Lompat ke isi

Konsep:Takhalli

Dari wikishia

|| c || || - || || - || || || editorial box


Takhalli (bahasa Arab: تَخَلّی) bermakna membuang air kecil dan besar (buang hajat), yang dibahas dalam bab Thaharah.[1] Dalam fikih Islam disebutkan hukum-hukum Wajib, Haram, Mustahab, dan Makruh bagi takhalli:

  • Kewajiban Takhalli: Menutup aurat saat buang hajat dari pandangan orang yang dihormati (manusia baligh atau belum baligh yang mumayyiz) dan membersihkan tempat keluarnya air kecil dan besar setelahnya untuk ibadah seperti Salat adalah Wajib.[2] Jika tempat buang hajat dibangun menghadap kiblat, maka berpaling darinya (memiringkan badan) adalah Wajib.[3] Dalam hukum ini, menurut pendapat masyhur (populer), tidak ada perbedaan antara di dalam bangunan (rumah) atau di lingkungan terbuka; meskipun sebagian ulama terdahulu membolehkan duduk di tempat buang hajat yang dibangun di dalam rumah baik menghadap atau membelakangi kiblat.[4]
  • Keharaman Takhalli: Menghadap Kiblat atau membelakanginya saat buang hajat; demikian juga buang hajat di properti orang lain atau jalan buntu tanpa izin pemiliknya adalah Haram.[5]
  • Hal-hal Mustahab Takhalli: Menyembunyikan dan menutup seluruh tubuh dari pandangan orang lain; menutup kepala; menyebut nama Allah; mendahulukan kaki kiri saat masuk dan kaki kanan saat keluar dari tempat buang hajat; membaca doa-doa yang warid (diriwayatkan); bertumpu pada kaki kiri; menyucikan tempat keluar kotoran besar sebelum tempat keluar air kecil; berdeham (batuk kecil); Istibra setelah buang air kecil;[6] memilih tempat yang sesuai untuk buang air kecil seperti tempat yang agak tinggi agar tubuh dan pakaian aman dari percikan air seni.[7]
  • Hal-hal Makruh Takhalli: Buang hajat di jalanan; di dalam sumur air; di bawah pohon yang berbuah; tempat persinggahan kafilah dan musafir; di depan pintu rumah dan sejenisnya seperti toko yang menyebabkan laknat dan kutukan orang-orang; di atas kuburan orang mukmin dan di antara kuburan mereka; dan jika merupakan penghinaan terhadap pemilik kuburan maka hukumnya Haram; menghadapkan aurat ke arah piringan matahari atau bulan; makan dan minum; menyikat gigi; duduk berlama-lama; berbicara; buang air kecil dalam keadaan berdiri, menghadap angin, dari ketinggian seperti atap, di tanah yang keras, di dalam air baik air tenang maupun air mengalir, dan di dalam lubang hewan adalah makruh.[8]

Catatan Kaki

  1. Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, Farhang-e Fiqh, 1385 HS, jld. 2, hlm. 394.
  2. Thabathaba'i Yazdi, Al-'Urwah al-Wutsqa, 1420 H, jld. 1, hlm. 305; Sistani, Minhaj al-Shalihin, 1416 H, jld. 1, hlm. 31.
  3. Muhaqqiq Hilli, Syarai' al-Islam, 1408 H, jld. 1, hlm. 14.
  4. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 2, hlm. 811.
  5. Thabathaba'i Yazdi, Al-'Urwah al-Wutsqa, 1420 H, jld. 1, hlm. 311 dan 314.
  6. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 2, hlm. 6 dan 55-59; Thabathaba'i Yazdi, Al-'Urwah al-Wutsqa, 1420 H, jld. 1, hlm. 326-328.
  7. Naraqi, Mustanad al-Syi'ah, Muassasah Alu al-Bait, jld. 1, hlm. 394.
  8. Najafi, Jawahir al-Kalam, 1404 H, jld. 2, hlm. 59-75; Thabathaba'i Yazdi, Al-'Urwah al-Wutsqa, 1420 H, jld. 1, hlm. 328.

Daftar Pustaka

  • Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami. Farhang-e Fiqh Muthabiq-e Mazhab-e Ahl-e Bait as. Di bawah pengawasan: Sayid Mahmud Hasyimi Syahirudi. Qom, Muassasah Da'irat al-Ma'arif Fiqh Islami, 1385 HS.
  • Muhaqqiq Hilli, Ja'far bin Hasan. Syarai' al-Islam fi Masail al-Halal wa al-Haram. Tahkik dan Tashih: Abdul Husain Muhammad Ali Baqqal. Qom, Ismailiyan, cetakan kedua, 1408 H.
  • Najafi, Muhammad Hasan. Jawahir al-Kalam fi Syarh Syara'i al-Islam. Tashih: Abbas Quchani dan Ali Akhundi. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan ketujuh, 1404 H.
  • Naraqi, Ahmad bin Muhammad Mahdi. Mustanad al-Syi'ah fi Ahkam al-Syari'ah. Qom, Muassasah Alu al-Bait (as) li-Ihya al-Turats, 1415-1419 H.
  • Sistani, Sayid Ali. Minhaj al-Shalihin. Qom, Maktab Ayatullah al-Sayid Ali al-Husaini al-Sistani, 1416 H.
  • Thabathaba'i Yazdi, Sayid Muhammad Kazim. Al-'Urwah al-Wutsqa. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami al-Tabi'ah li-Jama'ah al-Mudarrisin, 1417-1420 H.