan dengan tentara musuh Al-Hur, dimana pada tahapan ini Imam as berniat merebut Kufah dan Irak. Tahap ketiga adalah dari saat bertemu dengan tentara al-Hur hingga bertemu dengan tentara Kufah, dan ketika Imam as berpikir untuk menghindari dari bala tentara Ibnu Ziyad, dan tahap keempat adalah ketika dia bertemu dengan tentara Kufah dan memilih untuk mendapatkan kesyahidan.[39]

Pengaruh dan Konsekuensi

Kebangkitan Imam Husain as melahirkan beberapa pengaruh di kemudian hari, beberapa di antaranya adalah:

Kebangkitan Agama Islam dan Sunah Nabi saw

Beberapa penulis meyakini bahwa pengaruh yang paling penting dari kebangkitan Imam Husain as dan kesyahidannya adalah adanya kebangkitan agama Islam.[40] Menurut Imam Khomeini, jika peristiwa Karbala tidak terjadi, Yazid bin Muawiyah akan menjungkirbalikkan agama Islam dan menghapus sunah Nabi saw.[41]

Terbentuknya Gerakan Protes Terhadap Pemerintahan Bani Umayyah

Setelah kesyahidan Imam Husain as, gerakan protes terhadap Bani Umayyah terbentuk. Menurut Tarikh Thabari, awal pemberontakan melawan Bani Umayyah yang terkait dengan peristiwa di tahun 61 H, yakni setelah syahidnya Imam Husain as, untuk melakukan pembalasan karena kesyahidan Imam as[42]  adalah protes dan konfrontasi Abdullah bin Afif Azdi kepada Ibnu Ziyad.

Di masjid Kufah, ia keberatan dengan perkataan Ibnu Ziyad yang menyebut Imam Husain as sebagai pendusta, bahkan Abdullah menyebut Ibnu Ziyad dan ayahnya sebagai pendusta.[43]

Juga, menurut laporan dalam Tarikh Sistân, dimana setelah orang-orang Sistan mendengar berita kesyahidan Imam Husain as, mereka melakukan pemberontakan terhadap penguasa Sistan, yang merupakan saudara dari Ubaidullah bin Ziyad.[44]

Masyarakat Madinah juga memberontak terhadap pemerintahan Yazid bin Muawiyah di bawah pimpinan Abdullah bin Handzalah bin Abi Âmir pada tahun 63 H.[45] Ali bin Husein Mas’ûdi, seorang sejarawan di abad keempat menganggap bahwa kesyahidan Imam Husain as sebagai salah satu penyebab munculnya pemberontakan penduduk Madinah.[46]

Pemberontakan Tawwâbîn

Setelah peristiwa Asyura terjadi, muncullah pemberontakan Tawwâbîn pada tahun 65 H di bawah pimpinan Sulaiman bin Shard Khazâ'i, dengan tujuan menuntut darah Imam Husain as dan para syuhada Karbala.[47]

Ketika pasukan Tawwâbîn sampai di tanah Karbala, mereka turun dari kudanya dan menangisi Imam as di atas haramnya, kemudian mereka membentuk gerakan perkumpulan yang sangat reaktifionis.[48] Sulaiman berkata di hadapan mereka yang berkumpul: "'Ya Allah, jadilah saksi bahwa kami beriman dengan agama dan jalan Husain as dan memusuhi para pembunuhnya".[49]

Kebangkitan Mukhtar

Pada tahun 66 H, Mukhtar Tsaqafi melakukan pemberontakan melawan Imam Husain as Bersama Syi'ah Kufah yang bergabung dengannya.[50] Dalam pemberontakannya, dia menggunakan dua slogan: "Ya Latsârât al-Husein" (Wahai para penuntut darah Imam Husain as) dan "Yâ Mansur Âmit" (Wahai yang matinya sebagai pemenang).[51]

Dalam pemberontakan ini, banyak pelaku pembunuhan Imam as di peristiwa Karbala, antara lain ubaidullah bin Ziyad, Umar bin Saad, Syimr bin Dzil al-Jusyan dan Khuli tewas di tangan Mukhtar.[52]

Kebangkitan Zaid bin Ali

Kebangkitan Zaid bin Ali bin Husain dalam melawan pemerintahan Bani Umayyah pun menjadi salah satu pengaruh peristiwa Karbala. Zaid dengan mengandalkan kesetiaan lima belas ribu orang - orang Kufah pada tahun 122 H melakukan pemberontakan dalam melawan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah. Syekh Mufid, salah satu ulama Syiah, menganggap motif utama Zaid bin Ali dalam melakukan pemberontakan melawan pemerintah Umayyah adalah menuntut darah Imam Husain as.[53]

Pengaruh Kebangkitan Karbala Terhadap Jatuhnya Kekuasaan Bani Umayyah

Kebangkitan Karbala berdampak pada jatuhnya kekuasaan bani Umayyah. Karena umat akan menganggap bahwa Bani Umayyah sebagai penyebab peristiwa berdarah di Karbala. Imam Husain as juga menyebut kebangkitannya dilakukan untuk melawan pemerintahan Yazid yang terkenal dengan seseorang yang suka bermain-main dengan anjing dan minum-minum. Keberadaan Yazid akan menyebabkan Islam terancam punah, seperti dalam ungkapan Imam as “’Âla al-Islâm al-Salam'' (Islam akan mati dengan keberadaan seperti Yazid).[54]

Bani Abbasiyah juga menyatakan bahwa salah satu alasan utama pemberontakan yang dilakukan terhadap Bani Umayyah adalah untuk menuntut darah Imam Husain as.[55]

Pengaruh Kebangkitan Karbala Terhadap Komunitas Syiah

Pengaruh kebangkitan Imam Husain as pada komunitas Syiah[56] antara lain:

Merebaknya acara aza' dan berkabung untuk Imam Husain as dan para syuhada Karbala

Acara aza' ini adalah salah satu faktor yang membentuk identitas masyarakat Syiah. [57] Menurut laporan sejarah, berkabung menjadi hal yang umum di kalangan Syiah tak lama setelah peristiwa Karbala dan dengan dorongan serta anjuran dari para Imam Syiah as. Akan tetapi perubahan bentuk acara berkabung dari yang awalnya merupakan amalan individu menjadi praktik masyarakat dan publik bermula dari zaman pemerintahan Âli Bawaih.[58]

Menurut Ibnu Katsir, pada tahun 359 H, pada hari Asyura, orang-orang syiah menutup pasar-pasar dan tempat jual beli dan mereka memulai untuk berkabung.[59] Selanjutnya sampai zaman sekarang acara ratapan dan berkabung untuk Imam Husain as khususnya sepuluh hari bulan Muharram adalah sesuatu yang umum di kalangan Syiah dilakukan di berbagai negara bersama dengan penyajian makanan dan bantuan sedekah.[60]

Munculnya Kesastraan Asyura

Peristiwa Asyura menyebabkan sebagian kesastraan Arab dikhususkan untuk puisi dan elegi Asyura. Penyair berbahasa Arab pertama yang menulis puisi tentang peristiwa Asyura adalah Uqbah bin Amr al-Sahmi.[61] Abdul Jalil al-Razi menganggap puisi dan syair Hanafi dan Syafi'i untuk Imam Husain as tak terhitung jumlahnya.[62]

Menurut Daneshnameh Syi’re Âshurai (Ensiklopedia Puisi Asyura), penulisan puisi yang berbahasa Persia dalam duka Imam Husain as dan peristiwa Karbala dimulai pada abad ke-4 H, adapun puisi duka pertama ditulis oleh Kisai Marwazi (meninggal 390 H).[63] buku Ensiklopedia Puisi Asyura telah mengumpulkan 345 nama penyair beserta beberapa bait puisi mereka untuk Imam Husain as.[64]

Maraknya Penulisan Maqtal

Maqtal adalah jenis historiografi yang membahas sejarah dan peristiwa mendetail pembunuhan atau kesyahidan tokoh-tokoh penting. Buku-buku Maqtal, yang menggambarkan kesyahidan Imam Husain as dan para sahabatnya, dianggap sebagai salah satu warisan sastra dan sejarah Syiah.

Tulisan maqtal berkembang dan tersebar setelah peristiwa Asyura. Di kalangan Syiah, maqtal digunakan untuk menggambarkan kesyahidan para imam maksum as dan tokoh-tokoh terkemuka Syiah; Namun, karena maraknya maqtal tentang peristiwa Karbala, penggunaan istilah menjadi ter-khususkan untuk menceritakan peristiwa yang berkaitan dengan kesyahidan Imam Husain as dan para sahabatnya di Karbala.

Memperkuat Semangat Anti Kezaliman

Kebangkitan Imam Husain as memiliki andil dalam memperkuat semangat anti-tirani dan perjuangan Syiah melawan pemerintah yang menindas di berbagai zaman. Beberapa penulis menganggap gerakan reformasi dan revolusi rakyat seperti Revolusi Islam Iran diilhami oleh kebangkitan Imam Husein ini.[65]

Imam Khomeini percaya bahwa ungkapan "Setiap hari adalah Asyura" menunjukkan perlunya perjuangan terus-menerus melawan penindasan.[66]

Pembangunan Tempat-tempat Khusus Untuk Berduka

Masyarakat Syiah banyak membangun bangunan khusus untuk berduka seperti Husainiyah, Tekiyeh (dalam terminologi Syiah Iran, mengacu pada tempat di mana upacara berkabung para pemimpin agama diadakan, khususnya upacara berkabung Imam Husain as di Muharram), dan Imambarah (dalam terminologi Syiah India adalah sebuah kompleks yang dibuat khusus bagi umat Islam Syiah untuk menyelenggarakan acara seremonial keagamaan setiap tahunnya, khususnya tradisi-tradisi yang dilestarikan secara turun temurun pada bulan Muharram). Upacara seremonial berkabung diadakan di tempat-tempat ini. Juga, di beberapa daerah di India, dibangun replika haram sebagai simbol kuburan para Syuhada Karbala dan haram Imam Husain as atau Hadhrat Abul Fadhl as.[67]

Pengaruh Terhadap Karya Seni

Kebangkitan Imam Husain as telah mempengaruhi karya seni masyarakat Syiah dan banyak karya seni lainnya termasuk lukisan, ikonografi, kaligrafi, film, dll yang dibuat untuk menceritakan peristiwa Asyura.[68]

Pandangan Ahlusunah

Penulis Ahlusunah tidak memiliki pendekatan tunggal terhadap gerakan Imam Husain as. Beberapa orang, seperti Abu Bakr Ibn Arabi, menganggapnya sebagai tindakan tidak sah melawan pemerintahan yang sah.[69]

Ibn Taimiyah, walaupun percaya bahwa Imam Husain as menemui kesyahidannya, tetapi kebangkitan Imam as tidak memiliki maslahat duniawi dan ukhrawi. Ibnu Taimiyah menganggap pemberontakan Asyura sebagai penyebab banyaknya fitnah dan hasutan dalam umat Islam dan bertentangan dengan sirah Nabi Islam saw.[70]

Menurut pernyataan Hamid ‘Inayat bahwa dalam seratus tahun terakhir, khususnya sejak masa Sayyid Jamaluddin Asadabadi, pandangan penulis Sunni tentang peristiwa Asyura telah berubah dan banyak penulisnya mendukung gerakan dan kebangkitan Imam Husain as.[71] Menurut Abdul Jalil al-Razi, dalam buku Naqdh, menyebutkan bahwa beberapa ulama Sunni seperti Muhammad bin Idris Syafi'i telah membuat syair untuk Imam Husain as dan para syuhada Karbala.[72] Salah satunya yang dinisbatkan kepada Syafi'i, yang dimulai dengan bait berikut:

ابکی الحسین و ارثی حجاحا

Aku menangisi al-Husain dan meratapinya sebagai hujjah

من اهل بیت رسول الله مصباحا

Dari Ahlulbait Rasulullah adalah sebuah pelita [73]

Karya Tulis Mengenai Kebangkitan Al-Husain as

Berbagai buku dan karya tulis telah disusun yang menceritakan mengenai Imam Husain as. Beberapa karya yang telah ditulis dengan pendekatan analisis kenapa dan untuk apa kebangkitan Imam Husain as terjadi adalah:

  • Buku Asyura Shenâshi (Penelitian tentang Tujuan kebangkitan Imam Husein as)" mencakup tiga bab: Tujuan kebangkitan, Kufah adalah pilihan Imam as yang tepat, dan Pandangan orang-orang terdahulu. Dalam bagian kedua dari buku ini, penulis menyebutkan tujuh teori tentang tujuan Imam Husain as. [74] Penulis memilih pandangan bahwa Imam Husain as bangkit dengan tujuan untuk membentuk pemerintahan, oleh karena itu penulis mengkhususkan pada bagian ketiga dengan pendapat ulama Syiah tentang tujuan Imam Husain, yang sependapat dengan pendapatnya.
  • Setelah lima puluh tahun, ada penelitian baru tentang kebangkitan Al-Husain as yang dilakukan oleh Sayyid Jafar Syahidi (1297-1386 S) dalam bukunya Panjoh Sol Pezuheshi Tazeh Pîrâmune Qiyâm Husain as, yang ditulis dengan perspektif analitis. Dalam buku ini, Syahidi mengkaji konteks sosial, politik, etnis, dan mazhab dalam pembentukan gerakan kebangkitan Imam Husain as. Buku ini diterbitkan pada tahun 1358 S.
  • Buku Taammuli Dar Nehzate 'Âsyurâ' (Refleksi Gerakan Asyura) oleh Rasul Jafarian. Dalam buku ini telah diperkenalkan beberapa sumber yang berkaitan dengan peristiwa Karbala, dan latar belakang gerakan kebangkitan, gambaran peristiwa, kesyahidan Imam Husain as, dampak kebangkitan Imam as, aspek syiar (propaganda) dan yang semisalnya, distorsi dari peristiwa Karbala, dan sejarah berkabung kelompok Ahlusunah untuk Imam Hussein as. [75]
  • Qeyâm Âshûra Dar Kalâm Va Payâm Imam Khomeini (Kebangkitan Asyura dalam Kata-Kata dan Pesan Imam Khomeini). Bagian pertama buku ini berisi tiga ceramah tentang Muharram dan Asyura. Bagian kedua berisi penyebab dan faktor kebangkitan Asyura, filosofi berkabung dan pembacaan dan pelantunan syiar maktam , dan sebagai penutup, disajikan pilihan kata-kata Imam Khomeini tentang kebangkitan Muharram dan Karbala. [76]

Catatan Kaki

  1. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 341; Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 34.
  2. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 352; Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 38.
  3. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 381; Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 81.
  4. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 398.
  5. Dainawari, Akhbār ath-Thiwāl, hlm. 235; Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 409.
  6. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 456.
  7. Lihat: Syahidi, Paz Az Panjah Sal, hlm. 112-123.
  8. Zamineha-e Qiyam-e Emam Husein (as), jld. 2, hlm. 18.
  9. Syahidi, Pas Az Panjah Sal, hlm. 69-78.
  10. Ibn A'tsam, al-Futūh, jld. 4, hlm. 290-291.
  11. Qurasyi, Hayāh al-Imām al-Husain, jld. 2, hlm. 264.
  12. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 33.
  13. Khamene'i, Ensan-e 250 Sale, hlm. 179.
  14. Khamene'i, Ensan-e 250 Sale, hlm. 172.
  15. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 25.
  16. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 59.
  17. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 60.
  18. Esytehardi, Haft Sale Cera Seda Dar Award? hlm. 154.
  19. Sehhati Sardarudi, 'Āsyūrā Pazuhi, hlm. 441.
  20. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 68.
  21. Shalehi Najaf Abad, Syahid-e Jawid, hlm. 159.
  22. Sayyid Murtadha, Tanzīh al-Anbiyā', hlm. 176.
  23. Sayyid Murtadha, Tanzīh al-Anbiyā', hlm. 176-178.
  24. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 21.
  25. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 156-157.
  26. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 157.
  27. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 93.
  28. Mahrizi, Tahlili Darbare-e Ahdaf-e Qeyam-e Emam Husein (as), hlm. 13.
  29. Mahrizi, Tahlili Darbare-e Ahdaf-e Qeyam-e Emam Husein (as), hlm. 13.
  30. Esfand Yari, Āsyūrā Syenasi, hlm. 84.
  31. Lihat: Sehhai Sardarudi, 'Āsyūrā Pazuhi, hlm. 338.
  32. Lihat: Sayyid ibn Thawus, al-Luhūf, hlm. 3 & 28.
  33. Fadhil Bandari, Eksir al-'Ibādāt, jld. 1, hlm. 56.
  34. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 70.
  35. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 70-74.
  36. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 76-78.
  37. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 107.
  38. Lihat: Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 68-69.
  39. Ja'fariyan, Ta'ammuli Dar Nehzat-e 'Āsyūrā, hlm. 242.
  40. Kadyur, Naqsye-e Nehzat-e Asyura Dar Syeklgiri Wa Tadawum-e Enqelab-e Eslami-e Iran, majalah Rahburd, vol. 6, hlm. 12.
  41. Imam Khomeini, Shahife-e Emam, jld. 17, hlm. 52.
  42. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 558.
  43. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 459.
  44. Tarikh-e Sistan, hlm. 100.
  45. Ibn Qutaibah, al-Imāmah Wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 230.
  46. Mas'udi, Murūj adz-Dzahab, jld. 3, hlm. 68-69.
  47. Ibn Katsir, al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, jld. 8, hlm. 251.
  48. Ibn Atsir, al-Kāmil Fī at-Tārīkh, jld. 3, hlm. 264.
  49. Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 589.
  50. Ibn Atsir, Asad al-Ghābah, jld. 4, hlm. 347.
  51. Lihat: Thabari, Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk, jld. 6, hlm. 20.
  52. Ibn Atsir, Asad al-Ghābah, jld. 4, hlm. 347.
  53. Syekh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 172-171.
  54. Ja'fariyan, Ta'ammuli Dar Nehzat-e 'Āsyūrā, hlm. 245.
  55. Rafi'i, Naqsye Asyura Wa Azadariha-e Ashr-e A'emme (as) Dar Suqut-e Umawiyan Wa Piruzi-e Abbasiyan, majalah Ma'refat, vol. 11, hlm. 72.
  56. Ja'fariyan, Ta'ammuli Dar Nehzat-e Asyura, hlm. 251.
  57. Rahmani, Āyin Wa Usthure Dar Iran-e Syi'i, hlm. 10.
  58. Rahmani, Āyin Wa Usthure Dar Iran-e Syi'i, hlm. 58.
  59. Ibn Katsir, al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, jld. 11, hlm. 267.
  60. Lihat: Yayasan Syi'e Syenasi, Sunnat-e Azadari Wa Manqabat Khani, hlm. 156.
  61. Mehmandar, Emam Husein Dar Āyine-e Sye'r Wa Adab, kumpulan makalah Hemayesy-e Emam Husein, jld. 12, hlm. 53.
  62. Razi Qazwini, Naqd, hlm. 371.
  63. Muhammad Zade, Danesyname-e Sye'r-e Asyura'i, jld. 2, hlm. 717.
  64. Lihat: Muhammad Zade, Danesyname-e Sye'r-e Asyura'i, jld. 2.
  65. Guli Zaware Qomsye'i, Hamase-e Huseini Wa Enqelab-e Eslami, majalah Farhangg-e Kautsar, vol. 73, hlm. 105-106.
  66. Imam Khomeini, Shahife-e Emam, jld. 9, hlm. 445.
  67. Yayasan, Syi'e Syenasi, Sunnat-e Azadari Wa Manqabatkhani, hlm. 158.
  68. Karbala; Khastgah-e Tajalli-e Hunar, Site Imna.ir
  69. Khaz Ali, Qiyam-e Emam Husein Az Didgah-e Ulama-e Ahl-e Sunnat, kumpulan makalah Hemayesy-e Emam Husein, jld. 11, hlm. 58-59.
  70. Ibn Taimiyah, Minhāj as-Sunnah, jld. 4, hlm. 530.
  71. Enayat, Andisye-e Seyasi Dar Islam-e Mu'asher, hlm. 314.
  72. Razi, Naqd, hlm. 370-371.
  73. Razi, Naqd, hlm. 370.
  74. Esfand Yari, 'Āsyūrā Syenasi, hlm. 59.
  75. Ja'fariyan, Ta'ammuli Dar Nehzat-e Asyura, hlm. 12.
  76. Qiyam-e Asyura Dar Kalam Wa Payam-e Emam Khomeini, Site Imam-Komeini.ir.

Daftar Pustaka

  • Abu Mikhnaf. Maqtal al-Husain (as). Riset & komentar Husein Ghaffari. Qom: Mathba'ah al-'Ilmiyyah.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansāb al-Asyrāf. Riset Muhammad Baqir Mahmudi, Ihsan Abbas, Abdul Aziz Dauri, Muhammad Hamidullah. Beirut: Yayasan al-A'lami Li al-Mathbu'at.
  • Enayat, Hamid. Andisye-e Seyasi Dar Eslam-e Mu'ashr. Penterjemah Baha'uddin Khurramsyahi. Tehran: Entesyarat-e Kharzami, 1365 HS/1984.
  • Esfand Yari, Muhammad. 'Āsyūrā Syenasi Pazuhesyi Darbare-e Hadaf-e Emam Husein (as). Qom: Sahife-e Khord, 1387 HS/2008.
  • Fadhil Darbandi, Agha bin Abid. Iksīr al-'Ibādāt. Karbala: Al-'Atabah al-Husainiyyah.
  • Guli Zuware Qomsye'i. Hamse-e Huseini Wa Enqelab-e Eslami. Majalah Farhangg-e Kautsar. Vol: 73, 1387 HS/2008.
  • Ibn A'tsam. Al-Futūh. Riset Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibn Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kāmil Fī at-Tārīkh. Riset Umar Muhammad Abdus Salam Tadammuri. Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1417 H.
  • Ibn Atsir, Ali bin Muhammad. Asad al-Ghābah Fī Ma'rifah ash-Shahābah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
  • Ibn Katsir Damisyqi, Isma'il bin Umar. Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah. Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibn Qutaibah, Abdullah bin Muslim. Al-Imāmah Wa as-Siyāsah. Editor Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adwha', 1410 H.
  • Ibn Taimiyah, Ahmad bin Abdul Halim. Minhāj as-Sunnah an-Nabawiyyah Fī Naqdh Kalām as-Syī'ah al-Qadariyyah. Riset Muhammad Rasyad Salam. Universitas al-Imam Muhammad bin Su'ud al-Islamiyyah, 1406 H.
  • Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Shahife-e Emam. Tehran: Yayasan Tanzim Wa Nasyr-e Āsar-e Emam Khomeini, 1389 HS/2010.
  • Ja'fari, Husain Muhammad. Tasyayyu' Dar Masir-e Tarikh. Penterjemah Muhammad Taqi Ayatullahi. Daftar-e Nasyr-e Farhangg-e Eslami, 1387 HS/2008.
  • Ja'fariyan, Rasul. Ta'ammuli Dar Nehzat-e Asyura. Qom: Nasyr-e Muwarrekh, 1386 HS/2007.
  • Kadyur, Jamilah. Naqsy-e Nehzat-e Asyura Dar Syekgiri Wa Tadawum-e Enqelab-e Eslami-e Iran. Majalah Rahburd. Vol: 6, 1374 HS/1995.
  • Karbala; Khastgah-e Tajalli-e Hunar. Site Imna.ir. Diakses tanggal 20 Agustus 2022.
  • Khamene'i, Sayyid Ali. Ensan-e 250 Sale. Tehran: Sahba. Cet. 50, 1394 HS/2015.
  • Khaz Ali, Anise. Qeyam-e Emam Husein Az Didgah-e Ulama-e Ahl-e Sunnat. Kumpulan makalah Hemayesy-e Emam Husein. Jld. 11. Tehran: Majma' Jahani-e Ahl-e Beit (as), 1381 HS/2002.
  • Mahrizi, Mahdi. Tahlili Darbar-e Ahdaf-e Qeyam-e Emam Husein (as). Site Hadith.net. Diakses tanggal 18 Agustus 2022.
  • Mas'udi, Ali bin Husain. Murūj adz-Dzahab Wa Ma'adin al-Jauhar. Riset: As'ad Daghir. Qom: Dar al-Hijrah, 1409 H.
  • Mehmandar, Mahdi. Emam Husein Dar Āyine-e Sye'r Wa Adab. Kumpulan makalah Emam Husein. Jld. 12. Tehran: Majma' Jahani-e Ahl-e Beit (as), 1381 HS/2002.
  • Muhammad Zade, Marziyye. Danesyname-e Sye'r-e Asyura'i. Tehran: Kementerian Farhangg Wa Ersyad-e Eslami. Cet. 2, 1386 HS/2007.
  • Muthahhari, Murtadha. Hamase-e Huseini. Tehran: Entesyarat-e Sadra. Cet. 59, 1387 HS/2008.
  • Nashiri Dawudi, Abdul Majid. Syahadat-e Emam Husein Az Manzar-e Ahl-e Sunnat. Negah-e Nu Be Jaryan-e Asyura. Dibawah pantauan Sayyid Ali Reza Wasi'i. Qom: Bustan-e Ketab, 1390 HS/2011.
  • Qiyam-e Asyura Dar Kalam Wa Payam0e Emam Khomeini. Site Imam-Khomeini.ir. Diakses tanggal 20 Agustus 2022.
  • Qurasyi, Baqir Syarif. Hayāh al-Imām al-Husain. Najaf: Mathba'ah al-Ādab, 1395 H.
  • Rafi'i, Muhammad Thahir. Naqsy-e Asyura Wa Azadariha-e Ashr-e A'emme (as) Dar Suqut-e Umawiyan Wa Piruzi-e Abbasiyan. Majalah Ma'refat. Vol: 11, 1390 HS/2011.
  • Rahmani, Jabbar. Āyin Wa Usture Dar Iran-e Syi'i. Tehran: Entesyarat-e Kheime, 1394 HS/2015.
  • Razi Qazwini, Abdul Jalil. Naqdh. Editor Jalaluddin Armawi. Tehran: Anjuman-e Āsar-e Melli.
  • Sayyid bin Thawus, Musa. Al-Luhūf 'Alā Qatlā ath-Thufūf. Al-'Alam.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. Tanzīh al-Anbiyā'. Qom: Asy-Syarif ar-Radhi.
  • Sehhati Sardarudi, Muhammad. Asyura Pazuhi Ba Ruikardi Be Tahrif Syenasi-e Tarikh-e Emam Husein (as). Qom: Entesyarat-e Khadim ar-Ridha. Cet. 1, 1384 HS/2005.
  • Syahidi, Sayyid Ja'far. Paz Az Panjah Sal; Pazuhesyi-e Taze Peiramun-e Qeyam-e Husein (as). Tehran: Daftar-e Nasyr-e Farhangg-e Eslami.
  • Tarikh-e Sistan. Editor Muhammad Taqi Bahar. Tehran: Padide-e Khawar, 1366 HS/1987.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārīkh al-Umam Wa al-Mulūk. Riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar at-Turats, 1387 H.
  • Tim Penulis. Zamineha-e Qeyam-e Emam Husein. Qom: Zamzam-e Hedayat, 1383 HS/2004.
  • Yayasan Syi'e Syenasi. Sunnat-e Azadari Wa Manqabat Khani Dar Tarikh-e Syi'e-e Emamiyye. Qom: Yayasan Syi'e Syenasi 1386 HS/2007.