Lompat ke isi

Konsep:Ayat 2 Surah Al-Ma'idah

Dari wikishia
Ayat 2 Surah Al-Ma'idah
Informasi Ayat
SurahSurah Al-Ma'idah
Ayat2
Juz6
Informasi Konten
Tempat
Turun
Madinah
TentangDelapan perintah penting Islam mengenai hal-hal seperti menjaga Syiar-syiar Allah, larangan balas dendam, tolong-menolong dalam kebaikan dan Takwa.
Ayat-ayat terkaitAyat 1 Surah Al-Ma'idahAyat 36 Surah Al-Hajj


Ayat 2 Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:آیة ۲ سورة المائده) adalah ayat yang memuat delapan perintah seputar hal-hal seperti menjaga syiar-syiar Ilahi, larangan balas dendam, serta tolong-menolong dalam kebaikan dan Takwa.

Dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah dibahas delapan perintah penting Islam, yang sebagian besarnya berkaitan dengan Haji. Perintah-perintah ini dianggap sebagai perintah terakhir yang diturunkan kepada Nabi saw. Perintah pertama dari delapan perintah dalam ayat ini adalah anjuran pada prinsip umum menjaga kehormatan syiar-syiar Allah. Yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah adalah hukum-hukum agama Ilahi, di mana amalan haji merupakan salah satu manifestasi tertingginya. Empat dari delapan perintah ini ditulis mengenai empat misdak (contoh nyata) dari syiar-syiar Allah; di antaranya: menjaga kehormatan Bulan-bulan Haram, Kurban, dan para peziarah Rumah Allah (Ka'bah).

Perintah kelima dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah adalah mengenai halalnya berburu setelah keluar dari Tanah Haram dan Ihram. Perintah keenam dalam ayat ini adalah larangan balas dendam. Menurut sebagian mufasir, meskipun larangan balas dendam dalam ayat ini turun terkait ziarah ke Rumah Allah, namun darinya dapat disimpulkan sebuah hukum umum dan internasional: bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadi pendendam dan pembalas dendam.

Perintah ketujuh dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah, mengikuti perintah sebelumnya yaitu menjauhi balas dendam, adalah dorongan untuk tolong-menolong; tolong-menolong yang berporos pada kebaikan dan Takwa (kesalehan), bukan Dosa dan permusuhan. Perintah ganda ini dianggap sebagai dasar tradisi Islam untuk memperkuat dan melestarikan masyarakat manusia. Perintah kedelapan adalah penekanan kembali pada ketakwaan, yang dianggap sebagai pengukuhan tujuh perintah sebelumnya dan penekanan pada pentingnya pelaksanaannya.

Ayat dengan Delapan Perintah

Menurut Nashir Makarim Syirazi, mufasir Syiah, ayat 2 Surah Al-Ma'idah membahas delapan perintah penting Islam, yang sebagian besarnya berkaitan dengan Haji.[1] Ia menegaskan bahwa perintah-perintah ini termasuk perintah terakhir yang diturunkan kepada Nabi saw.[2] Lima dari delapan perintah dalam ayat ini dianggap berkaitan dengan menjaga Syiar-syiar Allah.[3] Selain itu, larangan balas dendam, anjuran tolong-menolong dalam kebaikan dan Takwa (bukan dalam Dosa dan permusuhan), serta perintah untuk bertakwa adalah perintah-perintah lain dari ayat ini.[4]

Menurut Abdullah Jawadi Amuli, mufasir Syiah, isi ayat ini termasuk misdak dari hukum yang terdapat dalam Ayat 1 Surah Al-Ma'idah, yaitu kewajiban menepati janji; karena perintah-perintah dalam ayat ini seperti perjanjian Ilahi yang telah diterima manusia dan akibatnya harus diamalkan.[5] Pengulangan seruan "Wahai orang-orang yang beriman" (Yā ayyuhalladzīna āmanū) dalam ayat ini setelah muncul di ayat sebelumnya dianggap menunjukkan pentingnya perintah-perintah yang ada dalam ayat ini.[6]

یا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan kurban yang dihadiahkan ke tanah suci), qalaid (hewan kurban yang diberi kalung sebagai tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mengharap karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian (mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat hukuman-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Perintah Pertama: Menjaga Syiar-syiar Ilahi

Perintah pertama dari delapan perintah dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah dianggap sebagai prinsip umum menjaga kehormatan Syiar-syiar Allah.[7] Dikatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan mufasir Al-Qur'an mengenai konsep syiar-syiar Ilahi.[8] Syekh Thusi[9] dan Aminul Islam Thabarsi,[10] dari mufasir Syiah, menyebutkan berbagai makna yang diajukan para mufasir untuk syiar. Makarim Syirazi meyakini bahwa, sesuai dengan bagian-bagian lain dari ayat ini dan mengingat tahun turunnya (tahun ke-10 Hijriah) yang merupakan tahun Haji Wada', yang dimaksud dengan syiar dalam ayat ini adalah Manasik Haji.[11] Ia menganggap alasan kebenaran tafsir ini adalah bahwa dalam Al-Qur'an kata syiar biasanya digunakan dalam hal haji.[12] Menurut Muhammad Jawad Mughniyah, yang dimaksud dengan Syiar-syiar Allah dalam ayat ini adalah hukum-hukum agama Ilahi, di mana amalan haji merupakan manifestasi tertingginya.[13]

Perintah Ke-2 hingga Ke-4: Menjaga Kehormatan Misdak Syiar Allah

Ali Akbar Saifi Mazandarani, salah satu pengajar Hauzah Ilmiah Qom, meyakini bagian ayat ini "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah" secara implisit menunjukkan keharaman menghina dan tidak menghormati syiar-syiar Ilahi; karena perilaku demikian menyebabkan pelecehan terhadap agama dan pelanggaran kehormatan Allah, Al-Qur'an, dan Nabi saw.[14] Jawadi Amuli meyakini bahwa empat dari delapan perintah dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah adalah mengenai empat misdak dari Syiar-syiar Allah.[15] Menurutnya, penyebutan misdak-misdak ini setelah anjuran menjaga kehormatan prinsip asalnya (syiar-syiar Allah) adalah untuk menekankan pentingnya empat hal ini.[16] Misdak pertama dari syiar-syiar Allah yang diperintahkan untuk dijaga kehormatannya adalah Bulan-bulan Haram.[17] Sayid Muhammad Husain Thabathaba'i, mufasir Syiah, menganggap misdak pelanggaran kehormatan bulan-bulan haram dalam ayat ini adalah berperang di dalamnya.[18]

Dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah, "Hadyu" dan "Qala'id" dianggap sebagai misdak kedua dari syiar-syiar Ilahi.[19] Hadyu adalah hewan Kurban dalam Haji yang dalam ayat-ayat Al-Qur'an lainnya, seperti Ayat 36 Surah Al-Hajj, disebut dengan istilah "budn" sebagai bagian dari syiar-syiar Ilahi.[20] Qala'id (kalung-kalung) bermakna segala sesuatu yang dikalungkan ke leher hewan sebagai tanda kurban di jalan Allah, agar jika hilang, hewan tersebut dikirim ke Mina untuk dikurbankan dengan niat pemiliknya.[21] Sebagian menganggap yang dimaksud dengan qala'id adalah hewan itu sendiri, bukan tanda-tandanya.[22] Pendapat ini telah dikritik.[23] Dalam ayat ini, larangan melanggar kehormatan kalung-kalung kurban dianggap sebagai bentuk hiperbola (mubalaghah) dalam keharaman melanggar kurban itu sendiri.[24] Misdak keempat syiar-syiar Allah dalam ayat ini dianggap sebagai para peziarah Rumah Allah;[25] orang-orang yang berangkat menuju Rumah Allah menginginkan keuntungan (baik maknawi maupun materi) dan keridhaan Allah.[26]

Perintah Ke-5: Halalnya Berburu setelah Keluar dari Ihram dan Tanah Haram

Perintah kelima dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah adalah mengenai halalnya berburu setelah keluar dari Tanah Haram dan Ihram.[27] Menurut Jawadi Amuli, berdasarkan Ayat 1 Surah Al-Ma'idah, dua faktor yaitu ihram dan keberadaan di wilayah Tanah Haram menjadi sebab keharaman berburu.[28] Menurutnya, dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah, batas akhir keharaman ini dijelaskan: bahwa setelah keluar dari ihram atau keluar dari batas Tanah Haram, keharaman berburu dicabut.[29] Dikatakan bahwa perintah untuk berburu pada bagian ayat ini tidak menunjukkan kewajiban berburu; karena secara istilah ini adalah "perintah setelah larangan" (amr 'aqib hazhr) yang menunjukkan kebolehan berburu.[30] Dalam sebagian kitab Ushul Fiqih Syiah, bagian dari ayat 2 Surah Al-Ma'idah ini digunakan sebagai contoh untuk kaidah amr 'aqib hazhr.[31]

Perintah Ke-6: Larangan Balas Dendam

Perintah keenam dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah adalah larangan balas dendam.[32] Makna umum dari bagian ayat ini disajikan sebagai berikut: Kebencian dan permusuhan kalian kaum Muslim terhadap kaum musyrikin, yang menghalangi kalian masuk ke Masjidil Haram, jangan sampai mendorong kalian untuk berbuat zalim kepada mereka saat kalian berkuasa atas mereka dan keluar dari jalan keadilan.[33] Pencegahan kaum musyrikin terhadap masuknya kaum Muslim ke Masjidil Haram dianggap terkait dengan peristiwa yang berujung pada Perjanjian Hudaibiyah pada Tahun 6 Hijriah.[34] Dalam peristiwa ini, Nabi saw dan sekelompok Muslim bergerak menuju Makkah untuk Umrah Mufradah, namun sebelum masuk, karena halangan para pemuka musyrikin, mereka terpaksa kembali ke Madinah.[35]

Sebagian menganggap waktu turunnya bagian ayat 2 Surah Al-Ma'idah ini bersamaan dengan Penaklukan Makkah.[36] Dikutip dari Majma' al-Bayan, ayat ini turun pada hari penaklukan Makkah, mengenai kaum musyrikin yang datang dengan tujuan menziarahi Rumah Allah.[37] Saat kehadiran mereka, kaum Muslim berkata kepada Nabi saw: Mereka ini juga seperti musyrikin lainnya, izinkanlah kami menyerang mereka. Pada saat inilah ayat ini turun untuk melarang mereka.[38] Thabarsi menukil bahwa mayoritas mufasir menganggap hukum bagian ayat ini telah di-nasakh (dihapus) oleh hukum Ayat 5 Surah At-Taubah;[39] ayat yang meminta kaum Muslim, setelah pengumuman hukum Berlepas Diri dari Kaum Musyrikin, untuk membunuh mereka atau menawan dan mengepung mereka, kecuali jika mereka masuk Islam.[40] Meskipun demikian, sebagian pihak, termasuk Imam Baqir as, menganggapnya tidak di-nasakh dan mengatakan bahwa tidak ada satu ayat pun dari Surah Al-Ma'idah yang di-nasakh.[41]

Menurut Makarim Syirazi[42] dan Jawadi Amuli,[43] meskipun larangan balas dendam dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah turun terkait ziarah ke Rumah Allah, namun darinya dapat disimpulkan sebuah hukum umum dan internasional: bahwa seorang Muslim tidak boleh menjadi pendendam dan pembalas dendam serta berusaha membalas dendam karena peristiwa yang terjadi di masa lalu. Makarim Syirazi meyakini bahwa, mengingat salah satu penyebab perpecahan dalam setiap masyarakat adalah balas dendam, pentingnya perintah Islam ini untuk mencegah perpecahan di antara kaum Muslimin menjelang wafatnya Nabi saw menjadi lebih jelas.[44]

Perintah Ke-7 dan Ke-8: Dari Tolong-menolong dalam Kebaikan hingga Ketakwaan

Perintah ketujuh dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah, mengikuti perintah sebelumnya yaitu menjauhi balas dendam, dianggap sebagai dorongan untuk tolong-menolong; tolong-menolong yang berporos pada kebaikan (hal-hal seperti takwa dan ihsan)[45] dan Takwa (kesalehan), bukan Dosa dan permusuhan.[46] Allamah Thabathaba'i menganggap perintah ganda ini sebagai dasar tradisi Islam untuk memperkuat dan melestarikan masyarakat manusia.[47] Jawadi Amuli memperkenalkan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan sebagai pilar pertama pembentukan masyarakat ideal yang tidak akan tercapai kecuali dengan kebersihan hati dan menjauhi balas dendam.[48] Ia menganggap pesan bagian ayat ini bersifat fitrah; karena kecenderungan untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan serta tidak tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan telah tertanam dalam fitrah manusia dan hanya membutuhkan pengingat untuk berkembang.[49]

Perintah kedelapan dalam ayat 2 Surah Al-Ma'idah adalah penekanan kembali pada Takwa (kesalehan) yang menurut Makarim Syirazi merupakan pengukuhan tujuh hukum sebelumnya dan penekanan pada pentingnya pelaksanaannya.[50] Jawadi Amoli menganggap alasan penekanan kembali ini adalah bahwa ketakwaan adalah jaminan praktis bagi perintah dan larangan Ilahi, yang tanpanya perintah-perintah Ilahi tidak akan memiliki jaminan pelaksanaan.[51] Isyarat penutup dalam ayat mengenai Allah yang sangat berat siksaan-Nya (syadid al-iqab) juga dianggap sebagai penekanan atas penekanan sebelumnya pada ketakwaan.[52]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 250.
  2. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 250.
  3. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 525.
  4. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 526.
  5. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 528.
  6. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 162; Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 524.
  7. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 524.
  8. Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 3, hlm. 418; Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 162; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 250.
  9. Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 3, hlm. 418-419.
  10. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 237-238.
  11. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 250.
  12. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 250.
  13. Mughniyah, Al-Tafsir al-Kasyif, 1424 H, jld. 3, hlm. 7.
  14. Saifi Mazandarani, Mabani al-Fiqh al-Fa'al, 1425 H, jld. 1, hlm. 154.
  15. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 525.
  16. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 525.
  17. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 532.
  18. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 162.
  19. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 525.
  20. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 536.
  21. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 162; Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 536-537.
  22. Sebagai contoh lihat: Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 250.
  23. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 537.
  24. Zamakhsyari, Al-Kasyyaf, 1407 H, jld. 1, hlm. 602; Fakhrurrazi, At-Tafsir al-Kabir, 1420 H, jld. 11, hlm. 280.
  25. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 525.
  26. Mudarrisi, Min Huda al-Qur'an, 1419 H, jld. 2, hlm. 291-292; Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 251.
  27. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 251.
  28. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 539.
  29. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 539.
  30. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 162.
  31. Muhaqqiq Hilli, Ma'arij al-Ushul, 1403 H, hlm. 65; Makarim Syirazi, Anwar al-Ushul, 1428 H, jld. 1, hlm. 299.
  32. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 252.
  33. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 163.
  34. Qumi, Tafsir al-Qumi, 1363 HS, jld. 1, hlm. 161; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 240.
  35. Thabari, Tarikh al-Thabari, Beirut, jld. 2, hlm. 620-637.
  36. Thusi, Al-Tibyan, Beirut, jld. 3, hlm. 421-422; Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 237.
  37. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 237.
  38. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 237.
  39. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 239.
  40. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 9, hlm. 152.
  41. Thabarsi, Majma' al-Bayan, 1372 HS, jld. 3, hlm. 239.
  42. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 252.
  43. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 541.
  44. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 252.
  45. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 163.
  46. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 252; Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 542.
  47. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 163.
  48. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 542.
  49. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 543.
  50. Makarim Syirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1374 HS, jld. 4, hlm. 252.
  51. Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 550.
  52. Thabathaba'i, Al-Mizan, 1393 H, jld. 5, hlm. 163; Jawadi Amoli, Tasnim, 1394 HS, jld. 21, hlm. 550.

Daftar Pustaka

  • Fakhrurrazi, Mahmud bin Umar. At-Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghaib). Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H.
  • Jawadi Amoli, Abdullah. Tasnim (Tafsir-e Qur'an-e Karim). Qom, Markaz-e Nasyr-e Asra, 1394 HS.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Anwar al-Ushul. Disunting oleh Ahmad Qudsi. Qom, Madrasah al-Imam Ali bin Abi Thalib (as), 1428 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1371 HS.
  • Mudarrisi, Sayid Muhammad Taqi. Min Huda al-Qur'an. Teheran, Dar Muhibbi al-Husain, 1419 H.
  • Mughniyah, Muhammad Jawad. Al-Tafsir al-Kasyif. Qom, Dar al-Kitab al-Islami, 1424 H.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Tahkik: Thayyib Musawi Jazairi. Qom, Dar al-Kitab, 1363 HS.
  • Saifi Mazandarani, Ali Akbar. Mabani al-Fiqh al-Fa'al fi al-Qawa'id al-Fiqhiyyah al-Asasiyyah. Qom, Daftar-e Entesyarat-e Eslami (Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom), Cetakan pertama, 1425 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Thabari (Tarikh al-Umam wa al-Muluk). Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut, t.p., t.t.
  • Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Beirut, Muassasah al-A'lami lil-Mathbu'at, 1392 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Tahkik: Sayid Hasyim Rasuli Mahallati dan Sayid Fadhlullah Yazdi Thabathaba'i. Teheran, Entesyarat-e Naser Khusro, 1372 HS.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an. Tahkik: Ahmad Habib al-Amili. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, t.t.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasyyaf 'an Haqaiq al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, 1407 H.